A/N : Hi! Kelihatannya sudah lama sekali kita tidak bertemu ya para readers. Ya..gak 'ketemu' juga sih /abaikan yang ini/ tapi saya senang sekali kalau kalian masih mau baca ini cerita.

Maaf atas keterlambatan update fic satu ini. Bahkan saya yang nulis aja lupa ceritanya, sebelum update baca fic sendiri deh jadinya.

Oh, dan saya ingat sekali kalau saya belum tulis WARNING ya? Hayo~ siapa yang anti-homo nyasar kesini? XD. Baiklah, begini...

Beberapa minggu yang lalu, saya lupa sih kapan tepatnya. Kalo gak salah setelah saya update 'Extra' ya?. Ada yang review kalo dia jijik sama Fic ini. Ooh, saya gak marah sih, biasa aja. Meskipun saya tahu kalo ada fasilitas hapus review yang tak 'sesuai' tapi saya biarin. Gini, kayanya meski saya tak kasih warning di setiap Chapter harusnya kalian para readers tahu lah ya, kalo ini Fic Yaoi?

Saya yakin benar kalo Cover dan Pairing ini sudah kelihatan Yaoinya, ok saya lebih suka sebut dengan Shonen-ai. Kecuali kalo mungkin dia gak liat seri Gintama kali ya?. Ya udah, saya sangat minta maaf kalo ada yang nyasar...

Tapi saya ingatkan kembali. Jadi Readers juga harus pintar. Pintar disini harus pandai pilah-pilah, anak-anak aja kalo nonton TV harus ditemenin orang tua biar gak liat yang engak-enggak. Tapi...siapa juga yang mau baca fic sambil ditemenin mommy? :p /canda aja nih saya jgn ambil hati/ Kalau saya sih sebenernya sering nyasar, ke Pair yg saya anti banget. Tp juga langsung out aja. Gak rajin-rajin kasih-kasih 'review' lah. Capek ngetik ama tunggu load nya aja.

Emang saya sih mungkin yang salah ya gak kasih WARNING?. Ya udahlah, jangan ada yang nyasar lagi. Jadi kasihan juga kan kalo ada yang mau baca ceritanya tapi AN nya gini banyak, cape baca tau~. Sapa juga mau baca Author lagi cerewet?

Udahlah kita mulai— ENJOY! : )


_Chapter 10 : Useless_

Ketika Hijikata terbangun, langit telah berubah warna menjadi ke-orangean. Dia bangkit berdiri lalu mengingat kembali mimpinya. Mimpi yang aneh, tapi memang...ini sesuai perasaanku. Tapi bukannya ini sudah saatnya untuk menurunkan harga dirinya?. Jika memang dia tidak mencintai Gintoki, kenapa juga dia menerimanya?—Sampai sekarang pertanyaan tersebut masih belum bisa dijawabnya.

"Kau mau berpacaran denganku atau apa?"

Dia ingat betul kalau itu balasannya untuk Gintoki yang telah mengaku padanya. Tapi...kenapa juga dia menawarkan dirinya?. Ini membuatnya pusing, rasanya hari ini dia tidak ingin melakukan apapun.

Berdiri. Hijikata menganti seragamnya dengan Yukata hitamnya setelah itu dia keluar menikmati angin sore. Teringat lagi wajah Ketsuno Ana, wanita yang sangat digemari pacarnya. "Wanita itu..." dia bergumam "Kudengar si keriting sialan itu punya beberapa wanita yang menaruh hati padanya. Apa dia salah satunya?"

Kalau begitu...beruntung sekali dia.

Ups!? Apa yang telah dipikirkan seorang Hijikata Toushiro?. Baru saja dia mengakui kalau dia, si wakil komandan Shinsengumi cemburu dan iri pada wanita pembawa acara ramalan cuaca. Tunggu, bukan berarti dia tidak suka kenyataan kalau dia telah cemburu, hanya saja apa tidak apa-apa?. Maksudnya, apakah tidak apa-apa kalau dia cemburu?

Hmm... bukannya aku sudah menyerah?. Maksudku dia, saat kukira dia selingkuh aku telah menyerah. Dan apakah ini benar-benar waktunya untukku menyerah?

