Warning! baca saat sudah buka puasa atau tidak dosa ditanggung sendiri.

Np : bukan M scene hanya beberapa kata kasar yang tidak baik untuk dibaca saat puasa.

Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang melaksanakan.


Title :

What Happened In The Past Part. 1

Disclaimer :

DdhiiaNn

©2014-2016

Main Cast :

Luhan, Oh Sehun

Other :

Member of Exo, and other.

Pair :

HUNHAN

Rate :

T

Summary :

Luhan yeoja brokehome yang periang dan sangat menyayangi eommanya. Cucu dari seorang pengusaha kaya Korea Selatan-Eropa. Yeoja yang lebih memilih bekerja paruh waktu untuk mendapatkan uang daripada menggunakan fasilitas kakeknya. Suatu waktu terjebat di Sebuah negara dan bertemu seorang namja pokerface dan membuat hidupnya terombang ambing. Terjabak diantar dua cinta

.

Cerita ini GS jadi yang nggak suka boleh pergi, dan yang ingin cerita ini lanjut please review yah biar aku bisa tambah energi semangat gitu bikin ceritanya kkk~ okey buat siders please hargai yah kita kan sama-sama manusia apa susahnya review

Enjoy~


Keadaan sekolah lebih tenang dari sebelumnya, tidak ada peperangan antar siswa seperti yang terjadi akhir-akhir ini. Tidak juga acara tarik menarik rambut seperti Kyungsoo dan Baekhyun terakhir kali. Benar-benar tenang. Banyak siswa yang merasa senang karena bisa hidup damai tanpa peperangan konyol disekolah mereka, tapi banyak juga yang ingin melihat interaksi para anak pembuat masalah. Mereka merasa sekolah yang terlalu damai tidak menyenangkan, sama sekali tidak menghibur. Terlebih tidak hadirnya segerombolan anak pembuat masalah dua hari terakhir ini.

Ada yang bilang mereka sengaja tidak hadir disekolah untuk menjaga Luhan yang sebenaranya tidak butuh penjagaan layaknya tuan putri kerajaan. Hei, luhan hanya terkilir pada tangan kanannya.

Kalau pun butuh penjagaan setidaknya satu orang sudah cukup.

Namun, ada juga yang mengatakan bahwa mereka sedang mendapatkan hukuman dari kepala sekolah yang sepertinya tau perihal pertengkaran itu. Belum ada bukti kuat yang mengatakan mereka mendapatkan hukuman. Tunggu saja sampai kapan mereka tidak hadir.

Kyungsoo berjalan menaiki tangga dengan tangan bersendekap dada. Selama masuk area sekolah banyak mata memandang kearahnya dengan pandangan merendahkan. Sudah dua hari ini Kyungsoo dipandang seperti itu oleh teman sekolahnya –yang sama sekali tidak pernah dianggapnya teman.

Semua itu kan bukan sepenuhnya salahku batinnya

Sudah, Kyungsoo muak dengan mereka semua. Langkah kakinya berhenti untuk menatap satu persatu murid sekolahnya, para murid mengalihkan fokusnya untuk menghindari tatapan Kyungsoo.

Dasar pengecut

Sebuah wangi tubuh yang sangat dikenalinya menggelitik masuk indra penciumannya. Pusatnya teralihkan oleh sesosok namja tan seksi yang kini berjalan mendahuluinya. Kyungsoo tidak dapat menyembunyikan senyum dibibirnya. Dia terlalu senang mendapati jongin masuk sekolah hari ini.

"Senang sekali melihatmu disekolah"

Jongin menghentikan langkah kakinya saat sepasan tangan melingkar manja dilengannya. Moodnya benar-benar buruk hari ini karena kejadian beberapa menit yang lalu di apartemen Luhan. Masih diingatnya bagaimana Luhan dengan sadis melempari mereka –Jongin, Chanyeol, Baekhyun, Yifan dan Sehun– berbagai aegyo mematikan hanya untuk membujuk mereka masuk sekolah. Dengan alasan ada Tao disampingnya yang dijamin tidak akan melukainya. Memang benar tapi salahkan perasaan Jongin yang begitu ingin menghabiskan waktu hanya dengan Luhan. Dan sekarang Jongin harus dihadapkan pada kenyataan bahwa ada sepasang tangan bergelanyut manja dilengannya tanpa permisi. Cukup dia butuh pelampiasan.

"Apa aku pernah memberitahumu bahwa aku tidak suka kau seenaknya menyentuh tubuhku, kalau belum aku peringatkan kembali…. Jangan pernah menyentuh tubuhku lagi Do Kyungsoo-ssi" dengan geram Jongin menyentak kasar tangan Kyungsoo dilengannya.

Kyungsoo terdiam di tempatnya memandang punggung Jongin yang beransur menjauhinya. Dengan senyum akan sirat kesedihan dia bertekat tidak akan mengganggu namja itu lagi.

Apa kyungsoo akan menyerah setelah sejauh ini memperjuangkan Jongin? Tentu saja tidak, tidak ada kata menyerah di kamus Do Kyungsso. Dia akan mengambil hati jongin dengan cara yang lain, yang bukan gayanya.

"Sampai saat itu tiba kau akan benar-benar jatuh pada ku Kim Jongin"


Siswa bagian pengurus madding, nempelkan sebuah pengumuman bahwa seminggu lagi sekolah mereka akan mengadakan kemping tahunan. Dimana seluruh angkatan harus ikut serta, kecuali yang benar-benar berhalangan hadir. Ini semacam pesta penyambutan dan pelepasan angkatan pertama dan terakhir. Walaupun acaranya memang diadakan ditengah semester tapi acara ini sangat sukses tahun lalu.

