previous chapter...

Dan karena mereka sama-sama melakukan kepuasan seksual yang di dapat karena melihat orang lain telanjang yang dengan jelas telah mendobrak batas-batas penghalang yang Luhan miliki.

"Datanglah bersamaku, Luhan."

Tidak butuh usaha lebih untuk melakukannya. Luhan merasakan orgasme terbangun dalam dirinya, dengan cepat, dan Luhan memejamkan mata.

"Lihatlah," kata Sehun. "Aku ingin kau melihatku ejakulasi sementara aku melihatmu saat kau orgasme."

Luhan membuka matanya dan menguncinya dengan mata Sehun.

Dan saat itu juga semburan pertama terbang keluar dari kejantanannya, mendarat di perutnya. Kemudian lagi, ada beberapa yang berakhir di pahanya, dan juga di dadanya kemudian menggenang, kemudian mengalir menuruni dadanya.

Napas Luhan keras. Ia tidak bisa menahannya. Luhan sangat dekat.

"Ayo datanglah untukku,"

Sehun mendorong, menuntut lagi. Dan Luhan melakukan seperti apa yang dikatakannya.

.

.

.

peringatan!

cerita ini mengandung muatan dewasa. bagi pembaca yang belum cukup umur dan tidak nyaman dengan muatan dewasa. dianjurkan untuk tidak membacanya. kebijakan pembaca, sangat diperlukan.

.

DON'T LIKE! DON'T READ!

.

REMAKE HUNHAN GS! ROMANCE MATURE DRAMA

pichaa remake hunhan ver

Fade Into Me #2

by Kate Dawes

Chapter 4

.

.

"Kau tidak berpikir kalau itu aneh, kan?"

Luhan menatapnya. "Tidak. Hanya…"

"Hanya apa?"

Luhan tersenyum. "Itu panas seperti di neraka, ya seperti itu."

Mereka selesai membersihkan diri, berpakaian, dan meringkuk di tempat duduk di dekat jendela bersama-sama.

"Kau tahu," kata Sehun, "kita mungkin terbang di atas hutan kota kelahiranmu ketika kita melakukan itu."

Itu adalah pikiran yang aneh,

Terbang di atas kampung halamanku, orang tuaku di sana di suatu tempat, sementara aku berada ribuan kaki di udara di atas mereka, punya pengalaman masturbasi dengan seorang pria seksi, kaya dan menyukaiku.

"Jangan membuatku berpikir tentang hal itu."

"Maaf," kata Sehun, tertawa, dan mendorong tangan luhan.

Kepala Luhan berada di dada Sehun dan ia senang mendengar gemuruh yang jauh di dalam dirinya. Satu jam kemudian mereka mendarat di bandara JFK. Sehun telah mengatur limo yang akan menunggu mereka.

.

.

.

Mereka berada di jantung kota New York City. Itu hampir jam 2 pagi waktu setempat, tapi mereka merasa seperti jam 11 malam saja.

Ketika melaju di kota, Luhan memandang ke luar jendela, mencoba mengintip ke arah gedung-gedung raksasa. LA bukanlah kota kecil, tapi itu seperti tak ada apa-apanya jika dibandingkan NYC. Jalan-jalan masih ramai. Luhan pikir sebagian besar dari mereka pergi dari satu bar ke bar yang lain atau satu klub ke klub yang lain.

Mereka sampai di hotel, lelah, dan Luhan tidur nyenyak sampai sekitar jam sembilan keesokan harinya. Satu-satunya cahaya di ruangan itu lembut dan kebiruan, sinar tipis berpendar melalui jendela.

Dari apa yang bisa Luhan lihat, cuaca sedang berawan, namun tidak hujan. Luhan berbaring di sana selama beberapa menit hanya memandang Sehun. Kemejanya lepas dan T-Shirt putihnya naik disekitar pinggangnya. Sehun telentang dengan satu tangan di belakang kepala.

Ini sedikit berlebihan untuk menyebut seseorang itu sempurna, dan Luhan tidak cukup naif untuk berpikir seperti itu kepada siapa pun. Tapi situasi ini tidak bisa lebih sempurna lagi.

Luhan dengan seorang pria yang tampan yang memiliki hati seperti emas. Sehun telah melindungi Luhan ketika ia berada dalam bahaya malam itu ketika Kris muncul.

Sehun membawanya berlibur akhir pekan yang sangat luar biasa di Napa, dan sekarang mereka di sini berada di New York City, yang menjanjikan sesuatu yang sangat menakjubkan.

