Pasific terrace hotel
San diego, California, USA.
Jongin langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur ketika sampai di kamar hotel. Sepertinya duduk berjam-jam didalam pesawat membuatnya nyeri pinggang. Lihat saja bahkan ia sama sekali tak perduli dengan Sehun yang tengah sibuk dengan koper mereka.
"Jongin, sebaiknya kau mandi setelah itu istirahat lah". Tanpa diperintah dua kali Jongin bangkit dan melesat menuju kamar mandi.
Dua puluh menit berlalu, Jongin tak kunjung menampakan wajahnya. Sehun jadi khawatir bisa saja kan Jongin ketiduran di dalam kamar mandi mengingat Jongin itu sosok yang mudah sekali untuk tertidur.
"Hyung!". Sepertinya dugaan Sehun salah, buktinya Jongin kini memanggilnya.
"Sehun hyung?!". Kali ini Jongin mengeraskan suaranya untuk memanggil Sehun.
"Ada apa?". Balas Sehun berteriak.
"Aku lupa membawa handuk, bisakah hyung ambilkan handuk untukku?". Kini suara Jongin sedikit mengecil, Sehun yakin pasti didalam sana Jongin tengah merutuki keteledorannya hingga lupa membawa handuk.
"Tidak bisa, keluarlah dan ambil sendiri". Sehun tersenyum di akhir kalimatnya seolah ada niatan buruk untuk bersikap jahil kepada Jongin.
"Tapi.. Hyung aku... Telanjang". Tawa Sehun hampir saja meledak tapi dengan cepat ia mengendalikan dirinya agar tidak tertawa.
"Kenapa? Kau malu?". Sehun dapat mendengar suara Jongin yang menggerang didalam sana.
"Tentu saja! Hyung kumohon...". Nada mendayu Jongin keluarkan di akhir kalimatnya, Sehun tersenyum ini pertama kali Jongin memohon sesuatu kepada Sehun, andai saja Sehun bisa melihat raut wajah Jongin saat ini.
"Baiklah tunggu sebentar". Sehun mengalah pada akhirnya, Ia segera mencari handuk untuk suami manisnya.
"Letakkan di dekat pintu saja hyung, jangan masuk!". Sehun menuruti titah Jongin, ia menggeleng-gelengkan kepalanya karena tak habis fikir dengan Jongin masih saja bersikap kaku dan malu-malu kepadanya.
Setelah meletakkan handuk untuk Jongin, Sehun memilih untuk melihat laut dari balkon kamarnya, satu kata yang Sehun fikirkan saat melihat laut yang biru terbentang luas di hadapannya, Indah.
"Hyung?". Sehun menoleh saat Jongin memanggilnya, tersenyum melihat Jongin yang masih terlilit handuk di pinggangnya.
Dengan langkah pelan Jongin menghampiri Sehun.
"Aku merasa dejavu". Sehun menyerit bingung dengan apa yang sedang dibicarakan oleh Jongin.
"Maksudmu?".
"Dulu saat baru sampai di apartemenmu aku segera mandi dan ketika sudah selesai mandi aku menemukanmu berada di balkon, dan sekarang hal itu terjadi lagi. Apa semua yang aku alami akan terulang?". Sehun terdiam, ia memikirkan ucapan Jongin padanya.
Sehun menatap Jongin, ia meneguk salivanya dengan susah payah. Penampilan Jongin membuatnya panas dingin. Sedikit berdehem Sehun kembali menatap hamparan laut dihadapannya.
"Aku tak tau mungkin iya dan mungkin tidak. Orang bilang jalan hidup seperti siklus yang menetap pada roda berputar. Jadi setiap orang harus berhati-hati mengambil jalan untuk kedepannya".
Hening.
"Jongin?". Jongin menoleh dan pandangan keduanya bertemu. Sehun mendekatkan wajahnya dengan Jongin, tangannya terulur untuk menarik tengkuk Jongin.
Ketika kedua belah bibir itu bertemu Jongin refleks menutup matanya, lumatan-lumatan lembut terus Sehun berikan pada bibir Jongin tapi tetap saja Jongin enggan untuk membalas ciuman Sehun, ia hanya terdiam menikmati semua yang Sehun lakukan pada bibirnya.