Beberapa siswa bergerombol untuk melihat tulisan itu.

"Aku harus beli sepatu baru nanti"

"Kau benar, nanti aku juga akan mengajak-"

"APA INI? Huwaaa~ kemping tahunan" suara berisik menginterupsi gerombolan siswa yang tadi sedang asik mengobrol. Baekhyun gadis itu berteriak kegirangan. Dengan namja tinggi berwajah konyol yang –sialnya sangat tampan menemaninya. Park Chanyeol.

Tangannya mengusap manja rambut halus Baekhyun yang berdiri didepannya "Akhirnya kita akan menghambiskan waktu bersama" Baekhyun tersenyum manis kearah Chanyeol.

Chanyeol menggangguk tanda menyetujui pernyataan kekasihnya dengan tangannya merangkul Baekhyun.

Sepasang namja dengan tinggi badan tidak terlalu berbeda menerobos gerombolan siswa untuk melihat pengumuman yang tersaji di mading sekolah.

"Kemping tahunan, hh kau baik?" ditepuknya pundak namja yang lebih pendek darinya. Sehun.

Senyum tidak suka tersemat dibibir Sehun "Aku tidak akan mengikuti ini"

"Kau yakin? Bagus lah" Jongin yang entah sejak kapan berada diantara gerombolan siswa menyahut dengan nada suara menjengkelkannya.

Mata Jongin menatap tajam Sehun dengan seringai mengejek tersemat dibibir tebalnya. Jongin suka ini kemping tahunan. Dia akan merencanakan banyak hal tentang apa yang harus dia lakukan disana dengan Luhan. Tentu saja tanpa ada Sehun yang akan mengusiknya.

"Ini akan menjadi kemping terindah sepanjang masa"

Tangan Sehun mengepal erat hingga buku-buku jarinya memucat "Semoga kempingnya menyenangkan" ucapnya dingin sembari meninggalkan gerombolan.

"Tentu"

Baekhyun memutar matanya jengah mendengar suara tawa Jongin yang sirat akan kemenangannya. Hell, Jongin benar-benar menjengkelkan hanya dengan mendengar suara penuh kepercayaan dirinya.

Chanyeol membawa Baekhyun pergi dari sana.

Yifan yang sedari tadi hanya mendengar perdebatan –tidak. adu mulut antara dua adiknya. Sejujurnya Yifan sudah sangat ingin menyeret dua adiknya itu untuk berdamai dan melupakan apa itu masa lalu suram mereka. Tapi, Yifan tidak bisa bersikap se-egois itu karena saat masalah itu terjadi dia tidak ada di antara dua adiknya itu. Rasa bersalah kembali mengerayanginya.


"Lu.."

Luhan mendongakkan kepalanya saat melihat Tao duduk di ranjang bagian bawah samping kaki Luhan.

"Ne, ada apa eonni"

"Wufan yang kau bicarakan itu Wu Yifan?" terdengar ragu di suara Tao saat menanyai Luhan tentang Yifan. Sejujurnya dia merasa sedikit gugup entah karena apa.

Luhan mengerjap lucu sebelum mengganggukan kepalanya imut "Iya, Wufan. Wu Yifan itu orang yang sama eonni. Kenapa bertanya seperti itu?"

"Hanya sedikit penasaran. Kau tau aku sedikit merasa tidak nyaman setiap kali dia ada disekitarku"

"eonni.." Binar mata Luhan menatap curiga Tao. Ponsel yang sedari tadi ditangannya diletakkan di nangkas samping ranjangnnya "You fall in love with him"

Tao tersedak ludahnya sendiri mendengar ucapan polos Luhan dengan segenap kecurigaannya. Jatuh cinta, tidak secepat ini kalaupun dia jatuh cinta dengan namja berlebihan tinggi badan itu. Dia hanya merasa aneh saat berada di area yang sama dengan Yifan. Apa itu bisa dikatakan dia jatuh cinta?

"sebenarnya berapa kali sih eonni menjalin hubungan sepasang kekasih? Begitu saja tidak tau" ejek Luhan terkikik.

"Bu-bukan seperti itu. Haish ini tidak bisa dikatakan jatuh cinta oke?" Tao beranjak dari duduknya. Menatap Luhan dengan tajam tapi yang ditatap malah asik menggodanya.

"eonni. Aku tau Wufan oppa sangat tampan, jadi tidak bisa diragukan kalau kau akhirnya jatuh terperosok, berguling-guling, terbentur batu, lalu meluncur lebih dalam ke pusaran pesonannya. Jatuh cinta di pandangan pertama tidak terlalu buruk" Luhan tertawa melihat Tao terbirit-birit pergi dari kamarnya dengan rona merah dipipinya.

Ponsel Luhan bergetar karena panggilan masuk. Senyum Luhan mengembang saat tau siapa yang menelfonnya.

"Hallo, eonni" Luhan mengernyit tidak suka mendengar suara sedih itu.

"soo-ya, kau kenapa?" Terdengar kental nada bicara Luhan yang mengawatirkan penelfon diseberang sana.

"Aku sudah mengambil keputusan eonnie"

Alis Luhan bertautan bingung "keputusan?"

