Nae Sunbae
.
.
Dhienhie Fujoyerelf
.
.
Genre: TeenRomance, Drama, Littlehurt
.
.
Rate: T
.
Lenght: Chaptered
.
.
Disclaimer: KyuMin milik Tuhan. Kyuhyun milik Sungmin dan Sungmin milik Kyuhyun, mereka saling memilki dan Sungjin murni milik saya *ditabokJongjin* Tapi yang pasti FF abal ini milik saya seutuhnya. :D
.
.
Warning: YAOI, Typo(s), DON'T LIKE DON'T READ! NO BASH! NO PLAGIAT!
.
.
.
enJOY~
CHAPTER 10
.
~(*o*)~
.
This fict is dedicated..
To the world biggest shipper..
The JOYers..
Hankyung nyaris terlelap saat suara-suara heboh terdengar dari luar kamar membuat niatnya untuk sedikit mengistirahatkan tubuhnya urung terlaksana. Kepala keluarga Cho itu bangun dari posisi berbaringnya kemudian menatap ke arah pintu kamarnya.
Walaupun tak terlalu jelas, Hankyung mendengar suara putranya berteriak terlalu keras memaki entah siapa di luar sana.
"Ada apa lagi?" gumam Hankyung kemudian turun dari ranjangnya, memilih berjalan keluar kamar untuk menengok situasi yang terjadi. Dalam pikirannya hanya terbayang Kyuhyun yang tengah marah karena salah satu valet, maid, housekeeper, atau mungkin salah satu pengawalnya tak sengaja melakukan kesalahan.
Belum selelsai dengan pemikirannya, Hankyung sudah dikejutkan dengan kemunculan asisten Jung yang berjalan cepat menujunya.
"Ada apa?" tanya Hankyung.
Asisten Jung membungkukkan tubuhnya sejenak kemudian menatap Hankyung dengan ekspresi campur aduk.
"Saya baru saja menerima kabar jika Nyonya Cho meminta seseorang untuk mencelakai Tuan Lee. Tuan muda tengah marah besar dan melukai hampir semua pengawal-"
"Dimana Kyuhyun?" sela Hankyung.
Asisten Jung kembali membungkukkan tubuhnya kemudian menghela Hankyung agar mengikuti langkah cepatnya.
"Aku pikir dia tak akan bertindak sejauh ini," ujar Hankyung membuat asisten Jung mau tak mau ikut membuka mulut.
"Maaf sebelumnya atas kelancangan saya, setelah Tuan melarang saya untuk membantu Nyonya, saya memang sudah menempatkan beberapa orang untuk melakukan penyeledikan."
Hankyung menatap Asisten Jung kemudian menganggukkan kepalanya.
"Tidak apa-apa. Aku justru berterimakasih, aku pikir Heechul tidak akan bertindak sejauh ini dengan Kyuhyun."
BUGH!
BUGH!
"Kenapa diam, hah! Lawan aku brengsek!" teriakan Kyuhyun terdengar makin jelas ke telinga Hankyung membuat namja paruh paya itu berjalan lebih cepat untuk menghentikan putranya.
"Kyuhyun-ah!" teriak Hankyung hanya untuk membuat Kyuhyun sadar akan keberadaannya.
Kyuhyun melempar tubuh salah satu pengawal yang menjadi bulan-bulanannya. Wajahnya masih jelas menampakkan emosi yang belum tersampaikan.
"Apa yang kau lakukan!" marah Hankyung saat melihat tampang mengenaskan pengawal keluarga Cho.
Kyuhyun membuang pandangannya, menatap apapun selain wajah ayahnya.
"Jawab aku Cho Kyuhyun!" teriak Hankyung keras membuat Kyuhyun tersenyum sinis, menguatkan hatinya sejenak sebelum menatap Hankyung dengan tatapan kecewanya.
"Aku tidak melakukan apapun."
Hankyung tertegun dalam posisinya, wajahnya mendadak pias setelah mendengar ucapan yang Kyuhyun lontarkan padanya. Walau itu terdengar seperti sebuah jawaban, faktanya Hankyung merasa tersindir.
Aku tidak melakukan apapun.
Terdengar seperti kekecewaan mendalam yang Kyuhyun rasakan karena Hankyung tak melakukan apapun untuk membantunya keluar dari kekangan kuat eommanya.
"Ada apa?" suara tegas yang tak kalah berwibawa dari Hankyung mengalun datar. Bedanya, jika Hankyung namja, pemilik suara ini adalah seorang yeoja. Yeoja yang menjadi nyonya besar di mansion Cho, siapa lagi jika bukan Cho Heechul.
Tak ingin membuang waktu, Kyuhyun langsung menyerang Heechul dengan tatapan marahnya. Bersiap memulai perang yang sesungguhnya dengan sang ibu.
"Ulah apalagi yang kau buat, Kyuhyun-ah?" tanya Heechul dengan nada menuduh.
"Seharusnya aku yang bertanya ulah apalagi yang kau perbuat!" sahut Kyuhyun dingin.
Heechul terkesiap. Akhir-akhir Kyuhyun terdengar lebih sering menggunakan kata ganti 'kau' dibanding 'eomma' saat bicara dengannya. Heechul mendengus sinis menyadari satu fakta.
"Apa ini yang kau dapatkan setelah menjalin hubungan dengan namja rendahan? Semakin kurang ajar!" desis Heechul sambil menatap nyalang putranya. Ia tahu bahkan sangat tahu jika Kyuhyun tengah menahan emosi untuk tak berteriak padanya.
"Heechul-ah!" panggil Hankyung membuat Heechul mengalihkan tatapan nyalangnya dari putranya pada suaminya, lagi-lagi ia melihat ekspresi yang sama, jika tadi Kyuhyun kini tampak Hankyung yang berusaha menahan emosi untuk tak berteriak marah padanya.
"Ini keterlaluan, tidak seharusnya kau bersikap seperti itu!"
Victoria yang sejak tadi berdiri di sebelah Heechul mengisyaratkan semua maid, pengawal, maupun valet yang berada di ruangan itu untuk segera pergi.
"Keterlaluan? Memangnya aku melakukan apa? Aku hanya mengatakan sebuah kenyataan. Sadar atau tidak dia sudah berubah tak punya etika!"
"Simpan ucapan itu untuk dirimu sendiri!" balas Hankyung sambil mengeraskan tatapannya seolah memberi peringatan agar Heechul tak membuat situasi semakin memburuk.
Heechul paham sekali bagaimana suaminya, jika sudah memasang tatapan seperti itu, nyali Heechul sudah pasti menciut ke titik terendah. Namun, ia berusaha untuk menunjukkan harga dirinya dengan mengukir senyum angkuh.
"Berhenti membuat ulah Kyuhyun-ah. Dewasalah! Kau bukan anak kecil lagi yang dengan merengek dan marah-marah seperti ini akan membuat semuanya berubah sesuai keinginanmu. Bersiaplah, pertunanganmu dengan Henry akan berlangsung minggu depan," ujar Heechul kemudian memutar tubuhnya beranjak pergi meninggalkan ruangan.
"Aku memang bukan anak kecil karena aku tak pernah tahu bagaimana cara mengubah situasi dengan merengek seperti yang kau katakan. Aku tak pernah merasa punya masa kecil seperti yang kau katakan. Bahkan aku tak ingat kapan masa kecil terjadi dalam hidupku."
Heechul tertegun dalam posisinya. Udara serasa pergi menjauh membuat dadanya terasa begitu sesak pasca mendengar penuturan putranya.
"Kyuhyun-ah," panggil Victoria.
Kyuhyun menatap Victoria dengan tatapan kecewanya. Terlalu banyak kekecewaan yang Kyuhyun rasakan dalam hidupnya. Ia bahkan tak tahu lagi harus mengeluh pada siapa dan mengeluh dengan cara apa jika faktanya justru orang-orang di sekitarnyalah yang membuat kekecewaan di hati Kyuhyun.
"Kadang aku berpikir satu-satunya orang yang mengertiku hanya kau noona, tapi aku salah. Kau bahkan tak ada bedanya dengan yang lain. Aku pikir kau berada dipihakku, tapi lagi-lagi aku salah. Kau bahkan sama seperti yang lain, tak melakukan apapun untuk membantuku keluar dari semua ini. Aku kecewa padamu, noona."
