"Isn't it ironic how you fix someone but break yourself in the end?"
[warning: self-harming; cutting]
13/3/12
Dia datang lagi.
23/3/12
Dia lagi, untuk kesekian kalinya. Memesan macchiato dengan suara lirih dan wajah lesu. Ranselnya melorot, kantung matanya tercetak jelas, dan aku bertanya-tanya siapa namanya.
25/3/12
Aku juga penasaran mengapa ia sangat menyukai kopi pahit tanpa gula.
1/4/12
Dia menjatuhkan dompetnya. Aku tahu aku tak seharusnya melihat isi dompet orang lain, tapi aku ingin mengetahui namanya.
Oh Sehun.
13/4/12
Sudah lima hari ia tak datang kemari. Selama ini ia tak pernah absen.
15/4/12
Hari ini, ia terlihat sangat pucat. Rasanya aku ingin berlari kearahnya dan melarangnya memesan kopi.
18/4/12
Dia memesan macchiato tanpa tambahan gula. Sebagai gantinya, aku menuliskan kata semangat selalu di kap kopinya. Ia mengernyit, namun aku tak melewatkan gurat tipis senyum di bibirnya. Hari itu, perutku melilit hebat.
20/4/12
Dia berterimakasih padaku atas ucapan tempo hari, dan aku jadi malu sendiri.
5/4/12
Dia menanyakan namaku. Dan—aku tak pernah tahu jika namaku seindah itu sebelum ia mengeja namaku lamat-lamat. Luhan, ia mengucapnya berulang kali seakan ingin mengingatnya dalam-dalam.
26/5/12
Setelah shift-ku berakhir, ia menawariku untuk berbagi meja dengannya. Kurasa tiada hal paling menentramkan selain berbagi keheningan di sore hari dengan secangkir kopi panas di tangan.
7/6/12
Dia tersenyum padaku. Senyum yang selama ini tak pernah kulihat darinya.
12/7/12
Untuk pertama kalinya, aku menawarkan padanya teh China. Ia ragu sejenak, dan hal yang paling membuatku terkejut adalah dia menjawab dengan satu anggukan kecil.
23/7/12
Aku mendengar dari pelayan yang lain bahwa lelaki tinggi dengan wajah pucat yang sering memesan kopi tanpa gula itu kemarin memesan teh China.
19/8/12
Tes kelulusan semakin dekat, dan aku memutuskan untuk berhenti kerja paruh waktu.
25/8/12
Hari terakhir aku bekerja di kedai kopi, dan sudah seminggu Sehun tidak kemari. Aku bertanya-tanya kemana dia, namun pikiran itu segera lenyap karena kuyakin dia memiliki kehidupan di luar sana.
26/8/12
Uang pesangon dari Tuan Choi sangat banyak, namun aku tahu aku akan menyesali keputusan ini. Sampai shift terakhirku selesai, aku masih sering menengok ke arah pintu, berharap menemukan sosok jangkung dengan wajah pucat memesan kopi hitam—atau teh China.
13/9/12
Tes kelulusan dimulai, dan aku tak pernah segugup ini sebelumnya.
20/9/12
Sembilan hari lagi.
25/9/12
Aku melihatnya. Aku melihat Sehun. Di persimpangan jalan. Masih pucat seperti biasa, bahkan ia tak memedulikan sekitarnya. Di genggamannya ada kap yang begitu familiar—dan aku berharap isinya teh China.
29/9/12
Aku terkejut melihat betapa berantakannya diriku di cermin, namun kurasa menyelesaikan semua tes melegakan juga. Tak sabar rasanya masuk ke perguruan tinggi.
10/10/12
Sudah lama aku tak melihatnya, dan kupikir ia semakin kurus. Aku ingin sekali memanggil namanya dan menyapanya, namun lampu hijau sudah menyala dan ia lenyap seketika di kerumunan orang yang menyeberang jalan.
23/10/12
Hari ini aku melihatnya mematung di depan kedai kopi tempat aku bekerja dulu. Perutku kembali melilit melihatnya meraih handle pintu namun urung melakukannya. Beberapa detik kemudian ia pergi. Aku ingin tahu—ada apa?
