Disclaimer:
Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya
Pairing: UKNES
Rating: Mungkin M ?
Genre : Drama/Friendship/Romance
Warning:OOC mendewa,ABAL,ABSURD,ANEH,OOT(OUT OF TOPIC),TYPO BANYAK, mungkin akan membuat kehidupan anda menjadi absurd se absurd absurdnya sang author kaga jelas, romace pasti gak kerasa meresap menjiwai, drama yang begitu banyak, persahabatan yang memuakan. Jika anda membaca ini hargailah penulis jika tidak menghargai penulis anda jangan membaca cerita penulis yang aneh dan ga jelas. Ini adalah cerita sebuah permainan Date or Ditch2. Perhatian, jangan membaca sesuai umur you know that! This's rated M orang yang masih di bawah umur tidak boleh membacanya jika anda membacanya sungguh itu dosa kalian mungkin saja penulis menuliskan hal-hal yang mature.
Keterangan :
'Kalimat dalam hati'
"Kalimat langsung"
Happy Reading!~
Mengenang chapter yang lalu….
'Cup'
"A-arthur ini di luar, ini membuatku malu" ujarnya kemudian aku menarik tangannya sehingga ia bertabrakan dengan dada bidangku, memeluknya dengan hangat "Terimakasih Nesia"
"Um" gumam Nesia
Aku melepaskan pelukanku kemudian melihat jam tangan, ini sudah waktunya hampir berangkat jika tidak aku akan telat ke Belanda "Aku harus ke Belanda, jaga dirimu ya" yang di balas dengan anggukan lalu aku membalikan badanku kemudian berlari kecil
.
.
Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya
Netherland
.
.
Normal POV
"Cut!" teriak Elisa dengan menggunakan toa, Elisa meletakan toanya di meja tepat di sebelahnya, melangkah perlahan menuju kedua tokoh utama pemain drama ini terlihat dari kedua mata Elisa berbinar-binar penuh semangat langkahnya tenang dan semua staff entertainment menatap pergerakan Elisa "Kiku! tolong kamu edit latar belakangnya seperti di bandara dan kau kan sudah merekam suasana di bandara, gabungkan itu dengan skill mu ya Kiku" Elisa tersenyum ramah
"Baik Elisa" Kiku pun tersenyum lalu menunduk sedikit memberi hormat
"Kerja bagus kalian!" ujar Elisa menepuk-nepuk pundak Arthur dan Nesia "Kurasa kita habis kerja, setelah drama ini terbit kita rayakan bersama!" teriak Elisa kemudian mencengkram pundak Arthur dan Nesia "Hehehehe!" tawa Elisa mulai meledak karena begitu bahagia, akhirnya episode kali ini tidak ada yang membuatnya kesal atau pun pengacau
"Eh?!" semua staff entertainment kaget
"Hore-hore!" Feli mulai senang dan berlarian berkeliling ruangan
"Elisa! Hohohoho~" Francis mengacungkan jempol lalu melepaskan pakaiannya yang hanya tersisa boxer pada tubuhnya
"Kerja bagus semua!" ujar Kiku kemudian membungkuk hormat lalu wajahnya berseri-seri, ah sepertinya hanya Kiku yang normal di sini ?
"Feli, hati-hati menabrak-" belum selesai Ludwig bicara, Feliciano sudah menabrak Ludwig yang sedang berjalan sehingga Feli dalam pelukan Ludwig "Makanya hati-hati Feli" ucap Ludwig menatap Feli khawatir
terlihat Willem sedang adu tarik tambang bersama Arthur, kini yang di tariknya adalah Kirana yang menjadi objek sang korban dalam adu mulut mereka berdua memaksa Kirana untuk bersama salah satu diantara mereka untuk diajak makan malam yang akhirnya ajakan itu di tolak dan setelahnya Antonio mengajak Kirana kemudian di terimanya hanya untuk menghindari tarikan tambang Willem dan Arthur, kedua saingan Willem dan Arthur ini memberikan death glare pada Antonio lalu datang lah Alferd dengan membawa makanan hamburger banyak di tangannya
"Arthur ayo kita makan bersama" ucap Alferd yang notabennya sebagai sahabat sejati Arthur, lalu Arthur menerima ajakan Alferd dan mengendus kesal
"Hah" Arthur menghela nafas sabar "Al, bagaimana bisa kamu france kiss dengannya?" raut wajah Arthur semakin di tekuk karena jengkel
"Ayo lah sobat, itu hanya sandiwara lagi pula aku tidak terlalu tertarik dengannya walaupun dia memang menarik sih hmm" Alferd mengunyah makanan "Kejadian itu jangan di pikirkan lagi, yang di perpustakaan juga Arthur, saat itu aku tidak sengaja sungguh!" lanjut Alferd mengibaskan lengannya ke udara, Arthur melirik Alferd kemudian mengambil salah satu makanan kemudian memakannya "Baiklah" kini Arthur kembali tenang setelah memakan burger dari Alferd, Arthur keluar ruangan dan pergi ke sesuatu tempat yang lebih tenang.
