Tittle : Let me know

Author : Kim Joungwook

Pairing : NamJin

Length : chaptered

Genre : Romance

Summary : Dan sepertinya, kehidupan Seokjin untuk kedepannya tidak akan sama lagi. Karena ia membawa tambahan satu nyawa bersamanya.

Warning : Shounen-ai, BoyXBoy. Typo(s). Don't Like Don't Read!

.

.

.

BTS

.

Cklek

Seokjin berjalan perlahan memasuki ruangan dimana Namjoon berbaing disana. Leader merangkap sebagai ayah dari kandungannya itu berbaring pasrah, hanya melirik dari sudut matanya. Member lain dan juga keluarga Seokjin sudah pulang. Setelah diusir oleh Seokjin, lagipula ia memang sudah harus pulang. Ia hanya check up disini, bukan untuk dirawat. Namun, ia butuh berbicara berdua dengan Namjoon. dan sekarang, saat Namjoon masih di rumah sakit mungin menjadi satu-satunya waktu bagi mereka untuk berbicara berdua secara pribadi.

"Namjoon ah." Seokjin memanggil pelan. Ia memberanikan diri untuk duduk di sisi ranjang, dekat dengan paha Namjoon. ia meringis melihat seberapa banyak lebam yang ada di wajah dan juga tubuh bagian atas Namjoon. namja itu tidak memakai baju, memang diminta untuk melepasnya, agar mudah untuk diobati.

Namjoon menoleh, ia menatap Seokjin lalu tersenyum tipis, "kenapa, hyung? Kenapa belum pulang, hm? Bukankah check upnya sudah selesai? Bagaimana keadaan kkumi? Semua baik-baik saja kan?"

Seokjin menggeleng, matanya memanas. Sekali lagi ia ingin menangis hari ini. Melihat senyum lembut Namjoon, tatapan matanya, dan bagaiamana suara penuh perhatian Namjoon membuatnya lemah. Ia tak mengerti, mengetahui bahwa Namjoon mengakui bahwa ini anaknya, membuat semua perlakuan Namjoon terlihat berbeda dimatanya.

Seokjin menggeser duduknya, hingga ia bisa meraih tangan Namjoon. ia mengarahkan tangan Namjoon ke perutnya, mengusapnya memutar disana, "kkumi sudah memasuki bulan ketujuh minggu depan. Dia baik-baik saja, meski sedikit lemah. Tapi tidak ada yag perlu dikhawatirkan."

Suara isakan terdengar, bukan dari bibir Seokjin, tapi dari Namjoon. leader Bangtan tersebut dengan cepat bangun dan memeluk perut Seokjin, menangis disana. Ia bisa merasakan perutnya yang membuncit, kehangatan dari kehidupan di perut Seokjin membuatnya semakin terisak.

"Mianhae, hyung. Jeongmal mianhae." Ia mengucap maaf berkali-kali, setiap hela nafasnya tak pernah absen bergumam maaf untuk Seokjin.

Seokjin hanya diam, ia membiarkan air matanya turun tanpa mengatakan apapun. Tangannya mengusap perlahan rambut Namjoon, sesekali menepuk pelan punggungnya, mencoba menenangkan tubuh Namjoon yang bergetar akibat tangisannya.

"minta maaf untuk apa, Namjoon, hm?"

Tidak ada jawaban dari Namjoon, dan Seokjin tidak bertanya lagi. Seokjin mengusap wajahnya, mencoba menghilangkan jejak air matanya yang masih belum mau berhenti. Ia membiarkan ruangan didominasi oleh suara isakan Namjoon.

Seokjin tak tahu, berapa lama leadernya tersebut menangis dipangkuannya. Karena saat akhirnya Namjoon mengangkat wajahnya, matanya sudah memerah dan bengkak, dengan hidungnya yang sembab.

Keduanya duduk berhadapan, dengan Seokjin yang sibuk mengusap wajah Namjoon untuk menghapus sisa airmata disana. Hatinya ikut sakit melihat bagaimana Namjoon benar-benar merasa bersalah dan menatapnya penuh perhatian.

"Kau pasti sudah menderita sangat banyak hyung. Selama ini, sejak ada kkumi kau sudah berjuang seorang diri. Tanpa ada siapapun yang bisa kau buat untuk sandaran. Sekarang, setelah semua hal yang telah kau lalui, kau bisa bersandar padaku. Aku akan selalu berada disisimu hyung, aku akan menjadi ayah dari kkumi."

