Pair : Sasuhina

Rate : M

Genre : Angst, Romance, Drama

warning : Typos, OC, Only for 18+, Full of Drama, etc


It Can't be

"Apa?" Suara keras Naruto terdengar di penjuru kafetaria membuat semua orang menatapnya. "Hina-chan sungguh tidak datang hari ini?". Tanyanya memastikan saat Shikamaru mengatakan sesuatu tentang Hinata yang pasti tidak akan datang ke kampus. Hinata bukan tipe orang yang melewatkan jam kuliahnya. Jika jam pertama ia tidak hadir berarti jam ke dua dan seterusnya dia tidak akan datang. Semuanya juga tahu jika fisik gadis itu memang paling lemah diantara mereka semua. Jadi mereka berasumsi Hinata yang tidak masuk kuliah pasti sedang tidak enak badan. Apalagi 3 hari kemarin adalah hari yang melelahkan dan menguras tenaga. Mereka semua membantu Naruto dan panitia lainnya mempersiapkan festival bersama.

"Apa yang kau khawatirkan? Kau khawatir tidak bisa makan ramen ganda hari ini?". Tanya Kiba bercanda.

"Hentikan omong kosongmu, Kiba". Kata Naruto tersinggung sementara teman-temannya yang lain tertawa.

Naruto dan Sasuke duduk berdampingan dengan Naruto yang membawa ramen panasnya dan Sasuke dengan minuman sodanya.

"Ngomong-omong Sasuke-kun... Sepertinya aku mengingat sesuatu... bukankah kau beberapa saat berada di dekat Hinata tadi malam?". Tanya Ino yang baru datang bersama Sakura dan membawa nampan berisi makanan di tangan mereka lalu duduk di samping Shikamaru. Ia mendengar percakapan teman-teman prianya yang membahas tentang sahabatnya yang hari ini sama sekali tidak terlihat.

"Benarkah? Teme~ kenapa kau tidak memberitahuku?". Naruto menatap Sasuke curiga.

"Kami sama sekali tidak bicara". Kata Sasuke datar. Ia mengepalkan salah satu tangannya. Membicarakan tentang gadis Hyuuga itu membuatnya sangat terganggu.

Naruto yang mendengar pengakuan Sasuke mengerutkan kening seperti tidak percaya dengan apa yang dikatakannya. "Ah, aku tahu...". Ia mengeluarkan ponselnya. "Aku akan menghubunginya lagi… mungkin saja sekarang Hina-chan akan mengangkatnya…".

Pandangan semua orang yang duduk satu meja tertuju pada Naruto. Tetapi tidak dengan Sakura yang sedari tadi terus memperhatikan Sasuke. Ia melihat tatapan penuh perhatian dan ingin tahu dari Sasuke saat Naruto berdiri dengan ponsel di telinganya mencoba menghubungi Hinata. Entah kenapa ia merasa kesal mengetahui pemuda yang sangat dicintainya tertarik pada gadis lain.

Ino meremas tangannya gugup. "Tidak biasanya Hinata pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun..." Ia sungguh khawatir. "Bahkan dia juga tidak mengangkat teleponku...". Sejak semalam ia juga berkali-kali menghubungi Hinata. Tapi sahabatnya itu sama sekali tidak mengangkatnya. "Bagaimana?". Tanyanya saat melihat Naruto menurunkan ponselnya.

"Dia... tidak mengangkatnya". Kata Naruto kecewa membuat teman-temannya tambah khawatir.

Sakura berdiri dan beranjak pergi meninggalkan nampan yang masih berisi makanannya di atas meja tanpa mengatakan apapun.

"Sakura-chan... Kau mau kemana?". Tanya Naruto tetapi sama sekali tidak dipedulikan oleh Sakura yang terus berjalan keluar kafetaria.

"Ada apa dengannya?" Tanya Shikamaru malas saat ia melihat Sakura tiba-tiba pergi begitu saja.

"Mungkin saja dia sedang dalam masanya hi hi". Ino terkikik geli, lalu mengikuti sahabatnya keluar dan membiarkan ke empat pria itu duduk di meja panjang kafetaria yang penuh sesak.

"Aku pergi". Sasuke berdiri dari tempatnya duduk dan melangkah keluar.

"Eh? Kau mau kemana teme~? Apa kau tidak makan?". Teriak Naruto.

"Aku juga pergi". Kata Kiba yang sedari tadi diam.

"Apa? Kenapa mereka semua?". Naruto bingung melihat sikap teman-temannya. "Eh Shikamaru? Apa kau juga akan pergi sekarang?".

