Title : Black Flower

Author : Sulis Kim

Main : Jung Yunho

Kim Jaejoong

Hyuna ( JJ nephew )

Other

Rate : M

Genre : Romace, Action, Sad, Family.

WARNING

GS, jika tidak suka jangan baca, Author cinta damai.

Ff ini milik saya seorang. Jika ada kesalahan typo dan salah kata mohon maaf. Menerima kritik dan saran yang membangun.

Para pemain dalam FF saya milik diri mereka sendiri dan ini hanya Fanfiction karya saya. Maaf jika ada kesamaan kejadian dan adegan di dalamnya.

Don't like Don't read.

Alwasy keep the faith.

Happy Reading...!

"Bajingan kau, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi." Sangwoo mengumpat kasar. Andai tidak ada Hyuna di atas pangkuan Yunho, ia sudah akan menghajar pria yang telah membuat hidup putra dan menantunya itu menderita.

Mengabaikan pria itu,Yunho bangkit dengan Hyuna berada dalam gendonganya. Menyerahkan gadis kecil itu kepada Yuri yang mengkerut ketakutan di sudut pintu. "Bawa dia pulang Miss, sopir pribadiku akan mengantar kalian pulang, Jaejoong akan pulang bersamaku."

Gadis kecil itu merengek tidak setuju dengan usul Yunho." Hyuna tidak ingin pulang,"

"Tidak, mungil! Kau akan kembali bersama pengasuhmu dan sepatu ini." Yunho melepaskan sepatu kaca itu dari kaki Hyuna. "Biarkan paman yang memperbaikinya dan besok akan ada sepatu baru dan lebih banyak untuk hyuna pakai."

Memberenggut tidak suka Hyuna melirik sepatu kaca itu sekali lagi. Ia sudah beracting teraniyaya untuk mendapatkan sepatu itu, Samcon Changmin dengan setengah hati membelikan sepatu itu untuknya, namun sekarang ia sudah harus kehilangan sepatu indah tersebut.

"Baiklah," kata Hyuna pasrah. "Janji paman akan membelikan sepatu baru buat Hyuna."

"Apapun untukmu sayang." Yunho mengisyaratkan Yuri untuk pergi, gadis muda itu menatap Jaejoong meminta persetujuan.

"Ajak Yoona kembali bersamamu, aku bisa kembali bersama Changmin."

"Dia akan kembali bersamaku." Yunho menyahut.

Sangwoo sudah akan menyela akan tetapi ia menahan diri sampai pelayan pribadi Jaejoong dan pengasuh Hyuna keluar dari ruangan tersebut.

Hening untuk beberapa menit. Tidak ada yang berucap diantara ketiganya. Jaejoong duduk dengan gelisah di sofa yang tiba tiba terasa keras di bawahnya.

Yunho dan Sangwoo berhadapan terhalang meja sebagai penyeka di antara keduanya. Jika Yunho terlihat santai berbeda dengan Sangwoo yang menahan amarah dan umpatan pria itu yang siap keluar kapan saja.

Serigai menakutkan terlihat jelas di bibir pemimpin mafia itu. "Aku tidak butuh restu anda pak tua, aku tetap akan menikahi Jaejoong." Ada nada mengejek dalam kata kata Yunho dan tentunya Sangwoo memperhatikan hal itu.

"Aku tidak akan menikah dengamu" Jaejoong menyahut. Ia menatap Ayah mertuanya dengan gelisah. Tidak, ia tidak akan menikah dengan siapapun.

"Papa percayalah padaku, aku tidak akan menikah dengan Yunho."

"Tentu saja kau tidak akan menikah dengan siapapun, kau adalah menantuku dan sampai saat ini Seunghyun masih suamimu."

Maju dengan kecepatan kilat Yunho mencengkeram kerah kemeja Sangwoo dan mendorong pria itu ke dinding. Ikatan dasi pria itu semakin mencekik leher, kakinya mencoba meraih lantai kehilangan pijakan seakan lantai semakin menjauhinya .

Jaejoong menjerit berhambur kearah mereka. "Demi Tuhan, Yunho, kau akan membuhnnya."

