.
.
Here it is part 2
WARNING! (SLIGHT) RATE M INSIDE!
No bash, no flame!
Yang belum cukup umur silakan skip everything!
Yang gak suka, silakan close tab silently!
I WARNED YOU! GROWL~ :(
.
.
Chanyeol tidak terlalu mengerti dengan sistem management perusahaan lain selain sistem management mall-nya sendiri, salah satunya hotel ini. Bangunan yang pernah dia datangi sepuluh bulan lalu untuk menghadiri acara pernikahan Himchan, sepertinya tidak mengalami banyak perubahan hingga saat ini. Sebagai orang yang sangat dekat dan identik dengan dinamisme–karena management mall menuntut 'sesuatu' yang selalu up to date dan baru–Chanyeol merasa ada yang salah dengan hotel itu.
Meski mungkin memang benar jika setiap hotel harus memiliki ciri khas masing-masing, namun tidak seharusnya tempat yang sering didatangi dan terkenal seperti itu malah terlalu kolot memegang 'ciri khas' tersebut. Sebab, hidup selalu berjalan dan masa selalu berganti. Tak ada yang bisa terus-terusan berada di satu titik yang sama, kecuali jika dia ingin tertinggal dari rekan-rekannya yang lain. Perubahan selalu ada, suka atau tidak suka.
Dan tak bisakah mempertahankan 'ciri khas' tanpa menepikan perubahan yang terjadi? Membiarkan kedua hal yang berbeda seperti itu untuk bisa saling melengkapi dan berjalan selaras akan menimbulkan sebuah daya tarik tersendiri. Tidak terlalu sulit merealisasikannya, karena terbukti jika Chanyeol selalu bisa melakukannya. Yang diperlukan hanyalah membuka pikiran dan sedikit menurunkan ego, dilengkapi dengan kreatifitas, maka jadilah konsep baru yang bersinar.
Dan bicara soal dinamisme, ada satu 'hal non-statis' lain yang tersangkut di kepala Chanyeol. Hal yang menurutnya masih menjadi sebuah misteri hingga sekarang dan tentu saja hal itu berhubungan dengan 'perubahan', namun 'perubahan' yang terjadi pada hal tersebut terlalu ekstrim. Begitu ekstrimnya hingga otak logis Chanyeol tidak dapat menalarnya dengan ribuan akson yang dia miliki.
Tapi perubahan ekstrim, kejutan, dan action background yang tidak pernah bisa ditebak serta dipahami dengan mudah seperti itu, malah punya daya tarik tersendiri yang membuatnya terlihat unik. Chanyeol bisa menyadari hal tersebut karena selama ini dia menjalankan perusahaannya dengan konsep perubahan yang tak jauh beda, penuh dengan surprise dan changing yang berkelanjutan.
Lalu dengan sadar Chanyeol juga tahu, jika daya tarik tersebut bisa sangat mematikan, sebab menyuguhkan ketertarikan di awal, berlanjut dengan rasa suka, hingga berakhir dengan menggilai. Lalu sekalinya sudah menggilai, maka akan sulit untuk terlepas dari candunya. Dan kini dengan pasrahnya Chanyeol sudah terjebak di dalam putaran candu yang memusingkan itu.
Tak ada cara yang bisa dia temukan untuk terlepas dan keluar dari jeratan pesona yang penuh racun tersebut, bahkan dengan kemampuan otaknya yang cemerlang sekalipun. Kepalanya yang mendadak malfunction, ditambah dengan hatinya yang tidak mau diajak kerjasama, menyempurnakan penderitaan Chanyeol. Hingga di sinilah dia berada, berdiri gamang di antara rasio dan egonya, tak dapat memutuskan akan memilih yang mana. Akankah memaksakan diri untuk lepas dengan mengorbankan hatinya sendiri, atau tetap bergeming tapi mengorbankan hati orang lain.
"Chanyeol-ah." Sebuah suara kecil yang memanggil namanya sontak membuat namja jangkung itu terjengat di tempatnya berdiri. Sepasang mata lebar tersebut membalas kosong tatap mata datar di hadapannya.
"Mau sampai kapan kau di situ?" tanya sosok bertubuh mungil yang terbalut rapat oleh mantel tersebut tanpa merubah ekspresi wajah cantiknya yang flat. Musim panas sudah berakhir dan cuaca menjadi tidak menentu karena sudah mulai memasuki musim gugur, ditambah dengan seringnya hujan yang mampir nongkrong di atas bentangan cakrawala Seoul, membuat mantel menjadi seperti icon baru yang dimasukkan dalam daftar fashion harian.
Chanyeol terdiam beberapa sesaat lalu menarik ujung bibirnya dengan kaku dan melangkahkan kaki, mengikuti gerakan Baekhyun untuk masuk ke dalam kamar besar yang visualisasinya masih cukup jelas dia ingat. Kamar itu adalah tempat dia berkenalan dengan Baekhyun. Kamar yang menjadi tempat mereka berbagi cerita patah hati dengan botol wine di tangan masing-masing. Dan kamar yang merupakan saksi bisu detik-detik mereka berbagi jiwa meski hanya untuk semalam. Seperti dugaan Chanyeol, tak ada perubahan berarti di kamar tersebut, bahkan mungkin tak ada perubahan sama sekali. Semua hal masih sama seperti saat pertama dia masuk dulu. Sekarang Chanyeol semakin yakin, jika memang ada yang salah dengan management kolot hotel ini.
Baekhyun melepas tas yang sedari tadi tersampir di bahunya lantas meletakkannya di atas sofa begitu saja. Yeoja itu juga melepas mantelnya dan memperlihatkan tubuh indahnya yang lagi-lagi hanya ditutupi oleh hot pants serta kaos pendek yang sedikit longgar. Tidakkah dia merasa kedinginan dengan pakaian sependek itu di cuaca lembab begini? Selain itu, penampilannya yang asal tersebut seperti memperlihatkan jika dia baru saja datang dari rumah dan tidak menjamah kantor sama sekali. Mata Chanyeol berkedip heran, Baekhyun tidak pergi ke kantor? Kenapa?
"Tunggulah di sini, aku mau cuci muka dulu," ujar Baekhyun sambil mencoba untuk tersenyum tipis meski yang muncul adalah senyuman kaku. Gadis itu nampak belum nyaman berbicara dan berhadapan lagi dengan Chanyeol. Wajar memang, baru saja ada kata 'putus' yang terucap di antara mereka dan sudah beberapa hari mereka tidak bertemu, akan aneh jika kecanggungan itu tidak ada.
"Mm," jawab Chanyeol pendek sambil mengangguk. Pupil matanya mengikuti gerakan Baekhyun yang berjalan menuju toilet sambil mengikat rambut panjangnya, lalu perlahan namja itu menghela napas.
Chanyeol melepas tas, mantel, dan jasnya, meletakkannya di sebelah tas dan mantel Baekhyun, kemudian menghempaskan diri di bantalan sofa yang empuk. Manager muda tersebut mengendorkan ikatan dasi yang sudah seharian seperti mencekik jalan napasnya dan begitu lehernya terbebas, keluarlah lenguhan lega dari celah bibirnya.
Chanyeol menerawangkan pandangan ke langit-langit kamar yang tinggi, perlahan dia menoleh, membenturkan mata pada mantel coklat tua tebal milik Baekhyun. Tangan namja itu terulur menyentuh permukaan halus mantel tersebut dan raut wajahnya berubah sendu.
Apa yang kau pikirkan, Baek? Pertanyaan yang sama kembali muncul di benak Chanyeol sejak dia mendengar permintaan aneh gadis itu di kantornya beberapa jam lalu. Baekhyun yang mendadak datang setelah tidak memberinya kabar apapun selama 3 hari, ditambah dengan pengajuan syarat tak masuk akal darinya hanya untuk mengakhiri hubungan mereka, benar-benar sudah berhasil memberikan heart attack berlapis bagi Chanyeol.
Chanyeol masih bisa terima jika persyaratan yang Baekhyun ajukan adalah melukai diri sendiri maupun menjadikan diri sebagai sansak tinju. Meskipun terkesan anarkis, namun hal-hal itu masih bisa dibilang layak dilakukan oleh seorang gadis yang marah karena diputuskan secara sepihak oleh kekasihnya. Apalagi mereka baru berkencan 3 bulan dan sama sekali tidak ada cekcok serius yang terjadi.
Namun persyaratan yang Baekhyun ajukan adalah sebaliknya. Tidur bersama? Apa gerangan yang ada di kepala yeoja itu? Bagaimana sebenarnya cara dia berpikir? Chanyeol tidak pernah bisa menebaknya dengan pasti. Mungkin karena waktu kebersamaan mereka yang singkat sehingga Chanyeol masih belum terlalu mengerti dengan rute pikiran Baekhyun yang memang terlampau misterius dan sulit dibaca.
Baekhyun benar-benar sangat dinamis, terlalu dinamis, lebih dinamis daripada perusahaan smartphone yang terus-terusan mengeluarkan terobosan teknologi baru setiap detik. Semua sel tubuh gadis itu seolah berubah dari waktu ke waktu, melebihi kecepatan perubahan jaman, hingga tak ada seorang pun yang cukup pandai untuk memahami isi kepalanya. Pemikirannya yang logis saja tidak bisa dipahami, apalagi hatinya yang pasti akan lebih rumit dan abstrak.
Baekhyun-lah 'hal' dengan semua perubahan ekstrim, kejutan, dan action background tak tertebak yang Chanyeol maksud. 'Hal unik' yang memberinya perasaan tertarik, suka, hingga candu yang membuatnya gila. Racun mematikan yang terpasang manis di setiap ujung tajam pesonanya sudah berhasil menusuk serta melumpuhkan hampir semua bagian tubuh namja tersebut, membuatnya benar-benar tidak bisa bergerak dan terjebak diam dalam perangkap cantiknya yang tak tertolak.
Gadis itu memberi Chanyeol semua alasan untuk tetap bertahan padanya, meski pada akhirnya Chanyeol membuang semua alasan tersebut dan memilih untuk membutakan mata-menulikan telinga hanya agar dapat meninggalkannya. Bodoh? Ya, Chanyeol sadar jika dia selalu berubah menjadi orang bodoh kalau sudah berhadapan dengan Baekhyun. Dari seorang Manager jenius menjadi orang dungu yang hanya memikirkan cinta dan dikuasai sepenuhnya oleh perasaan.
Chanyeol memejamkan kedua kelopak matanya perlahan. Dia lelah, lelah dengan semua kejutan yang memacu cepat detak jantungnya sejak tadi. Dia juga ingin mengistirahatkan sejenak dirinya dari semua pikiran dan kebimbangan yang menjajahnya di beberapa jam terakhir. Namja itu hampir mencapai batasannya sebagai seorang manusia dan jika hal seperti ini berlanjut, Chanyeol tidak yakin jika kewarasannya masih akan bisa memimpin seluruh kinerja tubuhnya esok hari.
Entah sudah berapa lama Chanyeol tertidur dan alam bawah sadarnya itu terganggu manakala dia merasakan ada yang memegang-megang kepalanya. Namja tersebut membuka mata dengan berat dan hal pertama yang dia lihat adalah sepasang benda membusung berlapis kaos yang menggantung tepat di depan wajahnya. Butuh beberapa detik bagi Chanyeol untuk memastikan jika dia sudah sadar sepenuhnya dan pemandangan itu bukan hanya ilusi kotornya semata.
Mata Chanyeol melotot dan buru-buru dia bangkit dari posisi bersandarnya, tanpa sengaja malah membenturkan mukanya tepat di permukaan benda kenyal tersebut. Gerakan Chanyeol yang tiba-tiba, sangat mengagetkan Baekhyun yang saat itu sedang menjulurkan tangan, bermain dengan rambut rapi namja tersebut. Tubuh gadis itu terdorong ke belakang dengan keras. Dan pasti badan petite-nya akan terjatuh membentur lantai jika saja sepasang lengan panjang Chanyeol tidak dengan sigap memegangi pinggang dan punggungnya.
Baekhyun membeku di pelukan Chanyeol, begitu pun dengan Chanyeol yang menatap tak berkedip pada wajah Baekhyun yang berada tepat di depan wajahnya. Apalagi posisi yeoja itu yang duduk begitu pas di atas pahanya. Untuk beberapa saat mereka saling bertatapan, tak berkedip, dan mengakhirinya dengan kegugupan yang teramat sangat. Chanyeol bergerak dengan gelisah, menyadari jika Baekhyun berada di posisi yang tidak mengenakkan. Sedikit saja gadis itu melakukan gerakan yang salah, setan di dalam diri Chanyeol bisa terbangun.
"Apa yang kau lakukan, Baek? Kau berat," desis Chanyeol berharap Baekhyun akan turun dengan sukarela dari pangkuannya segera.