Seokjin terdiam. Ia melihat dengan jelas kilatan penuh penyesalan di binar mata Namjoon yang menatapnya. Dan entah kenapa ada sedikit keraguan, bukan pada Namjoon, tapi pada dirinya.

Seokjin menarik nafasnya dalam-dalam, "sejak kapan kau tahu, Namjoon?"

"sejak aku tahu. Sejak hyung masuk rumah sakit dan Yoongi hyung memberitahuku serta member yang lain. aku tak tahu bagaimana, yang kutahu aku hanya tahu bahwa itu anakku. Mungkin ini yag dimaksud dengan intuisi seorang ayah?"

Mendengar kata 'ayah' dengan konotasi yang sama dengan yang selama ini ia bayangkan membuat hatinya menghangat. Ia tanpa sadar mengusap perutnya, membagi kehangatan yang ia rasakan pada kkumi.

Deg

Tunggu! Apa itu?!

Mata Seokjin melebar. Ia menatap Namjoon, membuat namja itu juga menatapnya, "Ada apa, hyung?" tanyanya bingung, setengah khawatir, "Apa kkumi baik-baik saja?" ia ikut mengulurkan tangannya dan meletakkannya diatas perut Seokjin.

Deg

"Kau merasakannya?!" Seokjin memekik, tersenyum sangat lebar. Namjoon menatap Seokjin tak percaya. Lalu keduanya tertawa, terlihat sangat bahagia atas apa yang baru saja.

Deg

"Dia menendang lagi!" kali ini Namjoon yang memekik. Ia reflek menunduk, menempelkan sisi wajahnya pada perut Seokjin yang terutup kaos tipis. Seokjin masih tersenyum lebar, merasa berkali-kali lipat lebih bahagia dengan kehadiran Namjoon disisinya. Sepertinya kkumi bisa merasakan kehadiran ayahnya hingga merespon dengan tendangan. Ini kali pertama Seokjin merasakan pergerakan dari kandungannya.

"Hyung, emm apa aku boleh membuka bajumu? Tidak! Maksudu menyingkapnya, ya, hanya menyingkapnya. Aku ingin mengusap perutmu secara langsung." Namjoon bertanya dengan mata yang tidak fokus, terlihat ragu.

Seokjin tersenyum, "Tentu saja kau boleh Namjoon." lalu namja cantik itu menyingkap bajunya, mengarahkan tangan Namjoon untuk menyentuuh perutnya yang terlihat mengencang karena dipaksa melebar.

Namjoon tertawa dan kembali menempelkan wajahnya pada perut Seokjin. Namja cantik itu berjengit kaget, merasakan bagaimana wajah Namjoon yang dingin karena pendingin ruangan menyentuh permukaan perutnya. Tapi anehnya, ia merasa hangat. Jauh didalam hatinya ia merasa sangat hangat.

"Hi Kkumi ya. Kenalkan, aku appa mu, Kim Namjoon. kita akan sering bertemu kedepannya. Senang bertemu denganmu."

Dan Seokjin suah merasa puas dengan keadaannya sekarang. Ia tidak mau meminta lebih dengan memohon agar oang tuanya bisa menerima kehadiran kkumi. Dengan Namjoon yang mau menerima dan dengan senang hati bertanggung jawab menjadi 'appa' dari kkumi ia sudah bahagia. Ia tak mau menjatuhkan harapan dan kebahagiannya dengan bertanya hal lain yang sebenarnya masih sedikit mengganjal dibenaknya.

Apakah Namjoon mencintainya?

.

.

.

Suasana lobby bighit terlihat sangat ramai. Berpuluh-puluh kamera menyorot, dengan beratus fans yang menunggu diluar garis pengaman yang sudah dipasang. Semua fokus tertuju pada meja panjang dengan warna putih yang masih kosong, belum ada yang terliat disana.

Keriuhan susana di lobby terlihat berbeda jauh dengan bagian dalam gedung, khususnya ruang tunggu bagi member BTS yang terlihat sepi. Namjoon dan Seokjin baru saja datang dari rumah sakit – ngomong-ngomong, semalam Seokjin dan Namjoon tidur berdua, diatas ranjang yang sama. Kedua namja itu tengah sibuk dirias, apalagi Namjoon membutuhkan make up khusus untuk menutupi bekas memar diwajahnya. Dan khusus untuk Seokjin, ia akan duduk diatas kursi roda, untuk menyamarkan perutnya yang sudah tidak bisa ditutupi lagi dengan pakaian biasa jika ia berdiri.