"Aku akan memutuskan pertunangan ini eonie, bersama dengannya membuatku semakin sakit"

Jadi ini yang membuat adik dari sahabatnya itu menangis. Sudah banyak air mata yang tumpah dari pertunangan sepihak mereka. Sebenarnya Luhan sangat penasaran seperti apa rupa adik sahabatnya ini begitupun tunangannya. Beberapa kali Luhan mengajak adik sahabatnya itu bertemu. Tapi sebanyak itu pula mereka tidak bisa bertemu, dengan kepentingan mendadak yang Luhan sendiri heran. Apa dia memang tidak diperkenakan untuk bertemu yeoja bersuara malaikat yang sering menceritakan keluh kesah kepadanya, yang Luhan sering panggil "soo-ya".

"Kau mengambil keputusan yang benar, jangan menangis eonni ada disini bersamamu. Masih banyak namja yang lebih baik dari tunanganmu itu soo-ya"

"Tapi soo takut eonni"

Luhan bisa memahaminya. Soo yang dikenalnya sangat rapuh. Selalu menangis kala menceritakan tentang tunangannya yang tidak sekalipun disebut namanya itu. Luhan berusaha sebisanya menggantikan peran seorang kakak untuk Soo selama kakak kandungnya belum kembali ke korea.

"eonni selalu berada dibelakangmu soo-ya"


Tao membukakan pintu apartemen Luhan. Ada Sehun berdiri didepan pintu dengan menenteng tiga bubble tea kesukaannya.

"Untukmu noona" Tao menerima satu bubble tea rasa original.

"Original?" tanya Tao bingung

"Karena aku tidak tau selera noona apa jadi aku membelikan original untukmu" sahut Sehun memasuki apartemen Luhan.

"Oke thanks Sehun" Tao berlalu meninggalkan Sehun yang sekarang sudah berdiri didepan kamar Luhan.

Tok tok

Dengan percaya diri Sehun mengetuk pintu kamar Luhan.

"masuk"

Senyum Sehun mekar mendengar suara selembut permen kapas menyahut dari dalam kamar. Oh! Sehun sangat merindukan Luhannya. Walaupun baru beberapa jam tidak bertemu.

"Hai" sapa Sehun saat melihat Luhan membenarkan posisinya bersandar pada kepala ranjang.

Mata Luhan berbinar cantik saat sorot matanya menangkap sesuatu yang dibawa Sehun "Bubble taro untukku" ucapnya percaya diri.

"Dengan syarat kau sudah makan" Sehun menjauhkan bubble taro dari jangkauan Luhan.

Luhan mencibir tidak suka kepada Sehun. Bibirnya dipoutkan lucu sebagai tanda tidak suka dengan pernyataan Sehun. Dia memang belum makan karena efek obat yang dikonsumsinya membuat selera makannya memburuk. Mulutnya selalu merasa pahit setiap kali berusaha menelan makanan buatan Tao.

"Syarat yang lain?" Luhan mencoba bernegoisasi.

"Pertama makan, kedua makan, ketiga kiss me, kau berhak memilih satu" Sehun tersenyum senang mendengar suaranya menyebut syarat untuk Luhan yang terakhir. Hell bisa-bisanya dia mengambil kesempatan di kesempitan Luhan. Eoh!

Luhan melotot tidak terima. Walaupun, yah! Sehun sering –sangat malahan– menciumnya tetap saja, kalau dibicarakan secara frontal Luhan malu bukan main. Terpaksalah Luhan mengambil syarat yang pertama. Makan. Dari pada di makan lebih baik dia yang makan.

Dihempaskannya nafas kasar sebelum menjawab dengan berat hati "Makan" cicitnya lemah.

"Keputusan diterima setelah makan. Kau wajib memberiku welcome kiss" final Sehun beranjak keluar dari kamar Luhan tanpa memperdulikan teriakan tidak terima Luhan.

Suasana hati Sehun selalu berbunga saat bersama Luhan. Itulah kenapa dia tidak akan membiarkan siapapun mengambil sumber rotasi hidupnya.

Omelan Luhan tidak pernah habis sampai Sehun kembali dengan nampan berisi makanan untuk Luhan.

"Dasar Oh pervert Sehun, aku tidak akan memberimu welcome-kiss absolutely no.. not fear" rancau Luhan menatap Sehun tajam walaupun sama sekali tidak berpengaruh untuk namja itu.

Tatapan Luhan yang tajam justru terlihat lucu dimata Sehun. Kalaupun Luhan ingin memberi tatapan tajam dia harus mengambil jam tambahan pelajaran bertatap dengan Sehun si pangeran bermata setajam silet. Ups!

"Lu, buka mulutmu"

"Tidak, selama kau tidak akan memakan bibirku setelahnya"

"Siapa yang akan memakan bibirmu Lu?"

"Tentu saja kau"

"Kau ini, akukan minta cium bukan memakan bibir seksimu"

Entah kenapa mendengar Sehun tertawa senang didepannya menjadi pemandangan paling indah yang pernah dilihat Luhan. Mata sipit Sehun yang membentuk eyesmile sempurna membuatnya berkali lipat lebih tampan dari putra korea sekalipun –kalaupun itu ada.

Luhan tersenyum samar. Tangannya menangkup kedua pipi Sehun membuat tawanya terhenti. Gerakannya sangat cepat saat Sehun tidak menyiapkan kemungkinan terburuknya. Matanya melotot melihat pertama kalinya Luhan seberani ini padanya.

Bibir manis nan kenyal Sehun dilumat gemas oleh Luhan dengan segala kelembutan yang ada. Sehun masih terdiam tidak mampu berbuat apa-apa.

Detak jantung berbunyi bagai alunan musik romantis. Saling bersautan. Jantung keduannya berdetak lebih keras dari biasanya. Terlebih Luhan yang memberikan Sehun shock kiss manisnya.