Victoria bukan wanita kuat seperti Heechul, bukan wanita yang tegas seperti Heechul. Air matanya menetes setelah mendengar penuturan Kyuhyun. Kyuhyunnya dulu selalu berkata 'Hanya noona yang mengertiku' berubah membencinya –mungkin.
"Jangan bodoh! Untuk apa menaruh harapan lebih pada Victoria. Sampai mati sekalipun ia akan berpihak padaku!" ucap Heechul tanpa membalik tubuhnya.
"Bisakah kau diam, Kim Heechul!" bentak Hankyung.
Tak ingin terlalu lama berada dalam ruangan itu, Heechulpun kembali beranjak nyaris meninggalkan ruangan saat Kyuhyun kembali bersuara.
"Aku bahkan tak tahu siapa yang bodoh di sini. Menyerang orang yang bahkan tak bisa melawan sedikitpun adalah tindakan paling bodoh yang pernah dilakukan nyonya terhormat sepertimu."
Heechul langsung berbalik. Ia jengah, sungguh muak dengan kata ganti yang Kyuhyun gunakan saat bicara padanya.
"Lihat dirimu! Bahkan kau bicara seolah melupakan fakta jika aku yang melahirkanmu, Cho Kyuhyun!" teriak Heechul.
"Kenapa kau semarah itu? Merasa bodoh? Apa aku benar, hah?" balas Kyuhyun sambil tersenyum mengejek Heechul.
"Kyuhyun!"
"Apa!"
PLAK!
Heechul memekik pelan, benar-benar terkejut bahkan tak percaya jika Hankyung akan melakukan itu pada Kyuhyun.
"Kau pikir dengan siapa kau bicara! Jangan bersikap memuakkan!" hardik Hankyung membuat Kyuhyun tersenyum sinis. Jujur pipinya benar-benar terasa panas, cairan anyir terkecap di lidahnya membuat Kyuhyun sadar jika sudut bibirnya terluka. Hankyung menamparnya keras, terlalu keras hingga Kyuhyun merasakan saraf-saraf di kepalanya berdenyut membuat pening menghampirinya untuk sesaat.
"Kalian muak denganku?" tanya Kyuhyun sambil mengentalkan senyum sinisnya. Menatap wajah kedua orang tuanya bergantian.
"Sama. Aku juga muak dengan kalian! Benar-benar muak!"
Hankyung dan Heechul terhenyak. Mulut mereka seolah terinjak kaki Kyuhyun, tak ada satu katapun yang bisa keluar dari mulut mereka, keterkejutan bercampur ketidakpercayaan membaur menjadi satu perasaan yang sulit terlukiskan.
Orang tua mana yang ingin mendengar kalimat seperti itu dari mulut putranya.
"Kyuhyun-ah~" panggil Heechul namun Kyuhyun sudah berlalu meninggalkan ruangan sambil menendang satu guji mahal di dekat pintu masuk ruangan.
Hankyung menatap tangannya yang masih bergetar. Demi apapun ia sungguh tak menyangka jika ia akan melakukan itu pada Kyuhyun.
"Kenapa kau melakukan itu, Han?" suara Heechul terdengar bertanya.
Hankyung menolehkan kepalanya, menatap Heechul dan mendapati air bening yang bersiap mengalir di mata istrinya. Di dera perasaan bersalah, Hankyungpun menghampiri Heechul kemudian memeluknya, hal itu sontak membuat tangis Heechul pecah.
"Kenapa kau memukul Kyuhyun?" teriak Heechul sambil memukuli tubuh suaminya.
"Maaf," hanya itu yang bisa Hankyung ucapkan. Ia juga masih tak percaya kenapa ia bisa melakukan itu.
.
~(*o*)~
.
Jam nyaris menunjukkan pukul 9 malam. Sungmin barusaja selesai membereskan kekacauan yang terjadi di flatnya. Namja manis itu kini tengah berada dalam kamar appanya.
"Tahan sedikit ya appa," ujar Sungmin sebelum menempelkan handuk basah untuk membersihkan luka dan darah kering yang ada di sekitar wajah Shindong.
Walaupun tak menjawab, Sungmin mendengar ringisan ayahnya setiap Sungmin terlalu kuat menekan lukanya.
"Setelah ini appa harus makan," ucap Sungmin lagi. Shindong melirikkan ekor matanya untuk menatap nampan di meja kecil yang ada di sebelah ranjangnya.
"Kau sudah makan, Min?" tanya Shindong yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Sungmin.
"Kapan? Bukankah kau baru selesai membereskan rumah."
"Setelah appa makan, aku akan makan," sahut Sungmin sambil mengolesi sedikit salep di sekitar luka yang ada di wajah ayahnya kemudian menempelkan perban kecil berikut plasternya.
"Tidak pergi ke bar?"
"Tidak, aku tidak bisa meninggalkan appa sendirian."
Shindong menatap wajah putranya, lagi-lagi hatinya refleks memanjatkan doa karena Tuhan telah mengirim putra sehebat Sungmin dalam hidupnya.
"Selesai. Sekarang appa harus makan," ucap Sungmin sambil membereskan kotak obatnya. Setelahnya, namja manis itu bergerak meraih nampan kemudian menyerahkannya pada Shindong.
Namja tambun itu hanya bisa tersenyum dengan sikap perhatian putranya. Matanya beralih menatap perban dan plester yang menghiasi wajah manis putranya.
"Minnie, kita serasi ya. Kau pakai plester, appa juga pakai," ucap Shindong sambil tersenyum lucu. Sungmin menyentuh perban di keningnya kemudian balas tersenyum bahkan terawa kecil pada appanya.
"Haha. Harusnya kita ikut kontes daddy and son. Aku yakin kita akan juara satu appa!" seru Sungmin bangga.
Mereka berdua tertawa larut dalam situasi bahagia yang mereka bangun lewat sesuatu yang biasa menjadi bencana bagi orang lain. Aneh memang, biasanya orang-orang akan mengganggap luka adalah sesuatu yang bermasalah, tapi bagi Sungmin dan Shindong yang kebetulan sama-sama mendapat luka di wajahnya, hal itu merupakan sesuatu yang membuat kekompakan pasangan ayah dan anak ini makin mengental.
Sementara Shindong larut dalam makannya, Sungmin terlihat duduk diam memperhatikan appanya. Sekilas memang terlihat tengah memperhatikan, namun Shindong bisa melihat jika Sungmin tengah melamun.
"Appa tidak tahu jika tadi kau datang bersama Kyuhyun."
Sungmin tersentak kemudian menatap Shindong.
"Appa mengatakan sesuatu?"
"Maaf. Appa tidak tahu jika tadi kau datang bersama Kyuhyun," ulang Shindong.
Sungmin meraih kotak obat yang tadi ia letakkan di meja kemudian bangkit dari posisi duduknya.
"Sudahlah appa. Sebaiknya appa makan sekarang, setelah selesai appa bisa memanggilku," ucap Sungmin kemudian beranjak, berniat keluar kamar sang ayah namun suara Shindong yang memanggilnya membuat Sungmin menghentikan langkahnya.
"Kyuhyun namja yang baik. Appa bisa melihat itu. Dia menyukaimu, appa juga bisa melihat itu. Appa tidak masalah jika kau bersamanya, tapi yang menjadi masalah sepertinya orang tua Kyuhyun tidak suka dengan kita."
Namja manis itu menoleh, menatap ayahnya dengan tatapan sendu.
"Aku tahu appa."
Shindong menganggukkan kepalanya. Sungmin hanya bisa tersenyum kemudian melanjutkan langkahnya.
"Ini ujian kecil. Kau pernah melewati lebih dari ini sendirian. Sekarang ada Kyuhyun. Kalian berjuanglah."
Tak ingin kembali menolehkan kepalanya, Sungminpun hanya melangkah perlahan meninggalkan kamar ayahnya dengan memeluk erat kotak obat di tangannya.
Ya, ia memang pernah melewati masalah yang lebih berat dari ini semua. Masa kecilnya begitu buruk, besar tanpa adanya seorang ibu membuat teman-teman masa kecilnya menjauhi Sungmin dan menuduh Sungmin adalah anak yang lahir dari iblis wanita. Anak kecil mana yang tidak sedih mendapat julukan semacam itu?
