Darling, you left something at my place © Aquien
Harry Potter © JK Rowling
Alih bahasa oleh neko chuudoku.
.
CHAPTER 10
.
"Lily."
"Scorpia."
"Scorpia? Kau sudah gila, Draco! Lagipula, Lily adalah nama yang sempurna untuknya."
"Aku sangat waras, dan kebetulan aku berpendapat bahwa Scorpia adalah nama yang sempurna. Itu adalah nama yang kuat, individualistik, serta mengikuti tradisi penamaan keluarga Malfoy. Lily, di sisi lain, adalah nama yang lemah, biasa saja, dan berasal dari bunga. Tidak ada Malfoy yang dinamai dengan bunga."
"Ibumu bernama bunga."
"Ibuku tidak terlahir sebagai seorang Malfoy, beliau dilahirkan sebagai seorang Black. Itu beda."
"Anak kita juga berdarah Potter. Dan nama ibuku Lily, dan aku sudah sejak lama memutuskan bila aku punya anak, aku akan menamai mereka dengan nama orang tuaku—James bila laki-laki, Lily bila perempuan."
"Itu alasan idiot untuk memilih nama seorang anak. Apa jangan-jangan kau berharap mereka jadi karbon-kopi orang tuamu?"
"Apa? Tidak, itu alasan yang sangat bagus. Aku ingin menamainya Lily untuk menghormati ibuku, bukan untuk menghidupkannya kembali. Gagasan yang bodoh sekali."
"Aku setuju. Memilih Lily sebagai nama memang bodoh."
"Bukan itu maksudku, dan kau tahu itu."
Harry melotot tajam pada Draco, yang balas melotot. Mereka telah cekcok soal nama anak mereka sejak anak tersebut pergi dengan kakek neneknya untuk malam ini, dengan maksud untuk memberi waktu istirahat bagi Harry dan Draco dan menghabiskan waktu bersama, berdua. Sejak bayinya lahir seminggu yang lalu, tak satu pun dari kedua orang tua baru ini mendapat tidur nyenyak semalaman dan mereka ada ujian final NEWT besok, setidaknya mereka butuh sedikit istirahat. Harusnya itu mudah saja, tapi mereka malah mulai berdebat soal nama anak mereka hampir segera setelah sang anak meninggalkan ruangan, mengoceh dengan senang hati di pelukan Narcissa.
Harry sedikit ngelantur dan kepikiran bagaimana nasib keempat kakek-nenek berbahagia yang sekarang tengah menghabiskan waktu bersama. Mereka masih belum berkompromi soal siapa yang akan menjaga anak perempuannya paling pertama, jadi sekarang si bayi menghabiskan waktunya bersama keempat-empatnya di salah satu ruang tamu Hogwarts. Harry hanya bisa berharap semoga mereka bisa mengatasi permusuhan mereka demi menjaga cucu mereka dengan benar.
"Lily nama yang sangat cocok, dan kau tahu itu—berkat mewarisi gen Malfoy, dia secantik bunga lily. Pasti sudah takdir."
Draco makin mendelik, tapi tak menjawab. Tapi Harry tahu bahwa dia tidak menang—setidaknya belum. Tapi dia bertekad untuk membujuk Draco bagaimana pun caranya.
Untuk sekarang, dia melepaskan subjek ini dan mereka duduk di sofa. Untuk beberapa saat, mereka hanya duduk, keheningan dan kecanggungan makin bertambah tiap menit. Sejak bayinya lahir, mereka terlalu sibuk merawatnya. Sekarang, hanya ada mereka berdua. Sekarang kesempatan mereka untuk berbicara. Jadi, secara alamiah, mereka hanya duduk di sana, hening.
"Apa kau melakukannya dengan sengaja?" Akhirnya Harry memecah kesunyian.
"Melakukan apa?"
"Ramuan berjalan-satu-mil. Memastikan kita salah membuatnya?" Dia bahkan belum menyelesaikan pertanyaannya saat dia menyadari kesalahannya. Draco melompat berdiri, wajahnya menggelap oleh amarah. Seperti biasa, di saat marah, suara Draco hampir kalem mematikan dan sedingin es.
"Beraninya kau. Apa kau tahu betapa menghinanya pertanyaanmu itu? Apa kau tahu?"
"Uhm, maafkan aku. Kurasa aku… tidak tahu?"
Draco hanya menatapnya dalam diam untuk sejenak, matanya gelap.
