Aku bukan yang punya XXX HOLIC. kalo aku yang punya, XXX HOLIC nggak akan pernah tamat, dan genre nya jadi shonen ai

Pengen makan dango kaya yang dimakan Shizuka sama Kimihiro di chapter ini...

Warning : ngebuat laper dan ketawa ngakak...

Chapter 10

Manset Guide

"Lord Kagetora kabur dari penjara? Bagaimana bisa?" lord Asado mencoba mengejar langkah mereka.

"Siapkan kuda," perintah Shizuka.

"Aku ikut!" seru Kimihiro.

Shizuka menatap Kimihiro. "Apa kau bisa naik kuda?" Kimihiro merona, tahu yang dimaksud sang pangeran bukanlah tentang keahliannya.

"Uh..." Kimihiro menatap Natori panik.

Natori berdehem, "Kau bisa naik bersama Shizuka, jadi kau tidak perlu mengendarainya sendiri."

Kimihiro menatap Shizuka penuh harap. Pria itu mengerutkan dahi.

"Mungkin aku bisa membantu, ini berhubungan dengan pekerjaanku juga, ingat?" Kimihiro kesal karena menemukan nada memohon lolos dari suaranya. Sejak kapan Shizuka ikut andil dalam keputusannya. Ia adalah individu merdeka dan juga pejabat istana! Kimihiro akan menyuarakan pikirannya saat Shizuka berkata, "Baiklah."

"A.. aku akan ganti baju," Kimihiro bergegas ke kamar. Ia benar-benar gugup sekarang. Belum pernah ia benar-benar menggunakan seragamnya sebagai peramal istana. Ia membuka kotak kayu yang diberikan Yuuko dan tercenggang melihat apa yang ada di dalamnya. Ini tidaklah seperti seragam formal lainnya, mendekatipun tidak. Kimihiro merona, apa aku benar-benar harus memakai ini? lalu sebuah amplop terjatuh pada lipatannya.

Kimihiro membukanya.

Dear Kimi-chan.

Aku mendesain pakaian ini dengan bantuan Tomoyo-chan. Kuharap kau menyukainya. Omong-omong, tenang saja, itu memang seragam resmi, kok.

Salam Cinta

The Great Witch

Ichihara Youuko

Kimihiro mengerang. Ia menatap Kimono itu, menghela napas dan berjuang memakainya.

xxXxx

Saat lord Watanuki Kimihiro keluar dari kamar, semua orang terperangah, terutama Doumeki. Pria itu dalam balutan kimono sutra berwarna merah jambu dengan tepian kerah warna merah darah berhiasakan bunga sakura. Lengan kimononya panjang hingga menyentuh lutut. Ia memakai hakama berwarna biru mendekati hijau dan tanpa monstuki . Alas kakinya adalah sepatu boot warna hitam. Lambang peramal istana dibordir di dada kanannya, simbol naga bersandingan bersama sakura, menunjukkan posisinya sebagai peramal kerajaan. Pada rambutnya tersemat hiasan dari sepuhan emas berbentuk bola, dengan ukiran timbul naga emas yang menggigit sakura, sekali lagi simbol peramal istana. Tak di ragukan, itu seragam peramal istana, tapi seragam yang hanya bisa dikenakan oleh Watanuki Kimihiro. Jika orang lain yang memakainya, alih-alih menawan, malah akan terlihat aneh.

Pipi Kimihiro merona saat menangkap tatapan mereka dan ia berkata, "Jangan berkomentar. Ini ide Yuuko!" katanya sambil menghentakkan kaki dan berderap mendahului mereka. Shizuka menyadari ada simbol yang sama seperti di dada kanan sang lord di bordir di bagian belakang punggung kimononya.

Sejak awal, simbol kerajaan—sakura, selalu berdampingan dengan simbol peramal—naga. Shizuka berjalan berdampingan dengan Kimihiro, meletakkan tangannya di punggung pria itu, dan mendapatkan tatapan penasaran sekaligus pipi merona dari sang lord. "Kau tampak tampan," gumamnya, sebelum berjalan menuju kuda, meninggalkan Kimihiro yang merah seperti tomat.

