Sehun perlahan-lahan membuka pintu kamar rumah sakit bercat putih itu dan melangkah menuju tempat tidur. Ini kali pertama sejak beberapa hari lalu Luhan dirawat di rumah sakit karena percobaan bunuh diri untuk kesekian kali. Dan juga sejak dua hari lalu ketika gadis itu mencoba lagi melukai tubuhnya sendiri dengan pecahan gelas kaca.
Terlambat sekian detik saja, mungkin ia sudah menemukan Luhan tergeletak lemas mengenaskan di lantai dengan tubuh bersimbah darah. Beruntungnya, Sehun menerobos masuk dengan paksa, mendorong tubuh Luhan hingga keduanya berguling-guling di lantai seolah sedang bergulat.
Mengingatnya, membuatnya bisa merasakan lengan atasnya yang masih nyeri karena harus terlempar dengan kasar ke lantai keras. Dan sejak saat itu, Sehun akan setia menunggu Luhan di depan pintu kamarnya. Ia mempercayakan tugas menjaga gadis itu pada Zitao, satu-satunya orang yang tidak membuat Luhan berteriak-teriak histeris.
Meskipun ingin rasanya untuk menemui Luhan secara langsung, tapi selama beberapa hari ini, ia mengurungkan niat untuk masuk kamar itu. Memang ia selalu meminta Zitao atau beberapa bawahannya untuk memeriksa kamar Luhan. Hanya untuk memastikan tidak ada benda-benda berbahaya yang Luhan sembunyikan. Karena bagaimanapun, ia sudah beberapa kali kecolongan dengan kegiatan berbahaya yang selalu dilakukan istrinya itu.
Sementara gadis itu sudah terlelap dengan wajah pias yang damai, tidur terlentang dengan kedua tangan berada di samping tubuh. Luhan terlihat jauh lebih kurus dari biasanya, meskipun seharusnya berat badan orang hamil akan bertambah seiring dengan usia kandungan yang semakin tua, tapi tubuh Luhan menunjukkan perkembangan sebaliknya.
Dan itu juga yang membuat Sehun gelisah sejak lama.
Luhan semakin hari semakin memburuk saja.
Sehun berdiri di samping tubuh lemas gadis itu, mungkin pengaruh obat-obatan yang dokter berikan bisa membuat Luhan terlelap dengan tenang seperti sekarang ini. Mengingat beberapa hari lalu Luhan masih saja menjerit-jerit histeris terutama saat melihat wajah Sehun.
Cahaya temaram dari lampu pijar dilangit-langit kamar jatuh menyentuh wajah Luhan yang pias, menyinari rambut hitam berkilaunya. Wajahnya masih tampak cantik dan luar biasa meskipun Sehun bisa melihat betapa bengkaknya mata Luhan. Mungkin karena gadis itu menangis selama beberapa hari penuh.
Sebenarnya Sehun tau apa yang membuat Luhan menjadi seperti ini. Tak ada kata lain yang bisa menggambarkan keadaannya selain hancur. Dan kehancuran yang Luhan rasakan bukan ia ciptakan sendiri, Sehun ikut andil di dalamnya. Bahkan seolah-olah ia yang menyebabkan semua ini terjadi.
Ia pikir dengan membuat Luhan hamil, meskipun ini bukan hal yang disengaja, bisa membuat gadis itu mengubah sikapnya menjadi lebih baik. Tapi nyatanya, tidak. Ini malah semakin parah.
Sudah lama sebenarnya ia ingin mengubah keputusan untuk menceraikan Luhan setelah ibunya meninggal. Bukan tanpa alasan, jika ia bercerai dengan Luhan mungkin reputasinya juga akan menurun bahkan bisa hancur karena pasti banyak rumor-rumor khayal yang menyebar diluaran.
Dan ia sudah cukup mengorbankan banyak hal untuk tetap membuat namanya dikenal sebagai pengusaha muda sukses yang tidak memiliki kekurangan kecil berupa apapun. Jika pernikahannya yang gagal dengan Luhan diketahui khalayak umum, berani bertaruh, orang-orang diluar sana tidak akan memandangnya sebagai orang yang sama lagi.
Ini melelahkan bagaimanapun juga.
Alasan lain sebenarnya karena perlahan ia sudah bisa melihat Luhan seperti dulu lagi, saat gadis itu masih menjadi nomor satu dihatinya.
Rasa bencinya terhadap gadis itu memang masih ada, tapi ia juga berusaha mengendalikan semuanya.
Sulit memang, tapi Sehun yakin bisa karena bagaimanapun ia sadar apa yang dilakukannya selama ini salah. Rasa dendam pada Luhan tak seharusnya menjadikan dirinya iblis gila yang mengerikan, tapi rasanya sudah terlalu terlambat untuk menyadari ini semua, memulai dari awal, dan mencoba melupakan semuanya.