13/11/12
Hari kelulusan semakin dekat, dan aku merasa euforia masuk perguruan tinggi tak lagi menarik minatku setelah aku melihatnya tadi pagi berdiri di seberang jalan, diam mematung bahkan ketika lampu telah berubah hijau. Aku ingin tahu—ada apa?
29/11/12
Kami bertemu pandang, dan aku menyapanya dahulu. Entah aku yang sedang berhalusinasi atau apa, namun kulihat wajah yang biasanya terlihat pucat itu berubah—seolah ada setitik warna yang terbias padanya. Dan dia memanggil namaku—Luhan—seolah kami telah saling mengenal lama.
1/12/12
Universitas Negeri Seoul, Jurusan Sastra. Aku bertanya-tanya kemana Sehun mendaftar, dan apakah ia diterima.
23/12/12
Keajaiban selalu menyelimuti jalan kami berdua hingga hari ini kami kembali berpapasan, dan aku melakukannya. Sampai saat ini wajahku masih memerah mengingat bagaimana bodohnya wajahku saat berteriak terlalu kencang ketika aku memutuskan untuk meminta nomor ponselnya.
29/12/12
Aku memutuskan untuk mengiriminya pesan.
1/1/13
Happy New Year, Sehun-ssi.
Sent.
12/1/13
Aku baru mengetahui kalau kami berada di satu fakultas saat aku melihatnya berada di kampus yang sama denganku, satu gedung yang sama. Diam-diam aku berterimakasih pada semesta.
23/1/13
Aku tertawa dalam hati melihat bagaimana matanya membesar ketika aku menyapanya di kafetaria kampus. Rupanya sama denganku—ia terkejut melihat kami berada pada satu fakultas.
12/2/13
Aku sering bertanya-tanya mengapa ia selalu makan sendirian di kafetaria. Banyak anak di jurusan Seni Lukis yang bergerombol untuk makan bersama. Lalu mengapa ia lebih memilih untuk duduk makan sendiri?
20/2/13
Aku mungkin sudah gila. Aku mengajaknya untuk pergi menghabiskan akhir pekan bersama. Aku sudah gila.
24/2/13
Aku tak tahu apa yang ia sukai untuk menghabiskan akhir pekan. Yang kutahu ia adalah sosok yang tak banyak bicara, suka kopi pahit dan err—
Kami berakhir dengan segelas cokelat panas di tangan di taman kota.
Hal baru yang kupelajari darinya—Sehun bukanlah pecinta manis. Sehun bukan tipikal orang yang banyak bicara, namun ketika aku membicarakan soal Tari, aku melihat seberkas sinar dalam manik gandanya. Aku ingin bertanya—apakah ia suka menari?—namun aku urungkan di tengah jalan. Sehun juga memiliki senyum yang sangat aneh. Senyum aneh yang mendebarkan hati.
25/2/13
Pukul satu dini hari dia meneleponku, mengucapkan terima kasih. Aku terlalu terkejut dan baru sadar sepenuhnya ketika ia mematikan panggilan. Entah untuk apa, namun kurasa ia berterimakasih atas akhir pekan yang kami lalui kemarin.
Sampai esok menjelang, aku tak bisa tidur lagi.
14/3/13
Kyungsoo dan Chanyeol tak bisa menemaniku makan siang. Aku menghabiskan lima belas menit untuk berpikir apakah lebih baik jika aku duduk bersama Sehun untuk makan siang, sebelum akhirnya memutuskan untuk melakukannya.
17/3/13
Sudah tiga hari aku menghabiskan waktu makan siang bersama Sehun. Tak banyak hal yang kami obrolkan, dan sebagian besar percakapan kami, akulah yang berbicara. Sementara Sehun akan fokus mendengarkanku dengan sesekali mengangguk atau bergumam kecil.
25/5/13
Aku berhenti di depan poster pertunjukan tari kontemporer, dan tanpa ragu mengeluarkan ponselku, mengetik pesan untuk Sehun.