Merasa terlena Jongin mengalungkan tangannya ke leher Sehun mengabaikan lilitan handuk yang mulai mengendur di pinggangnya.
Salah satu tangan Sehun yang terbebas ia gunakan untuk merangkul pinggang ramping Jongin, pelahan ia tarik tubuh Jongin agar mendekat padanya.
"Ungh..". Bagian Selatan meraka saling bertemu menciptakan sebuah lenguhan di antara pangutan keduanya.
Sehun semakin menekan daerah selatannya dengan milik Jongin. Entah bagaimana sekarang handuk Jongin mulai lepas pada bagian belakangnya tapi tidak dengan bagian depannya karena tekanan yang mereka lakukan membuat handuknya tertahan di antara keduanya.
Sehun yang menyadari hal itu segera menutup bokong Jongin dengan telapak tangannya, awalanya Sehun hanya meletakkan tangannya di permukaan kulit pantat Jongin tapi sekarang tangannya mulai begerak, meremas dengan gemas daging kenyal itu.
.
.
.
_HunKai_
.
.
.
Jongin mengecek kembali penampilannya lewat cermin dihadapannya. Ia tersenyum, hari ini ia benar-benar tampan. Dengan kemeja hitam setengah putih yang melekat di tubuhnya celana hitam yang ia gunakan sangat cocok melekat pada tubuh rampingnya.
Namun, saat Jongin ingin menarik rambutnya ke belakang agar ia terlihat lebih gentle Sehun segera mencegahnya.
"Aku lebih suka melihat helai rambutmu menutupi keningmu itu membuatmu terlihat lebih manis". Jongin mencebikan bibirnya, alasan yang aneh.
"Hyung.. Sebenarnya kau mengajakku kemana sih?".
"Makan malam". Ucap Sehun singkat.
Jongin berfikir sejenak, ia sejak tadi memperhatikan raut wajah Sehun yang masam setelah menerima telepon dari seseorang.
Ya, tadi saat mereka tengah ekhem... Dan akan berlanjut ke adegan yang lebih serius –walaupun Jongin tidak yakin karena dia belum siap– tiba-tiba saja sebuah suara panggilan masuk dari ponsel Sehun menghentikan semuanya. Saat Sehun tengah menjawab panggilan itu Jongin segera membenarkan letak handuknya dan berlari ke dalam kamar untuk memakai pakaiannya.
"Hanya berdua?". Tanya Jongin pada akhirnya.
"Tidak, mungkin ada beberapa orang yang ikut bergabung". Jongin mengangguk.
Sehun dan Jongin berjalan beriringan menuju lift.
Sehun dan Jongin masuk ke dalam taxi yang sebelumnya telah ia pesan menuju salah satu restoran di San Diego.
.
.
.
_HunKai_
.
.
.
Jongin PovAku berdecak kagum saat taxi yang aku dan Sehun Hyung tumpangi sudah sampai disebuah restoran sederhana namun elegant.
Saay memasuki restoran itu aku kembali berdecak ini benar-benar mengagumkan bagian dalamnya sangat luas memberikan kesan mewah disetiap sudutnya.
Sehun hyung membawaku ke ruangan yang berbeda, aku yakin dia pernah kesini sebelumnya terlihat daru caranya berjalan seperti sudah tau letak dan setiap sudut restoran ini.
"Kau pernah kesini sebelumnya hyung? Kau seperti benar-benar hafal setiap sudutnya". Aku bertanya dan dia napak tersenyum atas pertanyaanku barusan.
"Tentu saja, karena ini restoran milik keluargaku". Hah? Sebenarnya seberapa kaya keluarga Oh?
Entah bagaimana aku jadi merasa tidak percaya diri. Kau tau, menikah dengan orang yang hebat sedangkan kau bukan siapa-siapa itu rasanya tidak berguna. Aku merasa seperti parasit disini, aku hanya anak SHS yang menikah dengannya karena keinginan ibuku, aku merasa seperti menumpang dan semakin menyulitkan hidup Sehun hyung. Aku tak tau apapun tentang Oh Sehun sebelumnya, begitupun sekarang.
Sehun hyung mengajakku untuk duduk di satu-satunya
meja panjang yang terdapat di pojok ruangan, terlihat seperti meja untuk sebuah keluarga besar.
Tepat disamping meja kami terdapat jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan Indah dari kota San Diego.
