Hallo minna-san..
Ohayou.. konnichiwa.. konbanwa..
Nah, ini chap 10 sudah Hana lanjut. Ada beberapa masalah dalam pembuatan chapter ini, selain sibuk dengan tugas kuliah yang bejibun, chapter ini yang sudah jadi siap di publish malah hilang karena kecerobohan Hana, jadi buat dari awal. Bagi Guest, Hana harap kalian log in. Biar bisa Hana PM. Hehehehe.. oke, langsung ke cerita aja yah.
Selamat menikmati !
.
.
#_#
.
.
Disclaimer of Masashi Kishimoto
Pairing NaruHina
Rated M lebih dominan Romance
Warning: OOC, GeJe, berantakan, typo dimana-mana, jauh dari kata sempurna, lemonnya akan berjalan sesuai dengan keadaan dan jalan cerita.
‰ HAPPY READING ‰
Chapter 10
Naruto sangat terkejut melihat ada cincin yang tersemat di jari manis Sakura, kekasihnya. Sakura yang masih belum menyadari arah pandang Naruto hanya memandang mantan kekasihnya dan sahabatnya—Naruto dan Hinata—bergantian. Beberapa detik berlalu, akhirnya Sakura yang menyadari kemana arah pandang Naruto dan segera melepaskan pegangan tangannya dengan Sasuke dan menyembunyikan tangannya yang tersemat cincin pemberian Sasuke.
"O..ohayou Naruto." Sapa Sakura gagap.
"Ohayou mou Sakura-chan." Jawab Naruto yang sudah mengalihkan pandangannya.
"Hime, ohayou." Giliran Hinata mendapatkan salam dari Sakura
"Hn." Seperti biasa Hinata menjawabnya.
"Hime, ayo kita segera ke kelas. Kau tak mau kita terlambat kan?" Naruto mengajak Hinata. Tanpa menunggu persetujuan dari Hinata, Naruto segera menyeret Hinata yang langsung mendapat deathglare. Sasuke dan Sakura mengikuti mereka dari belakang.
"Woy baka! Lepaskan tanganku!" protes Hinata.
Tentu saja usaha Hinata sia-sia. Naruto tak merespon semua yang dilakukan Hinata. Malahan ia semakin menggenggam erat tangan Hinata dan membawanya ke kelas mereka. Bukan Naruto Uzumaki namanya kalau tidak bisa menjinakkan Hinatanya. Sedangkan Sakura yang melihat itu hanya terheran-heran beda dengan Sasuke yang acuh tak acuh pada keadaan sekitarnya.
"Sakura-chan, apa kau yakin dengan ceritamu tadi malam?" tanya Sasuke tiba-tiba.
"Tentu saja." Jawab Sakura.
"Tapi kenapa mereka seperti orang yang tak saling mengenal?" tanya Sasuke lagi.
"Aku juga tak tau apa yang terjadi pada mereka di tempat itu."
Sesampai mereka di kelas, bel pertanda jam pelajaran pertama dimulai. Tiba-tiba seseorang wanita cantik berambut pirang dengan dikuncir dua memasuki ruang kelas. Semua yang ada di kelas heran ada gerangan apa kepala sekolah—Tsunade—datang ke kelas mereka.
"Saya mengumumkan dua hal yang penting. Pertama, Kurenai-sensei tidak bisa mengajar karena sedang cuti hamil anak keduanya untuk itu kalian dibebaskan dari pelajaran beliau. Kedua, saya akan mengadakan program ekselerasi, dimana kelas XI-A wajib mengikutinya terutama yang sudah siap untuk pertunangan. Apa ada pertanyaan?" Jelas Tsunade sambil melirik Naruto dan Hinata.
"A..ano sensei kenapa tiba-tiba begini?" tanya Temari yang duduk berdampingan dengan Shikamaru.
"Bukannya Sabaku-san senang akan berita ini?" jawab Tsunade.
"E..ehh kenapa bisa begitu sensei?" tanya Karin Takamura.
"Sudah jelas bukan. Mereka sudah menjalin cinta sejak lama. Otomatis mereka akan berlanjut ke jenjang pertunangan dan pernikahan. Apa kalian belum paham juga?" jawab Tsunade sambil melirik Temari dengan tersenyum menantang.
"Sudah aku bilang kan Hime, jangan pernah berdebat dengan Tsunade-sensei." Ujar Shikamaru yang baru terbangun dari tidurnya.
"Ada pertanyaan yang lain?" Tsunade memandang semua siswa-siswi yang ada di dalam ruangan dan pandangannya berakhir pada bangku tempat duduk Naruto dan Hinata.
"Baiklah kalau tidak ada lagi, banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan hari ini." Pamit Tsunade meninggalkan ruangan.
Sepeninggalnya Tsunade ruang kelas tetap sepi seolah Tsunade masih berada disana. Kalau kita lihat di tempat duduk pojok belakang dekat jendela, dua manusia berbeda jenis sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Ya, disana ada Naruto dan Hinata. Hinata yang sejak masuk ke kelas tadi sibuk dengan laptopnya. Dia tak perlu mendengarkan pengumuman yang Tsunade sampaikan karena dia dan Naruto lah program itu sampai dibuat dan dia sekarang sedang membuat laporan tentang program tersebut. Sedangkan Naruto sedang sibuk dengan handphonenya. Dia mengetik-ngetik handphonenya sejak tadi. Banyak email yang masuk dari sekretaris dan kolega bisnisnya.
.
#_#
.
"Hoammz~ ada apa Sakura-chan?" tanya Sasuke yang baru saja bangun dari tidurnya.
"..." Sakura tidak merespon.
"Hime, ada apa? Sepertinya ada sesuatu yang manarik bagimu di dalam ponselmu itu." Tanya Sasuke lagi.
"Ini." Sakura menunjukkan ponselnya di hadapan Sasuke.
To: Sakura-chan
From: Naruto no baka
Sakura-chan, saat istirahat bisa kita bicara sebentar? Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Ku harap kau mau menemuiku di taman belakang sekolah.
"Apa-apaan dobe itu, kenapa harus email sih. Bukannya tadi pagi kita bertemu dengannya?" Sasuke kesal melihat isi email Naruto.