29/5/13
Aku belajar satu hal. Sehun terlihat begitu hidup saat dirinya diselimuti atmosfir yang berhubungan dengan tari. Aku melihat matanya bersinar ketika melihat orang lain menari, dan aku tak bisa menahan diri untuk bertanya—apakah kau suka menari? Riuh suara penonton tak mengaburkan tanyaku. Sehun membatu, dan aku merutuki diriku sendiri, bertanya dalam hati apakah aku salah menyodorkan pertanyaan. Namun ia menoleh padaku. Sinar matanya saat menatapku meredup, dan hatiku mencelos. Seribu pandang di keping gandanya mengatakan bahwa ada sesuatu—ah, tidak—ada banyak hal yang ia pendam. Namun tatapan itu sudah cukup bagiku untuk mengetahui jawabannya. Setelah pulang melihat pertunjukan, aku berjalan dalam diam tepat di belakangnya. Mengamati tangannya, aku berpikir sejenak untuk meraihnya—namun kuurungkan niatku.
Kami pulang dalam keheningan yang melingkupi malam di penghujung Mei.
26/6/13
Sehun-ah, mengapa kau memakai kaos lengan panjang saat suhu musim panas mencapai titik tertinggi?
6/7/13
Aku mendengar salah seorang mahasiswa Seni Lukis berbicara tentang Sehun yang sudah seminggu lebih tak masuk kelas.
24/7/13
Sehun—kau ada di mana?
12/8/13
Tidak ada hal yang lebih mengejutkan dari pada melihat sosok Sehun berdiri mematung di depan pintu flat kecilku. Tidak ada hal yang lebih membuatku bingung saat ia jatuh bersimpuh di hadapanku. Tidak ada hal yang paling mengerikan dari pada melihat bekas siletan di kedua tangannya. Tidak ada bau yang membuatku mual dari pada bau anyir darah yang meleleh dari bekas lukanya. Dan aku ikut hancur saat memeluknya.
14/8/13
Tiga hari berlalu dan dia masih tak mau bicara tentang hal tempo hari. Aku tidak kuasa bertanya, namun melihatnya dalam keadaan seperti ini, hatiku ikut berdenyut sakit.
15/8/13
Dia mengucap satu pinta padaku. Dia memintaku untuk memperbaikinya. Aku tak tahu bagaimana aku bisa memperbaikinya, namun sedikit yang ia tahu, bahwa aku sudah berjanji dalam hati untuk melakukannya saat pertama ia muncul di depan flat ku dengan darah di pergelangan tangan. Saat itu juga aku sadar—bahwa aku mencintaimu.
24/8/13
Depresi. Mataku memerah saat ia mengucap kata tersebut.
30/8/13
Sehun-ah, tersenyumlah.
19/9/13
Musim gugur tiba, dan hari ini aku menasbihkan diri untuk memperbaikimu dan selalu bersamamu.
2/10/13
Sehun-ah, aku mencintaimu.
12/12/13
Aku menangis. Kau bilang kau mencintaiku juga, namun luka siletan di pergelangan tanganmu membuatku sakit.
29/12/13
Berhenti menambah luka di sekujur tubuhmu.
1/1/14
Mari melewati seribu Tahun Baru bersama-sama.
21/1/14
Bagaimana kau bisa mencintaiku bahkan ketika kau tak mencintai dirimu sendiri?
26/1/14
Pernahkah kukatakan padamu jika kau sangat mempesona saat tersenyum? Tersenyumlah sering-sering seperti ini, Sehun-ah.
21/3/14
Kupikir hari ini takkan pernah tiba—hari di mana kau memintaku untuk pindah ke apartemenmu.
30/4/14
Aku ingin membuang silet yang kausimpan di bawah tempat tidur kita.
15/5/14
Kalau bisa, aku ingin menghapus semua bekas luka di sekujur tubuhmu.
