MOANA
.
.
.
Semua berkumpul di Fale Tele
Maui melihat betapa ramainya rumah pertemuan ini oleh orang-orang penting. beberapa dewan desa, tetua yang sudah berumur, bahkan Tui yang merupakan mantan Kepala suku turut hadir disitu.
Maui mengambil tempatnya, dia duduk di sebelah kanannya Tui sementara Kaele duduk di sebelah kirinya. Selain seorang tetua pulau, Kaele juga merupakan juru bicara Kepala suku, makanya ketika Moana sedang berhadapan dengan orang penting, maka Kaele yang bertindak menjalankan tugasnya disamping sang Kepala Suku.
"Jadi..."
Salah satu tetua desa, Atu, yang memulai pertemuan penting di Fale Tele.
"Moana sudah sakit hampir dua minggu lebih, banyak beberapa kegiatan yang tertinggal, terlebih... kita semua disini bisa memahami penyakit yang di derita oleh Kepala suku Moana" ucapnya.
Tui hanya diam.
"Tui, kau ayahnya, bisa kau jelaskan perkembangan kesehatan putrimu?" tanya Atu.
Tui sedikit berdehem "eehm, baiklah. pertama-tama terima kasih sudah mengundangku datang kemari. dan soal kesehatan Moana..."
Maui paling menunggu kabar ini, dia sangat merindukan Moana.
"Maaf, belum membaik" jawabnya.
"..."
Ah, ini kabar yang buruk. gumam Maui, ternyata kesehatan si Kepala suku itu terus menurun.
"Sejak malam kemarin demamnya masih meninggi, tapi batuk-batuknya sudah mereda. makanya aku sampai membawa Alelo menginap di fale ku untuk memastikan kondisi anakku" jelas Tui.
"Hmm... begitu ya" Atu mengangguk-angguk paham.
"Tapi dia masih belum bisa bangun, tubuhnya sangat lemah. untuk makan saja Moana perlu di suapi, terlebih dia tidak bisa memakan makanan padat" tambah Tui, menjelaskan lebih detail lagi.
"Jadi intinya, Moana belum sembuh total?" tanya tetua yang duduk disebelah Atu, namanya Erue.
Tui mengangguk pelan.
"Iya..."
"Aku mengerti, tapi tidak adanya pemimpin bisa membawa sedikit masalah untuk pulau. semua orang yang tinggal di pulau ini bergantung pada Kepala Suku, itu berlaku untuk pulau-pulau lain yang memiliki tradisi seperti itu"
"Lalu? kita harus apa?" tanya tetua lainnya.
"Tidak ada yang bisa kita lakukan kecuali menunggu Moana sembuh" jawab Atu lagi.
Semua yang hadir di rapat tersebut pun hanya bisa menghela nafas pasrah dan sedikit kecewa, Maui tahu itu.
"Tapi... jangan khawatir, aku yakin Moana akan sembuh lebih cepat. pasti bulan ini" kata Tui.
Atu menaikkan sebelah alisnya, tak yakin dengan kalimat yang di lontarkan si Mantan kepala suku tersebut. "Bagaimana kau bisa yakin Tui?"
"Aku ada bersamanya, istriku ada bersamanya... dan..."
Matanya pun melirik ke Maui.
"ada Maui bersamanya, kami pasti akan membantunya untuk sembuh"
"Maelo bilang waktu itu, Kohi bisa menular"
"Yaaa, Ya"
Semuanya mengangguk. mereka masih ingat apa yang di katakan Maelo saat itu terjadi.
Kohi itu menular!
"Penyakit Kohi jika kita lihat baik-baik nampaknya memang tidak akan bisa di sembuhkan, aku yakin sependapat denganmu Alelo"
Alelo pun terdiam.
"Ehmm... sebetulnya, bukan tidak bisa di sembuhkan. tapi memang belum bisa di sembuhkan, karena aku dan tabib lainnya perlu mencari obat untuk meredakan sedikit penyakitnya" jelas Alelo.
"Itu hanya meredakan penyakitnya, bukan menyembuhkan penyakitnya"
"Ya aku tahu, tapi aku akan berusaha. untuk Kepala suku Moana" tambah Alelo lagi.