"Tidak, aku tidak sengaja membuat ramuannya salah. Aku tak akan pernah."
"Tapi…"
"Tidak. Tak ada 'tapi'. Kalau kau benar-benar berpikir aku mampu melakukan hal semacam itu… Aku tak tahu harus berkata apa. Sebenarnya seberapa rendah pendapat yang kau punya tentangku?"
"Aku tak bermaksud begitu! Aku tak berpikiran rendah tentangmu. Aku hanya…"
"Aku tidak percaya itu."
"Draco, aku tidak… Maksudku, bagaimana pun juga kau adalah Slytherin. Kalian memanipulasi, cerdik, dan menyusun rencana untuk mendapat apa yang kalian inginkan. Dan juga, kau sangat brilian di bidang ramuan! Bagaimana bisa kita salah membuat ramuannya?"
"Ya, aku memang seorang Slytherin. Bukan berarti aku akan melakukan hal semacam itu. Sejauh yang kutahu, kau sangat membenciku. Sekarang ini, aku mulai merasa mungkin kau masih membenciku. Kenapa aku harus menyusun rencana kotor untuk membuatmu hamil supaya aku bisa terikat pada seseorang yang membenciku? Tak peduli bagaimana perasaanku," suaranya memelan di bagian terakhir, dan dia sedikit merona, kentara sekali menyesali pengakuannya pada Harry. "Soal bagaimana kita bisa salah membuat ramuannya, yah, mungkin aku sedikit terdistraksi. Dan juga, kurasa aku tak sabar, karena aku betul-betul ingin ramuannya bekerja."
"Apa maksudmu? Kenapa?"
"Well, aku tak akan pernah mengacaukan ramuannya seperti yang kau sugestikan, tapi aku benar-benar ingin kau bisa melihat hal-hal dari sudut pandangku. Aku berharap itu bisa membuat kebencianmu padaku sedikit berkurang," dia menghela napas dan kembali duduk di sofa di samping Harry, tapi dengan cukup jarak di antara mereka.
Tiba-tiba, Harry merasa bersalah. Seminggu berlalu sejak pengakuan Draco saat kelahiran anak mereka, dan Harry bahkan belum memberitahu Draco bahwa dia bukanlah satu-satunya yang merasa seperti itu. Tentu, mereka memang sibuk, tapi harusnya dia setidaknya sedikit memberi komentar. Dia merona karena malu.
"Draco," ucapnya, pelan seraya menyentuh lengan lelaki yang satunya. "Maaf karena menanyakan hal seperti itu. Aku tidak berpikir. Aku hanya… Aku bahkan tak tahu kenapa aku bertanya, sebetulnya aku tidak mempercayai itu. Aku hanya ingin betul-betul yakin. Dan lagipula aku sudah dikenal tak pernah berpikir dulu sebelum bicara." Mulut Draco berkedut, seakan ingin tersenyum tapi menahanannya. Harry tersenyum seraya mengangkat tangannya hati-hati untuk menyentuh dagu Draco. "Aku tak pernah memberitahumu… Harusnya kukatakan, tapi aku tak berani. Aku benar-benar Gryffindor payah! 'Mione selalu mengoceh soal pentingnya membicarakan perasaanmu, tapi aku tak pernah banyak berlatih. Kalau saja aku membuka mulut, banyak masalah di musim semi ini bisa dihindari."
Dia mengelus dagu Draco pelan dengan ibu jarinya saat dia berbicara, mengagumi kekesatan kulit di sana. Tak ada akar janggut yang terlihat, tapi dia bisa merasakannya. Draco menatapnya dalam diam, dengan tampang hati-hati di matanya.
"Aku tak pandai berkata-kata, Draco. Keluarga Dursley—kerabat Muggle yang membesarkanku—tidak begitu tertarik pada kesehatan emosionalku. Juga pada kesehatan fisikku, sebetulnya." Mendengar ini wajah Draco berubah menjadi keryitan bertanya, tapi sebelum dia dapat mengucapkan apa pun, Harry melanjutkan. "Aku akan menceritakan itu padamu di lain waktu, oke? Inti pembicaraanku sekarang adalah aku cenderung lelaki dengan aksi, alih-alih kata-kata." Dengan itu, dia segera menarik Draco lebih dekat dan menyentuh bibir Draco dengan bibir miliknya.