Seorang pelayan wanita menghampiri kami, ia memberikan buku menu kepadaku dan Sehun Hyung.
"Kau ingin pesan apa?". Tanya Sehun hyung tanpa melepaskan pandangannya dari buku menu dihadapannya.
"Samakan saja denganmu Hyung". Sehun mengangguk dan menutup buku menunya. Ia berbicara dengan pelayan wanita itu, tidak menggunakan bahasa inggris menalinkan bahasa China?!.
Aku sedikit mengerti dengan percakapan itu, karena bagaimanapun ibuku pernah tinggal di China. Ingat, Sehun hyung pernah mengatakan bahwa ibuku adalah seniornya di SHS. Dan beruntung aku mempelajari beberapa kosakata China padanya.
"Kau tak perlu memesan semuanya hyung". Sebal, itulah perasaan ku sekarang. Sehun hyung tak mengerti, dengan sikapnya yang seperti ini membuatku semakin merasa seperti benalu.
"Tak apa, nanti kan kau bisa memilih makanannya". Aku hanya diam, percuma juga aku menanggapi hal itu, toh nantinya juga aku akan kalah.
Tak lama setelah pelayan itu pergi, dua orang pria dan wanita menghampiri meja kami. Mereka terlihat serasi tapi entah mengapa ekspresi si wanita seperti tidak senang.
"Hai tuan Wu, sudah lama tidak bertemu". Sehun hyung berdiri menyambut kedua orang itu, aku mengikuti pergerakan Sehun hyung.
"Ya, dan sepertinya kau sudah berubah banyak Tuan Xiao". Mereka berdua tersenyum tapi suasanya tampak canggung. Aku tak mengerti kenapa begitu.
"Ah, perkenalkan ini Oh Jongin, dia... "
"Adik angkat Sehun Hyung, salam kenal". Aku segera memotong perkataan Sehun hyung dan membungkuk kepada keduanya.
Melalui ekor mataku aku melihat Sehun Hyung tengah menatapku. Aku tau ia kecewa tapi aku hanya ingin Sehun hyung tidak di anggap aneh karena menikah dengan seorang pria terlebih pria sepertiku.
"Ah, pantas saja Shix... Maksudku Sehun betah berada di korea, rupanya ia memiliki adik yang tampan sepertimu". Aku tersenyum mendengarkan pujian yang ia berikan padaku.
"Aku Xiao Lufeng, dan ini Son Wendy". Pria itu tersenyum kecut di akhir kalimatnya. Dan Sehun hyung hanya memutar bola matanya, jujur bukankah itu tindakan yang tidak sopan? Tapi sepertinya Sehun hyung tidak menyukainya.
Awalanya aku tersenyum, tapi perlahan senyumanku memudar. Aku mengingat nama itu, Son Wendy mantan kekasih Sehun hyung, wanita yang masih dicintai Sehun hyung hingga saat ini.
Sehun hyung mempersilahkan mereka untuk duduk.
"Kapan kau pulang?". Pertanyaan itu keluar dari bibir pria yang bernama Lufeng. Dan bisa ditebak Sehun hyung tak menyukai pertanyaan itu karena ia hanya terdiam.
"Ayahmu semakin kritis. Ia membutuhkanmu". Ayah Sehun hyung sakit? Tapi kenapa Sehun hyung nampak tenang? Dia kejam membiarkan ayahnya kritis tanpa adanya sang anak disisinya.
"Kurasa Luhan memaksaku kemari bukan untuk membahas masalah ini". Lufeng terkekeh, aku dan wanita itu sejak tadi hanya terdiam.
"Kau tak perlu menyuruh Luhan gege untuk mengatakan ini padaku. Kau bisa langsung mengatakan ini padaku dan dengan senang hati aku akan membantumu. Aku tau, kau masih sangat menyayangi ayahmu tapi kau terlalu gengsi untuk mengatakannya". Aku tau ini tidak sopan karena menguping pembicaraan mereka tapi aku penasaran sungguh.
"Jika kau setuju kenapa kau menyuruhku datang jauh-jauh kemari? Buang-buang waktu". Setelah Sehun hyung mengatakan itu, suasana hening menghampiri.
Tak lama kemudian seorang pelayan pria menghampiri kami dan membawa empat buah gelas dan segelas anggur.