"Jadi, kau sudah memutuskan apa yang akan kau umumkan nanti di konferensi?" pertanyaan salah satu manager itu mengalihkan semua fokus manusia disana. Khususnya para member yang menatap Seokjin, setengah berharap.

Seokjin menoleh, membuat staff yang tengah menata rambutnya ikut berpindah. Ia menatap sekilas member lain yang menatapnya dalam diam, mungkin terlalu takut, atau sudah tak berniat untuk mencari tahu lagi. Ia berhenti pada Namjoon, mendapat sebuah senyum lembut dan anggukan samar dari leadernya.

Seokjin menarik nafasnya dalam-dalam, sebelum menghembuskannya dalam sekali hela, "tentu saja, tentu saja aku sudah memutuskannya. Aku sudah memikirkannya semalam suntuk."

"jadi?" akhirnya, Joungkook bertanya. Magnae Bangtan menjadi member pertama yang berbicara sejak Namjoon dan Seokjin datang setengah jam yang lalu.

Seokjin tersenyum, "tentu saja aku membatalkannya. Aku tidak jadi mengumumkan mengenai keputusanku untuk keluar dari bangtan. Aku akan kembali pada keputusan agensi, hanya mengumumkan mengenai keputusan vakuum yang akan aku ambil sampai aku bisa meninggalkan kkumi, setidaknya satu sampai tiga tahun kedepan. Untuk apakah aku akan kembali aktif setelah itu, akan kita pikirkan besok, saat waktunya tiba. Bagaimana, apa kalian masih keberatan?"

Joungkook menggeleng, begitu juga member yang lain. Yoongi berdiri, menghampiri Seokjin yang sudah duduk di kursi roda dan berlutut didepannya, "aku akan selalu berharap hyung kembali pada bangtan."

Seokjin tersenyum lalu memeluk Yoongi, erat sekali.

"gomawo Yoongi ya, kau memang roomate terbaik."

"Lima menit lagi! Bersiap untuk keluar!"

Pemberitahuan dari staff itu membuat seluruh stylist ribut memperbaiki make up dan tata rambut dari member BTS. Ketujuh namja itu segera berdiri dan berbaris disekitar Seokjin yang duduk di kursi roda.

"siapa yang akan mendorong kursi Seokjin hyung?" Namjoon tiba-tiba bertanya, membuat member lain saling memandang satu sama lain.

"aku! Aku saja hyung yang mendorongnya!" Taehyung mengangkat tangannya tinggi-tinggi, sangat antusias untuk mendorong kursi Seokjin hyung.

"Andwae! Aku saja! Aku saja hyung!" Joungkook tak mau kalah dan ikut-ikut mengangkat tangan.

"ya! Aku saja. Aku yang paling tua." kali ini Yoongi. Ia dengan tenang memukul legan Taehyung dan Joungkook yang terangkat.

"Hyung~~ Aku saja~" Hoseok merengek, memeluk Seokjin yang hanya tertawa kecil melihat bagaimana member lain berebut ingin mendorong kursi rodanya.

"Aku saja hyung~" Jimin ikut-ikut memeluk Seokjin, melakukan aegyo untuk hyungnya tersebut.

"Sudah! Ayo kita putuskan seperti biasa. Kawi bawi bo!" akhihrnya Namjoon menengahi. Sebelum semakin berlarut dan staff memanggil mereka untuk naik ke panggung.

Secara reflek keenam member langsung mengulurkan salah satu telapak tangannya dan mulai memilih siapa yang akan mendorong kursi roda Seokjin. Sedangkan yang tengah diperebutkan hanya terkekeh, merasa senang dan terharu melihat bagaimana para member berebut untuk mendorong kursi rodanya.

Itu membuktikan bahwa ia disayang kan?

"Yash! Aku yang menang!" pekikan Joungkook menimbulkan seruan kecewa dari member lain. Joungkook tertawa dan segera menempatkan dirinya dibelakang kursi roda Seokjin.