12/6/14
Butuh waktu lebih dari setengah tahun untuk meyakinkanmu agar berhenti menyakiti dirimu sendiri. Aku sampai tak percaya hari ini akan datang juga—hari di mana kau tersenyum cerah, membuktikan pada dunia bahwa kau lebih dari sempurna untuk melukis tubuhmu dengan silet dan darah. Aku sempat tak percaya, tidak sampai kau benar-benar membuang semua silet yang kausimpan diam-diam di beberapa sudut apartemen—sudut yang luput kuketahui.
21/7/14
Tawamu harus tetap lestari, dan aku akan menjadikannya melodi terindah yang kusimpan dalam memoriku. Terus tertawa, Sehun-ah.
12/8/14
Aku mengamati bagaimana kau mengubah kebiasaanmu dari suka meminum kopi pahit menjadi bubble tea. Aku mengamati senyummu yang semakin mengembang. Aku mengamati bahwa perlahan kau mulai mencintai dirimu sendiri.
25/10/14
Bagaimana kau bisa memandangiku dalam diam seperti ini dan hal tersebut masih membuat hatiku berdebar bahkan setelah setahun bersama?
10/12/14
Aku terkejut saat kau mengatakan padaku bahwa kau ingin menari lagi. Namun apapun itu, aku akan mendukungmu, Sehun-ah. Jangan pernah takut.
31/12/14
Kau tahu apa hal favoritku di samping tawamu? Sinar matamu saat memandangku di bawah pijar mega petasan di tengah kota.
12/2/14
Kau mengatakan padaku bahwa kau akan mulai menari minggu depan. Kau juga bilang bahwa kau akan mulai fokus dengan pameran dan kau harus menyelesaikan dua lukisanmu sampai akhir bulan ini. Aku sempat khawatir bagaimana kau akan melakukan semua itu dalam satu waktu, belum lagi minggu ujian akan segera datang—namun kau berhasil menenangkanku dengan satu senyum dan ciuman ringan di bibir. Namun berjanjilah kau akan menjaga kesehatanmu, Sehun.
19/2/14
Hari pertama Sehun mulai menari.
23/3/14
Sudahkah kukatakan padamu kalau aku suka memelukmu dari belakang seperti ini? Punggungmu begitu nyaman dan kokoh—dan aromanya seperti rumah.
1/5/14
Berhenti membangunkanku dengan ciuman di sekujur wajahku.
3/7/14
Bagaimana bisa semua kaus kakimu hanya ada sebelah?!
23/9/14
Kau harus benar-benar menghentikan kebiasaanmu tidur dengan televisi yang masih menyala.
10/10/14
Aku baru sadar betapa besar tanganmu ketika menggenggam tanganku. Rasanya hangat. Nyaman. Rasanya juga seperti rumah.
24/12/14
Aku tak pernah tahu betapa berartinya keberadaanku di dalam hidupmu sebelum kau mendekapku erat setelah kau kehilanganku di antara kerumunan orang di festival akhir tahun. Sebegitu takutnya kah kau kehilangan diriku?
2/2/15
Kau tak harus berpura-pura sakit untuk memintaku memelukmu saat tidur, kau tahu?
20/4/15
TOLONG JELASKAN PADAKU MENGAPA KULKAS KITA PENUH DENGAN BUBBLE TEA RASA COKELAT?!
10/6/15
Kau tahu aku takkan bisa marah padamu, kan? Jadi hentikan tatapan memelas itu karena aku takkan pernah marah meski kau mengira bahwa draft cerpenku sebagai kertas tak berguna dan membuangnya.
21/7/15
Aku melihatmu berhenti di depan etalase toko anak anjing. Matamu bersinar indah ketika melihat satu anak anjing berwarna putih. Sejenak, aku merasa aku akan bersaing dengan seekor anak anjing.
2/8/15
Ketidaksukaanmu pada daun bawang harus dihilangkan. Aku lelah memisahkan mie dengan daun bawang.
12/9/15
H-12 Pementasan Tari Sehun.
21/9/15
Jangan terlalu memaksakan diri. Kau hampir pingsan di depan pintu apartemen.