Semuanya sudah terlalu gelap.
Sekarang, seolah tak ada beda, sikap Luhan membuat semuanya semakin sulit dicerna.
Tanpa sadar, satu hembusan napas berat keluar dari bibirnya. Ia menarik tangan untuk menyentuh dahi Luhan yang terasa hangat saat bersentuhan dengan kulitnya. Mengusap rambut gadis itu perlahan, berusaha menemukan kedamaian dengan melihat raut wajah tidur gadis itu.
Sudah lama sebisa mungkin ia menjaga jarak agar Luhan tidak melihat wajahnya dan semakin menggila.
Ia tau benar seberapa besar Luhan membencinya. Ia paham betul seberapa ingin Luhan membunuhnya atau lari darinya, tapi ia tak bisa melakukan apapun selain mencoba menjauh dari gadis itu untuk sementara. Dan mungkin juga untuk waktu yang sangat sangat lama.
Tapi tak tau mengapa, rasanya berat.
Entah karena sentuhan Sehun di dahinya atau karena suara desahan napas berat pria itu, Luhan mengerjapkan mata. Perlahan, matanya membuka dan menutup kembali, ia mengernyit seolah menahan rasa sakit yang teramat.
Sementara Sehun membeku, tak tau harus melakukan apa. Harusnya ia segera keluar dari ruangan itu sebelum Luhan benar-benar sadar dan kembali menggila. Tapi ia tetap diam dengan satu tangan masih berada di dahi Luhan. Ada gaya tarik asing yang tetap menahannya disana, tetap menahan tubuhnya untuk berdiri di samping Luhan. Mengabaikan fakta bahwa mungkin Luhan akan berteriak-teriak setelah ini.
Dan sekarang Luhan benar-benar membuka mata, melihat prianya dengan pandangan sayu. Entah sadar atau tidak.
Bibir mungilnya bergerak dan bersamaan dengan itu, Sehun bisa mendengar namanya dipangil. Suara Luhan terdengar serak, parau, dan nyaris habis. Cukup meyakinkan bahwa ia sudah menangis untuk waktu yang cukup lama dalam sehari ini.
Bahkan matanya masih basah sekarang.
Dalam tidurnya, Luhan juga menangis.
Sehun tidak menjawab, tidak juga melakukan apapun. Ia tetap pada tempatnya, berdiri membeku disana dengan bibir terkunci rapat sementara Luhan memandanginya dengan sorot mata yang tak bisa dibaca sama sekali.
Lama terjebak dalam keadaan seperti itu, kembali, mata Luhan tertutup perlahan. Ia kembali terlelap sementara tanpa sadar Sehun menghela napas berat.
Lega.
.
.
"Terima kasih sudah mau datang, Kyungsoo," Sehun menyalami seorang gadis mungil yang berdiri di depannya dengan wajah sama cemasnya dengan ia sendiri.
"Bukan masalah, maaf aku datang terlambat. Pagi ini baru saja aku datang dari Osaka," ia berbisik lirih, menerima uluran tangan Sehun dan perlahan mengintip ke dalam ruangan dimana Luhan sedang diperiksa dokter.
Sehun menghela napas berat, terlihat sangat putus asa untuk sekedar mengendalikan raut wajahnya di depan teman Luhan itu. Ia sudah tidak bisa berpikir jernih lagi, bahkan mungkin beberapa orang di kantor banyak membicarakannya karena perubahan sikap yang drastis.
Bahkan Minseok tak bisa menyembunyikan rasa kesal saat dirinya tak bisa melakukan pekerjaan dengan benar. Mungkin ini kali pertama Minseok melihatnya seperti orang gila dan nyaris kehilangan pikiran sendiri saat bekerja, tapi memang itu yang ia rasakan. Paska kematian ibunya, Sehun memang tampak mengenaskan, tapi sekarang semakin parah saja.
Ia kembali menghembuskan satu napas berat, menatap Kyungsoo lagi dengan pandangan seolah meminta bantuan.
"Aku sangat berterima kasih, Kyungsoo," ucapnya dengan suaranya nyaris habis. "Aku kehabisan cara untuk membujuknya,"
"Aku akan berusaha,"
Sehun hanya mengangguk beberapa kali, sedikit menggeser tubuh untuk ikut bergabung bersama Kyungsoo melihat apa yang sedang dokter lakukan di dalam ruangan Luhan. Keduanya sama-sama diam, tidak ada yang mulai bicara atau berniat mengeluarkan suara. Ketegangan menguar kuat diudara dan itu hanya membuat suasana rumah sakit yang sepi menjadi lebih senyap.