Tapi itu hanya segelintir kejadian masa kecil, masih banyak hal berat yang Sungmin lalui dalam hidupnya seorang diri. Ia selalu berusaha tegar di hadapan sang ayah, tak menyadari jika Shindong selalu memperhatikan Sungmin yang tengah menangis diam-diam.
'Sekarang sudah ada Kyuhyun.'
'Cukup dengarkan aku. Kau yang harus membawaku pergi dari semua ini.'
Sungmin memejamkan matanya sejenak, kalimat appanya dan kalimat Kyuhyun berkelebatan dalam pikirannya.
"Bahkan kami baru memulainya," gumam Sungmin sedih.
Ya, Sungmin memang merasa baru memulai semuanya. Ia tak tahu jika sejal awal pertemuannya dengan Kyuhyun adalah awal dari segalanya. Kyuhyun yang sejak awal secara tak sadar memiliki ketertarikan padanya adalah awal dari masalah ini. Haruskah Sungmin berpikir jika perasan Kyuhyun padanya atau perasaanya pada Kyuhyun adalah sesuatu yang tak seharusnya terjadi?
Setelah meletakkan kotak obat pada sebuah laci yang ada di meja dapur, Sungmin melangkah ke kamarnya.
Niat Sungmin untuk mengambil barang dari dalam kamarnya urung terlaksana saat namja manis itu melihat kelinci kecil berbulu putih yang Kyuhyun belikan untuknya tampak menatap Sungmin seolah memanggil namja manis itu untuk mendekat.
Sungmin tersenyum kecil kemudian menghampiri kandang kelincinya, makhluk kecil di dalam kandang berwarna pink itu nampak antusias bergerak-gerak di sekitar kandangnya saat Sungmin menjongkokkan tubuhnya.
"Annyeong Sunbae~" sapa Sungmin sambil melambai-lambai kecil pada 'Sunbae-nya'.
"Apa kau lapar?" tanya Sungmin saat melihat kelincinya terus bergerak-gerak di dalam kandang.
Namja manis itu berniat mengeluarkan kelincinya dari dalam kandang, namun bunyi-bunyi aneh yang terdengar dari dalam tas sekolahnya mau tak mau membuat Sungmin mengurungkan niatnya kemudian menatap waspada ke arah tasnya.
"Bunyi apa?" gumam Sungmin sambil terus menatap tasnya dengan tatapan 'Apa ada sesuatu yang berbahaya di sana?'
Mengingat persiapan gencatan senjata yang tengah di lakukan Korea Utara untuk negaranya membuat pikiran Sungmin mendadak parno. Bisa saja yang ada di dalam tasnya adalah sebuah bom buklir yang bisa meledak kapanpun.
"Hah! Gila!" umpat Sungmin pada pemikirannya.
Memangnya dia siapa? Apa yang akan Korea Utara dapatkan dengan meletakkan bom nuklir di dalam tasnya. Korea Selatan tidak akan berduka hanya karena satu rakyatnya meninggal tak jelas, lagipula Sungmin tidak punya pengaruh apa-apa di negaranya. Beda lagi kasusnya dengan konglomerat-konglomerat yang membayar pajak tinggi untuk membuat negaranya kaya. Seperti keluarga Kyuhyun misalnya.
'Eh? Kenapa sedikit-sedikit memikirkannya?' batin Sungmin sebal. Namja manis itu meraih tasnya serampangan kemudian menuang isinya di atas ranjang.
Hampir seluruh isnya biasa saja, sesuai isi tasnya setiap hari. Namun, satu benda persegi dengan warna menyolok itu cukup menarik perhatian Sungmin. Ternyata dari benda itulah suara tadi muncul.
Ponsel couple.
Dengan gerakan hati-hati Sungmin meraih benda itu. Menatap benda yang menurut Sungmin sangat harus dijaga itu dengan tatapan penuh arti. Jemari Sungmin bergerak menyentuh layar ponsel membuat layar ponsel yang awalnya menghitam tampak bersinar menunjukkan deretan huruf dan gambar-gambar seperti yang pernah Sungmin lihat di ponsel teman-temannya.
"Bohong jika aku tak tahu cara menggunakannya, bahkan aku sering memperhatikan bagaimana teman-temanku menggunakan ini," gumam Sungmin kemudian memfokuskan dirinya pada deretan huruf yang tampak jelas di layar.
Matanya membulat lucu saat melihat kalimat 20 panggilan tak terjawab menghiasi layar ponselnya. Setelah mengecek, Sungmin mengernyitkan keningnya, 20 panggilan itu berasal dari satu nomor asing yang sama.
Mendadak Sungmin merasa tolol. Tentu saja nomor asing, bahkan Kyuhyun menyerahkan benda ini masih dalam hitungan beberapa jam yang lalu.
'Pasti dia,' batin Sungmin tanpa sadar tersenyum kecil.
Namja kelahiran Januari itu membuka kotak masuknya dan mendapati beberapa pesan dari nomor yang sama.
.
Apa kau tak tahu cara mengangkat telepon?
.
Benar-benar tidak tahu? Kuberi tahu. Kau tekan ikon telepon berwarna hijau lalu geser layarnya. Setelah itu, tempelkan ponselnya di telingamu dan katakan 'yeoboseyo'.
.
Sungmin, angkat teleponku!
.
Jangan berpikir kau bisa lari dengan tidak mengangkat teleponku!
.
Lee Sungmin!
.
Dan masih ada beberapa pesan lain yang membuat Sungmin tersenyum kecil setiap membaca isinya. Dan hal lain yang membuat Sungmin tersenyum adalah sign yang Kyuhyun tulis dalam pesannya.
Cho Kyuhyun. Kyuhyun. Kyuhyunnie. Kyu.
"Aku lebih suka Kyu," gumam Sungmin kemudian berniat membalas pesan Kyuhyun namun dering ponsel membuat Sungmin menghentikan niatnya.
Nomor asing itu kembali menghubunginya. Sungmin terlihat gugup, menahan napas sejenak sebelum menerima panggilan.
"Yeoboseyo," sapa Sungmin pelan.
'YEOBOSEYO!'
Sungmin tersentak kaget kemudian menjauhkan ponsel dari telinganya.
'YEOBOSEYO!' samar-samar teriakan itu masih terdengar bercampur dengan suara-suara aneh dari seberang. Sungmin yang awalnya gugup menghadapi telepon dari Kyuhyun langsung emosi mendengar sapaan dari lawan bicaranya.
"Ya! Bisakah tidak berteriak! Kau pikir aku tuli!"
'Ah maaf! Ini siapa?'
"Apanya yang siapa? Kau yang menghubungiku!"
'NE? Bisa katakan lagi?'
"Seharusnya aku yang mengatakan bisakah kau mencari tempat yang lebih tenang! Tidak usah menghubungiku jika kau masih berteriak, seperti bicara dengan orang tuli saja!"
'Tidak tunggu sebentar!'
'Sungmin-ah!'
Sungmin menatap layar ponselnya saat mendengar dua suara berbeda yang terdengar dari ponselnya. Mungkin Kyuhyun tengah bersama teman-temannya.
"N-ne?" sahut Sungmin keras bercampur gugup.
'Lee Sungmin! Angkat teleponku Lee Sungmin!'
'Aish Hae! Singkirkan bocah ini!'
Sungmin lagi-lagi menatap layar ponselnya. Apa yang terjadi di sana? Kenapa seperti ribut-ribut?
'Maaf. Ini siapa?'
"A-aku Sungmin."
'Eoh? Sungmin? Lee Sungmin maksudmu?'
"N-ne."
'Astaga, benar-benar kau ya?'
'Benar-benar Sungmin?'
'Jadi ponsel konyol ini khusus Sungmin begitu?'
"N-ne?"
'Sungmin, aku Yesung. Kyuhyun mabuk berat, kami tak bisa membujuknya pulang. Sejak tadi meracau tak jelas menyebut namamu, bisakah kau kemari?'
Sungmin hendak menyampaikan penolakannya namun suara yang terdengar selanjutnya hanya bisa membuat Sungmin menghela napas.
'Tidak ada penolakan. Kau pikir gara-gara siapa dia mabuk seperti orang gila. Cepat kemari! Aish Hae! Sudah kubilang jauhkan dia dariku!'
