a/n: umm sudah berapa minggu? 3? 4? Yaaa lama lagi ya updatenya -_- Mohon maaf semua readers! Ada sedikit gangguan dengan internet jadi yaa mohon dimaklumi^^ Oh iya, tidak lupa saya berterima kasih kepada yang sudah membaca! Yang review juga terima kasih! Tapi kali ini saya tidak bisa membalas review satu per satu ya? T^T Maafkan sekali lagii T^T jadi untuk kazufika, aputriabsari, kaname, Meirin Hinamori 16, andien hanazono, someone, Agnes Azima, Guest, Audrey Naylon, Akira-Bellachan, Takenomaru Hikari, Virasenai, fuyuki, KK LOVERS,

maaf bila updatenya lama yaa T^T padahal saya sudah bilang bahwa akan cepat update. Terus balas reviewnya sekalian ya? Maaf lagi T^T. Terima kasih yang sudah review juga sudah senang dengan fic ini^^. Untuk penyakit Karin pada penasaran yaaa? *grin* sebentar lagi terbongkar tuh, di chapter ini sudah mulai panas mendekati jawaban~ tenang sajaa ya! Oh iyaaa, hampir lupa bila di chapter 8 ada typo yang fatal sekalii! Jadii, sebenarnya yang benar itu Jin adalah kekasihnya Kazusa, bukan Himeka. Aduh typonya jauh sekali ya T^T.

Lalu lalu, di cerita ini memang Himeka bisa merasakan sesuatu yang menurutnya bahaya. Untuk yang ingin panggil nama author, silakan panggil apapun yang anda mau XD. Tiara? Bolehh^^ apapun yang anda mau^^ Sekarang masalah endingnya? Hmm, bisa jadi sad ending bisa juga happy ending sih^^ Baca saja kelanjutannya yaa~

Waah, sekarang tiba perlu banyak bicara lagiii~


Selamat membaca~^^~

Disclaimer: Kamichama Karin & Kamichama Karin chu © Koge Donbo

Warnings : AU, OC, OOC, miss typo, dll

.

.

.

~*Ma Dernière volonté*~


Tetesan air hujan sudah mulai membasahi tanah sekolah Sakuragaoka Highschool. Karin mempercepat jalannya menuju taman yang letaknya tidak terlalu jauh dari sekolah itu. Napasnya yang sudah berburu dengan waktu terus berhembus dengan tidak beraturan. Pikirannya terus berputar dengan keadaan Suzune di taman saat ini karena ia sudah lama meninggalkannya di sana sendiri. Kemudian Karin melihat jam tangan yang berada di tangan kanannya dan mendecak kesal.

"Ck! Ini semua tidak akan terjadi bila mereka tidak datang!" gerutunya sambil terus berjalan ke arah taman.

Sesampainya disana, suasana taman sudah hening dan hanya tertinggal beberapa orang yang berkeluyuran. Ia pergi ke tempat anak-anak kecil bermain tadi, namun ia tidak menemukan seorang pun disana. Panik pun muncul saat dirinya tidak melihat sosok Suzune di sekitar tempat itu. "Suzune?! Suzune?!" Karin menyerukan nama Suzune dengan harapan Suzune mendengar panggilan Karin.

Kini kaki-kaki jenjangnya ia pacu berlari mengitari selingkup taman mencari Suzune meskipun napasnya semakin berat setiap langkah yang ia ambil. "Suzune!" tanpa henti Karin menyerukan nama Suzune sembari mengitari taman. Pikirnya, apa mungkin Suzune pergi ke pinggir jalan yang ramai dengan orang-orang?

Tanpa berpikir dua kali ia berlari ke pinggir taman itu dan akhirnya ia menemukan sosok anak kecil berambut blonde sedang berdiri sendiri di pinggir jalan memegangi handphone.

"Suzune?!"

.

[Karin POV]

Saat kupanggil namanya, Suzune berbalik dan memampangkan wajah imutnya yang sudah dibasahi air mata.

"Neee-chaaan! Huaaa!" tangisannya semakin keras saat aku menghampirinya dan memeluknya erat. Ia terlihat ketakutan dan bingung harus kemana. Aku masih bersyukur karena ia tidak pergi kemana-mana, tetapi saat melihat wajahnya aku semakin merasa bersalah karena meninggalkannya disini.