Mengabaikan pukulan tangan Jaejoong yang tak seberapa Yunho menatap Choi Sangwoo tajam. " Putramu sudah meninggal, dan kau berniat mengikat wanita muda yang tidak berdaya untuk tetap menjanda demi putramu, menghalanginya untuk mencari kebahagiaan untuk dirinya sendiri, apakah itu alasannya? mengapa kau menyembunyikan Jaejoong selama empat tahun,,, Brengsek." Yunho mengguncang tubuh Sangwoo beberapa kali sampai pria itu hampir kehilangan kesadaran.

"Kau berniat membuat Jaejoong menjanda seumur hidupnya, betapa tidak berperasaan terhadap satu satunya keluargamu. Atau kau berniat membunuhnya agar dia bisa bersama dengan putra terkutukmu itu, seharusnya aku membawa Jaejoong bersamaku lima tahun lalu."

Tangan Jaejoong berhenti menarik lengan Yunho. Kata kata pria itu seperti pedang yang menghunus ke jantungnya. Ia terdiam menunggu mertuanya berkata, apapun untuk menyangkal tudingan yang di arahkan Yunho untuknya. Benarkah mertuanya itu tidak menginginkan ia bahagia disisa hidupnya?

Membayangkan kenyataan ia akan menghabiskan sisa hidup bersama Hyuna sampai anaknya itu menikah menimbulkan kesedihan di relung hati Jaejoong, bagaimana kehidupanya setelah itu. Kebahagiaan hidup bersama pria yang menjadi suaminya telah terenggut begitu saja darinya. Impianya yang hanya sekedar impian, ia tidak mampu meraih kebahagiaan tidak akan pernah lagi.

Tuhan tahu. Jaejoong takut hidup kesepian, impianya adalah memiliki keluarga besar dengan banyak anak, cucu dan suami sampai dihari tua, apakah ia akan benar benar sendiri pada akhirnya.

Teriakan Ayah mertua menyadarkan Jaejoong. "Dia tidak akan bahagia bersamamu." Sangwoo berkata di tengah tengah cengkraman kuat Yunho. Tidak heran ia adalah pemimpin mafia, kekuatan pria itu sangatkah besar, otot otot tangan Yunho begitu keras di kulit tangan pria itu.

"Dan kau lebih memilih mengurungnya dalam pernikahan. Aku memuji betapa bijaksananya engkau pak tua, membiarkan Jaejoong menjalani sisa hidupnya seorang diri apakah itu juga yang diinginkan putramu?" Melepaskan cengraman di leher Sangwoo Yunho melangkah mundur setelah menghempaskan tubuh kecil itu kedinding. Ia tidak akan membunuh pria tua itu saat ini, tidak dengan mudah.

Jaejoong membisu tidak bergerak di samping Sangwoo yang bersandar ke dinding, wajah wanita itu pucat seperti kapas. Yunho berniat merengkuh wanita itu dan menenangkan Jaejoong, menghiburnya.

"Jaejoong."

"Jangan sentuh aku," ia mengibaskan tangan Yunho. "Papa benar, aku tidak akan menghianati pernikahan suci kami. Aku tidak akan menikah denganmu, tidak juga dengan pria lain"

"Brengsek.," Yunho melayangkan pukulan kearah perut pria itu. Sangwoo terdorong kebelakang dan membentur dinding sekali lagi. "Kau telah meracuni pikiranya." Tidak akan Yunho maafkan pria tua itu.

Sangwoo terbatuk, dan rubuh. Terbatuk lagi beberapa kali dan kembali bangun hanya untuk mengejek Yunho. Sangwoo begitu yakin Yunho tidak akan sampai membunuhnya, jika pria itu berniat membunuh dirinya sudah sejak lima tahun lalu Pria itu akan melenyapkanya bukan? Hanya Sangwoo tidak tahu Jaejoonglah alasan Yunho untuk tidak membunuh orang yang menyebabkan ayah kandungnya terbunuh dalam ledakan pabrik di prancis.

Pintu terbuka munculah Changmin dengan wajah khawatir yang begitu kentara. Yuri sudah memberitahu semuanya sebelum pengasuh itu membawa Hyuna pulang.

Changmin menutup pintu di belakangnya dengan segera. Tidak perlu bertanya apa yang telah terjadi sebelum ini. Wajah merah padam Jung Yunho, Paman Sangwoo yang membungkuk dan Kakaknya Jaejoong yang wajahnya memucat.