Ruangan itu terlihat ricuh seperti pasar, Elisa sendiri sekarang beradu mulut dengan Gilbert karena Gilbert menggodanya, sedangkan sang suami Elisa yaitu Roderich yang sudah terbiasa dengan aktifitas Gilbert maka memainkan pianonya dengan wajah tenang, Roderich tau jika Elisa akan menampar Gilbert dengan fringpan, Roderich sangat menikmati alunan musik di telinganya dari pada suara gaduh di sekitarnya
"Kakak!" teriak Kirana sembari melambaikan tangannya di depan muka Rangga, hubungan Kirana dan Rangga sebagai saudara kembar walau tidak identik, Kirana masih membangunkan kakaknya, disamping Kirana ada Antonio yang masih menunggu Kirana
"Kak Rangga!" Kirana mengoncang-goncangkan tubuh kakaknya yang melamun
"Apa!" Rangga kaget akibat Kirana yang cukup kasar terhadapnya
"Apaan sih kak! Ayo kita pergi makan, Kirana sudah lapar, ah temanku juga ikut" Kirana menunjuk Antonio disampingnya "Dia telah menyelamatkan aku dari dua orang yang menarik-narik aku" lanjutnya dengan senyuman hangat lalu Rangga menoleh ke Antonio dan berkata "Kau tidak bersama Romano?" Rangga yang sebenarnya gak sudi jika ada orang yang dekat dengan adik manisnya "Jika Romano tau kalau kau bersama adik ku, hmm mungkin kau tidak akan dibuatkan jus tomat lagi olehnya" perkataan Rangga membuat Antonio teringat Romano kesayangannya
"Ah kau benar! baiklah sampai ketemu lagi" Antonio buru-buru meninggalkan studio karena tidak mau Romano menunggunya
"Kak, ayo kita makan di luar" Kirana mulai manja dan tangannya bergelayutan merangkul tangan Rangga, Kirana memang manja pada Rangga karena kebiasaan dari kecil
saudara kembar ini melangkah keluar dari ruangan studio Elisa, menaiki motor bersama Rangga
"Kak" suara Kirana terlihat lembut dan pelan di telinga Rangga sembari memeluk Rangga dari belakang
"Hm?" Rangga bergumam
"Setelah makan aku mau mandi kembang tujuh rupa" Rangga baru sadar kembali bahwa adiknya telah ternodai saat menjadi peran itu "apakah Kakak bawa bunganya?" tanya Kirana
"Tentu" Rangga sembari mengendarai sepedah motor itu, jarak hotel yang di pesan tidak jauh dari tempat studio Elisa "Mau makan dimana?" tanya Rangga pada adiknya
"Pesan antar juga boleh, aku sudah lapar" ujar Kirana, beberapa menit kemudian mereka sampai di hotel dan bergegas masuk ke dalam hotel lalu menuju lift
"Ara-Ara, kalian pasangan yang serasi" ujar seorang nenek asing yang melihat Rangga dan Kirana
"Maaf nek, kami saudara kembar" ucap Rangga to the point
"Begitu rupanya, pantas saja kalian terlihat saling sayang" ucap nenek pada Rangga dan Kirana
"Ngomong-ngomong kak, Elisabeth mengajak makan bersama tapi kapan ya hmm.." ucapku yang penasaran
"Siapa yang tahu" Rangga mengangkat kedua bahunya, tak lama kemudian mereka masuk dalam kamar hotel tersebut dan memesan makanan
"Kirana, setelah makan malam bersihkan badanmu itu dan jangan lupa dengan kembang tujuh rupa kemudian berlatih naskah itu, aku bisa membantumu" ucapnya kemudian tersenyum
"Mohon bantuannya kak" ucapku bersemangat
.
.
Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya
Netherland
.
.
"Oke,babak ke enam akan segera mulai! Semuanya harap bersiap ditempat masing-masing!" ujar Elisa "Camera ready? Light ready? Okey rolling action!"
Matahari memancarkan sinarnya sampai memasuki celah-celah jendela kamar, hangatnya cahaya matahari pagi walau masih ada beberapa embun pagi di luar, mataku terbuka perlahan melirik jam yang berada di samping kemudian aku duduk dan mulai berdiri melangkah menuju kamar mandi, aku menyalakan keran air dingin dan air panas secara bersamaan menghasilkan air hangat pada bathtub itu lalu aku memasukan sabun cair sehingga airnya penuh busa sabun, aku mulai melepaskan pakaianku dan memasuki bathtub yang sudah terisi penuh, aku berendam sembari bersandar mendongkakan kepalaku ke atas lalu memejamkan mataku memikirkan sesuatu yang sedari tadi mengganjal "Am I fell in love.." gumamku "Maybe" ucapku pada diri sendiri, kemudian aku membersihkan seluruh tubuh tanpa terlewat satu pun, kemudian aku beranjak dan melilitkan handuk pada tubuhku terlihatlah cermin menampakan warna kulit kuning langsat ini terlihat suram dan mataku terasa masih bengkak karena menangis, ya semalam aku menangis melihat tayangan drama sad ending, dan kulitku tidak fresh karena kelelahan membuat laporan yang dikirim email malam itu juga "Ah, mata panda" aku bergumam sendiri dan memegangi lingkaran bawah mata itu, lalu aku mematikan lampu kamar mandi lalu menuju kamar memakai pakaian formal.
Ring! Ring!
Aku mengambil ponsel dan menjawab panggilan dari Francis
"Hello, are you there ?" ucap Francis dengan aksen Francenya yang kental
"Here, whats up ?"
"Good, oh Nesia bloody hell, didnt you went to Netherland ?"
"I've go this morning"
"Willem called me, I think you will come late then let me help with Alice. Nesia wait there"
"Okey" sambungan itu terputus, aku tahu akan terlambat karena penerbangan di sebelum hari itu jadwal penerbangan di tutup sementara karena ada suatu masalah dalam pesawat.
Aku membereskan barang bawaanku bersiap-siap pergi ke Belanda tentunya untuk memenuhi undangan tersebut, pakaian yang aku kenakan adalah pakaian design capelet hingga sepertiga paha dengan jaket milik Rangga yang panjangnya di bawah lutut juga memakai sepatu wedge Bootie dan tidak lupa untuk pakai kaos kaki panjang setengah paha, tidak lupa seperti biasanya aku ikat pony tail membuat tengkuk dan leher dengan kulit kuning langsat itu terlihat jelas lalu aku poleskan lip blam dan sedikit cream anti ultraviolet pada wajah "Persiapan selesai" aku bergumam sembari menatap cermin yang menampakan seluruh tubuh ku, walaupun ini musim dingin tetap saja lebih dingin luar biasa yang aku rasakan seperti sudah membeku saja tubuhku ini, bahkan aku yang tidak terbiasa dengan suhu sub tropis ini, aku mulai beradaptasi perlahan, lalu aku melirik jam tanganku 'sudah waktunya' pikirku kemudian keluar dari kamar Apartement Contemporary Baker Residence Sun Valley ini menuju lobi, cukup lama juga aku menghabiskan untuk bersiap-siap, maklum lah namanya juga perempuan, membutuhkan waktu yang lama untuk mempersiapkan diri sendiri.
.
.
.