"S-Suzune, kau tidak apa-apa? Kau pasti ketakutan ya? Maafkan nee-chan meninggalkanmu disini sendiri ya. Maafkan nee-chan," ujarku sembari mengelus pucuk kepalanya. Lantas aku menghapus air matanya yang masih berjatuhan melalui lekukan wajahnya itu.

"Nee-chan.. Saat teman-teman sudah mulai pulang aku kira nee-chan tidak akan kembali menjemputku.. Hiks.. jadi aku menelepon nii-chan.. hiks.. dan nii-chan sedang menuju ke tempat ini.. hiks.." Di sela tangis ia bergumam. Aku tersenyum tipis padanya dan menggelengkan kepalaku menandakan semua yang ia pikirkan itu salah.

"Tidak Suzune, nee-chan tidak mungkin meninggalkan anak kecil imut sepertimu disini! Tapi nee-chan salut denganmu karena kau bisa menelepon kakakmu tadi hahaha. Kau pemberani ya Suzune!" seruku memujinya. Suzune yang mendengarnya pun langsung berhenti menangis kemudian menatapku dengan tatapan 'benarkah?' dan wajahnya itu imut sekali!

"Kyaa~ Kau itu lebih lucu lagi bila tersenyum! Ayo tersenyum untuk nee-chan ya? Kau, kan, sudah menjadi anak yang pemberani!" pintaku pada Suzune yang mulai terlihat tenang setelah kejadian tadi. Iya terdiam sebentar lalu mulai menarik bibirnya tersenyum kecil dan setelah beberapa detik senyumannya langsung melebar.

"Hihihi." Ia tertawa geli membuatku ikut tertawa dengannya. Namun…

Degh degh!

"T-Tunggu.."

Di sela tawa itu aku terhenti begitu saja karena saat aku melihat sosok yang aku kenal di belakang Suzune, disana terlihat dua orang telah yang sudah menyita waktuku itu sedang memperhatikan kami disini. Kenapa mereka di tempat ini? Bukannya mereka sudah pergi?

Suzune yang bingung dengan keheningan dariku itu menatapku polos dan mengelus wajahku pelan dengan tangan kecilnya itu.

"Nee-chan? Ada apa?" tanyanya penuh kekhawatiran. Tangan kecilnya itu menyadarkanku dari lamunan. Pertamanya aku bingung harus mengatakan apa padanya, namun yang bisa kulakukan hanyalah melontarkan senyumku dan menutupi ekspresi tegang yang melanda diriku ini.

"T-Tidak apa-apa. Ah, Suzune tidak bawa jaket ya? Sudah gerimis jadi pakai jaket nee-cha— uhkk.. Uhuk!" kalimatku terpotong dengan batuk-batuk yang tak tertahan olehku. Sembari menutup mulutku aku memalingkan wajahku dari Suzune yang terlihat semakin khawatir denganku. "Nee-chan?" sekali lagi ia memanggil namaku. Kondisiku menambah kekhawatiranku, karena jam minum obatku sudah terlewat jauh, dan efeknya akan semakin menjadi-jadi.

Aku berusaha menahan rasa pilu di dadaku untuk berbicara pada Suzune. Tidak hanya rasa was-was dengan orang yang sedang menguntit diriku, rasa tegang karena efek dari terlambat minum obat pun bergentayangan dalam pikiranku.

"K-Kh.. uhk.. S-su..kh!" Meskipun aku sudah berusaha, tidak ada kalimat yang keluar dari mulutku, untuk berbicara saja pun sudah membuatku sakit. Saat itu langsung saja aku melepas jaket yang kukenakan dan memakaikannya pada Suzune, mungkin dengan jaketku Suzune tidak akan terlalu terlihat jelas oleh penguntit di belakang sana. Namun Suzune sepertinya melihat sesuatu yang menarik dari tanganku dan membuatnya bertanya kembali.

"Nee-chan, tanganmu pucat sekali.." serunya sembari menggenggam tanganku itu. Aku melihat pada kuku-kukuku yang keunguan itu terbasahi air hujan. 'K-Kuku-kukuku…!' Aku baru tersadar bahwa kukuku sudah berwarna ungu karena Suzune yang memberitahu. Aku bisa merasakan tanganku sedikit bergetar di genggaman tangan Suzune yang kecil itu.