"Tidak, biar aku saja". Lufeng menghentikan pergerakan pelayan itu untuk menuangkan anggur pada masing-masing gelas kami.
Setelah pelayan pria itu pergi, Lufeng menuangkan anggur itu ke gelas kami dimulai mengisi gelas Sehun hyung dan.. Wanita itu, aku malas menyebut namanya. Dan yang terakhir aku, Lufeng sedikit tersenyum padaku, aku memiliki firasat aneh tentang ini.
Dan benar saja, bukannya menuangkan anggur pada gelasku ia justru menuangkannya tepat dibajuku.
"Ah Jongin, maafkan aku. Aku tak sengaja". Akting yang Bagus bung.
"Tak apa". Aku hanya tersenyum, aku lirik Sehun hyung yang berada disampingku. Ia tampak marah.
"Jongin, lebih baik kita kembali ke Hotel". Aku menggeleng, cukup mengerti dengan keadaan ini.
"Tidak hyung, aku hanya membutuhkan kamar kecil untuk membersihkannya". Aku bangkit setelah diberi tahu dimana letak toiletnya.
Sepanjang perjalanan menuju toilet aku terus mengumpat dan menyumpahi pria bernama Lufeng itu. Bajingan!
"Sialan!". Umpatku ketika melihat noda merah semi ungu yang melekat pada kemejaku. Aku menarik salah satu tisu yang berada di toilet itu.
Ku usap dengan kasar noda yg berada di kemejaku.
Suara pintu terbuka ku kira itu Sehun hyung namun salah itu Lufeng. 'Ku pandang dia dengan tatapan bengis.
"Maafkan aku". Kali ini ia terlihat tulus mengatakannya, aku jadi bingung sebenarnya apa maunya? Jika ia tak suka padaku aku masih bisa memakluminya.
"Aku melakukan ini demi istriku". Aku mengangkat sebelah alisku, memandangnya dengan curiga.
"Jongin. Kau tau, aku dan Wendy sedang dalam proses perceraian. Ku mohon tinggallah di sini sebentar, biarkan Wendy dan Sehun banyak mengobrol". Ah, aku mengerti. Jadi ini maksudnya menyuruhku untuk pergi dari sana secara tak langsung. Tapi, hei! Ini cara yang keterlaluan.
"Baiklah". Jawabku final.
"Aku benar-benar mencintai Wendy sejak dulu, tapi sayang Wendy lebih memilih Sehun dari pada aku. Aku hampir gila saat mereka memutuskan untuk menikah, tapi entah bagaimana aku bisa berada dihotel dengan Wendy sebelum pernikahan mereka". Lufeng menghela nafasnya kasar. Aku jadi kasihan melihatnya.
"Ah.. Maaf aku jadi bercerita panjang lebar". Aku mengangguk pelan dan dibalas sebuah senyuman manis olehnya.
"Ah, sepertinya sudah cukup kita memberikan mereka waktu untuk bicara. Ayo Jongin, kau duluan". Aku mengangguk dan berjalan mendahuluinya.
Sepertinya keluar dari toilet secepat ini adalah pilihan yang buruk, aku menoleh kebelakang dan mendapati yang sama pada Lufeng ia terseyum kecut dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Aku ingin menangis, bagian dadaku terasa sesak entah ini apa tapi benar-benar menyakitkan. Melihat Sehun Hyung berciuman dengan orang lain dengan mata kepalaku sendiri, hal yang ku benci dari pemandangan yang ku lihat Sehun hyung napak pasrah ia tak membalas maupun menolak itu membuatku bingung sebenarnya bagaimana perasaannya kepada wanita itu, apakah masih sama?
Sakit, apa sebenarnya yang tengah terjadi padaku saat ini?!
Normal Pov
Jongin dengan tergesa berjalan keluar restoran itu, dadanya sesak namun ia tetap menahan air matanya agar tak jatuh begitu saja.
Jongin terus berjalan menyusuri jalan, jujur saja ia tak tau jalan menuju hotel tapi kakinya tak mau berhenti melangkah.
Ia bingung harus pergi kemana kepala mulai pusing memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi padanya jika ia tersesat. Menjadi gelandangan di negri orang atau mati tak terhormat karena kelaparan.