"Jung Yunho. Aku tidak akan memaafkanmu seandainya kau berani menyakiti Jaejoong." melangkah dengan kakinya yang panjang ia menarik Jaejoong kebelakang tubuhnya. Memberikan perlindungan yang seharusnya ia berikan sejak lima tahun silam.

Sayangnya waktu Changmin masih dalam perjalanan dari akademi ketika Yunho disana, ia hanya berpapasan ketika Yunho masuk kedalam mobil laborgini di depan gedung hotel dan pergi.

Jaejoong beringsut kepada sang adik mencari perlindungan lebih.

"Brengsek, aku tidak menyakitinya."

"Kau telah menyakitinya, Jung. Sejak lima tahun lalu, bisakah kau berhenti mengganggu kakaku jika kau benar benar menginginkan dia bahagia."

"Dia akan bahagia jika menikah denganku, aku akan memberikan semua yang di inginkan,,, bahkan..."

"Aku tidak akan membiarkan cucuku memiliki Ayah tiri sepertimu."

Yunho menjawab dengan keyakinan yang begitu tegas. "Aku akan menggap Hyuna seperti putri kandungku, aku akan memanjakanya melebihi apa yang bisa kalian berikan kepadanya."

Cengraman di lengan Changmin membuktikan Jaejoong begitu ketakutan dengan kata kata yang di lontarkan Sangwoo. "Ya Tuhan, bisakah kalian semua diam. Kalian tidak hanya membuat Hyuna ketakutan, apa kalian menginginkan Kakak ku kembali koma karena stres." Pelukan posesif Changmin dan wajah Jaejoong yang pucat menyadarkan Yunho.

"Sial,,," Umpatan keluar dari mulut Yunho. Ia tidak berniat membuat Jaejoong ketakutan.

Semua berantakan, semuanya, percuma ia membebaskan Jaejoong hanya untuk mencari waktu yang tepat untuk mendekati wanita itu agar tidak takut kepadanya. Kini, semuanya sia sia, ia telah kehilangan kesabaran dan menghajar Ayah mertua yang begitu di banggakan Wanitanya.

Jemari Yunho menyusuri rambutnya yang kusut dengan gelisah." Maafkan Aku, Jaejoong aku tidak berniat,,, aku."

"Hallo,,, apa ada orang."

Yoochun dan Siwon saling dorong di pintu dengan berisik. "Kau menginjak kakiku, Park."

"Maafkan aku, kakiku tidak memiliki mata."

"Aku maafkan."

Mereka berdua melengang masuk dengan santai, mengabaikan suasana ruangan yang dingin sedingin kutub utara.

"Keluar kalian." Bentak Yunho. " ini bukan saatnya kalian ikut campur."

"Oh, tapi aku berani jamin kau akan senang karena aku ikut campur kali ini." ujar Yoochun penuh percaya diri.

"Aku baru saja mendapat kabar, kabar yang memang aku selidiki dalam minggu terakhir dan sangat sulit untuk mendapatkan info tersebut karena harus memulai penyelidikan dari prancis dan secara pribadi tentunya, sampai sampai aku harus menculik putri dokter tua bangka yang tidak mau bekerja sama dengan para detective kita."

"Cepat katakan apa yang kau ketahui." bentak Yunho

"Maafkan aku Dude, aku menguping pembicaraan kalian barusan, entah apa yang di rencanakan pria tua itu sampai menbunyikan kebenaran ini," ketika Yunho akan menyahut Siwon melanjutkan." Diam dulu nak, dengarkan kami selesai bicara."

Siwon menghadap kearah Changmin. "Maafkan aku karena mengatakan ini. Atau kalian ingin mengatakan sendiri kepada Yunho secara pribadi."

Mata Changmin melebar menatap surat yang di keluarkan Yoochun dari balik jasnya. "Tidak!" ia berseru melepas Kakaknya berniat merebut surat bersegel salah satu rumah sakit di Seoul.

Siwon menahan pria itu agar tetap di tempatnya. Terdengar isakan tangis Jaejoong. "Lambat laun, kami akan tahu yang sebenarnya." ujar Siwon.

Yunho membentak keras. "Apa apaan kalian."

"Oh, diamlah Nak."

"Kau tahu Yunho? Choi Seunghyun tidak bisa memiliki keturunan."