Luhan berpikir tentang apa yang mereka lakukan di pesawat. Bagaimana sangat bergairahnya saat itu. Bagaimana Sehun telah melakukan sesuatu yang sangat pribadi di depannya, dan bagaimana Sehun membuat Luhan melakukan hal yang sama.

Luhan tak pernah membiarkan dirinya seperti itu. Tak pernah berbagi sesuatu yang intim, begitu panas, dengan seseorang sebelumnya.

Ketika Sehun bangun, mereka berbaring di sana bersama-sama pada sprei dingin, dengan tubuh yang saling memberikan kehangatan yang lembut. Luhan bisa tetap seperti itu sepanjang hari, mungkin sepanjang akhir pekan, tapi Sehun sangat ingin mengajaknya keluar kota dan menunjukkan pemandangan kota New York.

Mereka keluar makan siang di kafe Perancis. Pergi ke Museum of Modern Art, berjalan melewati Radio City Music Hall, berjalan-jalan di Central Park, dan makan siang di restoran kecil Italia, yang berada di ruang bawah tanah sebuah bangunan, benar-benar wisata gratis.

Pada satu saat Luhan mulai mengatakan sesuatu, Sehun menatapnya dengan mata lebar dan mengatakan padanya untuk menunggu sampai mereka keluar dari restoran.

Kemudian, kembali ke hotel, Sehun mengatakan dia ingin membawa Luhan ke pertunjukan Broadway.

"Serius?"

Luhan pikir suaranya naik satu atau dua oktaf, membuat Luhan terdengar seperti seorang anak kecil yang sudah dijanjikan sesuatu.

Sehun tertawa. "Berpakaianlah."

"Aku tidak membawa sesuatu yang pantas untuk dipakai ke Broadway."

Sehun berjalan ke lemari, membuka dua pintu, dan menunjukkan gaun putih yang cantik.

"Aku memesankan ini untukmu kemarin."

"Aku sedang bersamamu. Bagaimana kau bisa membawanya ke sini tanpa sepengetahuanku?"

Sehun meraih gantungan, melepaskannya dari gaun itu, dan berjalan menghampiri Luhan.

"Aku telah membawanya ke sini. Aku cukup senang kau tidak penasaran untuk melihat-lihat isi lemarinya."

"Sangat indah."

Luhan membungkuk untuk menciumnya.

"Ayolah. Mari kita mandi dengan cepat dan berpakaianlah atau kita akan terlambat."

Mereka kesulitan untuk mandi dengan cepat. Sehun menyabuni Luhan, berlama-lama di payudaranya. Luhan mengomentarinya dan Sehun merasa bersalah.

Luhan memberinya perlakuan yang sama, hanya mungkin lebih kejam. Luhan sudah membuatnya keras seperti batu pada saat mereka sedang membilas.

"Aku ingin bercinta denganmu sekarang," kata Sehun.

Dengan tangan Luhan melilit pada ereksinya yang penuh, Luhan menggeleng.

"Nanti."

"Dasar penggoda."

Luhan tersenyum saat Sehun menciumnya.

"Jika aku menggodamu sekarang, mungkin kita akan kembali ke sini lagi dan kau bisa bercinta denganku sampai pingsan."

"Harusnya kau tidak menantangku," kata Sehun.

Tapi Sehun menerima tantangan itu dan melepaskannya. Sebagian dari diri Luhan ingin agar Sehun mengendongnya, membawanya ke tempat tidur dan melakukannya dengan Luhan dengan keras dan cepat. Tapi Luhan yakin, nanti itu pasti terjadi.

.

.

.

Gaun itu sangat pas. Sehun dengan tuksedonya, mereka terlihat seperti akan makan malam di gedung putih atau istana Buckingham.

Limo melaju dengan lambat. Keuntungan bagi mereka. Dengan sedikit waktu yang mereka punya ketika di mobil, mereka mengisinya dengan saling menggoda.

Luhan hampir saja menyarankan Sehun untuk membatalkan nonton pertunjukkan di Broadway, dan hanya berjalan-jalan saja di NYC, bercinta di limo. Luhan tak tahu apa yang terjadi pada dirinya pada hari itu, tapi Luhan dapat merasakannya bahwa ia sangat bergairah seperti biasanya.

Limo pun berhenti. Luhan tidak melihat-lihat keluar, jadi ia tak tahu kemana sebenarnya Sehun akan membawanya.