"Menata rambutmu," jawab Baekhyun sederhana tanpa peduli pada keluhan di bagian akhir kalimat kekasihnya dan yeoja tersebut kembali menjulurkan tangan meraih kepala Chanyeol. Karena perbedaan tinggi badan, gadis itu harus setengah mengangkat bokongnya untuk bisa memegang rambut Chanyeol dan hal tersebut membuat wajah Chanyeol terpaksa harus berhadapan langsung dengan dadanya lagi.
Mata coklat namja jangkung itu mengerjab beberapa kali melihat benda indah ciptaan Tuhan yang membusung seolah meledeknya dan tanpa sadar dia sudah meneguk salivanya dengan kasar. Chanyeol menundukkan kepala serendah mungkin, membuat Baekhyun lebih mudah memainkan rambutnya dan tidak perlu setengah berdiri lagi di hadapannya, jadi Chanyeol juga tidak perlu berpura-pura untuk tidak melihat godaan iman tepat di depan matanya itu.
Namun begitu gadis tersebut lebih leluasa untuk menata rambutnya seperti yang dia katakan, malah gantian Baekhyun dengan tenangnya kembali meletakkan bokong sintalnya di titik terlemah Chanyeol. Dalam hati Chanyeol mendesis merutuki nasib sialnya yang bagai buah simalakama. Serba salah!
Baekhyun menarik tangan dari kepala Chanyeol, agaknya dia sudah selesai bermain dengan surai coklat gelap namja itu. Perlahan Chanyeol menaikkan kepalanya dan meraba rambutnya. Model rambut yang tadinya tersisir rapi ke belakang dengan memperlihatkan jidatnya yang lebar, sekarang sudah turun. Helaian surai itu diturunkan semuanya oleh Baekhyun, bahkan dia juga membuat poni Chanyeol menutupi keningnya. Chanyeol bisa membayangkan penampilannya sekarang pasti seperti saat dia bangun tidur atau sehabis mandi dengan model rambut yang hampir menyerupai jamur.
Chanyeol menyibakkan poni yang sudah tumbuh memanjang mencapai alis hitamnya itu ke arah samping. Dia memandang Baekhyun yang bergeming menatapnya dengan sepasang mata hazel yang berkedip-kedip polos. Puppy eyes tersebut kembali berhasil melumerkan hati Chanyeol menjadi saus merah jambu.
"Wae? Ada sesuatu di wajahku?" tanya Chanyeol dengan suara beratnya tanpa melepaskan pegangan tangan dari pinggang ramping Baekhyun, menjaganya jika sewaktu-waktu tanpa sengaja dia membuat gadis itu nyaris terjatuh lagi.
Baekhyun menelengkan kepala, membuat ekspresi imut yang entah sengaja atau tidak sengaja dia lakukan, tapi yang pasti sikapnya itu membuat Chanyeol benar-benar mulai hilang kendali. Mata Baekhyun mengerjab sekali lagi dan muncullah senyuman tipisnya.
"Kau sangat tampan kalau rambutmu turun," puji Baekhyun. "Dan sepertinya akan semakin bagus kalau kau mewarnainya hitam. Alismu hitam, jadi pasti rambut lahirmu hitam 'kan? Coba saja kau hitamkan, pasti cocok," celoteh gadis mungil itu seraya menyentuh alis tegas Chanyeol.
Chanyeol mengulum senyum, dia merasa senang mendengar kalimat Baekhyun yang keluar lancar dari bibir tipisnya. Tak ada lagi kecanggungan di wajah cantik itu, serta tak ada lagi ekspresi datar dan dingin yang menyesakkan dada Chanyeol. Baekhyun-nya sudah kembali, walaupun suaranya masih terdengar parau dan sedikit lemah seperti orang sakit, tapi Baekhyun yang ceria dan manja itu sudah kembali. Chanyeol menghembuskan napas lega menyadari perubahan sikap si mungil tersebut, sebab Baekhyun yang seperti ini akan membuatnya merasa lebih nyaman dan tenang.
"Memang penampilanku yang biasanya tidak tampan?" tanya Chanyeol iseng.
"Eoh." Baekhyun mengangguk cepat, cukup membuat kekasihnya terkejut. Namja itu mengira jika Baekhyun akan membelanya, tapi malah...
"Kalau kau menaikkan rambutmu kau jadi terlihat sangat resmi dan culun, benar-benar menggelikan. Kau jadi seperti seorang kutu buku yang introvert dan ketinggalan jaman," cela Baekhyun tanpa menyensor kalimatnya. Seperti biasa.
"Ya, ya, ya! Bisakah kau sedikit saja mengatakan hal yang baik tentang aku?" Chanyeol pura-pura kesal.
Baekhyun mem-pout-kan bibirnya dengan lucu.
"Aku 'kan sudah mengatakan kalau kau tampan." Gadis itu membela diri.
Chanyeol mendecih, "Neo jinjja..." gemasnya.
Baekhyun menyimpan senyum dan mendadak mengalungkan lengannya ke leher Chanyeol, mengagetkan namja tersebut. Baekhyun menatap lurus ke manik coklat di hadapan mata hazelnya, kemudian perlahan-lahan dia mendekatkan wajahnya ke wajah yang baru saja dia puji ketampanannya itu. Chanyeol sedikit menarik kepalanya hendak menghindari ciuman Baekhyun walau pada akhirnya yeoja itu mendapatkan bibirnya juga.
Chanyeol tidak menutup mata ketika Baekhyun mulai bergerak melumat bibirnya, karena jika namja tersebut menutup mata maka sama artinya dengan dia menutup kesadarannya dan membiarkan setan di dalam nalurinya bekerja. Baekhyun memperdalam ciumannya sembari mengeratkan pelukan di leher Chanyeol. Seiring dengan dia yang mendekatkan diri pada tubuh tegap itu, jarak di antara keduanya pun musnah sudah.
Chanyeol menahan napas saat merasakan sesuatu yang kenyal menempel lekat di dadanya dibarengi dengan bagian selatannya yang semakin tertekan, membuat seluruh pembuluh darahnya mendidih dan tubuhnya memanas. Sungguh sebuah siksaan yang lebih menyakitkan daripada mati.
Napas Chanyeol mulai terputus-putus di sela-sela perjuangan kerasnya untuk mengendalikan diri, sementara Baekhyun semakin dan semakin gencar menyerang jalan bicaranya dengan tempo ciuman yang semakin cepat dan menuntut lebih. Chanyeol sudah tidak bisa lagi berkonsentrasi antara mengimbangi ciuman Baekhyun dan menahan gejolak panas di dalam dirinya, sehingga dengan setengah memaksa namja itu melepaskan pagutan mereka.
Baekhyun melepaskan diri dari wajah Chanyeol dengan napas terengah dan dua pipi memerah. Hati Chanyeol menguap melihat paras cantik bidadari yang kini sedang memandang kecewa padanya tersebut. Terlepas dari betapa seksinya ekspresi wajah pasrah nan 'mengundang' yang dia perlihatkan, Chanyeol lebih menggaris bawahi sorot mata penuh kesedihan dan putus asa yang samar diperlihatkan oleh mutiara hazel itu. Chanyeol menyentuh sebelah pipi Baekhyun dengan lembut.
"Hentikan, Baek. Aku tahu kau tidak menginginkan ini. Jadi aku mohon hentikanlah, kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri," bisik Chanyeol bergetar.
Baekhyun menggigit kuat bibirnya dan mendadak kedua matanya tergenangi air. Menyadari jika Chanyeol sudah berhasil membaca isi hati yang mati-matian dia sembunyikan, membuat gadis itu merasa sesak mendadak. Dan sedikit dari rasa sakit yang menggigit kuat hatinya tersebut lepas ketika setitik air hangat jatuh ke permukaan pipi putihnya.
Tangan Chanyeol bergerak mengusap air mata Baekhyun sebelum berhasil luruh lebih jauh membasahi pipi halus gadis tersebut. Sekali lagi, Baekhyun menangis tanpa suara, meremukkan hati Chanyeol hingga menjadi potongan puzzle yang mustahil untuk disusun lagi.
"Baekhyun-ah..." desis Chanyeol tidak tahu harus mengatakan apa sedangkan kristal bening itu semakin banyak memenuhi kedua tangannya.
Perlahan Baekhyun menundukkan wajah dan bergerak turun dari pangkuan Chanyeol. Gadis tersebut duduk di sebelah Chanyeol dengan tetap menutup rapat mulut dan isakannya. Baekhyun mengusap kedua pipinya dengan jari-jemari lentik yang masih berhiaskan kutek pink hasil karya Yixing tempo hari. Dan dia masih tidak mengeluarkan suara sama sekali bahkan ketika Chanyeol menyampirkan mantel di kedua bahunya.
"Berdirilah, aku antar kau pulang," bisik Chanyeol lembut sambil mengusap singkat pucuk kepala Baekhyun. Namja itu berbalik untuk meraih jas dan mantelnya sendiri.
"Aku akan menangis kalau kau pergi." Tiba-tiba terdengar suara kecil Baekhyun yang menghentikan gerakan Chanyeol. Namja tersebut membeku di tempatnya.
Baekhyun menoleh, menatap lemah pada punggung lebar yang sekarang seperti sedang mencoba untuk kabur darinya itu.
"Aku tidak akan berhenti menangis kalau kau pergi." Gadis mungil tersebut mengulangi lagi kalimatnya.
"Tiga bulan kita bersama dan sama sekali tidak melakukan sesuatu layaknya orang yang berpacaran. Kau sibuk, aku sibuk. Jangankan untuk berkencan ke taman hiburan atau akuarium, yang bisa kita lakukan hanyalah makan siang bersama selama satu jam. Itu pun tidak setiap hari. Frekuensi yang sangat jarang seperti itu, membuatku merasa seperti tidak punya kekasih. Satu-satunya hal yang membuatku ingat jika kita berpacaran hanyalah, ketika kita saling bertukar panggilan sayang di chatting dan telpon. Selain saat-saat itu, aku bahkan tidak tahu alasan kenapa aku bisa mencintaimu," desis Baekhyun.
"Aku benar-benar tidak bisa mengerti kenapa aku memilihmu dan mengatakan kalau aku mencintaimu. Aku takut kalau apa yang aku rasakan sekarang hanyalah obsesi seperti yang mereka katakan. Aku tidak mau kalau ini hanya sekedar obsesi yang nantinya luntur begitu aku bosan. Aku tidak mau merasa bosan padamu dan aku tidak mau perasaanku luntur begitu saja, karena aku tahu kalau kali ini aku benar-benar jatuh cinta. Ini bukan obsesi, ini cinta. Dan saat aku mendapatkan alasan untuk meyakinkan diriku bahwa kau bukan sekedar obsesi, kau melakukan ini padaku.
"Sekarang ... apa yang harus aku lakukan, huh? Saat aku merasa akhirnya aku bisa benar-benar mencintai seseorang, orang itu malah pergi meninggalkan aku. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Chanyeol-ah, beritahu aku apa yang harus aku lakukan...!?" kalimat panjang Baekhyun berakhir dengan ratapan, air matanya kembali dan semakin deras meleleh dibarengi dengan isakan yang meledak keras di tengah-tengah kesunyian kamar.
Setelah berhari-hari, akhirnya sesak yang menghimpit dadanya itu lepas juga. Dia tidak berani menangis dengan suara keras di rumah karena takut jika Chen akan mendengarnya dan berpikir yang tidak-tidak padanya. Baekhyun juga tidak mau merepotkan Kyungsoo maupun Yixing. Satu-satunya cara hanyalah menahannya sebisa mungkin dan membiarkan rasa sesak itu menggerogoti tubuhnya dari dalam, menciptakan penyakit yang membuatnya terbaring seharian di tempat tidur.
Setelah beberapa saat terisak, Baekhyun menarik napas panjang seraya mengusap kasar kedua pipinya yang basah dan kembali memandang ke punggung yang masih bergeming tak ingin melihatnya tersebut.
"Aku mengajakmu tidur bukan bermaksud untuk mengancammu. Kau sendiri tahu kalau aku orang yang berpikiran pendek, tak ada hal lain yang bisa aku pikirkan selain ini. Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu. Hanya kau dan aku. Aku ingin kita, setidaknya sekali saja, bersikap seperti layaknya orang yang berkencan. Karena aku tidak mau membencimu, Chanyeol-ah. Karena aku tidak mau mengingatmu sebagai orang yang menyebalkan. Karena aku mencintaimu ... aku benar-benar mencintaimu..." air mata Baekhyun kembali tumpah tanpa bisa ditahan. Gadis mungil itu kembali tersedu seperti anak kecil, membiarkan liquid-nya membanjir dan semakin membuat berantakan wajahnya yang memang sudah nampak pucat sejak awal.