Shizuka melompat naik ke atas kuda. Natori memasang tangannya untuk membantu sang lord naik. Kimihiro melompat dari tangan Natori yang mendorongnya ke atas, dan Shizuka menariknya duduk di depannya. Posisinya miring tak nyaman, dan perlu usaha keras bagi Kimihiro untuk mengatur duduknya. Kedua kakinya menyentuh paha pangeran, membuatnya merona. "Pegangan," kata pangeran, dan ia melingkarkan kedua tangannya ke sekeliling leher pangeran sebelum Shizuka menyentak kudanya dan melesat.

Penjara berada di perbatasan antara Tokyo dan Hagi. Perjalanan mereka memakan waktu, tapi berkuda membuat perjalanan lebih cepat dari pada naik kereta. Shizuka sama sekali tidak memelankan lajunya, membuat orang-orang melompat ke pinggir jalan atau sekedar menengok keluar dengan penasaran pada tiga orang bangsawan dan dua pengawal yang melaju kencang.

Setelah keluar dari batas kota, jalanan tiba-tiba menanjak dan kuda melaju lebih lambat. Mereka melewati deretan pepohonan yang membelah bukit. Kimihiro menyandarkan kepalanya di dada pangeran, dan Shizuka melingkarkan sebelah tangannya ke pinggang Kimihiro.

Jalanan bukit yang tertutup pepohonan rapat berakhir pada tanah lapang, dengan padang rumput dan bukit rendah. Mereka mendaki satu-satunya jalan disana. Di puncak bukit terlihat benteng kelabu dengan prajurit yang berjajar di pinggir atapnya. Pada bagian selatan benteng, sebuah danau menjadi batas penjara. Kuda mereka berhenti di pos pintu penjagaan. Dua orang prajurit bertombak berlari menghampiri mereka, menerima kudanya dan mempersilakan mereka masuk. Ini bukan yang pertama kalinya bagi semuanya, kecuali Kimihiro. Ia terkesiap terkejut melihat pekatnya hawa kejahatan dan kesakitan di tempat ini. Fai yang cenderung peka pada hal supranatural terlihat pucat. Kimihiro terlonjak pada hawa dingin yang menyentuh tengkuknya dan seketika ia meraih jari Shizuka, hawa jahat itu otomatis memudar dan lenyap. Kimihiro melepaskan genggamannya lagi. Shizuka meliriknya sekilas dan berdiri rapat di sebelahnya.

Kepala penjara berlari menghampiri mereka dan mengangguk hormat, "Pangeran, lord Natori," tatapannya jatuh pada Kimihiro.

"Watanuki Kimihiro."

Pria itu melirik simbol peramal istana, "Lord Watanuki Kimihiro," ia mengerjapkan mata dan pipinya memerah. Kimihiro berusaha tidak memutar bola matanya. "Saya Kepala Penjara disini. Nama saya Kanata Saionji."

"Saionji-san," Kimihiro mengangguk.

"Tunjukkan pada kami penjaranya."

Mereka masuk ke dalam lorong-lorong gelang berisi ruangan penuh jeruji. Beberapa terisi oleh pria-pria yang tampak menyeramkan. Kimihiro menyipitkan mata, berusaha melihat dengan lebih jelas diantara asap hitam kebencian, kesakitan dan hal-hal negatif lain yang berusaha menyentuhnya. Pada saat mereka melewati ruang penyiksaan, sesosok Youkai muncul. Kimihiro berhenti melangkah, mata birunya melebar ketakutan. Youkai itu penuh darah, wajah dan kimononya rusak. Rambutnya tergerai dan kusut di sekeliling wajahnya. Matanya berputar, dengan bagian hitam yang lebih lebar. Mulutnya membuka dan ia mulai menjerit kesakitan. Kimihiro menutup telinganya, tapi jeritan itu tak tertahankan. Jeritan-jeritan lain mulai terdengar dan lantai dibawahnya bergetar. Asap hitam menguar dari sela-sela lantai kayunya.