"H-haha, ini hanya karena udara sekarang dingin dan tangan nee-chan kedinginan. Jangan khawatir ya?" ujarku sembari tersenyum masam. Ia mengangguk kecil meresponku dengan polos dan aku hanya tertawa garing. Sejenak aku memperhatikan dua orang penguntit yang semakin lama semakin mendekat dengan tempatku berada dan kulihat mereka mempunyai kamera di tangannya. Tidak salah lagi, mereka adalah reporter yang sudah menemuiku tadi di kelas!

'Mereka! Agh! Sampai kapan mereka akan terus mengikutiku?!'

Aku segera berdiri dan berniat untuk pergi menghampiri mereka. Tapi semua itu tidak terjadi karena aku sudah melihat seseorang tengah berlari dengan payung di tangannya menuju tempatku berada sekarang. Ya, tidak salah lagi, Kazune Kujyo, kakak dari anak kecil imut di depanku ini sedang berlari menghampiri kami.

"Suzune?!"

Seruan nama Suzune mengalihkan perhatianku dan Suzune ke sumber suara yang khas dengan kelembutannya. Dari jauh terlihat Kazune yang ternyata bersama Himeka di belakangnya mengikuti. Saat melihatnya aku langsung panik mengingat keberadaan reporter yang sedang menguntitku. Pasti mereka akan menyebar gosip-gosip baru bila melihat kedekatanku dengan Himeka, Suzune maupun Kazune.

'G-gawat.. Aku harus pergi sebelum ia datang!' pikirku panik.

Aku sudah bersiap melangkahkan kakiku ini mengambil ancang-ancang untuk berlari. Tapi untuk kesekian kalinya, niatku terpupuskan dengan keadaanku yang semakin buruk saja karena udara dingin.

"Kh! Uhuk..uhuk uhuk.. Uhk!" batuk terus menyerang dan aku menutup mulutku dan berlutut di depan Suzune. Aku tak dapat menahanya lagi, rasa nyeri di dadaku seakan membunuhku secara pelan. Mataku sampai bergelinang air mata menahan pilu itu dan Suzune semakin terlihat khawatir melihatku seperti ini. "N-nee-chan tidak apa-apa kan? H-Hiks. Nee-chan tidak sakit kan? Hiks.."

'Oh bagus.. bagus sekali.. A-Aku membuat Suzune menangis lagi! Dan penguntit itu sedang memperhatikanku!' pikirku sembari menahan batuk yang melanda. Akhirnya dengan tidak jelas aku berusaha berbicara pada Suzune dan mengatakan bahwa kau baik-baik saja dan aku harus segera pergi dari sini. Ya, aku harus pergi sebelum para penguntit atau lebih spesifiknya reporter itu semakin penasaran dengan kondisi kesehatanku, sudah lagi aku sedang bersama Suzune, ditambah Kazune dan Himeka yang sedang datang kesini!

"N-nee-chan tidak apa-apa. N-nee-chan tidak bisa lama-lama d-di sini, n-nee-chan juga ambil handphonenya ya? S-Sampai n-nanti Suzune!" seruku sembari berlari dan pergi ke arah yang berlawanan dengan arah datangnya Kazune dan Himeka. Aku berjalan cepat meninggalkan tempat itu namun yang tidak kusangka, Suzune mengejarku dan meneriaki namaku.

"Karin nee-chan! Tunggu! Nee-chaaaan!" serunya dengan suara khas miliknya itu. Aku membalikan badanku dan melihat Suzune yang berlari menuju ke arahku dan Kazune yang berada di belakangnya berusaha mengejar Suzune. Himeka pun terlihat di belakang Kazune sedang mengikutinya.

Aku terhenti sebentar dan berdiri menatapnya. Dalam hatiku.. aku ingin dikejar.. tapi batinku yang lainnya berusaha untuk memperingatkanku tentang hal lain. 'Kau tidak boleh melibatkan mereka dalam duniamu Karin.. mereka sedang menguntitmu!' kata-kata itu terus mengiang dalam pikiranku dan membuatku menutup mataku menyesal.