Luhan berdehem rendah. Matanya berkedip-kedip gugup menyadari apa yang baru saja dilakukannya. Pipinya sudah merona merah saat kepalanya tertunduk malu.

Senyum cerah terbit bagai matahari dibibir Sehun. sangat menyilaukan. Ini pertama kalinya Sehun tersenyum sesenang ini dalam hidupnya. Tidak saat hyungnya mengakuinya, bukan juga saat eommanya memberikan mobil kesukaannya dikado ulang tahunnya. Hanya dengan shock kiss Luhan yang manis ini bisa membuat mood Sehun membaik.

"Bisa kita ulangi lagi?" Sehun memecahkan keheningan.

Luhan mendongak menatap tak percaya pada Sehun "Apa maksudmu?"

"Kau tau aku belum siap tadi, dan sekarang aku sudah siap" Sehun memajukan bibirnya sambil menutup mata.

Pletak

Sehun memegang bibir monyongnya (?) yang baru saja mendapatkan pukulan manja dari yeoja bermata rusa didepannya. Luhan tersenyum manis dengan kesan mengejek yang kental untuk Sehun.

"Kau pelit sekali" rengek Sehun lengkap dengan wajah kelewat imut.

Luhan cengo melihatnya "Ya! Oh Sehun kau makan apa di sekolah tadi?" kalau boleh Luhan jujur melihat Sehun bertingkah imut didepannya sangat menakutkan.

"Em…" Sehun menatap langit-langit kamar Luhan. Berfikir. "Nasi, daging sapi, sup, toge, susu pisang, sayur" jawabnya polos

"Kurasa ada yang menaruh racun di makananmu" seru Luhan sarkas yang ditanggapi lototan tidak terima dari Sehun.

"Apa itu benar? Kau.. siapa kau sebenarnya? Kenapa kau bisa tau kalau ada yang meracuniku?" Sehun menyerbu Luhan dengan beragam tanda tanya.

Sungguh Luhan tidak habis fikir. Sehun ini bodoh atau polos sebenarnya. Satu hela nafas meluncur melewati hidung bangir Luhan.

"Jadi memang benar ada yang meracunimu, kasian sekali" Luhan bertingkah serius

Sehun berkedip-kedip bingung didepannya "Kau bercanda yah?" tanyanya tidak tau malu

"hahaha" tawa hambar buatan Luhan menggema di kamar "Pabo"

"Yakkkk" teriak Luhan saat Sehun membawa kepalanya di ketiaknya. Ditambah dengan cubitan genit di kedua pipi gembulnya dari Sehun.

"Beraninya mengataiku pabo, kau rusa nakal"

"Siapa yang kau panggil rusa nakal, dasar albino"

"Berani menjawab yah sekarang, dasar manja"

"Kau yang manja"

"Oh Sehun kau bercanda ya? Siapa yang merengek minta di cium tadi, apa itu tidak manja?"

Luhan masih berusaha melepaskan diri dari kukungan Sehun. Memang dasarnya Sehun kelebihan kekuatan atau Luhan yang terlalu lemah sih?

"Oh Sehun lepas, tidak?"

"Tidak"

"Yaa… dasar muka datar" geram Luhan

"Aku bermuka tampan Luhan bukan datar kau kira aku lantai" seru Sehun tidak terima dikatai datar. Walaupun memang dia datar. Tapi tetap saja Sehun tidak suka kalau Luhan yang mengatakannya.

"Haish… dasar muka tampan.. puas sekarang lepas"

"Kau tidak ikhlas, aku tidak suka"

"Oh Sehun kau benar-benar, aaakkkh kau membuat tanganku sakit lagi" Luhan menjerit kesakitan.

"Luhan.. kau baik-baik saja?" tanya Sehun kawatir setelah melepas Luhan dari ketiaknya.

Cengiran bodoh menyadarkan Sehun saat itu juga bahwa dia sudah dipermainkan oleh yeoja bermata rusa ini "Tapi bohong" seru Luhan menjulurkan lidahnya mengejek Sehun.

"Kau ini" Sehun menyentil dahi Luhan pelan.

Mereka terbawa suasana sendiri sampai tidak menyadari siapa yang berdiri di depan pintu melototkan mata tidak suka.

"Ehem"

Sehun dan Luhan kompak menengok kearah seorang namja di pintu kamar Luhan. Sehun menatap tidak suka pada namja pengganggu keasikannya dengan Luhan. Sedangkan Luhan dia hanya tersenyum konyol melihat siapa yang datang.

"Oppa" sapa Luhan riang

Chanyeol namja di depan pintu kamar Luhan tersenyum mendengar sapaan lembutnya. Perlahan Chanyeol menghampiri Luhan berjongkok di samping ranjang menghadap Luhan.

"Sudah merasa baikan?" tanya Chanyeol

Luhan mengangguk imut "Sudah" sambil tersenyum

"Sudah makan?" tanyanya (lagi)

Kali ini Luhan menggeleng "Belum, aku malas"

"Waktunya minum obat sebaiknya kau makan"

Aura hitam seakan menguar di dalam kamar Luhan. Tiba-tiba kamar itu berhawa dingin. Mata setajam silet milik Sehun sedari tadi menatap tajam Chanyeol dengan wajah datarnya. Sehun benar-benar tidak suka dengan tingkah laku Chanyeol pada Luhan yang –overprotective sekali.