Ratusan orang berkumpul di bawah tenda besar. Lampu blitz kamera tak henti-hentinya menyala seperti semburan petir. Area dari pinggir jalan ke pintu masuk bangunan adalah karpet merah.

"Maaf," kata Sehun. "Aku berbohong tentang menonton pertunjukkan."

Luhan melihat ke tenda, melihat judul film, dan dalam huruf besar,

PREMIER TONIGHT!

Sehun meraih tangan Luhan. "Kupikir aku akan mengejutkanmu dengan membawamu ke karpet merah premier film pertamamu."

Wow.

Luhan punya harapan yang tinggi untuk melihat pertama kali pertunjukkan Broadway, tapi ini jauh lebih baik.

Sebelum Luhan bisa memproses semuanya, pintu limo di buka oleh seorang pria berpakaian tuksedo. Sehun melangkah keluar, meraih tangan Luhan dan membantunya keluar.

"Tetaplah bersamaku," kata Sehun, dan mulai menyusuri karpet merah.

Mata Luhan melayang dari kiri ke kanan, melihat semua paparazzi dan penonton. Mereka tentu tidak tahu siapa Luhan, sehingga semua kamera yang berkedip pasti untuk Sehun.

Tapi kemudian Luhan ingat Sehun bilang dia tidak seterkenal itu. Sehun bukan daya tarik terbesar bagi pers dunia hiburan. Walaupun Sehun sangat sukses, dia cukup terkenal, tapi tidak seterkenal Steven Spielberg atau Quentin Tarantino dalam hal ketenaran di mata publik. Dan, dari semua pengakuannya kalau Sehun sudah muak dengan dunia hiburan, dia cukup senang untuk tidak terlalu terkenal.

Hiruk-pikuk kamera tidak begitu ramai seperti yang terjadi untuk beberapa pasangan di depan mereka, dan ketika di dalam Luhan menyadari mengapa.

Itu adalah Nicole Kidman dan Keith Urban. Ada bintang lain berkeliaran di lobi, dan Sehun memperkenalkan Luhan ke beberapa dari mereka, termasuk Kiefer Sutherland. Luhan harus berpura-pura bahwa ia tahu atas apa yang mereka bicarakan ketika Sehun membicarakan sesuatu tentang acara 24, tapi Luhan tidak yakin Mr. Sutherland memperdulikannya.

Kepala Luhan berdengung ketika ia melayangkan pandangannya kelobi dan melihat orang-orang terkenal lainnya, sebelumnya Luhan hanya melihat mereka di TV.

Pada satu titik, ketika Luhan melihat Morgan Freeman, ia meremas tangan Sehun begitu erat hingga Sehun bertanya apa Luhan mau ke kamar mandi atau sesuatu.

"Tidak!"

Kata Luhan, memukul lengannya. Dan dengan sedikit berbisik, Luhan berkata,

"Lihat siapa yang ada di sana."

"Luhan,"

Kata Sehun, tanpa sedikitpun merendahkan suaranya,

"jika kau akan bekerja dalam bisnis ini kau harus membiasakan diri melihat wajah-wajah orang terkenal. Bahkan, kau harus belajar bagaimana menjadi ramah tanpa membuat mereka tahu, bahwa kau kagum pada mereka."

Sehun tahu apa yang dia bicarakan. Sehun tidak akan sukses dalam bisnis sampai sejauh ini jika dia tidak tahu. Dan, Luhan melihatnya menerapkan nasihat yang dia berikan ketika mereka menghabiskan waktu di lobi sambil minum sampanye dan berbaur.

Luhan tepat di samping Sehun sepanjang waktu. Atau, lebih tepatnya, Sehun menambatkan Luhan untuk dirinya sendiri dengan kuncian yang ketat pada tangannya. Luhan kira Sehun tak ingin ia keluyuran dan mempermalukan diri sendiri seperti seorang penggemar yang bodoh. Sekali lagi, Sehun tahu apa yang dia lakukan.

"Apa kau kenal semua orang di sini?"

Tanya Luhan kemudian, setelah film selesai, ketika mereka menghadiri acara after party di lobi utama.

"Hanya beberapa."

"Bahkan dengan orang-orang yang belum pernah bekerja sama denganmu?"

Sehun meneguk white Russian.

"Kau bertemu banyak orang dengan berbagai cara. Ngomong-ngomong, aku ingin memujimu karena meninggalkan ponselmu di tas sepanjang malam. Itu menunjukkan kau bisa mengendalikan diri."