"Tentu saja… Aku sudah selesai makan". Shikamaru berdiri dari tempatnya duduk. "Oh ya Naruto… ada pesan dari Guy sensei… nanti sore semua panitia harus berkumpul untuk membereskan sisa-sisa festival semalam…". Setelah itu ia pergi meninggalkan Naruto yang duduk sendirian dengan remen instannya.

"Haahhh…"


It Can't be

Sinar mentari siang menembus tirai jendela besar kamar apartemen Hinata. Kamar gadis itu terlihat bersih dan rapi, akan tetapi tidak dengan penghuninya. Penampilannya sangat berantakan dengan make up luntur menghiasi wajahnya, rambut berantakan dan juga ia masih memakai pakaian sama seperti yang ia pakai saat festival di kampusnya. Ia masih terbaring menelungkup dengan satu sisi kepalanya ia benamkan di atas bantal. Jika dilihat dari dekat, maka akan sangat jelas terlihat mata Hinata yang terpejam tampak sembab dan agak bengkak membuktikan bahwa gadis itu sudah menangis dalam waktu yang lama.

Dering ponsel membuatnya perlahan membuka mata. Ia bergerak untuk menggapai ponselnya yang berdering, dan celakanya tubuhnya merasakan sakit dan nyeri luar biasa saat ia mencoba bergerak terutama bagian payudara, perut dan area pribadinya yang lain. "Na-Naruto-kun...". Suaranya lirih saat ia mencoba menyebutkan nama yang tertera di layar ponselnya. Dia membeku dan tidak tahu harus menjawabnya atau tidak. Ingatan tentang kejadian tadi malam membuatnya kembali meneteskan air matanya. Ia kembali membenamkan wajahnya di atas bantal tanpa mengangkat teleponnya dan pada saat bersamaan ponselnya berhenti berdering. Ia tahu jika ponselnya selalu berdering sejak semalam. Tapi ia enggan untuk menjawabnya.

Setelah beberapa menit berlalu, ia bangkit dari tempat tidur dan dengan langkah tertatih menahan sakit, ia pergi menuju lemari bajunya dan mengeluarkan piyama dan handuk, lalu ia berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Dia perlahan melepaskan pakaiannya dan membasahi dirinya di bawah guyuran air dingin. Dengan sisa tenaganya ia mencoba menggosok seluruh tubuhnya dengan sikat mandi hingga kulitnya memerah. Ia tidak peduli jika tubuhnya kesakitan, tapi yang ia tahu adalah ia harus membersihkan dirinya yang ia anggap sangat kotor. Air matanya terus mengalir karena ingatannya semalam terus muncul di kepalanya.

-Brugghh-

Masih di bawah guyuran air dingin, ia tiba-tiba terjatuh di lantai. "Hiks… A-apa yang harus kulakukan sekarang?".


It Can't be

"Jidat..." Teriak Ino bergegas mengikuti Sakura melewati tempat parkir kampus setelah mereka selesai dengan kelas mereka.

"Apa maumu?" Sakura terus berjalan cepat dengan ransel di bahunya tanpa berpaling melihat sahabatnya.

Ino berlari dan meraih lengan Sakura. "Ayo... Aku akan mengantarmu pulang...". Katanya dengan nada sedikit marah sambil menarik sahabatnya itu untuk masuk ke dalam mobilnya.

Sepanjang perjalanan, Sakura sama sekali tidak mengeluarkan sepatah katapun. Ia hanya diam dan melihat pemandangan kota melalui jendela mobil.

"Apakah kau akan diam saja seperti itu?" Tanya Ino memecah keheningan.

"Memang apa yang harus kukatakan?".

"Kenapa? Kau cemburu lagi?" Ino mulai kesal. "Itu tidak mengejutkan". Lanjutnya. "Para gadis selalu berada di sekitar Sasuke dan terus menggodanya.".

"Aku tidak pernah melihatnya dengan gadis manapun...kecuali... tentu saja...".

"Ah, ayolah Sakura... Kau tidak akan cemburu lagi pada Hinata kan?".

Sakura mengalihkan pandangannya dari pemandangan kota ke arah sahabatnya yang sedang menyetir. "Mereka datang ke pesta sepupumu bersama, Ino... dan kau tadi juga bilang kalau semalam kau melihat mereka bersama saat kita tidak ada... dan ajaibnya mereka menghilang begitu saja secara bersamaan...".

"Berhentilah berprasangka buruk..."

"Kenapa tidak?"

"Hinata menyukai Naruto".

"Kalau begitu kenapa semalam dia menghilang tanpa Naruto tahu?".

