Vriryn, 2018
Malam telah menjemput ketika sebuah ekor bersisik oranye membelah sunyinya bangunan utama istana Vriryn. Rasa khawatir membelenggu dan membuat kedua mata tersebut tak dapat terpejam ketika ia menyadari sosok biru bersinar yang amat ia kenal tidak terlihat dimana-mana. Kala surya menjemput adalah terakhir kali Kyungsoo bertatap muka dengan putera mahkota Vriryn tersebut. Si biru mengatakan dirinya akan bermain-main sedikit di permukaan, namun hingga kini taka da tanda-tanda ia akan kembali.
Pemikiran buruk merasuki Kyungsoo.
Apakah mungkin manusia itu menculik Baekhyun dan menjualnya?
Meskipun Kyungsoo tergolong siren kuno yang tidak setuju bahwa dunia manusia dengan dunia mereka dapat bersatu, namun ia tahu banyak mengenai bagaimana dunia diatas sana.
Sedikit demi sedikit, si ekor oranye akan mencari tahu. Entah itu melalui buku atau apapun yang bisa ia temukan. Semua itu terjadi sejak 'dia' pergi, mencari mimpinya di atas sana. Katakan Kyungsoo naif, namun mengetahui seperti apa diatas sana membuat si oranye merasa dekat dengan 'nya'.
Menyakitkan memang, 10 tahun sudah berlalu. Namun hingga detik ini belum bisa ia mengenyahkan perasaan rindu yang menelannya bulat-bulat. Rasa khawatir masih menghiasi mimpinya tiap malam.
Apakah ia baik-baik saja?
Apakah ia dapat berbaur dengan baik?
Apakah makanan diatas sana dapat ia nikmati?
Apakah malam ini ia bisa tertidur lelap?
Apakah, ia masih mencintaiku?
Setiap malam pertanyaan itu akan menghantui Kyungsoo, menahannya untuk terlelap dan mengarungi malam panjang dengan lelehan air mata. Rasa sakit masih saja menekan dada, hingga terbawa ke alam bawah sadarnya dalam sebentuk mimpi buruk. Terbangun dengan ratusan butir Mutiara hitam di sekitarnya bukan hal baru bagi Kyungsoo. Mengagumkan bagaimana ia masih terus teringat akan perasaan sakit itu bahkan ketika dirinya berada di alam mimpi. Hingga pemikiran itu akan membuat si oranye terkekeh. Kekehan yang menyakitkan.
Kala bulan mulai duduk diatas singgasana, kala kesunyian mulai menghampiri. Kyungsoo akan terdiam diatas batu tempatnya berbaring. Matanya menatap nyalang tanpa jelas kemana. Pikirannya akan melayang-layang. Berusaha mencari jalan keluar atas permasalahan pelik yang masih membelitnya bahkan ketika 10 tahun sudah berlalu. Namun, alih-alih jawaban, ia malah dihadapkan pada pertanyaan baru. Teka-teki baru yang akan muncul ke permukaan akibat rasa peduli, rasa khawatir, dan rasa cintanya pada putera sang penguasa laut.
Orang-orang disekitarnya pun tak banyak membantu.
Seperti Ratu Avama yang masih menangis sendirian di ruangannya sembari mengingat sang putera yang kini entah dimana. Atau Aereviane yang akan berjam-jam menatap ke singgasana saat raja Adriros tak disana, membayangkan jika sang kakak masih disana untuk membebaskan si biru dari semua beban yang seharusnya tidak ia tanggung. Dan ketika raja Adriros menatap dalam sebuah mahkota yang selalu berusaha ia musnahkan, namun akan gagal setiap saat karena Kyungsoo tahu, di lubuk hati sang penguasa lautan, rasa sayang dan rindu akan kehadiran putera sulungnya itu masih ada.
10 tahun berlalu.
Kyungsoo kira, hanya dirinya yang belum dapat melepaskan Adriviane.
Namun tidak.
Mereka semua juga ikut menderita bersama Kyungsoo. Masih belum sanggup menghapus kenangan menyakitkan itu bahkan ketika sepuluh tahun telah terlewati.
Hanya mereka memilih.
Memilih untuk tidak membicarakannya.
Karena membicarakan Adriviane, berarti membuka sebuah luka yang sebenarnya masih mengaga dengan darah yang mengucur deras.
Helaan nafas perlahan lolos dari bibir Kyungsoo. Ia menelengkan kepala, berusaha mengenyahkan pemikiran yang tiba-tiba saja menyergap. Benar, tidak seharusnya si oranye memikirkan Adriviane disaat seperti ini.
Alasan kenapa ia berenang panik mengelilingi Vriryn bukanlah untuk melamun sepanjang jalan seperti ini. Melainkan untuk mencari keberadaan sang sahabat yang tampaknya senang jika Kyungsoo merasa khawatir.
Sejak awal, Kyungsoo bisa dibilang tidak setuju dengan hubungan Baekhyun dan manusia itu. Namun apa yang bisa dilakukannya?
Sudah lama sejak terakhir ia melihat senyuman merekah lebar di bibir sang sahabat. Binar mata biru yang cerah itu akhirnya kembali setelah sepuluh tahun. Kyungsoo tentu tak tega merebut semua itu dengan mengadukan Baekhyun pada sang raja.
Sehingga, mau tak mau ia akan menjadi yang paling khawatir dan panik saat Baekhyun tak ada dimana-mana. Jika si biru terus seperti ini, ia yakin raja Adriros akan curiga. Penguasa samudera pasifik itu menjadi lebih waspada sejak kepergian Adriviane. Ia selalu menatap lekat-lekat pada putera bungsunya, tanpa Baekhyun sadari.
"Sudah kukatakan kalau seharusnya ia tidak mudah percaya pada manusia", gerutu Kyungsoo. Mata bulatnya bergerak-gerak tak karuan menyusuri tiap sudut kerajaan, berharap menemukan sosok berkilau si biru.
"Aku bahkan tak yakin jika… Siapa namanya? Pork Chonyal? Park Chonyal? Apapun itu… bisa dipercaya. Oh demi dewa aku akan menarik telinga siren biru menyebalkan itu jika berhasil kutemukan", gerutuan itu terus berlanjut. Menemani ekor oranye yang bergerak-berak membawa sang siren membelah kesunyian. Dalam hati ia berdoa tak ada penjaga yang berkeliling dan mencurigainya.
Kernyitan sejak tadi tak meninggalkan paras menawan si oranye. Jantungnya berdegub kencang, perpaduan takut dan khawatir. Takut jika seseorang menangkap, lalu menanyainya. Khawatir kalau Baekhyun tidak dapat ditemukan dimana-mana.
Sudah menjadi peraturan di kerajaan, bahwa tidak dianjurkan bagi siapapun siren berkeliaran di tengah malam selain penjaga. Dunia bawah laut amat berbeda dengan diatas sana. Hal-hal yang tidak dapat di prediksi dapat terjadi kapan saja. Entah itu badai, hewan buas, atau zat magis berbahaya. Terlebih, dibawah sana tiada cahaya yang menyinari. Hal berbahaya dapat menyergap kapanpun tanpa disadari. Meskipun para siren diberkahi penglihatan luar biasa yang dapat menembus hingga ratusan meter didalam laut, berhati-hati tetaplah dibutuhkan.
"Aereviane tidak kembali lagi malam ini?".
Sayup gema suara tersebut terdengar di kejauhan. Membuat si oranye memelankan gerakan ekornya. Kernyitan semakin dalam terukir di kening. Kepalanya beberapa kali menoleh, berusaha mencari asal suara tersebut.
"Aku yakin sesuatu terjadi. Aereviane tidak pernah seperti ini".
Deg.
Deguban jantung yang sudah berdebar amat keras didalam dada, semakin menggila. Itu adalah suara raja Adriros. Si oranye salah karena mengira sang junjungan tidak menyadari kepergian putera bungsunya. Karena percaya atau tidak, sejak Adriviane pergi Aereviane berada di puncak teratas prioritas sang raja. Alasan kenapa Kyungsoo selalu panik mencari-cari Baekhyun dan mengomelinya. Sungguh, si oranye hanya tidak ingin sang sahabat terkena masalah karena melanggar peraturan. Berada terlalu dekat dengan daratan saja sudah tergolong kesalahan besar, apalagi bergaul dan menjalin kasih dengan manusia, musuh terbesar sang raja?
Perlahan namun pasti, siren bermata bulat itu berenang mendekat kearah ruangan singgasana. Beberapa kali ia menoleh kekanan dan kekiri, memastikan para lumba-lumba penjaga sang raja tidak terbangun. Ia harus benar-benar meminimalisir suara yang dikeluarkan. Lumba-lumba adalah hewan cerdas dengan pendengaran tajam, bahkan bisikanpun dapat membuat mereka terjaga.