"Kalau Kohi menular, berarti bisa menyebar ke semua orang. itu sangat berbahaya"
"Apa di desa ini tidak ada yang kena gejala kohi selain Moana?" tanya Atu.
"Tidak ada" jawab semua hadirin secara serempak.
Syukurlah, tidak ada yang kena gejala ini juga. gumam Maui, sepertinya rapat kecil ini berjalan dengan baik.
"Fuh, lega mendengarnya. tapi ini akan jadi tugas untuk Alelo dan tabib-tabib lainnya, pastikan warga Motunui tetap sehat. jangan biarkan Kohi itu cepat menular" perintah Atu. Alelo pun mengangguk.
"Siap"
"Kalau Kohi menular, berarti seharusnya aku juga kena penyakit anakku" kata Tui.
"Aku tahu Tui, tapi ini sudah lebih dari dua minggu. kalau anakmu masih sakit juga hingga berbulan-bulan kedepan, dengan terpaksa... kita harus ganti Kepala suku"
APA!?
Maui terkejut.
Ganti Kepala suku? apa-apaan ini!?
"Mengganti Kepala suku katamu?" tanya Tui lagi, pasti dia salah dengar.
"Dengarkan aku Tui, semenjak leluhur kita lahir hingga kita yang hidup didalam generasi sekarang ini, kita tidak pernah mempunyai pemimpin yang sakit-sakitan. dan baru kali ini, Moana lah orang pertama yang kena penyakit"
"Ta-tapi... Moana pasti sembuh, kalian juga harus percaya padanya" Tui agak mengelak.
"Aku memikirkan kalimatnya Maelo saat pertemuan kemarin, sepertinya Kohi memang menular. aku yakin dalam penyakit Moana seperti ini, menyebarnya datang secara pelan-pelan"
"..."
Menyebar secara pelan-pelan
Maui sampai meneguk ludahnya, khawatir kalau kejadian itu akan terjadi pada warga Motunui.
"Yang terpenting, kalau Moana tidak bisa sembuh, kita harus ganti Kepala suku yang baru. suruh Emu yang memimpin Motunui"
"Tunggu dulu" kata Tui, membuat seluruh pasang mata tertuju ke arahnya. "Akan ku tegaskan, Moana pasti sembuh. Moana adalah pemimpin kalian, dan kalian tidak punya hak untuk mengganti jabatannya disini"
"Tui, kami ini para tetua, kami yang berhak mengatur disini didalam fale ini"
"Tapi Moana adalah Kepala Suku kalian, dan dia yang memegang seluruh kegiatan yang ada di pulau ini" Tui menegas.
"Heh, pasti kohinya muncul karena kebanyakan berlayar ke laut" ketus salah satu tetua desa yang sudah berumur, Wailu.
Telinga Maui menangkap sindiran yang di ucapkan Wailu, berani-beraninya dia...
"Bisa jadi, Moana suka bermain ke laut, aku yakin penyakitnya muncul karena sering berenang kesana" tambah Atu.
Semua pun mengangguk-angguk paham. ada kemungkinan penyakitnya Moana muncul karena dia sering bersama laut.
"Hei, hei.. itu tidak mungkin, logika yang aneh" giliran Maui yang berbicara.
"Kau disini hanya mendengarkan, Maui"
"Aku bersama Moana setiap hari. aku tahu apa saja yang dia lakukan, penyakit Kohi muncul bukan karena Moana sering bermain di laut, jangan membuat dugaan sembarangan, ada aku disini yang menjelaskan semuanya" kata Maui.
"Tapi apa kau yakin Moana akan sembuh?" tanya Wailu.
"PASTI sembuh!" kata Maui. "Itu pasti, aku percaya pada Moana!"
"Kalau kau yakin Moana akan sembuh, coba jelaskan pada kami bagaimana cara menyembuhkannya!"
Dan pertanyaan itu membuat Maui jadi terdiam, dia berusaha berpikir mencari jawaban yang tepat atas pertanyaan si tetua Wailu.
"Ehh... i-itu..."
"Nah! kau sendiri tidak tahu kan, kalau Moana masih sakit-sakitan, kita ganti pemimpin baru. dan undang Maelo datang lagi ke Motunui!"