'Kyuhyun-ah! Aish! Siwon-ah! Bantu aku!'
'Aish! Anak ini! Kyuh- oh sial! Jangan muntah di bajuku bodoh!'
Samar-samar Sungmin masih mendengar seruan heboh dari ponselnya.
"Tapi aku tidak tahu kalian dimana. Ini sudah malam, aku tak yakin ada bus."
Tak terdengar jawaban untuk beberapa saat.
'Ah! Zhoumi sedang dalam perjalanan menuju kemari. Dia akan menjemputmu.'
TUT! TUT! TUT!
Sungmin hanya bisa menatap pasrah ponselnya. Menatap jam dinding yang kini berubah menunjukkan pukul 9 lebih 10 menit.
"Minnie!" seruan Shindong membuat Sungmin tersadar kemudian buru-buru berjalan menghampiri Shindong.
"Sudah selesai appa?" tanya Sungmin saat memasuki kamar sang ayah.
Shindong menganggukkan kepalanya membuat Sungmin bergegas membereskan peralatan makan ayahnya.
"Emm, appa~"
"Ne?"
"Setelah ini aku harus pergi sebentar," ucap Sungmin pelan. Shindong langsung menganggukkan kepalanya.
"Appa tidak bertanya aku akan kemana? Tidak apa-apa sendiri di rumah?"
Shindong mengerutkan keningnya kemudian tertawa.
"Biasanya kau pulang kerja hampir jam 10 malam. Appa sendiri kan di rumah? Dan tidak ada hal buruk yang terjadi. Jangan pikirkan kejadian yang tadi," jawab Shindong membuat Sungmin mengangguk mengerti.
"Dan soal kau akan pergi kemana, appa tahu kau pergi untuk sesuatu yang sangat penting. Jangan membuat appa terlihat mengekangmu, Minnie-ah."
Sungmin menatap Shindong kemudian meraih tangan ayahnya.
"Bukan begitu appa. Kyuhyun mabuk berat, teman-temannya menghubungiku."
"Menghubungimu?" ulang Shindong membuat Sungmin salah tingkah kemudian menunjukkan ponselnya.
"N-ne. Kyuhyun memberikan ini untukku. Aku tidak meminta appa, dia beralasan agar bisa menghubungiku. Jadi-"
"Aih~ romantis sekali kekasihmu itu," sela Shindong dengan nada menggoda, hal itu membuat raut salah tingkah Sungmin berubah sweatdrop.
"Appa benar kan?"
Sungmin berdecak kemudian memukul pelan lengan ayahnya.
"Appa ish!"
Shindong tertawa kemudian menarik selimutnya. Melihat itu, Sungminpun bergerak merapikan selimut ayahnya.
"Appa sudah mau tidur?"
"Ne, kunci pintunya dari luar. Appa tidak bisa menguncinya."
Sungmin tersadar kemudian menatap sisi ranjang yang biasanya menjadi tempat untuk Shindong meletakkan tongkatnya. Perasaan miris kembali menghampiri hatinya.
"Besok kita beli tongkat baru yang lebih bagus untuk appa."
"Kau ini bicara apa? Sana siap-siap."
Sungmin hanya menganggukkan kepalanya kemudian berlalu dari kamar appanya meninggalkan Shindong yang tengah menatap sendu punggung putranya.
"Kau harus bahagia Minnie-ah~"
.
~(*o*)~
.
Suasana canggung tak terelakkan lagi, tiga namja yang berada dalam satu mobil itu seolah kehilangan kata-katanya. Khusunya namja yang duduk di bangku kemudi.
Zhoumi terkadang bergerak melirikkan ekor matanya ke arah spion mobil yang menggantung di atas kepalanya. Menatap satu namja manis yang duduk dengan perasaan tak nyaman di jok belakang. Seperti orang yang tengah dilema, Zhoumi kini beralih menatap satu namja lain yang duduk tenang di jok sebelahnya, terlalu tenang hingga Zhoumi yakin namja itu tengah marah atau mungkin kesal setengah mati padanya.
Satu jam yang lalu Siwon menghubunginya untuk menyusul ke bar high-class langganan mereka karena Kyuhyun mabuk berat dan sulit dibujuk untuk pulang, biasanya dengan sedikit mengobrol atau mendengarkan racauan Kyuhyun masalah membawa pulang Tuan Muda arogan itu akan selesai.
'Cepat kemari bodoh! Kau pikir Yesung dan Donghae mau membantuku menyeret anak ini pulang!'
Zhoumi sempat meringis dalam hati, kalau Siwon sudah berteriak seperti preman pasar, itu berarti Kyuhyun benar-benar mabuk berat.
Masih ingat namja yang bersedia membantu Henry mendapatkan Kyuhyun? Yeah, Zhoumilah orangnya. Namja tinggi itu mengajak Henry untuk menemui Kyuhyun dengan pemikiran agar Kyuhyun bisa sedikit membuka hatinya. Dengan Henry berada di sana dalam kondisi Kyuhyun yang seperti itu mungkin membuat Kyuhyun sadar jika Henry selalu berada di sampingnya dalam kondisi apapun. Itu pemikiran Zhoumi.
Namun, di tengah perjalanan menuju bar, Siwon kembai menelepon dan berteriak lebih keras sambil mengumpat-ngumpat Zhoumi karena Kyuhyun muntah di bajunya. Dan berita buruknya, Siwon menyuruh Zhoumi untuk menjemput Sungmin tanpa penolakan sedikitpun!
Jadilah mereka bertiga duduk bersama dalam satu mobil dengan situasi yang benar-benar tak bisa dikatakan baik-baik saja. Masih ingat kan siapa Henry dan bagaimana Henry bersikap pada Sungmin.
'Ini benar-benar konyol! Choi Siwon bodoh!' umpat Zhoumi sambil memarkir sembarangan mobilnya kemudian bergerak melepas seatbeltnya sambil menolehkan kepalanya pada Sungmin yang kini juga tengah menatapnya.
"Ayo turun," ajak Zhoumi mengabaikan Henry yang telah melepas seatbeltnya kemudian keluar mobil dengan membanting keras pintunya.
Mereka bertiga berjalan cepat, lebih tepatnya Zhoumi dan Sungmin yang berjalan cepat karena Henry terlihat mengekor di belakang mereka dengan langkah setengah hati.
'Zhoumi bodoh! Mati saja kau!' umpat Henry dalam hatinya.
Kelap-kelip lampu yang terlalu menyilaukan mata membuat Sungmin mengerutkan keningnya, dentuman musik memekakkan telinga juga menyambut pendengarannya, ia memang terbiasa dengan kelap-kelip lampu bar tapi lampu bar Jaehyun tak menyolok dan tak semewah ini. Musiknya juga tak sekuat ini.
"Ke sini," ucap Zhoumi sambil menunjukkan jalan pada dua namja kecil yang masih setia mengekori langkahnya.
Dan benar saja, setelah melewati beberapa lorong, mereka tiba ruangan bertuliskan VIP-class dengan melihat tangan Yesung yang sudah melambai-lambai tak sabaran.
Sungmin mengernyit tak suka saat melihat bagaimana orang-orang kaya entah dari kalangan muda ataupun tua bersenang-senang dengan cara tak senonoh di depan umum seperti yang tengah Sungmin lihat saat ini. Berciuman dengan panas, mengabaikan fakta bahwa mereka berada di tempat umum. Tak jelas lagi mana pasangan namja dengan yeoja, pasangan namja dengan namja, ataupun pasangan yeoja dengan yeoja. Mereka membaur jadi satu dalam situasi yang menurut Sungmin terlalu liar.
"Cho Kyuhyun gila! Letakkan botol laknat di tangan sialanmu itu!"
Sungmin tersadar dari pemikirannya kemudian menatap empat namja –Zhoumi sudah bergabung untuk menghentikan aksi Kyuhyun. Sementara Henry masih berdiri di sebelahnya menatap Kyuhyun dengan tatapan datarnya.
Bisa Sungmin lihat dengan jelas bagaimana Kyuhyun bergerak kasar menampik tangan teman-temannya yang berusaha menghentikan ulah gilanya. Berteriak, meracau, dan tertawa seperti yang Yesung ucapkan tadi. Benar-benar seperti orang gila.