Sehun seperti harus berhadapan dengan banyak penjaga gerbang sebelum bisa memasuki area Luhan kalau seperti ini rasanya. Chanyeol, Jongin dan Yifan benar-benar seperti satpan yang setiap saat tamu datang harus lapor, dan jika mereka tidak menghendaki jangan pernah berharap bisa lolos memasuki gerbang itu. Terlalu banyak namja yang melindungi Luhan –termasuk dirinya tentu saja.

"Sehun kau tidak mendengarkan ku?"

Sehun tersadar dari acara memandang tajam Chanyeol, saat Luhan memanggilnya. Diliatnya Chanyeol memandang aneh kepadanya juga, Luhan yang terlihat memancarkan binar kawatir dari sorot matanya.

"Eoh!"

"Kau ini..hm Sehunnie aaa"

Sehun maupun Chanyeol mengedip tak percaya. Apa Luhan baru saja memanggil Sehun dengan Sehunnie? Apa sedekat itu mereka? Banyak tanda bersarang di otak cemerlang Chanyeol.

Begitupun Sehun, dia tidak bisa menyembunyikan wajah senangnya mendengar panggilan sayang dari Luhan-nya.

"Aigoo~ makan yang banyak" seru Sehun


Suara TV di ruang tamu mengiringi langka Sehun ke dalam rumahnya. Dapat dilihatnya Myungsoo sedang bersandar lelah sambil menikmati acara TV yang sedang tayang. Sebenarnya Sehun ingin menghampiri Myungsoo tapi niatnya Sehun urungkan. Dia dalam mode badmood karena usiran Chanyeol dari apartemen Luhan tadi. Bagaimana tidak buruk, kalau Chanyeol dengan seenak jidatnya menjewernya keluar dari apartemen Luhan saat ketauan mencium yeoja itu padahal dia sudah berhati-hati agar Chanyeol tidak mengetahuinya. Saat Chanyeol sedang berbincang-bincang dengan Tao, Sehun mencuri beberapa ciuman dari Luhan, yang ditanggapi lototan tidak terima Chanyeol.

Sehun menghela nafas kasar sebelum membuka pintu kamarnya. Mengingat betapa tidak sopannya Chanyeol menggiringnya keluar dari apartemen Luhan membuat moodnya benar-benar hancur hari ini.

"Sehun"

Pegangan tangan Sehun di gagang pintu kamarnya melonggar saat mendengar namanya dipanggil oleh Myungsoo. Sehun menyahut dengan deheman ringan.

Terdengar suara langka kaki di belakang Sehun. seperti Myungsoo sedang mendekatinya.

"Bagaimana kabar temanmu?"

Sehun menyempatkan diri menatap Hyung tersayangnya sejenak "Tangannya di gip, tapi sudah membaik"

Myungsoo bernafas lega "Soojung sangat kawatir dengan kondisi temanmu, dia selalu bertanya padaku apa temanmu itu baik-baik saja. Soojung merasa bersalah sekali dengan insiden itu"

Sehun menepuk pundak Myungsoo meyakinkan sekali lagi "Luhan baik hyung, beritahu Soojung noona tidak perlu kawatir juga merasa bersalah" dengan sedikit senyum Sehun menjawabnya.

"Kau tampak lelah, sebaiknya kau tidur" hati Sehun menghangat mendengar Myungsoo memberinya perhatian seperti ini.

Sehun mengangguk mengiyakan "em.. hyung lebih tampak lelah. Istirahatlah" serunya sebelum menutup pintu kamarnya meninggalkan Myungsoo yang masih berdiri disana. Berfikir.


Suasana apartemen Luhan sejak kepergian Sehun menjadi lebih suram. Tao dan Chanyeol memandangnya dengan tatapan mata yang berbeda arti. Luhan bisa melihat Tao menatapnya dengan sorot menggoda seakan-kan, Tao mengetahui kalau Luhan akhirnya akan bersama Sehun. tapi lain halnya dengan Chanyeol. Dia gemas setengah hidup melihat Luhan biasa saja saat Sehun dengan sejuta keberaniannya menciumnya banyak kali. Sebenarnya apa yang ada di kepala Luhan, sampai-sampai membiarkan Sehun dengan mudah mendapatkan ciumnya. Tunggu, apa Chanyeol cemburu melihat Sehun mencium Luhan? Hei, Chanyeol saja tidak pernah di cium oleh Luhan yang lebih dulu mengenalnya, tapi Sehun. Dia hanya orang baru yang datang ke kehidupan Luhan kan? Dasar Chanyeol..

"Sebenarnya hubungan kalian seperti apa?"

Luhan berfikir. Pertanyaan Chanyeol mengusiknya. Hubungannya dengan Sehun seperti apa? Sehun pernah bilang dia menyukainya tapi mereka tidak sedang berkencan. Lalu Luhan biasa saja terkesan tidak marah saat Sehun memberikan nutrisi berlebihan dengan ciumannya. Luhan juga merasa senang saat Sehun bersamanya.

Chanyeol mengusap kasar muka konyolnya yang kelewat tampan itu "Luhan, kenapa kau tidak menjawab?"

Bibir Luhan terbuka lalu tertutup lagi. Dia masih bingung harus menjawab apa pada Chanyeol.

"Kemarin Yifan menciummu didepan anak-anak, sekarang Sehun juga menciummu. Apa bibirmu memang di obral?" Geram Chanyeol

"Oppa kenapa bicara seperti itu sih?" Luhan tidak suka dengan perkataan Chanyeol padanya.

Jujur dia tidak pernah tau kalau Yifan akan menciumnya waktu itu.

"Oppa marah yah?" cicit Luhan takut-takut. Setidaknya Chanyeol adalah orang yang bisa Luhan percayai. Jadi membuat Chanyeol marah sama artinya membuat hidup Luhan terguncang. Sedikit banyak kemarahan Chanyeol menakutkan sekali.