"Berapa lama kau menungguku ?" tanyaku pada Francis
"Beberapa menit yang lalu, baiklah kalau begitu silahkan masuk" ucap Francis sembari membukakan pintu mobil belakangnya dengan senyum seindah bunga mawar, ternyata Francis membawa seorang supir pribadi 'Bagaimana bisa orang seperti dia begitu kaya raya ?' ini pertanyaan diri ku yang penasaran
"Terimakasih" ucap ku lalu aku masuk dalam mobil, terlihat pak supir itu dengan cekatan membawa barang bawaanku ke dalam bagasi mobil "Maaf merepotkan"
"Tidak apa, ini sudah jadi tugas aku untuk membalas budi padanya" Francis tersenyum hangat, lalu menutup mobil itu kemudian masuk dalam mobil dari pintu belakang mobil yang satunya lalu duduk berdua dalam satu baris kursi bersama Francis membuatku resah, setelah itu pak supir juga kembali ke tempat duduk dan menjalankan tugasnya, di dalam mobil ini aku dan Francis tidak banyak berbicara, aku tidak tahu harus berbicara tentang apa dengannya, kalau tanya apa hubunganmu dengan Alice pasti aku sudah gila.
"Benar kah kau sedang cuti akhir bulan ini ?" tanya Francis yang memulai pembicaraan
"Ya benar, kau juga pergi ke Belanda ?"
"Tentu sudah jelas bukan ?" dia tersenyum padaku "Bersama Alice, kau dan aku" lanjutnya
"Hanya bertiga, kita tidak ke airport ?" tanyaku penasaran karena memang ini bukan jalan menuju bandara
"Benar, pesawat jet Alice menunggu" Francis menyunggingkan sebuah senyuman cerah yang biasa ia tunjukan
Dalam lubuk hatiku ini aku bertanya-tanya, kenapa mereka sangat baik padaku, mungkinkah ucapan Alice yang membenciku karena iri, waktu itu Alice berkata "Karena kau sahabat Seychelles dan teman dari France bukan berarti aku menyetujuimu mengambil kakak ku juga!" kalimat itu masih terngiang di kepala, aku tahu kalau Seychelles dan Alice itu berteman dan hubungan Francis bersamanya terganggu oleh ku, mungkin Alice tipe orang yang tidak menyukai orang asing memasuki kehidupannya, juga kakaknya yang ingin menikahi ku tiba-tiba dan sukses membuat kepala ku mau pecah, Arthur yang belum memperkenalkan aku pada orangtua nya sudah dibenci oleh adiknya duluan bagaimana nanti jika sudah menjadi pasangan suami-istri, rumit sudah hubungan pertemanan, dan percintaanku begitu memuakan! Aku memutuskan untuk berdiam diri dari pada menjawab ocehan Francis tentang diriku, aku memalingkan muka dan menatap keluar jendela mobil yang masih siang
"Hello Nesia are you there" ujar Francis membuyarkan lamunanku
"Ada apa ?" Francis membuatku kaget karena tepukan tangannya di pundakku
"Kita sudah sampai Nesia, ayolah kau jangan melamun terus" Francis ternyata kadang-kadang dia bijaksana dan memerhatikan orang lain, aku yang hanya menatapnya yang tidak mengatakan apa pun kecuali tersenyum
"Hah" Francis menghela nafas "Jangan berfikiran buruk Nesia, Alice sebenarnya orang yang over potektif seperti kakakmu Rangga" Francis tersenyum ramah dan memberikan setangkai bunga mawar kemudian mengibaskan rambut pirangnya kebelakang "Nah, ayo kita keluar mobil" lanjut Francis lalu mengelus lembut kepalaku, dia bersikap seperti ini membuatkumerinding, aku tahu ini perlakuannya sama seperti anjing kesayangannya yang ia pelihara dengan baik, aku keluar dari mobil Francis lalu membawa barang bawaan ku yang sudah di turunkan oleh pak supir yang cekatan itu
"Francis kita dimana ?" tanya ku penasaran
"Lapangan penerbangan pribadi, Alice meminta bantuan minister Philip Hammond" Francis menjawab sembari berjalan menuju jet itu beriringan dengan ku
"Dimana Alice ?" aku penasaran apakah Alice sudah datang atau belum, karena aku merasa dihormati dan merepotkan dia, aku harus mengucapkan terimakasih
"Sudah di dalam, menunggu kami" sesampainya depan pintu masuk peswat jet ini, aku tidak bisa berkata-kata karena ini baru pertama kalinya aku menaiki jet! Begitu berbeda dari pesawat penerbangan biasa, ini luar biasa!