"Mungkin karena ada Hinata bersama kita tadi." Jawab Sakura mencoba berfikir positif.
"Bukannya Hinata sudah tau hubunganmu dengan si dobe baka. Bahkan dia juga pernah melihat kita melakukan se—" perkataan Sasuke tidak pernah selesai sampai akhir karena Sakura memotongnya terlebih dahulu.
"Diamlah Sasuke-kun. Aku gak mau kau mengucapkan hal itu dengan jelas." Sakura cemberut.
"Kau kenapa sih. Bukannyakita sudah sering melakukan seks apalagi tadi malam itu yang kau sangat agres—"
"Sa-su-ke-kun." Sakura memberi deathglare pada Sasuke. Sasuke hanya mendecih. Tapi, baginya menggoda Sakura sangat menyenangkan.
.
#_#
.
Bel istirahat telah berbunyi. Siswa-siswi berhamburan keluar kelas begitu antusias. Mereka merasa seperti terbebas dari neraka.
"Hime, aku ada urusan. Kau pergi duluan saja ke atap yah. Nanti aku pasti menyusulmu dan menyelesaikan semua laporan itu." Ujar dan pamit Naruto pada Hinata. Sedangkan yang diajak bicara tidak merespon. Tapi percayalah, Hinata bisa mendengar apa yang Naruto katakan.
Setelah itu Naruto pergi keluar kelas. Sebelum dia benar-benar keluar dari kelas, dia mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sesuatu disana.
"Hime, kau butuh teman kah?" tanya Sasuke.
"Tidak Sasuke-kun. Aku tidak apa-apa kok. Semua masalah pasti akan terselesaikan hari ini. Sasuke-kun percaya sama aku kan?" Sakura menjawab sambil tersenyum menenangkan. "Lagipula, aku sama Naruto sudah berteman sejak kecil. Kau ingat kan itu?" lanjutnya yang saat itu melihat Naruto telah meninggalkan kelas.
"Tentu saja. Baiklah, hati-hati yah."
"Hai."
Cup~
Sasuke dengan tiba-tiba mencium Sakura tepat dibibirnya membuat Sakura malu. Sakura langsung menuju keluar kelas setelah membaca email yang masuk dari Naruto. Sasuke menatap kepergian Sakura dengan wajah khawatir. Tiba-tiba saja ponsel yang berada di saku celananya bergetar menandakan bahwa ada email masuk. Sasuke segera membacanya dan berdecih kesal.
.
#_#
.
Saat ini seorang siswa dengan rambut jabriknya sedang berdiri dengan bersandarkan pohon. Kedua kelopak matanya terpejam menikmati udara taman belakang sekolah. Dia tak menyadari bahwa seorang gadis berambut pink mendekatinya.
"Naruto." Panggil gadis berambut pink itu.
"Oh Sakura-chan ya." Naruto memperbaiki posisinya.
Suasana menjadi hening diantara mereka berdua.
"Ano Naruto, aku ingin mengakhiri hubungan ini. Aku—" perkataan Sakura terpotong oleh Naruto.
"Aku tau Sakura-chan. Kau tak perlu menjelaskan apapun. Cincin dijari manismu itu yang sudah menjelaskan semuanya." Naruto berjalan mendekati Sakura.
"Apa kau marah?" Sakura menundukkan kepalanya.
"Tidak.. tidak Sakura-chan. Justru aku mau minta maaf. Aku dengan Hinata-chan akan bertunangan dalam waktu dekat ini. Aku tidak tau hal ini akan terjadi, tapi—" perkataan Naruto terpotong oleh pertanyaan Sakura.
"Kalian dijodohkan oleh kakek nenek kalian?" tanya Sakura tepat sasaran.
"Bagaimana kau bisa tahu? Tunggu dulu, kenapa kau sama sekali tidak terkejut dengan berita ini seolah-olah kau sudah tahu sebelum kami." Naruto heran mendengar pertanyaan Sakura yang tepat sasaran.
"Aku memang tahu semuanya." Ujar Sakura dalam hati.
"Tidak kok. Aku asal tebak saja. Ternyata tebakanku benar adanya." Jawab Sakura gugup.
"Benarkah?" Naruto masih curiga.
"Kau tidak percaya padaku? Kita sudah bersahabat dari kecil kau masih saja tidak percaya." Sakura cemberut.
"Hei, jangan cemberut gitu. Oke, aku minta maaf."
"Ya sudah. Hmm, tunggu dulu." Sakura mengeluarkan ponselnya yang bergetar. "Ne Naruto, aku harus pergi dulu yah. Jaa~" Sakura pergi meninggalkan Naruto.
Sakura POV
Setelah meninggalkan Naruto, aku berjalan menuju arah atap setelah mendapat email dari Sasuke-kun. Sepanjang perjalanan, aku masih memikirkan takdir apa yang akan mereka alami. Naruto tidak ingat bahwa Hinata adalah sahabatnya. Lalu, kenapa Hinata merasa ketakutan dan marah-marah seperti dulu. Apa yang sebenarnya terjadi selama kita berpisah? Apakah Naruto tidak mengingat Hinata karena peristiwa itu? Bermacam-macam pertanyaan berkecamuk dalam pikiran Sakura tapi tak ada satu pun yang terjawab olehnya.
End Sakura POV
Sepeninggalnya Sakura, Naruto mengambil ponselnya. Ia mengetikkan sesuatu di layar ponselnya dan setelah itu meninggalkan taman belakang sekolah menuju ke tempat tujuan selanjutnya.
.
#_#
.
Sakura saat ini telah berdiri di depan pintu yang terbuat dari kayu jati dan dicat dengan warna biru. Dia membuka pintu dan terlihatlah awan biru yang membentang luas. Dia pandangkan ke arah lain, saat itu juga manik emeraldnya menemukan sepasang manik onyx milik kekasihnya. Tapi, disana dia juga menemukan sepasang manik amethyst milik sahabatnya. Sakura mengernyitkan dahinya merasa ada yang aneh.
"Ne, Hina-chan. Kau sedang apa disini?" tanya Sakura.
"..." Hinata tidak merespon. Dia hanya mengeluarkan bentounya dan hal itu sudah membuat Sakura mengerti. Apalagi tiba-tiba pintu atap terbuka dan menampakkan seorang Naruto Namikaze.