Tapi Gintoki dimimpinya sangat giat mengejarnya. Dan itu hanyalah mimpi! Apa yang diharapkannya? Kalau memang si Gintoki mau menyudahinya ya su—

"Apa aku bodoh?"

Hijikata memukul dahinya sendiri. Dia mulai sadar kalau masalah sebenarnya bukan itu. Tapi masih pertanyaan pertamanya 'apakah dia mencintai Gintoki?'

"Apa aku mencintainya?"

Jelas bukan kalau iya...err...iya? jadi dia menyukai Gintoki sebelum si kepala gulali itu mengaku padanya? Atau sesudahnya?

OXO

"Selamat datang Gin-san," Shinpachi menyapanya. Ketika remaja tersebut melihat atasannya—yang tidak pernah membayarnya— yang kembali dengan lesu, dia bertanya "Ada apa?"

"Hmm...tidak ada," Gintoki mengelengkan kepalanya lalu duduk di salah satu sofa lalu mencari remote TV. Setelah mencari-cari Channel dia menoleh ke remaja yang sedang berdiri tak jauh darinya "Benar-benar tidak ada Pattsuan" ulangnya. Tahu betul kalau dia sedang diperhatikan.

"Kau ke tempat Hijikata-san bukan?," tanya Shinpachi lalu duduk di sofa yang berhadapan "Kau bisa berbaikan dengannya?" tanyanya lagi. Dia tahu kalau dia sudah menjadi 'ibu' yang cerewet tapi dia mencemaskan pemuda berambut perak tersebut. Dia selalu penasaran, kenapa Gintoki dan Hijikata tidak bisa bersatu seutuhnya? Padahal mereka cocok dan dari penglihatannya mereka saling mencintai. Lalu kenapa harus berakhir seperti ini?, Kenapa juga Hijikata harus salah paham?, Kenapa Hijikata-san tidak mempercayai Gin-san?.

"Aku tidak bisa berbicara dengannya. Dia tidur," jawab Gintoki lalu menyandarkan pungungnya. Saat melihat Shinpachi menghela nafas, dia juga ikut menghela nafas "Kenapa kau begitu risau? Ini bukan seperti kau adalah pacar Hijikata"

Shinpachi tersenyum tipis lalu terkekeh geli. Harusnya tidak ada yang lucu tapi baginya pertanyaan Gintoki lucu. Pemuda berambut perak di depannya sampai menaikkan alis dibuatnya "Apa-apaan sih?" Gintoki mengembungkan kedua pipinya terlihat kekanak-kanakan. Shinpachi mengabaikannya dan mengalihkan pandangannya ke TV "Kita keluarga," mulainya membuat raut wajah Gintoki mengeras " Dan sebagai keluarga. Kita saling mengkhawatirkan"

Gintoki mengerutkan dahinya. Rasanya Shouyou-sensei pernah mengatakan sesuatu seperti itu di depan kelas. Kalau tidak salah, itu ketika salah satu anak menghilang karena tersesat. Lalu akhirnya kami mencari anak itu sampai seharian...

"Kau menganggapku sebagai keluarga huh," Gintoki menyeringai "Meskipun aku tak pernah meng-gajimu"

"Kau pernah menolongku. Dan aku masih menunggu gajiku, Gin-san" balas Shinpachi sambil tersenyum lebar

"Ngomong-ngomong dimana Kagura?"

"Masih jalan-jalan bersama Sadaharu"

...

Seperti kata Shinpachi. Anak perempuan berpakaian China itu masih berada di taman, membiarkan anjing besar kesayangannya berlarian bersama anak-anak lainnya. Namun, tidak seperti biasanya Kagura tidak ikut bermain dan malah duduk di kursi panjang bersama remaja laki-laki yang sangat dibencinya. Seperti biasa Okita Sougo kabur dari tugasnya.