"Kenapa Kyuhyun hyung bisa mabuk seperti itu?" tanya Henry pada Yesung yang tengah menyingkiran botol-botol bir dari jangkuan Kyuhyun.
"Dia bertengkar dengan orang tuanya."
Sungmin menolehkan kepalanya pada Henry yang terdengar bergumam pelan mengatakan 'Selalu seperti itu.' Selalu seperti itu, artinya Kyuhyun sudah biasa bertengkar dengan orang tuanya. Apa hubungan mereka tidak se-harmonis yang Sungmin bayangkan?
"Kyuhyun-ah, sudah!"
"Menyingkir kau brengsek! Dasar penghianat!"
Situasi mendadak hening, hanya terdengar suara Kyuhyun yang mengumpat-ngumpat, suara member C5 lainnya tak lagi terdengar setelah Kyuhyun mengucapkan kalimatnya sambil menuding wajah Zhoumi dengan tatapan marahnya.
Ada apa? Siapa yang penghianat?
"Kyu! Kau terlalu banyak minum! Ayo pulang!" suara Donghae kembali terdengar memecah situasi yang terasa aneh beberapa saat yang lalu, Yesung dan Siwon terlihat saling melempar tatapan sedangkan Zhoumi masih bertahan dalam posisinya. Tertegun dan belum bisa mendapatkan mulutnya kembali.
"Menyingkir Lee Donghae!" sentak Kyuhyun sambil menghempas lengan Donghae membuat Donghae terhuyung. Namja berbibir tipis itu ingin sekali melayangkan buku jarinya ke kepala Kyuhyun.
"Habiskan! Habiskan semuanya. Berhenti jika kau merasa overdosis atau hampir mati!"
Jika Donghae tadi berpikir ingin sekali melayangkan tangannya ke kepala Kyuhyun, kini justru ada satu tangan yang melayangkan jitakan keras di kepalanya.
"Dasar gila! Aku sudah bersusah payah menjauhkan semua botol ini kau bicara seperti itu!" omel Yesung sambil memelototi Donghae.
"Sungmin, kau kemari untuk membujuk anak itu! Cepat bujuk dia pulang!" suruh Siwon dengan nada kesal. Rupanya Siwon benar-benar jengkel dengan muntahan Kyuhyun di bajunya, terlihat dari cara namja itu menjaga jarak dengan Kyuhyun.
Sungmin mengangguk kaku, sejenak melirik Henry sebelum melangkah mendekati Kyuhyun yang masih meracau tak jelas dengan mata tertutup. Botol di tangannya masih menyisakan setengah dari isi penuh.
Zhoumi menyingkir beberapa langkah dari hadapan Kyuhyun, memilih berdiri di depan Yesung dan kebetulan berdiri bersebelahan dengan Henry.
Sungmin bergerak mengambil botol wine dari tangan Kyuhyun namun Kyuhyun menampik keras lengan Sungmin membuat namja manis itu refleks meringis. Kyuhyun membuka matanya yang sudah kehilangan setengah fokusnya sambil tersenyum konyol, merasa heran karena tak mendengar umpatan teman-temannya.
"Sunbae, ayo pulang."
Kyuhyun berusaha mengangkat kepalanya, menatap pemilik suara yang baru mengajaknya pulang. Merasa tidak asing namun ini bukan suara sahabat-sahabatnya apalagi sosok ini memanggilnya sunbae.
"Berhenti minum, ayo pulang," ucap Sungmin lagi. Tangannya kembali bergerak meraih botol di tangan Kyuhyun namun Kyuhyun masih menggenggam kuat botolnya sambil memiringkan kepalanya. Berusaha meraih fokusnya untuk menatap jelas wajah sosok yang masih berusaha meraih botolnya.
"Lee Sungmin? Kau Lee Sungmin?" tanya Kyuhyun sambil mencengkram erat tangan Sungmin.
"Iya. Bisa kau- Aww!"
Protesan yang hendak Sungmin layangkan langsung lenyap setelah Kyuhyun menarik tubuhnya kemudian memeluk Sungmin erat bahkan sangat erat.
"Lee Sungmin," sebut Kyuhyun berulang-ulang.
Henry terlihat membuang tatapannya ke arah lain sementara Zhoumi hanya bisa merutuk dalam hati, matanya bergantian mengamati Kyuhyun, Sungmin, dan Henry. Sementara Yesung, Donghae, dan Siwon hanya bisa menjadi penonton setia, terlalu setia sehingga mereka hanya bisa terdiam menonton dengan khidmat live drama di hadapan mereka.
Henry adalah calon tunangan Kyuhyun namun Kyuhyun tak mencintai calon tunangannya melainkan mencintai Sungmin, namja manis yang kini tengah dipeluknya erat-erat di hadapan calon tunangannya sendiri. Dan Zhoumi, entah kenapa ia terlihat seperti orang keempat diantara hubungan rumit mereka.
Drama sekali bukan?
"Kenapa tidak mengangkat teleponku? Aku sudah beritahu caranya kan? Kau sengaja hah? Ingin lari kemana? Kau berjanji memulai bersamaku. Kenapa kau berpikir untuk pergi? Kau tidak bisa melakukan ini padaku, Sungmin!"
Sungmin hanya bisa menghela napas sedih mendengar racauan Kyuhyun.
"Sunbae~"
"Kyuhyun! Panggil aku Kyuhyun!" perintah Kyuhyun sambil mengeratkan pelukannya.
Sungmin hanya menganggukkan kepalanya, sungguh ini benar-benar berat. Walaupun tidak menindihnya, tapi Kyuhyun menumpukan berat tubuhnya pada tubuh Sungmin sepenuhnya.
"Ne, kita pulang sekarang," ajak Sungmin namun Kyuhyun langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku harus menjelaskan semuanya."
"Aku sudah mengerti, ayo pulang. Berhenti minum, kau bisa sakit," ucap Sungmin berusaha melepaskan diri dari dekapan Kyuhyun yang terlalu erat.
"Tidak! Kau ingin lari kemana? Sudah kutakan cukup dengarkan aku! Aku dan Henry tidak akan seperti yang kau dengar. Siapapun tidak berhak membuatmu pergi dariku! Cukup dengarkan aku."
"Aku sudah mendengarmu."
"Tidak! Kau tidak mendengarku! Aku akan membuat semuanya berantakan, kau harus bersamaku."
"Cho Kyuhyun!" suara Zhoumi terdengar membentak. Namja yang sejak tadi berusaha tenang untuk tak menunjukkan keberadaan Henry itu mulai emosi mendengar ucapan Kyuhyun yang sejak tadi menyudutkan Henry.
Kyuhyun mengangkat kepalanya, berusaha meraih fokusnya untuk menatap pemilik suara yang sangat dikenalnya.
"Kau pikir hanya kau yang tersakiti di sini! Henry juga-"
"Tutup mulutmu brengsek!" umpat Kyuhyun menyela ucapan Zhoumi.
"Zhou, kau ini kenapa sih! Jangan membuat suasana hatinya makin buruk!" omel Donghae.
"Apanya yang kenapa? Dia sudah keterlaluan. Dia pikir bagaimana perasaan Henry!" bantah Zhoumi.
"Kubilang tutup mulutmu! Mau mati hah!" teriak Kyuhyun sambil berdiri dari posisinya menatap Zhoumi dengan tatapan nyalang.
"Cih! Kekanakan!" ejek Zhoumi membuat emosi Kyuhyun tersulut.
Bunyi BUGH yang cukup keras diiringi terhuyungnya tubuh Zhoumi membuat yang lain beserta penghuni bar yang lain menoleh, menatap, bahkan memekik terkejut.
"Simpan bualan itu untukmu! Ini salah kalian!" tuding Kyuhyun sambil menunjuk wajah Henry dan Zhoumi bergantian.
"Kalian yang memiliki perasaan dan aku yang harus menjadi korban! Sial kau Zhou!" umpat Kyuhyun sambil berniat menyerang Zhoumi lagi namun yang lain segera menahan tubuh Kyuhyun.
"Kyu, sudah!"
"Lepaskan aku! Aku harus menunjukkan siapa yang kekanakan di sini! Aku atau pengecut sialan itu!" teriak Kyuhyun sambil memberontak dari cekalan Siwon dan Donghae.