Yunho menggeram marah mengertakan giginya sampai rahangnya terasa sakit. Ia berkata dengan ketenangan yang di paksa. " Apa hubunganya hal itu dengan masalah ini..." Ia terdiam. Otaknya berusaha mencerna apa yang baru saja didengarnya. Tunggu.

Mencari jawabannya, pandangan Yunho menatap Jaejoong, wanita itu sudah dalam dekapan Changmin lagi dan terisak semakin keras.

"Ya Tuhan, kalau begitu Hyuna adalah..." Jantungnya berdetak begitu keras sampai terasa begitu sakit. Kepalanya seakan dipukul palu begitu keras sampai ia tidak yakin ia masih bisa berpikir dengan jernih.

"Ya Dude. Hyuna adalah putrimu."

Kebahagian, penyesalan, dan rasa bersalah. Semua bercampur menjadi satu dalam rongga dada lalu mengerogoti hati Yunho. Tentu saja ia bahagia, bagaimana tidak! Ia memiliki putri yang sudah begitu besar. Empat tahun, dan selama itu pula ia tidak pernah sekalipun mendampingi sang buah hati selama pertumbuhanya . Apakah ia sedang bersedih, menyesal atau ...entahlah?

Sesak di dadanya benar benar menyakitkan ia sulit bernafas, seandainya dengan berkelahi atau di pukuli di atas ring mampu mengurangi rasa sakit dan penyesalan yang ia rasakan, akan dengan senang hati Yunho berdiri di tengah ring dan merelakan dirinya menjadi sasak latihan petinju petinju andalan di klubnya sendiri.

Ia sadar semua itu tidak akan ada gunanya, meskipun ia ditembak sekalipun tidak akan dapat memutar waktu dimana kesalahan itu di mulai. Ia tidak menyesali kelakuan bejatnya yang menjadi alasan Hyuna lahir kedunia, ia menyesali mengapa ia tidak menyadari ini sebelumnya.

Seharusnya ia curiga atau mencari tahu, namun ia hidup dalam rasa bersalah yang berujung mengabaikan segala hal yang berhubungan dengan Kim Jaejoong. Wanita malang yang ia renggut kesucianya di malam pengantin wanita itu. Yunho lebih memilih menutup mata dan telinga dari apapun yang berhubungan dengan Jaejoong sampai kecelakaan itu terjadi, dan berita meninggalnya Choi Seunghyun dan Istrinya kembali membuat Yunho semakin tertutup dari dunia luar.

Tidak seharusnya ia mengurung diri, tidak seharusnya ia tidak mencari tahu apakah Jaejoong hamil dan apakah janin di dalam perut wanita itu adalah buah dari kelakuan bejatnya.

Sembilan bulan Jaejoong mengandung putrinya darah daging Yunho dan ia sendiri tidak mengetahui itu. Seandainya ia mencari tahu sebelumnya. Mungkinkah ... Tidak, ia sadar semuanya tidak akan jauh lebih baik dari sekarang.

"Jangan nyalakan lampunya."

Yunho menarik jemarinya kembali ketika Jaejoong memperingatkan. Mereka berada di dalam kamar Hyuna di rumah keluarga Kim, kamar itu tidak begitu besar namun penuh dengan mainan boneka dan foto foto Hyuna Jaejoong dan Changmin.

Tangan Yunho terkepal erat ketika menemukan foto Choi Sangwoo kemudian Choi Seunghyun yang menggendong putrinya dan memeluk Jaejoong, Hyuna masih sangat kecil dalam balutan selimut merah muda. Kecemburuan merasuki diri, seharusnya Yunholah yang ada dalam foto itu.

Tetapi, apakah dirinya berhak atas Jaejoong dan Hyuna, setelah apa yang ia lakukan terhadap sepasang ibu dan anak malang itu.

Hyuna terlelap di atas ranjang yang tidak begitu besar, cahaya redup lampu meja tidak begitu cukup terang bagi Yunho untuk melihat wajah putrinya. Akan tetapi itu sudah lebih cukup untuk melihat kenyataan yang menyakitkan, bagaimana ia tidak menyadari ini sebelumnya, ada sedikit kemiripan di wajah Hyuna dengan dirinya.