Luhan menyipitkan mata ke arahnya.

"Mungkin aku akan mengeluarkan ponselku sekarang dan mulai mengambil foto."

Sehun mencondongkan tubuhnya ke arahnya, bibirnya di telinga Luhan.

"Mungkin aku akan mengeluarkan sesuatu yang lain dan bercinta denganmu di sini."

Sehun menarik diri, menjaga pandangan matanya tetap dengannya, dan sambil kembali menyesap minumannya. Luhan melangkah menuju ke tengah ruangan.

"Bagaimana kalau di sini?"

Tangan Sehun memegang ikat pinggangnya.

"Baiklah jika kau bilang begitu…"

Luhan tertawa terbahak-bahak. Sedikit terlalu keras ternyata, karena Luhan menarik perhatian beberapa orang di sekitar mereka. Untungnya mereka bukan orang-orang yang terkenal. Luhan melangkah ke arah Sehun dan melingkarkan lengannya di leher Sehun.

"Maukah kau membawaku kembali ke kamar kita dan bercinta denganku?"

.

.

.

"Kupikir kau pernah mengatakan seks di lift adalah klise."

"Ini bukan seks," kata Sehun. "Dan aku tidak bisa menentangmu, itu klise atau tidak, kita akan melakukannya."

Punggung Luhan menempel di dinding lift hotel. Kedua tangan Sehun ada di dinding, di atas bahu Luhan.

"Sentuhlah aku," kata Sehun.

Telapak tangan Luhan meluncur ke bagian depan kemejanya. Luhan merasakan dada dan perut Sehun yang keras di bawah telapak tangannya.

Jantung Luhan berdetak lebih cepat ketika tangannya mulai memegang ikat pinggangnya. Itu masih diikat dan Luhan berpikir apa ia harus membatalkannya, tapi Luhan menjelajahinya sedikit lebih jauh, Luhan menyadari Sehun akan membuka ritsletingnya.

Ereksinya mengarah ke atas sedikit, seolah-olah menunggu untuk menyambut Luhan.

Luhan bisa merasakan kepalanya yang lembut dan sangat bergairah. Pertama-tama dengan telapak tangannya. Lalu Luhan menutupnya dengan ujung jarinya. Ujungnya basah. Sehun benar-benar bergairah.

Sehun mengisap salah satu putingnya saat Luhan menyentuhnya dan Sehun berkata,

"Itu terasa menakjubkan," melalui napas Sehun yang terengah-engah. "Apa yang kau pikirkan?" tanyanya.

Luhan harus ingat untuk bernapas. Ia terus menahan napas, bahkan tidak menyadari hal itu. Luhan menghirup udara dan berkata,

"Aku tidak percaya atas apa yang kulakukan."

"Memegang milikku yang besar di tanganmu?"

"Lebih dari itu," kata Luhan.

"Berdirilah di sini dan biarkan payudaramu keluar, aku ingin menghisap putingmu?"

Perkataannya yang panas benar-benar membangkitkan gairah Luhan. Mendengar Sehun menggambarkan apa yang akan mereka lakukan sedemikian rupa dan jelas membuat Luhan lebih bersemangat. Luhan berkata,

"Kau begitu keras."

"Karenamu."

Sehun mencium Luhan penuh, mulut mereka yang panas dan basah bertemu, lidah mereka saling meluncur satu sama lain bersama-sama dengan semangat yang luar biasa.

Luhan memegang ereksinya, berusaha untuk membungkus jari-jarinya pada kejantanannya yang keras semampu yang Luhan bisa.

Itu panjang dan besar.

Luhan membelainya dari dasar, sampai batangnya yang panjang, ke ujung, lalu kembali turun lagi. Sehun sekeras dari yang bisa Luhan bayangkan ketika seorang pria menjadi begitu bergairah. Kulitnya hangat dan lembut, hampir seperti beludru, terutama di sekitar ujungnya.

Setetes sperma berkumpul di ujung dan jatuh di tangan Luhan, menjadi pelumas saat Luhan mengelusnya.

"Kita harus pergi," kata Luhan.

Kesadaran dan logika tiba-tiba menyentaknya keluar dari kabut yang melanda beberapa menit terakhir.

"Tidak," kata Sehun. "Belum saatnya."

"Apa?" Luhan bingung pada risiko yang dia ambil. "Mereka akan menemukan kita di sini. Seseorang pasti melihat kita."

"Itu lebih baik, kan? Selain itu, aku belum merasakan semua tubuhmu."