"Lepaskan dia," ucap Zhoumi membuat Siwon dan Donghae langsung mengangkat tangannya. Hal itu membuat Kyuhyun langsung bergerak ke arah Zhoumi, mencengkram kuat kerah jaket yang Zhoumi kenakan kemudian berteriak marah di depan di wajahnya.
"Seandainya kalian jujur, semuanya tidak akan begini. Kau pengecut Zhou, Henry menyukaimu dan kaupun menyukainya, kenapa kalian bersikap seperti ini, hah! Jawab aku!"
Zhoumi tak menjawab apapun, mulutnya serasa ikut berada dalam cengkraman Kyuhyun.
"Lalu apa setelah ini? Kau ingin merebut Sungmin dariku! Menyingkirkan Sungmin dariku? Kau pikir aku tidak akan marah karena kau mengantar kekasihku, kau pikir aku tidak tahu hah!"
Lagi-lagi Zhoumi tak mampu menjawab ucapan Kyuhyun.
"Kau tahu aku percaya padamu. Kau yang selalu mendengarku. Tapi kau juga yang menghianatiku! Kenapa aku bisa memiliki sahabat sepertimu, Zhou!"
BUGH!
Satu pukulan Zhoumi dapatkan kembali di wajahnya. Yesung yang sudah tak lagi bisa berdiam diri menjadi penonton langsung menghampiri Kyuhyun. Menyeret tubuh yang lebih besar dari tubuhnya itu kemudian melempar tubuh Kyuhyun menjauh dari tubuh Zhoumi.
"Bawa pulang bocah itu sekarang!" perintah Yesung sambil menatap nyalang Siwon dan Donghae.
Sungmin masih tertegun di posisinya namun saat mendengar teriakan Donghae padanya namja manis itu buru-buru menghampiri Kyuhyun yang berjalan keluar ruangan dibantu Donghae dan Siwon.
"Kalian selesaikan urusan kalian sendiri!" tukas Yesung kemudian berlalu dari hadapan Zhoumi dan Henry.
Henry masih berdiri di posisinya, wajahnya masih nampak jelas memerah dalam keremangan sinar lampu. Zhoumi menyeka darah yang terasa anyir di sudut bibirnya. Matanya bergerak melirik Henry yang ternyata tengah menatapnya.
Zhoumi terkejut, bukan terkejut karena Henry menatapnya. Namja tinggi itu terkejut saat melihat bagaimana lapisan kaca bening yang tadinya hanya membayangi bola mata Henry kini mengalir turun membasahi pipi namja berambut merah itu.
"Hei~" sebut Zhoumi kemudian meraih tubuh Henry ke dalam rengkuhannya, hal itu langsung membuat tangis Henry meledak. Namja bermarga Kim itu terus memukuli punggung Zhoumi melampiaskan perasaannya.
"Seharusnya Kyuhyun hyung memukul hyung sampai mati!" ucap Henry di sela tangisnya.
"Maaf," hanya itu yang keluar dari bibir Zhoumi. Namja bermarga Tan itu hanya bisa terus memeluk Henry sambil menghela napas lega dalam diamnya.
.
~(*o*)~
.
Sungmin kini berada dalam mobil Yesung, Kyuhyun menolak keras saat Donghae dan Siwon berniat mengantarnya pulang. Akhirnya, Yesung memutuskan untuk membawa Kyuhyun pulang.
"Dia memang seperti itu jika tengah banyak masalah," suara Yesung terdengar membuat Sungmin yang tengah menatap wajah terlelap Kyuhyun mengangkat kepalanya.
"Dia juga seenaknya, kenapa kau mau-mau saja menjadi kekasihnya?" ucap Yesung lagi, kali ini sedikit menolehkan kepalanya pada Sungmin.
Sungmin tersenyum kecil kemudian kembali menatap wajah Kyuhyun yang terlelap damai berbantalkan pahanya.
"Kyuhyun sunbae namja yang baik. Sangat baik."
Yesung tersenyum kecil sambil terus fokus pada jalan di hadapannya.
"Aku harus mengantar Kyuhyun ke apartemenku dulu, setelah itu aku antar kau pulang."
Sungmin hanya menganggukkan kepalanya. Menurutnya, Yesung adalah satu-satu member C5 yang paling tak suka bicara. Berbeda dengan Donghae dan Zhoumi yang selalu cerewet.
Tidak ada percakapan setelahnya, mereka fokus pada kegitan masing-masing. Jika Yesung fokus menyetir, Sungmin terlihat mengusap keringat yang ada di sekitar kening dan wajah Kyuhyun.
Laju mobil yang perlahan melambat membuat Sungmin sadar jika mobil Yesung telah memasuki kawasan apartemen, dan benar saja basement luas dengan puluhan mobil mahal langsung menyapa mata Sungmin.
"Ayo."
Sungmin menganggukkan kepalanya, berniat turun dari mobil saat Kyuhyun menahan gerakannya.
"Sudah bangun?" tanya Sungmin dengan polosnya.
Kyuhyun membuka matanya, menatap Sungmin, tampak ingin mengucapkan sesuatu.
Pintu di sebelah Sungmin terbuka membuat Sungmin urung menanyakan apa yang ingin Kyuhyun ucapkan.
"Apa dia bangun?" tanya Yesung waspada dan Sungmin hanya menganggukkan kepalanya.
"Ah sial! Kyu! Awas saja kau muntah di-" belum selesai Yesung bicara Kyuhyun sudah bangun dari posisinya dan memuntahi jok mobil Yesung. Sungmin yang nyaris terkena muntahan hanya bisa memekik kaget sambil menatap Kyuhyun yang benar-benar tak bisa dikatakan baik-baik saja.
"Arrggghhh!" teriak Yesung sambil mengacak-acak rambutnya.
"Seharusnya aku suruh Donghae saja tadi. Aku benar-benar tidak kuat dengan bau isi perut siapapun!" ucap Yesung frustasi.
Sungmin yang mengerti segera menenangkan Yesung.
"Biar aku yang memapahnya masuk, sunbae."
Yesung menatap Sungmin, sedikit berpikir kemudian menganggukkan kepalanya. Berjalan ke arah pintu seberang kemudian membukanya dan kembali marah pada Kyuhyun.
"Aku akan menghajarmu besok pagi! Turun sekarang!"
Kyuhyun tak menyahuti omelan Yesung, namja Cho itu terlihat menyandarkan kepalanya ke jok mobil sambil memegangi kepalanya.
"Kyuhyun-ah, ayo turun," ajak Sungmin sambil mengulurkan lengannya, meraih lengan Kyuhyun.
Setelah berhasil membawa Kyuhyun keluar mobil, Sungmin langsung memapah tubuh berat Kyuhyun memasuki apartemen Yesung. Dan berita jahatnya, Yesung benar-benar tak membantu Sungmin memapah Kyuhyun.
"Aku bisa jalan sendiri," ucap Kyuhyun pelan.
Sungmin tak menjawab apapun, namja kecil itu hanya mengeratkan lengan Kyuhyun agar tetap melingkari bahunya.
"Aku bisa jalan sendiri, Sungmin."
"Sudah biar saja dia jalan sendiri! Siapa tahu nanti dia pingsan di depan sana dan tak usah membantunya," semprot Yesung.
"Sudah, diam saja," suruh Sungmin sambil berbisik pada Kyuhyun. Dia takut Yesung kembali marah-marah
.
.
.
Setelah membantu Yesung untuk membereskan kekacauan di tubuh Kyuhyun, Sungminpun berpamitan pulang.
"Sunbae tidak perlu mengantarku, aku bisa pulang naik bus."
"Kau pikir bus mana yang beroperasi tengah malam?" sahut Kyuhyun.
Sungmin tak menjawab apapun, memang benar, apa ada bus? Masalahnya, sekalipun diantar, siapa yang akan mengantarnya? Mobil Yesung bahkan tak layak digunakan untuk sementara. Ingat siapa yang membuat mobil itu tak bisa digunakan?
'Tentu saja Kyuhyun,' batin Sungmin sambil menatap Kyuhyun yang ada di sebelahnya. Saat ini Sungmin tengah duduk di ranjang tempat Kyuhyun berbaring.
"Aku akan menghubungi Wookkie, Eunhyuk, Kibum atau siapapun yang bersedia mengantarmu pulang."
"Ti-tidak usah sunbae."