Ciumannya lembut pada awalnya, tapi dengan segera menjadi lebih berani saat Draco pulih dari keterkejutan awalnya dan mulai berpartisipasi. Awalnya, Harry yang memimpin, tapi dengan segera dia mendapati Draco mengambil alih. Ujung lidah Draco menjilat bibir bawahnya, menggodanya untuk membiarkan Draco masuk. Harry ingin lebih aktif dan berebut kontrol dengan Draco, tapi dia malah merasakan dirinya menyerahkan diri—rasanya sangat nyaman untuk menyerah dan membiarkan Draco mengeksplorasi mulutnya dengan lidah. Bibir Draco kuat dan lembut, Harry merasa canggung dengan bibirnya sendiri yang kering dan pecah-pecah. Tapi Draco tidak tampak keberatan.
Sebelah tangan yang kuat menemukan jalannya ke bawah baju Harry, memulai eksplorasi pada tubuh Harry. Kulit telapak tangan Draco lembut, sama dengan bibirnya. Samar-samar Harry ingat pada sebotol lotion pelembab yang dia dapat dari Ginny Natal lalu dan tak pernah dibuka hingga hari ini. Mungkin setidaknya dia harus menimang untuk mencobanya? Saat satu jari mengusap putting kirinya pelan, semua pikiran soal lotion lenyap dan dia menarik napas tajam. Draco terkekeh.
Memisahkan diri, Draco menarik dan membuka baju Harry, sebelum meletakkan sebelah tangan di dada Harry dan mendorongnya untuk berbaring di sofa. Menindih Harry, dia mulai menelusuri corak di dada Harry dengan jari-jarinya, seraya tersenyum menggoda.
"Jadi, kau bilang kau bukan pembicara, kan?" Harry hanya hanya menggeleng sebagai respon. "Kurasa kita harus memperbaikinya, kalau begitu." Senyum di wajah Draco hampir mengandung kilatan predator sekarang. Dengan jari tengah kanannya dia menelusurkan angka delapan dengan malas di sekeliling aerolanya, sangat dekat tapi tidak menyentuhnya. "Jadi, apa yang seharusnya kau beritahukan padaku? Katakan Harry."
"Aku…hanya… Ohh…" Harry melengkung di atas sofa saat Draco membiarkan jarinya mengelus pelan sisi leher Harry. Tapi saat dia berhenti bicara, jari Draco juga berhenti bergerak. Harry mengangkat tangannya untuk menyentuh Draco, tapi Draco menghentikannya dengan senyuman. Harry bisa saja melawannya, tapi sebaliknya dia membiarkan Draco menaikkan kedua tangannya di atas kepala dan merapal mantra, mengikat kedua tangannya di sana—dia rasa dia berutang itu padanya, juga anehnya Harry merasa ini menggairahkan. Dia mengerang pelan saat Draco terkekeh.
"Mungkin kau perlu insentif untuk terus berbicara?" Draco mulai menggerakkan jari-jarinya lagi, entah bagaimana berhasil menemukan semua titik sensitif Harry dan menggodanya pelan, membuat Harry menginginkan lebih. Akan tetapi saat Harry tidak berbicara, Draco berhenti lagi, menyebabkan Harry akhirnya mengerti.
"Maksudku," dia berusaha konsentrasi untuk menemukan kata yang tepat, tapi lalu Draco menundukkan kepalanya cepat untuk menyentuh puting kanan Harry dengan lidahnya, membasahinya. Harry berusaha keras untuk mengeluarkan kata-katanya. "Harusnya aku…bicara…saat aku…aku…" Sekarang Draco meniupkan udara pada putting basahnya, membuatnya mengeras. Harry makin lama makin kesulitan bernapas.
"Ya?" tanya Draco dengan senyuman seraya bangkit untuk duduk, menatap Harry dengan senyum polos. "Kau sedang bilang apa?"