Jemari Kyungsoo bergetar saat ia mengulurkan tangan untuk menggenggam pilar batu besar yang kini menyembunyikan tubuhnya. Manik hitam tajam itu bergerak-gerak, menerima semua kejadian dihadapannya.
Disana, sang raja tengah duduk diatas singgasana. Wajahnya terlihat lelah. Sedang dihadapan sang raja adalah seorang siren pria bertubuh besar dan gempal yang ia kenali sebagai Matthew. Orang kepercayaan raja Adriros.
Keduanya tampak serius, dan jika ia tidak salah dengar Aereviane adalah topik yang tengah mereka bicarakan.
"Kita tunggu ia kembali, setelahnya aku ingin kau mengikuti Aereviane kemanapun ia pergi".
Glek
Tiba-tiba saja tenggorokan Kyungsoo tercekat.
Tidak, ini bukanlah berita baik.
"Tetapi, hamba tidak yakin yang mulia putera mahkota akan senang jika itu terjadi, yang mulia".
"Aku sudah memikirkan semuanya matang-matang, Matthew. Aku tidak bisa kehilangan satu lagi anakku. Aku yakin kau bisa menjaganya".
Matthew tampak mengangguk sembari membungkuk, memberikan hormat dan persetujuan disaat bersamaan.
"Katakan, apakah Aereviane menarik, Matthew?", raja Adriros memajukan tubuhnya perlahan. Kedua mata biru itu menatap dalam seolah melucuti sang abdi.
Dari tempatnya bersembunyi, mata bulat itu dapat melihat jelas bagaimana otot-otot punggung Matthew menegang ketika pertanyaan terlontar dari sang junjungan. Kepala pria besar itu reflek tertunduk dalam. Membuat Kyungsoo takjub, karena untuk pertama kali ia melihat Matthew amat tak berdaya. Si oranye mamang tak begitu mengenal Matthew. Namun yang ia tahu, Matthew adalah seorang siren yang angkuh, dengan harga diri tinggi, serta Tangguh. Ia adalah yang terkuat dari yang terkuat, berada di barisan depan tiap peperangan terjadi. Ujung tombak raja Adriros.
Menyenangkan sebenarnya melihat pria itu amat lemah dihadapan sang junjungan. Mengingat bagaimana setiap hari Matthew akan menjadi si menyebalkan yang menindas siren lemah lain.
"Aku akan memberikan restuku padamu, untuk menikahi Aereviane. Hanya dengan syarat kau akan menjaga dan mengikutinya kemanapun".
Seketika, badai menggelegar didalam kepala Kyungsoo. Matanya membelalak lebar. Apa maksudnya? Apakah ia salah dengar?
Tiba-tiba saja, dunia nyata ditarik dari si oranye. Matanya mengabur, kepalanya terasa ringan. Didalam sana, deguban menggila dan perasaan tak nyaman berkecamuk menjadi satu.
Tidak…
Ini tidak mungkin kan?
"Kau hanya tinggal menunggu Aereviane kembali, setelah itu pernikahan akan segera dilangsungkan".
Bahkan ditengah ketidaksadarannya, Kyungsoo masih dapat mendengar samar-sama suara sang raja yang kini disauti dengan persetujuan oleh Matthew.
Tidak.
Ia harus memberitahu Baekhyun.
Dengan perlahan, si oranye menggelengkan kepala cepat. Tanpa berfikir ia berenang menjauh, melesat keluar dari istana. Matanya menatap tajam pada satu titik diatas sana.
Ia harus menemui Baekhyun, dan memberitahu rencana sang raja sebelum semua terlambat.
Ekor oranye itu terus berenang yakin menembus gelapnya lautan.
Hingga tiba-tiba saja ia berhenti. Saat kesadaran menyergapnya bagai gulungan ombak ditengah badai.
Kyungsoo, apakah ia siap berada diatas sana?
Satu kedipan.
Dua kedipan.
Tiga kedipan.
Keraguan menyusup, masuk melalui celah-celah hatinya yang menganga akibat luka.
Bagaimana, jika diatas sana ia terbunuh?
Biasanya Kyungsoo akan berenang ke permukaan bersama Baekhyun. Kali ini, ia hanya bersama dirinya sendiri.
'Apakah aku bisa?'.
Getaran di jemarinya tiba-tiba kembali. Kali ini lebih hebat dari sebelumnya. Dengan perlahan si oranye menangkup bagian dadanya yang kini tengah berdebar.
Tidak…
Sekelebat bayangan akan tangis sang sahabat muncul bagai mimpi yang bergeraktanpa henti.
Baekhyun sudah cukup sakit ditinggalkan Adriviane. Bertemu manusia itu adalah kebahagiaannya. Demi apapun yang ada di alam semesta, Kyungsoo tak sanggup merampas senyuman itu dari paras indah sahabatnya.
Dengan berbekal bayangan akan sebentuk senyuman manis sang sahabat, Kyungsoo memejamkan mata sebelum kembali menggerakkan ekornya perlahan. Berenang keatas dengan hati-hati.
Semakin lama semakin cepat, hingga ia tiba, dimana seberkas cahaya mulai nampak.
.
.
Heart of The Ocean
.
.
Chapter 9
.
Do not Copy, Edit and Repost
Aereviane Island, 2018
"Jongdae".
Beratnya suara barithone khas yang dimiliki chairman Jetdale co itu terdengar menggema memenuhi sepinya villa. Jam baru saja menunjukkan pukul lima, sang mentari pun tampak belum sudi menampakkan wujudnya. Hembusan angin dingin masih terasa menusuk di kulit, membuat siapapun di villa itu lebih memilik untuk bersembunyi dibalik hangatnya selimut.
Berbeda dengan para pelayan lain, Kim Jongdae ̶ yang bertugas sebagai kepala pelayan Villa dan Mansion Park, memiliki tugas untuk menjadi yang pertama membuka mata. Park Chanyeol memang memiliki segalanya yang ia butuhkan di dunia ini. Atau bahkan jika semua kebutuhan itu digandakan menjadi tiga, ia masih dapat memenuhi semua itu tanpa kesulitan. Bangun siang atau tak bangun sama sekali seharian dapat ia lakukan tanpa merugi barang se-sen, namun tidak. Park Chanyeol adalah seorang pekerja keras, sudah terlihat sejak ia duduk di bangku sekolah dasar. Chairman Jetdale co itu akan membuka mata tepat pada pukul lima untuk melaksanakan olahraga pagi, dan diikuti dengan agendanya untuk hari itu. Jarang sekali terlihat ia terbangun siang, kecuali sedang mabuk berat atau sakit.
Kenyataan tersebut membuat Jongdae, pelayan kepercayaan Chanyeol, menjadi yang pertama bangun dan mempersiapkan segala kebutuhan yang dibutuhkan sang Chairman. Sebisa mungkin sebelum sang pimpinan bangun, segalanya sudah tersaji untuk ia gunakan, baik itu pada hari biasa atau ketika Chanyeol sedang dalam masa liburan seperti saat ini.
Pagi ini, sang pelayan terbangun tepat pada pukul setengah empat ̶ Lebih pagi dari biasanya. Mempersiapkan pakaian olahraga yang biasanya akan dipakai oleh Chanyeol, dan minuman serta makanan yang akan ia santap tepat setelah berolahraga. Dan sesuai yang ia duga, sang Chairman bangun lebih awal hari ini. Semalam, sesuatu memberitahu Jongdae bahwa ia harus tidur awal dan bangun pagi, dan benar saja sesuai dengan tebakannya.
Namun, ada yang berbeda kali ini. Alih-alih mengenakan pakaian olahraga yang disiapkan Jongdae dalam walk-in closet sang Chairman, Chanyeol tampak sudah rapih dengan setelan jas membingkai tubuh berototnya. Rambut selegam arang itu sudah ditata rapih keatas menampilkan keningnya.
Kernyitan tak dapat dihindari oleh Jongdae begitu satu tapak kaki Chanyeol menginjak keluar dari kamar. Mata tajam si kepala pelayan terus menatap lekat pada sang Chairman, bahkan ia melihat bagaimana pria tinggi tersebut tampak tergesa menutup pintu kamarnya.
"Selamat pagi, Tuan Besar", sapa Jongdae.
Sepertinya pimpinan Jetdale co itu tak menyadari kehadiran pria lain disana hingga ia terlonjak pelan ketika suara Jongdae terdengar.