Ia bisa melihat Luhan mengusap air mata beberapa kali sambil berbicara dengan dokter wanita muda yang sekarang menepuk-nepuk pundaknya perlahan. Sementara Zitao berdiri disamping Luhan dengan raut wajah yang sama sekali tidak bisa ditebak.
Dan saat dokter itu berjalan kearah pintu, Sehun menggeser tubuh. Hanya sekedar agar Luhan tidak melihatnya.
"Tuan Oh," sapa dokter muda itu dengan senyuman masam.
"Apa lebih buruk?" tanya Sehun tanpa basa-basi lagi.
Dokter itu hanya mengangguk, terlihat cukup lemah. Dari sorot mata saja, Sehun tau ia agak putus asa menghadapi Luhan yang bagaimanapun semakin kesini keadaannya semakin parah saja.
"Dia memintaku menggugurkan kandungannya lagi hari ini," ia mengernyit, kemudian menghela napas panjang.
Sehun bisa merasakan keterkejutan Kyungsoo di samping tubuhnya, bahkan gadis itu menutup mulut dengan kedua tangan. Yah, ini baru kali pertama kali Kyungsoo mendengar cerita tentang kegilaan Luhan secara langsung. Sebelumnya, Sehun hanya menceritakan melalui sambungan telepon.
"Apa yang lebih parah dari ini?" Kyungsoo tak bisa menyembunyikan suaranya yang separuh bergetar. Ia terlalu penasaran untuk tetap diam dan menunggu penjelasan selanjutnya.
Satu gelengan lemah dari dokter itu cukup bisa menjelaskan bahwa semuanya tidak baik-baik saja. Perlahan tapi jelas, Sehun bisa merasakan tubuhnya melemas. Seolah ia baru saja selesai melakukan marathon ratusan kilometer dan itu adalah perasaan lelah yang menyebalkan. Perasaan yang harus ia rasakan dua puluh empat jam sehari dalam seminggu.
Ini gila.
"Kandungannya melemah dan Luhan kehilangan banyak berat badan. Satu-satunya yang bisa menyelamatkan Luhan adalah dirinya sendiri. Ia harus punya kemauan untuk hidup dan menyelamatnya dirinya sendiri, juga bayinya," jelas dokter itu lagi, ucapannya final, seolah ingin segera mengakhiri perbincangan ini dengan cepat.
"Aku mengerti, terima kasih," bisik Sehun, dengan cepat menangkap maksud ucapan itu.
Dengan anggukan singkat, dokter muda itu tersenyum. Seolah memberikan semangat dan dukungan padanya tanpa suara. Kemudian berjalan menjauh dan jas putihnya menghilang di ujung lorong rumah sakit yang hening.
Kesenyapan kembali menyapa keduanya.
Baik Kyungsoo dan Sehun sama-sama kembali tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Aku akan coba masuk dan membujuknya," Kyungsoo berbisik, menarik napas dalam-dalam dan menyeka ujung matanya yang mulai basah. "Apapun yang terjadi aku akan berusaha membuat ini lebih baik,"
Sehun tidak menjawab, ia hanya memandangi Luhan dari balik pintu yang tertutup dengan pandangan nanar. Dalam otak lelahnya, mulai membayangkan skenario terburuk yang mungkin saja terjadi pada Luhan. Ia bisa saja terpaksa membiarkan Luhan menggugurkan kandungannya, membiarkan gadis itu lepas dari genggamannya, atau membiarkan reputasinya hancur karena perceraian mendadak. Mengingat hanya beberapa bulan sejak pernikahannya diketahui hampir seluruh orang di negeri ini.
Itu memang skenario terburuk daripada harus melihat Luhan meregang nyawa karena bunuh diri dan semakin membuat semuanya rumit. Ia tak ingin hidup dalam kungkungan perasaan bersalah sebab Luhan bunuh diri karenanya.
Tidak ada pilihan bagus yang bisa ia ambil sekarang.
Kyungsoo melangkah perlahan dan menyentuh kenop pintu. Gadis itu membeku beberapa saat, menghela napas panjang, dan menyunggingkan senyum masam.
"Aku dan Zitao akan ada disini untuk jaga-jaga," ia mengingatkan, tersadar sudah lama tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Oke," dan kemudian Kyungsoo membuka pintu dengan meneriakkan nama Luhan.
Sehun menahan napas, cukup lama hingga rasanya paru-parunya kosong dan kering karena kekurangan udara. Batinnya sudah tersiksa terlalu lama dan rasanya hukuman yang Tuhan berikan padanya belum juga ada tanda-tanda akan berakhir.
Semuanya masih terlalu gelap untuk hidupnya dan juga Luhan.
Calon anaknya.
"Tuan Oh," suara Zitao membuat lamunan Sehun buyar dan ia kembali menarik napas dalam-dalam. Bahkan ia tak sadar kapan gadis itu keluar dari ruangan Luhan.