Luhan jadi ingat saat pertama kali melihat Chanyeol memarahinya. Malam dimana Luhan mengatakan pada Chanyeol bahwa dia akan kerumah Minseok. Cuaca malam itu sangat buruk langit mendung juga angin berhembus sedikit lebih kencang, Chanyeol meminta Luhan untuk menghubunginya saat pulang dari rumah Minseok, tapi Luhan sama sekali tidak menghubunginya. Saat itu Luhan menangis semalaman hanya karena Chanyeol mengacuhkannya setelah memarahinya habis-habisan.

.

"Telfon aku saat kau sudah selsai dari rumah Minseok aku akan menjemputmu" Luhan masih ingat perkataan Chanyeol sebelum menutup sambungan telfonnya pada Luhan.

Luhan sudah berada di depan rumah Minseok. Saat ia memberitahu Chanyeol keberadaannya, Chanyeol sering menghubunginya walau sekedar bertanya Luhan sudah makan atau belum. Chanyeol sudah menjelma sebagai sosok kaka lelaki untuk Luhan. Luhan maupun Chanyeol sudah menjadi teman sejak mereka kecil sehingga tidak menutup kemungkinan perhatian Chanyeol berlebihan kepada Luhan. Setidaknya Chanyeol berusaha menjaga Luhan selama ini.

"Lu, sebaiknya kau menginap saja sepertinya hujan akan turun" Luhan menggelengkan kepalanya tidak setuju dengan usulan Minseok.

"Tidak eonni Luhan harus pulang"

"Sebaiknya kau menelfon Chanyeol untuk menjemputmu, kurasa bersama dia lebih aman ketimbang kau pulang sendiri ditengah hawa dingin seperti ini"

"Aku terlalu sering merepotkan Chanyeol eonni, baiklah aku pulang dulu bye Minseok eonni"

Minseok menatap kepergian Luhan dengan was-was. Sunny sudah pulang beberapa menit yang lalu dijemput Sungmin kekasih barunya. Sebenarnya Minseok ingin mengantar Luhan tapi, sebentar lagi ada sepupunya dari cina akan datang kerumahnya. Dengan ragu Minseok mengambil ponselnya mencari nomor ponsel sebelum menekan 'panggil'.

"Chanyeol, aku tau ini buruk tapi aku tidak suka Luhan pulang seorang diri. Tadi aku menyuruhnya menelfonmu tapi dia tetap keras kepala seperti biasa tidak ingin merepotkanmu. Sekarang Luhan sudah di perjalanan pulang sebaiknya kau jemput dia"

Setelah berucap panjang lebar beserta jawaban melegahkan dari Chanyeol yang diselingi upatan tidak suka akan keputusan sepihak Luhan. Minseok menutup telfonnya.

.

Luhan mengeratkan mantelnya saat angin bertiup semakin kencang. Tetes demi tetes air hujan bersiap membasahi bumi.

Gang yang dilewati Luhan sangat sepi juga beberapa lampu yang padam. Luhan merasa bulunya meremang takut. Tidak seharusnya dia keras kepala berniat pulang sendiri jika kejadiannya akan seperti ini. Didepannya beberapa lelaki bersiul senang melihat kearahnya. Luhan benar-benar takut.

Langkah kaki Luhan berhenti entah sejak kapan. Gerombolan lelaki penggoda didepannya semakin mendekat ketempatnya. Luhan berbalik mencoba berlari menghindari gerombolan itu tapi mereka justru mengejar Luhan.

Luhan tidak perduli dengan kakinya yang akan sakit setelah ini, dia hanya ingin menjauhi gerombolan lelaki yang sepertinya ingin memangsanya itu.

Dalam hati Luhan berdoa supaya ada yang menolongnya.

Sudah 15 menit yang lalu Luhan berlari tanpa tujuan yang jelas. Kakinya serasa mau patah saat Luhan tidak sengaja tersandung bebatuan yang sebenarnya tidak terlalu mengganggu. Karena kakinya sudah terlalu capek Luhan tidak kuat berdiri. Para lelaki yang mengejar Luhan sudah berada di belakang Luhan saat Luhan berusaha merangkak menjauh.

"Mau kemana cantik?"

"Sebaiknya kita bersenang-senang malam ini" seru salah satu lelaki yang ditangannya membawa botol minuman keras entah jenis apa Luhan tidak tau.

Nafas Luhan tersegal dia semakin menyeret tubuhnya kebelakang demi menghindari lelaki didepannya.

"Jangan mendekat" teriak Luhan. Matanya sudah berkaca-kaca takut juga menahan peri ditangan dan kakinya.

"Berhenti bergerak cantik" salah satu lelaki dengan rokok terselip diantara jari telunjuk dan jari tengahnya berucap.

Lelaki itu membuang rokoknya sebelum mencengkram kedua pipi Luhan dengan tangan kanannya "Nikmati saja"

Lelaki itu mendorong Luhan hingga ia telentang di atas tanah, tangannya perlahan membuka ikat pinggang dan kancing celananya. Luhan menatapnya takut.

Kekuatan Luhan terkuras karena berlari tadi, dia tidak bisa melawan para bajingan didepannya dengan jurus wushu andalannya.

Dengan takut Luhan memecamkan matanya erat seperti sudah pasrah akan hidupnya nanti. Salah satu dari bajingan itu sudah berhasil merobek paksa baju yang Luhan kenakan. Entah kemana perginya mantel tebal yang sedari tadi menghangatkannya. Ditubuhnya hanya tersisa kemeja polos berwarna pink pastel yang robek akibat tarikan paksa bajingan didepannya memperlihatkan bra hitam berenda yang Luhan kenakan.