"Oh kalian sudah sampai duluan yah hehehehe. Gomen, lagi ada sedikit urusan yang penting mungkin." Kata Naruto yang baru tiba.
"Sakura-chan, aku mau makan. Suapin." Minta Sasuke.
Tanpa diperintah dua kali, Sakura sudah menghampiri Sasuke dengan membawa bentounya. Sakura mulai menyuapi Sasuke dengan mesranya.
"Ne, Hime. Mana bentou kita? Aku sudah lapar nih." Naruto menghampiri Hinata.
"..." Hinata sama sekali tidak merespon. Dia hanya membuka tutup bentounya dan menyodorkannya ke Naruto.
"Hime kau tega sekali. Lihatlah! Mereka terlihat sangat romantis sekali. Aku mau seperti mereka Hime~" ujar Naruto dengan suara manjanya. Sedangkan yang diajak bicara tidak menghiraukan keberadaan Naruto sama sekali.
Hinata membuka tutu bentounya dan memisahkan masing-masing tempat bentou menjadi dua bagian. Hinata segera mengambil sumpitnya dan mengucapkan itadakimasu dengan suara lirih. Walaupun suara lirih, Naruto masih dapat mendengarnya karena jaarak mereka yang terlampau dekat. Naruto yang mendengar itu hanya dapat tersenyum. Hinata mulai mengambil onigiri dan akan memasukkannya ke dalam mulut. Tapi, tiba-tiba tangannya yang menyumpit onigiri berubah arah yang seharusnya ke arah mulutnya menjadi ke arah sampingnya. Hinata mengikuti arah kemana tangan yang berisi onigiri mendarat kalau bukan ke mulutnya. Hinata langsung membelalakkan manik amethystnya saat dia onigirinya akan masuk ke dalam mulut Naruto.
"Emm~ yummy~ rasanya enak Hime. Kau pantas menjadi seorang istri dari Naruto Uzumaki." Ujar Naruto sambil mengunyah onigirinya, sedangkan Hinata hanya bisa memberikan deathglare kepada Naruto. Tapi kalau kita lihat secara teliti, kedua pipi Hinata merona. Tanpa banyak bicara Hinata langsung meninggalkan atap sekolah.
"Cih, orang-orang diluar sana benar-benar bodoh. Bagaimana bisa mereka menjuluki seorang Naruto Namikaze sebagai playboy kelas kakap. Bayangkan saja, hanya seorang Hinata Hyuuga ia gagal mendapatkan hatinya. Seharusnya mereka menyebutnya playboy kelas ikan teri saja." Ujar Sasuke, sedangkan Naruto yang mulai tadi mendengar ocehannya hanya dapat menahan amarahnya.
"Ne Sasuke-kun, Naruto tidak seperti itu. Bagaimana kau mengatakan hal sekejam itu pada teman kecilmu. Naruto itu layaknya rumput. Dipandang indah oleh orang-orang bodoh dan diinjak-injak oleh Hina-chan, hehehe." Sakura tertawa cekikikan dan Sasuke yang mendengarnya ikut tertawa dengan lelucon kekasihnya.
Naruto yang tadinya mendengar Sakura membelanya sedikit menurunkan tensi amarahnya, tapi mendengar perkataan Sakura yang terakhir membuat tensi amarahnya naik berkali-kali lipat.
"Sa..su..ke...Sa..ku..ra... berani-beraninya kalian mengatakan hal sekejam ini padaku." Naruto menggeram menahan amarahnya. "Kalian dengar ya, aku Naruto Uzumaki pasti bisa membuat Hinata Hyuuga bertekuk lutut dihadapanku." Setelah mengucapkannya, Naruto pergi dari atap sekolah meninggalkan dua sejoli yang merupakan orang-orang yang dia cintai.
"Akhirnya dia benar-benar mencintai seorang gadis." Ujar Sakura tersenyum.
"Kau benar Saku-chan. Kau lihat tadi wajah serius dan pipinya yang merona itu kan? Hahahaha lucu sekali." Sasuke menertawakan tingkah teman kecilnya.
.
#_#
.
Pelajaran telah dimulai sejak 30 menit yang lalu. Kalau dilighat dengan seksama, Naruto tampak gelisah di tempat duduknya. Naruto bukannya tidak suka dengan materi pelajaran yang diberikan Iruka-sensei saat ini, melainkan sesuatu yang sejak tadi terus bergetar di saku celananya.
"Kalau kebelet ke kamar mandi saja. Jangan mengeluarkan'nya' disini." Ujar Hinata.
"Sial, dia gadis yang bermulut tajam juga. Bagaimana mungkin dia mengatakan hal itu sedangkan pandangannya terfokus pada Iruka-sensei." Ujar Naruto dalam hatinya.
"Cepatlah! Aku tidak mau menghirup 'bau'nya yang tidak enak." Perintah Hinata.
"Cih, kau mengkhawatirkanku, hmm?" kata Naruto.
"Dalam mimpimu." Hinata menoleh dan mengeluarkan lidahnya seperti orang mengejek setelahnya dia kembali fokus ke penjelasan Iruka-sensei.
"Sial, gadis ini mengejekku. Mama, jika hal yang kau bicarakan tidak penting aku akan pergi dari rumah." Ujar Naruto dalam hati.
Naruto memasukkan tangannya ke dalam saku celananya dan mengambil sesuatu yang sejak tadi bergetar. Sebuah benda persegi panjang. Ya, itu ponselnya yang sejak tadi bergetar. Ia melihat nama siapa yang tertera di layar ponselnya yang menandakan orang yang menelpon.
"Sudah kuduga. Wanita ini iblis berwujud manusia." Naruto kembali bergumam di dalam hatinya.
"Maaf Iruka-sensei. Boleh saya keluar untuk menerima telpon?" tanya Naruto sambil menunjukkan ponselnya yang lampu layarnya hidup mati.
"Silakan Uzumaki-san." Ujar Iruka-sensei memberi izin.
Setelah mendapat izin dari Iruka-sensei, Naruto keluar dari kelas menuju pertigaan koridor yang sepi. Dia menekan tombol hijau yang ada di layar dan segera mendekatkan ponselnya ke telinga dan menyapa orang yang menelpon.