"Sehun, aku serius."

"Aku tahu kau serius," ucap Sehun. "Kau juga basah."

Luhan bisa merasakannya. Luhan basah dan panas dan paha dalamnya hampir kesemutan.

Sehun mulai mencium lehernya, salah satu kelemahan Luhan. Luhan sangat terangsang dan itu membuatnya menjadi lebih terangsang dengan resiko yang mereka ambil dan dengan rasa takut tertangkap dan terlihat oleh orang lain di dalam lift.

Luhan merasa kejantanan Sehun semakin keras saat ia mengelusnya lebih cepat. Luhan merasakan denyutannya di tangannya. Luhan merasa itu terpompa. Lalu ia mulai merasakan rasa panas dari ereksi Sehun datang di pahanya, mengalir di kaki Luhan.

Ketika Sehun mulai menyembur, ia menarik tangannya keluar dari celana dalam Luhan dan meletakkannya di dinding, sehingga kedua tangan Sehun berada di kedua sisi kepala Luhan.

Sehun bersandar di dinding saat ia merasakan orgasmenya. Sehun menggerakkan pinggulnya maju mundur, seolah-olah dia sedang bercinta dengan tangan Luhan, dan kemudian Luhan merasakan spermanya muncrat keluar dan kemudian keluar banyak, dan lebih banyak lagi.

"Persetan," kata Sehun melalui napasnya yang berat.

Luhan benar-benar merasa malu. Yang mana ia tahu Sehun menginginkannya. Ketika Sehun akhirnya selesai, dia bergerak sedikit, menaruh kembali kejantanannya ke celananya dan menarik risleting celananya.

"Itu luar biasa," katanya. "Aku pikir ada beberapa yang mengenai gaunmu."

Oh tidak. Bodoh, atau itu mungkin hanya karena keadaan, Luhan bahkan tidak memikirkan hal itu.

"Aku harus melihatnya di tempat yang lebih terang," kata Luhan.

Panik merapikan gaunnya kembali menutupi payudaranya. Ketika Luhan merapikan bagian bawah gaunnya. Luhan rasa itu pasti cipratan sperma Sehun ada digaunnya, mengalir seperti anak sungai dan karena gravitasi itu membuatnya turun ke kaki Luhan.

Sehun mengambil sapu tangan dari jaketnya dan menyekanya sebisa mungkin.

"Ketika kita sampai ke kamar, aku rasa kau harus melepas gaun ini sehingga kita dapat merendam dan mencucinya."

Luhan tersenyum. "Ya."

.

.

.

"Ini bisa menjadi rumit,"

Kata Sehun, sambil menggeser kartu ke tempatnya ketika mereka sampai ke kamar hotel.

"Bagaimana bisa begitu?"

Sehun mengambil napas dalam-dalam.

"Rumit dalam arti…"

Suaranya menghilang.

"...Biar aku jelaskan seperti ini. Bisakah kau menghentikannya?"

"Menghentikan apa?"

"Menghentikan apa yang kita lakukan," kata Sehun. "Jika kita tidak akan pernah lagi melakukan apa yang telah kita lakukan, cara yang pernah kita lakukan, apakah kau setuju dengan itu?"

Luhan memikirkannya selama satu menit. Keheningan dan kediaman Luhan mendorongnya untuk bicara.

"Kukira jawabannya adalah tidak."

Luhan berkata, "Apa yang membuatmu berkata begitu?"

"Karena kediamanmu."

"Keheningan dan kediamanku itu bisa saja salah satu cara untuk memberitahumu kalau aku ingin berhenti?" kata Luhan.

Sehun tertawa. "Aku tidak berpikir begitu, sayang."

Ada keangkuhan dalam nada suara Sehun. Biasanya Luhan akan menjadi orang pertama yang memutar mata dan memberhentikan seorang pria yang begitu yakin akan dirinya sendiri. Tapi Sehun berbeda dalam banyak cara.

Sehun melanjutkan, "Kupikir kau akan mulai dengan caramu sendiri jika aku berhenti."

Sialan. Sehun mungkin benar. Meskipun Luhan tidak mau mengakuinya.

Sehun berkata, "Bisakah kau kembali ke kehidupanmu sebelum denganku?"

"Aku bisa hidup tanpa itu," kata Luhan, mengejeknya.

Kali ini Sehun yang berhenti sebelum berkata,

"Aku yakin kau bisa hidup tanpaku. Tapi pertanyaannya adalah, Apa kau mau?"