"Selamat datang, silakan duduk" ucap pelayan mempersilakan duduk dan memasangkan pengaman padaku, aku tidak bisa berkata-kata karena begitu kecilnya diriku dibandingkan dengan Alice
Alice membuka pengaman yang ada di tempat duduknya lalu berdiri mendekat pada ku, kemudian duduk tepat di depan ku yang berhadapan dan sang pelayan memasangkan sabuk pengaman untuk Alice juga memberikan minuman berupa teh hangat yang ber aroma melati, Alice menyesap teh melati tersebut setelah itu ia memberikannya pada pelayan "Tambahkan dua kotak gula lagi" lalu pelayan tersebut kembali ke dapur untuk menambahkan gula yang diminta Alice
"Well, well Nesia, no, Kirana Kusnapharani, kakak ipar eh ?" Alice tersenyum miring menatap wajahku, aku hanya membalas senyuman kepada Alice
"Honey, dont be like that" ucap Francis yang baru masuk dan membelai rambut pirang milik Alice dengan wajah yang masih terpasang senyuman lalu duduk tepat disebelah Alice dan pelayan lainnya memasangkan pengaman untuk Francis
"I'm sorry Nesia, Alice always like that" Francis mengambil tangan kanan ku dan mengecupnya, Alice yang melihatnya ia langsung menarik lengan Francis untuk duduk di sebelahnya "Cih! Francis" Alice memukul kepala Francis, terlihat lah Francis yang merigis kesakitan
"Seandainya saja kakak tidak membuat ku repot karena permintaannya yang memaksa ku untuk mengantar Nesia ke Belanda haa.." ujar Alice memberi jeda pada perkataannya "Mungkin saja aku telah pergi ke Norway yang mengadakan rapat bisnis" kini Alice menatap ku tajam seolah aku ini hama peganggu bagi kehidupannya
"Hei-hei Alice jangan seperti itu pada Nesia, sebaiknya kau berbaikan padanya lagi pula aku tidak mengerti kau sebegitu benci padanya" ujar Francis yang menatap mata Alice dan jemari telunjuknya menunjuk ke arah ku
"Oh ayo lah honey, aku tidak menyukainya karena kau itu sering bertemu" Alice menatap ku dengan tatapan tak suka dan memiringkan bibirnya tanda tak suka
"Hei kakak ipar!" ujar Alice dengan lantang "Kau jangan dekati pria lain, itu pun untuk kebaikan kakak ku! Awas saja jika engkau menyakitinya, tidak akan pernah aku maafkan perbuataan mu itu" lanjut Alice
"Tunggu dulu Alice, aku tidak berbuat macam-macam pada Nesia" ucap Francis yang menyangkal perkataan Alice
"What a bloody liar!" Alice mencubit lengan Francis sedangkan yang dicubit merasakan sakit yang tidak biasa
"A-ah, sudah-sudah jangan membahas hal ini" aku mencoba menenangkan mereka berdua, tak lama kemudian pelayan mendatangi kami dan memberikan pengganti teh yang Alice perintahkan lalu ia berkata "Nona Alice, persiapan sudah selesai, beberapa menit lagi kita akan lepas landas" pelayan itu menunduk hormat pada Alice
"Baiklah, Nico kembali ketempat mu dan terimakasih atas tehnya" ujar Alice yang lalu memberikan senyuman pada pelayan tersebut "Tidak nona Alice, terimakasih kembali" pelayan itu membalas senyuman Alice dan kembali ketempatnya
"Kita akan segera lepas landas, harap pengaman nona dan tuan dipasang" suara pelayan yang cukup keras menggunakan speaker, setelah pengumuman itu sang pilot menyalakan mesinnya dan siap lepas landas
Normal POV
Alice memiliki seorang pelayan pribadi yanng dipercayai oleh keluarga kerajaan ini bernama Nicholas Walsingham, parasnya yang rupawan, berkepribadian ramah, berpakaian rapih, dan style rambut formal ala pelayan pribadi. Nicholas Wlasingham selalu menuruti perintah keluarga kerajaan walau sebenarnya ia akan naik jabatan sebagai kepala pelayan di Buckingham Palace tetapi Alice yang tidak mengingginkannya untuk naik jabatan karena menurut Alice pekerjaan sebagai kepala pelayan akan membuatnya sibuk mengurusi pelayan lainnya untuk displin seperti dirinya selain itu Alice tidak rela jika pelayan pribadi yang ia percayai di ganti oleh pelayan lain, Nicholas Walsingham yang biasa di panggil Nico oleh Alice sudah lumayan lama menjadi pelayan pribadi selama empat tahun lamanya dari umur dua puluh tahun hingga dua puluh empat ini Nicholas Walsingham masih setia melayani Alice dan tetap melajang atas permintaan sekaligus perintah aneh yang lontarkan Alice sejak tiga tahun yang lalu sejak Alice mempergoki Nicholas Walsingham yang tidak disiplin waktu hanya karena membalas pesan text dari pacarnya di saat waktu istirahat oleh karena itu untuk menjadi pelayan pribadi Alice tidak lah mudah, Alice memiliki kepribadian yang disiplin dalam semua kategori, sedikit manja, overprotektif, dan dibalik kata-kata kasarnya dia mempunyai hati yang lembut, kehidupan yang dijalani Alice pun tidak lah mudah bagi pelayan pribadinya yang selalu setia berada di sisinya dalam keadaan apapun yang Alice butuhkan, kehidupan yang super sibuk atau bisa dikatakan juga sangat sibuk itu sebagai seorang pelayan pribadinya dia memberikan jadwal harian yang padat pada Alice dan harus mengetahui kapan dia bangun tidur, mandi, makan pagi, aktifitas bisnis dan non-bisnis, makan siang, makan malam, dan jam tidur untuknya selain itu makanan dan minuman yang ia sukai maupun tidak, Nicholas harus mengetahuinya sebab itu lah menjadi pelayan pribadi Alice tidak lah semudah yang dibayangkan apalagi Alice telah nyaman dengan pelayanan Nicholas, Nicholas seorang pelayan pribadi yang berpendidikan dengan bermodal lulusan sarjana jurusan pelayanan perhotelan di salah satu universitas Inggris juga pelatihan yang diberikan saat tes menjadi seorang pelayan kerajaan yang profesional
Alice memiliki banyak aktivitas bisnis ke luar negeri yang membantu sang kakak menjalani tugasnya, meski seperti itu Alice tetap lah Alice yang tidak akan betah berlama-lama duduk mendengarkan presentasi atau pun rapat, sebagai gantinya sang kakak yaitu Arthur Kirkland meminta permintaan pada sang ratu Inggris Elisabeth II membelikan jet pribadi untuk Arthur dan Alice saat memenuhi tugas mereka, permintaan itu menanggapinya dengan hal positif oleh ratu Inggris, begitu lah asal mula Alice dapat bebas ke luar negeri untuk memenuhi tugas mereka dan jet pribadi itu disimpan aman juga merawat mesin oleh teman minister Philip Hammond yang bekerja pada bagian pesawat pribadi kerajaan.
Jet pribadi ini di kenal dengan sebutan jet yang banyak diminati para konsumen pasar seperti selebriti dan miliarder dunia sejak diluncurkan. Jet Gulfstream G650 ini seharga 72,5 juta US dollar memiliki model terbaru, pesawat ini bisa terbang dengan delapan penumpang dan empat awak sejauh tujuh ribu mil non-stop, pesawat ini memiliki kecepatan 0,925 mach, pesawat jet dengan kecepatan tercepat saat ini. Gulfstream G650 juga mencatat permintaan yang tinggi setelah membeli untuk di jual kembali dengan keuntungan sebesar lima juta US dollar sampai tujuh juta US dollar [1]
.
.
Axis Power Hetalia © Hidekaz Himaruya
Netherland
.
.