Baekhyun kesal, sedih, dan tidak terima. Di saat dia memiliki begitu banyak kenangan indah bersama dengan Yongguk, yang bahkan suaranya saja tidak sudi dia ingat, dia malah tidak memiliki moment apa-apa selama bersama dengan Chanyeol, yang selalu berhasil membuatnya berdebar tidak karuan meski yang dia lakukan hanyalah bertatapan dengan sepasang mata teduh itu. Untuk pertama kalinya Baekhyun merasakan cinta yang begitu besar pada seorang namja tapi di saat yang sama cintanya harus terenggut dengan kejam tanpa bisa dia melakukan apapun.
Dia tidak mungkin memaksa Chanyeol untuk memilihnya jika yang jadi taruhan adalah Ibunya sendiri. Jika Baekhyun ada di posisi Chanyeol, Baekhyun juga pasti akan memilih Ibunya lebih dari apapun. Itulah alasan kenapa gadis tersebut semakin merasa kesal, karena dia sudah menjadi satu dari dua pilihan di saat tidak ada kesempatan untuk dipilih sama sekali. Benar-benar menyebalkan!
Baekhyun masih menangis hingga kemudian secara tiba-tiba tubuhnya direngkuh ke dalam pelukan erat oleh sepasang lengan yang panjang. Baekhyun menghentikan tangisannya untuk sesaat karena merasa sesak didekap sedemikian kuat oleh Chanyeol. Namja itu melingkarkan lengannya di pinggang dan belakang kepala Baekhyun, sementara dia menenggelamkan wajahnya tepat di sisi leher gadis mungil tersebut.
"Maafkan aku, Baek. Maafkan aku ... aku minta maaf..." bisik Chanyeol dengan getar tangis di nada suaranya yang dalam dan lirih. Mata Baekhyun kembali berair dan tangisnya kembali pecah bersamaan dengan dia balas memeluk erat tubuh Chanyeol.
"Maaf, Baek ... aku juga ... aku juga mencintaimu, sangat mencintaimu ... maaf ... maafkan aku..." isak Chanyeol semakin mempererat pelukannya tanpa ingat pada seberapa kecil tubuh gadis di dekapannya sekarang. Tapi Baekhyun tidak peduli, dia menangis di bahu Chanyeol, membiarkan air matanya jatuh dengan deras membasahi kemeja putih namja itu. Dan selama beberapa saat keduanya bergeming di posisi mereka. Saling berpelukan dan menangis menuntaskan semua sesak yang sama-sama sudah meremas hati mereka hingga tak berbentuk.
Perlahan Chanyeol melonggarkan pelukannya, dia mengusap kedua matanya yang basah dan memandang wajah Baekhyun yang tidak kalah berantakan. Chanyeol tersenyum melihat hidung mungil kekasihnya itu memerah dan beringus. Dia merogoh saku celananya dan mengambil sehelai sapu tangan. Dengan lembut namja tersebut membersit hidung Baekhyun dan juga mengusap air mata serta keringat yang membasahi kulit wajah cantik itu.
"Jangan pernah menangis diam-diam lagi. Jangan sekali-kali menahan suara tangisanmu lagi. Menangislah seperti ini, yang keras. Tumpahkan semuanya, keluarkan semuanya sampai kau merasa lega. Kalau perlu kau juga harus berteriak dan memaki. Legakan hatimu, lepaskan semua beban. Jangan pernah menahan apapun sendirian lagi. Arajji?" bisik Chanyeol seraya memegang hangat kedua pipi Baekhyun. Gadis mungil itu mengangguk sambil tidak bisa berhenti tersedu-sedan. Sikapnya begitu patuh persis anak umur lima tahun yang sedang dinasehati oleh kakak laki-lakinya.
Senyuman lembut Chanyeol muncul walau kedua mata lebarnya jelas-jelas memperlihatkan luka. Namja itu belum melepaskan tangkupan tangannya dari pipi halus Baekhyun dan terdiam, menatap lekat ke manik hazel yang balik melemparkan pandangan heran padanya. Chanyeol terpaku mengarahkan pupilnya tepat ke tengah iris gadis di hadapannya, seperti sedang mengajak si mungil itu untuk bicara melalui hati.
"Chan..." desis Baekhyun sama sekali tidak bisa mengerti arti dari tatapan lekat mata coklat kekasihnya tersebut.
"Baekhyun-ah," panggil Chanyeol.
"Ne?" balas Baekhyun cepat.
"Bolehkah aku bersikap egois kali ini?" desis Chanyeol seraya gantian memperlihatkan kesedihan dan keputus-asaan di kedua matanya.
Dua perasaan yang sebenarnya juga dia rasakan, tapi coba dia sembunyikan di hadapan Baekhyun hanya untuk menegarkan dirinya sendiri dan berharap Baekhyun akan terpengaruh jika dia berpura-pura tegar seperti ini. Meski pada kenyataannya, malah sikap 'jujur terhadap perasaan' yang dimiliki oleh Baekhyun yang berbalik memberikan pengaruh besar pada Chanyeol untuk tidak lari lagi dari kata hatinya. Gadis itu menyadarkan Chanyeol pada suara hatinya yang sudah mulai parau dan memelas, karena setiap kali menjerit sama sekali tak digubris oleh pemiliknya yang selalu lebih memilih rasio di atas apapun.
Baekhyun terdiam bingung dan hanya balik menatap penuh keheranan pada mata kekasihnya yang masih belum mengalihkan pandangan darinya.
"Aku akan memilihmu..."
Sepasang mata Baekhyun melotot. "Andwe, Chanyeol-ah!" potongnya cepat. "Umma-mu lebih penting!"
"Apa aku tidak penting?" desis Chanyeol tiba-tiba, sorot matanya meredup. "Apa aku tidak penting bagimu?"
Jantung Baekhyun serasa melorot turun hingga ke diafragmanya melihat goresan luka berdarah di kedua mata lebar yang biasanya bersinar-sinar itu. Baekhyun meraih tangan besar Chanyeol yang masih memegang wajahnya, menggenggamnya dengan erat.
"Kau segalanya untukku, Chanyeol-ah. Tapi aku mohon jangan korbankan orang tuamu. Dia Umma-mu, bukan orang lain. Aku mohon, jangan lakukan itu..." pinta Baekhyun, matanya kembali basah.
"Tapi aku tidak bisa meninggalkanmu ... aku tidak mau berpisah denganmu..." Chanyeol menggeleng dan merengek persis seperti anak kecil. Kristal bening juga kembali berkumpul di balik kedua kelopak matanya, bersiap untuk kembali membuat aliran kecil liquid di kedua pipinya.
Mendengar perkataan dan permintaan kekanakan namja jangkung di depannya sekarang, seulas senyuman cantik tersungging di bibir tipis Baekhyun.
"Terima kasih..." bisik Baekhyun tulus. "Terima kasih karena kau sudah mengatakan kau tidak bisa meninggalkanku ... itu benar-benar membuatku senang, Chanyeol-ah ... terima kasih..." tangan Baekhyun bergerak meraih wajah Chanyeol dan menariknya mendekat, dia menempelkan kedua kening mereka hingga ujung hidung mereka bersentuhan.
"Aku mencintaimu, Baekhyun-ah ... sangat ..." bisik Chanyeol bergetar, matanya memejam bersamaan dengan setetes air bening yang kembali jatuh.
"Na do ... na do, Chanyeol-ah ... saranghae ..." balas Baekhyun lirih dengan sebelah tangan terangkat menghapus jejak air mata di pipi kekasihnya. Baekhyun mendaratkan kecupan singkat di kening Chanyeol dan kembali menempelkan keningnya di jidat lebar namja itu sembari melingkarkan lengan ke belakang surai coklat tua Chanyeol, mengelusnya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Sekali lagi mereka saling menenangkan satu sama lain. Berbagi pelukan, air mata, dan kata-kata cinta yang terbisik lirih di antara denyutan perih hati yang terbelah dan menyerah. Terus-menerus mengatakan 'aku mencintaimu' seolah tak akan ada hari esok lagi bagi keduanya untuk saling memperdengarkan kalimat itu. Walau mereka sendiri tahu, jika esok masih akan tetap ada dan matahari masih akan terbit membawa nama 'pagi' bersamanya. Hanya saja yang jadi pertanyaan adalah ketika pagi itu datang masihkah keduanya menjadi 'mereka' atau akan berubah menjadi dua nama yang terpisah.
Baekhyun yang memulai, perlahan dia mengikis jarak yang sudah pendek di antara wajahnya dan wajah Chanyeol, mendaratkan kecupan ringan di permukaan bibir namja itu. Chanyeol spontan menutup mata ketika merasakan ada daging lembut yang menyentuh bibirnya. Dan saat ciuman itu terlepas, dada Chanyeol terasa nyeri, ada perasaan tidak rela di dalam hatinya.
Namja tersebut membuka mata dan memperhatikan yeoja mungil yang sekarang sedang duduk diam memandangnya, tepat di depannya. Wajah Baekhyun yang jauh, sinar matanya yang redup, dan senyuman kecilnya yang terkesan dipaksakan di atas semua kesedihan yang sedang dia rasakan, hati Chanyeol terasa seperti diremas-remas melihat itu semua. Dan sekali lagi Chanyeol membuang semua rasionya di depan Baekhyun, sekali lagi dia menepikan seluruh logikanya karena gadis itu.
Dengan tiba-tiba lengan Chanyeol terulur, langsung meraih tengkuk Baekhyun, dan menariknya cukup keras hingga membuat gadis mungil itu terkejut. Tubuh mereka berdua kembali berbenturan dengan bibir yang sudah saling mendapatkan satu sama lain. Tangan Chanyeol yang satunya melingkar di pinggang ramping Baekhyun, memeluknya dengan erat sementara dia tetap memegang belakang leher yeoja itu, menekannya perlahan untuk memperdalam ciuman mereka.
Rasa terkejut Baekhyun menghilang seiring dengan gerakan pelan dan lembut dari bibir Chanyeol yang memanjakan jalan bicaranya. Selalu, Baekhyun tak pernah bisa menolak rasa manis yang disuguhkan oleh belahan bibir kekasihnya itu. Dan kembali, Baekhyun memuji di dalam hati cara Chanyeol yang memperlakukan dirinya dengan hati-hati serta penuh kelembutan. Setiap gerakan dan sentuhan namja itu sungguh menghanyutkan, membuat Baekhyun melupakan daratan untuk sesaat.
"Umph..." Baekhyun mengerang tertahan ketika merasa dadanya sesak dan butuh oksigen secepatnya. Chanyeol segera melepaskan ciuman mereka dan langsung menyunggingkan senyum begitu melihat wajah merah serta napas terengah yang menggoda dari puppy manis di pelukannya tersebut. Baekhyun selalu memberinya pemandangan indah seperti itu setelah mereka berpagutan, benar-benar ekspresi tersipu yang sangat cantik dan menggemaskan.
Lalu tanpa keduanya sadari, selagi mereka berciuman, mereka sudah saling menjatuhkan diri di atas sofa. Chanyeol menahan tubuhnya dengan kedua lengan sambil menatap intens pada wajah cantik yang terbaring tepat di bawahnya sekarang. Sedangkan Baekhyun juga tidak bisa melepaskan tatapan dari sepasang manik coklat teduh yang seolah bertanya padanya, 'Bolehkah?'.
Yeoja itu mengangkat kedua tangannya, memegang kedua sisi kepala Chanyeol dan perlahan membawanya untuk menunduk, menenggelamkannya tepat ke sebelah leher hingga bisa Baekhyun rasakan sapuan hangat napas Chanyeol yang menerpa permukaan kulit putihnya, membuatnya merinding dalam sekejab.
Menyadari jika gadis di pelukannya sudah memberinya ijin, Chanyeol memberanikan diri untuk menyentuhkan permukaan bibirnya di kulit leher Baekhyun. Bisa dia rasakan tubuh mungil itu menegang seketika akibat ulahnya. Chanyeol mengulum senyum, baru sentuhan pertama dan dia sudah mendapatkan reaksi yang sangat menyenangkan dari kekasihnya.
"Katakan kalau sakit," bisik Chanyeol lirih dijawab anggukan oleh Baekhyun yang dengan susah payah menenangkan jantungnya yang entah sejak kapan sudah berpacu lebih cepat. Ini bukan pengalaman pertama untuknya, tapi kalau dia bahkan tidak bisa mengingat yang pertama, bukankah sama saja pengalaman kedua ini menjadi pengalaman pertamanya?