Ia melirik Zitao sekilas, gurat khawatir jelas terpancar dari wajahnya yang serius. Ia tersenyum pada Zitao, menepuk pundaknya sekilas.
"Aku baik-baik saja," seolah tau apa yang ada dalam pikiran gadis itu, ia kembali tersenyum kecut.
"Luhan minta pulang," kata Zitao.
Sehun mendesah ringan, membalikkan tubuh dan bersandar pada tembok yang terasa sedingin es. Ia memejamkan mata, merasakan seluruh ototnya yang seolah berteriak padanya untuk menyerah. Rasanya ia sudah lama sekali tidak tidur dengan benar dan itu benar-benar membuat tubuhnya nyaris remuk.
Persendiannya nyeri semua.
"Aku juga ingin dia pulang," Sehun berbisik lirih. "Tapi tidak sebelum semuanya membaik,"
Dan kembali, suasana senyap melingkupi mereka.
.
.
"Luhan mau kau masuk," ucapan Kyungsoo dari balik pintu yang separuh terbuka membuat Sehun nyaris terjungkal.
Setelah menunggu sekian puluh menit yang sangat sangat panjang, akhirnya Kyungsoo keluar juga dari ruangan itu. Belum pulih dari keterkejutannya, ia melirik Zitao dan Kyungsoo bergantian. Seolah meminta bantuan tanpa suara karena jelas ada ribuan pertanyaan tersirat dari wajah piasnya.
Ia bingung dengan ucapan Kyungsoo, mungkin telinganya yang tumpul itu sudah rusak sekarang.
"Apa kau bilang?" hanya itu ucapan logis yang bisa keluar dari bibirnya.
Kyungsoo mengangguk ringan, senyum tipis menghiasi wajah cantiknya. Dan entah kenapa melihat senyum itu membuat hatinya hangat, seolah ada sesuatu yang baik sedang berusaha Kyungsoo tunjukkan. Senyuman itu tanpa sadar membuat hatinya sedikit lega meskipun ia belum tau apa yang terjadi di dalam sana.
"Luhan ingin bicara denganmu,"
"Dia akan histeris saat melihatku," ia menyela, khawatir Kyungsoo lupa akan kenyataan seberapa benci Luhan padanya.
Kyungsoo tersenyum lagi, sedikit menarik tangan Sehun. "Percaya padaku, semua akan baik-baik saja,"
Sehun menelan ludah kasar, kakinya bergerak kaku mengikuti langkah Kyungsoo memasuki ruangan Luhan. Dan disana, ia bisa melihat gadis itu duduk diatas ranjang sambil memandanginya dengan sorot mata penuh kebencian. Mata bengkaknya basah dan ada kantung mata yang sedikit menghitam di wajah pias itu.
Kyungsoo mendorongnya duduk di kursi samping ranjang Luhan dan itu hanya membuatnya semakin gugup saja. Terlebih saat Luhan memandanginya dengan tatapan setajam pisau, ia hanya bisa diam membeku. Berusaha tidak melakukan apapun agar emosi Luhan tidak terpicu dan gadis itu kembali melakukan hal gila.
Cukup sudah semua kegilaan yang Luhan tunjukkan padanya.
"Kyungsoo bilang kau ingin bicara," akhirnya, setelah menimang untuk bicara atau tidak, kalimat itu lolos juga dari bibirnya.
"Aku berdiri disini untuk menjadi saksi kesepakatan," Kyungsoo menambahkan.
Dahi Sehun berkerut bingung, ia memandangi Kyungsoo meminta penjelasan tanpa suara, tapi gadis itu hanya tersenyum dan duduk di samping Luhan untuk setengah memeluknya. Seolah tidak percaya dengan pengelihatannya sendiri, ia bisa melihat Luhan membiarkan Kyungsoo memeluknya, bahkan gadis itu menepuk-nepuk tangan Kyungsoo yang bertengger manis di atas perutnya.
Apa yang sudah dua orang ini lakukan sebenarnya?
"Kyungsoo benar," bisik Luhan dengan suaranya yang nyaris habis.
Sehun lebih terkejut lagi karena Luhan bisa mengucapkan kata itu dengan jelas. Selama ini ia hanya bisa mendengar jeritan dan umpatan kasar yang selalu terlontar padanya. Selama ini ia tak bisa menganggap Luhan waras karena terus menerus melakukan hal bodoh yang membahayakan nyawa.
Tapi sekarang seolah beberapa puluh menit setelah Kyungsoo bicara dengannya, semua terasa lebih baik.
"Kau mau aku menjelaskannya, Luhan?" Kyungsoo menawarkan diri dan dibalas anggukan ringan dari Luhan.
