CHAPTER 7
Sesuai dengan perintah Tsunade, Ino dengan diantar oleh Kakashi kembali ke Leaves Ent. Seminggu setelah audisi.
Kakashi memperhatikan penampilan Ino, yang berjalan beriringan dengannya menuju ruangan Tsunade, dari atas ke bawah. "Tsunade pasti akan senang melihatmu." Kakashi tertawa mendengarkan komentarnya sendiri.
Tentu saja Tsunade akan senang melihat Ino. Tsunade menyuruh Ino untuk hanya memakai maksimal 1 anting pada masing – masing telinga dan memakai baju yang lebih pantas, yang mana itu sangat subjektif. Dan sebagai trainee yang patuh, pada pertemuan pertamanya sebagai trainee dengan Tsunade Ino: (1) jika saat audisi Ino memakai 3 anting stud + 1 anting melingkar di telinga kiri dan 1 anting melingkar di telinga kanan, kaki ini Ino hanya memakai satu anting stud di telinga kirinya; (2) jika saat audisi Ino memakai rok hitam pendek di atas lutut, sweater monster print warna kuning dan sepasang sneakers, kali ini Ino memakai celana jeans panjang biru dengan t-shirt putih lengan pendek dan check shirt yang diikat pada pinggang, serta sepasang sneakers.
"Tentu saja. Aku menuruti perintahnya." Jawab Ino santai.
Kakashi menggelengkan kepala dengan tersenyum dibalik maskernya.
Sampai di depan ruangan Tsunade, Kakashi mengetuk sekali pintu tersebut sebelum masuk ke dalam ruangan dan dengan santainya duduk di sofa di ruangan itu, diikuti oleh Ino.
Melihat Ino, Tsunade menghela nafas panjang.
"Sudah kau pertimbangkan?"
Ino mengangguk.
"Satu dari 3 demo lagumu yang Kakashi berikan padaku bertemakan cinta. Benar?"
"Itu benar."
"Apa kau sedang menyukai seseorang?"
"Aku menyukaimu." Jawab Ino datar tanpa ekspresi, membuat Kakashi harus menahan tawanya. Mereka yang ada di dalam ruangan tau dengan pasti bahwa Tsunade adalah orang terakhir yang akan Ino sukai.
Tsunade memijat keningnya, migrennya kambuh sejak melihat kedatangan Ino ke dalam ruangan ini.
"Jika sekali saja kau melanggar kontrak, aku berhak mengakhiri kontrak itu. Kau mengerti?"
"Aku mengerti."
"Kau bisa mulai berlatih. Kakashi akan memberikan jadwal latihanmu. Kalian bisa keluar."
.
Ino berdiri di lorong lantai dasar Leaves Ent. Training center, memperhatikan jadwalnya. Setiap hari dia mempunyai jadwal untuk latihan vocal dan dance. Ada juga kelas public speaking, akting, kepribadian, dan sosial. Ino tidak mengerti kenapa dia harus ikut dalam kelas – kelas selain kelas vocal. Ino ingin menjadi penyanyi. Bukan model, aktor, maupun mc. Dan jika jadwalnya padat dengan hal – hal yang menurut Ino tidak berguna, kapan Ino ada waktu untuk menulis lagu?
"Apa yang kau lakukan disitu?" tanya seorang gadis seumuran Ino. Ino tau gadis itu. Tenten. Anggota dari girlgroup beranggotakan 9 gadis cantik yang sedang naik daun, Cherry Blossom. Tenten adalah dancer utama grup itu.
Ino membungkuk untuk memberikan penghormatan kepadanya Tenten. Meskipun mereka seusia, tapi Tenten adalah seniornya.
"Aku tidak tau dimana ruang latihan vocal." Aku Ino. Salahkan Kakashi yang langsung pergi setelah memberikan jadwalnya.
"Kau trainee baru?" tanya seorang gadis cantik berambut merah muda terkejut dengan nada imut, yang tiba – tiba muncul dari belakang Tenten. Gadis itu adalah Sakura. Leader sekaligus vokalis utama Cherry Blossom.
"Aku pikir kau adalah pegawai baru disini." Aku Sakura dengan senyum manis, mata melebar dan bibir dimanyunkan.
Ino membungkuk untuk memberikan salam.
"Seharusnya aku yang melakukannya karena kau lebih tua dariku." Sakura masih dengan mata melebar dan bibir dimanyunkan dengan imut.