23/9/15
Aku benci melihatnya lagi. Aku benci melihat ketakutan di sudut matamu. Sehun-ah, apa yang kaupikirkan?
24/9/15
Kau hidup. Kau begitu hidup saat menari. Sehun, teruslah menari. Menarilah seolah tak ada yang melihat.
30/10/15
Bukankah ide yang bagus jika kita berlibur bersama?
12/12/15
Aku heran mengapa kau begitu mencintai Jepang. Kau langsung berlari sesaat setelah turun dari pesawat, seolah kau tak ingin menyianyiakan waktumu. Sehun, teruslah bahagia seperti ini.
23/12/15
Berhenti berjalan terlalu cepat di tengah gerombolan orang. Aku lelah harus selalu terlepas darimu dan harus mencarimu ke setiap sudut karnaval di mana aku tak bisa bahasa Jepang dan kau juga sama parahnya.
25/12/15
Aku berjanji akan menemanimu ke Jepang lagi di sepuluh—tidak, di puluhan Natal kita di masa depan.
2/2/16
Aku berpikir untuk kembali bekerja paruh waktu, namun rasanya kau tak terlalu menyukai ide tersebut. Lagi pula kita berada di tingkat akhir—kerja paruh waktu takkan begitu membuang tenagaku.
3/3/16
Perlu beberapa bujuk rayu hingga akhirnya aku bisa meyakinkanmu untuk membiarkanku kembali bekerja paruh waktu. Terima kasih, Sehun-ah!
12/3/16
Aku hanya akan ke China selama seminggu, Sehun, bukan setahun. Berhenti merengek sambil menampilkan wajah memelas seperti itu.
15/3/16
Berhenti menempel seperti koala padaku. Aku akan kembali secepatnya.
17/3/16
...kenapa aku sangat merindukanmu padahal baru dua hari tak melihatmu?
22/3/16
Kau tahu, kan, kau tak perlu menciptakan adegan drama di bandara? Kau bisa menciumku di rumah. Lihat, orang lain memandang kita jijik.
29/3/16
Berhenti berteriak saat kau tak melihatku, Sehun. Aku takkan pergi kemana-mana. Sebegitu takutnya kah kau jika aku pergi?
21/4/16
Sampai kapan kau akan berpura-pura marah padaku? Kita sudah setuju bahwa aku akan mengambil kerja paruh waktu lagi!
30/4/16
Aku hanya akan menjalankan shift malam, Sehun, bukan akan pergi berperang. Hentikan nasihat-nasihat dan cara self-defense itu. Lagi pula tempatku bekerja tak sejauh itu sampai aku harus takut pulang sendirian.
21/5/16
Aku tak bisa menahan tawaku ketika melihat sosokmu yang jangkung itu berdiri di ujung jalan untuk menungguku menyelesaikan shift-ku.
30/5/16
Favoritku adalah Sehun dengan kaos hitam dan celana jeans. Kau bilang favoritmu adalah aku tanpa busana. Seharusnya aku mengetahui jika jawabanmu akan seperti itu. Harusnya aku tak usah susah-susah bertanya.
21/6/16
Aku baru sadar jika kita telah bersama lebih dari dua tahun. Kau sudah mencintaiku selama itu—kau sudah mencintai dirimu sendiri selama itu. Sehun-ah, aku bangga padamu.
11/7/16
Aku selalu penasaran—bagian mana di wajahku yang menarik hingga kau punya lebih dari dua puluh sketsa wajahku.
13/8/16
Berhenti mengusap tanganmu yang terkena cat pada kaos. Dan berhenti menyengir seperti itu, kau tahu aku membenci mencuci pakaianmu yang selalu terkena noda cat.
23/9/16
Bagaimana kau bisa memiliki dua sisi—tampan dan lucu di saat yang bersamaan?
30/10/16
Aku terkejut mendapatimu tak ada di tempat tidur saat aku bangun tidur. Kenyataan bahwa kau bangun pagi hanya untuk memasakkan omelet untukku—aku sangat tersentuh. Tapi bisakah kau lebih teliti untuk memasukkan garam bukannya gula?