"O..Oh ya, pagi Jongdae", dehaman pelan Chanyeol loloskan sebelum melanjutkan. "Jangan bersihkan kamarku sampai aku kembali. Tidak ada yang boleh menginjakkan kaki disana, siapapun bahkan Jackson. Kau mengerti?".
Sekuat tenaga Jongdae berusaha menahan alisnya yang menukik heran, tentu ia tak ingin di cap tidak sopan sampai kehilangan pekerjaan. Benar, jika ada satu saja tindakan yang tidak disukai oleh sang chairman itu berarti selamat tinggal pekerjaan. Tetapi bagaimanapun Jongdae adalah manusia, rasa penasaran luar biasa membuat bibirnya bergerak tanpa diperintah. Mencetuskan pertanyaan yang sudah berada di ujung lidahnya sejak tadi.
"Apakah tuan besar akan pergi ke suatu tempat?".
Dan setelahnya ia meruntuki diri sendiri. Park Chanyeol di pagi hari bukanlah manusia terbaik di seluruh alam semesta. Moodnya bisa teramat buruk di saat surya menjemput. Semua tahu itu, sehingga tidak ada pelayan yang benar-benar mengucap sesuatu selain sapaan hormat.
"Ya, ada sesuatu yang harus kuselesaikan di Jeju. Aku ingin kau mengawasi kamar ini Jongdae. Jangan biarkan siapapun masuk, termasuk dirimu sendiri".
Dan begitulah percakapan antara tuan dan abdinya itu berakhir. Karena setelah ucapan tajam itu lolos, Chanyeol langsung berlalu pergi dan sejurus kemudian suara dengungan mesin kapal terdengar. Menandakan bahwa sang tuan sudah meninggalkan 'negara kecilnya'.
Helaan nafas yang sejak tadi ditahan akhirnya lolos. Mata unta Jongdae berkali-kali melirik pintu kamar sang chairman, lalu beralih ke pintu depan dan kembali menatap pintu kamar. Menimbang-nimbang apakah ia harus melanggar aturan atau tidak.
Tap.
Satu langkah ragu ia jejakkan. Matanya menatap nanar ke kanan dan ke kiri. Memastikan tiada siapa-siapa disana. Satu langkah lagi ia ambil, sebelum deringan nyaring telepon rumah terdengar. Geraman pelan lolos dari bibir Jongdae.
Dengan sangat tidak ikhlas ia berbalik, mengambil jangka lebar dan menyambar benda putih yang meraung-raung tersebut. Dalam hati ia meruntuki siapa orang gila yang menghubungi rumah orang pada pukul sepagi ini.
"Kediaman tuan Park".
"Kim Jongdae, kalau kau lupa, setiap sudut villa ini dipenuhi CCTV. Aku bisa melihatmu, hanya mengingatkan".
Sial.
Ternyata orang gila itu adalah si pemilik rumah.
Glek
Dengan susah payah, Kim Jongdae menelan ludah yang seolah berubah menjadi batu. Dengan takut-takut ia mendongak, menatap langsung pada kamera cctv yang kini sedang mengarah padanya.
"Ya, hai kepala pelayan Kim. Berhati-hatilah dirumah. Aku akan segera kembali".
Tanpa menunggu jawaban dari pria bermarga Kim tersebut, sang chairman memutus panggilan keduanya sepihak. Memang ia tidak marah atau mengatakan sesuatu dengan nada tinggi. Namun kita sedang membicarakan Park Chanyeol sekarang. Semua orang yang bekerja untuk Park, baik di perusahaan maupun di rumah, tahu seperti apa tabiat tuan besar mereka. Park Chanyeol bukanlah tipe yang akan membentakmu namun kemudian memberikan maafnya. Orang nomor satu Jetdale co itu adalah tipe yang akan mengingatmu dengan nada datar, atau bahkan senyuman, namun memecatmu semenit kemudian. Benar-benar menyeramkan.
Dengan tangan bergetar, pria bermata unta itu meletakkan gagang telpon kembali pada tempatnya. Takut-takut ia menatap camera cctv dan memutuskan untuk membungkukkan badannya dalam. Mengundang kekehan rendah dari pria tampan yang kini tengah bersandar nyaman didalam Lexus LS hitam mengkilatnya sembari menatap kearah layar ponsel.
.
"Jongdae, tuan muda menanyakan kemana ayahnya dan kenapa paman Jongdae tidak mengizinkannya masuk ke kamar. Apakah kau tahu sesuatu?".
Seorang wanita muda berseragam baby sitter kini tampak menghadiri si kepala pelayan yang tengah duduk di sebuah kursi didepan kamar utama villa megah tersebut. Sudah sekitar tiga jam berlalu namun ia akan mengemban tugasnya sungguh-sungguh ̶ Karena ia tak ingin dipecat, dengan berjaga dan memastikan agar tiada satupun yang masuk ke kamar sang tuan besar.
"Tuan besar meminta siapapun tidak masuk kedalam, dia memastikan melalui cctv. Sebaiknya kau cari alasan bagus untuk membujuk tuan muda", ujar Jongdae dengan nada malas.
Sesungguhnya ia merasa bosan, namun nasibnya tengah dipertaruhkan kini.
"Lalu kau berjaga disini? Bukankah pintu ini memiliki fungsi otomatis yang hanya bisa dibuka dengan suara tuan besar?".
"Noona, Tuan besar terlalu terburu-buru untuk melakukan itu tadi pagi. Dan jangan bertanya lagi, aku sedang lapar. Menjawab pertanyaan kalian sejak tadi membuatku semakin lapar", decaknya.
Dibarengi helaan nafas dan geplakan kencang pada kepala, Jessica berlalu pergi untuk melanjutkan kegiatannya menemani Jackson. Meninggalkan Jongdae kembali pada kesendiriannya.
Merasa bosan, kepala pelayan tersebut memutuskan untuk mengeluarkan ponselnya. Memainkan benda tersebut untuk mengisi waktu. Dalam hati ia bertanya-tanya kapan tuannya akan kembali. Kini ia sudah tidak terlalu peduli dengan apa yang tengah disembunyikan Park Chanyeol. Pria bermata unta itu hanya ingin segera menyantap sarapan paginya.
"Yeollie".
Satu alis Jongdae menukik saat panggilan lemah itu terdengar. Reflek bola mata hitam itu melirik ke sekitar. Memastikan jika ada orang disana.
Namun nihil.
Disana hanya ada dirinya dan angin yang berhembus.
Jongdae mengendikkan bahu acuh, dan melanjutkan kegiatannya. Hanya beberapa menit. Karena suara tersebut kembali terdengar. Kali ini dalam wujud erangan kesakitan.
"Y…yeollie tolong aku!".
Reflek Jongdae berdiri dari tempat duduknya, berjalan mengikuti darimana asal suara tersebut. Matanya menyipit saat kesadaran memberitahunya bahwa suara tersebut berada dari dalam sana.
"ARRGGHH Tidak!", suara itu semakin kencang dan seperti tengah… kesakitan?
Dengan hati-hati Jongdae menempelkan telinga pada pintu kayu jati mewah yang memisahkan dirinya dengan kamar sang tuan. Kepala pelayan itu yakin, tuannya menyembunyikan seseorang didalam sana. Dan orang itu dalam keadaan tak baik.
Pekikan kembali terdengar. Persetan dengan pekerjaan. Ada orang didalam sana yang tengah membutuhkan bantuan.
Dengan pelan namun pasti, Jongdae mengetuk pintu. Membuat orang didalam sana tiba-tiba diam.
"Halo, anda baik-baik saja?", ujar nya.
Hening. Tiada sautan.
Beberapa detik berlalu, Jongdae kira dirinya tengah mengkhayal karena rasa lapar membuatnya mulai tak sadar. Karena suara-suara kesakitan itu kini tak lagi terdengar. Ya, mungkin ia harus mengambil sepiring nasi untuk dimakan.
Menghembuskan nafas lelah, kepala pelayan keluarga Park itu berbalik menuju dapur di lantai bawah.
Tetapi baru satu langkah, teriakan kembali terdengar. Kali ini lebih kencang.
Untuk terakhir kali, Jongdae menatap cctv dan tanpa berfikir membuka handle pintu dan mendorongnya keras.
Dan saat itu, ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Dunianya berputar, ketika mata biru menatap takut dan panik kearahnya.
Tangan Jongdae gemetar, tubuhnya terasa lemas.
Tiba-tiba saja kini ia sudah bersimpuh didepan pintu yang terbuka lebar. Waktu seolah berhenti.
Ini… tidak mungkin.
"Y…yang mulia".