"Aku…Saat kita pindah ke sini. Setelah pengikatan," Draco membiarkan jari-jarinya menelusuri corak di atas kulit Harry lagi. "Malam itu, aku hanya… Atau sebetulnya esok paginya aku… Aku menyadari aku tak membencimu." Draco menatapnya sekarang, senyum menggodanya hilang, digantikan oleh ekspresi serius. Jari-jarinya masih menelusuri corak di kulit Harry pelan, tapi itu dilakukan tanpa sadar. Tatapannya intens dan mendesak Harry untuk melanjutkan. "Aku menyadari bahwa aku mungkin tak pernah membencimu. Aku menyadari bahwa alasan aku merasa tidak senang dengan semua ini adalah karena kupikir kau membenciku dan karena kita dipaksa untuk melakukannya. Aku… Sejak itu aku menyadari bahwa aku mungkin…" Draco hampir terdiam sekarang, jari-jarinya hanya menyentuh perut Harry, tanpa bergerak. Harry merasakan dirinya merona, menatap mata intens Draco. "Mungkin aku sebetulnya lega hal ini terjadi. Aku mengingat kembali tahun-tahun ke belakang dan melihat bahwa bagiku juga selalu hanya ada kau," dia menyudahi.
Draco tak mengatakan apa-apa, dia hanya menatap Harry. Lalu senyum kecil terbentuk, jenis senyum yang berbeda dengan sebelumnya.
"Sudah cukup bicaranya, Gryffindor!" dia bergumam parau dan membungkuk untuk menangkap bibir Harry dengan bibirnya sebelum melanjutkan eksplorasinya yang tertunda.
.
XXX
.
Setelahnya, mereka berbaring di samping satu sama lain di atas kasur Draco. Harry mengistirahatkan kepalanya di bahu Draco, tersenyum. Tepat seperti yang dia bayangkan, kulit Draco halus di sekujur tubuh. Ada beberapa rambut di tubuhnya, tapi hampir tak kelihatan dan luar biasa lembut. Dia merasa puas dan damai, hanya menyesali bahwa dia tak berbicara pada Draco lebih awal. Mereka bisa berbagi ranjang sejak berbulan-bulan lalu.
Jari-jari Draco sekarang tengah memainkan rambut Harry. Segera, mereka harus bangun dan berpakaian, karena bayinya akan dipulangkan pada mereka untuk bermalam. Melihat tempat tidur bayinya kosong terasa aneh, tapi mengetahui bahwa dia aman dan nyaman bersama kakek-neneknya membantu.
"Coba bayangkan, seminggu dari sekarang kita akan keluar dari ruangan ini dan pindah ke Manor, mulai merencanakan dan mendekorasi kamar anak. Mother sudah memulainya, tapi aku bersikeras bahwa dia akan meninggalkan keputusan-keputusan besar pada kita." Harry memandang Draco, berkedip untuk sejenak saat dia memproses kata-kata Draco.
"Manor? Kita tidak akan tinggal di Manor!"
"Kenapa tidak? Di mana lagi kita akan tinggal?" Draco terdengar betul-betul bingung.
"Di tempat mana saja di mana aku tidak pernah hampir mati? Di mana teman-temanku tidak pernah ditangkap dan disiksa?" Draco merona mendengarnya, tapi dia tak tampak berubah pikiran.
"Kalau begitu kau mengusulkan kita tinggal di mana?" tanyanya.
"Kita bisa tinggal dengan Sirius dan Remus. Setidaknya sampai kita punya rumah sendiri."
"Tidak."
"Kenapa tidak?"
"Mereka tinggal di kediaman keluarga Black, kan?"
"Yeah."
"Aku pernah ke sana beberapa kali saat masih kecil. Aku tidak mau berkunjung ke sana lagi. Selamanya." Ada finalitas dalam pernyataan Draco. Harry menimang untuk menanyakan alasannya, tapi merasa bahwa sekarang bukan saat yang tepat.
"Kurasa tinggal di the Burrow hingga kita punya rumah sendiri juga mustahil?" Draco melotot padanya, seperti yang sudah Harry duga. Mereka duduk dalam diam untuk sesaat.
"Awalnya aku pun tak tahan tinggal di Manor, setelah dia lenyap." Draco tak perlu menjelaskan siapa dia yang dimaksud. "Kemana pun aku pergi, aku diingatkan pada segala yang terjadi di sana." Draco bicara dengan suara menerawang, menatap kekosongan seakan sedang mengingat. "Mother tidak lebih baik. Tapi Father tak mau dengar soal pindah rumah, Manor telah menjadi kediaman keluarga Malfoy selama beberapa generasi. Sebagai gantinya, kami melakukan renovasi besar-besaran. Manor masih rumah yang sama, tapi kelihatan cukup berbeda. Di penghujung musim panas, sebelum datang ke Hogwarts, kadang aku masih teringat pada apa yang terjadi di sana, tapi kian hari kian berkurang. Mungkin kau juga dapat terbiasa nantinya? Kebunnya sangat indah, sempurna untuk tempat bermain anak kecil. Danau di dekatnya juga sangat bagus. Kau mengunjunginya saat upacara pengikatan kita, saat itu tak terlalu mengganggumu kan? Teman-temanmu juga kelihatan baik-baik saja berada di sana." Ada nada memohon dalam suara Draco. Harry memandangnya.