"kalau kau seperti itu terus, atasanmu yang satu itu bisa membunuhmu"

"Hijikata-san?...Kebalikannya, dia terlihat seperti mau bunuh diri sekarang"

Sougo menguap lebar lalu bersandar dengan santai memperhatikan langit yang mulai menghitam "Dia beristirahat dengan 'tenang' di markas sekarang. Entah apa yang bisa dipikirkan si penggila mayo itu"

"Heh... kau khawatir padanya?," Kagura menyeringai licik. Jarang sekali bisa mendengar pengeran sadis curhat padanya. Sougo meliriknya tajam lalu mendengus "Tidak mungkin," balasnya terdengar malas sekali "Aku tidak peduli, hanya saja aku ingin cepat Danna menyeret si bodoh itu keluar dari Shinsengumi. Agar aku bisa menjadi wakil komandan"

"Kalau itu sih. Kau bisa mendapatkannya kalau kau membunuhnya, dengan dia yang bad mood seperti itu. Dia seperti kecoak"

Sougo terkekeh geli lalu mulai ketujuan awalnya. Sebenarnya mereka berdua tidak sengaja bertemu, biasanya si remaja bersurai coklat-pasir tersebut hanya akan berdebat sebentar dengan gadis itu lalu pulang. Tapi kali ini mereka duduk bersama karena—"Ketsuna Ana. Apa hubungannya dengan Danna?" tanya kapten Shinsengumi devisi pertama. Bola matanya yang senada dengan rambutnya menatap gadis bermata biru langit itu dengan tajam. Ala polisi yang menginterogasi tersangka.

"Lihat? Kau peduli bukan?," namun gadis itu tak gentar bahkan tak peduli. Kagura tersenyum lebar dengan liciknya "Akui saja kalau dia ada mama mu!"

"Siapa yang mama ku?"

Kelihatannya pertarungan akan dimulai lagi. Sougo sudah mulai memegang sarung katananya dan Kagura yang memanas-manasinya sudah memegang gagang payungnya— payung yang bisa nembak— "Setidaknya si Mayora pernah merawatmu bukan?"

"Dan Danna merawatmu! Kalau begitu dia papa mu" ucapan itu keluar begitu saja tanpa dipikirkannya. Ini juga...jarang sekali si pangeran sadis terbawa suasana. Namun setelah mendengar itu, mereka berdua terdiam. Saling menatap lalu menghela nafas panjang—yang paling panjang dalam hidup mereka— kelihatannya memang ada benarnya... maka karna itu para fans menganggap kita adalah anak mereka...

OXO

"Anaknya pak tua?"

Setelah beberapa hari akhirnya Hijikata kembali normal. Saat ini Shinsengumi sedang senggang, kasus kemarin juga sudah terselesaikan. Tentu saja Takasugi bukan dalang kali ini, karena ternyata itu masalah dalam keluarga Shogun. Masalah pribadi.

Dan sekarang saat mengurus masalah pribadi Hijikata sendiri. Meskipun dia belum menemukan apapun untuk saat ini, tapi masalah baru sudah muncul.

"Yah...dia sangat ingin bertemu denganmu"

Saat ini Hijikata dan Kondo berada di ruangan yang sama. Duduk berhadapan, namun santai. Disana juga ada Sougo yang leyeh-leyeh sambil membaca majalah. "Hmm...kalau tidak salah namanya Kuriko!" tambah Kondo mencoba menghilangkan wajah masam Hijikata, tapi kelihatannya tidak berhasil.

"Matsudaira Kuriko" tambah Sougo lalu kembali pada majalahnya. Tidak perlu melihat dua kali untuk mengetahui perasaan Hijikata-san yang amburadul saat ini. Tentu saja, untuk saat ini si pemuda berambut hitam tersebut tidak ingin bertemu dengan siapapun yang berhubungan dengan cinta.

Kelihatannya anak gadis atasan mereka semua pernah mengaku pada Hijikata. Dan tentu ditolak, entah apa itu alasannya. Tapi wanita selalu pantang menyerah tentang hal-hal tertentu bukan?.

"Err...maaf Kondo-san kau tahu, aku—"

"Aku tahu," balas Kondo mantap "Tapi sebenarnya...ini demi nyawaku juga," katanya sambil membuat wajah cute puppy "Kau tahu sifat pak tua yang sangat memanjakan anaknya bukan?"