"Aku mendengarkan," seolah ingin mempercepat, Sehun mendesak.
"Luhan setuju untuk mempertahankan bayinya hingga lahir,"
"Janin," Luhan mengoreksi, terdengar kesal dan Kyungsoo tersenyum kecut sambil membisikkan kata maaf.
"Oke, setelah melahirkan, Luhan mau kau menceraikannya," dan Sehun tercekat saat mendengarnya. "Kau akan mendapatkan hak asuh bayi ini dan biarkan Luhan pergi dari kehidupanmu, Sehun. Jangan lagi berhubungan dengannya,"
Ia benar-benar membeku.
"Luhan memutuskan akan kembali ke Beijing dan melepaskan semua yang ada disini,"
Kali ini, ia tidak bisa menjawab.
Kenyataan menghantamnya terlalu kuat, terlalu keras. Ia tidak merespon ucapan Kyungsoo, matanya terpaku menatap mata Luhan yang memandanginya dengan penuh penghakiman sekarang. Ia tak tau harus bicara apa, pikirannya bercabang terlalu banyak. Otak jernihnya tak mau diajak bekerjasama kali ini.
"Itu artinya–,"
"Setelah ini berakhir, hubungan kita juga berakhir. Itu saja," Luhan memutuskan, final.
Sehun mematung. Ia terlempar ke dalam dimensi lain, merasakan tubuhnya tidak lagi memijak bumi dan seolah semuanya ini tidak nyata. Itu bukan keputusan yang bisa ia ambil dengan satu tarikan napas. Apapun yang ia lakukan sekarang atau nanti atau kapanpun itu, tetap saja, ia akan berpisah dengan Luhan.
Kali ini mungkin benar-benar berpisah untuk selamanya.
"Bagaimana, Sehun?" desak Kyungsoo.
Sehun mengerjap, membiarkan dirinya kembali masuk dalam dunia nyata yang menyakitkan.
"Oke, aku setuju," apapun yang terjadi, saat ini, kemauan Luhan adalah yang utama.
Masalah perasaannya, Sehun tak terlalu peduli.
Toh dari dulu ia juga selalu sakit hati.
Ini bukan yang pertama meskipun rasa sakitnya melebihi sebelum-sebelumnya.
.
.
"Zitao akan menjagamu disini," bisik Sehun saat baru saja ia mengantarkan Luhan masuk ke kamarnya. Hari ini, gadis itu resmi pulang setelah perjanjiannya dibuat.
Luhan berjanji tidak akan mencoba untuk mati lagi.
Kyungsoo dan Zitao menjadi saksinya.
"Aku tidak akan melakukan apapun," geramnya, membalikkan tubuh untuk menghindari tatapan mata Sehun.
Sementara Sehun mencoba mengatur napas, mencoba membuat agar ia tidak terlihat sedang menahan kesal, bahkan ia berusaha tidak tersenyum. Bagaimanapun juga, mempertahankan agar wajahnya tidak lebih menyebalkan lagi bagi Luhan, adalah hal yang cukup sulit.
"Iya, aku tau. Kau kan sudah berjanji," ia menarik kakinya mundur, tubuhnya nyaris keluar dari ruangan itu, membiarkan Luhan kembali memutar tubuh dan berjalan masuk ke kamarnya sendiri. "Hanya memastikan kau tidak kesepian," ia mengernyit, menambahkan.
Oke, itu seratus persen bohong. Bagaimanapun juga ia tak bisa percaya begitu saja dengan komitmen dan janji yang Luhan ucapkan. Bisa saja kegilaan dalam dirinya kembali muncul dan membuatnya kembali melakukan hal-hal gila seperti beberapa minggu lalu.
"Oke," bisik Luhan, pasrah. Ia berjalan gontai menuju jendela kamar yang tertutup rapat dan suara tarikan napas beratnya bisa Sehun dengar dengan jelas.
Tanpa sadar, Sehun mengedarkan seluruh pandangannya ke dalam ruangan kamar Luhan yang tampak seperti kamar baru. Memang, sengaja, ia menjauhkan barang-barang yang berpotensi bisa melukai. Mengganti ranjang, membuang almari dan bahkan tidak ada cermin dalam ruangan itu. Parahnya, ia juga membuang kunci kamar agar gadis itu tidak bisa mengunci pintu dari dalam.
Ia memang memikirkan hal sedetail itu.
"Jika butuh sesuatu, kau bisa memanggil Zitao," ia berusaha mencari topik pembicaraan agar ada alasan untuk tetap berada di sekitar Luhan.
Bagaimanapun, meninggalkannya sendirian selagi Zitao sedang dalam perjalanan adalah hal yang sulit dilakukan.
"Aku perlu bicara denganmu,"
Apa kau bilang?