"M-Maaf Suzune.." aku segera berbalik dan melangkahkan kakiku lebih cepat lagi. Tapi apa daya, kondisiku semakin buruk saja bila aku kekurangan oksigen karena berlari.

Aku merasakan batuk itu semakin menjadi-jadi. Kini aku bisa merasakan lemas menjulur pada tubuhku dan membuatku terjatuh berlutut kembali tidak jauh dari tempat Suzune tadi berhenti.

'Tidak. Aku harus pergi! Bila tidak cepat pergi, Himeka-chan dan Kujyo-kun akan menghampiriku!' batinku terus berteriak seperti itu tapi apa yang bisa kuperbuat? Untuk berdiri pun sudah sulit karena lemas. Yang bisa kulakukan sekarang hanya menatap Suzune yang ditarik oleh Kazune agar tidak mengejarku dan Himeka yang menatapku dengan khawatir.

'B-bagaimana ini? .. Apa yang harus kulakukaaan?!.. Eh iya! Handphoneku!' aku segera mengeluarkan handphoneku dan mencari kontak Jin dan menekan tombol hijau di handphoneku itu… tapi sebelum itu terjadi..

Trak!

Tanganku ditarik oleh seseorang dan membuat handphoneku terjatuh ke jalan.

Aku terkejut dan menatap handphoneku yang terjatuh itu tertutupi bayangan seseorang di sampingku. Aku tahu, aku tahu siapa orang itu tapi aku tidak ingin menatapnya, aku tidak ingin melihat wajah bencinya itu padaku.

"Hanazono-san, sudah kuperingatkan agar kau tidak muncul di hadapanku lagi, tapi kau malah mengajak Suzune pergi huh? Sebenarnya apa maumu?!" sentak Kazune membuatku terkejut. Aku masih terduduk di pinggir jalan itu dan pakaianku mulai basah karena air hujan yang semakin deras turun. Tanpa melihatnya aku pun mengambil handphoneku, tapi lagi-lagi ia menarikku sampai aku berdiri dengan kasar dan menghadap kepadanya.

Degh degh!

Ekspresi wajah yang dingin, tatapan mata tajam menusuk mataku begitu saja dan membuatku tak tahan menatapnya meskipun baru beberapa detik. Dengan reflek aku memalingkan wajahku.

"Jangan memalingkan wajahmu!" Sentaknya sekali lagi dan aku terperanjat untuk yang kedua kalinya. Mungkin ia bisa merasakan tanganku bergetar karena ia menggenggam— ah tidak, mencengkram tanganku keras.

"S-Salahkah aku bila ingin mengajak Suzune bermain?!" tanyaku masih tanpa melihat wajahnya.

"Tapi itu bukan berarti kau meninggalkan anak kecil sendiri di taman bukan?! Kau harus bertanggung jawab bila mengajak seorang anak kecil pergi dan ditinggalkan di taman begitu saja bodoh!" Sentakan terus terlontarkan kepadaku. Suzune yang berada di belakang Kazune bersama Himeka hanya bisa diam melihat kejadian ini. Mungkin mereka shock? Iya, sama denganku. Aku juga shock melihat Kazune semarah itu padaku.

"L-lepaskan tanganku," tanpa mendengarkan ucapannya tadi aku berbisik dalam diam. Bukan hanya karena aku tidak ingin berurusan dengannya, tapi aku juga khawatir dengan penguntit di belakang mereka itu. Sudah kutarik lenganku itu agar Kazune melepaskannya tapi yang kudapat hanyalah cengkraman yang semakin keras juga. Akhirnya aku pun melepasnya secara paksa meskipun harus menyakiti tanganku sendiri.

"Ck! Lepaskan aku! Kau sendiri yang tidak ingin melihatku lagi bukan?! Kenapa kau yang melarangku untuk pergi?!" sentakku balik kepadanya. Dengan kata-kataku itu sepertinya telah membuat emosi Kazune memuncak. Aku bisa melihat sirat merah yang berada di wajahnya dan kerutan di dahinya yang sangat jelas menandakan ia kesal.