Jongin berhenti, ia melihat kesekitarnya tidak terlalu ramai. Ia mendudukan dirinya di bangku yang terletak disebuah toko roti yang sudah tutup.
Terdiam, merutuki dirinya sendiri karena tanpa pikir panjang meninggalkan restoran itu. Lagi pula, apa yang sebenarnya terjadi? Sehun adalah seseorang yang menolongnya seharusnya ia membiarkan Sehun untuk bertindak sesuai dengan keinginannya. Ia harusnya tak menyalahkan Sehun, seharusnya ia membiarkan Sehun bersama dengan wanita yang dicintainya, seharusnya Jongin tak cemburu. Apa? Cemburu? Tentu saja, tapi kenapa? Apakah Jongin sudah mulai mencintai Sehun?
Haruskah?
"Tidak! Aku tidak mencintainya, aku hanya.. Hanya merasa akan kehilangan dia karena satu-satunya keluargaku hanya dia!"
Aku mencintaimu
"Aku tidak mencintainya!"
Aku akan menunggumu
Jongin terus menyakinkan dirinya tentang perasaannya sendiri, kedua tangannya meremas kuat celananya. Liquid bening mulai mengalir membentuk anak sungai pada pipinya.
"Lalu apa?!". Pikiran dan hatinya benar-benar kacau, ia bingung. Rasanya seperti terombang-ambing tanpa arah, perih dan sakit itulahan yang Jongin rasakan sekarang.
"Iya! Aku mencintainya! Aku mencintai Sehun hyung yang bodohnya malah mencintai orang lain kau puas!!". Jongin terus berdialog pada dirinya sendiri tanpa memperdulikan tatapan aneh pejalan kaki yang berjalan melewatinya.
Kedua tangannya ia gunakan untuk menopang kepalanya dengan paha sebagai tumpuannya ia menunduk.
Ia menangis, merutuki perasaannya, menyumpahi takdirnya, dan menertawakan nasib malangnya.
Sehun side
Sehun melepaskan pangutannya saat melihat Jongin yang berlalu darinya.
"Jongin!". Percuma, Jongin sudah menghilang dari pandangannya.
"Sehun, kenapa?". Sehun menoleh, ia mengumpat pada Wendy yang dengan mudahnya bertanya kenapa.
"Kau! Jangan pernah lagi menampakan wajahmu dihadapanku!". Tangan Sehun mengepal, untunglah ia masih memiliki akal sehat agar tidak memukul wanita.
Setelah mengatakan itu, Sehun pergi ia harus mencari Jonginnya.
Setelah menyetop taxi, Sehun segera masuk kedalam taxi tanpa memperdulikan panggilan Lufeng dan Wendy.
Sehun yakin Jongin belum jauh dari restoran keluarganya. Pandangannya tak pernah lepas dari pinggir jalan.
Sehun tersenyum saat melihat sosok yang sangat ia kenal sedang duduk di depan sebuah toko roti. Dengan tergesa ia menghampiri orang itu.
"Jongin?". Benar dugaan Sehun, sosok itu adalah Jongin dengan mata bengkak dan pipi yang masih basah. Sehun yakin Jongin habis menangis, dan hal itu sukses membuat hati Sehun tersayat.
Sehun mendudukan dirinya disamping Jongin, ia memeluk Jongin dan menggumamkan kata maaf berulang-ulang. Sedangkan Jongin yang mendapat perlakuan itu hanya terdiam.
.
.
.
_HunKai_
.
.
.
Jongin segera mengganti pakaianya dan bersiap untuk tidur, ia benar-benar tak mengeluarkan satu patah katapun sejak tadi.
"Jongin, kita harus bicara". Sehun mendekat ke arah Jongin yang sudah tertutup selimut hingga seluruh tubuhnya.
"Maafkan aku". Sehun berucap tulus tapi Jongin tetap pada posisinya.
"Itu bukan aku yang mulai Jongin, aku tak melakukan apapun". Jongin yang sejak tadi mendengarkan perkataan Sehun mulai mengeluarkan kepalanya dari dalam selimut tapi tetap membelakangi Sehun.
Mendapat respon, walaupun sedikit Sehun melanjutkan ucapannya.