"Mo—" belum selesai Naruto menyapa orang diseberang sana udah bicara lebih dulu.
"Ne Naru-kun, kau ada dimana? Kenapa lama sekali menjawabnya? Udah bosan makan ramen hah? Sekarang cepat jawab kau ada dimana?" ujar orang yang menelpon.
"Bagaimana aku mau jawab kalau mama bawel gitu."
Yups. Orang yang menelpon Naruto sejak tadi adalah mamanya—Kushina— dan orang yang telah membuatnya kehilangan poin dihadapan Hinata.
"Sudah cepat kau jawab saja."
"Aku di sekolah."
"Bawa Hinata pulang ke rumah. Ini perintah dari papa." Setelah mengatakannya sambungan berakhir sepihak. Hal ini membuat perempatan muncul di dahi Naruto. Naruto segera mengatur emosinya dan kembali ke kelas.
.
#_#
.
"Hime, mau pulang bersamaku dan Sasuke-kun?" tawar Sakura.
"Iya." Jawab Hinata yang masih membereskan peralatan sekolah dan bukunya yang berantakan di atas meja.
"Tidak perlu Sakura-chan. Hinata akan pulang bersamaku." Naruto yang menyadari tatapan jahil sahabat dan teman kecilnya segera melanjutkannya. "Tadi mama menyuruhku untuk membawa Hinata pulang bersamaku. Katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan."
"Kau tak perlu memperjelasnya dobe, kalau pun kalian ingin berkencan tidak ada urusannya denganku." Ujar Sasuke.
"Ooh ya sudah kalau begitu. Kami pulang duluan yah. Ayo Sasuke-kun!" ajak dan pamit Sakura.
"Hati-hati di jalan." Seru Naruto.
"Kau juga Naruto." Balas Sakura sambil melambaikan tangannya.
"Kau sudah selesai belum sih. Lama banget." Ujar Naruto ketus. Dia masih tidak terima dengan perkataan Hinata tadi.
"Hn." Hinata keluar dari kelas tanpa mengajak Naruto. Hinata berhenti di pintu.
"Hoi playboy. Mau pulang apa tidak?"
"Sial, dia benar-benar iblis. Ternyata aku sebentar lagi akan menikahi seorang iblis." Naruto segera menyusul Hinata sambil menggerutu.
"Kau akan menerima akibatnya." Bisik Naruto tepat di telinga Hinata dan setelah itu Naruto berjalan di depan menuju tempat mobilnya diparkir.
Selama dalam perjalanan menuju rumah utama keluarga Namikaze, mereka berdua hanya terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing.
.
#_#
.
Sekitar 15 menit dalam perjalanan, akhirnya Naruto dan Hinata telah tiba di kediaman Namikaze. Mereka berdua keluar dari mobil yang disambut oleh para pelayan yang berbaris rapi di sisi kanan dan kiri mereka. Di depan mereka telah berdiri dua manusia berlawanan jenis. Si cewek yang berambut panjang dan si cowok yang berdiri di sebelah si cewek dengan gagah yang memiliki manik mata yang sama dengan si cewek. Melihat mereka, Naruto dan Hinata mengernyitkan dahinya.
"Hinata-nee, akhirnya kau pulang juga." Si cewek tadi langsung menyerbu ke depan untuk memeluk Hinata.
"Hanabi-chan, kenapa kau ada disini?" tanya Hinata heran.
"Hinata-nee, aku mulai tadi bosan di dalam terus. Aku juga gak paham apa yang dibicarakan Neji nii-sama dan Minato otou-sama. Bahkan, Kushina oka-sama pun dari tadi sibuk dengan ponselnya. Aku merasa terabaikan." Bukannya menjawab pertanyaan Hinata, Hanabi malah mengeluh.
"Sebaiknya kita masuk saja. Banyak hal yang akan dibicarakan oleh Minato otou-sama." Ujar pria yang bersama Hanabi yang tak lain adalah Neji.
Mendengar panggilan Hanabi dan Neji terhadap ayah Naruto membuat Hinata bingung.
.
#_#
.
"Hinata-chan, Naru-kun, kalian sudah pulang?" tanya Kushina yang baru keluar dari kamarnya.
"Iya ma." Jawab Naruto yang langsung menuju ke kamarnya di lantai tiga.
"Kenapa mama gak tahu yah?" Kushina memasang wajah bertanya.
"Bagaimana Kushina oka-sama tahu kalau mulai tadi sibuk dengan ponsel." Ujar Hanabi cemberut.
"Ara..ara.. Hanabi-chan ngambek yah. Oke, Kushina oka-sama minta maaf deh. Hanabi jangan ngambek lagi yah. Gimana kalau Hanabi-chan ajak nee-chanmu ganti baju. Oka-sama akan menunggu kalian di dapur." Ujar Kushina sambil mengelus-elus rambut Hanabi.
Setelahnya Hanabi membawa Hinata ke suatu kamar yang ada di rumah utama kediaman Namikaze. Hinata terkejut melihat isi kamar yang dipenuhi barang-barangnya. Hinata hendak bertanya pada adiknya tapi Hanabi sudah menyuruhnya untuk cepat-cepat ganti baju. Beberapa menit kemudian, Hinata keluar dari kamar dengan memakai tanktop warna ungu yang dipadukan dengan sweter putih, celana pendek putih dengan rambut dikuncir kuda. Hanabi mengikutinya dari belakang, mereka berdua menuju dapur untuk membantu Kushina menyiapkan makan malam.
.
#_#
.
Kushina, Hinata, Hanabi keluar dari dapur dengan membawa berbagai jenis hidangan di masing-masing kedua tangan mereka. Dibelakangnya, para pelayan juga membawa jenis hidangan yang berbeda dengan mereka bertiga.
"Sayang, makam malam sudah siap." Ujar Kushina memasuki ruang tamu.
"Baiklah. Ayo kita ke ruang makan!" perintah Minato kepada Neji. Ia berjalan berdampingan dengan Kushina menuju ruang makan. sedangkan Hinata menyusul Naruto di kamarnya atas permintaan dari Kushina.