"Aku tak tahu. Selama upacara, aku merasa sangat kacau oleh itu semua hingga aku tak memikirkan soal itu… Mungkin aku memang bisa terbiasa, tapi tetap saja… Tidakkah kau lebih suka untuk tinggal di London? Di tempat yang lebih modern? Kita bisa punya rumah sendiri."
"London tempat yang bagus untuk dikunjungi, tapi apa kau betul-betul ingin tinggal di sana? Apa menurutmu tempat itu cocok untuk anak kecil? Bayangkan semua tempat terbuka yang bisa dia miliki di Manor." Dia pasti melihat keteguhan Harry untuk berkata tidak mulai goyah, jadi dia menambahkan argumen yang akhirnya mengalahkan Harry. "Aku akan membiarkanmu memberinya nama Lily."
"Sungguh?"
"Yeah, tapi aku tak begitu suka. Tapi kurasa bila kau bisa terbiasa tinggal di Manor, aku juga bisa terbiasa pewarisku bernama bunga," dia sedikit tersenyum saat dia berbicara.
xxx
Penghujung Juli, meninggalkan Hogwarts
Mereka mengepak barang-barang mereka. Lily tidur dalam aisan bayi yang Harry dapat dari Hermione.
"Aku tak percaya aku akan meninggalkan Hogwarts dan pergi untuk tinggal seatap dengan Lucius Malfoy," Harry mendesah pada dirinya sendiri.
"Memangnya kenapa dengan ayahku?" Harry menoleh untuk memandang suaminya, sebelah alis terangkat.
"Tidak banyak. Dia hanya pernah mencoba membunuhku sekali atau beberapa kali. Tapi, kau tahu, itu bukan masalah besar. Yang lalu biarlah berlalu," Harry memastikan sarkasme dalam suaranya terdengar jelas.
"Itu hanya politik. Kita semua keluarga sekarang." Draco memandang Harry dengan tatapan tegas dan sedikit tersinggung hingga Harry tak bisa untuk tak jatuh cinta padanya. Dia melingkarkan sebelah lengan ke bahu Draco dan menariknya mendekat.
"Yeah. Keluarga. Kau, aku, Lily, Narcissa dan Lucius. Siapa yang pernah menduga hal ini akan terjadi?"
"Kau melupakan ayah baptisku. Dia juga tinggal di Manor. Dia juga keluarga." Harry mematung dan menurunkan lengannya, lalu menoleh pada suaminya, syok tertera jelas di seluruh wajahnya.
"Tolong katakan bahwa ayah baptismu bukanlah orang yang kupikirkan!" Harry mendengar panik dalam suaranya sendiri.
"Aku yakin aku pernah menyebutkannya sebelumnya. Jangan khawatir, kau dan Severus akan belajar untuk saling menyayangi… atau, menyukai. Atau setidaknya saling mentoleransi satu sama lain," ujar Draco dengan senyum cerah palsu.
"Snape. Aku akan tinggal dengan Snape? Belajar untuk mentoleransi… Aku beruntung kalau dia tak membunuhku!"
"Jangan dramatis begitu. Aku yakin dia tak akan melakukan sesuatu yang lebih parah dari membuatmu cedera sementara beberapa kali."
xxx
Berdiri di depan Manor, Draco di sampingnya dan Lily masih tidur, Harry menengadah pada rumah barunya. Pastinya bakal menarik. Bila dia bisa bertahan hidup.
Pintu terbuka dan Narcissa, Lucius, serta Severus melangkah keluar untuk menyambut kedatangan seluruh sisa keluarga mereka.
.
TAMAT
.
Haiyaaaaa padahal saya niat nyelesein ff ini minggu kemarin orz.
Maaf saya tak sempat balas review /ngumpet/
Aquien menulis sekuel multichapter untuk ff ini tapi baru 1 chapter. Saya mau nunggu dulu sekuelnya tamat baru menimang buat diterjemahin atau engga.
Makasih banyaaakkkkk /kiss kiss kiss/