Itu memang pertanyaan, dan jawabannya adalah tidak.

Ketika Luhan mengatakan padanya, Sehun meraih tangannya dan membawanya ke kamar tidur.

Sehun berkata, "Sepanjang sore aku selalu berpikir tentang bagaimana aku sangat tidak sabar untuk membuatmu telanjang dan membuatmu klimaks di seluruh kejantananku."

Luhan pov...

Sehun tidak pernah bicara kotor sesering ini sejak aku bertemu dengannya, dan itu mulai memiliki efek memabukkan yang aneh pada diriku.

Sehun menurunkan ritsleting bajuku, dengan cepat mendorong ke bawah tubuhku, dan aku melangkah keluar dari gaunku. Aku berdiri dan punggungku menempel ditubuhnya, hanya mengenakan bra, celana dalam, stoking dan sepatu.

Sepatuku langsung dilepaskannya. Begitu pula stokingku. Sehun melepaskannya dan punggungku masih menempel di tubuhnya, dia selesai membuka bajuku.

Yang terakhir dilepasnya adalah braku, dan dalam hitungan detik, itu juga berada di lantai. Aku benar-benar telanjang.

"Berbalik," katanya.

Aku berbalik, tapi ternyata tidak cukup cepat baginya karena Sehun membantuku berputar menghadapnya. Hal berikutnya yang aku tahu adalah punggungku sudah menyentuh tempat tidur.

Sehun melayang di atasku, menjilati putingku. Aku melihat mulutnya saat dia menjepit ke masing-masing putingku, bolak-balik, mengambil masing-masing secara penuh ke dalam mulutnya.

Dia mencium dadaku di antara payudaraku dan kemudian mulai menuruni perutku dan akhirnya berhenti ketika mulutnya tepat membuat kontak dengan klitorisku.

Aku merasa lidahnya membolak-balik di atasnya. Aku meletakkan tanganku di kepalanya. Aku menggeliat dan Sehun berkata,

"Apa kau ingin orgasme seperti ini?"

"Ya. Ya…" Kata-kataku nyaris tidak bisa keluar.

"Mungkin nanti," godanya.

Tanpa berkata apa-apa, Sehun berdiri, mengulurkan tanganku dan aku menyambutnya. Sehun menarikku ke posisi duduk, berdiri di depanku, berpakaian lengkap. Dia bahkan masih memakai jaketnya.

Masih diam, tidak memperingatkanku sama sekali, tangannya menurunkan ritsleting celananya, dan Sehun memegang kejantanannya yang penuh dan tegak di depan wajahku.

Sehun membelainya. Aku tidak bisa melepaskan pandanganku dari miliknya.

"Aku ingin melihat seperti apa kau terlihat dengan milikku ada di mulutmu," katanya.

Aku memejamkan mata dan mencondongkan tubuhku ke depan, mengerutkan bibirku erat. Aku mencium ujung kejantanannya dan merasa bahwa cairan licin menempel ke bibirku.

"Letakkan tanganmu di sana,"

Katanya, dan aku mengarahkan tanganku memegang miliknya.

Sehun mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur. Aku bergerak mundur sedikit ketika Sehun mencondongkan miliknya ke depan karena ketika pertama kali masuk Sehun memasukannya terlalu dalam.

Dia menyibakkan rambut dari wajahku. Aku membuka mata, menatap, dan melihat dia menjulurkan lehernya ke samping sedikit sehingga Sehun memiliki pandangan penuh dari kejantanannya meluncur keluar masuk dari mulutku.

"Kau tampak luar biasa," katanya. "Begitu seksi. Aku suka bercinta dengan mulutmu."

Aku merasakan punggung yang berurat dari ereksinya di bibirku. Aku merasakan betapa besar ujungnya ketika miliknya digenggam dengan keras dan membuat tonjolannya lebih besar.

Ereksinya mulai berdenyut lebih dan lebih, dan sering. Aku ingin Sehun keluar di mulutku, tapi aku juga tak ingin semua ini berakhir.

Sehun menariknya keluar dari mulutku, meletakkan tangannya di ereksinya dan memberikannya belaian ringan. Aku mencoba untuk mengistirahatkan rahangku. Rasanya seperti kram.

Sehun meletakkan tangannya di bahuku, memutar punggungku.

"Berbaringlah, " katanya.