Membungkuk di atas ranjang berwarna putih itu Yunho duduk di lantai, memandangi gadis kecil yang tertidur begitu lelapnya, begitu damai sampai Yunho dapat merasakan kedamaian tersebut menular menelusup kehatinya yang hampa.

"Bagaimana bisa kau merahasiakan kenyataan ini dariku Kim Jaejoong." tanpa menatap Jaejoong Yunho bertanya. Ia tidak rela mengalihkan pandangan dari mengamati putrinya yang terlelap.

Tidak ada jababan yang keluar dari mulut Jaejoong, wanita itu membisu dan terisak sesekali. Yunho tidak berani menyentuhnya, tidak berani memandang Jaejoong atau memeluk wanita itu. Mekipun ia sangat ingin merengkuh wanita itu kedalam dekapan hangatnya.

"Ceritakan kepadaku semuanya, setelah malam itu. Setelah aku memperkosamu dan menghancurkan hidupmu." sengaja Yunho berkata kejam, untuk melihat ekspresi wajah Jaejoong.

"Tidak disini, aku takut membangunkan Putriku."

"Dia juga purtiku." Rasanya aneh bagi Yunho mengatakan Hyuna adalah putrinya. Apakah ia berhak, apakah Hyuna mau menganggap Yunho sebagai Ayahnya?

Yunho menunduk mendaratkan ciuman di kening Hyuna sebelum keluar dari kamar mengikuti Jaejoong ke ruangan lain di ujung lorong, ruang kerja di lantai yang sama.

Rumah telah sepi. Changmin belum kembali masih di tempat pesta seandainya pria itu tidak dibutuhkan lagi di sana, Yunho jamin pria itu akan ikut pulang bersamanya dan Jaejoong.

Penghuni rumah lain sudah tertidur para pelayan sudah beristirahat di lantai dasar. Kini tinggalah mereka di ruang kerja yang Yunho yakini digunakan sebagai ruang kerja Changmin.

Ruangan itu tidak lebih besar dari kamar Yunho, ada beberapa medali yang dilihat dari bentuknya adalah mendali masa kecil entah milik Jaejoomg atau adiknya.

Melangkah kearah balkon Jaejoong membuka tirai berwarna merah marun dan membuka serta jendela, angin segar berhembus memenuhi ruangan, hembusan angin menerbangkan rambut Jaejoong yang panjang.

Berdiri di belakang Jaejoong Yunho melihat tubuh Jaejoong menegang. Tahu Yunho berdiri begitu dekat denganya.

Jaejoong masih tidak berani menatap kebelakang, pandanganya lurus kearah langit gelap yang hanya diterangi beberapa bintang. "Sepertinya akan hujan."

"Ceritakan kepadaku Jaejoongie, Apakah Seunghyun tahu, Hyuna bukanlah putri kandungnya."

Tentu saja ia tahu. Hal menyakitkan untuk diingat, bayangan kekecewaan dalam sorot mata di wajah Seunghyun yang di tunjukan untuk dirinya kembali hadir ketika Jaejoong menutup mata. " Ya, dia tahu."

"Dan dia masih menerima Hyuna sebagai putrinya." Jaejoong mengangguk. "Apakah Seunghyun memperlakukan kalian dengan baik? Atau dia memukulmu karena kau tidak perawan di saat pertama ..."

"Dia menerimaku apa adanya." lirih Jaejoong." Awalnya ia sangat bahagia aku hamil di bulan pertama setelah kami menikah, akan tetapi Papa curiga dan meminta kami menjalani tes." Jaejoong memeluk tubuhnya sendiri.

"Suamiku tentu saja dengan senang hati melakukan tes, bahkan aku sendiri tidak yakin malam itu ,,,ketika kau ..." isakan kecil keluar dari bibir Jaejoong."Kau hanya melakukan itu sekali aku sangat yakin janin dalam rahimku adalah anak Seunghyun akan tetapi semua salah."

Anak Seunghyun. Sesuatu seakan menghantam dada Yunho dan menghimpitnya begitu keras, sampai ia sulit untuk sekedar bernafas. Membayangkan Jaejoong di atas ranjang bersama pria itu ,,,, Sial. Beginikah rasanya cemburu. Benar benar menyakitkan.