21/11/16
Aku bisa menulis ribuan haiku tentangmu.
30/12/16
Begitu lucu melihatmu sering terjatuh di atas lantai skating. Kemarilah, sayang. Pegang tanganku.
12/1/17
Bagaimana bisa kau membuat hatiku menghangat hanya dengan tindakan bodoh seperti—
Hentikan. Hentikan meniup udara di kaca luar kedaiku dan menuliskan I love you. Kau terlihat seperti anak SMA sedang kasmaran.
23/2/17
Bukankah waktu berjalan begitu cepat? Bagaimana bisa kita akan lulus sebentar lagi?
21/3/17
Apa yang kaukerjakan sampai-sampai aku dilarang masuk ke studio lukismu? Aku hanya ingin membersihkan studiomu yang pasti sudah seperti kapal pecah!
30/3/17
Apakah kau baru saja berbicara tentang mahakarya lukisanmu yang akan kautampilkan di pameran? Lukisan yang mana? Mengapa kau hanya tersenyum saat aku menanyakan hal itu?
21/4/17
Aku bahagia. Maksudku—itu—bagaimana... Ah, menulisnya saja aku tak mampu. Maksudku, ini semua sungguh membuatku tak bisa berkata-kata. Bagaimana aku bisa tak tahu jika kau melukis ini semua? Bagaimana aku sungguh tak pernah tahu jika kau menyelesaikan satu mega lukisan tentang diriku? Bagaimana kau bisa membuat lukisan sesempurna ini bahkan saat aku adalah orang yang penuh dengan kekurangan? Sehun-ah, berhenti membuatku semakin jatuh cinta seperti ini. Hal ini tak baik untuk jantungku.
30/5/17
Aku malu bagaimana semua pengunjung pameran bertanya siapa orang dalam lukisanmu, dan kau akan selalu menunjukkan jemarimu kearahku yang sedang menepi di sudut ruangan. Kau ini—suka sekali melihatku memerah, ya?!
12/6/17
Aku baru sadar betapa waktu cepat sekali berlalu—dan hari ini adalah hari terindah. Hari di mana aku dan kau sama-sama lulus dari universitas. Masa depan siap menghadang, namun genggaman tanganmu menyadarkanku bahwa aku takkan pernah takut selama kau masih di sisiku.
21/7/17
Sehun, aku sudah cukup kerepotan mengurusi bayi sepertimu. Dan sekarang kau malah mengadopsi anjing kecil?
24/7/17
Jadi namanya adalah—Vivi?
12/8/17
Pernahkah aku berkata bahwa tempat yang paling membuatku merasanya nyaman adalah pelukanmu? Hehe.
29/9/17
Berhenti menciumiku tanpa alasan. Aku tahu akhirnya akan bagaimana. Kau tahu, kan, kalau kita besok sudah harus mulai bekerja?
23/10/17
Aku berharap, suatu saat aku dan dirimu bisa berdiri di altar seperti Kyungsoo dan Chanyeol saat ini. Bukankah masa depan terlihat begitu menjanjikan ketika aku bisa melewatinya bersamamu?
10/11/17
Kau suka sekali memberiku kejutan kecil. Aku terlalu mencintaimu untuk bilang bahwa kuenya terlalu alot. Tapi setidaknya kau tak lagi merusakkan peralatan dapur.
12/12/17
Aku ikut bahagia kau akhirnya bekerja menjadi pelatih, namun jangan sering-sering menyibukkan diri dengan latihan tari. Aku juga ingin menghabiskan akhir pekan denganmu.
1/1/18
Kau telat menjemputku sepuluh menit. Seharusnya aku memarahimu karena membiarkanku berdiri di tengah hujan salju, tapi ketika melihatmu mengatur napas setelah berlari kemari, kenapa aku malah memelukmu begitu erat?