Ketika aku kembali berbaring di tempat tidur, Sehun membuka pakaiannya. Aku melihat dia melepaskan bajunya dan aku mabuk karena tubuhnya yang indah, atletis, dan keras seolah-olah itu adalah untuk pertama kalinya aku melihatnya.

Saat Sehun berdiri telanjang selama beberapa detik, aku kembali melihat ke bawah dan melihat ereksinya. Kurang dari beberapa detik lagi, penisnya pasti berada di dalam diriku.

Sehun berlutut di depanku dan membelai kejantanannya dengan satu tangan, tangan satunya lagi di antara kakiku, menggosok klirotisku naik dan turun.

"Kau tampak begitu panas," katanya. "Aku harus mencicipinya lagi."

Sehun menundukkan kepalanya di antara kedua kakiku.

"Sentuhlah dirimu," perintahnya.

Aku menggerakkan tanganku ke bawah kakiku, lebih dekat ke arah pangkal pahaku, dan akhirnya meletakkan jariku di tempat yang tepat. Aku membuka diriku, memberinya tampilan close-up dari clitku yang terangsang.

"Indah," katanya. "Tunjukkan padaku bagaimana kau melakukannya."

Aku mengitari jari telunjukku. Sehun mengatakan padaku untuk mengeluarkan jariku, dan ketika aku melakukannya Sehun memasukan jariku ke mulutnya, menghisap, lalu melepaskannya, meninggalkan jariku yang meneteskan air liurnya.

Aku berputar-putar diclitku sedikit lebih cepat, kemudian menyelipkan satu jari ke dalam lubangku, dan sedetik kemudian memasukkan satu jariku lagi.

"Aku suka melihat kau bercinta dengan jarimu sendiri."

Aku menunduk dan melihat seberapa dekat wajahnya. Dalam hati aku meminta Sehun untuk menjilatku, tapi aku tidak bisa memintanya untuk itu. Aku harus menunggu sampai dia siap.

Dan itu tidak butuh waktu lama.

Kepalanya menunduk lagi dan Sehun berbalik sedikit kesatu sisi, mendorong tanganku.

"Semua ini milikku."

Sehun menyelipkan jarinya ke tubuhku, membakar sedikit, memijat lembut dinding dalamku. Dan lidahnya sudah berhenti menggoda dan itu sekarang tepat di mana aku telah nantikan untuk merasakannya.

Aku mengangkat tubuhku sedikit dengan sikuku sehingga aku bisa melihat lebih jauh ke bawah dan dapat melihat dengan jelas terhadap apa yang dilakukannya padaku.

Sehun menggerakkan kedua tangannya di bawahku untuk mengangkat panggulku. Aku memiliki garis pandang yang sempurna sekarang dan mengawasi setiap gerakannya.

"Kau suka melihatnya?" katanya, di antara jilatannya, dan menatap mataku.

Aku mengangguk.

"Katakan padaku."

Aku menghela napas dan berkata,

"Aku suka melihatmu membersihkanku dengan lidahmu."

"Bagus, Luhan. Sangat cabul."

Jari-jarinya membukaku. Lidahnya berputar-putar di sekitar clitku, seperti dia sedang memoles mutiara yang indah.

Jarinya bergerak sedikit lebih cepat, sekarang membuat lingkaran di dalam, mencocokkan gerakan ritmis dari lidahnya.

Aku berkata, "Lakukan, tepat di sana, oh yeah…"

"Mintalah."

"Kumohon," kataku, setelah sejenak melupakan peranku.

Sehun mulai menjentikkan lidahnya di atas dan di bawah clitku, hanya ujung lidahnya saja yang melakukan kontak denganku, mencoba untuk meningkatkan sensitivitas, dan itu sedikit menggoda.

Pinggulku bergerak naik dan turun.

Sehun meluncurkan satu jarinya ke dalam diriku, dan dia bertanya apa aku ingin dua jari. Aku bilang ya, dan merasa sedikit ketat, tapi aku licin dan dengan segera setiap jari dibenamkan dalam diriku.

Lalu jari yang ketiga memasukiku. Tapi bukan di tempat yang kuharapkan. Tanpa peringatan, Sehun memutar tangannya menghadap ke bawah, dua jari di vaginaku, dan ibu jarinya telah memasuki pantatku.

Aku merasakan dinding hangat milikku berkedut dan mengencang, kemudian rileks, kemudian kencang lagi. Sebuah irama yang sempurna dimulai, dan kakiku menutupi kepalanya.

Aku orgasme…

"Oh yeah, yeah, yeah…" Berkali-kali aku mengatakannya, tidak bisa berhenti.

