Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : SasuHina


"Ohayou Gozaimasu, Sasuke-kun" Sapa Hinata dengan seulas senyuman manis tetap terpatri di wajah manisnya.

"Hn" Jawabku sambil terus berjalan menuju kelas kami. Hinata pun berlari menghampiriku, entah kenapa Hinata menjadi sangat rajin sekali menungguku di depan pintu gerbang.

Kurasakan udara segar pagi ini, semangat baru akan di mulai hari ini. Pertama kalinya aku masuk kedalam kelas baru dan aku harus menjadi yang terbaik di kelas.

Kulihat sekolah di sekelilingku sampai mataku terbentur pada Sasame yang duduk di depan kelasnya. Sasame masuk kekelas IPS 1. Seulas senyum lemah tampak tersunggingkan padaku saat dia menyadari kehadiranku.

"Ummm...! Sasame-chan, aku mau bicara" Kataku sambil menghampiri Sasame.

"Kau kekelas duluan ya, Hinata-chan" Hinata tampak sebal padaku saat aku sepertinya mengacuhkannya yang telah menungguku di depan gerbang. Aku hanya menatap Hinata yang telah berjalan kekelas tersebut. Pandanganku beralih pada Sasame yang masih duduk didepan kelasnya.

"Apa yang mau kau bicarakan ?" Tanyanya dengan sedikit nada angkuh juga perasaan yang tertahan itu. Aku hanya tersenyum kecil sebelum aku duduk di sebelahnya sambil melipat tanganku di belakang kepalaku.

"Hari yang indah" Sasame menatapku dengan tatapan herannya. Mungkin dia agak bingung dengan gaya bicaraku yang sedikit mencla-mencle ini.

"Maksudmu ? Kau hanya mau membicarakan hal tersebut" Kata Sasame dengan nada frustasi. Aku hanya tertawa kecil melihat tampang frustasi dari Sasame yang kelihatan imut sekali.

"Bener, hari in memang indah. Seindah wajahmu" Aku mencoba untuk membuat sebuah gombalan yang memang udah basi kayaknya. Sasame menatapku dengan tatapan heran.

"Kau salah minum obat ?" Yaelah, masih sempet-sempetnya ngeledek orang yang lagi serius gini. Aku hanya nyengir innocent sambil terus memandangi awan yang mengalir lembut seiring dengan arah angin yang masih mengalun lembut membelai helaian ravenku yang masih basah.

"Aku ada beberapa pertanyaan untukmu" Kataku mencoba untuk terdengar serius. Sasame menatapku dengan tatapan tidak mengerti.

"Apa yang kau sukai dariku ?" Tanyaku sambil menatap matanya tajam. Sasame tampak berpikir dengan wajah gugup sambil merapikan rambut jingga miliknya.

"Aku juga gak tau" Katanya sambil angkat bahu. Aku hanya menghela nafas sebentar sebelum akhirnya aku berdiri dan tersenyum kearahnya.

"Maafkan aku" Kataku sambil mengelus pelan kepalanya dan langsung berlari menjauh dari kelas tersebut menuju kelas baruku.

-0-

Kulihat Hinata sedang berbincang dengan Gaara sambil senderan didepan pintu kelas sambil sesekali tertawa lebar. Aku pun menghampiri mereka berdua.

"Hinata, aku ada urusan denganmu" Kataku sambil menarik tangan Hinata masuk kedalam kelas. Tak kuduga Hinata akan mengibaskan tanganku dan menatapku dengan tajam.

"Kau mau apa ? Jika kau suka dengan Sasame gak usah deket-deket denganku" Bentak Hinata tepat didepan mukaku. Aku pun masih tetep stay cool meskipun hatiku juga ketar-ketir akibat bentakan dari Hinata.

"Aku tunggu kau diatap. Itu kalau kau berkenan" Ucapku sambil berjalan dengan gaya yang masih cool keluar dari kelas. Kulihat Gaara menyeringai kearahku seolah mengatakan kalau kau akan berakhir. Aku membalasnya dengan sebuah deathglare yang cukup manis sampai akhirnya wajah yang sok cool itu tidak terlihat olehku.

Aku pun berlari menuju atap dan mendudukkan tubuhku disana. Menikmati indahnya alam ini, burung-burung terlihat berkicau dengan merdu, seolah mereka tidak pernah punya masalah yang berat.

Angin pagi membelaiku dengan alunan lembut. Aku pun memejamkan mataku untuk lebih menikmati sensasi natural yang kualami saat ini. Benar-benar menyenangkan.

Aku selalu suka saat-saat seperti ini, saat-saat aku dapat merenungi banyak hal tentang apa arti dari kehidupan. Ku genggamkan tanganku serta berpikir, kalau kita tidak diberi kesadaran secara percuma. Pasti ada alasannya kenapa Dia memberi kita kesadaran untuk berpikir diantara beribu-ribu spesies ciptaan-Nya.