"Lagi pula Wendy sudah menikah dengan Lufeng. Yang tadi hanya sebuah kecelakaan, dan aku tak dapat berbuat apapun". Sehun tersenyum saat melihat Jongin mulai terduduk, senyuman remeh Jongin berikan kepada Sehun.
"Percaya diri sekali anda, apakah menurut anda saya akan percaya pada penjelasan anda". Jongin terseyum kecut di akhir kalimatnya.
"Apa maksudmu? Semua yang kutakan itu benar". Jongin tertawa.
"Mungkin kau salah menjelaskan. Seharusnya kau menjelaskannya seperti ini. 'Lagi pula Wendy sudah menikah dengan Lufeng, dan mereka akan segera bercerai seharusnya aku memperbaiki hubunganku dengan Wendy jadi saat mereka resmi bercerai aku dapat menikahinya. Yang tadi hanya sebuah kecelakaan, dan aku tak dapat berbuat apapun karena Wendy adalah mantan kekasihku dan aku masih mencintainya', begitu? Ups.. maaf, perkataanku benar kan tuan Wu Shixun?". Jongin menekan ucapannya di akhir ucapannya, ia tersenyum bangga kepada Sehun tanpa memperdulikan tatapan tak percaya yang diberikan Sehun padanya.
"B-bagaiman kau tau? Eng.. Baiklah tak penting kau tau darimana. Tapi, aku sudah tak mencintainya lagi Sungguh, percayalah padaku Jongin". Sehun frustasi, ia akan melakukan apapun agar Jongin memaafkannya tapi jika sudah seperti ini ia harus bagaimana?
"Aku tak pernah mengharapkan belas kasihan darimu! Aku tak pernah meminta bantuan padamu! Namun tiba-tiba kau datang padaku, dengan membawa kata Cinta kau menikahiku didepan mendiang ibuku dan dihadapan tuhan. Aku tak butuh perasaan nyatamu untukku, tapi bisakah kau menghargai mendiang ibuku? Menghargai seseorang yang berarti dalam hidupku selama ini? Aku tau pernikahan ini tak wajar, aku tau pernikahan ini menjijikan. Apa dengan kau berciuman dengan wanita lain dihadapanku bukankah sama saja kau melanggar janjimu!? Jika kau masih mencintainya nikahilah! Dan usir aku dari rumahmu". Jongin terus berteriak di setiap kalimatnya, air matanya mengalir dengan mudahnya.
Sehun terdiam, ia tertegun dengan perkataan Jongin. Rasa bersalah menghampirinya.
"Maafkan aku, aku tau aku bodoh. Maafkan aku Jongin". Sehun memeluk Jongin, membiarkan bajunya basah dengan airmata Jongin. Sehun meletakkan dagunya di atas kepala Jongin, liquid bening juga mengalir dari mata Sehun ia ikut menangis mendengar isakan pilu Jongin.
Cukup lama mereka terdiam pada posisi itu, Jongin yang merasa pegal membenarkan posisinya.
"Hyung?". Merasa dipanggil oleh beruang manisnya, Sehun menoleh dan betapa terkejutnya ia saat Jongin menubrukan bibirnya pada bibirnya.
Lumatan-lumatan ringan dengan ragu Jongin berikan pada bibir tipis Sehun. Ini pertama kalinya Jongin berani menciumnya duluan. Sehun membiarkan bibirnya ia mainkan oleh Jongin, ia hanya ingin menikmati semua yang Jongin lakukan untuk bibirnya.
Setelah pangutan itu terlepas Sehun menciumi seluruh permukaan wajah Jongin dengan gemas.
"Aku hanya mencintaimu". Sehun kembali mengecup bibir Jongin.
"Buktikan jika kau benar-benar mencintaiku hyung. Jadikan aku milikmu, seutuhnya". Sehun terkejut, ia mengerti maksud ucapan Jongin. Tapi apakah Jongin sadar mengatakan itu?
"Kau yakin?". Sebuah anggukan pelan Jongin berikan untuk menjawab pertanyaan singkat Sehun.
"Jangan dipaksakan Jongin. Aku tak mau melakukannnya jika kau tak ingin". Kali ini Jongin menggeleng. Ia menyakinkan Sehun jika ucapannya tidak main-main.
Dengan perlahan Sehun merebahkan tubuh Jongin di atas kasur. Dengan bertumpu pada tangan dan kakinya Sehun dapat melihat dengan jelas mata sayu yang bengkak milik Jongin dibawhnya.