Kimihiro menutup mulut dan terbatuk. Terbatuk, terbatuk dan terbatuk lagi dengan keras. Ia berusaha mengambil napas, tapi tidak ada udara yang bisa diambilnya, hanya asap hitam pekat yang rasanya bagaikan lumpur; memenuhi rongga mulut dan hidungnya, masuk ke tenggorokannya. Ia tersedak.

xxXxx

Shizuka sedang mendengarkan penuturan kepala penjara ketika ia tidak merasakan Kimihiro di sebelahnya. Saat ia menoleh, peramal itu sedang berdiri dengan wajah pucat dan mata terbelalak. Mata birunya tidak memandang kemanapun, tapi mata itu penuh teror. Kemudian, tiba-tiba ia melengkungkan tubuhnya, membuka mulutnya meneriakkan kesakitan tanpa suara. Ia menutup mulut dan terbatuk, terbatuk, terbatuk dengan keras hingga seluruh badannya terguncang. Alaram berbunyi di benak Shizuka dan secepat mungkin ia bergerak menyentuh Kimihiro. peramal itu seketika menyengkeram bahunya, matanya yang membelalak mengerjap beberapa kali mengusir air matanya, kemudian mata biru itu terfokus padanya. Dengan suara serak dan bergetar ia memanggil, "Shizuka?"

Denyut tidak senang dan takut menghampirinya saat merasakan tubuh sang lord gemetar dalam pelukannya. Sebenarnya sejauh mana hal gaib menyakitinya? Batinnya. Seharusnya aku tak meninggalkannya sendiri. Tempat ini rawan untuknya.

"Pangeran?" Kurogane, Fai, Natori dan Saionji berdiri tak jauh di belakangnya. Terlihat penasaran.

Tapi perhatian Shizuka sepenuhnya ada pada Kimihiro. "Kau bisa berjalan?"

Kimihiro memilih menjawab dari pada mengangguk dan membuat kepalanya pusing, "Ya."

Pangeran membantunya berdiri.

"Apa lord Watanuki sakit?" tanya Saionji diikuti kerut cemas yang lainnya.

"Aku baik-baik saja."

"Baiklah, bisa kita lanjutkan?" tatapan khawatir Saionji masih tak lepas dari sang lord. Saat Kimihiro berhasil berdiri sendiri, pria itu menggangguk dan kembali memimpin mereka. Sekali, pria itu melayangkan pandangan penasaran pada pangeran yang melingkarkan lengannya pada peramal kerajaan untuk menariknya berjalan disebelahnya. Lalu, ia berpikir, bahwa itu tidak aneh. Siapapun pasti melakukan hal yang sama apabila rekannya secantik lord Watanuki. Saionji mengakui dirinya merasa kaget dan takjub melihat peramal kerajaan untuk pertama kalinya. Rumor itu benar, bahwa sang peramal adalah lord yang sangat tampan. Tapi deskripsi tampan terlalu umum dan kasar. Lord Watanuki tidak hanya tampan seperti kebanyakan orang tampan lainnya, tapi ia juga memiliki pembawaan yang lembut dan tutur kata yang halus. Membuat siapapun pasti akan memperlakukannya seperti yang pangeran Doumeki lakukan.

Mereka berhenti di depan ruang penjara yang pintunya sudah terbuka lebar, dibiarkan sama seperti saat pertama kali di temukan. Kimihiro mengamati, tidak ada tanda-tanda kekerasan, atau pintu di bobol. Seolah-olah orang yang terkurung di dalamnya menghilang begitu saja.

Tanpa diperintah, Lord Natori mengambil kompas dari saku kimononya dan membukanya. Kimihiro bisa melihat jejak cahaya berkedip lalu lenyap di udara. Lord Natori mengerutkan kening. Ia menggeleng pada Pangeran, "Tidak ada jejak. Dia seperti hilang, puff!"

Kimihiro menyentuh lengan pangeran. "Biar kucoba."

"Kau yakin?"