Aku tidak akan membiarkan kesadaran ini menguasaiku, aku akan menguasai kesadaranku sebelum aku akan dihancurkan oleh kesadaranku sendiri. Jika itu terjadi, aku akan sepenuhnya kehilangan setiap hidupku.

Kudengar pintu berderit terbuka dan muncullah sosok berambut duren, tapi kali ini berwarna jingga. Wajahnya tampak kusut seperti tidak pernah di setrika selama satu tahun. Dia pun menghampiriku dan duduk disampingku dan mengerjakan aktivitas yang sama denganku, memandangi awan.

"Ada apa denganmu, kawan ?" Tanyaku pada remaja tersebut. Remaja berambut jingga tersebut menoleh sebentar sebelum akhirnya tersenyum pahit sambil terus memandangi awan.

"Bukan apa-apa. Hanya masalah kecil" Sahutnya seolah tak ada niat untuk menjawab. Kutatap tajam matanya yang menunjukkan sorot kesedihan yang sepertinya sangat mendalam.

"Kau punya cukup masalah untuk menghancurkan masa depanmu" Kataku. Cowok tersebut yang kuketahui adalah cowok kelas IPA 3 bernama Pein menoleh kearahku dengan tatapan heran. Mungkin dia masih belum mengerti apa maksudku.

"Apa maksudmu ?" Tanyanya.

"Kau mempunyai masalah yang cukup besar untuk menghancurkan masa depanmu. Kau patah hati, bukan ?" Tanyaku sambil terus menatap langit. Kulirik cowok tersebutyang sekarang sedang tersenyum pahit sambil menatap langit sama sepertiku.

"Kau sendiri ?" Dia malah bertanya balik.

"Aku hanya mengagumi keindahan alam" Kataku.

"Boleh kubantu masalahmu ?" Tawarku sambil tersenyum ramah kearah senpai ku tersebut. Pein terlihat tersenyum meremehkan.

"Kau masih kecil, kau belum mengerti apa-apa tentang patah hati" Katanya sambil terus memandangi langit yang sekarang tengah mendung.

"Hmmm...! Benarkah kau tidak mau menceritakannya ? Bercerita bisa membuatmu lebih baik" Kataku sambil tersenyum kecil kearah Pein-senpai. Dia memandangku seolah-olah ingin mengetahui setiap jalan pikiranku ini.

"Hmmm...! Baiklah, aku mempunyai seorang cewek. Tidak terlalu cantik memang tapi aku sangat mencintainya" Pein-senpai mulai bercerita dengan nada yang terdengar biasa. Tidak terlihat kesedihan sepeser pun dalam nadanya. Dia tersenyum kecil sambil mengusap-usap matanya yang terlihat basah.

"Aku telah mengorbankan waktu dan juga uangku demi mendapat perhatian gadis tersebut. Bahkan aku sampai rela menjual ponselku saking besarnya rasa cintaku" Pein-senpai tampak sangat menghayati ceritanya tersebut. Aku hanya mendengarkannya dengan seksama sambil terus memikirkan solusi buatnya.

"Tapi, betapa sakitnya hatiku ketika kulihat dia telah jadian dengan cowok lain. Aku memang bodoh" Ucap Pein-senpai mengakhiri ceritanya. Aku menghela nafas panjang sambil memejamkan mata.

"Merasa lebih baik ?" Tanyaku sambil memandang Pein-senpai.

"Iya, saranmu cukup bagus untuk seorang bocah" Kata Pein sambil tersenyum miris kearahku.

"Kau tahu, terkadang untuk mendapatkan sesuatu kita harus berkorban sesuatu, right ?" Kataku. Pein mengangguk sambil terus memperhatikan awan yang berarak dilangit yang biru.

"Tapi ingatlah, kau tidak akan bisa mendapatkan seorang gadis yang tidak tertarik sama sekali denganmu hanya dengan pengorbanan semata" Kataku. Pein tampak berjengit heran sambil melihatku dengan tatapan -are you serious ?-

"Kau terlalu menggunakan logika untuk mendapatkan seorang gadis. Perempuan didominasi oleh emosi, bukannya logika" Jelasku. Sekarang Pein-senpai tampak lebih serius dari biasanya dan mengangguk pelan mendengar ceritaku.

"Ibaratnya, jika kau memberikannya kebaikan, itu seperti kau memberinya minuman segar. Jika kau memberikannya terus-menerus, dia akan minta tambah, right ?" Pein-senpai mengangguk pelan.

"Tapi, jika dia hanya kau beri seteguk lalu kau ambil kembali. Dia pasti akan mengejarmu" Kataku dengan santai.

"Maksudmu apa sih, aku sama sekali gak ngerti" Kata Pein dengan raut wajah frustasi. Aku menatapnya dengan tatapan heran. Bukan heran yang biasanya, heran mengapa cowok ini bisa masuk kelas IPA.