Adalah kata pertama yang lolos dari bibirnya. Suara Jongdae terdengar pelan, namun ia yakin sosok itu dapat dengan jelas mendengarnya.
Beberapa kali, ia berusaha mencubit dirinya sendiri. Meyakinkan bahwa semua ini nyata.
"P…Palleshipe apa…".
Mata Jongdae kembali melebar untuk kesekian kalinya saat melihat ekor sosok itu terbelah menjadi dua. Tidak-tidak berubah menjadi kaki, melainkan terbelah seperti dirobek paksa.
"Yang mulia! Apa yang terjadi oh tuhan!", semua kekagetan, keheranan kenapa sosok itu bisa berada disana menghilang. Digantikan rasa khawatir luar biasa.
Jongdae seketika berdiri, menutup pintu kembali dengan keras dan menghampiri sosok itu.
"Tidak… sudah berapa lama yang mulia disini? Anda membutuhkan air sekarang! Batu biru itu berbalik menyakiti anda karena ritual belum lengkap. Oh Tuhan yang mulia!", mata hitam Jongdae bergerak-gerak panik saat bergantian melihat ekor Baekhyun dan batu biru yang kini tengah bersinar terang.
"P…Palleshipe apa maks… Ah!", keduanya bebarengan mengernyit saat suara tulang dipatahkan kembali terdengar.
Baekhyun tentu karena merasa sakit luar biasa, dan Jongdae karena ia bisa membayangkan betapa sakitnya hal itu.
"Aku akan segera kembali, yang mulia. Bertahanlah", bisik Jongdae. Sebelum pria itu berbalik keluar dengan cepat.
"Palleshipe tunggu…"
Brak
Pintu kembali ditutup, meninggalkan Baekhyun kembali seorang diri didalam sana.
"Oh tidak…", bisiknya.
Diluar sana, Jongdae kini tengah berlari panik. Ketempat dimana semua pelayan dan penjaga berada. Ia harus melakukan sesuatu. Jongdae tahu pasti apa yang dibutuhkan si biru didalam sana. Ua harus menyelamatkan sosok itu sebelum terlambat.
"Semuanya!", teriak Jongdae dengan tergesa. Nafasnya tersengal sebelum ia memejamkan mata sesaat. Meyakinkan dirinya sebelum memulai.
"Tuan Park memerintahkan kalian semua keluar dari villa! Sesuatu hilang dan jika kalian kedapatan masuk semuanya akan dipecat!", pekik Jongdae.
Hening.
Semua mata yang ada disana tampak bingung. Mereka saling bergumam sambal menatap satu sama lain. Tidak yakin dengan apa yang baru saja dikatakan oleh atasannya. Beberapa bahkan mengira Jongdae sudah gila karena sejak pagi pria itu benar-benar dalam mood yang buruk.
"Sekarang!", bentak Jongdae.
Dan begitu saja, semua yang berada disana perlahan bergerak keluar melalui pintu belakang. Mereka hanya memiliki satu pilihan, atau dipecat. Sehingga lebih baik menuruti saja maksud sang atasan meskipun penasaran sudah memucak di ubun-ubun. Jongdae mengetuk-ngetukkan kakinya pada lantai. Satu tangannya menggenggam remote otomatis yang mengatur kunci pintu sembari menanti semuanya keluar.
Dan ketika ia sudah yakin tiada siapa-siapa lagi, pria bermata unta itu menekan tombol merah yang secara otomatis membuat semua pintu akses masuk dan keluar villa terkunci rapat.
Dengan tangan yang masih bergetar, ia berlari kembali menemui sosok biru itu sembari mengantongi remote. Kakinya bergerak cepat. Merapalkan doa dalam hati semoga ia tidak terlambat.
Brak
"Yang mulia! Saya harus membawa anda ke suatu tempat!", pekiknya.
Tanpa peduli dengan apa yang dikatakan si biru, Jongdae berlari mendekat. Menggendong tubuh itu dan melangkah keluar kamar. Pertanyaan panik dan erangan kesakitan yang terlontar dari si biru ia abaikan. Matanya masih focus pada tangga yang kini ia pijak untuk membawa keduanya ke lantai teratas villa.
Beberapa menit berlalu seperti kedipan mata. Kini keduanya sudah berdiri di sebuah ruangan kosong dengan bulatan seperti kolam yang tertutup dengan besi. Hati-hati, si pelayan merogoh kembali kedalam kantong celana. Mengeluarkan remote yang sejak tadi ia bawah dan tanpa menunggu menekan tombol dengan gambar ikan diatasnya.
KLEK
PIP
PIP
PIP
PIP
Mata biru sang siren menatap panik ke sekitar saat melihat sebuah lampu merah berkedip-kedip diikuti dengan suara memekakkan telinga.
"Ini adalah akuariun ikan hiu yang terhubung dari lantai bawah hingga atas. Namun tuan besar tidak menyukai hiu, sehingga ia menggantinya dengan ikan hias".
Kening Baekhyun mengernyit, tidak paham dengan apa yang dikatakan pria dihadapannya.
"Tenanglah, saya sudah mengusir semua yang berada disini. Jangan takut, yang mulia".
Perlahan namun pasti, Jongdae berjalan mendekat kearah lubang besar dengan genangan air yang amat bening tersebut. Tangannya terulur dan setelahnya ia membiarkan Baekhyun melompat masuk kesana.
Kernyitan khawatir masih menghiasi kening kala si biru menghilang dibalik permukaan.
Satu detik
Dua detik
Tiga detik
Tepat pada detik keempat, sebuah sinar biru memancar keluar dari dalam sana. Membuat hembusan nafas lega lolos dari bibirnya.
Jongdae membiarkan tubuh lemasnya duduk bersimpuh tepat di pinggiran akuarium. Yang barusan hampir saja.
"Palleshipe…"
Mata Jongdae melebar saat suara itu terdengar. Ia kembali bernafas lega saat melihat ekor biru berkilauan itu kembali seperti semula. Namun hanya sebentar, karena rasa kaget dan penasaran itu kembali. Ia tak mengira bisa bertemu lagi dengan sosok ini.
"Yang mulia", ujarnya lagi sembari menundukkan kepala.
"Apa… apa yang kau lakukan disini?".
"Saya bekerja, yang mulia".
"kenapa… Kenapa kau pergi? Tidakkah kau tahu bagaimana khawatirnya aku dan Kylei? Kau gila meninggalkan kekasihmu seperti itu Palleshipe!", suara lirih Baekhyun kini perlahan berubah tegas dan semakin tegas. Sungguh terlihat bagaimana sang pangeran lautan memendam semua itu selama ini.
"Saya… Saya tidak bisa meninggalkan Pangeran Adriviane sendiri, yang mulia. Maafkan hamba".
"Seharusnya kau menahan kakakku pergi! Bukannya malah ikut dengannya bodoh!", teriak Baekhyun. Lelehan air mata tampak menuruni pipi mulusnya.
"Maafkan hamba, yang mulia".
Ya, hanya itu yang bisa ia katakan. Karena ia sungguh tak pantas mengatakan hal lain setelah apa yang dilakukannya.
"Maaf? Setelah mematahkan hati Kylei kau berani meminta maaf? Dasar ikan bodoh!".
Tunggu…
Reflek Jongdae mengernyit. Tatapannya berubah dari takut, merasa bersalah, menjadi tertuduh.
'Kylei?'
"Y…yang mulia, jika saya boleh bertanya… Apa maksudnya dengan Kylei?".
"Apa kau gila? Kau melupakan orang yang kau cintai setelah disini bersama para manusia? Sungguh tidak tahu diri!".
Teriakan si biru membuat Jongdae mengernyit, namun ia masih tak terima dituduh mematahkan hati siren berekor oranye itu. Demi tuhan ia bahkan tidak terlalu dengan dengan Kylei, tatapannya itu menyeramkan menurut Jongdae.
"T…tapi saya memang tidak ada hubungannya dengan Kylei, yang mulia", jawabnya takut-takut.
"Ia bilang padaku…".
Baekhyun yang awalnya menaikkan suara untuk membentak Jongdae sontak memelankan suaranya begitu kilasan beberapa tahun lalu kembali membayangi benaknya.
Ia teringat bagaimana si oranye menangis sembari memeluk erat sebuah kalung Mutiara di hari sang kakak dan pengawal setianya, Palleshipe, pergi dari Vriryn. Ia ingat dirinya menangis bersama Kyungsoo sembari berpelukan. Ia teringat bagaimana Kyungsoo mengatakan bahwa cintanya telah pergi.