"Mana kutahu... mungkin saja ada urusan mendesak yang membuatnya harus pergi tanpa kita semua tahu.".

"Kenapa dia tidak masuk kuliah hari ini?"

"Bagaimana bisa aku tahu jika dia saja tidak mengangkat teleponku..."

"Lihatkan? Dia bahkan tidak mengangkat telepon dari sahabatnya...".

"Dan itu tidak membuktikan jika Hinata dan Sasuke memiliki hubungan...".

"Jika tidak, kenapa mereka menghilang secara bersamaan Ino? Kau sendiri juga tidak memberitahuku kalau Sasuke-kun datang ke festival"

"Hanya karena mereka tiba-tiba menghilang saat festival bukan berarti mereka pergi secara bersamaan... Dan mungkin saja kan, Hinata pergi sebelum Sasuke atau setelah Sasuke... aku tidak memberitahumu karena kau sendiri sibuk dengan tantangan minum sake…"

"Lalu kemana Sasuke-kun pergi?"

"Apakah aku harus tahu kemanapun Sasukemu itu pergi?". Ino benar-benar kesal. Ia tidak bisa percaya terhadap banyaknya pertanyaan yang dilontarkan Sakura padanya dan juga kecemburuan Sakura pada Hinata yang belum tentu benar. "Kau tidak ingin tahu keadaan Hinata?"

"Tidak"

"Ck… Terserah kau saja… Aku berencana akan mengunjunginya setelah mengantarmu pulang jika saja Dei nii tidak memintaku pergi bersamanya mencari perlengkapan untuk galerinya".


It Can't be

Pada malam harinya, rasa sakit dan frustasi yang Hinata rasakan membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Seharian ia tidak makan dan malam harinya ia hanya bisa meringkuk di atas tempat tidur dengan keadaan gelap gulita dan hanya diterangi sinar rembulan yang menembus tirai tipis jendela kamarnya.

Ia membayangkan jika ayahnya tahu, ia pasti akan lebih kecewa dari sebelumnya. Hyuuga terkenal dengan kehormatannya. Ia tidak berhasil menjaga kehormatannya sendiri dan bahkan kehormatan klan Hyuuga. Keluarganya akan dipermalukan di muka umum. Para tetua dan anggota klan Hyuuga yang tamak akan mendapatkan alasan logis untuk melengserkan kepemimpinan ayahnya. Orang-orang akan menatapnya dengan tatapan jijik. Ia tidak tahu, apakah setelah apa yang terjadi, ia bisa keluar dengan kepala tegak dan bertemu dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Membayangkannya saja sudah membuat hatinya sakit.

"Neji-nii". Ia khawatir kakaknya akan ikut terseret dengan apa yang terjadi padanya. Ayahnya sudah memberikan tanggungg jawab besar pada sepupunya untuk selalu menjaga dan melindunginya apapun yang terjadi. Jika ayahnya dan pamannya tahu, mereka juga akan menghukum sepupunya karena tidak melaksanakan tanggung jawabnya dengan benar. Ia tidak ingin hanya karenanya, kakaknya terkena imbasnya.

"Naruto-kun…". Senyuman hangat pemuda itu terlintas di kepalanya. Ia tidak bisa membayangkan jika Naruto tahu apa yang dilakukan sahabat yang sudah dianggapnya saudara sendiri melakukan perbuatan keji padanya. Ia takut merusak persahabatan yang sudah terjalin lama diantara mereka. Ia bahkan tidak tahu apakah Naruto akan percaya padanya jika ia memberitahunya yang sebenarnya. Naruto pasti akan lebih percaya pada sahabatnya daripada dirinya, karena ia merasa ia bukanlah siapa-siapa untuk pemuda itu.

"Sakura-chan…". Ia sangat takut jika Sakura akan merasa terpukul jika mengetahui apa yang terjadi. Ia bahkan memikirkan apakah persahabatan mereka akan berakhir.

"Ba-bagaimana jika aku hamil?". Ia amat takut dengan kemungkinan yang akan terjadi. Ia sangat ingat, Sasuke tidak menggunakan pengaman saat memperkosanya. Ia bahkan jelas-jelas merasakan sperma pemuda itu memenuhi rahimnya.

-ting tong-

Hinata tersentak kaget dengan suara bel pintu apartemennya. Ia sama sekali tidak pernah menduga mendapat kunjungan malam ini. Dengan gontai ia turun dari ranjang dan dengan langkah tertatih menahan sakit ia keluar dari kamar menuju pintu apartemennya.