Usapan lembut Sehun berikan pada permukaan pipi Jongin, perlahan wajahnya semakin ia dekatkan dengan wajah Jongin yang berada dibawahnya. Saat kedua belah bibir itu bertemu lenguhan lolos begitu saja dari mulut Jongin karena usapan lembut yang Sehun berikan pada nipplenya dari luar pakaiannya.
Sehun mulai membuka pakaian yang melakat pada tibuhn Jongin dengan perlahan tanpa melepaskan pangutannya.
Merasa sesak pada bagian dadanya Jongin mendorong bahu Sehun dengan perlahan. Nafas Jongin tersengal, dadanya naik turun seiring dengan oksigen yang masuk dalam tubuhnya.
Sehun tersenyum, Jongin benar-benar Sexy saat ini. Dan hal itu sukses membuat sesuatu pada bagian Selatan Sehun memberontak ingin dibebaskan.
Kini Sehun beralih pada leher Jongin, ia memberikan hisapan, lumatan hingga gigitan pada permukaan kulit leher Jongin. Nafas Jongin semakin putus-putus ia mengangkat kepalanya, membiarkan Sehun bermain dilehernya.
Jongin hanya dapat menggelinjang setiap kali Sehun menghisap kulit lehernya. Jongin terlena dengan semua perlakuan Sehun pada tubuhnya, akal sehatnya dikalahkan dengan mudah oleh nafsunya.
Sehun beralih pada kedua nipple Jongin, hanya jilatan melingkar sudah dapat membuat Jongin mengerang nikmat. Merasa cukup dengan nipple Jongin, Sehun semakin turun ke arah bawah tubuh Jongin.
Kecupan lembut Sehun berikan pada perut rata Jongin. Perlahan Sehun menarik celana panjang dan celana dalam Jongin Sekaligus hingga menampilkan Batang penis Jongin yang sudah menegang.
Fiuhh~
Tiupan ringan Sehun berikan pada Puncak penis Jongin, ia terus melakukan itu tanpa berniat untuk menyentuhnya.
"Ungh..". Sebuah lenguhan kembali terdengar, Jongin memejamkan matanya menikmati udara hangat yang menerpa permukaan kulit penisnya.
"Hyung.. Please.. ". Sehun terkekeh pelan, Jongin benar-benar candu untuknya.
Sehun mendekatkan wajahnya dan mulai memberikan tanda merah kebiruan pada paha dalam Jongin dengan mulutnya. Jongin mengerang, ia membuka pahanya lebar-lebar mempermudah kegiatan Sehun dibawah sana.
Jilatan, hisapan dan lumatan Sehun berikan pada penis Jongin sesekali tangannya meremas testis Jongin.
Jongin meremas seprai, matanya terpejam, bibirnya ia gigit menyembunyikan sebuah desahan erotis pada mulutnya, tumitnya menggesek permukaan kasur pada bagian bawah. Semua yang dilakukan Sehun pada tubuhnya sangat memabukkan.
Sehun melepas kulumannya pada Batang kejantanan Jongin, ia menatap Jongin daru arah bawah. Jongin sangat mengagumkan dan panas saat ini.
Sehun kembali ke atas, melumat bibir yang menjadi candunya saat ini. Ia menuntun kedua tangan Jongin untuk meraba dadanya dan melepaskan kancing-kancing yang masih tertutup pada kemejanya.
Jongin melakukannya, bahkan lebih. Setelah membuka seluruh kancing kemeja Sehun, Jongin beralih pada celana Sehun. Melepas pengaitnya dan mengeluarkan sesuatu yang lebih besar dan panjang dibandingkan miliknya. Sehun tersenyum ditengah lumatannya pada bibir Jongin.
Melepas pangutan keduanya, Jongin memandang Sehun meminta izin untuk melakukan lebih pada Batang keras yang berada pada genggamannya.
Sehun mengangguk, Jongin tersenyum. Perlahan Jongin menggerakan tangannya. Sehun hanya mengeram tertahan mendapat perlakuan lembut pada kebanggaanya.
"Kau Sexy hyung". Jongin menatap wajah Sehun tanpa mengurangi intensitas gerakannya pada penis Sehun.