Selama acara makan malam berlangsung, tidak ada yang bersuara kecuali dentingan pisau dan garpu yang saling beradu. Setelah acara makan selesai, Minato memberi isyarat ke semua yang ada di ruang makan untuk mengikutinya. Ternyata Minato masuk ke ruang keluarga.
Sesampainya di ruang keluarga.
"Kalian, duduklah!" perintah Minato.
"Hai." Semuanya mematuhi perintah Minato dan duduk di kursi yang ada di ruangan tersebut.
"Naruto, Hinata, bagaimana sekolah kalian hari ini?" tanya Minato saat setelah Kushina duduk di sampingnya. Naruto yang menyadari panggilannya berubah membuatnya mengerti bahwa sang papa ingin bicara serius.
"Semua baik-baik saja." Jawab Naruto tak kalah seriusnya.
"Tsunade oka-sama sudah memberitahukannya, bukan?" tanya Minato.
"Hai." Sekarang Hinata yang menjawabnya.
"Kalau begitu papa yakin kalian sudah mengerjakan sebagian laporannya. Naruto, kau sudah mendapatkan email dari Jiraiya otou-sama, bukan?" Minato melirik ke arah Naruto yang dibalas dengan anggukan. Ia kembali melanjutkannya, "Hinata nanti akan membantumu. Kau memerlukan tanda tangan dari Hinata juga. Untuk itu Neji dan Hanabi datang kemari membawa barang-barangnya." Minato melirik Hinata.
"Ternyata itu sebabnya Neji-nii dan Hanabi-chan datang kemari. Tidak apa-apa kalau hanya malam ini saja. Toh, aku tidur di ranjang terpisah dengan si playboy itu." Ujar Hinata dalam hati dan tanpa sadar dia mengangguk-anggukkan kepalanya. Minato yang melirik Hinata mengartikan anggukan tersebut sebagai tanda setuju.
"Untuk itu, pelayan kami sudah memindahkan semua barang-barang Hinata ke kamar Naruto." Jelas Minato yang membuat Hinata terkejut.
"APAAA!" pekik Hinata dalam hatinya dan tanpa sadar ia mengekspresikannya.
"Hinata-chan kami tahu ini sangat mendadak. Tapi kami tidak punya pilihan lain selain kau sekamar dengan Naru-kun. Anggap saja ini sebagai langkah awal bagi kalian untuk tinggal bersama. Selain itu, keluarga kami dari Jerman akan datang malam ini." Jelas Kushina.
"Hi..hidup bersama?" tanya Hinata dan Neji kebingungan.
"Ne, Hinata-chan tidak menyadarinya yah? Jangan-jangan Naru-kun juga tidak menyadarinya?" tanya Kushina yang ikutan bingung.
Hinata dan Naruto saling berpandangan seolah bicara melalui mata mereka. Lalu, mereka menoleh ke arah Kushina dan menggeleng bersamaan.
"Salah satu dokumen yang dikirim Jiraiya otou-sama adalah surat perjanjian. Isi dari surat perjanjian tersebut menyatakan kalau setelah pertunangan kalian akan tinggal bersama. Kalian berdua sudah menyetujuinya. Untuk saat ini, kalian akan tinggal disini. Akan tetapi, setelah bertunangan kalian akan tinggal di apartemen Naruto untuk sementara waktu." Minato menggantikan istrinya menjelaskannya.
"Sampai kapan?" tanya Naruto dan Hinata bersamaan.
"Sampai rumah yang akan kalian tinggalin selesai dibuat." Jawab Minato tegas.
"Pa..papa bercanda kan? Hinata akan kuliah dan aku akan selalu berpergian untuk menyelesaikan semua masalah perusahaan. Bahkan di hari pertama pernikahan kita nanti, aku pasti akan langsung berpergian, jadi kalian gak perlu membuatkan kami rumah." Naruto tidak percaya dengan pendengarannya.
"Untuk itulah kami membuatkan kalian rumah. Rumah itu akan dibangun tidak jauh dengan kantor pusat perusahaan Namikaze dan Hyuuga di Jepang. Kalian tidak perlu khawatir tentang malam pertama kalian, perusahaan yang ada di luar negeri orang tua dan kakak-kakak kalian yang akan mengurusnya. Kami hanya akan membutuhkan bantuan kalian jika itu memang diperlukan. Kalian berdua akan fokus pada perusahaan di Jepang saja." Minato melihat Naruto dan Hinata bergantian. "Hinata juga akan berkuliah secara privat di rumah sama seperti kamu dulu. Bagaimana pun juga, Hinata akan menikah dan menjadi seorang istri dari klan Namikaze. Seorang istri akan selalu mendampingi suaminya dan hal itu juga merupakan tradisi dari klan Hyuuga, bukan?" Minato kembali menjelaskan.
Hinata tertegun mendengar penjelasan Minato. Dia adalah Hinata Hyuuga asli keturunan klan Hyuuga dan ia sangat paham betul tentang tradisi dari klannya itu.
"Sudah malam, sebaiknya kita istirahat saja. Oya Naru-kun, papa mau laporannya besok. Oyasumi minna." Ujar Minato menutup pembicaraannya.
"Minato otou-sama sebaiknya kami langsung pulang saja. Kami harus mempersiapkan semuanya." Pamit Neji.
"Kalian tidak menginap disini?" tanya Hinata spontan.
"Tidak Hime, Hana-chan lusa akan kembali ke sekolah. Dia diminta untuk segera kembali oleh wali kelasnya." Jelas Neji yang diiyakan oleh Hanabi.
"Baik kalau itu yang terbaik. Biar papa dan mama yang mengantar mereka. Kalian istirahatlah." Perintah Minato kepada Naruto dan Hinata.
"Naru-kun, jaga Hinata-chan." Perintah Kushina.
"Hai. Hime, ayo ikut denganku!" jawab dan perintah Naruto. Hinata hanya bisa menuruti perintah Minato dan mengikuti Naruto dari belakang.
.
#_#
.
"Ini kamarku. Ayo masuk dan periksa apakah barang-barangmu sudah dipindahkan semuanya." Ajak Naruto. Mereka berdua masuk ke dalam kamar milik Naruto.
"Aku akan mandi terlebih dahulu. Kau periksa saja barang-barangmu. Setelah itu, kita akan mengerjakan laporannya." Naruto masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Hinata memeriksa barang-barangnya.