"K-Kau! Ugh! Kau itu gadis paling menjengkelkan yang pernah aku temui! Jangan kau kira aku tidak berani dengan artis sepertimu! Dan jangan berharap dengan statusmu sebagai artis kau bisa memandang rendah murid-murid di sekolah karena aku tidak pernah peduli dengan statusmu itu!" sentak Kazune tepat di wajahku. Tatapan dari mata safirnya kian menajam. Seakan mencabik hatiku yang sudah sakit. Aku merasa.. bersalah. Ia sampai sebenci itu denganku dan itu pun karena aku yang memulainya. Kini, bukan hanya badanku sakit, hatiku pun sama sakitnya..

Mendengar semua omongan yang ia lontarkan, seakan ditampar di muka. Aku rasa, semua ucapan itu benar-benar keluar dari hatinya. Dan hasilnya air mataku keluar terus menerus mendengar semua makian yang aku dapat dari seseorang yang sedang aku bohongi itu. 'Ya.. teruslah benci diriku yang sudah membohongimu.. Semua ini untuk kebaikan semuanya..' batinku terus berbicara seperti itu. Namun di sisi lain. Batinku sedang menjerit histeris tidak ingin berbohong pada seseorang yang sudah sangat dekat denganku itu.

"Haha.. hahaha. Hanya itu saja?! Katakan semuanya agar kau puas! Silahkan, aku tidak akan melarangmu!" Tawa garing yang kulontarkan terasa begitu hampa. Meski aku berkata dengan lantang, namun semua ucapanku itu terus menusuk hatiku. Sakit sekali sebenarnya, dan aku katakan semua itu dengan air mata yang tak terlihat olehnya karena bercampur dengan air hujan yang sedari tadi mengguyur tubuhku ini. Dan aku yakin, kini ia akan semakin marah saja.

"Kau! Sudah cukup kau meremehkanku!"

Aku terkejut saat tangannya hampir melayang ke arahku dan dengan reflek aku memejamkan mataku.

Wush!

"…"

Namun tangannya tidak kunjung sampai, karena aku lihat Himeka yang segera mencegahnya dengan berdiri di depanku.

"Kazune-kun! Sudah hentikan! Kalian itu sebenarnya kenapa sih?!" tanya Himeka dengan meninggikan nada bicaranya. Suzune yang sedari tadi memperhatikan pertengkaran kami hanya bisa diam melihat semua terbawa emosi.

"Kau juga Himeka, kenapa kau mau berteman dengan gadis pembohong sepertinya?! Sudah jelas dia yang sudah merusakkan SLR-nya dan menghilangkan semua foto dan rekaman videoku!" timpal Kazune mulai marah-marah pada Himeka. Himeka langsung terdiam mendengar ucapan Kazune itu. Aku terbawa emosi? Iya, sangat. Aku tidak ingin Himeka menjadi korban pertengkaran kami ini. Tapi—

Flash!

Aku mengerjapkan mataku beberapa kali saat melihat kilauan cahaya yang hanya terjadi sebentar itu. Aku teringatkan kembali dengan reporter yang kini aku lihat sudah sangat dekat dengan tempatku ini. Tanpa persetujuan apapun mereka mengambil foto ke arahku berada saat ini. Apa mereka tidak lihat bila aku menyadarinya?!

Sebelum aku bergegas berlari dari tempatku berada dan menuju ke arah reporter tadi mengambil foto. Mereka sudah menyadari niatku untuk mengejar mereka dan hasilnya mereka segera kabur. Gawat, mereka mendapatkan fotoku bersama mereka! Dan foto itu pasti akan segera terbit di majalah!

.


[Himeka POV]

"Kau juga Himeka, kenapa kau mau berteman dengan gadis pembohong sepertinya?! Sudah jelas dia yang sudah merusakkan SLRnya dan menghilangkan semua foto dan rekaman videoku!" sentak Kazune padaku dan membuatku terdiam sebentar mencerna perkataannya. Ternyata ia marah pada Karin karena Karin menghancurkan SLR-nya?

"Tapi Kazune-kun, tidak sampai sebegitunya kau harus marah pada Karin-chan bukan?! Apa sampai sekesal itukah kau hampir melayangkan tanganmu pada seorang gadis?!" tanyaku kembali dengan sedikit keras. Belum juga Kazune menjawab argumenku, suara lantang terdengar dari jarak yang cukup jauh.