"Ada masalah?" tanyanya, terdengar ragu-ragu, Setengah takut, setengah penasaran.
Luhan mendesah kasar, membalikkan tubuh untuk melihatnya. Lama Luhan terdiam memandanginya dengan tatapan yang sulit diartikan, dengan pandangan seolah menghakimi, menyalahkan, memancarkan rasa benci yang teramat sangat.
"Semuanya masalah," ucapnya kesal, dan Sehun menelan ludah kasar.
Luhan memang benar-benar masih membencinya sebesar itu.
Ia berusaha mempertahankan postur tubuhnya yang kaku. Melipat tangan di depan dada dan menyandarkan punggung ke pintu. Berusaha sebisa mungkin menatap mata Luhan tanpa menunjukkan perubahan ekspresi wajah.
Meskipun sepertinya itu gagal juga.
"Aku mendengarkan," bagus, suaranya terdengar seperti sama kesalnya dengan Luhan sekarang.
Dan ia menyesal karena bersuara seperti itu.
"Aku tidak ingin melihat wajahmu di rumah ini, bisa?"
Sehun ingin mendengus, tapi ia berusaha menahan kekesalan. Menelannya bulat-bulat untuk diri sendiri, mengatur napas dan berusaha mengendalikan emosinya yang nyaris meledak-meledak. Ini bahkan rumahnya sendiri, dan ia tak bisa melakukan apa yang ia mau di rumahnya sendiri. Sungguh, memang Luhan keterlaluan.
"Jangan khawatir, rumah ini terlalu besar untuk dua orang. Jadi kupastikan kau tidak akan sering melihatku," ia tersenyum singkat, mengangkat bahu acuh dan menunggu respon Luhan.
Tapi gadis itu tidak berbicara apapun, Luhan kembali membalikkan badan dan menatap keluar melalui jendela. Seolah mengabaikan Sehun yang masih berdiri mematung di depan pintu. Tapi seolah tau Luhan belum selesai bicara, ia masih tetap berdiri disana, masih tetap menunggu.
"Kau harus mempersiapkan semuanya mulai sekarang," kembali, Luhan bersuara.
"Mempersiapkan apa?"
"Perceraian. Tujuh bulan waktu yang singkat. Setelah ini lahir, aku akan benar-benar pergi,"
Tak bisakah kau berhenti mengucapkan kata pergi?
Sehun menghela napas panjang, menegakkan tubuhnya dan menatap punggung gadis itu dengan pandangan penuh kesengsaraan.
"Ya, aku tau. Bukan masalah. Semua bisa kuatur,"
"Kyungsoo mungkin akan beberapa kali kesini, jangan halangi aku melakukan apapun dengannya,"
"Bahkan jika kau mau menginap di rumah Kyungsoo, aku akan dengan senang hati mengantarmu kesana. Lakukan apa yang ingin kau lakukan selama itu tidak membahayakan nyawamu sendiri. Aku ada di bawah jika kau butuh sesuatu. Zitao akan sampai sebentar lagi," ucapnya final, mengakhir pembicaraan itu sepihak, dan berjalan keluar dengan langkah gontai.
Ia butuh tempat sunyi untuk berpikir.
Tentang semuanya.
.
.
Malam itu, Sehun baru saja melangkahkan kaki memasuki rumah yang tampak sepi. Ia melirik jam tangan sekilas, memang terlalu larut pekerjaannya selesai malam ini. Ia mengerang, melonggarkan dasi dan berjalan menuju dapur. Tenggorokannya cukup kering dan ia butuh air untuk tetap bertahan hidup.
Ia nyaris terjungkal karena terkejut saat melihat Luhan berdiri di dapur, sepertinya sedang mengaduk sesuatu di dalam gelas. Gadis itu menyadari kedatangannya dan dengan cepat membalikkan badan, memandangi Sehun dengan mata membulat.
Sementara Sehun membeku, mencoba menghitung berapa hari sudah berlalu sejak Luhan kembali ke rumah dan bertingkah agak normal. Selama itupun ia jarang bertemu dengan Luhan, ia hanya tau perkembangan gadis itu dari laporan Zitao. Karena saat pagi hari Luhan belum bangun, ia sudah berangkat kerja dan kembali saat gadis itu sudah terlelap.
Luhan tampak lebih baik sekarang. Wajahnya sudah tidak pucat dan kantung matanya tidak lagi terlihat. Malam ini ia memakai sweater besar berwarna biru tua dan juga celana panjang. Rambut gelapnya diikat keatas, sedikit berantakan tapi masih membuatnya tampak bagus.
Sehun hendak bersuara tapi ia menutup mulutnya dengan cepat saat melihat Luhan meletakkan jari telunjuk di depan bibir. Gadis itu menunjuk kearah sofa depan, dan dengan bodoh Sehun mengikuti arah yang Luhan tunjukkan. Disana, ia bisa melihat Zitao memejamkan mata di atas sofa.