"Jadi, biasakanlah buat wanita penasaran denganmu. Contoh, puji dia sambil sedikit menyindir. Senyummu manis sekali, begitu melihatnya ingin sekali kulumat wajahmu. Gitu" Kataku. Pein-senpai tampak mengangguk-angguk.

"Dan bisa juga dengan buat mereka penasaran. Bilang saja kalau kau tidak suka memberi hadiah, tapi sejam kemudian beri mereka hadiah. Cewek memang suka dengan kejutan" Kataku sambil menepuk-nepuk punggung senpaiku tersebut. Pein-senpai tampak tersenyum senang lalu berdiri dan memandang awan yang sekarang bergerak perlahan membuka sinar matahari yang sempat tertutup oleh mendung.

"Ucapanmu ada benarnya juga. Kau pandai juga ya, bocah" Katanya sambil berlari meninggalkanku duduk terdiam sendiri.

"Enak saja dia memanggilku bocah" Sungutku sambil terus memperhatikan keindahan alam yang sempurna ini.

Krieet...!

Kudengar pintu berderit terbuka dan terpampanglah sosok Hinata yang memasuki atap gedung. Apa dia mendengar pembicaraanku ? Gawat kalau dia benar-benar mendengarnya, rahasiaku akan benar-benar terbongkar semua nih. Aku pun berdiri menghadap Hinata dengan senyuman canggung yang sangat kupaksakan.

"Kau datang juga Hinata" Kataku pada Hinata seolah-olah aku telah melenyapkan perasaan deg-deganku yang maerasuk tanpa permisi karena takut jika rahasiaku selama ini terbongkar olehnya. Hinata tampak tersenyum sinis kearahku dan hal itu membuatnya tampak menyeramkan dimataku.

Tapi sedetik kemudian dia merubah senyuman tersebut menjadi senyuman yang manis, dan juga senyuman riang kearahku.

"Aku senang ada juga seorang cowok yang memahami perasaan kami" Katanya sambil tersenyum riang. Aku terbelalak mendengar ucapan Hinata yang terkesan cukup aneh sebagai respon dari rahasiaku.

Hinata mendekatiku dan membelai pipiku lembut. Jantungku berdebar keras saat tangan putih tersebut membelai pipiku dengan sentuhan lembut yang selalu dia tunjukkan padaku saat menungguku di depan gerbang.

"Tapi, jangan lakukan itu lagi yah" Katanya dengan sedikit merajuk sambil memainkan helaian ravenku yang jatuh diatas bahu lebarku. Aku memandangnya dengan tatapan heran.

"Aku tidak akan meninggalkanmu, janji" Kata Hinata sambil mengusap lembut bibirku dengan jari telunjuknya.

"Benarkah ?" Tanyaku dengan tatapan tajam.

"Selama kau tidak meninggalkanku" Katanya. Aku pun memeluknya dengan pelukan lembut yang tidak pernah kuberikan pda siapapun kecuali Tou-chan dan Kaa-chan, tidak untuk baka aniki yang sekarang tinggal di rumah temannya dan gak pernah memberi kabar sama sekali.

"Sasuke-kun..." Panggil Hinata. Belum sempat aku menjawabnya bibirku sudah dikunci dengan lembut oleh bibirnya. Tangannya yang semula berada di pundakku menyusup masuk kearah tengkukku dan mendorong kepalaku untuk memperdalam ciumannya.

Aku pun melakukan hal yang sama seperti Hinata, meraba-raba tengkuknya untuk memperdalam ciuman kami. Nafasku memburu seolah kami berdua berebutan memperbanyak menghirup oksigen.

Tubuhku memanas seiring dengan lamanya kami berciuman. Aku pun melepas pagutan itu untuk mencoba mengambil nafas tapi Hinata segeram mengunci bibirku kembali dengan bibirnya yang sekarang telah basah oleh air liur.

Aku merasakan Hinata dengan liar menjilati bibirku. Kurasakan lidah Hinata menyeruak masuk kedalam mulutku. Aku tidak dapat berbuat apa-apa selain memejamkan mataku dan membiarkan seluruhnya bergantung pada naluriku.

Tanganku bergerak dengan sendirinya memeluk punggung Hinata sampai sekarang jarak antara kami berdua sudah sangat tipis sekali tapi Hinata tidak sekalipun mengurangi gempurannya pada bibirku.

Kurasakan bibir Hinata menjauh dariku dan akan mendekat lagi tapi aku menghentikannya dengan telunjukku tepat di depan wajahku. Bibir kami terhubung oleh seutas tali tipis yang berasal dari saliva kami berdua. Hinata tampak tak mengerti dengan isyaratku.

"Kita lakukan ini lain kali" Kataku sambil menatap Hinata lembut. Hinata hanya mengangguk senang sambil memelukku.

"Ngomong-omong, darimana kau tahu rahasia psikologi wanita ?" Tanya Hinata.

"Dari ebook" Kataku sambil nyengir innocent.

TBC

Untuk para wanita, benar gak apa kata author tentang psikologi wanita ?

Reviieeewwww...!