"Hehh sayang sekali, pemimpin hebat macam Maelo yang baru saja datang kemari, terpaksa harus pulang lagi gara-gara Moana penyakitan"
"Anakku tidak penyakitan!" teriak Tui.
"Anakmu penyakitan Tui! kau tidak lihat bagaimana Moana batuk-batuk terus setiap hari?!"
"Yang kau katakan itu termasuk penghinaan terhadap Kepala suku, Wailu!" ucap Tui lagi, tidak terima.
"Aku tidak menghina, ini kenyataan! jangan salahkan aku kalau semua orang di desa ini ketularan Kohi! aku sempat berpikir bahwa Moana adalah kepala suku yang sehat, tapi nyatanya aku salah. kau tidak bisa membesarkannya dengan baik Tui!" tambah Wailu lagi.
Tui menggertakkan giginya, sangat emosi.
"KAU...!"
"Tui! tenang dulu!" Kaele langsung menahan langkah Tui untuk menghajar si tetua sombong itu.
Suasana di dalam Fale ricuh dengan suara-suara para tetua dan dewan, Kaele sampai angkat bicara.
"Hei! tenang! tenang semuanya! ini bukan acara perkelahian! berhentilah untuk mericuh!" seru Kaele.
"Akan kubuktikan kalau anakku akan sembuh! kalian bisa lihat sendiri!"
"Tubuh anakmu terlalu kecil, dia tidak kuat menjaga kesehatannya sendiri!"
"Kalau kau berbicara seperti itu lagi, aku akan melemparmu ke laut!" ancam Maui, mulai memegang kailnya.
Maui paling tidak bisa menerima jika ada seseorang yang seenaknya merendahkan Moana. tidak boleh! siapapun tidak ada yang boleh mengejek Moana-nya, tidak ada yang boleh menginjak harga dirinya Moana...
Apalagi menghinanya...
"Heh! jangan sombong, kau memang dewa, tapi kau tetap setengah manusia!"
"Aku bersungguh-sungguh! jadi tutup mulutmu!" balas Maui.
"Kalau kalian setuju, singkirkan Moana dari desa ini. dia bisa memilih tempat tinggalnya sendiri! paling-paling dia memilih perahu dan lautan sebagai rumahnya!"
"Sepertinya, aku menyetujui itu!"
"Ya! Moana tidak bisa tinggal disini, kohi nya pasti menular!"
"Ya! yaa!"
"Ini demi Motunui, akan sangat membahayakan kalau semuanya tertular! terutama anak-anak!"
"APA!?"
Maui tak menyangka, sejahat ini kah para tetua dan dewan? sampai-sampai mereka berniat menggulingkan Kepala sukunya sendiri.
"Memangnya apa tujuan kalian mengganti kepala suku!? apa Moana kurang dalam memimpin desanya sendiri!?" tanya Maui, seketika seisi fale langsung diam.
"Motunui, tidak pernah mempunyai orang sakit untuk memimpin desanya!" kata Wailu, tak kalah membantah.
"Moana melakukan segalanya HANYA UNTUK KALIAN! apa kalian tidak ingat kutukan Te Ka yang menyebar kemana-mana dua tahun yang lalu, membuat kelapa dan ikan kalian lenyap tiba-tiba?!" tanya Maui lagi.
"Moana rela nekat pergi ke lautan lepas demi mengembalikan jantung Te Fiti agar kalian semua tidak mati! Moana melakukan itu karena dia sayang pulaunya! bagaimanapun dia, Moana tetap Kepala Suku. dia membantu warganya memanen kelapa, memancing, mengajari mereka berlayar, dan semuanya! bahkan tak bisa ku hitung berapa besar tanggung jawab yang dia bawa!"
Seisi Fale Tele sangat hening, memikirkan ulang penjelasan Maui yang baru saja terlontar untuk mereka.
"Jadi dimana rasa terima kasih kalian selama ini HAH!? APA YANG DI LAKUKAN MOANA KURANG CUKUP UNTUK KEHIDUPAN KALIAN DI DESA INI!?"
Dan pertanyaan Maui ini sukses membuat mereka jadi mengunci mulutnya.