HINATA POV
Aku mengikuti playboy ini dari belakang menuju kamarnya. Sangat tidak mungkin bagi seorang Hyuuga mengabaikan sebuah perintah. Apalagi perintah itu dari Minato otou-sama. Tunggu, sejak kapan aku akrab dengan ayah dari playboy ini. Sudahlah, mungkin aku tertular dari Neji-nii dan Hanabi-chan.
"Ini kamarku. Ayo masuk dan periksa apakah barang-barangmu sudah dipindahkan semuanya." Ajak Naruto.
Aku hanya menurutinya dan masuk ke dalam kamarnya. Aku mengamati ke sekeliling dan kesan pertamaku terhadap kamarnya adalah rapi.
"Aku akan mandi terlebih dahulu. Kau periksa saja barang-barangmu. Setelah itu, kita akan mengerjakan laporannya." Naruto memasuki kamar mandi.
Sekarang tinggal aku sendirian di ruangan ini. Aku berjalan mengelilingi kamar ini. Aku berjalan mengelilingi kamar ini. Kamar ini tidak terlalau besar tapi sangat mewah. di tengah-tengah ruangan ini terdapat ranjang ukuran king size dengan warna gold begitu juga dengan seprainya. Di sisi kanan ranjang terdapat meja kecil sewarna dengan ranjang dan di atasnya sebuah lampu tidur mewah. Di sisi kiri ranjang sebuah meja rias dengan ukiran yang mewah. tak jauh dari sana, terdapat pintu yang langsung mengarah ke balkon. Sisi kanan dari meja kecil terdapat dua almari yang berukuran besar dengan ukiran ala Eropa dan kamar mandi tepat berada di samping almari tersebut. Tunggu dulu, aku baru menyadari sesuatu. Aku menatap langit-langit kamar sekali lagi dan benar saja, kamar ini di desain ala Eropa dengan warna gold sebagai dasarnya.
Aku berjalan menuju ranjang dan duduk di tepi ranjang dekat meja kecil. Disana terdapat tiga laci. Aku membuka laci pertama dan isinya hanya beberapa kertas kecil dan alat tulis kantor. Laci kedua berisi tumpukan map, mungkin berkas-berkas perusahaan. Laci ketiga lebih besar dari laci sebelumnya. Aku membukanya dan disana banyak sekali majalah dan beberapa komik. Aku arahkan pandanganku ke deretan majalah dan ada majalah yang menarik perhatianku. Hal ini disebabkan karena cover dari majalah tersebut beda dengan yang lainnya. Aku mengambilnya dan tiba-tiba suara si playboy terdengar di belakangku.
"Himeku sedang apa?" ujar Naruto dari belakangku. Tanpa ijin dariku, dia melingkarkan tangannya dipinggangku. Saking terkejutnya dengan tindakan dia yang tiba-tiba itu, aku menjatuhkan majalah yang belum aku lihat covernya.
Aku membelalakkan mataku saat melihat cover dari majalah yang aku ambil. Dicover itu terdapat foto seorang cewek cantik, putih, tinggi hanya memakai lingerie transparan yang memperlihatkan putingnya.
"I..ini.." aku shock sehingga tak menyadari kalau Naruto semakin mengeratkan pelukannya.
"Wah.. Himeku ini sudah tidak sabaran yah? Hari pernikahan kita masih lama tapi Hime sudah tidak sabar. Kalau mau aku bisa melakukannya sekarang juga kok, hime. Itu hal yang mudah bagiku." Ujar Naruto yang langsung membuatku tersadar dari lamunanku.
"A..apa yang kau lakukan? Cepat lepaskan aku!" aku mulai memberontak dalam pelukannya.
"Hime, bagaimanapun aku ini pria normal. Jadi, membaca majalah seperti ini tidak masalah, bukan?" Naruto melepaskan pelukannya dan mengambil majalah yang jatuh tadi.
"A..aku mandi dulu." Aku berlari menuju almari untuk mengambil baju tidur. Aku membuka pintu almari dan aku kembali dibuatnya terkejut. Bagaimana tidak terkejut kalau dihadapanku tepatnya isi dari almari tidak ada baju tidurku. Tidak, ini semua baju tidur milikku tapi ini bukan yang sering aku pakai. Sekarang di depanku ada banyak baju tidur berupa lingerie transparan dengan bahan sutera.
"Hime, kenapa kau hanya berdiri saja disana? Apa kau memerlukan bantuanku?" tanya Naruto yang berjalan mendekatiku.
Bulu kudukku berdiri dan alarm di otakku berbunyi tanda bahaya mendekat. Tanpa pikir panjang aku mengambil salah satu lingerie itu.
"Tidak perlu." Aku langsung menuju ke kamar mandi dan menutup pintunya dengan keras.
END HINATA POV
Sepeninggal Hinata, suasana kamar menjadi hening. Naruto meletakkan kembali majalah di atas meja kecil. Tanpa Hinata sadari, sebuah tombol sewarna dengan dinding kamar tepat berada di samping almari. Naruto menekan tombol itu dan dinding di samping tombol tersebut terbuka seperti sebuah pintu. Kenyataannya dinding itu memang pintu bagi sebuah ruangan. Ruangan itu tak lain dan tak bukan adalah ruang kerja sekaligus ruang pribadi Naruto. Naruto memasukinya dan kembali menutup dinding dengan menekan tombol di dalam ruangan tersebut.
NARUTO POV
Sial, Hinata benar-benar iblis. Bagaimana mungkin dia mengambil majalah itu dengan keadaannya yang hanya memakai tanktop yang dilapisi sweter. Kalian pikir aku tidak memperhatikannya? Aku memperhatikannya sejak dia menjemputku di kamar tadi. Sepertinya aku harus mandi lagi. Jika tidak, mungkin aku akan melahap Hinata sebelum waktunya. Aku kembali keluar dari ruang pribadiku untuk mengambil baju tidur. Aku membuka almari yang tadi dibuka oleh Hinata. Aku terkejut dengan isi almari tersebut yang berisi baju tidur dengan model lingerie transparan milik Hinata. Tiba-tiba bayangan Hinata yang sedang mengenakannya terlintas diotakku. Aku segera mengambil kaos putih pendek dan celana biru pendek. Aku langsung menuju ruang pribadiku kembali.