Sehun kembali menubrukkan bibir keduanya. Tangan Jongin kini beralih pada rambut belakang Sehun, meremasnya perlahan dengan erangan disela pangutannya dengan Sehun.
Tanpa sepengetahuan Jongin, Sehun mengarahkan penisnya ke arah man Hole Jongin. Perlahan Sehun mulai mendorong penisnya ke dalam hole Jongin, mengabaikan erangan kesakitan Jongin pada bagian bawahnya Sehun terus memajukan pinggulnya untuk memasukan kejantanannya pada lubang sempit milik Jongin.
Tanpa penetrasi lebih dulu tentu saja mebuat Jongin kesakitan. Bukannya kejam terhadap suami manisnya ini, tapi Sehun benar-benar menginginkan penisnya lah yabg pertama kali membobol lubang Jongin, tidak dengan lidah atau pun jemarinya, hanya ingin penisnya yang pertamakali merasakan lubang hangat itu.
Jongin menggigit kuat bibir bawah Sehun yang melumatnya ketika merasakan lubangnya terasa penuh dan sesak karena benda besar yang mengisinya.
Merasa sakit dan perih pada bibirnya, dengan refleks Sehun melepaskan pangutannya dengan Jongin. Sehun terkejut melihat pipi Jongin yang basah karena airmata. Merasa tak tega dengan beruang manisnya Sehun mengusap pipi Jongin perlahan memberikan ketenangan disetiap sentuhan yang ia lakukan.
Cukup lama mereka terdiam, hingga akhirnya Jongin mengangguk. Memberi tanda pada Sehun bahwa ia telah siap. Sehun tersenyum, setelah memberikan kecupan singkat pada bibir Jongin ia kembali mendorong pinggulnya, agar penisnya masuk semakin dalam.
"Ya tuhan..". Erangan rendah lolos dari bibir Sehun ketika merasa pijatan yang diberikan dinding rectum Jongin pada penisnya.
"Ngahh..". Jongin mendongak, kepalanya pusing. Ia mabuk, tapi ini lebih menyenangkan dibandingkan mabuk minuman. Yah.. Mabuk seorang Oh Sehun.
"Tahan sayang..". Sehun membisikan kata penuh cinta pada telinga Jongin. Jongin tersenyum dan mengangguk.
Seolah mendapat persetujuan dari Jongin Sehun mulai memaju-mundurkan pinggulnya, memberi rasa yang tak akan terlupakan oleh Jongin.
"Ah.. Ahh..". Mengabaikan rasa nyeri pada lubangnya Jongin mulai mendesah, kakinya semakin terbuka lebar. Badannya terhentak dengan pergerakan Sehun yang semakin cepat.
"Ahh sayangh.. Sebut namaku". Pinta Sehun pada Jongin tanapa melepas pandannya pada wajah Jongin yang menutup matanya dan genjotan yang ia lakukan dibawah sana.
"Sehunhh.. Ngahh ahh Hyung~" . Sehun mabuk dengan suara desahan Jongin benar-benar dapat membangkitkan nafsu birahinya.
Sehun terus menusuk telak lubang Jongin dengan brutal, mengakibatkan ranjang yang mereka gunakan berderit. Penyatuan yang Sehun damba selama ini.
Kamar hotel ini sangat bersejarah bagi keduanya karena telah menjadi saksi bisu penyatuan mereka.
Suara erangan, desahan, geraman rendah, decitan ranjang serta suara kulit yang memenuhi kamar ini menandakan betapa hebatnya penyatuan yang mereka lakukan.
"AHH / AKH!". Desahan rendah Sehun dan teriakan Jongin menjadi penutup penyatuan mereka.
Sehun mengeluarkan penisnya dari lubang Jongin setelah menumbahkan semua spermanya pada lubang Jongin. Ia mengambil posisi di samping Jongin, mengecupnya singkat tepat dikening.
"Trust me, Jongin. Aku mencintaimu". Jongin tak menjawab pernyataan Sehun tentang perasaannya padanya. Ia hanya menunduk dan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Sehun yang polos tanpa kain.
Tanpa Sehun sadari, Jongin tersenyum dan menjawab pernyataannya dengan pelan.
'Aku juga mencintaimu, hyung'
Setelahnya Jongin mulai terlelap dalam tidurnya.
Tbc.