Kimihiro mengangguk. Lalu Kimihiro melangkah selangkah ke depan, di ambang pintu penjara. Shizuka tetap meletakkan tangannya di punggungnya. Tak luput dari pengamatannya, mata Kimihiro menajam, warna biru matanya berubah menjadi lebih gelap, hampir hitam. Kepalanya perlahan menunduk tepat di depan kakinya, lalu ia berputar dan menoleh ke kanan, ke arah pintu keluar di ujung lorong. Mereka semua mengikuti langkah pelan sang lord, dan Kimihiro berhenti tepat di depan pintu masuk. Ia merundukkan tubuh, bersimpuh dan tangannya menyentuh tanah di depannya. Matanya menatap kosong ke depan, tapi jemarinya menggali tanah dan dengan kedua jarinya, ia mengambil sebuah kancing.

xxXxx

Kimihiro mengerjapkan mata dan menyadari ia sedang berada dalam pelukan Shizuka. Ia melihat Shizuka mengambil kancing di tangannya dan menyerahkannya pada Natori. Kepala keamanan kerajaan itu menerima benda itu dengan hati-hati, memasukkan ke kain dan menyelipkannya ke saku kimononya. Dengan tubuh Shizuka yang berotot, pria itu menahan seluruh beban tubuhnya, dan mengangkatnya berdiri, menopang Kimihiro. Lengannya menjaga protektif di pinggangnya. Ia membicarakan sesuatu yang tidak bisa dipahami oleh Kimihiro, sama seperti ia tak memahami hal lainnya saat pikirannya berkabut. Ia menangkap raut cemas Shizuka, tapi tak mengerti apa yang menyebabkannya begitu. Shizuka menyelipkan lengannya di bawah lututnya dan mengangkatnya dalam gendongan. Kimihiro merasa nyaman dan ia menutup mata.

xxXxx

Sekali lagi. Sekali lagi Shizuka melihat akibat saat Kimihiro memasuki masa trans, dan ia tidak menyukainya. Saionji menawarkan tempat beristirahat di ruangan sipir, Shizuka sangat menghargai itu. Para petugas yang berjaga disana melompat terkejut saat melihat mereka diantar masuk. Salah satunya dengan cekatan menghamparkan futon untuk Kimihiro.

"Ano... aku memang tidak begitu paham tata cara peramal. Tapi apakah ini sering terjadi pada lord Watanuki?" tanya Saionji.

"Lebih sering dari yang aku harapkan," desis Shizuka. Ia menyapukan jemarinya di leher Kimihiro, membayangkan luka bakar yang pernah hinggap disana.

Saionji menyurut mundur, tidak berani lagi berkomentar saat melihat sorot kemarahan di mata pangeran untuk pertamakalinya dalam sejarah pekerjaannya sebagai kepala penjara. Saionji telah berkali-kali bekerja bersama pangeran Doumeki, dan apa yang dilihatnya sekarang menghapus kesan lamanya pada pangeran yang terkenal tidak pernah menunjukkan emosinya.

"Natori. Apa kau bisa menebak punya siapa kancing itu."

"Ini kancing buatan khusus. Tak kan sulit melacaknya."

"Kancing milik bangsawan kalau begitu."

"Benar. Dan kita sudah mempersempit orang yang kita curigai. Ini takkan makan waktu lama. Aku akan membawa laporannya besok, atau paling lambat lusa."

Shizuka mengangguk. "Kimihiro?"

"Shizuka?" Kimihiro menegakkan punggung dan memandang mereka semua. "Hm... apa aku melakukan hal yang aneh?" ia tersenyum gugup.

"Tidak lebih aneh dari yang kau lakukan biasanya."

"KAU ITU YANG ANEH!" seru Kimihiro kesal. Merapatkan bibir tiba-tiba setelah sadar sedang berada dimana. Ia melirik Saionji dengan pipi merah saat melihat pria itu menga-nga terkejut. Berusaha tidak terbawa perasaannya, dengan menjaga suaranya ia bertanya, "Jadi, apa yang kita temukan?"

"Kancing."

"Hm... kurasa itu akan membantu penyelidikan."

Natori mengangguk, "Sangat membantu. Ini kancing buatan khusus."

Kimihiro tersenyum, "Syukurlah."

"Hnh, lain kali jangan terlalu merepotkan kami saat kau ingin tiba-tiba tidur siang."

"SIAPA YANG INGIN TIDUR SIANG, IDIOT." Shizuka menarik Kimihiro dan menggendongnya. "TURUNKAN AKU! AKU BISA JALAN SENDIRI!"