Namun…
Tidak pernah sekalipun ia menyebutkan siapa siren yang dimaksudnya.
Ia tidak pernah mengiyakan ataupun menyanggah bahwa itu adalah Palleshipe.
Baekhyun teringat bahwa dirinya sendiri yang menyimpulkan semua itu secara sepihak, tanpa pernah benar-benar mendengarkan maksud sang sahabat.
"Jika bukan kau…berarti…"
"Benar, yang mulia. Kylei adalah kekasih yang mulia pangeran Adriviane. Maafkan kelancangan hamba mengatakan ini", bisik Jongdae dibarengi tundukan kepala dalam.
Oh rasanya Baekhyun ingin membunuh dirinya sendiri karena begitu egois. Ia teringat bagaimana ia meledak-ledak memaki sang kakak dihadapan Kyungsoo. Bagaimana ia mengatakan bahwa siapapun orang yang mencintai Adriviane adalah yang terbodoh di muka bumi ini dan ia bahkan tak menyadari arti senyuman simpul Kyungsoo kala itu.
"Oh Kylei", ujar Baekhyun pelan.
Seharusnya ia tahu, bahwa Kyungsoo merasakan sakit yang sama dengan dirinya saat Adriviane pergi. Sungguh, jika ia bisa, ia ingin menarik semua perkataannya hari itu.
"Kylei dan yang mulia Adriviane menyembunyikannya dari anda dan yang mulia raja serta ratu hingga waktu yang tepat. Namun sepertinya waktu mereka sudah habis, sehingga semuanya terjadi", Baekhyun mendengar helaan nafas pelan yang lolos dari bibir Jongdae. Ia masih setia memejamkan mata, membiarkan air mata terus meleleh bahkan saat si pria sudah kembali melanjutkan. "Maafkan hamba, karena pergi dan tidak bisa menahan yang mulia Adriviane untuk pergi, yang mulia. Hamba selalu menyesali setiap detik nafas hamba sejak kaki ini menapak di daratan".
Baekhyun hanya dapat mengangguk, karena tiba-tiba saja lidahnya terasa kelu. Ia tak tahu apa yang harus dikatakannya. Dalam sehari, ia harus mengalami rasa sakit secara fisik maupun batin secara bertubi-tubi.
Seharusnya Baekhyun tahu, ketika bertemu Chanyeol ia akan dihadapkan pada banyak hal.
Dan tidak semuanya penuh canda tawa.
.
Langkah-langkah tergesa terdengar menggema didalam villa mewah yang kini kosong.
Chanyeol baru saja tiba sekitar sepuluh menit lalu, dan betapa terkejutnya sang Chairman melihat semua pelayan tengah berkumpul di pantai. Memang sejak tadi sesuatu terasa menggelitik hati, membuatnya tak tenang. Beberapa kali ia mencoba mengecek keadaan rumah melalui CCTV dan tiada yang terjadi.
Tapi disisi lain, intuisinya tak pernah salah. Sesuatu yang menggelitik itu ternyata sebuah perasaan buruk yang berusaha memberitahunya bahwa terjadi hal cukup buruk disana.
Chanyeol tanpa berfikir panjang langsung berjalan cepat menujur villa. Memperingatkan mereka semua untuk tidak masuk dan berteriak 'open' hingga kunci pintu utama villa terbuka secara otomatis.
Sang chairman tidak melewatkan waktu sedetikpun secara sia-sia dan langsung menerobos masuk. Dalam hati, ia merapalkan doa agar si biru baik-baik saja. Sungguh bodoh bagaimana ia bisa berfikiran untuk meninggalkan Baekhyun tanpa berfikir. Chanyeol kira urusannya bisa selesai dengan cepat, dan ia sudah kembali saat Baekhyun membuka mata. Namun penyesalan menggerogoti tiap sel dalam tubuhnya kini saat ia yakin sesuatu yang tak baik benar terjadi.
Brak
Chanyeol mendorong kasar pintu kamarnya, dan sang chairman merasa hatinya mencelos saat si biru tiada disana seperti yang ia harapkan.
"Baekhyun!", teriaknya.
Hening, tiada balasan.
Dengan panik Chanyeol terus meneriakkan nama sosok itu sembari berlarian mengelilingi seluruh ruangan yang ada di villa. Matanya menatap nanar kesana dan kemari.
Sungguh ia tak akan memaafkan dirinya sendiri jika sesuatu terjadi pada Baekhyun.
"Baby jawab aku!", teriaknya lagi.
Brak
Kali ini Chanyeol membuka kasar pintu ruang utama. Matanya memandang sekeliling, melewati akuarium raksasa berbentuk tabung yang menjulang ditengah ruangan dan tembus keatas hingga atap.
Tetapi, baru saja seinci matanya melewati akuarium itu, secara reflek pandangannya kembali menembus benda tabung bening itu untuk memastikan apa yang baru saja ia 'kira' lihat.
Benar saja, disana sosok biru yang diam-diam ia rindukan tengah mengapung dengan kedua tangan menempel di kaca tebal aquarium. Oh rasanya Chanyeol ingin menangis karena merasa lega. Kakinya yang seperti memiliki remote sendiri langsung berjalan cepat untuk mendekat.
"Syukurlah, sayang", Bisik Chanyeol sembari menempelkan kedua tangannya di titik yang sama dengan kedua tangan Baekhyun.
Baekhyun tampaknya mendengar, karena ia langsung mengangguk untuk memberi jawaban.
"Apa…Apa yang terjadi? Bagaimana…"
"Yang mulia terlalu lama berada di daratan dan permata nya mulai bereaksi".
Kernyitan muncul di kening, dengan cepat sang chairman menoleh untuk mendapati sang kepala pelayan tengah membungkuk hormat kepadanya.
"J…Jongdae?".
"Maafkan saya tuan besar, namun yang mulia tidak bisa berada di daratan terlalu lama jika ia belum menyelesaikan ritualnya. Kedua ekornya terbelah dua, jika saya terlambat sedikit saja sesuatu yang buruk bisa terjadi".
Chanyeol hanya berkedip. Tidak tahu harus bereaksi apa. Tak yakin pria yang berdiri disana benar Kim Jongdae. Karena jika ya, bagaimana ia bisa mengetahui soal dunia Baekhyun dan mengenal si biru, bahkan memanggilnya yang mulia?
"Saya berasal dari kaum yang sama, tuan besar. Saya yakin anda mengenal yang mulia Adriviane, saya adalah pengawal beliau sebelum kami memutuskan untuk berpisah dan menjalani hidup masing-masing".
"Tapi… kau bahkan tidak mengenalnya saat ia kemari?".
"kadang acting yang bagus diperlukan, tuan besar". Jongdae kembali membungkuk, kali ini lebih dalam karena tiba-tiba merasa bersalah sudah membuat atasannya terkejut. Pada awalnya ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan sang pangeran bahwa dirinya dan Chanyeol menjalin hubungan, mengingat tuan besarnya adalah orang paling realistis yang ada di seluruh dunia. Namun melihat bagaimana tubuh besar itu bergetar dan matanya memerah menahan air mata membuat Jongdae percaya bahwa memang, tuannya jatuh cinta pada sang pangeran lautan.
"Yatuhan… Apa yang terjadi?", gumam Chanyeol sebelum kembali membalikkan badan. Menatap dalam ke mata biru yang ada dibalik kaca.
Si biru tampak mengangguk sembari tersenyum, seolah membenarkan apa kata Jongdae.
"Memang, seorang penguasa lautan dapat bertahan 24 jam di daratan. Namun, yang mulia Aereviane, berbeda. Beliau satu-satunya yang terhubung dengan Heart of The Ocean. Batu itu akan cepat bereaksi kala si pemilik berada di daratan. Bisa membuatnya menjadi manusia, hanya jika ritualnya sudah selesai dilaksanakan. Tetapi, bisa saja batu itu berbalik menyakiti tuannya, saat si tuan belum sama sekali menyelesaikan ritual.", Jongdae menghembuskan nafasnya sebelum melanjutkan. "Yang mulia Aereviane tidak mengetahui apa yang terjadi, dan batu itu membuat ekornya terbelah dua. Bukan menjadi kaki, namun merobek kedua kulitnya begitu saja. Sebaiknya lain kali, anda membaca buku yang sudah diberikan yang mulia Adriviane lebih jelas lagi, tuan besar".
Reflek Chanyeol memejamkan mata. Tidak mau membayangkan apa yang terjadi pada si biru. Dan rasa sakit luar biasa yang baru saja dialaminya. Dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri karena telah gegabah meninggalkan Baekhyun disaat-saat genting seperti ini.
"Maafkan aku, sayang", bisik Chanyeol.