Nesia POV
Alice dan Francis yang telah berjasa telah mengantarkan sampai di Belanda dengan selamat dan aku sangat berterimakasih pada mereka berdua karena telah memesan hotel yang dekat dengan tempat acara undangan itu berlangsung, pada musim dingin di negara Netherland ini tidak jauh berbeda dengan negara England, tetapi pemandangan bahkan wilayah meraka berbeda, aku jadi teringat tentang Willem, dia selalu datang ke rumah ku untuk memberikan seikat bunga tulip yang berbeda warna pada setiap pagi hari dan aku juga teringat pada wajahnya yang mengembangkan senyuman hangat padaku saat aku memerlukan bantuan padanya lalu Willem sangat memperhatikan ku, ya dia selalu seperti itu akan tetapi kejadian lama itu adalah bagian dari momen kebahagiaan dalam seumur hidup ku, ya tuhan terimakasih dia sudah membantuku sebelumnya dan bisa bertemu dengannya dalam keadaan yang berbahagia ini, aku berada di salah satu hotel yang dekat dengan tempat anggota keluarga kerajaan Belanda yang mengadakan pernikahan suci sang pangeran Willem dan pasangannya, aku tak menyangka Willem akan secepat ini untuk menikah setelah sekian lama aku berpacaran dengannya yang selalu menolak permintaan Willem, aku merasa tak pantas berada disini, ini acara suci oleh kedua belah pihak pasangan, aku tidak boleh mengacaukannya terutama ini undangan dari Willem yang memintaku untuk datang pada hari berbahagianya tetapi sejujurnya aku masih khawatir pada Willem yang susah sekali melepaskan ku, dari pada memikirkan hal lain sebaiknya aku bersiap-siap memenuhi undangan itu pikir ku, aku menuju kamar mandi lalu melepasakan seluruh piyama yang aku pakai dan menaruhnya di tempat pakaian kotor kemudian menyalakan keran air panas dan air dingin agar air terasa hangat pada bathtub yang berbentuk persegi berwarna putih itu, lalu mencampurkan sabun cair pada bathtub setelah itu aku berendam dan membersihkan seluruh badan pada air yang banyak buih-buih sabun cair kemudian aku membuang air rendaman itu beranjak menuju shower membersihkan rambut menggunakan shampoo setelah itu aku membilas seluruh tubuh ku menggunakan handuk putih dan melilitkan handuk tersebut pada tubuh ku, aku keluar dari kamar mandi dan mengambil pakaian yang berada di koper, membuka koper itu dan memilih pakaian yang akan di pakai untuk pernikahan Willem Alexander sekaligus penobatannya sebagai raja di negeri Netherland.
Aku memakai midi dress adalah pilihan yang tepat untuk acara formal yang diadakan di dalam gedung, sedangkan midi dress baiknya dipakai saat pesta digelar di siang hari dan ketika mengenakan dress saat upacara pernikahan aku menghindari dress berwarna putih agar sang pengantin wanita menjadi satu satunya yang memakai gaun berwarna putih, dress ini pula tidak berlebihan agar tidak dianggap sebagai pencuri perhatian hanya karena mengenakan gaun pesta yang terlalu heboh atau dress yang terlalu sensual di foto pernikahan, dress bermerek KYE ini berwarna pink cream chain dengan motif bergaya hot melt halter neck dress di desain oleh Kathleen Kye fashion label characterized by its fun-loving approach to design and commitment to pushing the boundaries of classic streetwear silhouettes. Sleeveless halter neck dress with rear zip closure and chain cut-out motif at sides, gaun ini kurang lebih seharga IDR tujuh juta, aku memakai aksesoris kalung Tulisi tree of life turqoise necklace by Shivaloka for charisma with material, there are tulsi 4mm, pyrite gold 3mm rondel, amozonite tourquise 3mm rondel, gold brass components, and silk grey, aku juga memakai tas kecil bernama Pink Doxoombre Pouch from Doxology is characterized uniquely crafted ombre leather it's pair with pastel dress like pink cream for lovely wedding ceremony, itu semua aku pakai karena harus terbiasa berpakaian formal dan rapih apalagi ini adalah acara pernikahan pangeran Willem bersama pasangannya yang bernama Maxima yang lahir di Argentina anaknya presiden negara tersebut.
Tok tok tok
Suara ketukan terdengar di telinga ku, langsung saja aku mendekati pintu dan membukakannya agar orang yang mengetuk itu bisa masuk tetapi sebelum itu aku bertanya siapa itu "Alice dan Francis" ah ternyata mereka datang kemari lalu aku membuka pintu mempersilahkan mereka masuk tetapi Francis menolak
"Nesia maaf, kami tidak bisa berangkat bersama-sama pada acara pernikahan Willem" ujar Francis yang menatap ku dengan raut wajah khawatir
"Eh ?" aku binggung dengan perkataannya itu
"Aku dan Francis, hanya berdua, kalau membutuhkan kendaraan aku telah memesan kendaraan limosin di hotel ini untuk mu, itu juga permintaan kakak" ujar Alice
"Kalau begitu mari kita berangkat" lanjut Francis yang menjulurkan tangan kanannya pada Alice dan tangan Alice menerima uluran tangannya "Kami berangkat duluan dah" ujar Alice yang melambaikan tangannya padaku
"Baiklah, dah" kataku sembari melambalas lambaian Alice lalu aku menutup pintu itu kemudian mencari sepatu yang aku taruh di koper besar
'Ini dia sepatu platform ukuran tiga puluh sembilan berwarna punch' kataku dalam hati, dan sebaiknya aku bergegas karena ini sudah siang waktunya berangkat, aku keluar dari kamar hotel dan menguncinya menuju lift yang berada di ujung lorong hotel ini