Aku menekan tombol tak sabaran. Dinding ini terasa lama sekali terbukanya. Aku langsung masuk saja saat dinding terbuka seperempatnya dan menekan tombol untuk menutupnya kembali. Sial, semua badanku terasa panas dan gairahku naik. Sepertinya aku harus mandi lagi. Aku kembali membuka pintu, bedanya pintu ini berada di dalam ruang pribadiku. Aku segera berendam diri. Semua tubuhku aku tenggelamkan ke dalam bathup yang berisi air dingin. Aku sedikit menyembulkan kepalaku dan menatap dinding yang ada dihadapanku. Disana juga terdapat sebuah tombol. Jika tombol itu ditekan, maka tubuh polos Hinata yang sedang mandi akan terekspos. Yah, kamar mandi di ruang pribadiku terdapat jalan pintas menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarku.
Selesai mandi dan memastikan gairahku turun, aku keluar dari kamar mandi. Aku kembali ke ruanganku dan mengambil semua berkas yang ada di meja kerjaku, tentunya aku sudah berpakaian. Setelah itu aku keluar menuju kamarku.
END NARUTO POV
Naruto melihat seisi kamar mencari sosok Hinata. Naruto yang sedang mencari Hinata mendengar suara gemericik air shower dari kamar mandi.
"Ternyata Hime masih belum selesai mandinya." Ujar Naruto.
Naruto berjalan menuju ranjangnya. Dia mulai sibuk dengan laptop dan berkas-berkas perusahaan.
Sementara di dalam kamar mandi
Hinata sekarang sedang berdiri di belakang pintu yang memisahkan antara kamar mandi dan kamar. Air shower dibiarkannya hidup. Hinata sudah selesai mandi 15 menit yang lalu hanya saja dia tak berani keluar. Saat ini dia hanya mengenakan yukata mandi tapi, di dalam yukata dia mengenakan lingerie transparan. Hinta sangat tahu dia tidak akan bisa tidur dengan yukata mandi yang basah. Tapi dia juga tidak bisa keluar begitu saja dari kamar mandi hanya memakai lingerie transparan. Itu sama saja memancing singa yang sedang kelaparan. Selama 10 menit Hinata bergelut dengan pikirannya dan akhirnya ia memutuskannya.
.
#_#
.
Hinata mematikan shower dan keluar dari kamar mandi. Dia melihat Naruto yang sedang sibuk dengan laptopnya di ranjang. Saking sibuknya Naruto tidak menyadari kehadiran Hinata. Hinata berjalan ke sisi kanan ranjang dan duduk di tepi. Saat itulah Naruto menyadari kehadiran Hinata. Naruto menatap Hinata dan mengernyitkan dahinya.
"Hime, kau sudah selesai mandinya?" tanya Naruto.
"Hn." Hanya itu jawaban Hinata.
"Lalu, kenapa masih memakai yukata mandi? Jika tidur dengan yukata yang basah akan membuat kamu sakit." Ujar Naruto.
"Aku tahu."
"Kalau tahu kenapa masih dipakai. Kenapa tidak memakai baju tidur yang ada di almari?" Naruto dan Hinata sama-sama terkejut dengan perkataan yang dilontarkan Naruto baru saja.
"Sial, kenapa aku mengatakannya? Bisa-bisa gairahku naik lagi." Pikir Naruto.
"Sial, jangan-jangan playboy ini sudah melihat semua baju laknat yang dikirm oleh Hanabi-chan." Pikir Hinata.
Suasana kamar menjadi hening. Antara Naruto dan Hinata tidak ada yang memulai pembicaraan. Mereka masih sibuk dengan pemikiran masing-masing. Akhirnya Naruto yang memulai pembicaraan terlebih dahulu.
"Hime, kau tidurlah terlebih dahulu. Aku mau menyelesaikan laporan ini dulu." Kata Naruto sedikit gugup.
"Kau tidak membutuhkanku?" tanya Hinata yang ikutan gugup.
"Entah sejak kapan himeku ini banyak bicara padaku, yah?" Naruto mulai menggoda Hinata.
"Hn." Hinata kembali bersikap dingin. Tapi, jika kita melihatnyadari dekat rona merah menghiasi pipinya.
"Hei..Hei.. jangan marah donk. Kita hanya perlu menandatanganinya saja. Hal itu bisa kita lakukan besok pagi saja sebelum diserahkan ke papa. Hime tidurlah dulu!" jelas dan perintah Naruto.
"Lalu?"
"Lalu? Maksudmu aku sedang apa sekarang?" tanya Naruto memastikan.
"Hn."
"Hah~ selalu saja bersikap dingin. Aku hanya mengetik ulang laporan yang nantinya akan di save di folder perusahaan." Jelas Naruto.
"Kalau begitu aku akan tidur." Hinata beranjak dari ranjang.
"Hime, kau mau kemana?" tanya Naruto heran.
"Tidur di sofa."
"Tidak, kau tidur di ranjang saja. Biar aku yang tidur di sofa. Kau perempuan. Tapi, ijinkan aku disini sebentar untuk menyelesaikan ini." Naruto menunjuk laptop dan laporannya.
"Menghadap ke kanan!" perintah Hinata. Naruto yang tidak mengerti hanya menurutinya saja.
Hinata yang masih berdiri membuka ikat jubah mandinya dan membiarkannya jatuh begitu saja ke lantai. Sekarang Hinata hanya mengenakan lingerie transparan berwarna biru yang panjangnya di atas lutut. Hinata kembali menaiki ranjang dan menutupi dirinya dengan bed cover.
"Kau sedang apa hime? Apa aku boleh berbalik sekarang?" tanya Naruto.
"Belum." Jawab Hinata. Hinata lalu mengambil guling dan meletakkannya diantara dia dan Naruto. "Kau boleh berbalik sekarang!" lanjutnya.
Naruto langsung menuruti semua perintah Hinata karena dia daritadi penasaran. Tanpa banyak bicara Naruto langsung menatap ke manik amethyst Hinata dengan tatapan bertanya.