Uhm, entahlah. Jika Ino tidak salah ingat, Sakura seumuran dengannya, memang bukan salah Sakura jika ia tidak tahu. Dan jika Ino melihat ke cermin, dia tidak terlihat begitu tua. Bahkan pernah suatu hari saat Ino sedang jalan dengan Sasuke, seorang kenalan Sasuke mengira Ino adalah teman sekelasnya.
"Kau tau, untuk bisa debut kau harus benar – benar berbakat." Ungkap Sakura dengan ceria. "Kami adalah yang terbaik di generasi kami. Kami memiliki vokalis, dancer, dan rapper terbaik." Tiba – tiba Sakura terlihat bingung.
"Eh, tapi apa bakat Hinata ya, Tenten?" belum sempat Tenten menjawab, Sakura sudah memotong terlebih dahulu. "Ah ya, dia sangat cantik dengan tubuh sangat bagus dan juga polos. Bakatnya adalah sebagai fanboys attractor." Sakura terkikik.
"Kau tau saat aku mengatakan boys, bukan berarti bocah laki – laki. Tapi semua laki – laki. Termasuk paman – paman juga." Sakura kembali terkikik geli. "Tapi hey, itu juga bakat. Jika aku bisa menarik fans yang menyukai musik berkualitas, Hinata bisa menarik para fans pria yang menyukai gadis cantik, seksi dan polos yang masih di bawah umur."
Ah ya, kalau Ino masih ingat dengan benar, saat merela debut 2 tahun lalu, anggota termuda mereka, Hinata, masih berumur 15 tahun. Artinya sekkarang Hinata masih 17 tahun. Dia seusia dengan Sasuke.
Sakura menatap Ino dari atas ke bawah.
"Kurasa kau bisa meniru taktik Hinata." Sakura memberikan saran dengan ceria dan tersenyum manis.
Ino menatapnya datar, dengan sebelah alisnya naik.
"Ohya, tadi kau bilang kau mencari ruang latihan vokal? Pastinya untuk amatir kan ya? Kau lurus saja, lalu belok kanan. Ruanganmu ada di ujung lorong." Sakura mengatakannya dengan manis dan ceria.
"Terimakasih." Ino meninggalkan Sakura dan Tenten. Tak lupa memberikan anggukan kepada mereka.
.
Tidak ada kendala di kelas vokal bagi Ino karena dia memang sudah terbiasa menyanyi. Meskipun teknik bernyanyi Ino tidak pada level Mariah Carey, tapi kemampuan bernyanyinya masih bisa dibilang di atas rata – rata. Awalnya Ino masuk ke kelas menengah. Tapi kemudian Ino dipindah ke kelas atas, kelas bagi trainee yang sudah siap debut. Dan Ino adalah salah satu dari 3 trainee tertua disitu.
Kelas selanjutnya adalah public speaking. Ino tidak suka kelas ini.
Kelas terakhir adalah kelas dance. Ino sangat tidak suka kelas ini. Sama dengan kelas public speaking, Ino masuk di kelas pemula bersama anak – anak berusia 12 – 15 tahun. Hebat. Ino merasa seperti ibu mereka.
.
Setelah latihan vokal, public speaking dan dance, sekarang sudah jam 11 malam Ino masih di studio untuk menulis lagu. Tidak ada inspirasi karena Ino terlalu lelah. Tapi Ino harus tetap menulis lagu karena Kakashi meminta Ino menyerahkan lagu padanya hari jumat, sehingga hari senin minggu depannya Ino sudah bisa menyerahkan lagu yang sudah dia revisi kepada Tsunade.
Masih hari pertama tapi Ino sudah ingin menyerah. Kau hanya perlu bicara, untuk apa harus ikut kelas public speaking? Dance? Bahkan melangkahkan kaki saja Ino sudah kerepotan. Ino merasa dipermalukan di depan anak – anak sesama trainee yang sudah jauh lebih baik dari Ino dalam dance.
Berkali – kali Ino berusaha menghubungi Sasuke, tapi Sasuke tidak mengangkatnya, bahkan saking sibuknya Sasuke, mereka belum bicara lagi sejak pertemuan terakhir mereka seminggu yang lalu, membuat Ino ingin menangis.
Tanpa dia sadari, jari – jarinya bergerak pada not keyboard di depannya, melepaskan rasa putus asa dan frustasinya.
.
Dua minggu sudah Ino tidak ada komunikasi secara langsung dengan Sasuke. Hanya beberapa pesan singkat yang Sasuke kirim saat Ino sudah tidur seperti "Selamat tidur.", "Tidur yang nyenyak.", "Semoga mimpi indah." yang Ino baca pagi harinya dan ia balas dengan "Selamat pagi.", "Selamat beraktivitas.".
