Sasuke POV
Aku tak habis pikir.
Kenapa Naruto membalas ciumanku?
Aku mengacak-acak rambutku frustasi. Lagipula kenapa dia harus mendesah seperti itu sih? Membuatku ketagihan saja.
Kurebahkan badanku di kasur yang baru dua hari ini kutempati. Kulempar buku matematika yang tengah kubaca dengan gusar. Ah, memangnya siapa yang peduli dengan aljabar kalau kau tengah bimbang seperti ini.
Tiba-tiba pintu kamar dibuka, aku melirikkan mataku mencari tahu siapa yang masuk ke kamar ini.
Matanya berwarna onyx sama denganku. Rambutnya hitam lurus dipotong pendek sesuai garis wajahnya. Kulitnya berwarna putih pucat, jauh lebih pucat daripada warna kulitku sendiri.
Sai.
Kuacak lagi rambutku,kesal. Mana mungkin itu Naruto kan? Dia sih pasti tak akan kembali ke kamar ini. Setidaknya tidak malam ini. Apalagi setelah apa yang kami berdua lakukan padanya tadi siang. Dia pasti enggan kembali ke kamar.
Aku benar-benar merasa bodoh telah mengharapkan kalau orang yang masuk itu Naruto.
"Kau kenapa?" tanya Sai sambil duduk di ranjang samping ranjangku. Atau tepatnya ranjangku yang dulu, sebelum dia merebutnya. "Jangan bilang kau cemburu karena aku menciumnya." Katanya tanpa berbasa-basi dulu.
"Hn."
Sai mengangkat bahunya. "Boleh kuartikan 'ya'?" tanyanya dengan nada sinis. Lalu dia tertawa pendek. "Lucu sekali kau bertingkah aneh hanya karena hal kecil macam itu." Katanya sambil memperhatikan model rambutku yang sudah kubuat berantakan dengan mengacak-acaknya dua kali.
"Kau tentunya sadar kan, tadi Naruto langsung mengejarmu?" kembali adik beda ibu denganku itu bertanya, senyuman palsu di wajahnya langsung menghilang. "Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Hn."
"OK, kalau kau memang tak ingin menjawabnya aku tak akan tanya lagi kok." Katanya sembari memamerkan senyum busuknya itu. "Ngomong-ngomong kemana perginya Naruto?" katanya sambil memperhatikan bahwa bantal orange kesayangan Naruto sudah tak ada di tempatnya lagi.
"Menghindari kita." Jawabku singkat.
Sai mengernyitkan alisnya sebelah. "menghindari 'Kita'?" ulangnya membeo kata-kataku dengan penekanan pada kata 'kita'. "Kalau menghindari 'ku' aku masih bisa paham, tapi 'kita'?"
"Bukan urusanmu."
"Jadi memang ada yang terjadi kan?"
"Hn."
Dia mendesah panjang capek dengan jawabanku yang singkat-singkat. "Baiklah. Aku tak akan mengungkitnya lagi. Toh aku sudah berjanji kan?" katanya menyerah, "Aku akan langsung masuk saja ke inti pembicaraan saja." Katanya sambil mengunci pintu kamar kami. "Aku masuk ke sini dengan perintah dari Tousan."
"Kalau dia menyuruhmu membawaku pulang katakan padanya 'Kau sendiri yang menyuruhku pergi. Dan memasukkanku ke sekolah ini kan?'" kataku dengan nada kesal begitu tahu bahwa pembicaraan ini menyangkut Tousan.
Sai tertawa dingin. "Tousan sudah tahu kedekatanmu dengan dia."
Aku tersentak dan langsung bangkit berdiri dari ranjangku, "Sial." Gumamku pendek. Harusnya aku sudah tahu kalau Tousan tidak akan melepaskanku semudah ini, dia pasti mempunyai mata-mata di sekolah ini untuk mengawasiku."Katakan padanya aku bukan anak kecil yang harus selalu diawasi lagi." Kataku dengan menjaga nada suaraku senormal mungkin.
"Memang." Jawab Sai singkat. "Namun aku diutus ke sini bukan untuk menyampaikan pesanmu padanya saja lho."
"Apa yang diinginkan, Tousan."
"Dia mengajukan penawaran."
"Penawaran?" beoku dengan nada curiga.
Sai mengangguk. "Kau tentu tahu aku hanya alat bagi keluarga Uchiha saja kan?" katanya memutar-mutar pembicaraan. "Tousan memperdayaku, dia ingin agar aku membuatmu jadi pewaris yang 'sempurna'."
Aku berdecak kesal. "Jangan berputar-putar. Langsung saja."
"Baiklah kalau itu memang maumu." Jawabnya sambil mengangkat bahu. "Dia sudah memilihkannya untukmu. Dan jika kau menolak maka... yah... aku tak tahu apa yang akan terjadi pada Naruto."
"Kapan?" tanyaku mulai paham ke arah pembicaraan ini.
"Libur musim panas nanti. Begitu kau pulang."
Aku mendesah. Kalau aku menolak, Sai pasti akan menghancurkan Naruto. Dan itu tak boleh terjadi.
Tidak selama aku masih hidup.
"Baiklah. Aku terima tawarannya."
Sai tersenyum puas. "Kau memang benar-benar seorang Uchiha sejati." Katanya dengan nada sinis. "Kesombongan itu. Sifat arogan itu. Semuanya benar-benar khas keluarga Uchiha."
"Hn."
Sai tersenyum bias, dapat kurasakan dia tengah menyusun sebuah rencana dalam otaknya. Dan aku hanya bisa berharap rencana itu tak ada hubungannya dengan Naruto. Karena kalau sampai ada... aku tak bisa lagi melakukan apapun.
"Apa yang kau rencanakan?" tanyaku mengancam.
"Tak ada."
"Pembohong." Decihku kesal. Kubuka pintu kamar asrama kami yang telah terkunci lalu berjalan keluar tanpa menoleh ke belakang lagi.
"Kau mau ke mana?" tanya Sai.
Aku tak menjawab dan terus berjalan menyusuri lorong-lorong asrama yang mulai sepi ditinggalkan penghuninya makan malam.
Aku harus ke luar.
Harus.
Aku harus menjernihklan pikiran dan perasaanku sekarang. Itulah yang kubutuhkan.
Dan rasanya aku tahu tempat yang bagus.
... Chapter 10 End...
AKHIRNYA... 10 CHAPTER!
IYEYYYYYYYY!
Author menari gaje.
Tak akan berlama-lama, Cuma satu kata saja:
REVIEW!