"Hey! Kalian!"

Suara yang aku kenal membuatku terdiam dan memaku tatapanku pada sumber suara. Mobil sedan hitam bersama dua orang di dalamnya berseru pada kami dan bila kuperhatikan baik-baik, mereka adalah Jin dan Kazusa. Kini aku, Kazune, Suzune, dan Karin hanya terdiam melihat mobil itu diparkirkan dan setelah itu mereka menghampiri kami.

Kazune sepertinya sudah akan pergi menghindar dari masalah yang belum selesai ini, tapi aku menarik tangannya dan mengisyaratkan dengan tatapan mataku agar ia tetap diam disini. Aku kira ia akan melepas paksa tanganku, tapi ia tak kusangka ternyata ia menurut dengan isyaratku. Saat itu juga Kazusa yang sudah berlari ke arah kami berada dan langsung melayangkan kedua tangannya kepada Karin memeluknya erat.

"Karin-chan! Sudah kubilang kau harus pulang sebelum jam 12! Kau itu bagaimana sih?!" Kazusa terlihat sangat kesal tapi aku yakin ia mengatakan itu karena sangat khawatir. Melihat reaksi Kazusa dan Jin yang khawatir saat bertemu Karin membuatku bingung. Ada apa sampai mereka khawatir seperti itu pada Karin? Apa mereka ada janji pada saat jam 12?

"Maaf.. Kazusa-chan, Jin-kun.." hanya sebongkah kalimat lirih yang bisa Karin ucapkan. Wajahnya sudah menampakkan bagaimana perasaannya, ia terlihat sedih, menyesal. Dan aku bisa melihat rintik air mata yang tertutupi oleh hujan yang mengguyurnya.

.


[Normal POV]

Jin melangkah masuk dalam argumen yang tadi belum diselesaikan, ia menanyakan apa yang terjadi saat mereka datang. Tapi semua terdiam, tidak ada yang menjawab, Kazune, Himeka dan Karin hanya bisa mengalihkan pandangan mereka ke arah lain. Dan hal seperti itulah yang membuat Jin kesal.

"Grrr! Kalian itu seperti anak kecil saja! Sudah, aku tidak ingin mendengar perbincangan kalian. Karin-san, pulang sekarang." Perintahnya membuat Karin semakin tertunduk. Namun sebelum Kazusa dan Jin membawa Karin pergi, Kazune mencegah Kazusa untuk ikut bersama Karin dan Jin, dengan menariknya.

"Lebih baik kau ikut bersamaku Kazusa." Nada dingin yang terlontar dari sang kakak mengejutkan Kazusa. Ia menatap mata tajam milik kakaknya itu sudah membuat tubuhnya berhenti. Tapi, Kazusa harus pergi dengan Karin. Bukan hanya karena ia khawatir dengan keadaan Karin, tetapi karena ia sedang menjalankan tugasnya yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali Jin dan Karin.

"Aku harus pergi bersama Karin-chan, kak. Aku tidak bisa meninggalkannya!" bantahnya dengan keras. Kazune semakin geremat melihat adiknya sudah terpengaruh oleh Karin dan lebih memihak Karin daripada kakaknya sendiri.

"Kazusa!"

"Aku tidak mau! Kakak pulang saja! Aku tetap bersama Karin-chan!"

"Tapi—!"

Brugh!

Suara hantaman keras terdengar di belakang Kazusa dan membuat semuanya melihat ke sumber suara. Karin berlutut dengan tangan menutup mulutnya, tubuhnya bergetar hebat. Tidak hanya itu, batuk-batuk kembali keluar dari mulutnya yang sudah pasti sangat menyiksa Karin.

"Karin-chan! Kau tidak apa-apa?! A-Ah, obat! Iya obatnya!" melihat keadaan Karin yang terlihat pucat itu Kazusa panik dan segera mencari-cari obat di tas yang ia bawa. Namun setelah beberapa lama ia mengacak-acak isi tasnya, ia tidak menemukan obat Karin. Matanya terbelalak, tingkat kepanikannya semakin tinggi.