Senyuman manis menghiasi paras Baekhyun sembari siren biru itu mengangguk. Seolah meyakinkan kekasih manusianya bahwa ia baik-baik saja kini.
"Terimakasih Kim Jongdae… Aku akan meminta Wooji menaikkan gajimu bulan depan", lirih Chanyeol. Membuat mata unta sang kepala pelayan membola hingga berkali-kali lipat.
.
.
BYUR
Kikikan terdengar dari bibir si biru saat tubuh besar yang kini masih terbalut kemeja putih itu melompat masuk kedalam air. Baekhyun sudah mengatakan bahwa Chanyeol tak perlu menyusulnya masuk ke aquarium. Namun, pria tampan itu tetap memaksa dan mengatakan bahwa ia sudah rindu setengah mati pada si biru.
Mereka sempat berdebat, namun Baekhyun akhirnya pasrah ketika melihat Chanyeol menanggalkan jas, dasi serta alas kakinya bersiap untuk melompat kedalam air. Dan si biru tak dapat lagi protes, karena diam-diam ia juga merindukan pelukan hangat yang kini diberikan tubuh besar itu padanya.
"Maafkan aku… Jika aku tahu, aku tak akan…"
Baekhyun membungkam ucapan maaf itu dengan sebuah kecupan lembut tepat di bibir. Hanya sebentar, sebelum mengusakkan wajah pada dada berotot Chanyeol. Menyembunyikan wajahnya yang semerah tomat.
Si tampan terkekeh, lalu mengecup sayang pucuk kepala si biru. Menariknya semakin dekat dalam dekapan.
"Aku akan lebih berhati-hati", ujar Chanyeol akhirnya. Yang dibalas anggukan oleh Baekhyun.
Hening kembali menyelimuti keduanya, suara mesin aquarium mengiringi kedua insan yang tengah berbagi kehangatan tersebut. Keduanya seolah menyalurkan perasaan rindu dan lega luar biasa setelah apa yang terjadi.
"Yeollie", gumam Baekhyun memecah keheningan diantara keduanya.
"Ya, sayang?".
"Kukira kau meninggalkanku", bisik Baekhyun. Amat lirih hingga ia tak yakin dengan apa yang didengarnya.
Hati Chanyeol kembali mencelos mendengar pernyataan lirih itu, sungguh ia tak memaafkan dirinya setelah membuat Baekhyun ketakutan di tempat yang amat asing seperti ini. Jika waktu bisa diputar, tentu ia akan memilih jalan yang berbeda.
"Maafkan aku. Ada sebuah pertemuan yang tidak bisa kutinggalkan. Dan kebetulan ayahku ada disana. Dan aku harus memberitahumu soal ini".
Baekhyun mendongak pelan, matanya menatap dalam kedua iris Chanyeol. Si tampan bisa melihat sebuah rasa penasaran mengapung di permukaan.
"Besok adalah hari ulangtahun ku", bisik Chanyeol.
Seketika kedua mata biru itu membola kaget, rasa penasaran yang berada disana kini tergantikan dengan binar bahagia yang amat menggemaskan. Membuat Chanyeol ingin menggigitnya detik itu juga.
"Benarkah? Haruskah aku kembali tinggal malam ini? Aku ingin bersamamu", kikik Baekhyun.
"Ayahku mengundang semua orang datang kemari besok, Baekhyun. Aku sudah menolaknya, tapi sepertinya mustahil. Semua orang ingin hadir, sudah menjadi kebiasaan setiap tahunnya".
Chanyeol mempererat pelukannya ketika Baekhyun tanpa sadar melengkungkan bibir kebawah. Ia sudah memprediksi semua ini akan terjadi.
"tetapi, aku memiliki sebuah tawaran untukmu sayang".
"Katakan…"
Sang chairman menghembuskan nafasnya pelan. Parasnya berubah serius.
"Di dunia manusia, kami sering melihat sosok sepertimu. Namun, tentu saja itu bukanlah kaum kalian. Kami mengenal Duyung, sebagai makhluk khayalan negeri dongeng…", ujar Chanyeol. Ia tak yakin Baekhyun memahami ucapannya, tetapi ia memutuskan untuk melanjutkan.
"Biasanya ada manusia-manusia yang pandai berenang mengenakan ekor buatan dan berenang-renang di air. Berpura-pura menjadi duyung… kau mengerti maksudku kan baby?".
Keterdiaman Baekhyun menjadi jawaban Chanyeol. Kedua kelopak matanya mengedip-ngedip polos. Berusaha mencerna kemana arah pembicaraan si tampan.
"Kau ingin aku… berpura-pura menjadi manusia yang berpura-pura menjadi aku?".
Kekehan pelan lolos. Chanyeol tak dapat menahan tawanya mendengar ungkapan polos Baekhyun dan cara dia menyusun kalimat. Terkadang sangat menggemaskan seperti berbicara dengan anak kecil.
"Tentu jika kau tidak keberatan". Ujar Chanyeol. Senyuman mengembang lebar di bibir menampakkan sederet gigi putihnya.
Baekhyun mendecih diikuti kerucutan bibir yang amat menggemaskan.
"Berpura-pura menjadi duyung sesungguhnya sangat merendahkan statusku sebagai pangeran samudera pasifik. Namun berbahagialah karena aku mencintaimu, manusia".
Alih-alih suara menggemaskan nan polos yang biasa ia lontarkan, nada Baekhyun berubah menjadi anggun dan penuh wibawa. Membuat Chanyeol tak dapat lagi menahan rasa gemasnya dan menyerang Baekhyun dengan kecupan kupu-kupu diseluruh wajah.
"Oh sungguh kehormatan bagi hambamu yang rendah ini, yang mulia pangeran Aereviane".
Tawa keduanya kemudian terdengar, amat menyenangkan ditengah sepi. Sebelum dua pasang iris itu bertemu.
"Kau, adalah kebahagiaanku setelah Adriviane pergi… Terimakasih Chanyeol", bisik Baekhyun. Hati Chanyeol seperti terbang melihat bagaimana ketulusan terpancar jelas disana.
Senyuman di wajah Chanyeol hilang. Sejak tadi ia bertanya-tanya kapan waktu yang tepat menanyakan sosok kakak Baekhyun yang berkhianat itu pada si biru. Sesungguhnya Chanyeol takut, membahas Adriviane berarti membuka luka lama yang sudah dipendam oleh Baekhyun. Namun, melihat bagaimana Baekhyun menjadi yang pertama membahas sosok itu, sang chairman memutuskan tak lagi menahan diri.
"Baekhyun, apa yang terjadi pada kakakmu?".
Si biru terdiam, perlahan jemarinya bergerak untuk mengusap sayang tengkuk dan leher Chanyeol. Seolah menjadikannya pengalih focus sehingga air mata tak jatuh saat ia harus kembali mengenang sosok sang kakak.
"Adriviane pergi. Ia menganggap dunia kami tak cukup. Dunia yang sempit dan gelap. Ia membenci semua itu, dan membenci kami keluarganya. Adriviane pergi tepat pada ulang tahunnya yang ke 17, sepuluh tahun lalu dan sama sekali tak menoleh kebelakang. Meninggalkan ku yang masih 15 tahun dengan semua tanggung jawab besar".
"Apakah… Kau membencinya Baekhyun?".
Senyuman pahit mengembang di paras indah itu. Membuat hati Chanyeol ikut merasakan sakit yang tidak seharusnya.
"Tidak… Hanya aku tak ingin bertemu lagi dengannya. Aku takut, jika aku bertemu dengannya aku harus mengalami perpisahan lagi untuk kedua kali. Aku membenci momen itu, bukan Adriviane", lirih Baekhyun. Perlahan, si biru menyandarkan kepalanya pada dada kokoh sang chairman kemudian memejam. Menikmati deguban teratur didalam sana.
Chanyeol?
Ia hanya terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Dan tentu saja karena ia bisa mengartikan maksud Baekhyun.
Sikap yang mengisyaratkan bahwa sudah cukup membahas Adriviane, karena itu menyakiti si biru.
"Aku mengerti… Aku menyayangimu, Baekhyun", bisik Chanyeol.
Tampaknya ungkapan itu berhasil membuat si biru merasa lebih baik. Karena, ia langsung mendongak dan tersenyum sebelum mengecup mesra bibir tebal sang chairman.
"Aku juga menyayangimu, Tuan besar", kikik sang siren.
Heart of The Ocean
Waktu berlalu dengan cepat. Pagi berubah menjadi siang, sore dan tiba saatnya sang surya kembali ke peraduan. Berganti dengan sang bulan yang siap menduduki tahtanya. Ratusan bintang di langit tampak bertebaran, seperti prajurit yang siaga menemani sang raja di puncak singgasana.