Hawa dingin membekukan tubuh Luhan. Hujan perlahan membasahi bajunya. Luhan terlihat mengenaskan.

Suara benda jatuh membuat Luhan perlahan membuka matanya penasaran. Tetes demi tetes air mata membasahi pipinya bergabung dengan air hujan. Luhan bersyukur ada seorang yang membantunya sekarang.

Luhan memeluk tubuhnya yang gemetar matanya melihat betapa hebatnya namja yang menyelamatkannya, sampai tubuh Luhan sudah tidak bisa digerakan lagi. Membeku karena dingin.

Namja itu membuka kemeja basahnya sebelum menghampiri Luhan. Dengan berani namja itu membentangkan kemejanya menutupi bagian depan tubuh Luhan yang terlihat.

Luhan tidak dapat membuka matanya lagi saat dia merasa nyaman di punggung namja penolongnya.

Namja bermata elang itu membawa Luhan keluar dari gang sempit dan gelap. Bisa dirasakannya yeoja yang sedang terlelap di punggungnya itu bergetar. Dari kejauhan mata elangnya menangkap sebuah halte, dia berlari menerobos hujan dengan membawa beban dipunggungnya.

Baru beberapa detik sampai disana. Seorang namja berkelebihan tinggi badan menghampiri mereka berdua.

Mata mereka saling memandang

"Sehun"

"Chanyeol"

"Kau apa yang kau lakukan padanya?" Chanyeol melepas mantel hangatnya membawanya ketubuh Luhan setelah melepas kemeja basah milik seorang namja penolong yang ternyata bernama Sehun.

"Kau jangan berfikir buruk-"

Chanyeol memotong perkataan Sehun dengan nada sedikit lebih tinggi "Bagaimana aku tidak berfikir buruk jika melihatnya seperti ini"

"-jangan memotong ucapanku Park Chanyeol" seru Sehun tidak terima

"Aku tidak sengaja menemukannya akan jadi santapan para pemabuk di gang semut, kau tau disana sangat rawan dengan hal seperti ini. aku menolongnya tepat setelah bajingan itu menarik paksa kemeja agassi ini"

"Lu, bangun.. Lu kau mendengarku? Haish seharusnya kau menelfonku tadi" rancau Chanyeol tidak menghiraukan keberadaan Sehun yang sedari tadi menatap interaksinya dengan Luhan.

"Jadi kau menolongnya?" Chanyeol menatap mata Sehun saat sudah membawa Luhan dalam gendongannya –ala pengantin.

"Terima kasih Sehun, sebaiknya kau lupakan kejadian ini" Chanyeol meninggalkan Sehun di halte dengan Luhan yang duduk disamping kemudinya.

.

Hujan masih deras saat Chanyeol sampai di apartemen Luhan. Perlahan Chanyeol mengangkat Luhan yang masih tertidur di bangku samping kemudi, dengan hati-hati takut Luhan akan terbangun.

Luhan mengerjap lucu saat merasa tubuhnya berada di sebuah sofa empuk (?). Ada Chanyeol didepannya mengobati luka di tangan dan kakinya.

"Channie" cicit Luhan serak

"Bagaimana bisa seorang yeoja jalan sendiri di tengah malam"

"Bagaimana kalau kau jadi santapan penutup bajingan itu?"

"Sebenarnya apa yang ada di otakmu Luhan?"

"Kan aku sudah bilang telfon aku, apa susahnya si menekan tombol 2 di ponselmu"

Chanyeol meluapkan semua kemarahannya pada Luhan. Dia begitu menghawatirkan Luhan.

"Sekali lagi kau seperti ini aku tidak akan pernah peduli lagi padamu" final Chanyeol meninggalkan Luhan yang masih menggunakan baju basahnya, masih terpaku duduk di sofa apartemennya.

Luhan berjalan tertatih masuk kedalam kamarnya. Setelah melempar baju basah dan menganti pakaiannya menjadi lebih hangat Luhan merebahkan badannya di atas ranjang empuk nya.

Air matanya menetes mengingat perkataan Chanyeol. Semua salahnya, seharusnya dia tidak keras kepala. Chanyeol pasti kawatir dengan keadaannya.

"Maaf…maaf" rancaunya

.

Malam semakin larut tapi Luhan tetap menangis walaupun matanya terlelap.

Suara pintu kamar Luhan terbuka. Disana berdiri Chanyeol yang sejak tadi gelisah di kamar tamu apartemen Luhan. Bahkan Chanyeol sama sekali tidak menjawab panggilan Baekhyun hanya karena merasa bersalah pada Luhan –sahabatnya. Tidak seharusnya Chanyeol memarahi Luhan disaat yeoja itu baru saja mengalami hal buruk.

Perlahan kakinya menghampiri ranjang dimana Luhan tertidur dalam tangisnya. Mata Chanyeol memanas seketika. Melihat Luhan terluka membuatnya merasa buruk pada kakek Luhan. Dia sudah diberi tanggung jawab untuk menjaga Luhan oleh kakeknya tapi Chanyeol merasa gagal menjaga Luhan.

"Channie, mian.." Luhan mengigau di dalam tidurnya.

Chanyeol merangkak naik ke ranjang Luhan, ia tidur terlentang diatas selimut yang menyelimuti tubuh Luhan. Perlahan ia merubah posisi tidurnya menghadap Luhan. Dihapusnya air mata yang membasahi pelipis Luhan dengan tangan besarnya. Lagi, airmatanya ikut menetes melewati hidung bangirnya. Dibawanya Luhan kedalam pelukan hangat miliknya.