Untuk sesaat Baekhyun merasa takut. Takut dengan rasa sakit yang banyak dibicarakan orang-orang, takut dengan akibat yang sudah menunggunya, takut jika ini adalah keputusan yang salah. Tapi semua keraguan itu sirna ketika sekali lagi Chanyeol mendaratkan bibir di kulit lehernya, mengecup satu titik itu dengan lama sebelum akhirnya menyesapnya pelan. Baekhyun merasakan tubuhnya seperti tersengat listrik tegangan tinggi yang membuat semua rambut halusnya berdiri dan meloloskan desahan pelan dari celah bibir tipisnya.
Selesai membuat tanda kepemilikan pertamanya atas tubuh mungil Baekhyun, Chanyeol meratakan ciuman ke seluruh leher gadis itu sambil sesekali menyesap dan menggigit kecil hingga meninggalkan bekas kemerahan di permukaan kulit kekasihnya yang terasa begitu lembut seperti kulit bayi di indera pencecapnya. Selagi Chanyeol sibuk dengan kegiatannya, Baekhyun juga sibuk meremas rambut namja itu sambil sesekali menggeliatkan badan karena tidak kuat menahan rasa geli yang membuat bibirnya tak bisa berhenti menyebut nama Chanyeol di antara desahannya.
Terlebih ketika tangan besar itu bergerak dan berhenti di atas salah satu puncak dada Baekhyun yang membusung padat tanpa disadari oleh si pemilik dada. Baekhyun memekik keras saat merasakan remasan kuat di dadanya yang membuat seluruh tubuhnya memanas dalam sekejab. Gadis itu berhenti bernapas selama beberapa detik dan udara yang kemudian keluar dari bibirnya dipenuhi oleh erangan frustasi yang kembali menyuarakan nama Chanyeol.
Mendengar namanya disebut berkali-kali sebagai tersangka, Chanyeol bisa merasakan pandangannya semakin berkabut dan gelap tertutupi nafsu yang dibawa keluar oleh setan dari dalam dirinya yang telah terbangun. Chanyeol memindahkan tangan ke balik kaos longgar yang dipakai oleh Baekhyun, sedikit menaikkan benda itu hingga memperlihatkan kulit perut gadisnya yang halus.
Tubuh Chanyeol merambat turun, melanjutkan perjalanannya ke 'lahan baru' yang belum tersentuh sedikit pun. Kembali mendaratkan kecupan-kecupan lembut yang membuat Baekhyun semakin uring-uringan menyebut namanya. Suara Baekhyun terdengar sangat indah di telinga Chanyeol, lebih indah dari suara koor gereja, dan mungkin hampir setara dengan melodi surga. Membuat namja itu semakin nekat membuang sisa-sisa kewarasannya dan membiarkan dirinya tenggelam lebih dalam di lingkaran hasrat yang tinggi.
Chanyeol masih memanjakan setiap jengkal tubuh Baekhyun dengan gerakan bibirnya yang tidak berubah sama sekali. Lembut dan pelan. Meskipun Baekhyun sudah memberikan reaksi yang benar-benar menyenangkan dan nyanyian merdu yang sangat membangkitkan gairah, namun sebisa mungkin Chanyeol menahan diri. Dia tidak ingin menyakiti Baekhyun, walau dia juga tidak menampik jika saat ini dia benar-benar bernafsu untuk segera memiliki gadis itu seutuhnya, tapi Chanyeol tidak mau membuat Baekhyun menangis.
Chanyeol tidak akan membiarkan air mata Baekhyun keluar hanya karena merasakan sakit dan perih ketika dia 'memasuki'nya nanti. Dia ingin gadis itu meneteskan air mata karena rasa puas yang dia berikan, bukan karena rasa sakit akibat permainan terburu-buru mereka. Oleh karena itu sebisa mungkin Chanyeol menyentuh dan menjamah tubuh panas kekasihnya dengan perlahan dan sangat hati-hati, tanpa tahu jika keputusannya tersebut malah berbalik membuat Baekhyun terlempar hingga ke langit lapis tujuh.
Terlebih saat kedua intim mereka bertemu, begitu hati-hati Chanyeol memasukkan 'dirinya' sehingga tanpa Baekhyun sadari namja itu sudah sepenuhnya terbenam di dalam tubuhnya. Sungguh, Baekhyun tidak bisa memfokuskan pikirannya pada apapun karena bibir dan tangan Chanyeol yang terlalu memabukkan. Tubuh namja tersebut seperti mengandung kadar alkohol yang sangat tinggi hingga benar-benar mengikis habis kewarasan Baekhyun. Sampai-sampai gadis tersebut tidak merasakan sakit maupun perih walau berkali-kali Chanyeol memujinya yang begitu 'ketat menjepitnya'. Cinta Chanyeol terlalu besar melebihi hasratnya, itulah yang membuat Baekhyun ikut terhanyut dan sama sekali tidak merasakan sakit atas setiap perlakuan namja tersebut pada tubuhnya.
Nikmat, suka, kesal, dan frustasi campur aduk di dalam diri Baekhyun. Gerakan dan jamahan lembut dari Chanyeol sukses mengosongkan isi kepalanya lantas membuatnya melayang meninggalkan bumi, memunculkan seringaian senang di antara alunan not balok yang tidak bisa berhenti dia lantunkan atas setiap gerakan namja itu. Sementara rasa panas membelit kuat tubuh mungilnya yang terus-menerus menegang, debaran cepat jantung membuat napasnya ikut saling berkejaran, serta sengatan-sengatan yang tidak berhenti mengejutkan setiap benang sarafnya, sukses membuat yeoja itu kelelahan meski yang dia lakukan hanyalah berbaring dan menerima setiap 'keisengan' Chanyeol.
Namun terkadang Baekhyun juga merasa kesal pada Chanyeol yang menurutnya bergerak terlalu pelan. Dia tahu jika kekasihnya itu tidak ingin melukai dan menyakitinya, tapi dalam kondisi berada di puncak rasa panas seperti ini, menerima perlakuan yang terkesan lelet dan berhati-hati membuat Baekhyun mau tak mau merasa gemas juga. Beberapa kali yeoja tersebut melayangkan protes dan meminta Chanyeol untuk menaikkan temponya, namun hanya dibalas kekehan jahil oleh kekasihnya, seolah Chanyeol sengaja melakukan itu untuk menggoda si singa betina yang sungguh tidak sabaran.
Dan ketika Baekhyun kembali bersiap mengeluarkan omelan kesalnya, Chanyeol memberikan apa yang diminta gadis itu tanpa peringatan. Gerakannya yang menghentak tiba-tiba sangat mengejutkan Baekhyun dan sontak membuat si mungil tersebut memekik dilanjutkan dengan gumaman kalimat panjang berisi gerutuan yang ditujukan untuk Chanyeol, berselang-seling dengan desahannya yang masih menyebut nama namja yang sama. Dan Chanyeol sangat menikmati itu semua.
Ekspresi tersenyum Baekhyun yang sesekali berganti dengan kerutan alisnya menahan kesal, terlihat sangat lucu untuk Chanyeol. Apalagi ketika yeoja mungil tersebut kembali merengek untuk menaikkan tempo dan dengan sengaja dia malah mengulur-ulur waktu membuat Baekhyun memberinya hadiah sebuah cubitan yang sangat menyakitkan. Baekhyun yang sedang marah seperti itu benar-benar terlihat sangat cantik dan menggemaskan untuk Chanyeol.
Dan di detik ketika air jiwa mereka menyatu, Baekhyun menutup rapat kedua matanya. Setetes air bening luruh dari sudut hazel indah itu ketika merasakan hangat air kehidupan Chanyeol yang memancar deras memenuhi rongga bagian dalam tubuhnya sementara kedua tangannya memeluk erat badan tegap namja tersebut. Begitu pun dengan Chanyeol yang hanya bisa menahan napas merasakan sensasi yang benar-benar membuat seluruh badannya gemetar. Selama beberapa detik mereka bergeming dan saat perasaan melayang itu perlahan menghilang, masing-masing dari keduanya menghembuskan napas dengan terengah-engah.
Pelukan erat Baekhyun terlepas dan seluruh tubuhnya melemas dengan sepasang mata kecil yang terpejam, tak kuasa membuka sama sekali. Dia baru memaksakan diri untuk mengerjab manakala sebuah kecupan lembut mendarat di sebelah pipinya diselingi oleh suara deru napas berat yang ia sukai.
Baekhyun meraih wajah Chanyeol dan membawanya tepat ke atas wajahnya. Dengan lembut yeoja tersebut menyibakkan rambut poni kekasihnya yang berantakan dan lengket ke dahi karena keringat, sedangkan Chanyeol hanya dapat memberikan senyuman pada Baekhyun serta dengan susah payah tetap berusaha menahan tubuhnya supaya tidak jatuh menindih badan mungil di bawahnya. Meski pada kenyataannya, kedua lengan panjang itu juga nyaris kehabisan tenaga.
"Kau hebat, Chagiya..." bisik Baekhyun dengan napas yang mulai teratur, diusapnya pelan sebelah pipi Chanyeol yang membalas pujiannya dengan seulas senyuman tipis.
"Kau cantik, Baek...kau indah...sungguh..." desis Chanyeol dengan nada suara puas. Dia mendekatkan wajah ke sebelah telinga kekasihnya dan berbisik tepat di kuping mungil itu. "Jinjja, neomu yeppuh, Chagiya. Saranghae..."
Baekhyun terkikik kegelian karena ketika Chanyeol bicara, tanpa sengaja dia meniupkan udara menggelitik daun telinga mungil yang sensitif itu. Mendengar suara tawa kecil Baekhyun, Chanyeol ikut tersenyum dan kembali memposisikan diri untuk memandang wajah cantik gadisnya tepat dari atas. Mendadak Baekhyun menangkup muka kekasihnya lalu mengedipkan mata dengan sangat menggemaskan.
"Wae?" seringai Chanyeol muncul begitu melihat serangan aegyo yang dilakukan si mungil tersebut padanya. Bisa dia lihat jika kesembilan ekor rubah kecil itu bergerak kesana-kemari sedang menggodanya.
Baekhyun meletakkan satu jari telunjuk lentiknya di atas bibirnya yang tipis. Chanyeol menelengkan kepala tidak mengerti dengan apa yang ingin dikatakan gadis itu.
"Satu kali lagi," cicit Baekhyun malu-malu membuat tawa Chanyeol nyaris meledak keras mendengar permintaan lugunya. Namja tersebut terkekeh membuat kekasihnya mem-pout-kan bibir kesal. Padahal dia sudah memberanikan diri dengan membuang gengsi untuk mengatakan permintaannya, namun malah dibalas dengan tawa yang begitu menistakan harga dirinya.
"Aishh, sudahlah! Kalau kau tidak mau...umph!" kalimat sebal Baekhyun tak selesai karena mulut Chanyeol sudah lebih dulu menutup mulutnya. Baekhyun langsung memejamkan mata dan mengalungkan lengan di sekitar leher namja itu, menikmati pagutan lembut yang disuguhkan oleh kekasihnya dan merasa sedikit tidak rela ketika Chanyeol mengakhirinya secara sepihak.
Chanyeol memperhatikan ekspresi kecewa dan sebal yang menguar jelas di permukaan wajah Baekhyun. Namja itu tidak dapat menahan rasa gemasnya dan langsung mengulum senyum membalas sorot mata penuh protes yang dihujamkan kekasihnya padanya.
"Bagaimana kalau pindah tempat? Di sini sempit," bisik Chanyeol menggoda, membuat kedua pipi Baekhyun memerah dan baru sadar jika sebenarnya mereka masih berbaring di atas sofa. Gadis itu hanya menganggukkan kepala patuh tanpa dapat mengeluarkan suara sementara wajahnya sudah memerah matang, membuat Chanyeol benar-benar tidak tahan lagi untuk kembali 'menerkam'nya.
"Aku tidak yakin aku bisa berhenti kalau kau seperti ini, Chagiya. Ahh, neomu kyeopta~" puji Chanyeol sambil menekan kedua pipi Baekhyun dengan kedua tangan, membuat hidung serta bibir mungilnya terjepit ke depan mirip mulut bebek. Dan namja itu langsung mengulum bibir tipis yang meruncing tersebut dalam sekali emut, menghentikan sekejab omelan Baekhyun yang memang paling benci jika ada yang memegang pipi chubby-nya.
Kedua insan itu kembali mengulangi semua prosedur permainan mereka dari awal dengan style yang belum berubah. Pelan, lembut, dan hati-hati namun begitu dalam dan tepat sasaran. Nyanyian erotis Baekhyun yang menyebut nama Chanyeol dengan merdu diselingi oleh gerutuan-gerutuan karena kekasihnya yang masih tidak mau berhenti menggodanya. Ditambah dengan namja itu suka melakukan gerakan tiba-tiba yang selalu berhasil membuat gadis mungilnya menjerit kaget dan memberinya hadiah cubitan keras sebagai pelampiasan rasa kesal padanya, benar-benar menyempurnakan malam panjang mereka di tengah guyuran hujan musim gugur yang sama sekali tidak disadari oleh keduanya.