"Aku takkan membiarkan siapapun yang berani-beraninya merendahkan Moana! kalian melakukan itu, aku yang bertindak!" kata Maui lagi.
Tui menatap pada Maui, dia sangat berterima kasih pada Maui karena telah membela anaknya.
"Maui, terima kasih" gumam Tui, Maui mendengarnya.
"Serahkan padaku" ucap Maui sambil tersenyum.
"Baiklah, kita sudahi dulu untuk hari ini" Kaele mulai berbicara setelah suasana mendingin.
"Tui, Maui, kalian boleh pergi dari sini. kuharap kalian bisa memahami situasi ini"
"Baiklah" Tui berdiri dari tempatnya.
"Akan ku ingatkan sekali lagi, Moana adalah Kepala suku kalian. jadi, percayakan semuanya pada dia" jawabnya lagi dan segera berlalu meninggalkan Fale Tele, bersama Maui menyusul dari belakang.
Aku akan selalu membela Moana, apapun itu
Maui sudah menduga, pembicaraan di Fale Tele tadi pasti berakhir berantakan. ada yang setuju, ada pula yang tak setuju.
Moana tetap kepala suku kalian, ingat itu...
...
Malam hari kemudian
"Bagaimana rapatnya?" tanya Sina.
"Yahh, sempat bersitegang"
"Apa?"
Tui hanya mengangkat bahu. "Mereka berniat mengganti Kepala suku baru"
"Mengganti Kepala suku?" tanya Sina lagi.
"Ya, tapi beruntung Maui langsung angkat bicara. dia berhasil mengunci mulut mereka yang mengejek putri kita" jawabnya lagi.
"Kenapa... mereka sampai melakukan itu?"
"Wailu bilang, kita tidak bisa membesarkannya dengan baik"
Dan penjelasan Tui pun membuat Sina terkejut.
Apanya yang tidak bisa membesarkan Moana dengan baik? mereka orang tuanya. mereka yang paling tahu bagaimana membesarkan putrinya dengan benar.
"Maafkan aku Sina, aku... tidak bermaksud menjelaskan ini padamu. tapi... rapat tadi ada benarnya juga, Moana tidak bisa sembuh dalam waktu cepat"
"Tapi Alelo sedang berusaha menemukan obatnya" tambah Sina.
"Tapi obat-obat itu hanya berfungsi untuk meredakan penyakitnya, bukan menyembuhkannya"
"..."
Dan keduanya pun hening , menatapi Moana yang tengah tertidur. syukurlah dia tidur, jadi dia tidak mendengar pembicaraan keduanya.
"Tui" Sina menaruh telapak tangannya di atas bahu suaminya "Aku tahu, obat-obat itu memang hanya meredakan penyakitnya saja. tapi bersyukurlah, putri kita masih diberi kesempatan untuk bernafas. aku sangat yakin, Moana akan sembuh..."
Tui hening sebentar, matanya tidak berhenti menatapi setiap sudut dari wajah anaknya. kemudian tangannya langsung menyentuh sisi wajah Moana dan mengusap-usap dengan lembut.
"Aku ingat momen setelah dia lahir, aku selalu berpikir kalau suatu hari dia akan menjadi wanita yang kuat" gumamnya.
"Aku tidak pernah tahu kalau ini akan terjadi" gumam Sina.
Tui mengangguk pelan "Aku tahu..."
"Kau sudah memberinya obat?" tanya dia lagi.
"Sudah, syukurlah Moana langsung tidur. dia juga tidak batuk-batuk hari ini"
Tui menghela nafas lega "Kuharap ini pertanda baik"
"Tidurlah Tui, hari ini pasti panjang bagimu" kata Sina, beranjak segera mengambil tikar dan menggelarnya di sebelah tikar putrinya.
"Baiklah"
Malam hari semakin mendingin
TO BE CONTINUED
AN : Akhirnya, masuk 10 chapter.
Nah! untuk chapter selanjutnya tunggu habis Lebaran ya. Eren sibuk banget di real life :v terima kasih telah membaca, mohon maaf atas keterlambatan cerita ini. tenang aja, Eren masih lanjut kok. terima kasih ya semuaaaa
Mohon maaf lahir dan batin :D
