Title : I Just Want U by My Side
Chapter : 10 of sekian~
Genre : Drama , Romantic
Rating : T
Author : Reika El Enma Ai
Cast :
Aiichi
Ichimoku Ren
Ai-chan
Hone
Madara
n many more ~
:D
Pairing : AiichiXRen, Ai-chanXMadara
Disclaimer : Miyuki Eto
Cukup lama juga aku terlambat, bahkan termasuk sangat terlambat. Seorang Shirayama Aiichi tidak pernah terlambat seperti ini. Benar-benar memalukan.
Ketika akhirnya aku menginjakkan kaki di lapisan hijau di taman sekolah, arloji mungil yang melingkari pergelangan tanganku menunjukkan keterlambatanku yang sudah di luar batas toleransi. Di mana Ren? Mataku berusaha mencari-cari sosok Ren di bentangan luas bernaungkan pepohonan itu.
Srek!
Terdengar bunyi berkeresek di belakangku. Spontan kuputar tubuhku dan melihat siapa yang ada di sana. Aku membeku sepersekian detik kemudian.
Segerombolan cowok yang kuketahui adalah teman-teman Ren di klub kendonya. Kelihatannya mereka sedang setengah mabuk, hei! Kenapa mereka berjalan ke arahku?
Tanpa sadar kedua kakiku membawaku ke belakang, mundur beberapa langkah hingga kurasakan punggungku beradu dengan sesuatu. Kepalaku berpaling, berusaha mencari tahu apa yang baru saja bertumbukan dengan punggungku. Mataku langsung melebar ketika mendapatkan jawaban atas 'sesuatu' itu.
"Hei, apa yang sedang kau lakukan di sini, gadis manis?" Cowok yang beradu dengan punggungku menyapa dengan sok manis. Keningku berkernyit. Mau apa dia?
"Jangan malu-malu begitu. Dari tadi kau terlihat sendirian, apa mau menemani kami bermain-main sebentar?"
Kurasa mereka tidak mengenali siapa diriku yang sebenarnya. Lucu. Betapa make-up dapat mengubah penampilan seseorang menjadi sosok yang lain.
"Ayolah, jangan diam begitu saja. Di sini begitu panas..." Salah seorang dari cowok itu menampilkan kilatan jahil di matanya. "Aku tahu tempat yang asyik. Bagaimana?"
Kini sebelah tangannya melingkari bahuku, yang berusaha kutepis tapi tetap melekat erat.
"Aku... tidak mau."
Kata-kata itu kubiarkan melompat keluar dari pita suaraku, dan hal itu sepertinya membuat cowok-cowok itu kaget. Mereka menatapku seolah aku itu gila.
"Kau sendirian kan?" Cowok berambut biru jabrik itu menarik tanganku.
Aku menggeleng cepat. "Aku menunggu pacarku."
"Kenapa tidak kau tinggalkan saja dia dan bermain dengan kami?"
"Sudah kubilang, AKU MENUNGGU ICHIMOKU REN!!!" Lepas kontrol, aku berteriak sedemikian kerasnya. Cowok-cowok itu menatapku dengan tatapan aneh, sebelum salah satu dari mereka tumbang bersamaan dengan terdengarnya bunyi hantaman.
"Kau tidak dengar? Ia menunggu AKU."
Suara itu...
Siluet itu...
Helai-helai rambutnya...
"Ren!" Aku bergegas menghampiri Ren, sebelum ia merobohkan orang lain lagi. Ren berbalik dan tersenyum.
"Komplotanku menyusahkanmu, Aiichi?"
"B-bos..." Salah seorang dari cowok-cowok itu tergagap melihat Ren. Ren balas memberikan death glare padanya.
"Berani sekali kalian mengganggu pacarku! Kutegaskan ya, SHIRAYAMA AIICHI INI PACARKU!! Tak kuizinkan seorangpun mengganggunya!"
Pipiku langsung memerah mendengar kata-kata Ren barusan. Terdengar kekanakan memang, seolah aku ini hewan sihir langka yang perlu dilindungi. Tapi aku suka itu.
"A-Aiichi?" Terdengar suara-suara kaget dari hadapan Ren. "Maksud bos, cewek itu si kutu buku Shirayama Aiichi???"
Terdengar bunyi hantaman lagi, kemudian disusul oleh erangan kesakitan.
"Tak ada seorangpun yang boleh mengatakan hal buruk tentang Aiichi! Sekalipun itu kalian, sobat..." Ekspresi Ren berubah menjadi ekspresi ketua Mafia. Tangannya diremas-remas sehingga menimbulkan bunyi 'kretek-kretek' yang cukup keras. "Ah ya, belum lama ini aku baru bergabung dengan sebuah doujou karate. Apa kalian ingin merasakan jurus baruku?"
"Ti-tidaaaaakkkk!!! Ampun bos!" Gerombolan laki-laki setengah mabuk itu lari tunggang-langgang, takut akan ancaman Ren.
"Selesai juga. Dasar teman-teman yang merepotkan!" Ren menghela nafas dan merapikan pakaiannya sebelum berpaling ke arahku. "Kau tidak apa-apa,
Aiichi?"
Otot-ototku berkontraksi dan menghasilkan sebuah gelengan yang kaku. Tubuhku mulai gemetar. Seandainya Ren tadi tidak segera datang, aku pasti...
"Kau terlambat." Kata-kata Ren memutus lamunanku. Aku tersentak dan mendongak, menatap matanya selama setengah detik, kemudian menunduk.
"Maaf..."
Ren tidak berkata apa-apa, ia hanya memelukku. Sesuatu yang hangat menyentuh kulit pipiku. Air mata! Ternyata aku menangis...
"Terima kasih, Ren. Kalau tadi kau tidak ada, aku―" Ibu jari Ren membungkam mulutku. Mataku kini bertatapan dengan mata biru gelapnya, membuat jantungku berdetak sepuluh kali lebih cepat.
"Sudahlah, sekarang kita berdua telah bersama. Bagaimana kalau kita mulai petualangan kita di taman ria, Tuan Putri?" Ren mengulurkan telapak tangan kanannya, siap untuk menggandengku. Kuletakkan tanganku di atas tangannya.
"Tentu..."
==================to be continued