Dan di malam yang tenang itu, hanya ada mereka berdua di dalam pikiran masing-masing. Hanya ada Baekhyun di pikiran Chanyeol dan hanya ada Chanyeol di dalam kepala Baekhyun. Sama sekali tak ada orang lain. Hanya ada mereka dengan ditemani oleh aliran panas darah di dalam tubuh dan air cinta yang menyatu berkali-kali. Senyuman lembut Chanyeol dan paras cantik Baekhyun, ditambah dengan perasaan cinta yang besar di antara mereka, menyempurnakan kenangan satu malam yang pasti tidak akan dapat mereka lupakan seumur hidup. Benar, tidak akan terlupakan seumur hidup dan akan mengikat mereka seumur hidup.
. . .
Pip, pip, pip, dengan malas Baekhyun membuka satu per satu puluhan pesan yang berdesakan di kotak masuk ponselnya. Di tengah suasana kamar yang remang-remang, gadis itu membiarkan lampu LCD yang silau menyinari wajahnya sementara jemari tangannya sibuk mengutak-atik aplikasi ponsel dalam posisi berbaring miring di tepi tempat tidur. Begitu banyak pesan yang masuk hingga rasanya layar datar ponsel Baekhyun akan meledak saking tidak muat menampung mail-mail tersebut. Dan lebih fantastisnya lagi, semua pesan yang rata-rata berisi omelan itu dikirim oleh nomor orang yang sama: Chen.
Angka penunjuk jam yang berada di sudut layar ponsel memperlihatkan waktu pukul 4 pagi dan pesan terakhir yang dikirim Chen baru saja masuk beberapa menit yang lalu. Sepertinya namja itu tidak tidur semalaman hanya untuk menghubunginya yang mendadak menghilang dari dalam kamar padahal suhu tubuhnya baru turun kemarin pagi. Yah, sebelum menemui Chanyeol, Baekhyun memang sedang sakit karena kebanyakan pikiran, dan tidak mengherankan kalau saudaranya sangat mencemaskannya meski gadis itu merasa jika terkadang perhatian Chen sedikit berlebihan.
Piroring, piroring!
Heuk! Baekhyun terkejut manakala ponselnya malah berdering keras. Chen menelponnya! Dengan cepat yeoja itu meletakkan ponsel ke atas lantai, enggan untuk menjawab panggilan adiknya. Namun beberapa saat kemudian Baekhyun berubah pikiran dan tangannya terulur untuk meraih kembali benda kotak berlayar lebar tersebut lalu mengusap permukaan LCD-nya perlahan. Baekhyun menempelkan speaker ke lubang telinga dan tidak mendengar apa-apa di sana. Chen diam, begitu pun dengan Baekhyun. Mereka saling mendiamkan selama beberapa detik.
"Eodi?" terdengar suara Chen. Begitu singkat, datar, dan dingin. Antara marah, kecewa, lega, dan cemas setengah mati. Dada Baekhyun langsung terasa sesak mendengar suara pendek itu dan selaksa rasa bersalah sekejab mendekapnya erat.
"Errr...itu..." Baekhyun mendesis tanpa bisa menemukan kebohongan yang tepat untuk menjawab pertanyaan adiknya. Lagipula percuma saja jika dia berbohong, toh Chen akan tetap menyadarinya dan malah akan berbalik marah padanya. Chen paling benci dibohongi, dia lebih bisa menerima kejujuran dan menahan diri daripada harus dibohongi supaya tidak menyinggung perasaannya. Menurutnya, sifat yang seperti itu sangat pengecut.
"Bagaimana demammu?" tanya Chen lagi tanpa merubah nada bicaranya yang datar, menunjukkan jika dia sedang sangat marah sekarang. Chen sangat mirip dengan Baekhyun, tentu karena mereka kembar.
Semakin Chen marah maka semakin emosinya tak bisa dibaca. Namja itu tidak akan meledak ketika emosinya sudah mencapai puncak, dia malah akan terlihat tenang dan sangat datar, persis seperti Baekhyun yang selalu menangis tanpa suara saat sedang sangat sedih dan mendadak jadi dingin begitu menyimpan amarah yang meluap. Ketenangan yang keduanya perlihatkan ketika marah serupa dengan ketenangan ombak lautan tepat sebelum terjadinya tsunami, ketenangan yang berbahaya dan merupakan sebuah peringatan. Emosi mereka tak bisa ditentukan dari sikap, melainkan dari sorot mata.
"Eoh, aku sudah lebih baik sekarang," jawab Baekhyun berlanjut dengan cicitan kecilnya. "Gomawo..."
"Pastikan kau pulang besok, Umma terus menanyakanmu. Aku bilang padanya kau menginap di rumah Kyungsoo," ujar Chen, terdengar jika suaranya sudah mulai melunak, agaknya dia merasa sedikit lega mendengar kakaknya baik-baik saja.
"Eum, aku akan pulang besok pagi. Gomawo sudah membantuku," desis Baekhyun.
"Eoh, tidurlah. Jaljja," tutup Chen tak ingin memperpanjang obrolan mereka seolah dia sudah merasa jika dia melanjutkan pembicaraan ini maka akan ada kemungkinan dia menanyakan hal yang tidak seharusnya dia tanyakan. Dan dia juga tidak mau memaksa kakaknya itu untuk memberitahukan sesuatu yang belum saatnya dia ketahui. Dia ingin Baekhyun memberitahunya dengan suka rela dan dia yakin kalo Noona-nya tersebut pasti akan melakukannya, entah kapan. Sementara dalam hati, Baekhyun sangat bersyukur memiliki saudara kembar yang begitu memahaminya bahkan tanpa harus dia mengatakan apa-apa.
"Eum, kau juga. Jaljja," balas Baekhyun sembari menyunggingkan senyuman tipis lantas menekan tombol akhiri panggilan. Gadis itu menghela napas panjang memikirkan keadaan Chen sekarang. Dia yang sudah seharian bekerja di bengkel, masih harus mencemaskannya, dan bahkan tidak tidur hanya untuk memastikan dirinya baik-baik saja. Benar-benar cerminan seorang saudara yang perhatian.
Tapi mendadak Baekhyun meruncingkan mulut. Entah kenapa tetap saja muncul rasa sebal sekaligus senang memiliki saudara over-protective seperti adik manisnya itu. Senang karena ada orang yang selalu memperhatikan dan menyayanginya tanpa henti, namun juga sebal sebab bisa membuatnya merasa bersalah yang teramat sangat seperti ini jika sedang mengkhawatirkannya. Sungguh perasaan yang komplek.
Mianhe, Jongdae-ya... bisik Baekhyun dalam hati.
Heuk! Baekhyun terkejut dua kali manakala mendadak dia merasakan pinggangnya dipeluk dari arah belakang. Baekhyun akan menoleh namun tubuh Chanyeol yang lebih dulu merapat di punggungnya, menghentikan gerakan yeoja itu. Kembali Baekhyun merinding merasakan hembusan napas Chanyeol yang menerpa kulit belakang lehernya sementara namja tersebut tengah mempererat pelukannya di tubuh mungil yang sama-sama dalam keadaan polos seperti dia.
"Dugu?" bisik Chanyeol parau tanpa membuka mata dan meletakkan kepala dengan nyaman di belakang kepala Baekhyun.
"Kau mendengarnya? Apa aku membangunkanmu? Mian..." desis Baekhyun merasa bersalah.
"Dugu?" ulang Chanyeol tanpa menghiraukan pertanyaan panjang Baekhyun.
"Jongdae. Dia mencemaskan aku."
Perlahan kedua mata Chanyeol terbuka, ada begitu banyak emosi yang tersimpan di dalam sepotong iris itu hingga terlalu sulit untuk menentukan satu yang pasti. Bahkan ketika Baekhyun menggerakkan tubuhnya dan berganti posisi tidur menghadap tubuh Chanyeol, sinar mata namja tersebut masih tidak bisa berubah dan tidak dapat dibaca sama sekali.
Baekhyun menatap lekat wajah Chanyeol dalam pencahayaan kamar yang pas-pasan, begitu pun dengan Chanyeol yang juga mendaratkan tatapan lurus ke manik hazel gadis di pelukannya sekarang. Baekhyun menggeser badannya untuk semakin rapat ke arah Chanyeol, tangan kecilnya meraih wajah namja tersebut dan dalam waktu singkat jarak di antara kedua bibir mereka menghilang.
Baekhyun melumat bibir Chanyeol dan bahkan melesakkan lidahnya untuk masuk, si mungil tersebut bersikap agresif dan berani seperti biasa, seolah ingin menunjukkan jika dia yang mendominasi permainan meski pada kenyataannya Chanyeol-lah yang mengambil alih semua kontrol darinya tanpa dia sadari.
Baekhyun melepaskan tautan itu ketika dia merasakan sesak di dadanya. Sekali lagi wajah cantiknya memerah dan napasnya terengah membuat Chanyeol mengulum senyum. Kembali namja itu memuji keindahan paras gadisnya di dalam hati. Tenyata Baekhyun belum bermaksud untuk menghentikan serangannya. Tiba-tiba si mungil tersebut mendorong tubuh Chanyeol sampai namja-nya terbaring terlentang, lalu dengan cepat Baekhyun naik ke atas perut kekasihnya yang ber-abs samar. Yeoja mungil itu mengeluarkan seringaian yang dibalas cengiran oleh kekasihnya.
"Masih mau 'main' lagi? Tidakkah kau capek, eoh?" tanya Chanyeol dengan wajah terlihat letih dan lingkaran kehitaman menghiasi sekitar matanya, menunjukkan jika dia butuh tidur lebih lama.
"Memang kita sudah 'main' berapa kali?" balas Baekhyun pura-pura lupa sambil mengedipkan mata sok polos, membuat Chanyeol tertawa kecil.
"Aigoo, jinjja...!" desis Chanyeol mengeluh. "Seharusnya aku minum obat kuat dulu tadi kalau tahu kau akan ketagihan seperti ini. Ah, staminaku ... rasanya aku tidak akan sanggup bangun besok pagi," canda namja itu.
Baekhyun menahan tawa lalu bergerak merendahkan badannya, bertumpu pada kedua tangan yang dia letakkan di sebelah kedua telinga dobi Chanyeol. Gadis itu melibas kewarasan kekasihnya dengan sorot mata menggoda dan juntaian rambut panjang yang memang sengaja dibiarkan tergerai supaya bisa menggelitik kulit tubuh Chanyeol.
"Tanpa minum obat pun kau sudah membuatku 'kerepotan', Chagiya. Apa kau ingin membuatku tidak bisa berjalan dengan minum obat, eoh?" Baekhyun mengerlingkan sebelah matanya dengan manja, ekspresi yang dia buat begitu mengundang gairah, terlalu seksi.
"Aish, jinjja, micheotda...!" Chanyeol kehilangan pertahanan.
"Ack!" Baekhyun memekik singkat ketika dengan cepat namja di bawahnya memegang tubuhnya dan membalik posisi mereka. Dalam waktu kurang dari sedetik, Baekhyun kembali ke posisi semula, terbaring terlentang di tempat tidur dengan Chanyeol yang berada di atasnya, bersiap untuk menggagahinya lagi.
"Ah, waeee~?" rengek Baekhyun. "Biarkan aku di atas sesekali. Aku bosan di bawah terus. Kau selalu mengerjaiku~" bibir tipis itu mem-pout lucu.
"Anniya." Chanyeol menggeleng. "Aku masih punya banyak pekerjaan besok, jadi aku harus cukup istirahat. Kalau kau di atas, kau akan membuat permainan ini tidak cepat selesai dan itu bisa membuatku gila."
"Biarkan aku membuatmu gila satuuu kali saja. Ne?" Baekhyun menelengkan kepala imut. Chanyeol menggeleng sekali lagi, bibirnya tersenyum melihat aegyo yang dilakukan oleh gadisnya.
"Ayolah, sekali saja. Kumohooon~" Baekhyun merengek lagi sambil mengguncang-guncangkan lengan berotot kekasihnya, kembali membuat Chanyeol terkekeh.
"Mianhe, Byun Baekhyun. Tapi permintaanmu kali ini ditolak," bisik Chanyeol seduktif, menuai protes keras dari si mungil.