"Sst.. jangan menangis lagi Luhan, tidurlah oppa akan memelukmu"

Seperti biasa Chanyeol menginginkan Luhan memanggilnya 'oppa' tapi Luhan yang pada dasarnya keras kepala sama sekali tidak memanggilnya dengan sebutan 'oppa'.

Chanyeol ikut terlelap menyusul Luhan.

.

Keesokan harinya Luhan bangun seorang diri, tanpa tau semalaman Chanyeol memeluknya. Luhan mencari Chanyeol di apartemennya tapi sosok sahabat baiknya itu sama sekali tidak ada dimana pun sudut ruangannya. Luhan menelfon Chanyeol namun sama sekali tidak di hiraukan olehnya.

Beberapa hari kemudian barulah Chanyeol datang ke apartemennya dengan senyum hangat tidak lagi mengacuhkannya.

.

Luhan jadi merinding sendiri mengingat moment Chanyeol mengacuhkannya. Hell! Tidak tidak Luhan tidak akan mau Chanyeol mengacuhkannya lagi.

Sekali lagi Luhan bertanya "Oppa kau tidak marahkan?" sorot matanya memohon

Chanyeol hanya bisa menghela nafas jika seperti ini "Tidak, hanya saja Sehun keterlaluan bisa-bisanya dia menciummu seperti itu"

"Sebenarnya Sehun sudah sering mencium Luhan, Yeol" Tao nimbrung

Luhan melotot padanya "Ya! Eonni apa-apaan kau ini"

"Sehun sering mencium Luhan, kenapa tidak noona marahi saja si Sehun itu" Chanyeol geram.

Tawa Tao membuat Chanyeol bingung "Sebenarnya mereka sudah dekat sejak di Amerika yeol. Aku saja menyetujui hubungan mereka Luhan dan Sehun"

Entah senang atau sedih mendengar Tao menyetujui hubungannya yang entah seperti apa dengan Sehun membuat Luhan membungkam mulutnya sendiri sambil melotot ke arah Chanyeol yang menatapnya penuh sanksi.

"Kau-"

Bunyi ponsel Chanyeol mengurungkan niatnya memarahi Luhan. Dengan gerakan cepat Chanyeol meninggalkan mereka berdua untuk menyusul Baekhyun yang memang memiliki janji dengannya.

"Fiuh selamat"

Tao mengeleng gelengan kepalanya melihat tingkah laku Luhan.


Keesokan harinya.

Tangan Luhan sudah beransur membaik, Gip ditangannya juga sudah dilepas beberapa menit yang lalu di ruang kesehatan sekolahnya.

Saran Dokter Irene. Luhan harus membuat gerakan-gerakan kecil saat bangun tidur untuk melemaskan kembali otot-otot tangannya yang sedikit menegang.

Baekhyun yang entah sejak kapan menjadi lebih perhatian kepada Luhan masih betah berjalan bersama Luhan menuju kelasnya.

Luhan jangan ditanya dia terlalu senang dengan kehadiran Baekhyun disampingnya.

"Baek.." panggil Luhan lembut

"Iya Lu.. kau membutuhkan sesuatu?" tanya Baekhyun menghentikan kakinya menghadap kearah Luhan yang juga sudah berhenti berjalan.

Luhan menggeleng, sembari tersenyum senang "Terima kasih karena sudah mempercayaiku menjadi temanmu"

Baekhyun diam seribu bahasa. Entah kenapa pembicaraan serius seperti ini membuatnya gugup.

"Sudah ku katakan aku tidak mau berteman denganmu" serunya meninggalkan Luhan yang menanggapi tingkah lucu Baekhyun.

Baekhyun berjalan cepat walau sedikit-dikit menengok kea rah Luhan. Ini lah Baekhyun, dia kekasih Park Chanyeol yang tidak bisa mengekspresikan perhatiannya dengan tepat. Tapi Luhan menyukai yeoja itu saat pertama kali Chanyeol menceritakan tentangnya yang lucu dan mengemaskan tapi juga sedikit galak.

"Katjiga~"


To

Be

Continue


Ddhiiann

IG/TW : Ddhiiann

2016

Juni, 26 2016

EX'ACT


Yeay! Akhirnya update juga…

Disini sudah ada flashback masalalunya Luhan, dan sedikit bocoran -spoilerdikit– masalalu suram Luhan diatas akan berhubungan dengan hancurnya hubungan SeKai.

Dan, disini juga kebuka siapa yang sering telfonan juga sms-an sama Luhan kan, yups! Kyungsoo.

Kyungsoo yang ada di dunia nyata selalu berbuat buruk ke Luhan, jadi Luhan juga nggak ngeh kalau Soo itu sebenernya Kyungsoo. Juga, hubungan rumit antara Kyungsoo dan Jongin yang sama sekali tidak diketahui Luhan –sudah dijelaskan kalau Luhan nggak tau apa-apa dichapter lalu– jadi, Luhannya biasa aja ke Jongin.

Disini Hunhan momentnya lumayan ketimbang kemarin yah… tapi ChanLunya juga kelewat betebaran sih hihi…

KaiLunya nanti yah tunggu di kemping moment.

Tapi untuk Kaisoonya belum janji karena aku bikin Kyungsoo berhenti mengusik kehidupan Jongin nih gimana dong..? #ditendangKaisoo


Klik 'Review' jangan lupa dibawah ini