Ting! Suara lift pintu terbuka lalu aku melangkah masuk dan menekan tombol nomor satu, menunggu hanya sebentar saja dalam diam bersama turis-turis lainnya
Ting! Suara lift pintu terbuka, aku melangkahkan kakiku keluar dan mendekati resepsionis di lobby lantai satu ini
"Good morning miss Kirana, may i help you ?" ujar perempuan itu dengan ramah, di bajunya terdapat name tag bertuliskan Heleen Sofietje, saat itu aku bilang ini sudah siang, memang benar jika para undangan diharapkan datang sebelum mulainya acara itu berlangsung maka aku anggap ini sudah kesiangan
"Morning, my friend, Alice from England, she had served limosin for me" ujarku menggunakan bahasa Inggris, karena aku tidak terlalu fasih menggunakan bahasa Belanda
"Wait a minute" perempuan itu mencari data di komputernya "The limosin will coming in a minute" ujar perempuan itu dengan ramah "Nah, miss Kirana there is it" lanjutnya yang menunjukan mobil itu telah tiba di depan pintu masuk hotel ini
"Thank you" kataku
"Your welcome" perempuan bernama Heleen Sofietje itu tersenyum
walaupun ini musim dingin, aku tidak membawa pakaian hangat ke acara pernikahan Willem, aku tahu pasti di dalam ruangan akan terasa hangat karena mereka memakai penghangat ruangan, saat keluar dari pintu hotel ini angin dingin pagi menyerpa tubuh ku terasa amat dingin bagiku yang tidak terbiasa dengan sub tropis
"Please" ujar sang supir mobil membukakan pintu "Thank you" balasku ramah lalu aku memasuki mobil dan duduk senyaman mungkin, aku tidak bisa berkata banyak mengenai mobil ini, karena mobil ini seperti mobil limosin lainnya besar dan luas ditambah mewah begitu lah pikiran ku mengenai mobil ini, begitu sampai di tempat ini yang bernama Nieuwe Kerk, tempat upacara pemberangkatan berlangsung, di depan altar Willem menantinya dengan pakaian milliter lengkap sembari musik pun terdengar jelas sampai keluar ruangan lalu aku melihat gaun yang dikenakan Maxima Zorreguieta Cenrruti yang menikah dengan putra mahkota Belanda ini dirancang oleh Valentino, gaun bergaya klasik dengan bahan ivory mikado silk membuatnya terlihat mewah, bahan yang mengkilap membuat gaun tersebut memang lebih cocok untuk tidak diberi banyak aksen, yang menarik adalah wedding veil dari bahan lembut yang memiliki corak dan menambah tekstur pada gaun itu disulam dengan tangan alias handmade sebgaimana gaun seorang putri, gaun ini memiliki ekor yang sangat panjang yaitu lima meter dimana dayang-dayang membawa ekornya saat berjalan menuju altar [2].
Usai mengucapkan janji setia dan resmi menikah, layaknya pasangan putri dan pangeran yang sedang berbahagia, mereka tak melewatkan seremoni berciuman di atas balkon istana Beaurs van Berlage, di hadapan jutaan warga Belanda yang antusias menyaksikan pernikahan mereka
"Saya jatuh cinta kepada Maxima karena sikapnya yang menarik, spontan, dan berhati baik" kata Willem sesaat setelah pernikahan mereka, Willem memang tidak berubah, menyukai gadis sederhana yang memiliki hati yang lembut begitu lah sampai engkau akan jatuh cinta padanya dan aku turut bahagia, selepas itu aku tersenyum menatap mereka rasanya air mata ini tak dapat tertahan, aku menangis bahagia karena sahabat ku yang satu ini menemukan pasangan yang tepat untuknya
Normal POV
Saat upacara pernikahan telah selesai, upacara adat turun-menurun pun telah selesai dengan waktu yang cukup lama hampir setengah hari Nesia memenuhi undangan ini dan mengikutinya walaupun tidak terjun langsung dalam upacara tersebut melainkan tamu dari seorang pangeran Willem sebagai teman-temannya, para bangsawan, para pejabat, para petinggi dan para kerabatnya pun menghadiri acara ini.
Pernikahan pangeran Willem memang tidak banyak berita publikasi pada media massa karena Maxima lebih memilih hal yang sederhana tetapi berita yang satu ini memang menarik penonton pada tahun itu, setelah selesai dari semuanya mereka berdua mengadakan pesta pernikahan yang dihadiri oleh para bangsawan, pejabat tinggi, kerabatnya serta teman-teman yang diberi undangan oleh mereka, pesta ini digelar di luar ruangan saat malam hari pada hari itu juga, oleh sebab itu Nesia beristirahat terlebih dahulu kembali ke hotel, membersihkan badannya agar segar kembali dan juga memakai pakaian yang berbeda pada pesta pernikahan pada malam hari itu, berhubung di Belanda dalam keadaan musim dingin Nesia memakai pakaian long dress formal musim dingin yang sedikit longgar dirajut dengan renda berwarna merah marun bermotif batik, tanpa bahan lengan dan dihiasi renda bunga tepat di depan untuk pingang, pada bagian belakang terlihat jelas setengah punggung kulit Nesia berwarna kuning langsat itu, pada bagian setelah pinggang gaun itu tidak dihiasi motif tertentu asli di lukis dengan tangan sehingga terkesan dewasa. Nesia setelah berpakaian ia kembali menaiki limosin yang sudah di pesan selama dua puluh empat jam tersebut memenuhi pesta pengantin pada malam hari.
Pesta diadakan di taman Palace Park, sejarahnya pada tahun 1609 pangeran Frederick Henry membuat sebuah taman istana untuk ibunya Louise de Coligny yaitu di dekat istana Noordeinde yang salah satu dari tiga istana resmi dari keluarga kerajaan Belanda yang digunakan Raja Willem, istana Noordeinde merupakan pusat dari Den Haag yang menjadi peristiwa penting di Belanda.