"Kau jahat! Kau benar-benar tidak mau mengalah! Kau egois! Kau...aisshh, jinjjahh...! Chanyeol-ahhh..." Kalimat kemarahan Baekhyun berakhir dengan erangan panjang menyebut nama Chanyeol karena di saat yang bersamaan, si pemilik nama sudah kembali bergerak cepat mengecup ulang jejak-jejak cintanya di leher yeoja mungil itu dan jari tangannya juga telah mendarat manis di tempat paling sensitif milik Baekhyun. Chanyeol mengusap 'pintu' yang sudah basah itu sebentar, seolah sedang memberitahu jika ada 'tamu' yang datang, namun pada akhirnya 'tamu' itu masuk perlahan tanpa mau menunggu untuk dipersilakan lebih dulu. Ck, dasar tamu kurang ajar -_-"
Baekhyun meremas kuat rambut coklat kekasihnya yang sudah sangat kusut akibat ulahnya di ronde-ronde permainan mereka sebelumnya. Gadis tersebut mendongakkan kepala sambil menutup mata dan menggigit bibir menahan nikmat. Seluruh tubuhnya menegang disertai dengan temperatur badannya yang melonjak naik, menunjukkan jika gairahnya sudah kembali terbangun dan sedang mencari jalan untuk mencapai puncak.
"Tenanglah dan biarkan aku membuatmu kesulitan berjalan besok. Eoh?" goda Chanyeol senang melihat Baekhyun yang sudah mulai bergerak gelisah dan nampak kewalahan mengendalikan suara desahannya akibat gerakan jari Chanyeol yang benar-benar menggelitik bagian selatannya.
"Berhentihh, ahh...berhenti meng...eungg...!" kalimat Baekhyun terpenggal karena merasakan ujung jari Chanyeol menabrak titik yang tepat di dalam tubuhnya. Kedua alis gadis itu mengerut kuat.
"Aishh...! Berhenti menggodakuhh!? Ahh, Chanie-yahh...fasterrh jeballl...! Jangan dipelankannh...!" ucap Baekhyun berantakan di antara nyanyian merdu dan permintaannya yang terdengar frustasi karena Chanyeol malah dengan sengaja kembali tidak menuruti tuntutannya serta langsung memperlambat tempo. Meski sebenarnya dia sendiri juga merasa sudah berhasil menyentuh titik yang menjadi alasan Baekhyun mengeraskan melodi surganya. Sungguh, Chanyeol adalah cerminan namja yang sangat menguji kesabaran!
Si jangkung itu menyeringai, dia merendahkan tubuh hingga ujung hidungnya hampir bersentuhan dengan hidung mungil gadisnya. Namja tersebut menghibur diri dengan memperhatikan dari dekat ekspresi wajah Baekhyun yang campur aduk antara senang, kesal, dan tidak sabar. Untungnya yeoja itu sedang memejamkan mata dengan rapat sehingga tidak menyadari posisi wajah Chanyeol yang begitu dekat menertawakannya diam-diam. Jika saja Baekhyun tahu apa yang sedang dilakukan namja usil tersebut, sudah pasti Chanyeol tak akan selamat dari cubitan mautnya.
Sementara itu, gerakan jari tangan Chanyeol di tubuh bagian bawah Baekhyun masih belum menunjukkan perubahan tempo apa-apa. Padahal kekasih mungilnya sudah berkali-kali memohon padanya untuk bergerak lebih cepat. Dan sekarang yeoja itu sudah benar-benar hilang kesabaran karena merasakan puncak kenikmatannya yang tertunda dan tertunda lagi.
"Channh ... kalau kau tidak mauhh, aishhh ... lebih cepat, ahh ... aku AKAN MEMBUNUHMU! YA!" akhirnya gunung api Baekhyun meletupkan lahar kekesalannya.
Chanyeol terkekeh sambil menyunggingkan senyuman tak berdosa andalannya, membuat kekasihnya semakin berang.
"Kenapa kau selalu membuatku marah, huh!? Kenapa kau ... ACK!" Baekhyun memekik kaget ketika dengan tiba-tiba Chanyeol memberikan hentakan keras ke dalam tubuhnya. Yeoja itu menggeliat dan meremas kuat rambut kekasihnya, desahan kembali meluncur dari bibirnya tanpa bisa ditahan lagi.
Baekhyun kehabisan respon untuk menghadapi sikap Chanyeol yang benar-benar sangat lihai mengendalikan permainan dan mengobrak-abrik perasaannya. Setelah dengan sengaja namja itu membuatnya uring-uringan dengan semua keisengannya, lalu tanpa aba-aba dia memberikan kejutan yang langsung membuat Baekhyun lupa pada semua rasa marahnya dan ganti merasakan aliran deras hasrat di dalam dirinya. Chanyeol sungguh seorang Manager (pemimpin) yang hebat mengendalikan 'bawahan'nya supaya bisa tetap menikmati permainan tanpa sempat merasa bosan sedikit pun, setidaknya itulah yang dipikirkan Baekhyun sekarang.
"Kau terlihat sangat seksi kalau sedang marah, Chagiya. Benar-benar menggairahkan..." bisik Chanyeol dengan nada kalimat 100% seduktif, membuat pipi Baekhyun memerah matang.
"Aisshh...neo jinjjahh..." desis gadis itu antara malu dan menahan kesal akibat jari Chanyeol yang kembali melambatkan gerakan. Namun ekspresi manis tersebut langsung menghilang dalam ciuman lembut kekasihnya yang menenggelamkan belahan bibir tipisnya dengan tiba-tiba.
Terasa jari tangan Chanyeol keluar dari dalam tubuh Baekhyun, pertanda jika pemanasan sudah berakhir dan namja itu ingin segera masuk ke intinya saja. Sedikit terburu-buru memang, namun Baekhyun tak mau protes. Dia mengerti jika Chanyeol pasti masih punya banyak pekerjaan di kantor besok dan terpaksa harus mengefektifkan semua ronde yang ada, supaya tersisa waktu yang cukup baginya untuk sekedar memejamkan mata dengan nyaman.
Baekhyun melingkarkan lengan ke leher Chanyeol dan membiarkan kekasihnya itu memperlakukan tubuh mungilnya sesuka hati. Baekhyun kembali menyerahkan kepemimpinan sepenuhnya pada namjachingu-nya, karena dia percaya meski dia tidak melakukan apa-apa Chanyeol tetap akan bisa membawanya melayang ke atas surga.
Dan di tengah-tengah permainan panas tersebut, Chanyeol kembali membuat Baekhyun menggerutu marah dengan tingkahnya yang selalu sengaja mengulur-ulur tempo. Ditambah dengan jari-jari tangannya yang tak mau diam, terkadang menggelitiki Baekhyun yang memang sangat tidak kuat dengan rasa geli, membuat si mungil tersebut memberontak dan berteriak jengkel. Namun kemudian Chanyeol hanya akan tertawa senang, merasa benar-benar puas bisa mengerjai si singa betina yang imutnya seperti anak kucing itu.
Kembali, mereka bercanda, tertawa, berbagi kalimat romantis, dan bercinta. Berdua menghabiskan sisa malam tanpa tidur dan istirahat cukup. Bersama berbagi napas, keringat, dan air kehidupan yang seolah tak pernah mengering, serupa cinta mereka yang juga tidak mau menghentikan denyutannya meski tahu jika akhir telah menanti di esok hari. Ya, saat pagi menutup malam, ketika bangun mengakhiri tidur, di waktu itulah kata 'kita' akan berubah menjadi 'aku dan kau'.
Walaupun Baekhyun dan Chanyeol sama-sama tahu seperti apa masa depan yang sudah menunggu mereka, sebagai dua orang yang berbeda dan tidak bisa bersama. Tapi hingga akhir keduanya tidak menyia-nyiakan waktu sedikit pun untuk dihabiskan sebagai 'kita'. Selama masih ada detik yang tersisa sebelum ujung itu memutuskan segalanya, tak ada apapun yang berubah, mereka masih menjadi sepasang kekasih. Dan saat akhir itu datang melepaskan genggaman tangan keduanya, tak ada yang bisa mereka lakukan kecuali membiarkan cinta untuk tetap mengalir, meneruskan kisah indah mereka di taman impian.
-o0o-
Chen sedang asyik menikmati sarapan paginya ketika telinganya mendengar suara pintu utama terbuka. Tak lama kemudian, dia bisa melihat sosok mungil kakaknya yang muncul dengan memakai mantel rapat dilengkapi oleh belitan syal di lehernya. Chen mengamati Baekhyun dari atas ke bawah dengan cermat, mengevaluasi gadis itu kalau-kalau ada sesuatu yang kurang ataupun hilang dari tubuhnya.
Sepasang alis Chen mengerut saat menyadari jika cara berjalan Baekhyun sedikit aneh, ada kesan diseret yang tidak wajar. Kilat kemarahan muncul di mata namja itu. Namun begitu melihat mata hazel kakaknya yang nampak lelah dan kurang tidur, namja tersebut menahan niatnya untuk meledak terlebih dulu.
"UMMA! Baekhyunie sudah pulang!" teriak Chen serupa terompet, mengagetkan Baekhyun sekaligus Umma mereka yang sedang memasak di dapur.
"Baekhyunie? Uri Baekhyunie?" sahut sang Umma cepat. Wanita paruh baya itu keluar tergoboh-goboh dari dalam dapur dan segera menyambut kedatangan anak perempuannya dengan senyuman penuh kelegaan menghiasi wajahnya yang masih nampak cantik di usianya yang sudah berkepala empat.
"Aigoo~ Uri Baekhyunie sudah pulang. Bayi Umma yang cantik sudah pulang. Kau baik-baik saja, Chagiya? Eoh? Syukurlah~" Umma Baekhyun langsung saja meraih dan menenggelamkan tubuh mungil putrinya ke dalam dekapan hangat penuh cinta.
Baekhyun menutup mata merasakan betapa hangat pelukan Umma-nya dan langsung teringat pada Umma Chanyeol yang pasti tidak akan jauh beda dari Umma-nya ini. Tentu, karena mereka sama-sama seorang Ibu dan tidak ada yang berbeda dari naluri seorang Ibu yang selalu menginginkan hal terbaik untuk anak-anaknya. Di detik yang singkat itu ada sesuatu yang berdenyut perih di dalam dada Baekhyun.
Umma Baekhyun melepaskan pelukannya dan memeriksa keadaan putrinya, khawatir kalau-kalau anak gadisnya itu terluka selama tidak bersamanya. Dan investigasi wanita tersebut berakhir dengan mengusap lembut pipi Baekhyun yang nampak pucat.
"Kau pucat, Chagiya. Apa demammu belum turun? Apa kau masih pusing? Kenapa kau main keluar waktu kau sakit, eoh? Umma mau menjemputmu, tapi Jongdae bilang kau sudah dirawat oleh Kyungsoo dan sedang tidak mau diganggu. Apa kau sedang ada masalah? Kenapa kau tidak bilang ke Umma kalau ada masalah?" tanya Umma Baekhyun beruntun, kecemasan yang mendalam menguar begitu kuat dari setiap garis keriput halus di wajahnya. Baekhyun tidak menjawab dan malah kembali memeluk Umma-nya dengan erat, dibalas oleh dekapan hangat Ibu kandungnya tersebut, membuat gadis mungilnya benar-benar merasa tenang dan terlindungi.
"Umma, aku lapar," desis Baekhyun membuat Ibunya terjengat kaget. Wanita tersebut melepas pelukannya lagi dan menatap lekat wajah anaknya.
"Kau belum makan?" tanya wanita itu dijawab anggukan oleh putri mungilnya.
"Aigoo, Bayi kecilku yang cantik. Bagaimana kau bisa belum makan, eoh? Ini sudah lewat waktu sarapanmu, kau bisa sakit lagi nanti. Duduklah, akan Umma siapkan makanan untukmu." Kembali Umma Baekhyun mengusap prihatin wajah putrinya.
"Aku mau makan di kamar~" rengek Baekhyun manja.
"YA! Jangan aegyo! Aku sedang makan, aegyo-mu itu benar-benar membuatku mual!" mendadak suara cempreng Chen menyahut yang langsung membuat bibir Baekhyun mengerucut kesal.
"Jongdae-ya, jangan ganggu Noona-mu. Dia sedang sakit," tegur Umma menengahi pertengkaran si kembar sebelum menjadi semakin parah.
Baekhyun meleletkan lidah pada Chen, menyuarakan kemenangannya membuat adik laki-lakinya itu merapal mantera penuh kutukan di dalam hati.
"Naiklah ke kamar, akan Umma antar sarapanmu ke kamar," ujar Umma Baekhyun sambil mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Jinjja? Gomawo, Umma. Saranghae~" balas Baekhyun senang lantas mendaratkan satu kecupan ringan di sebelah pipi Ibunya. Sang Umma hanya tersenyum lembut dan kemudian berjalan meninggalkan Baekhyun untuk menata makanan di dapur setelah sebelumnya balas mengecup lembut kening anak gadisnya.
"Siapa namanya? Beritahu aku siapa namanya," tuding Chen pada Baekhyun begitu sosok Umma mereka sudah tidak terlihat lagi.