Beberapa saat kemudian, Sehun membungkuk di atasku dan mencium bibirku, mencicipi rasaku sendiri.

Lalu Sehun menuju keleherku, lalu turun, dan mulai mengisap putingku lagi. Aku merasakan ereksinya pada diriku sekarang, di antara kakiku, hanya di luar tubuhku.

Sehun menurunkan dirinya dan mulai meluncurkan kejantanannya disekitar milikku yang basah—cairanku bercampur dengan miliknya.

"Sehun."

Dia menatap dalam ke mataku.

Aku berkata, "Jangan gunakan kondom."

Kami telah membahasnya dan aku telah minum pil KB, tapi tetaplah bermain aman… sampai sekarang.

"Apa kau yakin?"

"Ya. Lakukan. Lakukan saja."

"Aku suka ketika kau memohon padaku."

Tanpa peringatan, Sehun meluncur ke dalam diriku. Aku terkesiap. Dia meregangkanku sambil mendorong dengan dalam, jauh, dan lebih dalam, perlahan-lahan pada awalnya dan kemudian dia memasukkan semua miliknya masuk ke dalam tubuhku, aku merasa bolanya menyentuh pantatku—bagaimana dekatnya kami, dengan miliknya yang masuk seluruhnya ke dalam diriku.

Sehun menarik keluar, tidak semuanya tapi sodokan pendek menghunjamku. Kemudian, kembali, kali ini lebih cepat dan sangat dalam. Ada sedikit rasa sakit. Tidak banyak, tapi cukup di tepi kenikmatan yang aku rasakan.

Dia duduk tegak, kejantanannya dalam diriku, menatapku dan mulai menggoyang pinggulnya maju-mundur.

"Rasamu sangat nikmat," katanya. Sehun melihat ke bawah. "Aku berharap kau bisa melihat ini."

Yang bisa aku lakukan adalah bernapas berat. Aku tak punya sesuatu untuk dikatakan. Aku juga tak ingin Sehun berhenti.

"Apa kau suka kejantananku?"

"Yaaa."

"Katakan saja."

"Aku suka kejantananmu."

"Katakan kau menyukai kejantananku bercinta di dalam milikmu yang ketat."

"Aku suka kejantananmu yang besar di dalam milikku."

Aku merasakan kedutan ereksi Sehun, kemudian berdenyut lebih, berkedut lagi dan kemudian dia berkata,

"Sialan, aku akan keluar, Luhan."

Sehun telah berbaring tepat di atasku setelah orgasmeku dan dia benar-benar akan mengalami hal itu.

Tanganku diatas kepala di tempat tidur pada titik ini. Dia kembali ke posisi duduk dan aku menyaksikan bagaimana dia memandang penisnya keluar masuk…

Lalu aku merasakan semburan panasnya, mengisiku. Sehun gemetar saat dia memompa orgasmenya ke dalam diriku, meledak, seperti Sehun tak akan pernah berhenti ejakulasi.

Tapi ketika akhirnya selesai, Sehun berbaring di atasku, dan aku menyukai, beratnya, panasnya, keringatnya di atas tubuhku.

Kami tidak bicara selama beberapa menit. Aku masih tak tahu apa yang harus dikatakan dan Sehun mencoba untuk menarik napas.

Aku tak tahu dari mana asalnya. Membuat diriku rentan secara emosional padanya, sekarang aku telah membuat diriku secara fisik menjadi miliknya. Tetapi, apa yang keluar dari mulutku adalah,

"Ini adalah hal yang paling menakjubkan yang pernah terjadi padaku."

Sehun berguling ke samping dan menarikku dekat ketubuhnya yang hangat.

"Tunggu sampai kau melihat apa yang akan terjadi berikutnya."

Luhan pov end...

.

.

.

tobe continue

.

.

.

15 Januari 2018

ya, mungkin banyak yang ngira hunhan disini keknya cuman sebatas partner sex aja. disatu sisi emang mereka kayak yg cuman sekedar seneng2 doang, tapi sebenernya ada kisah dibalik itu semuaa (diluar sex) cuman keknya yg lebih dominan nc an nya kkkkk~ semua punya pendapat masing2 ya guys hhe

oiya next chap updatean terakhir yaa, ngefeel remake nya agak menghilang. tapi aku bakal lanjutin kok seri 3 ama 4 nya.

makasih buat yang masih baca dan review remake ini, gomawoo, muaaaahhh~ see yaaaa