"Kau pasti akan tidur sambil jalan. Aku tidak ingin kau mempermalukan kami semua."

"KAU ORANG YANG SAMA SEKALI TIDAK TAHU TERIMA KASIH, DASAR PANGERAN RUBAH!"

"Pangeran rubah?" sahut Natori sambil menyeringai senang.

"Bukan urusanmu."

"BUKAN URUSANMU!" balas Shizuka dan Kimihiro bersamaan.

"Sepertinya lord Kimihiro sudah sehat, jadi kita bisa pergi sekarang," sahut Kurogane yang sudah tidak tahan dengan situasi ribut itu.

xxXxx

Mereka dalam perjalanan kembali menuju kota Shizuku saat tiba-tiba Pangeran Rubah Tidak Tahu Malu Berperut Lubang Hitam Doumeki Shizuka Yamato Idiot berkata, "Aku lapar."

"Aku tahu kita belum makan siang," kata Kimihiro setuju.

"Aku ingin dango."

"Kita ada di jalan dan tidak ada rumah makan untuk memenuhi semua keinginan perutmu jika kau tidak tahu, Yang Mulia!" gerutu Kimihiro.

"Hnh," aku tahu tempat yang bagus.

"Kalau begitu kami pulang duluan, Shizuka, Kimihiro-chan," Natori melambai sebelum melajukan kudanya, diikuti Kurogane dan Fai.

"TUNGGU!" Kimihiro berteriak sia-sia. "Mereka benar-benar meninggalkan kita."

"Hnh."

"INI GARA-GARA KAU PANGERAN IDIOT. HEI, KAU MAU PERGI KEMANA?"

"Ada desa tak jauh dari sini. Dango disana enak."

"Huh, terserah."

Doumeki Shizuka melambatkan laju kudanya saat mendekati desa yang berada di lereng bukit. Desa itu ramai dengan pedagang yang menjajakan dagangannya dan membawa hasil bumi. Desa itu makmur karena berada di perbatasan Tokyo dan Hagi. Selain itu banyak sekali cafe dan warung makanan di tempat ini. Sewaktu kecil, saat musim semi, ia dan Haruka sering berjalan-jalan di desa ini untuk menikmati bunga sakura dan mampir makan dango.

Banyak orang mendongakkan kepala saat mereka lewat. Kebanyakan menunduk hormat melihat pakaian bangsawan yang mereka kenakan. Banyak juga yang menatap penasaran pada Kimihiro yang duduk di depan, dengan muka merah dan penampilannya yang menarik. Mereka berhenti di depan salah satu cafe dan seorang pria muda bergegas lari menghampiri mereka, membantu Kimihiro turun dengan tampang malu-malu dan mengambil alih kuda Shizuka.

Kimihiro tampak penasaran, dan juga bersemangat saat melihat lalu lintas yang ramai dan orang-orang di sekelilingnya. Shizuka kira di Hagi sama ramainya dengan tempat ini, itu menunjukkan bahwa Kimihiro sangat jarang berpergian.

Kimihiro tidak sabar menunggunya di ambang pintu dan berjalan masuk bersamanya. "Oh!" seorang pelayan tampak kaget setelah melihat mereka dan berlari ke dalam. Kimihiro memilih salah satu tempat duduk, Shizuka duduk di sebelahnya. Tak lama seorang pria paruh baya datang. "Dango, pangeran Doumeki?"

Ia mengangguk.

Pria itu menatap Kimihiro sebelum kembali padanya dan tersenyum padanya, "Sudah lama sekali tidak melihat anda. Sejak kematian Raja Haruka, kalau saya tidak salah."

"Dango dua," kata Shizuka. "Dan teh hijau."

Pria itu tersenyum lebar, "Tentu saja, pangeran."

Kimihiro memandangnya penasaran, seakan berusaha menilai ekspresinya yang tanpa ekspresi. Shizuka hanya berkata, "Kau ingin dicium?"

Seketika, Kimihiro menarik tubuhnya, mukanya merah padam dan bibirnya mencabik. Shizuka bergerak menutup telinganya saat Kimihiro hanya berkata, "Idiot."