Taman ini adalah sebuah oase bagi kota Den Haag yang sangat sibuk terletak di tempat yang sangat strategis yaitu pusat kota sehingga taman ini sangat dicintai oleh penduduk Den Hagg, taman berisikan sebuah lawn-lawn, pond, hedges, air mancur, kolam, pohon bersejarah, land art yang menarik dan bunga-bunga saat musim semi tumbuh seperti hamparan kasur yang luas, pintu masuk ke taman istana adalah melalui Mauritskade dengan Mobil dan dapat parkir disekitar lingkungan taman, saat musim dingin ini banyak pohon dengan ranting-ranting yang unik [3]
Nesia POV
Aku berdiri disini sendirian tak berbincang dan tidak tahu harus berbuat apa, disini tidak ada yang aku kenali kecuali Willem, France, Alice dan Arthur, entahlah aku tak bertemu Arthur sedari pagi hingga sekarang, aku sesekali tersenyum ramah jika ada yang menyapaku, lebih baik aku memberikan ucapan selamat pada Willem terlebih dahulu dari pada berdiri sendirian dan hanya melihat-lihat orang lain seperti anak ilang lalu aku mendekati mempelai pria yang berada tak jauh dari tempat ku berdiri
"Willem, selamat atas pernikahanmu" aku mengulurkan tanganku dan tersenyum padanya
"Nesia!" Willem terlihat kaget dan langsung memelukku yang mengabaikan uluran tanganku ini
"Aku senang kau datang kemari, bagaimana kabarmu ?" tanya Willem yang melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahuku dengan kedua tangannya
"Tentu saja aku akan datang Will" aku tertawa senang "Baik kabarku, bagaimana kabarmu ?" tanyaku
"Baik Nes" Willem masih memegangi bahuku dan menatapku dengan senyuman yang masih tertampang jelas di wajahnya yang tampan
"Ngomong-ngomong" Willem menjedakan ucapannya itu lalu wajahnya dekat sekali dengan kuping ku "Pasanganku tidak kalah cantiknya denganmu Nes" bisiknya lalu Willem kembali pada tubuh tegaknya dan melepaskan bahuku
"Jangan macam-macam, ini pesta mu Will, kau tidak boleh membuat semua tamu undangan disini salah paham pada hubungan kita" aku berujar pelan, memastikan tidak ada yang mendengar ini, lalu ada mempelai wanita yang mendekati kami
"Who is she ? Alexander" ujar mempelai wanita itu, karena sebelumnya pembicaraan Willem dengan ku memakai bahasa Indonesia yang dia tak mengerti
"She is my childhood friend, no, best friend right Nesia ?" ujar Willem yang menatap ku
"I'm Kirana Kusnapharani, just call me Nesia" ujarku sembari memberikan senyuman
"Nice to meet you, i'm Maxima. Oh! May i know what you speaking ?"
"Nice to meet you too, Willem and i just speak Indonesian" jawabku
"Yeah, Nesia is my co-bussines too, before she in London, she had worked for secretary Republik Indonesia" kali ini Willem memperkenalkan ku "And for long ago, Nesia and i was in ran-" ucapan Willem aku potong "We are close! Yeah haha" memotong perkataan Willem dan menatap Willem tajam, hampir saja hubungan masa lalunya diungkapkan
"You must be so close" mempelai wanita itu menganggukan kepalanya lalu ada seseorang kerabatnya menyapa Maxima "Well,exuce me" ujarnya kemudian pergi meninggalkan aku dan Willem berdua tapi tak lama setelah itu Willem juga dipanggil oleh salah satu bangsawan Belanda yang akhirnya dia juga mengatakan "Aku tinggal dulu Nes, buatlah dirimu senyaman mungkin oke" lalu Willem beranjak pergi meninggalkan aku sendirian
Aku menegok kanan dan kiri sembari berjalan kaki perlahan, mencari minuman hangat karena tubuhku sudah teramat dingin, aku kira acara ini akan sebentar saja namun nyatanya tidak, pesta di luar negeri itu sangat berbeda, disini hanya ada hiasan pernikahan, makanan ringan, dan segala jenis wine. Aku pasti akan mati membeku di negeri jiran ini, badanku mulai bergetar kecil 'Kenapa aku bisa-bisanya lupa membawa baju hangat!' ucapku dalam hati yang merutuki diri sendiri karena kesalahnnya lupa membawa baju hangat yang padahal aku telah siapkan, aku merasa resah dan risau pada suhu dibawah sepuluh derajat itu lalu duduk ditempat duduk yang telah disediakan, untungnya tempat duduk ini dirasa hangat oleh punggungku, beberapa menit kemudian ada seseorang pria yang memanggilku dari samping, aku berdiri dari kursi itu dan berpaling menghadap pria yang memanggilku sedari tadi.
Musim dingin di Netherland, aku berdiri berhadapan dengannya, berdiri namun terdiam membisu, tak ada satu kata pun yang terlontar dalam mulutku, begitu pula dengannya, jarak diantara kita tidak begitu jauh seperti minggu lalu, kini engkau berdiri dihadapan ku, degupan jantung semakin kian berdegup kencang, aku tak lagi merisaukan musim dingin yang membuatku kedinginan, mata kita bertemu saat salju pertama turun dari langit, aku melihat wajahnya mengembangkan senyuman tak lama kemudian ia berkata "Lama tak jumpa" ucapan yang dilontarkannya membuatku bahagia dia baik-baik saja "Bagaimana keadaanmu ?" ia bertanya sembari melangkahkan kaki mendekatiku perlahan namun pasti, ia menggerakan tangan kanannya lalu memegang tangan kiriku, jari jemari kita bertautan saling mengungkapkan rasa rindu, ia menggenggam tanganku erat dan membuatku merasa hangat "Apa hanya itu yang kau tanyakan Arthur ?" aku menghela nafas jengkel karena ia yang membuat diriku berubah, ia membuatku merasa kesa akan perbuatannya yang egois "Kau yang memaksa ku untuk pergi ke Netherland" baiklah jujur, perkataan ku yang barusan itu hiperbola sebenarnya tidak seperti yang aku ucapkan
Arthur menarik tangan kiriku ke belakang tubuhnya seperti yang ia lakukan saat di bandara waktu itu "Aku tidak memaksamu" Arthur berkata dengan lembut di telinga kananku sehingga hembusan nafasnya bisa aku rasakan disana lalu ia menatap mataku sangat dekat karena dahi kami bersentuhan "Mau berdansa ?" Arthur bertanya padaku dan aku menjawabnya sembari tersenyum "Boleh"
Arthuru memegang tangan kananku dengan tangan kirinya, menaikan sedikit posisi tangan kananku, membawaku ke lantai dansa dengan perlahan tidak buru-buru, aku menikmati setiap momennya, kami saling berpegangan tangan lalu saling menautkan bahu saat kami menuju lantai dansa saat itu lah Arthur yang memimpin jalan ke lantai dansa, aku merasa grogi saat banyak pasang mata yang melihat kearah kami lalu Arthur menatapku sembari tersnyum dan mengatakan "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan" aku hanya diam dan mengangguk
Memulai berdansa, posisi lengan Arthur menempatkan tangan kanannya di punggung bagian tengah ku, tangan kirinya menggengam lembut tangan kananku dan ia mengangkat tangan kanannya hingga bagu pasangan yang lebih tinggi sehingga kami agak mendongkak dari bahu, kami berdiri dengan jarak antara 15 sampai 30 cm, lengan kiriku ditempatkan pada bahu Arthur, kini kami berhadapan saling menatap dan memulai dansa memulainya dengan pergerakan yang lambat dan halus, bergerak ke kiri dan ke kanan saat kami berada dalam posisi lingkaran yang melingkari sang pengantin berdansa di dalam lingkaran ini, lalu bergerak maju mundur, mengubah gerakan berpindah dan berputar, kaki kami bergerak bersamaan saat melakukan gerakan tersebut dan bahuku tetap diam
Arthur yang memimpin dansa ini dengan menarik lalu mendorong perlahan tangan kananku kemudian berputar, bahu dan lengan Arthur tetap tegap namun fleksibel untuk bergerak kearah yang ia inginkan meskipun aku tidak ingin dikontrol oleh Arthur, aku harus percaya padanya dan berharap ia akan melakukan yang terbaik, aku mencoba sebisa mungkin untuk mengikuti gerakannya yang semakin jelas aku membuatnya merasa dalam kontrolnya semakin besar pula kemungkian ia akan memimpin dengan lebih baik, jika Arthur menggeser kakinya, aku harus mengikutinya saat ia menggerakan kaki kanannya ke depan aku harus menggerakan kaki kiriku ke depan.