"O-Obatnya tidak ada! Tapi pada jadwal minum obatmu sebelumnya aku memasukannya ke tasku!" seru Kazusa. Ketegangan melanda semua yang melihat kepanikan seorang Kazusa. Tapi Kazune, Himeka, dan Suzune tidak lebih panik dari Jin dan Kazusa yang mengetahui kondisi Karin. Kondisi yang buruk.

"Apa kau tidak lupa Kazusa-chan?" tanya Jin. Kazusa menggelengkan kepalanya kuat. Ia memikirkan dimana ia menyimpan obat-obat Karin dan selintas ia teringatkan dengan kelakukan Karin, kelakukan membuang obat-obatnya ke tempat sampah. Kazusa mengalihkan pandangannya pada Karin yang masih menahan rasa nyeri dari batuk yang keluar begitu saja.

"Karin-chan.. Kau.. tidak membuang obat itu lagi bukan?" tanya Kazusa dengan mata membulat sempurna. Keheningan terjadi kembali. Karin mengangkat wajahnya pelan dan menatap Kazusa dengan lirih. Senyuman tipis terpasang di wajahnya.

"M-Maaf.. K-kazusa.."

.

[Kazune POV]

Aku hanya bisa terdiam melihat rangkaian kejadian seperti di film-film yang kini sedang terjadi di depan mataku. Karin yang berlutut sambil batuk-batuk itu serasa asli, bukan akting. Aku melihat kepada Himeka yang sudah panik sedari tadi melihat kondisi Karin. Suzune berada di pangkuan Himeka dan menatap Karin dengan sedih. Aku.. aku masih bingung dengan kejadian ini.

"U-Uh bagaimana ini?! Hmm, lebih baik kita beli ke apotek saja di jalan pulang! Ah, a-apa kau masih bisa berjalan Karin-chan?" tanya Kazusa khawatir. Karin masih saja menahan batuknya. Lalu ia merespon dengan anggukan kepala. Kazusa dan Jin membantu Karin berdiri, tapi sepertinya itu tidak berhasil. Malah Karin terlihat semakin kesakitan dan ia kembali jatuh terkulai. Sebelum jatuh membentur trotoar taman, dengan reflek tubuhku bergerak menggapainya dan membuatnya terjatuh padaku. Genggaman tangannya pada tanganku sangat kencang. Ia seperti menahan sakit dengan menggenggam apapun yang dekat dengannya.

"Karin-chan! Karin-chan!" panggilan namanya terus dilontarkan oleh Kazusa. Himeka mendekati kami dan melihat keadaan Karin lebih dekat. Guyuran hujan tidak dipedulikan olehku, dalam pikiranku melayang berbagai pertanyaan. Apa aku khawatir padanya? Tapi bukannya aku sedang marah besar dengan artis yang sudah merusakkan SLRku? Tapi.. kenapa aku masih mempuyai rasa kasihan pada Karin?! Sudah lagi aku menangkapnya sebelum jatuh dengan reflek?! Mengapa aku tidak bisa menghilangkan Karin dari otakku?!

"Karin-chan! Ada apa dengannya, Jin-kun? Kazusa-chan?!" tanya Himeka panik. Aku lihat kondisi Karin semakin parah, wajahnya sudah pucat pasi, ia seperti kesusahan untuk bernafas, sudah lagi batuk-batuk terus keluar dari mulutnya. Matanya yang terpejam kuat itu membuatku sadar bahwa Karin tidak sedang berakting. Gadis di depanku ini tidak sedang berakting, melainkan menahan rasa sakit.

Suara keras menggema di telingaku, panggilan nama Karin tertuju padaku dari berbagai arah. Yang kulakukan sekarang hanyalah diam, menjadi sandaran Karin yang terkapar semakin lemas menahan pilu yang menjulur pada tubuhnya. Tidak lama setelah jatuh, aku bisa merasakan tubuhnya bergetar hebat namun lemas, napasnya pun terdengar semakin sulit. Bibirnya yang pucat perlahan bergerak, aku berusaha menangkap apa yang ia katakan.. dan itu semakin membuatku panik.

"Hhh… hk! Hhh.. s-.. s-sakit… K-kazusa… uhk.. hhh.. hk!"

Degh degh! Degh degh!