Dari kejauhan, sayup-sayup suara music terdengar. Bersamaan dengan sorot lampu yang dapat terlihat bahkan dari ratusan meter di tengah laut. Pulau yang biasa terlihat tenang itu berganti dengan keramaian puluhan manusia yang kini tengah menikmati indahnya malam itu.
Pesta ulang tahun ke-28 Chairman Jetdale co itu tampak mewah meskipun hanya mengundang beberapa orang penting yang beruntung dapat menginjakkan kaki di villa private sang bos besar. Sejak pagi, suasana dipulau memang sudah ramai dengan orang-orang yang melakukan pekerjaannya sebagai party organizer. Dan semakin ramai saat kapal Alcaston yang mengangkut para tamu undangan berlabuh di pinggiran pulau.
Puluhan manusia berjas dan bergaun memenuhi villa. Beberapa dari mereka tengah berdansa, atau berbincang. Bahkan ada yang tengah menikmati santapan mewah di malam itu.
Villa mewah Chanyeol kini sudah disulap menjadi sebuah temppat pesta yang luar biasa mewah. Meskipun berbeda dari tahun-tahun sebelumnya dimana ulang tahun bos besar Jetdale co itu dirayakan di hotel berbintang, namun suasana pesta malam itu tak kalah mewah. Hanya jumlah tamu undangan saja yang dibatasi karena sang chairman beralasan tidak seharusnya ia bersenang-senang setelah kepergian Eva.
Sebenarnya sebagian alasan itu benar, namun sebagian lagi adalah karena ia ingin berada di dekat sosok biru itu di hari spesialnya. Baekhyun benar-benar memberikan efek luar biasa bagi sang chairman meskipun mereka bisa dikatakan 'baru'.
Acara utama yang diisi dengan pemotongan kue dan sambutan berlangsung lancar dan cukup cepat. Namun, pertunjukan utama belum benar-benar dimulai. Setiap detik yang berlalu membuat jantung Chanyeol berdebar.
Ia khawatir dan senang disaat bersamaan.
Khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi pada si biru.
Dan senang karena akhirnya ia bisa mengenalkan sosok indah itu dihadapan semua orang.
Panik mendera si tampan ketika waktu sudah menunjukkan lima menit sebelum pertunjukan dimulai. Ia menggerak-gerakkan gelas wine di genggaman sembari menatap keatas. Menanti Jongdae memberikan aba-abanya.
Beberapa kali orang tua Chanyeol bertanya jika sesuatu terjadi. Namun si tampan menepis itu dengan senyuman lebar dan mengatakan ia terlalu banyak mengkonsumsi alcohol.
Chanyeol terlalu sibuk tersenyum pada para tamu undangan, dan pikirannya sampai tak sadar sudah saatnya.
Ia mendongak nanar dan menemukan Jongdae di ujung tangga, mengacungkan jempol keatas tanda semua sudah siap.
Chanyeol mengambil sebuah tarikan nafas dalam sebelum melangkah naik keatas panggung yang berada tepat di depan aquarium. Matanya sedikit terpejam, memberikan keyakinan pada dirinya sendiri.
Satu tangan Chanyeol terulur, menggenggam batang mic, dan menimbulkan suara cukup kencang hingga perhatian para tamu terpusat padanya. Sebagai seorang pebisnis handal, semua kegugupan itu berhasil ia samarkan menjadi senyuman lebar penuh percaya diri yang menghipnotis para tamu.
"Um… Selamat malam", hening menyapa ketika suara baritone itu terdengar dari pengeras suara. Semua mata kini menatap kearahnya dan tiada jalan kembali.
"Pertama aku ingin mengucapkan terimakasih pada semua yang menyempatkan diri untuk hadir ke villa sederhanaku dan menyaksikanku berubah semakin tua".
Kekehan serta tawa terdengar dari para tamu. Sedikit menghilangkan rasa gugup sang chairman.
"Jika kalian kira aku mengusir kalian sekarang, itu tidak benar. Nyatanya, aku malah belum menunjukkan pertunjukan luar biasa yang sengaja kusiapkan", gumaman mulai terdengar. Bahkan kedua orang tua Chanyeol ikut mengernyit karena tak begitu paham apa maksud sang putera.
"Kalian tentu tahu, aku baru saja kehilangan seseorang yang amat kucintai beberapa bulan lalu. Rasanya agak aneh jika aku mengatakan ini. Atau mungkin kalian akan men cap ku sebagai playboy dan menyebarkannya di surat kabar. Tetapi percayalah, aku sudah mendapatkan restu dari mendiang isteriku di mimpi", tawa pelan dari para tamu kali ini membuat sang chairman kembali gugup. Namun ia sadar sudah terlambat untuk berbalik arah.
"Aku bertemu dengannya di suatu malam, ia adalah seorang lelaki yang luar biasa. Jika kalian bertanya siapa dia? Dia adalah sebuah bangsawan yang jarang terekspos di public. Ia mengatakan itu aturan kerajaan, sungguh aku sudah memeriksa", Chanyeol tersenyum menawan sebelum melanjutkan. "Singkat cerita aku jatuh cinta padanya. Aku amat menyukainya dan kamu baru saja resmi beberapa hari lalu. Tentu setelah Eva memberiku restu didalam mimpi."
Hening selama beberapa saat. Chanyeol kini tengah mengambil nafas, berusaha untuk menahan semua rasa gugup yang membuncah di dada.
"Ia, sangat suka berenang. Jika kalian kira aku akan mengenalkannya secara formal kalian salah. Karena diam-diam kekasihku adalah perenang handal yang menjadi merman di waktu senggangnya. Ia mengatakan soal itu kemarin. Tentu aku menolak pada awalnya. Aku ingin memeluknya erat dan memamerkannya dalam rangkulanku, atau mungkin sedikit berbagi ciuman agar kalian iri. Namun percayalah, aku tak bisa merubahnya".
Sang chairman kembali tersenyum. Mengabaikan gumaman penasaran yang pecah diantara para tamu.
"Ladies and gentlemen, I present you… Baekhyun Park"
Setelah kalimat itu meluncur dari bibir sang chairman, seketika lampu di sekitar padam. Digantikan sinar biru menyala yang berasal dari aquarium. Menjadi satu-satunya cahaya disana.
Hening mengiringi, semua orang merasa penasaran dengan sosok yang dimaksud oleh sang bos besar. Hingga beberapa dari mereka merangsek maju, ingin melihat langsung seperti apa kekasih baru orang nomor satu Jetdale co tersebut.
Sedetik berlalu.
Keheningan itu tergantikan dengan pekikan kaget dan gumaman kagum bersamaan dengan sosok lelaki mungil berekor biru yang berenang turun dari bagian atas aquarium. Menampakkan wujudnya secara utuh.
Baekhyun tampak berenang anggun dan menggerakkan ekornya pelan memutari aquarium. Sesekali melambaikan tangan dan tersenyum manis pada mereka yang tengah menatapnya.
Semua mata terhipnotis, bahkan sang chairman pun tak dapat memalingkan wajahnya melihat sang kekasih tampak ceria didalam sana. Sosoknya semakin indah dengan ekor berkilauan akibat sinar lampu. Gerakan tubuhnya yang pelan terlihat amat sensual dan anggun disaat bersamaan.
"Oh tuhan, dia sangat cantik", pekik salah seorang tamu yang terdengar cukup kencang. Membuat semua orang mengangguk menyetujui.
Tampaknya sang siren juga mendengar itu. Karena kemudian ia menggerakkan ekornya pelan untuk berenang mendekat kearah kaca. Kedua tangan Baekhyun bergerak. Membentuk sebuah hati dan diikuti dengan jemarinya menunjuk Chanyeol. Diakhiri dengan flying kiss berhias gelembung yang amat indah.
Semua tamu otomatis terkekeh melihat pernyataan cinta yang amat lucu dan romantis disaat bersamaan tersebut. Namun harus berganti menjadi decak kecewa saat melihat sosok Baekhyun kembali berenang keatas dan menghilang dibalik tembok atap yang menghubungkan mereka dengan lantai dua.
Memang sangat sebentar, tak sampai sepuluh menit. Karena tentu saja, sang chairman ingin mengurangi resiko Baekhyun tertangkap basah atau hal buruk lain. Hanya sebentar, namun cukup untuk kenangan Chanyeol hingga akhir hayatnya.