"memang seharusnya aku yang mendorong Seokjin hyung. Aku tidak yakin hyungdeul kuat mendorong tubuh Seokjin hyung yang bertambah gendut, hahahahaha."

Seokjin memukul tangan Joungkook yang berada dibelakangnya, "Ya! Dasar magnae durhaka!"

"apakah kita akan melakukannya seperti biasa?" suara Namjoon menghentikan tawa yang disebabkan komentar Joungkook. Keenam member terdiam mendengar pertanyaan Namjoon itu.

"haruskah?" itu Jimin, yang melihat Namjoon ragu. Yoongi dengan cepat memukul pelan bahu Jimin, "tentu saja. Kita harus melakukannyaa dengan bangtan style."

Namjoon tersenyum, ia dengan cepat mengulurkan tangan kanannya, lalu diikuti oleh member lain, bahkan juga Seokjin, meski namja cantik itu berada di tumpukan paling bawah, tepat dibawah telapak tangan Namjoon.

"baiklah. Semoga, semua yang sudah kita rencanakan berjalan sesuai harapan. Army dapat menerimanya dengan baik, dan setelahnya bangtan dapat kembali berprestasi. Untuk Seokjin hyung dan kkumi semoga baik-baik saja dan selalu sehat." Namjoon mengucapkan kalimat itu perlahan, sembari menatap satu persatu member disekelilingnya.

"Jja, bangtan bangtan!"

"Bang – bangtan!"

.

.

.

Matahari sudah kembali ke tempatnya, digantikan oleh cahaya bulan yang sudah menerangi malam. Suasana kota sudah mulai redup, mengingat ini sudah jam 9, saatnya mulai kembali ke rumah masing-masing. Begitu pula yang dilakukan oleh ketujuh member BTS. Setelah melakukan konferensi pers, dan makan malam dengan staff dan manager BTS mereka kembali ke dorm.

Keadaan menjadi awkward begitu hanya ada member disana. Semuanya tahu, paham bahwa masih ada masalah yang belum selesai diantara mereka. dan esok pagi, Seokjin sudah harus pergi. Dan hal itu pula yang menjadi salah satu masalah bagi mereka.

"jadi, hyung akan tinggal dimana?" ini Jimin yang pertanya. Menjadi yang pertama membuka suaranya setelah ketujuh member duduk melingkar di depan TV. Benda persegi yang menyala itu sudah tidak diperhatikan lagi, semua mata kini menatap Seokjin, menunggu jawabannya.

"tidak mungkin kan hyung pulang ke rumah hyung?" Joungkook bertanya ragu.

"dan aku akan menolak jika hyung tinggal sendiri." Kali ini Yoongi.

Seokjin tersenyum, ia benar-benar tersentuh dengan perhatian member lain kepadanya. Ia merasa berharga dan disayang.

"aku tidak akan pulang kerumah, tidak sampai eomma dan appa mau menerima kkumi. Aku juga tidak akan tinggal seorang diri, terlalu berbahaya dan akan mengundang curiga jika nanti aku terlihat publik. Jadi, emmm – " Seokjin terhenti. Ia melirik Namjoon ragu. Dan sebuah anggukan sederhana dari Namjoon membuat Seokjin melanjutkan kalimatnya. " – aku akan tinggal di Ilsan."

"Ilsan?" Hoseok memkik kaget, "di rumah Namjoon hyung?" kali ini Taehyung, seakan melanjutkan kalimat Hoseok.

Wajah Seokjin merona, entah kenapa bayangan tinggal dengan orang tua Namjoon membuatnya malu, "ya. Semalam, Namjoon sudah mengatakannya padaku. Orang tuanya mau menerima kehadiranku, dan dengan senang hati akan membiarkanku tinggal dengan mereka hingga nanti aku memutuskan langkah selanjutnya. Aku juga sudah berbicara langsung dengan Kim eomonim."

Semuanya diam, tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Pertanyaan selanjutnya yang akan dibahas cukup sensitif, dan kelima member yang lebih muda dari Seokjin itu terlihat enggan untuk bertanya lebih dulu.

Seokjin dan Namjoon yang duduk bersebelahan bertukar pandangan, mereka mengagguk samar sebelum kembali menghadap member lain. tangan Namjoon ia letakkan diatas kaki Seokjin yang terlipat, mencari tangannya untuk digenggam. Dengan rona samar yang belum hilang dari wajahnya, Seokjin mengulurkan tangannya, membiarkan Namjoon menggenggemanya.