"Apa yang akan kau lakukan kalau kau tahu namanya?" balas Baekhyun tajam, mengerti arah pembicaraan Chen dan benar-benar tidak suka dengan cara bicara adiknya yang mirip seorang preman sedang mencari buronan.
"Molla. Terserah aku mau mengapakan dia," jawab Chen.
"Kalau begitu terserah aku juga mau memberitahumu atau tidak," sahut Baekhyun cuek, lantas berjalan pergi meninggalkan adiknya. Chen mengepalkan tangan dengan kesal.
"YA! Aku akan menemukannya! Lihat saja! Aku pasti akan menemukan dia dan menghajarnya!" teriak namja bertubuh mungil sama seperti Baekhyun itu pada kakaknya yang sedang menaiki tangga.
Bletak! Chen terdiam dan merasakan sakit di kepalanya yang kena lempar lipgloss Baekhyun, namja itu sedikit menciut di hadapan mata hazel kakaknya yang mendelik garang.
"Jangan keras-keras, neo munjasekki-ya...!" geram Baekhyun sambil menengok pintu dapur, khawatir jika Umma-nya akan berpikir yang tidak-tidak mengenai teriakan Chen barusan. Namun tidak terlihat jika wanita itu keluar dapur maupun merespon kalimat Chen. Dia pasti berpikir jika kedua anak kembarnya hanya sedang bertengkar dan bercanda seperti biasa.
"Aku akan benar-benar memukulinya," desis Chen mengancam.
"Aku akan membunuhmu," balas Baekhyun tak kalah tajam. Dan sebelum perdebatan itu berlanjut ke tahap saling mengejek serta melempar barang, Baekhyun lebih memilih untuk melanjutkan langkah kakinya menuju kamar, meninggalkan Chen yang hanya bisa kembali merapal mantera penuh kutukan pada namja yang menjadi kekasih Baekhyun dan sudah membuat kakaknya menjadi seperti ini.
Baekhyun menutup pintu kamar rapat-rapat lalu melempar tas ke atas tempat tidur. Gadis itu berdiri di depan cermin almarinya yang besar sambil melepas syal, mantel, serta kaos yang menutupi tubuh petite-nya satu per satu. Sepasang mata hazel tersebut meredup memandang siluet tubuhnya yang terrefleksi sempurna di permukaan licin cermin mengkilap di hadapannya. Bercak kemerahan nampak tercetak merata menghiasi setiap jengkal kulit leher dan dadanya serta nyaris ada di seluruh bagian tubuhnya. Namun kemudian gadis itu tersenyum mengingat bagaimana sejarah warna merah tersebut bisa bermunculan di sana.
Baekhyun menyentuh salah satu tanda cinta yang dibuat oleh bibir Chanyeol itu, mengingat kembali kenangan one night stand-nya semalam. Yeoja tersebut menutup mata dan bermacam-macam hal langsung menerobos masuk ke dalam tempurung kepalanya begitu saja. Wajah Chanyeol yang tampan, senyumannya yang lembut, sorot matanya yang teduh, suara dalamnya yang berbisik seduktif menyuarakan kata-kata cinta, sentuhannya yang memabukkan, pelukannya yang hangat ... dan tanpa Baekhyun sadari, selaput bening sudah merembes keluar dari balik kelopak matanya. Baekhyun membuka mata dengan napas terhenti oleh rasa sesak dan tanpa menunggu lagi, gadis tersebut berlari masuk ke dalam kamar mandi lalu mengunci pintu.
Tubuh Baekhyun merosot turun ke atas lantai bersamaan dengan air matanya yang meleleh keluar membasahi kedua pipinya. Gadis itu menutup mulut rapat-rapat dengan kedua tangan supaya suara isakannya tidak terdengar hingga keluar. Baekhyun tersedu pelan seraya memeluk tubuhnya sendiri, menahan rasa sesak yang semakin membelit kuat dadanya, meratapi hatinya yang terpotong dua lalu kehilangan separuh bagian itu.
Selamat tinggal, Chanyeol-ah, lirih Baekhyun pedih di antara deras air bening yang semakin membanjir dari kedua mutiara hazelnya.
. . .
9.55 A.M
Chanyeol meletakkan ponsel kembali ke atas meja dan mendesis pelan, dia sudah terlambat pergi ke kantor dan baru ingat kalau ada meeting jam 8 tadi. Namja itu mengganti posisi tubuh dan terlentang, melemparkan tatapan mata kosong ke langit-langit kamar yang tinggi. Mendadak ponselnya bergetar, memberitahukan jika ada pesan yang masuk ke dalam inbox-nya. Namun Chanyeol bergeming dan hanya memandang benda tipis itu dengan ekor mata. Dia sudah bisa menebak jika yang mengiriminya pesan pasti Hyun, karena ketika dia mengeceknya tadi kebanyakan nomor yang masuk adalah nomor milik sekretarisnya itu, yang memang sangat cerewet jika sudah menyangkut soal pekerjaan.
Chanyeol menghela napas panjang, wajahnya nampak letih dengan warna kehitaman menghiasi bawah kedua matanya. Hampir semalaman dia tidak bisa tidur dan bercinta terus-menerus tanpa tahu jika hal menyenangkan seperti itu dapat membiusnya dan membuatnya bangun kesiangan begini, hancur sudah image workaholic sempurna yang mati-matian dia buat dan pertahankan selama bertahun-tahun. Chanyeol memiringkan badan, memandang bantal di sebelahnya yang sudah kosong. Sorot mata namja itu berubah sendu. Dia mengulurkan tangan panjangnya untuk menyentuh permukaan bantal dan mengelusnya pelan.
Semalam, di atas bantal itu dia bisa menemukan wajah terlelap Baekhyun yang terlihat sangat cantik dan polos seperti bayi dengan sepasang matanya yang terpejam. Dia juga bisa mengusap pipinya yang halus, hidungnya yang mungil, serta bibir tipisnya yang sudah berubah menjadi candu mematikan bagi Chanyeol, yang berhasil membuat namja itu menjadi gila semalaman karena nyanyian dan desahan merdunya. Ditambah dengan bagaimana yeoja tersebut memberinya aegyo-aegyo yang sangat menggemaskan, ekspresi sensual yang benar-benar 'mengundang', serta jangan lupakan wajah marahnya yang sangat menarik, disempurnakan oleh pemandangan indah S-line tubuhnya dari ujung rambut hingga telapak kaki.
Kenangan semalam itu seperti mimpi bagi Chanyeol. Terlepas dari kenyataan jika ini adalah pengalaman pertamanya tidur dengan yeoja ... err, okay, ralat. Ini bukan pengalaman pertamanya, tapi karena sampai sekarang Chanyeol sendiri masih tidak bisa mengingat dengan jelas kejadian one night stand di hari pernikahan Himchan dulu, jadi sepertinya tak masalah baginya jika menganggap ini adalah pengalaman pertamanya. Lagipula yang pertama maupun yang kedua, dia melakukannya dengan yeoja yang sama, yeoja yang dia cintai sejak pertama kali pandangannya jatuh di sosok mungil itu di ruangan pesta.
Bibir Chanyeol menarik seulas senyum tipis meski sorot kedua matanya redup saat dia mem-flashback semua yang sudah terjadi di atas ranjang itu. Baekhyun yang menyebut namanya berulang kali dengan suara merdunya, menggeliatkan tubuh petite-nya dengan gelisah antara meminta lebih atau menyudahi karena merasa lelah, cara gadis itu memberikan puppy eyes yang sukses melempar jauh-jauh kewarasan Chanyeol, termasuk juga dengan sikap agresifnya yang membuat kekasihnya kewalahan semalaman.
Kalau saja Chanyeol tidak menemukan jejak kemerahan di beberapa bagian tubuhnya, serta rasa perih yang tertinggal akibat cakaran Baekhyun di punggung dan lengannya, namja itu pasti sudah yakin jika kejadian semalam hanyalah mimpi. Bagaimana tidak? Setelah mengalami hal yang begitu hebat dan menyenangkan, saat dia membuka mata yang pertama kali menyapanya adalah keheningan kamar. Dan ketika dia menolehkan kepala ke samping, yang dia temukan adalah bantal serta sisi tempat tidur yang sudah kosong. Entah jam berapa Baekhyun bangun, namun yang pasti yeoja itu sudah tidak ada begitu dia membuka mata.
Baekhyun meninggalkan Chanyeol setelah semua yang mereka lakukan semalaman. Setelah memberikan kenangan manis pada namja itu, setelah bersama-sama menenggelamkan diri dalam hawa panas, keringat, serta air cinta yang diselingi oleh canda-tawa yang menyempurnakan segalanya. Chanyeol benar-benar tidak habis pikir, apa yang sesungguhnya ada di dalam kepala Baekhyun? Kenapa yeoja itu menyanggupi ajakannya untuk bercinta jika pada akhirnya dia pergi meninggalkannya?
Awalnya, Chanyeol mengira Baekhyun mengiyakannya karena setuju untuk membuat penegasan atas hubungan mereka. Dan supaya, setidaknya mereka punya alasan untuk bersama, sehingga bisa menolak perjodohan yang sudah menjerat Chanyeol dengan bodohnya. Itu yang awalnya ada di pikiran Chanyeol. Namun melihat kenyataan jika kini Baekhyun menghilang, pergi meninggalkannya bahkan tanpa mengatakan apa-apa, membuat namja tersebut mengevaluasi ulang pemikirannya.
Kalau diingat lagi, yang pertama mengajukan permintaan untuk tidur bersama adalah Baekhyun, dan Chanyeol mengikuti gadis itu ke hotel karena tidak ingin membuatnya menangis. Hingga kemudian dia tahu, jika kekasihnya tersebut hanya sedang merasa putus asa, sebab tidak dapat melakukan perlawanan atas keputusan Chanyeol. Walau di sisi lain, dia juga ingin tetap dipertahankan. Baekhyun begitu terpuruk dan bimbang sampai-sampai hanya dapat memikirkan satu kekhilafan ini sebagai wujud terakhir dari perasaan cinta mereka sebelum berpisah. Jika Chanyeol mengingat hal itu lagi, maka alasan kenapa Baekhyun meninggalkan dirinya saat ini terjawab sudah.
Sejak awal ini memang keinginan Baekhyun, ajakan Chanyeol hanyalah respon dari permintaannya yang secara tidak langsung menyanggupi tuntutannya. Baekhyun yang memulai semuanya, maka tidak heran jika dia juga yang mengakhirinya. Baekhyun benar-benar tidak membiarkan Chanyeol memilihnya kalau yang menjadi korban dari keegoisan mereka adalah sosok seorang Ibu yang begitu penting di dalam hidup setiap anak.
Baekhyun bersikap keren hingga akhir. Dia begitu tegas dan mantap pada semua pendirian serta keputusannya jika hal tersebut sudah menyangkut orang lain. Walau sebenarnya Baekhyun juga sangat ingin terus bersama dengan Chanyeol, namun dia lebih tidak ingin jika kekasih yang dicintainya itu bersikap jahat pada seorang Ibu yang sudah mengorbankan banyak sekali hal untuknya.
Keputusan berani yang sebenarnya dengan telak mengorbankan hatinya sendiri seperti itu, membuat Chanyeol semakin merasa kagum pada sosok Baekhyun. Di dalam tubuh mungil yang terbalut sifat temperamental tersebut, terdapat kehangatan dan kelembutan seorang gadis polos yang selalu memikirkan orang lain di atas kepentingannya sendiri, membuatnya terlihat semakin sembrono karena tidak menempatkan urusannya di posisi pertama, selalu mendahulukan orang lain, dan melakukan semua hal tanpa memikirkan akibat yang mungkin terjadi pada dirinya sendiri.
Menyadari sisi lain Baekhyun yang seperti itu, membuat Chanyeol bertambah yakin jika keputusannya untuk memilih gadis tersebut sebagai kekasihnya sejak awal adalah satu hal yang tepat, yang mana membuatnya semakin menyayangkan pilihan Baekhyun saat ini.
Jika memang Baekhyun tidak mau menempatkan keegoisannya di posisi pertama, tidak bisakah dia berbalik menempatkan Chanyeol di posisi itu? Karena Chanyeol merasa dirinya juga termasuk dalam 'orang lain' yang harus dipikirkan oleh Baekhyun. Apa Baekhyun tidak menyadarinya? Apa Baekhyun tidak sadar jika Chanyeol juga 'orang lain' yang berhak berada di posisi pertama di atas kepentingan pribadinya? Menghadapi kenyataan tersebut membuat kedua mata Chanyeol terasa panas.