2/2/18
Kau selalu pulang saat dini hari. Aku ingin mengatakan bahwa aku tak suka kau sering pulang terlalu larut, namun kuurungkan karena aku tahu kau begitu mencintai dunia tari. Tak mungkin, kan, aku menjadi egois dengan membatasimu melakukan sesuatu yang membuatmu bahagia?
3/4/18
Siapa itu Jongin?
20/4/18
Hari ini kau membawa Jongin kerumah. Aku heran sekaligus lega—heran karena ini pertama kalinya kau membawa temanmu kerumah (bahkan Tao, satu-satunya sahabatmu tak pernah kaubiarkan menginjakkan kakinya kemari), dan lega karena aku akhirnya bisa bertemu dengan orang yang selalu kaubicarakan itu.
26/5/18
Mengapa aku semakin jarang melihatmu berdiri menunggu di ujung jalan untuk pulang bersamaku seusai aku selesai bekerja?
29/5/18
Mengapa aku sudah tak pernah melihatmu melukis lagi?
20/6/18
Apakah ini hanya perasaanku, atau berbicara tentang Jongin lebih banyak dari pada kau berbicara tentang apa yang kaulalui hari ini?
30/6/18
Apa maksudmu kau akan mengikuti audisi di sebuah agensi ternama? Bukankah kau sudah mendapatkan gaji cukup sebagai pelatih?
21/7/18
Egoiskah aku saat ada rasa cemburu ketika melihatmu tersenyum pada Jongin?
29/7/18
Jadi perkataanmu tentang kau akan mengikuti audisi itu benar. Aku takut akan satu dan beberapa hal, namun mengapa aku hanya tersenyum dan mengangguk saat kau bertanya pendapatmu tentang hal itu? Mengapa aku tak bisa membawa diriku untuk melarangmu? Mengapa aku merasa—takut?
2/8/18
Untuk pertama kalinya dalam hubungan kita, aku berbohong padamu. Maafkan aku, tapi aku tak sungguh-sungguh saat berkata padamu semoga berhasil. Jauh di dalam hatiku, entah mengapa, aku takut jika kau berhasil masuk audisi.
21/8/18
Aku mulai merindukan kehadiranmu. Mulai menginginkan ciuman setiap pagi darimu. Mulai cemburu pada aktifitas barumu. Mulai takut pada masa depan kita.
24/12/18
Malam Natal, namun hatiku menjerit sakit saat kau melewatkan malam ini untuk menghadiri undangan di agensimu. Katamu semua akan diumumkan malam ini. Aku tak tahu aku harus bagaimana.
25/12/18
Selamat, Sehun-ah. Namun mengapa aku tak bisa ikut tertawa ketika kau berbahagia di seberang telepon, mengabarkan padaku bahwa kau lolos audisi?
21/1/19
Apa maksudmu kau akan pindah ke dorm agensi?
29/2/19
Hari ini kita bertengkar hebat. Aku sudah mati-matian menahan ini semua—dan aku takkan pernah mengizinkanmu untuk pindah ke dorm agensi begitu saja. Aku berteriak padamu, membanting pintu dan berakhir dengan menangis di kamar. Sesaat kemudian kau menghampiriku, memelukku dari belakang dan mengucapkan beribu maaf. Kau tidak menenangkanku dengan perkataan bahwa kau tidak akan pergi. Dan aku, untuk pertama kalinya, benar-benar kecewa padamu.
21/3/19
Pada akhirnya, kau pergi juga. Aku tak bisa berhenti kecewa padamu, namun aku tak mungkin melepasmu dengan wajah sedih. Maka untuk pertama kalinya, aku memalsukan senyum di depanmu. Kau berulang kali meyakinkan padaku bahwa kau akan sering pulang, namun aku tak bisa bergantung dengan harapan seperti itu.
22/4/19
Kau bahkan lupa meneleponku. Ada apa?
12/5/19
Kau mengunjungiku dalam keadaan mabuk. Kau tahu, kan, kalau aku membencinya?