"soal ayah kkumi, itu memang aku." Kalimat sederhana dari Namjoon itu benar-bena mengejutkan. Ia tidak menyangka akan mendapat pengakuan langsung dari Namjoon.

"Bagaimana bisa – tunggu maksudku, apa – ish! Serius?" Hoseok menatap Namjoon lekat-lekat, mencoba mencari kebohongan disana.

Namjoon tersenyum tipis, bekas lebam di wajahnya masih terlihat, meski sudah mulai samar, namun nyerinya masih sedikit terasa, "ya, aku serius. karena aku satu-satunya yang pernah meniduri Seokjin hyung."

"APA?!"

Semua member berteriak, membuka matanya kebar-lebar. Seokjin berdecak sebal dan memukul bahu Namjoon dengan tangannya yang bebas, "yak! Tidak perlu dibicarakan juga!" Namjoon terkekeh.

"sejak kapan?" Joungkook yang pertama kali kembali dari keterkejutannya bertanya. "Sejak awal. Sejak Seokjin hyung masuk rumah sakit dan mengatakan mengenai kkumi pada kita."

"jadi – jadi selama ini kau tahu?!" Hoseok tanpa sadar meninggikan nada suaranya, ia sedikit tersulut mengetahui fakta bahwa Namjoon sadar bahwa kkumi adalah anaknya, dan hanya membiarkan Seokjin berjuang serang diri.

Namjoon mengangguk, "ya, aku tahu. Maksudku bukan aku tahu yang dengan sangat yakin mengakui bahwa kkumi adalah anakku. Kalian tahu, father intuition? Hanya dengan intuisi, aku hanya merasa bahwa kkumi adalah anakku."

"Dan hyung tidak melakukan apapun?" kali ini Taehyung yang menatapnya tajam. Namjoon dengan lemah mengangguk. "ya. Memang kau pikir apa yang harus aku lakukan?"

Bugh!

Kejadian itu begitu cepat, sampai tiba-tiba Namjoon sudah tersungkur dengan Yoongi yang berdiri didepannya. Namjoon menyentuh ujung bibirnya, ah, sobek, lagi. Untuk kedua kalinya dalam dua haru berturut-turut. Jika kemarin kakak Seokjin mmukul pipi kanannya, kali ini Yoongi pipi kirinya. Sudah lengkap.

"Yoongi!"

Pekikan Seokjin membuat member lain segera berdiri dan memeluk Yoongi untuk menghentikan lengan Yoongi yang sudah akan terayun untuk Namjoon.

"brengsek! Kau benar-benar brengsek Namjoon!" Yoongi berteriak, tangannya menunjuk-nunjuk Namjoon yang kini duduk dengan Seokjin disampingnya. Keempat member lain yang memeluk Yoongi berusaha menarik Yoongi menjauh. Jimin dengan cepat pergi kedapur, mengambil minum untuk Yoongi dan kotak p3k untuk Namjoon.

"Hyung! Sudahlah, kita bisa membicarakannya baik-baik."

"Ya, lebih baik kita kembali duduk dan meluruskan semua ini."

"Namjoon hyung sudah menerima semua pukulan dari kakak Seokjin hyung kemarin, sekarang tidak perlu memakai kekerasan."

"Yoongi ya, kita bisa bicarakan ini baik-baik. Oke?" dengan kalimat lembut Seokjin juga tatapan memohon padanya membuat Yoongi berhenti. Ia melepaskan pelukan member lain dan dengan tenang kembali duduk. Ia menerima gelas dari Jimin dan segera meneguknya habis.

"jelaskan. Sekarang dengan sejelas-jelasnya!" ucap Yoongi tegas. Namjoon tersenyum tipis, lalu mengangguk.

"sebenarnya, tidak ada yang perlu dijelaskan. Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengakui bahwa kkumi adalah anakku. Karena aku tahu, sekali aku membuka mulutku untuk mengakuinya, perlakuan kalian akan berbeda. Bagaimana kalian memandangku, memandang Seokjin hyung, semuanya akan berbeda. Aku hanya menunggu waktu yang tepat, menunggu kalian terbiasa dengan keadaan Seokjin hyung untuk mengakuinya. Kuakui, aku memang brengsek. Aku diam saja saat Seokjin hyung menderita seorang diri. Aku juga takut. Banyak hal yang harus aku pertimbangkan. Aku tidak mengharapkan kalian untuk memahaminya. Jadi yah, terserah kalian akan bagaimana kedepannya."