Hm... rupanya sang lord mengkhawatirkannya... Shizuka mencondongkan tubuhnya dan meniup telinganya. "APA YANG KAU LAKUKAN!" lebih baik, batinnya.

Shizuka memperhatikan, Kimihiro awalnya ragu-ragu saat akan memakannya. Tapi setelah melahap satu butir, ekspresinya berubah riang dan ia makan banyak-banyak. "Aku tidak meragukanmu kalau soal makanan, pangeran."

Shizuka meminum teh hijaunya sambil berpikir, Kimihiro hanya memanggilnya Shizuka hanya saat melibatkan emosi yang sangat dalam, termasuk saat ia marah besar. Ketika santai ia akan memanggilnya pangeran. Shizuka ingin Kimihiro memanggilnya Shizuka sepanjang waktu, tapi rupanya itu akan memakan waktu. Shizuka tidak akan buru-buru, waktunya telah dan seterusnya akan dicurahkan untuk Kimihiro, lagi pula.

Seorang gadis kecil tiba-tiba berdiri di sebelah Shizuka, menatapnya dengan pandangan penasaran dengan matanya yang besar. Suaranya kekanak-kanakan dan lucu saat bertanya, "Apa anda seorang pangeran?" ia menelengkan kepalanya menggemaskan.

"Benar."

Lalu matanya beralih pada Kimihiro, "Jadi, dia seorang putri?" Kimihiro tersedak dango.

"Benar."

"APANYA YANG BENAR!" Kimihiro beralih pada gadis kecil itu, tersenyum ia berkata, "Aku bukan putri, adik kecil. Aku laki-laki."

"Tapi hanya putri yang dibonceng pangeran naik kuda," katanya polos. Pipi Kimihiro bersemu merah. Ia menyerah dan melanjutkan makan dango. Pura-pura tidak peduli.

"Apa kau akan menikahi putri itu?" kali ini Kimihiro tersedak tehnya.

Shizuka mengangguk. "Aku akan menikahinya."

Anak itu tersenyum lebar, "Dan kalian akan membangun kastil yang besar!"

"Benar."

"Kalian akan punya banyak anak!"

"Itu ide menarik."

Gadis itu tertawa dan berkata, "Aku akan mendoakan agar cinta kalian abadi untuk selaaamaaa-lamaaaanya..."

"Terima kasih."

Lalu gadis itu berlari keluar dari cafe dan tertawa bersama teman-temannya.

Saat menoleh, Shizuka mendapati Kimihiro sedang memandangnya dengan tatapan maut, wajahnya merah padam dan bibirnya siap menyemburkan lahar panas, anehnya Kimihiro tersenyum saat berkata, "Shizuka, tidak ada masakan buatanku selama SEMINGGU!"

"Hnh, tidak ditendang dari ranjang juga?"

Kimihiro merah padam, pipinya seperti tomat membuat Shizuka lapar. Lapar yang sangat berbeda.

"ITU JUGA!"

Shizuka berpikir, kalau begitu ini kesempatan terakhirnya makan sepuasnya, ia berseru pada pelayan, "Tambah!"

"BERHENTI MAKAN!"

Sore itu, penduduk desa mendapat hiburan gratis melihat seorang lord memarahi seorang pangeran. Sebagian besar dari mereka berpendapat, rupanya pangeran telah mendapatkan pasangan yang bisa mengurusnya dengan baik, melihat kepribadian sang pangeran yang cukup mengkhawatirkan. Sekali lagi, kepopuleran lord Watanuki Kimihiro di salah satu bagian kerajaan meningkat. Selain itu, tersebar rumor, bahwa pangeran Doumeki Shizuka akan membangun kastil untuk tuan putri, yang membuat masyarakat kembali bertanya-tanya siapakah putri itu, karena sang pangeran tidak terlihat dekat dengan seorangpun, kecuali dengan lord Watanuki Kimihiro, yang memang kecantikannya bisa disejajarkan dengan putri-putri dan lady-lady manapun. Sekali lagi, kepopuleran pasangan ini naik di seluruh kerajaan Yamato.

Bingung buat judul Chapter ini (Hauuuhh)

Bersama Doumeki Shizuka selalu berkaitan dengan urusan perut :D