Tentu. Tidak ada anggota Shinsengumi yang tidak tahu sifat si pak tua Matsudaira, yang egois dan daughter-complex. Mau tidak mau, akhirnya Hijikata mengangguk "Baiklah. Katakan si pak tua itu...tapi aku tidak janji kalau aku benar-benar bisa bertemu dengan anaknya. Dengan jadwal kita yang tidak menentu—"

"Baiklah!," Sorakan Kondo menyela ocehan bawahannya. Segera di komandan berdiri lalu mengambil HP nya dari saku celana. Sougo menghentikan kegiatan membacanya sejenak, untuk menafsirkan situasi terburuk. Pandangan Sougo dengan Hijikata tanpa sengaja bertemu "Bagaimana menurutmu?," tiba-tiba Hijikata bertanya "Apa ini akan baik-baik saja?"

Sejenak manik coklat milik Sougo membulat. Pasti Hijikata sedang sangat kacau sekarang sampai bertanya hal ini pada 'musuhnya'. Kasihan juga sih, namun Sougo hanya bisa menaikkan kedua pundaknya "Mana kutahu" jawabnya.

...

Seminggu kemudian, di saat jadwal Shinsengumi padat kembali. Yamazaki datang memintanya untuk menemui Matsudaira dan anaknya.

"Hari ini? Jangan bercanda!" Hijikata duduk di depan meja kerjanya. Manik birunya menatap Yamazaki dengan tajam, seperti siap menerkam. Inspektur itu yang paling tahu kalau wakil komandan sedang sibuk, dia juga yang paling tahu kalau Hijikata akan menolaknya. Namun kali ini Yamazaki tetap memaksa atasannya "Tapi wakil komandan...Matsudaira –san ada di luar, dan nyawa Kondo-san ada di tanganmu sekarang!" pria berambut hita tersebut memasang muka please! Sekarang.

"Apa kakek itu sudah gila?," geram Hijikata lalu dengan terpaksa berdiri. Untuk beberapa saat dia diam sambil melipat lengannya di depan dada, mungkin sedang mempertimbangkan semuanya. Lalu akhirnya dia melambaikan tangannya "Aku mengerti," katanya "Aku akan kesana, pergilah!" perintahnya dengan nada frustasi.

"Baik, wakil komandan"

OXO

Matsudaira Kiriko, gadis berpotongan rambut pendek yang manis. Dia dan Hijikata yang sedang dengan yukata hitamnya menelusuri jalan kota. Pemuda berambut hitam disampingnya tak mengatakan apapun sedari tadi, membuat gadis itu khawatir jika keberadaannya mengganggu si wakil komandan. Dengan canggung Kiriko bertanya "Bagaimana kabarmu? Sudah lama kita tidak bertemu..."

Hijikata yang baru sadar telah mengabaikan 'pasangannya' menoleh lalu menjawab "Biasa saja. Kau tahu Shinsengumi punya pekerjaan yang ketat. Kuharap ayahmu juga merasakan penderitaan kami" terdengar sarkas memang, tapi itulah caranya berbicara. Untuk saja Kiriko terbiasa degan kebiasaan tersebut.

"Maaf. Karena aku sangat ingin bertemu denganmu..."

"Tidak apa-apa...aku mengkorbankan waktu luangku untukmu" tentu demi Kondo-san, sebenarnya. Bisa-bia dia mati dengan cara yang aneh pula...

Kiriko tersenyum tipis "Karena Ayah bukan?" pertanyaan tersebut membuat mereka berda berhenti berjalan. Hijikata memicingkan matanya, terlihat kesakitan saat memandang tanah di bawah sana. Cinta memang seperti itu, tidak berguna hanya membuat siapapun sedih dan kesakitan. Beberapa bulan yang lalu Hijikata menolak gadis itu mentah-mentah dengan alasan aku sibuk atau mungkin alasan sebenarnya adalah; saat itu dia sedang menjalin hubungan dengan Gintoki? Entahlah apapun boleh, yang penting Hijikata sudah menolak Kiriko. Mungkin kalau Matsudaira tahu, dia bisa dibunuhnya.

"Sebenarnya...sekali saja aku ingin kau menemuiku tanpa ada campur tangan ayah," aku Kiriko sambil memegangi kimono bagian bawahnya dengan erat, seperti menahan rasa sakit yang luar biasa "Tapi...itu tidak akan pernah terjadi ya?"