Tangan Chanyeol perlahan menggenggam, ada rasa nyeri yang meremas sesuatu di dalam dadanya hingga membuatnya sesak dalam sekejab, dan pada akhirnya mengakibatkan air bening mengintip di sudut mata coklatnya. Namja tersebut buru-buru terlentang sebelum liquid asinnya melumer keluar. Chanyeol memandang langit-langit kamar dengan pandangan menerawang.
Bagai halusinasi yang mendekati kenyataan, mendadak muncul bayangan wajah Baekhyun yang sedang berada tepat di atas wajahnya, memandangnya dengan sepasang mata hazel yang berkedip-kedip lucu dan sepotong senyuman nakal menghiasi bibir tipisnya. Yeoja itu menelengkan kepala seperti sedang mengundang Chanyeol untuk segera 'menerkam'nya lagi. Bibir Chanyeol tertarik hambar ke arah samping.
"Kenapa kau melakukan ini padaku?" bisik namja itu parau. Bayangan Baekhyun tidak menjawab dan hanya memberikan tatapan mata cantik yang belum berubah.
"Kau bilang kau mencintaiku..." Suara dalam Chanyeol tersendat karena air bening semakin tebal melapisi iris coklatnya yang membuat dadanya semakin sesak.
"Aku akan mempertahankanmu sampai akhir ... aku benar-benar akan memilihmu ... tapi kenapa ..." liquid asin Chanyeol luruh dari sudut kedua matanya tanpa bisa ditahan lagi.
"Kenapa kau malah meninggalkanku seperti ini? Apa kau tidak percaya padaku? Apa aku ... apa aku tidak berharga untukmu? Kenapa, Baekhyun-ah...?" Chanyeol menutup mata saat isakan itu tidak dapat lagi dia sembunyikan. Namja tersebut meletakkan lengan di atas matanya, membuat refleksi bayangan Baekhyun buyar dan berganti masuk ke dalam pikirannya, semakin mengacak-acak perasaannya hingga tak karuan.
Pada akhirnya tak ada yang berubah. Pagi telah datang dan kisah one night stand benar-benar menemui ujung yang bernama 'kenangan', persis seperti yang diprediksikan.
-NEXT?-
Maafkan saya karena lama update~! *sembah sujud*
Maafkan juga karena rate M-nya kurang menyenangkan~! *sujud lagi*
Sebisa mungkin aku memperhalus semua adegan rate M (berkat saran dari salah satu reviewer, akhirnya aku mutusin buat ganti rate^^), tapi kayaknya gagal ya ㅠㅠ jadinya malah kayak gini. Rate M bukan, rate T juga bukan, hiks ㅠㅠ *mainan keong di pojokan*
Gimana menurut kalian? Silakan tumpahkan semua uneg-uneg di kotak review, aku open buat semua kritik & saran ㅠㅠ tapi jangan flaming ya ._. #plak
Mian untuk update-an kali ini aku gak kasih pemberitahuan lewat PM, jadi semua nama reviewer di chap sebelumnya akan aku tulis di bawah. Mian~ ._.
Last, telat mungkin kalo bilang ini, tapi ... tolong manggilnya 'Myka' aja ya daripada 'author', hehe^^ pengen ngerasa lebih deket aja sama kalian dengan saling manggil nama^^ #modus #plak OK? :)
To:
vitCB9 | Huangzi | CB11270506 | H3S0102 | exindira | mvpchiken7 | Guest | parklili | KrisThehun95 | piyopoyo | shantyy9411 | KimBuja Suho | Mela querer chanBaekYeol | Ryeong | Arumighty | blue magnae | yesbyunbaekhee12 | afnia2495 | deerlohan | jung | younlaycious88 | cindy | chotaein816 | freakirn | rizqibilla | MykyungieLuvjonginie | kioko2121 | byunie66 | starbucks91 | baoziben | haeyeolhun | linerbyun | NAP217 | Lee Ah Ra | SyJessi22 | KMsDhae | steptania410 | 12 | Park Oh InFa FaRo | Guest | 407bubleblue | Sehun-kun | nur991fah | ParkByunie | guess who | bekichan077 | LK | Kim YeHyun | yeolpark88 | baekkie | ChanBaekLuv
Thanks for reading and reviewing^^ review lagi yaa~❤
FAQ CORNER
Q: tolong authornim buat chanbaek bersatu :)) kita sama-sama chanbaek shipper kan? colek-colek authornya X)
A: Ah, gimana ya. Situ berani amplop berapa? XD #efekPemilu #plak
Q: knp juga si eommanya chanie masih idup? mati aja sekalian biar gag gangguin chanbaek *eh?! #plak *salahfokus #miane :D
A: Kamu itu ... anak durhaka! -_- #getokpakesumpit #plak XD ㅋㅋㅋ
Q: Ayo pair yg lain dong thor :( Krisho dong :'( gue fans berat mereka soalnya :'(
A: KrisHo akan muncul kalo udah waktunya, begitu pun dengan couple lain, sabar yaa^^
Q: btw thor, aq suka deh klo critanya udh panjang, ini ajja blum puassss... hehe /plakkkk/ kecup author... ttp panjangin ceritanya thor... #ditendang author...
A: *blush* kena kecup deh (-/-) okesiph, aku kasih yang panjang-panjang(?), tapi resiko mabok ditanggung reader ya! XD ㅋㅋㅋ
Q: Ihh beneran sopa begitu? O.O Ngeri bgt... jangan deh jangan... semoga ga bener...
A: Semoga tahun depan gak ada SOPA-SOPAan lagi ㅠㅠ
Q: tumben simuka kardus bisa sok bijak gitu ( mueheheheheeheh piiiis jgn marah ) kira2 siapa yah yng mw dijodohin sm si yoda ? apa dari uke exo or dari GB laen kah thor ?
A: Tolong, jangan nistakan my Chenchen, huhu ㅠㅠ dia sudah cukup ternista *eh #plak siapa ya~? Rahasia! XD
Q: kenapa author suka banget bikin Baekhyun nya nangis?Kasihan _
A: Karena Baekie udah biasa kalo galak XD #plak
Q: Galau . . .sangkin galaunya baek ampe ngajak yeol tidur bareng haruskan gw juga aja bang kai tidur bareng gw (?) Lol Nggak papa thor aku suka kai yang mesum aplagi kan emang udah dari sonohnya mukanya bang kai tu mesum udah item mesum pula ekkke
A: Mau donk gue ngajak Chenchen jugaaa! Aaaaa! XD #plak LOOOL Nini, bukan aku yang bilang! XD Bukan akuuu! XD *Nini mainan keong di pojokan*
Q: Tar siapa yang mau di jodohin am yeol *haduuuuh:'( semoga aja ortunya baek am yeol dah kenal sbelumnya trus cewek yg mau di jodohin am yeol tu baek *ngayal
A: Aih, aihh, aihhh ... ! XD ㅋㅋㅋ
Q: Annyeonghaseyo. aku new reader rese karena skip review banyak banget /is kicked; jeosonghamnidaaaaa /formal bow;
A: Dengan kata lain, kamu itu 'Bayangan Hitam'! -_- sini, setiap 'bayangan hitam' yang ngaku dosa harus diruwat dulu. Sini! XD
Q: btw aku agak heran sih knp yg jadi 'mantan' pacar chanyeol dulu itu himchan? kenapa bukan luhan. tapi yeah mungkin authornya mau memunculkannya di next chapter sbg tunangannya chanyeol. haha.
A: Soalnya semua couple di sini saling berhubungan dan sebenernya aku gak terlalu suka kalo bikin slight dari sesama EXO ._. kasian aja jadinya ketuker-tuker pasangan ㅠㅠ
Q: Eon yg bener o.o? Apa sekarang di dorm chanbaek gak satu kamar lagi? Apa roomate nya pada ganti?
A: Terakhir yg aku tahu sih Kyungsoo-Luhan-Sehun, Chen-Suho-Kai, Chanyeol-Baekhyun-Tao-Xiumin, Kris-Manager, Lay-Manager. (cr: EXO First Box DVD)
Q: Huahhhh ya ampun awalnya sweet, tp akhirnya sedih sampe aku mau netesin air mata :-(
A: Mian deh mian ._. ini tisu~
Q: gamau tau pokonya nanti chanbaek harus bersatu gak pake gak/?
A: OmO! O_O #speechless
Q: semoga aja dijodohin ama baek, eomma chan dan eomma baek temenan trus punya rencana jodohin anak mereka #terlalu mainstream
A: *angguk-angguk* biar gak mainstream, dipisah aja gimana? XD #kaburketempatCHEN
Q: authornim, kau kejam, kau jahat, kau tega. bisa bisanya kau menghancurkan hidupku hanya dg chapter galau maksimal ini? :'( *nangis bareng Baekkie di dada Chanyeol* *alay mode ON)
A: Ah, elu -_- tempat buat nangisnya milih -_- dasar #modus #plak XD
Q: berasa mau nyekek ummanya Chanyeol yg uda maksa doski buat nikah sm cewe lain. umma Chanyeol jahat niaaaaaannn
A: Anak durhaka ke-2 XD #getokdulupakesumpit #plak
Q: Aih, dan jgn blg entar calon tunangan Chanyeol bakal ngerebut Chanyeol dg paksa dr Baekkie? Jgn blg, kl calon tunancan Chanyeol itu yeoja nyebelin yang minta dirajam?
A: Serem- O_O Tunangan Chanie, buruan sembunyi. Jangan sampe dia menemukanmu XD
Q: aarrrgghh buruan kawinin chanbaek buruaaaan /gak nyante/
A: Masih ada banyak 'prosedur' yang harus diurus sebelum kawin tau' XD
Q: *dibawah air hujan* *biar mendramatisir* ... we geureeeeee?! WE GEUREEESSOOOO?! QAQ
A: Dramatis banget yakin! O_O (y) XD
Q: semoga emaknya chanyeol cepet ga ada deh, biar jodoh-jodohan gajadi '3' *eh* *dicekek bapaknya chanyeol* *lari ke sehun* *dirajam luhan* udahan deh udahan mati muda ntar aku -_-)/ *kabur bawa chanhyun*
A: Anak durhaka ke-3 XD #getoklagipakesumpit #plak eh, pinter ya bawa kabur Chaehyun! Pinter banget taktik kamu bikin ChanBaek lari-lari ngejar penculik anak mereka -_-
Q: feelnya udah dpt kok author-nim apalagi baca 3 chap sekaligus aigooo bikin greget sama chanbaek moment kkk
A: Sekali lagi aku tegasin, jangan hobi baca kebut jebal~ ㅠㅠ aku takut kamunya mabok baca, huhu ㅠㅠ soalnya tiap chapter puanjanggg sangat! ㅠㅠ
Q: endingnya bikin blank O.O
A: Dan entah kenapa aku ikutan blank baca review kamu O_O
Q: maaf thor :( baru sempat munculin diri di chap 8 karna pas ketemu ff nih ud chap 8
A: Salam kenal~^^ ❤
Q: Oh, hai thor I'm new reader here! Bgus banget thor lanjut! Oh y thor adegan NC.y ChanBaek jgn di cut2 thor gx seru langsung dan gamblang aj!
A: Salam kenal~^^ ❤ Semoga NC-nya gak mengecewakan kamu ya ._. kkebseong~ ㅠㅠ
Q: ayooolahhh thor selipkn 1 NC ajaaahhh buat ini ChanBaek moment nya #plak,,,, kkkkkkkk
A: Aku bisanya cuma kayak gini ㅠㅠ mian~ ㅠㅠ
Q: tapi tapi tapi... kenapa tbc lagi, aseli udah penasaran abis sm chanbaek ini
A: Sudah waktunya TBC, Nak ._. yang sabar yaa^^
Q: btw chaehyun itu cewe apa cowo ? :v
A: Kamu pasti gak baca chap-nya KaiSoo ya? XD Chaehyun itu cowok^^
Q: Eh thor lain kali bikin baeknya cemburu sama chanyeol dong/? Saya bosen liat chanyeol mulu yang cemburu/? Baek ngajakin chanyeol tidur, terharu:')
A: Baekhyun terlalu cuek buat ngerasain cemburu XD #plak eh? Terharu? O_O
Q: MasyaAllah thorrr.… lanjutin dong! Demo juga nih gue lama-lama-,-
A: Udah ㅠㅠ udah lanjut ㅠㅠ miannn~ ㅠㅠ
Ada pertanyaan penting yang belum kejawab? Tolong tanyakan lagi ya^^ #plak
SAYA TUNGGU REVIEW ANDA^^
FF ini juga di-publish di WP "MY KALAXIEN, Another galaxy in the solar systeM" a/n admin Myka Reien.
Silakan hubungi saya untuk kritik, saran, keluhan, & kepo(?) melalui PM / twitter / ask . fm / blog / WP (lihat link lengkap di profil)
I am VERY WELCOME, Guys~!❤
Kamsahamnida~ *bow*