Si tampan masih tertegun beberapa saat, sampai ia mendengar dehaman Jongdae di kejauhan. Menyadarkannya bahwa pertunjukan telah usai.
Senyuman lebar kembali mengembang. Chanyeol mengangkat gelasnya tinggi-tinggi.
"For Baekhyun", ujar Chanyeol.
"For Baekhyun and Chanyeol Park!", balas para tamu serempak.
.
.
Jam sudah menunjukkan pukul satu ketika Chanyeol dengan perlahan berjalan keluar dari pintu belakang villa menuju pantai. Baekhyun tampak tersenyum lebar sembari menatap lekat-lekat wajah tampan sang chairman. Malam ini cukup mendebarkan bagi sang siren. Ia mempertaruhkan nyawanya untuk Chanyeol. Namun entah kenapa ia tak menyesal barang sedikitpun.
Ia senang bisa melihat dari kejauhan bagaimana Chanyeol diantara manusia-manusia lain. Melihat pria tampan itu amat dominan dan berkuasa. Bahkan, sang siren diam-diam membayangkan Park Chanyeol dengan sebuah ekor siren kokoh yang panjang. Ia melihat warna biru, atau mungkin ungu kehitaman yang indah? Dan bagaimana pria itu menggenggam tongkat kekuasaan ayahnya dengan tangan lebar dan urat menonjol yang amat seksi itu. Bagaimana mahkota vriryn menghiasi surainya.
Oh, jika saja Chanyeol terlahir menjadi seorang siren. Baekhyun yakin posisi apa yang tuhan berikan padanya.
Seorang raja.
Tentu, bahkan ketika masih menjadi manusia, aura dominan dengan otoritas amat mencolok keluar dari tubuh berotot itu. Apalagi ketika ia menjadi raja lautan? Ah Baekhyun rasanya tidak ingin meninggalkan mimpi indah itu.
Namun, ia memutuskan bahwa realitanya lebih indah. Karena Park Chanyeol ada disana, ia nyata dan milik sang siren. Meskipun dirinya adalah manusia.
"Kau terlihat bahagia", ujar Chanyeol.
Senyuman yang awalnya sudah lebar semakin lebar menghiasi paras indah Baekhyun.
"Aku memang bahagia", bisiknya.
Chanyeol terkekeh, kemudian mengangguk bersamaan menurunkan tubuh itu ditengah deburan air laut.
Sebenarnya mereka terlalu berat berpisah. Namun sudah terlalu lama Baekhyun tak kembali. Si biru tak ingin ayahnya curiga dan menimbulkan masalah yang tak seharusnya ada.
Bunyi kecipak terdengar saat Baekhyun perlahan melingkarkan lengannya pada leher Chanyeol kemudian menarik si tampan kedalam ciuman mesra yang memabukkan.
Kedua belah bibir itu saling mendominasi, mengecap rasa manis satu sama lain. Membawa sepasang makhluk tuhan itu hanyut dalam gelenyar cinta yang amat menderu.
Beberapa saat berlalu.
Baekhyun memutuskan untuk menjadi yang pertama memutuskan kontak mereka dan tersenyum manis. Kedua iris birunya menatap dalam ke gelapnya sepasang lain milik Chanyeol. Membiarkan dirinya hanyut.
"Selamat ulang tahun, manusiaku". Lirih Baekhyun.
Teramat manis, hingga membuat jantung Chanyeol berpacu dua kali lipat lebih kencang.
"Terimakasih, yang mulia".
Chanyeol terkekeh, memberikan kecupan sayang di kening Baekhyun. Membiarkan bibirnya menempel lama pada kulit mulus itu. Menyalurkan seluruh perasaan cinta yang ada.
"Sayang", bisik Chanyeol.
Baekhyun menggumam pelan sembari terkikik akibat geli bibir Chanyeol yang bergerak-gerak di permukaan kulit keningnya.
"Sebelum kau pergi… Aku ingin kau bertemu dengan seseorang".
Baekhyun dapat merasakan bagaimana Chanyeol mempererat pelukan mereka dan membiarkan bibirnya tetap disana. Seolah tak ingin melepaskan Baekhyun.
"Siapa Yeollie?", ujar Baekhyun penuh tanya. Kedua lengan kurusnya balas memeluk Chanyeol dan mengusap lembut tengkuk kokoh tersebut.
Tiada jawaban.
Chanyeol masih setia memeluk erat pinggang sempit Baekhyun.
"Chanyeol?".
Masih tiada jawaban keluar dari bibir yang menempel pada kening Baekhyun. Mengundang kedipan mata bingung yang lucu dari sang siren.
"Aereviane…".
DEG.
Itu bukan suara Chanyeol.
Memang suara itu berat dan familiar.
Tapi itu bukan suara Chanyeol.
Reflek, Baekhyun melepaskan pelukan mereka. Menimbulkan jarak diantara keduanya untuk melihat siapa pemilik suara tersebut.
Dan ya.
Detik itu, bersamaan dengan sebuah deburan ombak menerpa tubuh keduanya, Baekhyun melihat sosok seorang pria dengan jas hitam.
Seorang pria tampan bersurai hitam yang amat ia kenal.
Well, rambutnya biru saat ia terakhir bertemu dengan sosok itu. Namun tampaknya ritual itu bahkan menghapus semua ciri khas kaum mereka bahkan hingga ke akarnya.
"Aereviane…"
Baekhyun mendorong tubuh Chanyeol dan bergerak mundur.
"A…Adriviane", suara yang biasanya terdengar ceria bak deringan bel itu berubah. Menjadi lebih rendah dan menyeramkan.
"Baby…"
Kedua kristal biru Baekhyun beralih dari sosok di belakang sana, ke wajah Chanyeol yang berada beberapa meter dihadapan sang siren. Paras tampan itu terlihat sedih dan memohon.
Namun terlambat, kecewa sudah menenggelamkan Baekhyun ke dasar.
Membuat lelehan air mata perlahan keluar menuruni pipi mulusnya.
"Apakah kau merencanakan semua ini Chanyeol? Kau bersekongkol dengannya?".
"Baby tidak seperti itu. Biarkan ia bicara dulu hm?".
Satu langkah maju Chanyeol ambil dan dua gerakan ekor mundur Baekhyun lakukan sebagai balasan.
"Aku sudah mengatakannya padamu Chanyeol…"
"Aereviane, Chanyeol melakukan ini karena permintaanku…"
"DIAM!", pekik Baekhyun.
Tampaknya berhasil, karena pekikan itu sukses membuat kedua pria disana mematung.
"Aku amat mempercayaimu… Chanyeol", lirih Baekhyun.
Dan semuanya terjadi begitu cepat.
Sosok indah itu menghilang dibalik permukaan bahkan sebelum sempat Chanyeol mengejarnya.
"Baekhyun!", teriaknya.
Kedua kaki manusia Chanyeol berusaha bergerak secepat mungkin mengejar si biru. Berusaha menemukannya seperti biasa.
Namun tidak.
Si biru sudah pergi meninggalkan kecewanya bersama Chanyeol.
"Maafkan aku, Park. Seharusnya aku tak menyetujui ini"
.
.
Vriryn, 2018
"Yang mulia! Yang mulia tolong!", seekor siren berisisik oranye tampak panik berteriak membelah kesunyian istana Vriryn. Mengagetkan sang raja yang kini tengah asik memberi makan lumba-lumba peliharaannya.
Kening pria tampan itu mengernyit saat melihat sosok siren oranye yang amat dekat dengan puteranya itu tiba-tiba masuk tanpa permisi. Dan jika dilihat dari ekspresinya, sesuatu terjadi.
"Katakan Kylei".
"Y…yang mulia… Aereviane…"
DEG
Seketika sang raja lupa dengan kegiatannya dan beranjak mendekat. Menatap tajam Kyungsoo dengan iris gelapnya.
"Katakan dengan benar!".
"Aereviane diculik oleh manusia! Aku melihatnya dimasukkan kedalam kotak dan dibawa ke kapal!".
Dan sedetik kemudian, awan-awan gelap muncul.
Badai, akan segera terjadi.
.
.
.
To Be Continued
Haiiii!
Aku kembaliii membawa chap 9!
Akhirnya ya setelah 2 minggguuu wkwkwkw
Dan yaaaa, Palleshipe dan Adriviane itu orang yang berbeda gaes hehehe.
Semoga kalian suka ya sama chapter ini wehehehe.
Anyway makasih yaa yang udah baca, review, fav dan follow ff ku! kalian emang terbaikkk
jangan lupa review chap ini jugaa yaa..
supaya aku bisa memperbaiki di chap selanjutnya.
See you on the next chapter.
Bye!
Love
Kileela