"Guling ini pembatas kita. Kita akan tidur satu ranjang hanya untuk malam ini saja." Hinata menjelaskannya tanpa melihat kearah Naruto.
"Hah~ baiklah." Naruto menghela nafas.
Suasana kamar kembali hening. Tidak ada yang bersuara diantara mereka. Hanya terdengar suara ketikan antara jari-jemari Naruto dengan keyboard laptop. Naruto melihat Hinata yang saat ini tidur membelakanginya. Naruto mengira Hinata sudah tertidur tapi, saat ini Hinata sedang membaca email yang masuk dari mamanya Naruto.
.
#_#
.
Naruto yang kembali fokus pada pekerjaannya, ia menolehkan kepalanya kearah Hinata yang tertidur. Hinata yang sudah tertidur beberapa menit yang lalu setelah membaca email dari mamanya Naruto menggeliat tak nyaman. Naruto yang melihat gelagat Hinata aneh, hanya diam dan memperhatikannya. Dia tak tahu harus melakukan apa karena guling pembatas. Bagaimana pun Naruto harus menghormati keputusan calon istrinya sekaligus calon penerus Hyuuga Corp. Tiba-tiba Hinata terbangun dari tidurnya dengan nafas terengah-engah dan keringat membanjiri tubuhnya. Naruto bingung melihat Hinata yang seperti ini. Dia semakin bingung saat melihat Hinata meringkuk memeluk lututnya ketakutan. Naruto mendekati Hinata.
"Hinata, tenanglah!" ujarnya semakin mendekati Hinata.
"Tidak! Jangan mendekat!" Hinata melempar bantal ke arah Naruto. Hinata yang seperti ini tidak menyadari kalau bed cover yang menutupi tubuh atasnya jatuh hingga ke pinggang, sehingga lingerie yang dikenakannya terlihat.
"Tidak! Saat ini aku harus fokus pada keadaan Hinata." Ujar Naruto mencoba tetap fokus pada keadaan Hinata bukan tubuhnya.
"Hime, tenanglah! Kau hanya mimpi sayang. Kita tidur lagi yah?" bujuk Naruto yang masih menjaga jarak dengan Hinata.
"Tidaak.. jangan mendekat! Aku takut~" Hinata meringkuk ketakutan.
"Hime, kamu kenapa?" Naruto mencoba mendekati Hinata.
"Jangan mendekat, brengsek!" Naruto terkejut dengan kata-kata yang Hinata lontarkan. Naruto semakin terkejut saat Hinata beranjak dari kasur dan menjauhi Naruto.
"Hi..hime.. kau sedang apa?" Naruto terkejut saat melihat Hinata akan masuk ke dalam almari. Naruto segera turun dari ranjang untuk mencegah Hinata mengurung dirinya sendiri. Dia menarik tangan Hinata dan memeluknya.
"TIDAKK, LEPASKAN AKU! AKU TIDAK MAU IKUT KALIAN! Aku takut~" Hinata memberontak dalam pelukan Naruto.
"Hime tenanglah! Kau akan aman bersamaku." Naruto semakin mengeratkan pelukannya dan begitu juga dengan Hinata yang semakin memberontak.
Drrtt..drrttt...
Getaran di saku celananya membuat Naruto terganggu. Ia mengambil handphonenya dan melihat siapa yang menelpon malam-malam begini. Dilayar tertulis "Neji calling". Naruto segera menekan tombol hijau dan mendekatkannya ke telinga.
"Mos—"
"Langsung saja Neji. Aku sekarang sibuk." Ucap Naruto memotong salam Neji/
"Baiklah." Ujar Neji menyanggupinya.
"Lepaskan aku! Aku tidak mau ikut mereka! Aku harus lari! Lepaskan!" neji mendengar suara Hinata. Dia sangat tahu keadaan Hinata saat ini.
"Malam-malam begini dengan Naruto. Hinata benar-benar sudah gila. Tidak ada cara lain selain itu. Naruto harus melakukannya. Aku harus percayakan Hinata pada Naruto. Aku yakin dia tak akan melakukannya sebelum saatnya tiba." Pikir Neji.
"Naruto, Hinata baik-baik saja, bukan?" tanya Neji memastikan.
"Hime tidak baik-baik saja. Terakhir aku lihat Hime tidur dengan membelakangiku. Tapi, tiba-tiba dia bertingkah aneh. Selanjutnya seperti yang kau dengar sekarang. Jadi— " Naruto belum selesai menjelaskan, Neji sudah memotongnya terlebih dulu.
"Kau harus menciumnya." Ujar Neji santai.
"Apa maksudmu? Jangan bercanda Neji. Ini bukan permainan yang sering kau lakukan!" Naruto mulai kesal.
"Aku tidak bercanda Naruto. Kau harus melakukannya dan hanya itu jalan satu-satunya. Sebelumnya aku mau jujur. Aku telah mencium Hinata tapi hanya untuk menenangkannya. Kau tenang saja, aku tidak menggunakan hati. Kau bisa mencari kesempatan dalam kesempitan dan inilah saatnya Naruto. Cium dia dan gunakan hatimu. Biarkan hatimu dan hatinya menyatu. Jangan khawatir, ciuman pertamanya masih tersegel. Hahahaha.."
Tutt..tuutt..tutt..
Sambungan berakhir begitu saja. Naruto semakin kesal membuat perempatan muncul didahinya. Naruto membanting handphonenya dan tentu saja langsung pecah menjadi tiga bagian. Naruto memandang Hinata dengan intens dari kepala sampai ujung kaki dan dia baru menyadari kalau tubuh Hinata hanya terbalut lingerie transparan yang membuat BH dan CD yang dikenakan Hinata terlihat. Naruto memandangi Hinata yang terus memberontak dalam pelukannya. Sekarang dia sedang berdebat dengan pikiran dan nafsunya.
.
#_#
.
.
%TBC%
Sekali lagi Hana minta maaf sama readers. Terima kasih sudah mau menunggu kelanjutannya.
Pilihan mana yang akan dipilih oleh Naruto sang playboy kelas kakap? Mencium Hinata sesuai saran Neji dalam keadaan seperti itu atau langsung "memakan" tubuh Hinata yang membangunkan gairah Naruto?
R
E
V
I
E
W