Aku merasakan tubuhku merinding. Jantungku berdebar semakin cepat. Mataku pun segera membelalak karena mendengar suara pilu itu menusuk hatiku. Aku tidak tega mendengar ucapan yang lirih seperti itu. Ingin aku memeluknya agar rasa sakit yang ia rasakan menghilang.

"Ck! H-Hanazono-san, bertahanlah! Kazusa! Cepat bawa Hanazono-san ke rumah sakit! Keadaannya akan semakin parah bila dibiarkan di tempat dingin seperti ini!" perintahku dengan panik. Aku memangku Karin dan Jin mengarahkan tangannya ke arah mobilnya. Aku segera pergi ke mobil Jin yang terparkir tidak jauh dari tempat semula dan memasukkan Karin di kursi belakang. Suzune dan Himeka menunggu di belakangku, sedangkan Kazusa masuk ke mobil bersama Jin yang mengendarai mobil itu.

"Ayo masuk kak!" seru Kazusa dari dalam mobil, tapi aku menggelengkan kepalaku dan membuatnya heran.

"Aku akan menyusul. Kau duluan saja, cepat pergi!" perintahku sekali lagi. Jin yang berada di kursi supir menatapku sebentar dengan tatapan.. entahlah. Aku tidak bisa mengartikannya, tapi setelah itu ia sedikit tersenyum dan menginjak pedal gas mengendarai mobilnya ke rumah sakit.

Disini hanya tertinggal aku, Himeka, dan Suzune. Mereka sudah menangis sedari tadi. Aku melihat keduanya yang menatapku dengan banjir air mata. Aku tersenyum tipis kepada mereka lalu mengelus pucuk kepala Himeka dan Suzune bersamaan.

"Kazune-kun.. jangan marah pada Karin-chan lagi.. aku mohon.. hiks.." pinta Himeka dengan sesenggukan. Mendengar permohonan yang sulit untuk aku jawab itu membuatku bingung. Ego untuk tetap marah pada Karin dalam diriku sangatlah tinggi, tapi di sisi lain aku mempunyai rasa lain.. rasa yang terus mengganjal ketika berdebat dengannya, rasa yang membuatku sesak, membuat hatiku terasa di remas. Kini, melihat keadaannya yang tiba-tiba sakit seperti itu semakin membuatku merasa.. bersalahkah? Atau apa?

"Aku.. aku tidak tahu.. apa yang aku rasakan saat ini.. apa yang aku rasakan padanya…" bisikku sembari memijat keningku yang sedikit berdenyut nyeri. Mereka terdiam mendengarku yang tidak biasa seperti ini. Sebagai manusia biasa, aku pun bisa merasa galau. Aku hanya tahu bahwa aku dibuat bingung oleh Karin.. tapi penyebabnya apa?

"Kazune-kun.. jujurlah pada dirimu sendiri. Kau tahu apa yang kau rasakan, tapi kau itu tidak mau mengakui bila… kau.. itu.. ya, kau bisa melanjutkannya bukan?" tanya Himeka dengan senyum tipis. Air matanya sudah tidak lagi menghiasi wajah pucat yang terkena air hujan itu. Suzune pun sama saja, senyuman anak kecil yang tulus itu membuatku sadar. Mereka keluargaku, yang selalu memberiku dukungan.

"Jadi Kazune-kun… aku minta padamu sekali lagi, jangan marah pada Karin-chan, bisakah?" tanya Himeka sekali lagi sembari menatapku penuh harap. Tapi, pikiranku masih bergelut. Kesal pada diriku sendiri membuatku mengepalkan tanganku keras. Hujan semakin deras, seakan menangis bersama hatiku yang dilanda badai… Pandanganku entah sedang melihat apa, tapi lintasan-lintasan memori Karin yang terkapar tadi menghalangi pandanganku sehingga aku hanya bisa melihat Karin yang kesakitan..

.

"Maafkan aku Himeka,

aku tidak bisa.."

.

.

.

.

.

.

"Aku tidak bisa marah kepadanya…"

.

.

~To be Continue~

~Review?~


a/n: yaaaa! Author senang membuat Kazune galau! XD Bagaimanaa? Ada typo? Saran-saran? Pertanyaankah? Kesannya dengan chapter ini? Silakan di review saja yaa~^^ terima kasih sudah membaca!