Gadis itu terlihat seperti akan menangis. Tanpa sadar tangan Hijikata bergerak, menggandeng gadis itu untuk menjauh dari tengah jalan dan kepingiran. Di depan sebuah gang yang diapit dua bagunan.

"Sudah tenang?" tanya Hijikata. Memang gadis itu tidak sampai mengeluarkan air mata tapi setidaknya masih membuat si wakil komandan bersimpati. Kiriko mengangguk lalu mendongak melihat wajah tampan orang yang disukainya "Jadi..kelihatannya kau sedang menyukai seseorang, Hijikata-san"

Entah kenapa warna merah yang sangat tipis sekali muncul di pipinya, itu karena wajah kurang ajar Gintoki muncul seenaknya...mungkin. sebelum membalas dia menghela nafas panjang "Apa kau ingin bertemu denganku untuk membicarakan hal-hal berat seperti ini?"

Manik bulat gadis itu berkedip dengan manis, namun nampak dia sedang kebingungan "Ku—Ku pikir kau ingin pembicaraan kita penting agar kau tidak merasa waktu luang terbuang sia-sia" jawabnya

"Ha?!" Hijikata menaikkan salah satu alisnya "Aku malah berharap kalau kau membuatku tenang. Maksudku...kesempatan untuk menjauh dari pekerjaan" itu tambahan agar membuat Kiriko senang sebenarnya. Dan itu bekerja, gadis itu merekahkan senyumannya "Benarkah?," tanyanya untuk lebih yakin. Dan saat Hijikata mengangguk dengan canggung, dia lebih kegirangan lagi "Kalau begitu, bagaimana kalau kita mampir ke restoran?"

"Baiklah..."

...

Sayangnya Hijikata tak membawa mayones kesukaanya. Ya sudahlah, ini bukan pertama kalinya dia makan tanpa topping kesukaannya. Dengan tenang dia memakan pesanannya begitu juga dengan Kiriko.

"Nah..." Hijikata memanggil "Sebaiknya kau mencari orang lain saja" tiba-tiba dia membahasnya. Gadis di depannya berhenti mengerakan tangannya lalu melihat, tepat pada matanya "Apa maksudmu Hijikata-san?" tanyanya berpura-pura bodoh. Gadis itu tahu kalau suatu saat kata-kata itu akan keluar dari mulut Hijikata, namun...tetap saja dia tidak ingin mendengarnya. Ini menyakitkan, karena dengan itu sudah jelas kalau Hijikata tidak menyukainya.

"Aku berterima kasih karena...kau menyukaiku, Kiriko," lanjut Hijikata "Tapi aku—"

*PRANG! *DUAR!

Hampir saja Hijikata mengatakan ada orang yang kusukai dinding kaca di belakang Kiriko pecah, diikuti dengan ledakan. Serangan yang terlalu ekstrim untuk perampokan bukan? Lalu siapa, teroris?...jangan-jangan mereka mengincar Kiriko?— biasa anak bos penting, gitu—Hijikata sudah siap dengan senjatanya dan melambaikan tangan untuk menyuruh Kiriko merunduk .

Nampak gadis itu ketakutan dengan juga cemas, semua tersirat di wajahnya. Ini perasaan yang sama seperti Hijikata kecil yang diabaikan keluarga dari ayahnya. Sekali lagi tanpa sadar, Hijikata menenangkan gadis tersebut "Tenanglah. Aku masih ingin hidup, jika terjadi sesuatu padamu entah apa yang akan dilakukan ayahmu"

"Dan aku tidak ingin...seseorang yang peduli denganku, terluka"

To Be Continue

AN:

Baiklah, sampai sini untuk Chapter kali ini. Oh dan saya lupa sesuatu karena sebenarnya pingin cerewet banyak diatas tapi tahu diri lah.

Kenapa gak saya hapus saja review tak menyenangkan itu?

Maaf masih dengan topik ini. Alasan sebenarnya saya tak menghapus review tersebut adalah karena: saya menghargai setiap review yang diberikan pada saya, karena itu adalah pikiran readers pada karya saya yang gak pro ini.

Jadi silahkan review kaya apapun saya terima. Cuma saya gak bisa bales sih, untuk saat ini. Maaf ya...

THANK YOU FOR READING