Tidak biasanya Zitao tertidur saat menjaga Luhan.
"Jangan bersuara, Zitao baru saja tidur," Luhan kembali berbisik, kemudian kembali mengaduk sesuatu dalam gelas plastik –ya, Sehun nyaris membuang semua alat makan dari kaca. Bahkan ia sengaja menyuruh Zitao menyembunyikan pisau.
Sementara dengan bodoh, Sehun memandangi Luhan terlalu lama. Merasa tak tau harus melakukan apa sekarang. Rasanya pancaran kebencian dalam mata Luhan tidak separah sebelumnya meskipun itu masih ada. Bahkan baru saja gadis itu tidak mengeluarkan kata-kata kasar padanya.
Oh ini hal bagus.
Lagipula malam hari bukan saat yang tepat untuk memulai perdebatan tidak penting tentang suatu hal.
Sadar ia terlalu lama memandangi Luhan yang sedang memunggunginya, Sehun berdeham, membuka lemari es dengan perlahan, berusaha tidak mengeluarkan banyak suara dan membuat Luhan kesal dengan hal itu.
Luhan mau berbicara dengannya saja malam ini, sudah cukup.
"Oh, ini susunya," kembali, Luhan berbisik dan Sehun benar-benar tak bisa mempercayai pendengarannya sendiri.
Ia mulai bertanya-tanya apakah sebenarnya ini hanya mimpi dan tubuh aslinya masih terjebak di kantor. Mungkin saja ia ketiduran dan bermimpi Luhan sudah berubah. Tanpa sadar, ia menggepalkan tangan, berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa ini bukan mimpi, dan ini memang nyata.
Ia membalikkan badan, memandangi Luhan yang sedang minum susu dingin dan sebelah tangan mengulurkan kotak susu padanya. Ia berjalan maju, ragu-ragu untuk mendekat dan menerima uluran kotak susu itu perlahan.
Selesai menghabiskan satu gelas penuh susu dingin, Luhan menghela napas panjang, sedikit memejamkan mata seolah benar-benar menikmati rasa susu yang baru saja ia minum. Dan pemandangan itu benar-benar sangat asing untuk Sehun.
Saat ini, seolah keduanya tidak sedang perang dingin.
"Jangan berisik, Zitao mudah terbangun," ucap Luhan, masih terdengar dingin tapi Sehun mengiyakan dengan gumaman singkat.
Bingung harus merespon ucapan itu seperti apa.
Luhan hanya mengangguk beberapa kali, meletakkan gelas kosong di atas meja dan berjalan cepat menuju kamarnya sendiri. Meninggalkan Sehun dengan ribuan pertanyaan yang muncul di dalam otak. Rasa hausnya hilang sudah, bahkan ia berjalan ke depan meninggalkan kotak susunya dan melihat punggung Luhan hingga gadis itu masuk ke dalam kamarnya.
Tepat saat itu, ia bisa melihat Zitao bangkit dari tidurnya. Gadis itu berdiri dan sedikit membungkukkan badan, raut wajahnya sama sekali tidak seperti orang yang baru saja terbangun dari tidur.
Sehun berjalan mendekat, masih dengan raut wajah bingung.
"Kenapa kau harus pura-pura tidur?" tanyanya.
Zitao hanya tersenyum. "Ia terus menerus memaksaku istirahat. Tapi aku tak bisa membiarkannya sendirian sampai waktu tugasku berakhir,"
"Kerja bagus," ucap Sehun bangga, menepuk pundak gadis itu sebentar. "Kau bisa pulang, aku sudah disini. Sebentar lagi tim lain akan datang," ia melirik jam tangannya sekilas.
"Ah, Tuan," Zitao menyela saat Sehun baru saja membalikkan badan.
"Ya?"
Zitao menimang-nimang untuk bicara, ia terlihat ragu-ragu.
"Ada apa?" desak Sehun lagi.
"Sepertinya nalurinya sebagai wanita hamil sudah muncul," ia berbisik, sangat pelan hingga Sehun sendiri nyaris tak mendengar itu.
"Apa maksudmu?"
"Kau tau kan, orang hamil biasanya meminta hal-hal yang tidak masuk akal," perlahan, Sehun mengangguk menyetujui. "Hari ini Luhan memintaku menemaninya jalan-jalan selama dua jam penuh ke supermarket dan ia beli banyak sekali cokelat,"
Sehun mengernyit, bingung. "Apa itu hal yang bagus?"