Memberanikan diri Yunho meraih pinggang Jaejoong dan memeluknya, tidak ada perlawanan dari Jaejoong, wanita itu menyerahkan diri sepenuhnya kedalam dekapan hangat lengan Yunho. "Maafkan aku." ia berbisik di telinga Jaejoong. "Lanjutkan ceritamu."

Beberapa detik hening kembali, yang terdengar hanyalah suara mobil dan hembusan angin dari luar sana.

" Ketika kenyataan itu terungkap Sunghyun benar benar terluka, karena Papa menginginkan cek kesehatan penuh, bukan hanya ingin tahu tentang siapa ayah dari Janin dalam kandunganku saat itu, dokter mengatakan suamiku tidak bisa menghasilkan benih untuk rahimku. Ia begitu terluka atas kenyataan yang di alaminya," Yunho mengeratkan pelukanya ketika merasakan tubuh Jaejoong terguncang akibat tangisan wanita itu.

"Itukah alasan Seunghyun menerima Hyuna? Karena pria itu sadar dirinya tidak dapat memiliki keturunan sedangkan kau hamil, kau istrinya dan pastinya semua orang berpikir Hyuna adalah putri kandungnya," Benarkah begitu? Jaejoong sendiri tidak pernah memikirkan itu sebelumnya.

Mencoba melepaskan diri dari dekapan Yunho Jaejoong mengangkat wajah untuk menatap wajah Yunho dengan marah. "Kau bajingan kejam, apakah di otakmu hanya memikirkan keburukan seseorang, tidak semua orang berpikir sama seperti apa yang kau pikirkan."

Mengabaikan pukulan kepalan tangan Jaejoong Yunho mundur membiarkan wanita itu melampiaskan amarah yang selama ini dipendamnya. Jaejoong berhak memukulnya bahkan membunuhnya sekalipun jika Jaejoong menginginkan itu."Aku minta maaf." Tidak pernah terpikir oleh Yunho, perasaanya akan begitu lega sesudah mengatakan maaf. Dalam hidupnya ia tidak suka mengatakan hal seperti itu, ia adalah pemimpin mafia tidak terbiasa mengatakan hal merendah seperti itu.

"Dia benar benar mencintaiku, kau tahu?" Jaejoong kembali terisak. "Seunghyun oppa benar benar mencintaiku, dia adalah suami yang baik dan aku mencintainya."

Mendengar itu dari mulut wanita yang kau cintai, hati Yunho seakan di gores oleh pedang paling tajam dan beracun. Perih, membuat perut Yunho terasa jungkir balik dan susah bernafas. Ia membenci sakit ini, radanya benar benar menyakitkan.

"Apa yang kau inginkan Jaejoong?" Yunho bertanya.

Ia telah memutuskan untuk mengakhiri ini secepatnya. Yunho menginginkan Cinta dari Jaejoong, bukan keterpaksaan karena Hyuna adalah putri mereka yang mendorong Jaejoong untuk menerima lamaran darinya.

"Apakah aku harus memaksamu menikah denganku? Atau kau ingin aku harus melepaskan Hyuna dan berpura pura dia bukanlah putriku."

~TBC~

Thanks buat RCL masukan dan kritikan kalian. semua ripiu aku baca, maaf gx bisa balas satu satu. kasih tahu saya jika ada kesalahan kata dan typo fatal. Kamsahamnida.

Yang nanya nama Author siapa itu maaf juga aku gx kenal T,T

PENGUMUMAN kami para Author kece(?) membawa Yunjae kedalam negeri dongeng. Dan di rangkum dalam sebuah buku oleh sepuluh Author kece lainya.

Judul : Yunjae Fairy Tales (Hard Cover)

Author : Nara Yuuki, Jaeho Love, Gothic Lolita, Misscelyunjae, Sherry Kim, My Beauty Jeje, Snow Queen BabyBoo, Yoori Michiyo, KimRyan 2124, dan Puan Hujan.

Harga : 109.000

Bonus : Tas lucu, Pin/ Ganci

Halaman : -/+ 450

Sinopsis : Menyusul

Paket souvenir : 135000 -edisi terbatas-

Harga belum termasuk ongkir.

minat hubungi Author.

Fb : Sherry kim

Line :Ziyakim

Batas PO 10 November

Membeli buku sudah termasuk donasi berbagi sebesar 5000 untuk mereka yang kurang mampu dan sekolah sekolah yang membutuhkan.