Semuanya diam, hanya suara Seokjin yang sibuk mengobati luka Namjoon.

"Jadi, apa yang akan kau lakukan kedepannya?"

Namjoon mengangkat wajahnya, menatap Hoseok yang baru saja bertanya.

"apalagi? Tentu saja melakukan kegiatan seperti biasa. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan pada Seokjin hyung. Aku sudah berbicara pada orang tuaku, dan keduanya mau menerima Seokjin hyung dengan baik. Kalian juga bisa mengujungi Seokjin hyung kapanpun kalian inginkan. Tapi ingat, kita haus tetap melanjutkan jadwal BTS yang telah disusun. Apalagi sebentar lagi kita haurus comeback, ingat?"

Semuanya diam.

"aku minta maaf. Kepada Seokjin hyung terutama, dan juga kepada yang lainnya. Aku tahu, pasti beberapa bulan terakhir kalian berpikir aku menyebalkan, aku juga mengakuinya. Aku tidak akan membela diriku karena memang apa yang aku lakukan salah, dan kalian benar. Tapi, aku juga manusia yang pasti melakukan kesalahan. Kejadian ini memang kesalahanku, tapi aku harap, kalian tidak membuatnya menjadi alasan untuk membenciku dan menghancurkan Bangtan. Aku tidak mau kejadian ini menjadikan kalian merendahkanku dan tidak lagi menganggapku leader dari Bangtan. Au masih ingin bersama kalian dalam waktu yang lama, aku juga ingin mempertahankan keberadaan bangtan sampai Seokjin hyung kembali. Jadi, mari kita mulai semuanya dari awal."

Namjoon mengulurkan tangannya, menunggu member lain untuk menerima ajakannya untuk berdamai. Yang pertama meletakkan tangan diatas milik Namjoon tentu saja Seokjin, ia dengan mata berair menggenggam tangan Namjoon. lalu diikuti Jimin, Hoseok, Joungkook, Taehyung, dan yang terakhir Yoongi.

Namjoon tersenyum menatap Yoongi, "gomawo hyung."

Lalu tak tahu siapa yang memulai, entah Taehyung atau Joungkook, ketujuh member itu berpelukan, menyatukan bahu mereka dan saling melingkarkan lengan satu sama lain.

"Mari kita lakukan lebih baik lagi kedepannya."

.

.

.

Matahari belum sepenuhnya menampakkan diri saat Seokjin dan Namjoon meninggalkan dorm Bangtan. Kedua namja itu meminjam mobil salah satu staff dan berkendara berdua menuju Ilsan, tempat tinggal kedua orang tua Namjoon. sebenarnya, Joungkook dan Taehyung sudah merengek-rengek tadi, minta untuk ikut. Tapi setelah diseret oleh Yoongi untk melakukan rekaman lagu baru mereka, akhirnya dua orang itu pasrah saja kembali masuk dorm.

Ngomong-ngomong, Namjoon yang menyetir. Meski awalnya ditentang habis-bhabisan oleh Yoongi, akhirnya Namjoon juga yang berada dibalik kemudi. Seokjin sudah tidak memungkinkan. Mungkin sih tapi ego Namjoon tidak memperbolehkannya.

"apa kita akan mampir untuk sarapan dulu, hyung?" tanya Namjoon saat mereka sudah melaju di jalan raya. Seokjin yang sudah sedia bantal leher menoleh malas ke arah Namjoon, "bisakah? Aku sudah lapar sekarang. Memang rumahmu hanya di sebelah, tapi aku malu jika sampai sana langsung minta sarapan."

Namjoon terkekeh, ia memutar stir mobilnya untuk memasuki salah satu restoran cepat saji, drive thru benar-benar membantu.

"hyung ingin pesan apa?"

"Sup krim, omelet, dan kopi. Ah, wrapnya juga boleh, hehehe."

Namjoon tersenyum, "baiklah. Sup krim, omelet, french fries, breakfast wrap 2, dan teh panas 2."

"aku minta kopi Namjoon." bisik Seokjin protes. Namjoon menoleh, "Kafein tidak baik untuk kkumi, hyung."