Zitao nyaris tertawa, tapi ia hanya terkekeh ringan. "Tentu saja, Tuan. Itu artinya tanpa sadar ia sudah bisa menerima bayi dalam kandungannya. Bahkan beberapa hari ini aku melihatnya tertawa terbahak-bahak karena melihat Kyungsoo tersandung dan hal-hal sepele lainnya,"
Sehun mengangkat sebelah alis, tidak bisa menyembunyikan senyum sekarang. "Benarkah?"
Zitao mengangguk yakin. "Memang beberapa kali ia menangis, tapi perubahan mood orang hamil memang wajar terjadi,"
"Syukurlah kalau memang Luhan tidak mencoba hal-hal aneh lagi,"
Zitao hanya mengangguk beberapa kali, menyetujui dalam diam dan tersenyum lega juga.
Luhan sudah punya kemauan untuk tetap bertahan hidup.
Satu masalah hampir selesai, tapi masalah besar lainnya masih menunggu.
Perceraian.
.
.
TBC
ADA EPILOG SETELAH AUTHOR NOTE
(Jadi ini belum end ya, epilog untuk setiap chapter maksudnya, bukan epilog dari keseluruhan cerita)
.
.
Hallo, ini fast update kan?
Jadi maaf ya kalo ada yang nungguin FF lolipopsehun yang lain. Jadi yang diupdate itu berdasarkan ide yang muncul. Jadi untuk yang lain sabar aja ya hehe.
Untuk chapter ini Author minta kritik dan sarannya. Maaf kalo kurang greget hehe.
Itu aja sekian untuk chapter ini maaf jika ada kesalahan.
Terima kasih untuk yang masih mau membaca dan menunggu kelanjutan semua FF lolipopsehun. Meskipun lama update, Author akan berusaha sebisa mungkin untuk melanjutkan agar tidak discontinue. Doakan saja idenya muncul.
Jangan lupa review ya semuanya.
Thank you.
With love,
lolipopsehun
.
.
EPILOG
"Kau boleh membunuh dirimu sendiri tapi kau tidak berhak membunuh bayi yang tidak bersalah, Luhan," ucap Kyungsoo, berusaha membuat suaranya tidak bergetar meskipun air mata sudah jatuh dari matanya.
Luhan masih saja terisak dalam pelukannya, berusaha melepaskan semua kekesalan yang selama ini terpendam. Kamar rumah sakit yang terasa mencekam semakin terasa mengerikan karena suara isakan Luhan yang seolah tak berujung.
"Aku tak mau hidup dengan bajingan itu lagi. Aku tidak mau ada sesuatu yang membuatku terikat dengannya. Janin ini, bagaimanapun tidak bisa berada dalam tubuhku, Kyung," suaranya nyaris habis dan isakannya terdengar semakin memilukan.
"Aku tau, Luhan. Tapi pasti ada jalan lain," ia menarik tubuh Luhan menjauh darinya, kemudian tersenyum singkat dan mengusap air mata yang membanjiri pipi gadis itu.
"Aku tak bisa,"
"Aku tau ini sulit untukmu, untuk Sehun juga. Setidaknya bertahanlah sampai delapan bulan lagi. Setelah bayi ini lahir, kalian bisa bercerai. Kau bisa bebas melakukan apapun yang kau mau,"
"Harus kuapakan bayi ini setelahnya? Aku tak ingin mengandung anak bajingan itu, Kyungsoo," kembali, air mata berlomba-lomba keluar dari matanya.
Dan Kyungsoo menarik napas dalam-dalam.
"Sehun akan merawatnya, bagaimanapun dia ayahnya. Kumohon Luhan, hanya sampai bayinya lahir, setelah itu kau bebas,"
Luhan tampak berpikir, keningnya berkerut dalam dan Kyungsoo hanya bisa menepuk punggungnya beberapa kali untuk membuatnya tenang. Perlahan, masih ragu-ragu, ia mengangguk lemah. Sangat lemah hingga Kyungsoo nyaris tidak menyadari hal itu.
"Hanya sampai ini keluar dari tubuhku,"
"Oke," Kyungsoo nyaris berteriak karena perjuangannya membujuk Luhan tampaknya tidak sia-sia.
"Aku akan bicara dengan bajingan itu,"
"Akan kupanggilkan Sehun kalau begitu,"
Kyungsoo menepuk pundak Luhan sekilas, kemudian berjalan menuju pintu. Dalam hati merasa lega karena setidaknya Luhan mau mendengar masukannya, tapi disisi lain ia merasa bersalah karena memberikan opsi perceraian untuk hubungan kedua orang itu.
Kyungsoo benar-benar tak ingin melihat Sehun dan Luhan berpisah, tapi ia tak punya pilihan lain untuk tetap membuat Luhan hidup –dan bayinya juga selamat.
Luhan harus berhenti mencoba mengakhiri hidup bagaimanapun caranya.
Dan mungkin pilihan ini yang terbaik.
Semoga saja.