Bullshit dengan sabtu – minggu libur. Ino malah bermalam di studio demi menyelesaikan lagunya. Itupun Ino hanya bisa menyelesaikan melodi untuk intronya saja.
Setelah menemui Tsunade untuk menyerahkan lagunya dan mendengarkan kritik, Ino memutuskan untuk pulang. Ino tidak peduli dengan latihan hari ini karena Ino terlalu lelah. Fisik dan mentalnya sudah sangat lelah. Dia hanya ingin tidur.
Apartemennya sudah sepi. Shikamaru dan Chouji sudah pasti sudah berangkat ke kampus. Ino masuk kamar disambut oleh Sasuke yang tertidur pulas di tempat tidurnya.
Tadi mungkin Ino sangat kecewa dan marah pada Sasuke. Kecewa karena Sasuke tidak pernah ada saat Ino membutuhkannya. Membutuhkan sekedar sandaran saat Ino sedang ingin menyerah.
Tapi saat melihat Sasuke disana, hati Ino luluh. Hanya lega yang ia rasakan sekarang. Tak terasa, senyuman terukir di wajah manisnya.
Ino mencium kening Sasuke lalu perlahan kembali keluar dari kamar dengan gitarnya.
Ekspresi damai Sasuke, menciptakan beribu melodi di kepala Ino.
Jam segini, tidak ada orang di seluruh gedung apartemen, jadi aman bagi Ino untuk memetik gitar. Sasuke akan baik – baik saja tidur di kamarnya, karena kamar tidur Ino sengaja Ino soundproof supaya Ino bisa leluasa kapan saja bisa memainkan gitarnya.
.
Yang Sasuke harapkan saat ia bangun adalah melihat wajah Ino. Mereka berdua sama – sana sibuk. Ino selalu sibuk siang hari di jam kerja, kadang sampai tengah malam. Sedangkan Sasuke sibuk mulaai sore sampai pagi. Perbedaan waktu yang mereka jalani merupakan penghambat komunikasi, padahal mereka masih tinggal dalam satu negara. Bahkan untuk sekedar facetime saja mereka tidak bisa. Melihat foto – foto Ino dalam galerinya tidak cukup.
Perlahan Sasuke melangkahkan kakinya keluar kamar Ino. Sasuke berfikir untuk meninggalkan sticky note di kulkas mereka.
Sasuke terkejut saat di ruang tamu mendapati Ino tertidur di lantai dengan gitar dan notebook tak jauh darinya.
Sasuke mendekati Ino, duduk di sebelah kekasihnya itu. Memperhatikan wajah cantiknya. Iya cantik. Sangat cantik. Wanita paling cantik yang pernah Sasuke temui.
Betapa ironi, Sasuke menyimpan kontak Ino di hanphonenya dengan 'My augky Girlfriend'.
Sasuke tertawa. Entah ramuan apa yang telah Ino berikan padanya hingga membuatnya gila.
Sasuke mengelus kepala Ino. Memperhatikan setiap lekuk wajahnya. Sasuke berterimakasih pada siapapun di atas sana yang telah menciptakan Ino. Sasuke berterimakasih pada ayah dan ibu Ino yabg telah membawanya ke dunia, pada Sasuke.
Terlintas di pikiran Sasuke, jika Ino tidak sesempurna ini, apakah ia masih akan mengaguminya? Apakah ia masih menginginkannya?
Yang membuat Ino sempurna di mata Sasuke bukanlah kesempurnaan Ino. Sasuke mengagumi Ino atas segala yang Ino miliki. Ino sempurna saat dia tersenyum. Ino sempurna saat dia bangun tidur. Ino sempurna saat dia terlalu fokus dengan gitarnya. Ino sempurna saat dia sedang keras kepala, tidak mau menggunakan syal saat mereka keluar di musim dingin.
Apakah Sasuke akan mengagumi Ino jika Ino tidak sesempurna ini? Entahlah, Sasuke tidak akan pernah tau. Karena Sasuke selalu mengagumi semua sisi Ino. Karena baginya, Ino selalu sempurna.
Apakah Sasuke masih menginginkannya? Pertanyaan yang seharusnya diajukan adalah: apakah suatu hari nanti Ino masih akan menginginkannya?
Sasuke tidak ingin memikirkan hal – hal negatif. Ia ingin menikmati momen singkat ini dengan maksimal.
Pandangan Sasuke menangkap notebook Ino yang terbuka. Sasuke mengambil notebook itu, membaca susunan kata pada halaman terakhirnya.
Setidaknya Sasuke tau, untuk saat ini, Ino masih menginginkannya.