Seokjin mengerucutkan bibrnya kesal, ia menginginkan kopi, dan Namjoon menolaknya.

Namjoon tertawa kecil, ia dengan satu tangan melajukan mobilnya setelah membayar. Sedangkan tangannya yang bebas menyentuh lengan Seokjin, "hey hyung, jangan mengambek. Aku akan melakukan apapun yang kau mau untuk hari ini. Kecuali yang buruk untukmu dan kkumi."

Ragu, Seokjin menoleh. Ia menatap Namjoon lamat-lamat sebelum akhirnya mengangguk, "baiklah. Hari ini kau benar-benar harus melakukan apa kataku, Namjoon."

Namjoon mengangguk, tersenyum kecil melihat Seokjin yang kembali tersenyum lalu dengan cepat mengambil pesanan mereka. ia memberikannya pada Seokjin sebelum kembali membawa mobilnya keluar dari restauran tersebut.

Keduanya melanjutkan perjalanan yang bahkan belum keluar dari jalan utama depan dorm mereka. Memang, ilsan tidak sejauh busan yang bisa sampai 3 jam dengan berkendara. Namun, hanya butuh setengah jam untuk sampai ke rumah Namjoon. bahkan Ilsan masih berada dikawasan Seoul. Dan tidak sampai 15 menit, makanan di pangkuan Seokjin sudah habis. Namja itu memang benar-benar ahli urusan seperti ini.

"kau mau, Namjoon?" Seokjin mengulurkan kentang goreng padanya. Namjoon hanya mengangguk dan memakan apa yang disodorkan oleh Seokjin. Mereka melanjutkan perjalanan yang hanya butuh beberapa belokan untuk sampai.

Tak sampai lima belas menit, mereka sudah sampai di rumah orang tua Namjoon. keduanya memang memilih pagi hari, saat jalanan belum ramai dan akan sedikit menarik perhatian saat keduanya sampai di rumah Namjoon nantinya.

"ayo hyung, kita sudah sampai."

Seokjin terlalu sibuk mengurus dirinya yang gugup hingga tidak sadar kalau Namjoon sudah membukkan pintu untunya. Bahkan namja itu sudah menarik 2 koper yang berisi barang keperluannya.

"Terima kasih Namjoon."

Dengan perlahan, Seokjin keluar. Secara reflek ia menyangga perutnya yang kini sudah terlihat cukup jelas bahwa ia tengah mengandung. Namjoon yang melihat itu tanpa sadar tersenyum tipis.

"aigoo~ Seokjin ah. Akhirnya kau datang juga, sayang. Eomma sudah menunggu sejak tadi." Tiba-tiba, seorang yeoja paruh baya keluar dari rumah didepan tempat Namjoon memarkir mobilnya.

Seokjin yang melihat ibu Namjoon langsung menunduk, meski tidak bisa terlalu rendah karena perutnya, ia tetap tersenyum lebar, menerima dengan senang hati pelukan ibu Namjoon. ini memang bukan pertama kali ia ke rumah Namjoon, bahkan bertemu dengan kedua orangtuanya. Tapi ini pertama kali ia datang, untuk menetap tinggal dengan status sebagai namja yang tengah mengandung anak dari anaknya. Tahukan maksudnya?

"ayo masuk, kau pasti sangat lelah." Ajak eomma Namjoon cepat.

Seokjin menoleh ke belakang, melihat Namjoon yang hanya tersenyum dan tertawa kecil melihat Seokjin yang kesusahan dengan sikap eommanya yang sedikit hyper.

"semoga kau betah ya tinggal disini kedepannya." Ucap sang eomma saat membuka pintu rumah.

Seokjin dengan cepat mengangguk, "mohon bantuanyna, eomonim."

.

.

.

TBC

Hmmm, lama ya? Heheh, maafkan aku! Chap depan Namjoon spesial deh, janji! Tapi yah, ditunggu aja bentaaaarrr. Dan terima kasih banyak atas review, favs, dan follownya, saranghae chingudeul! Aku sangat terharu fic ini menerima banyak cinta, hiks. Alay dehhh, tapi tetep, gomawo!

PS. Aku gak tahu Namjoon udah punya SIM belum, terakhir aku tahu sih belum, tapi anggap aja udah punya ya di fic ini, wkwkwkwk