"Lee Sungmin, bisakah kau tidak membantah?" peringat Kyuhyun.
Sungmin hanya menatap kesal pada Kyuhyun, membiarkan Yesung sibuk dengan panggilannya.
"Habiskan buburmu!" perintah Sungmin dengan kesal.
"Kau pikir aku anak kecil yang-"
"Cho Kyuhyun, bisakah kau tidak membantah?" ucap Sungmin sambil melotot pada Kyuhyun. Hal itu sontak mengundang sinar geli di mata Kyuhyun. Atas dasar apa Sungmin memelototi Kyuhyun seperti memelototi anak kecil berusia 5 tahun.
"Kau pikir aku takut di pelototi tikus kecil sepertimu," ejek Kyuhyun sambil menatap Sungmin dengan pandangan geli.
Sungmin hanya bisa mempoutkan bibirnya membuat tawa Kyuhyun mengalun pelan.
"Habiskan buburnya," ulang Sungmin sambil menatap mata Kyuhyun yang tak setajam biasanya. Pengaruh alkohol masih terlihat di sana.
"Nanti saja."
Sungmin menganggukkan kepalanya kemudian menatap setiap sudut ruangan yang belum menampakkan keberadaan Yesung. Sepertinya putra konglomerat Kim itu masih sibuk mencari seseorang yang mau mengantar Sungmin pulang.
"Sungmin," panggil Kyuhyun membuat Sungmin menolehkan kepalanya, menatap Kyuhyun dengan tatapan penuh tanya. Beberapa detik selanjutnya tatapan Sungmin merubah menjadi ekspresi kaget.
"Apa?" tanya Kyuhyun sambil mengerutkan keningnya.
Sungmin mengulurkan lengannya, jemarinya bergerak menyentuh sudut bibir Kyuhyun membuat namja Cho itu membeku untuk sesaat.
"Ini kenapa? Seingatku Zhoumi sunbae tidak memukulmu. Apa terantuk sesuatu?" tanya Sungmin sambil mengamati sedikit lebam yang terlihat samar-samar di pipi pucat Kyuhyun.
"Ti-tidak," sahut Kyuhyun kaku. Matanya bergerak menatap apapun selain wajah Sungmin yang berada cukup dekat dengan wajahnya.
"Lalu ini kenapa?" tanya Sungmin masih penasaran.
Kyuhyun menepis pelan jemari Sungmin kemudian berusaha bangun dari posisi berbaringnya.
"Tidak apa-apa. Aku juga tidak tahu ini kenapa," jawab Kyuhyun bohong.
Sungmin hanya bisa mengernyitkan keningnya, namun namja manis itu bergerak memeriksa laci meja yang ada di sebelah ranjang. Kalau tidak salah ia melihat Yesung memasukkan kotak obat ke sana.
"Nah!" seru Sungmin pelan.
Namja manis itu mengambil sebuah plester luka kemudian menghampiri Kyuhyun lagi. Mengisyaratkan Kyuhyun untuk menghadapkan wajahnya ke arah Sungmin kemudian menempelkan plester itu di seiktar sudut bibir Kyuhyun.
"Plester couple," gumam Sungmin sambil menunjuk plester di wajahnya dan plester di wajah Kyuhyun. Namja manis itu menatap Kyuhyun diiringi senyuman polosnya.
Kyuhyun yang awalnya merasa sedikit kaku dan canggung dengan sikap Sungmin langsung mengembangkan tawanya setelah mendengar ucapan dan melihat senyuman polos Sungmin.
Tangannya terulur menyentuh kepala Sungmin kemudian mengusap surai hitam Sungmin dengan gerakan lembut.
"Ya, plester couple," ulang Kyuhyun membuat Sungmin tertawa pelan.
Dua namja itu larut dalam suasana manis yang mereka bangun sampai deheman Yesung menginterupsi.
"Ah, maaf mengganggu. Tapi Donghae dan Eunhyuk bersedia mengantar Prince Sungmin, sebentar lagi mereka tiba" ucap Yesung sok polos.
Kyuhyun berdecih pada Yesung kemudian menatap Sungmin yang sudah bersiap-siap untuk pergi.
"Aku pulang dulu. Kau istirahat ne?" pamit Sungmin yang dibalas anggukan setengah tak rela oleh Kyuhyun.
"Apa kau memiliki cara ampuh agar bisa tidur nyenyak?" tanya Kyuhyun.
"Appa yang tahu caranya," jawab Sungmin.
"Tidak bisakah kau memberitahuku? Pada kekasihmu kenapa pelit sekali!" gerutu Kyuhyun.
Sungmin mengerucutkan bibirnya kemudian melirik ke arah Yesung yang terlihat sibuk dengan ponselnya.
"Baiklah, aku beritahu."
CUP!
"Aku pulang. Selamat malam."
Yesung hanya bisa menahan tawa dan berpura-pura sibuk dengan ponselnya saat mengintip aksi malu-malu pasangan baru itu. Bisa ia lihat jika Kyuhyun tengah tertegun seperti orang tolol sementara Sungmin buru-buru pergi dengan wajah merah padam.
"Sunbae, aku bisa turun ke bawah sendiri. Maaf merepotkan, selamat malam."
Yesung hanya menganggukkan kepalanya, membiarkan Sungmin berlalu dari apartemennya.
"Dicium di kening saja sudah berubah jadi namja tolol," sindir Yesung membuat Kyuhyun tersentak kemudian menatap wajah Yesung dengan tatapan 'Mau mati hah!'
Yesung hanya mengibaskan lengannya kemudian berlalu meninggalkan kamar tamu yang akan di tempati Kyuhyun.
Sementara itu, Kyuhyun terlihat meraba keningnya, bibir hangat Sungmin seolah masih tertinggal di sana. Perlahan dua sudut bibir Kyuhyun terangkat sebelum bibirnya membentuk satu senyum lebar yang tak lama berubah menjadi tawa pelan dan tak lama kemudian berubah menjadi tawa bahagia yang terdengar hingga ke kamar Yesung.
"Yeaaahh aku akan tidur nyenyak!" teriak Kyuhyun.
"Dasar anak itu!" gumam Yesung sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
.
~(*o*)~
.
Kegiatan Sungmin melempar koran ke beberapa pintu rumah dan mengantar susu kembali di mulai pagi ini. Namja manis itu nampak tersenyum untuk menyapa beberapa orang yang ia temui sepanjang jalan.
"Hei tunggu!" seru salah satu pemilik rumah saat Sungmin meletakkan beberapa kotak susu.
Sungmin yang berniat kembali mengayuh sepedanya langsung menolehkan kepalanya.
"Ada apa ajjuma?" tanya Sungmin.
Ajjuma pemilik rumah terlihat menghampiri Sungmin dengan satu piring kecil di tangannya.
"Untuk anak manis sepertimu," ucap ajjuma pemilik rumah sambil menyodorkan piring berisi pancake mini itu pada Sungmin.
Sungmin tersenyum senang kemudian membungkuk kecil.
"Terimakasih ajjuma," ucapnya kemudian mengambil pancake berukuran kecil itu dan memasukkan ke dalam mulutnya. Tak ayal hal itu langsung membuat pipi Sungmin mengembang seperti adonan kue dalam proses peragian.
"Uku hurus purgu bukurju, gumuwu ujjumu (Aku harus pergi bekerja, gomawo ajjuma)," ucap Sungmin kemudian melambaikan tangannya, kembali mengayuh sepedanya sambil mengunyah pancake madu yang ada di dalam mulutnya.
'Enak sekali,' batin Sungmin sambil tersenyum lebar.
"Tinggal satu rumah lagi," ucap Sungmin sambil menatap tikungan yang ada di depannya.
Dengan semangat Sungmin mengayuh sepedanya, bersiap memutar sepedanya saat sebuah mobil tiba-tiba menghadang jalannya.
"KYAAAAAA!" seru Sungmin sambil berusaha menghentikan laju sepeda dengan menarik rem sepedanya sekuat mungkin.
CIIITTT!
Napas Sungmin memburu, terkejut luar biasa. Sedikit lagi, tubuhnya mungkin sudah terlempar jauh dan berdarah-darah seperti korban kecelakaan pada umumnya.
"YA! TURUN KAU!" teriak Sungmin sambil memarkir sepedanya di tengah jalan.