Gerakan aku harus mengikuti ketukan musik agar aku bergerak kira-kira pada setiap ketukan, ini tidak sesulit kedengarannya karena musiknya pelan, enak didengar, dan mudah diikuti. Jika musiknya tiba-tiba cepat, aku juga mempercepat gerakan step touch kakiku untuk mengikuti musiknya dan memastikan bahwa kami bergerak bersamaan juga pelan atau percepat gerakan lalu tiba-tiba musiknya menjadi pelan, Arthur memutar ku di tengah dansa lalu kembali mendekapku dengan lembut setelah itu Arthur menatap mataku dan sesekali kami mengobrol yang membuatku lebih rileks saar berdansa tak peduli aku mengenal Arthur dengan baik atau tidak, saat ketiga kalinya Arthur memutarku di tengah dansa, ia dengan iseng mencium kupingku dengan lembut
Musik pun mulai perlahan dan berhenti, kami pun berhenti berdansa, Arthur membungkuk sedikit dihadapanku saat mengucapkan "Terimakasih atas dansanya"
Arthur menarikku mundur di lantai dansa, berlari kecil menjauh hingga keluar dari pesta pernikahan Willem
"Kita mau kemana ?" tanyaku penasaran
"Kabur" jawaban Arthur sangat singkat, ia membawaku ke tempat parkir mobil yang ia sewa dan mempersilahkan masuk "Silahkan" katanya, setelah aku masuk kemudian ia yang masuk dalam mobil itu terdapat supir lalu Arthur berkata "It's ready" menggunakan bahasa Inggris lalu sang supir mengacungkan jempol nya kemudian menyalakan mobil melesat menjauhi taman ini
Arthur mengeluarkan sehelai kain berwarna putih dari jas nya
"Aku akan menutup matamu, bolehkah ?" tanya Arthur meminta izin, sebelum aku meng-iyakan pun Arthur langsung memasang kan kain itu untuk menutupi pengelihatanku "Nes, sepertinya kamu kedinginan" ujar Arthur yang waktu berdansa memegang pundakku terasa dingin, lalu ada sesuatu yang hangat menutupi badanku hingga paha
"Apa yang kau kasih ?" tanyaku penasaran lalu mencoba meraba-raba benda yang menghangatkanku itu
"Jas mu ?" tebak ku
"Benar, jangan sampai kau sakit" lalu ia mengecup bibirku lembut
"Bahkan disini pun kau kedinginan" aku merasakan hembusan nafas menerpa hidungku, aku yakin sekarang Arthur sangat dekat dengan wajahku walaupun mataku tertutup
"Jangan berbuat macam-macam" kataku, padahal degupan jantungku semakin kian berdetak kencang, Arthur yang tidak mempedulikan ucapanku itu lalu kembali mengecup bibirku lagi dan lagi, lalu ia menggigit perlahan bibir bawahku "Bolehkah" tanyanya lagi kepadaku tetapi aku tidak menjawabnya lalu aku hanya sedikit membuka mulutku, yah benar perlakuannya yang lembut itu membuatku ketagihan ingin lagi, begitu aku membuka mulut, Arthur kembali mengecupku perlahan, mengesap bibir bagian atasku kemudian pada bagian bawah, lama kelamaan lidahnya mulai bermain di bibirku lalu masuk ke dalam mulut bermain-main dengan lidahku yang pasif, lidahnya mengabsen setiap gigiku, decapan-decapan terdengar jelas di kupingku, saliva kami saling becampur, dan nafas yang memburu
"Eeekkkkmm !" itu pasti suara sang supir, kemudian Arthur melepaskan ciumannya yang membuatkku menarik nafas, nafasku terengah-engah karenanya "Ki-ta hen-tikan sa-ja" ujarku yang masih terengah sembari memegang bahu Arthur
"Kita tunda Nesia" bisiknya tepat di telinga kiriku, muka ku pasti sudah merah padam. Oh Arthur tidak lagi..
TBC
(To be Countinue...)
Tinggalkan jejak
(Review! Don't be silent reader)
[1] info dari salah satus blog (edikoraydotblogspotdotcom)
[2] info dari mbahgoogle
[3] info dari jalan2dotcom
Catatan
Cerita ini hanyalah hayalan, jika saat pangeran Willem langsung dinobatkan itu tidak benar, sebaiknya anda mencari informasi di internet tentang faktanya
Masih banyak kekurangan dari fic ini, mohon dimaklumi karena saya sudah memberikan peringatan