18/5/19
Kau mabuk lagi. Kali ini, kau memelukku sambil menangis. Entah kau tahu atau tidak, aku semakin merasa takut. Aku tak ingin memikirkannya, tapi—
25/5/19
Tidakkah kaupikir kau terlalu banyak berbicara tentang Jongin?
30/5/19
Aku takut, Sehun. Aku takut akan tiba hari di mana ketakutanku terbukti.
13/6/19
Kupikir aku melihatmu di televisi lebih sering dari pada melihatmu secara langsung.
23/6/19
Sudahkah aku mengatakan padamu bagaimana aku merindukan pelukanmu?
21/7/19
Sehun, jangan biarkan aku membencimu...
30/7/19
Kau bisa menyimpan ceritamu jika itu hanya tentang Jongin.
12/8/19
Bukankah keterlaluan jika kau mengatasnamakannya dengan kata skinship? Bukankah ini kali pertama kau membentakku? Apakah salah jika aku merasa cemburu? Ada apa denganmu, Sehun? Mengapa aku merasa jarak di antara kita kian melebar?
23/8/19
Aku tahu hal ini akan terlihat juga. Tidakkah kaupikir hal ini menyedihkan—bagaimana aku dulu berusaha untuk menyembuhkanmu, mengobatimu, membuatmu mencintai dirimu sendiri, menghapus luka demi luka di sekujur tubuhmu hingga kau bisa tersenyum dan tertawa, hingga kau bisa hidup lagi. Bagaimana aku membiarkan diriku hancur berkeping-keping selagi tiap atom kepingannya bisa menjadi cahaya untukmu pulang ke sebuah titik bernama kebahagiaan? Namun lihatlah sekarang—setelah aku mengobati semua lukamu, setelah aku menghancurkan diriku selama prosesnya, setelah kau menjadi satu kesatuan utuh yang bisa mencintai dirimu sendiri, kau mencintai orang lain? Bukankah kaupikir itu jahat, ketika kau berhasil sembuh namun menghancurkan orang lain pada akhirnya?
24/8/19
Aku tidak akan meminta. Toh rasa cintamu padaku sudah habis, kau sendiri yang mengatakannya. Walau kau menangis dan meminta maaf saat mengatakannya, aku tetap sadar bahwa ini semua sudah berakhir. Air mata itu tak ada gunanya. Tak akan ada rasa cinta yang bisa tumbuh setelah kau menangis, bukan? Aku memang tak pernah takut untuk mencintaimu bahkan saat kau tak mencintai dirimu sendiri. Yang aku takutkan adalah saat di mana sebuah rasa cinta itu habis di tengah jalan. Dan—lihatlah, itulah yang terjadi pada kita berdua.
29/8/19
Aku sudah lelah menangis. Lelah mengetahui bahwa tidak ada lagi sepasang lengan kokoh yang akan memelukku dari belakang dan membisikkan kata cinta untuk menenangkanku.
12/9/19
Aku menyalakan televisi. Berita pacaran. Dua penari ternama. Lalu mematikannya. Seketika, kopi hitam di genggamanku tak terasa pahit lagi.
20/10/19
Berita Sehun dan Jongin di mana-mana. Aku muak melihatnya.
24/10/19
Aku muak melihat senyum di bibir kalian berdua yang terus mengudara di televisi.
27/10/19
Aku mengerti mengapa dulu kau suka sekali menyilet pergelangan tanganmu. Bau anyir darah, rasa perih, sayatan yang tak kunjung mengering, bekas luka yang akan terus membekas—kupikir hal-hal itu membuatku lebih lega. Lebih ringan.
29/10/19
Aku mengerti mengapa kau sering menyilet hampir semua bagian tubuhmu. Ketika nanti rasa cintamu pada Jongin hilang dan kau bertemu denganku, akan kutunjukkan padamu—betapa kita punya bekas luka yang sama banyaknya.
3/11/19
Mengapa tak ada orang yang mau menyembuhkanku seperti aku menyembuhkanmu?
20/11/19
Mengapa—
24/11/19
Kini aku tahu bagaimana rasanya ketika kau membenci dirimu sendiri, Sehun-ah.
end