Sedetik kemudian tampak sesosok namja yang sangat Sungmin kenal (read: Kyuhyun) keluar dari mobil itu membuat Sungmin menganga lebar. Apa-apaan namja itu? Bagaimana bisa Kyuhyun muncul dari mobil kurang ajar itu?
"Kau tidak apa-apa?" tanya Kyuhyun sambil memeriksa kondisi Sungmin.
"Ada yang sakit?" tanya Kyuhyun lagi.
"Otakmu yang sakit Cho Kyuhyun! Kau pikir lucu hah!" teriak Sungmin marah sambil menghempas lengan Kyuhyun.
Kyuhyun yang mendengar itu hanya bisa berdecak pelan.
"Kalau kau marah-marah artinya kau baik-baik saja. Ayo!" ucap Kyuhyun kemudian menyeret Sungmin menjauhi sepedanya.
"Ya! Ya! Ya! Tidak mau! Lepaskan aku!"
"Kau tenang saja! Urusan pekerjaanmu aku sudah menyuruh orang untuk menggantikanmu sementara!"
"Tidak mau! Jangan seenaknya!"
Kyuhyun mengabaikan teriakan dan omelan Sungmin, dengan sedikit pemaksaan ia berhasil membuat Sungmin memasuki mobil. Setelah ini ia harus bersiap mendengar omelan Sungmin yang lebih memekakkan dibanding saat diluar mobil tadi.
"Turunkan aku! Tidak lucu Kyuhyun-ah!"
Kyuhyun tak menjawab apapun.
"Turunkan aku! Atau aku lompat dari sini!" ancam Sungmin justru membuat Kyuhyun menambah kecepatan mobilnya. Hal itu membuat Sungmin mau tak mau berpegangan pada apapun yang bisa dicapai genggamannya.
"Y-ya, kita mau kemana? Kau masih mabuk ya?"
"Ke rumah orang tua-ku."
"M-MWO?"
Pagi tadi, Kyuhyun terpaksa bangun karena ponselnya berdering tanpa henti. Saat melihat nama Zhoumi di layar ponselnya, Kyuhyun mengangkatnya dengan ogah-ogahan.
'Ayo selesaikan ini sekarang. Aku dan Henry akan menunggu di rumahmu.'
Hanya itu bagian pentingnya. Setelah itu Kyuhyun bergerak cepat, mengambil kunci mobil Yesung mengabaikan fakta jika mobil itu benar-benar tak seharusnya digunakan. Kemudian mencari Sungmin yang ternyata sudah pergi bekerja, alhasil Kyuhyun hanya bisa berkeliling sekitar rute yang Shindong beritahu padanya hingga bertemu Sungmin di tikungan tadi.
.
.
.
Kini mereka telah tiba di mansion Cho. Sungmin menahan napas saat Kyuhyun membuka pintu untuknya.
"Ayo."
Sungmin menatap Kyuhyun ragu. Sungguh ia belum siap jika harus ditempatkan pada kondisi seperti ini. Kyuhyun yang mengerti tatapan Sungmin bergerak meraih jemari Sungmin menautkan jemari mereka kemudian berucap pelan.
"Percaya padaku."
Seperti mendapat hipnotis, Sungmin hanya bisa menganggukkan kepalanya kemudian bergerak keluar mobil, melangkah bersama Kyuhyun. Sesekali matanya bergerak melirik Kyuhyun, dan saat Kyuhyun mengeratkan tautan jemari mereka Sungmin seolah mendapat keyakinannya. Namja manis itu mengangkat kepalanya. Ini pilihannya, jadi ia harus menghadapi semuanya bagaimanapun kondisinya.
"Ini tidak lucu Henry. Pertunanganmu tinggal menghitung hari dan kau datang bersama sahabat calon tunanganmu kemudian mengatakan jika kalian telah menjalin hubungan dan ingin membatalkan pertunangan? Lucu sekali!" suara tegas yeoja dari dalam sebuah ruangan membuat Sungmin kembali melirik Kyuhyun.
"Chullie, tenangkan dirimu. Henry punya alasan untuk semua itu," kali ini suara namja yang terdengar.
"Tidak apa-apa," ucap Kyuhyun menenangkan Sungmin.
Asisten Jung menyadari kedatangan Kyuhyun kemudian mengisyaratkan Victoria untuk memberitahu Heechul.
"Jeosonghamnida, Tuan Muda sudah tiba."
Heechul berdecih. Yeoja itu masih bertahan dalam posisinya seolah tak sudi menatap Kyuhyun.
"Untuk apa dia kemari? Apa dia membawa namja miskin itu kemudian mengatakan jika mereka menjalin hubungan dan ingin membatalkan pertunangannya dengan Henry?" ucap Heechul dengan nada sinis. Sungmin hanya bisa meringis pelan dalam hati mendengar ucapan Heechul.
"Sejak awal aku memang tak menginginkan ini. Ini keinginan eomma, jangan pernah mengatakan aku ingin membatalkan ini karena aku memang tak pernah mengingkan ini," sahut Kyuhyun membantah tuduhan Heechul dengan nada dinginnya.
"Sudah pandai bicara kau, hah!" sentak Heechul sambil membalikkan tubuhnya menatap nyalang Kyuhyun.
Suasana mendadak hening. Kyuhyun menatap Sungmin yang tengah gemetaran di sebelahnya, kemudian beralih menatap Heechul yang seolah kehilangan ekspresi kejamnya. Nyonya Cho itu terlihat berdiri kaku dengan wajah pias.
"Si-siapa yang kau bawa?" tanya Heechul.
"Kekasihku," sahut Kyuhyun mantap, genggamannya mengerat di jemari Sungmin.
Sungmin menatap Heechul takut-takut, kemudian membungkukkan tubuhnya.
"Annyeong haseyo. Lee Sungmin imnida."
'Su-sungmin?'
Kyuhyun menatap reaksi Heechul, keningnya mengerut dalam saat melihat wajah ibunya seolah dijauhi aliran darah.
"Eomma," panggil Kyuhyun sebelum tubuh Heechul perlahan melemas dan berdebum keras membentur lantai.
"Chullie-ah!"
"Eomma!"
TBC
Annyeong~~
Aduh! Heechul kenapa tuh! Heechul kenapa? HEECHUL KENAPA? HEECHUL KENA- #plakplakplak *ditabok rame-rame* Wkwkwkkkkk :D
Okeh! Now, kita cuap-cup soal review chapter kemarin ya :D Daaaannn, ternyata lumayan banyak yang satu line sama akuuuuu *hug* awalnya aku pikir nyari temen satu line itu susah banget! T_T Dan buat eonnie eonnie boleh panggil apa aja terserah, mau Rinrin, mau Dhienhie, mau panggil Istri sah Sungjin juga boleh banget! #pasti banyak yang gak setuju *pout* Buat yang mau panggil eonnie atau kakak, juga monggo, saya mah terserah dipanggil apa, yang penting jangan dipanggil 'HEH' berasa makhluk tak terindentifikasi masak? -_-
Soal KyuMin moment banyak yang bilang bikin melting yah? Aaaaaaa, aku pas ngetik juga sambil gigitin guling #LOH? :D
Oiya, ada yang tanya ini FF bakal tamat chapter berapa ya? Emm, aku belum tau, soalnya ini FF gak ada draft sampe ending seperti FFku yang sebelumnya. Terus buat yang tanya tamatnya chapter berapa biar bisa dikira-kira itu dikira-kira untuk apa ya? Saya bingung #otak lemot
Noh! Yang pada sebel sama Mimi-ge, minta maaf sanah! Kasian tau Mimi-ge, dia nangis dua hari semalem dipelukan saya #evil laugh *ditalak Sungjin*
Banyak yang bilang konfliknya berat ya? Masak sih? T_T Aku gak suka yang berat-berat loh! Kalo beratnya ketindihan Sungjin sih gak papa #Allahumma mesum banget! *LOL* Gak berat kok, percaya deh! Percaya aku kan? Kalau gak percaya bagus! #LOL Percaya itu sama Tuhan :D
Oke Oke! Sekian dulu cuap-cuapnya. Buat yang bilang saranghae sama saya, NADO SARANGHAE BABY-YA! Sampai jumpa next chap yah :D
NEXT!
RCL please~
Gomawo udah baca \(*o*)/