Ia melihat siapa yang datang melalui monitornya. "Ku-kurenai sensei?". Ia tidak bisa percaya dengan kedatangan mentornya. Dengan cepat ia menghapus sisa-sisa air matanya, memperbaiki pakaian dan rambut seadanya. Sebelum membuka pintu, ia menghirup napas dalam dan menghembuskannya perlahan.

"Hinata,". Panggil wanita itu saat pintu apartemen terbuka. Senyum hangatnya lenyap saat ia melihat anak didiknya dari kecil itu terlihat kelelahan dengan wajah yang amat pucat.

"Se-sensei...". Hinata mencoba tersenyum. "Silakan masuk sensei…"

Kurenai masuk mengikuti langkah Hinata. Ia melihat apartemen anak didiknya yang gelap gulita dan hanya diterangi sinar bulan menembus tirai jendelanya. 'Ada yang tidak beres dengan Hinata'. Dengan inisiatifnya sendiri ia menyalakan lampu ruangan itu dan betapa terkejutnya ia saat menyaksikan dengan jelas wajah Hinata. Wajah yang sangat pucat, mata sembab, bekas air mata di pipinya, rambut yang kusut seperti tidak pernah di sisir.

"Si-silakan duduk sensei…"

"Hinata?". Panggilnya menghentikan Hinata yang akan melangkah menuju dapur. Ia mendekatinya dan berdiri di depannya. "Ada apa? Apa kau sakit?". Ia meletakkan telapak tangannya ke dahi dan pipi Hinata.

Hinata tersenyum dan menggeleng. "A-aku baik-baik saja sensei…".

"Tapi kau terlihat sangat pucat Hinata…". Kurenai menarik Hinata dan mendudukkannya ke sofa lalu meletakkan tas tangannya di samping Hinata. "Aku akan membuatkanmu bubur dan minuman hangat… sepertinya kau sedang tidak enak badan…".

Hinata menahan pergelangan tangan mentornya "se-sensei?".

"hmm?"

"Ke-kenapa sensei mengunjungiku selarut ini?". Hinata menatap mentornya penasaran.

"Itu karena Kib… maksudku, tiba-tiba aku teringat padamu Hinata… kebetulan aku sedang berada di Shinjuku… jadi sekalian saja aku datang mengunjungimu…".

"So-souka…".

"Baiklah… kau tunggulah di sini, akan kubuatkan bubur dan minuman hangat… kau terlihat sama sekali belum makan.".

Hinata mengangguk. Jujur saja ia senang dengan kedatangan mentor yang sudah dianggapnya seperti ibunya sendiri. Ia ingat saat pertama kali mentornya itu melamar pekerjaan di kediaman Hyuuga untuk menjadi mentor pribadinya. Saat itu entah kenapa ia langsung merasa nyaman walaupun itu adalah pertama kalinya ia melihatnya. Kasih sayang yang diberikan mentornya padanya seperti kasih sayang ibu yang diberikan pada anaknya. Ia bahkan tidak mengingat ibunya sendiri.

Suara deringan ponsel menyadarkannya. Ia merasakan getar ponsel di samping tempatnya duduk. Benar saja, itu berasal dari dalam tas mentornya.

"Sensei… ada telepon untukmu…". Ia tidak perlu berteriak untuk mengatakannya, karena letak dapur yang tidak jauh dari ruang tamu.

"Bisakah kau lihat siapa yang menelepon, Hinata? Kau tidak perlu mengangkatnya…".

"Hai…". Hinata membuka tas tangan mentornya dan mengambil ponselnya untuk melihat nama yang tertera. "Suami sensei yang menelepon…". Katanya saat melihat tulisan my husband di layar.

"Biarkan saja Hinata… aku akan meneleponnya kembali nanti…"

"Ba-baiklah…". Hinata meletakkan kembali ponsel mentornya ke dalam tas. Tiba-tiba ada satu barang di dalam tas itu yang menarik perhatiannya. "Se-sensei… ini obat apa?"

"Obat? Ah… itu obat pencegah kehamilan, Hinata… karena aku dan suamiku sama-sama sibuk, jadi kami menunda untuk mendapatkan anak lagi… aku selalu membawanya kemanapun aku pergi untuk berjaga-jaga saja… kau tahu kan kalau aku dan suamiku tidak selalu berada di rumah…".

'pencegah kehamilan?'


It Can't be

"Hyuuga Hinata". Sasuke menggumamkan nama gadis itu dalam kegelisahan yang tidak nyaman.

"Tadi malam aku hampir memintanya untuk menjadi kekasihku dattebayo~"

"Aku yakin dia akan mengatakan ya jika saja aku berhasil mengatakannya..."

Ingatan tentang kalimat yang dilontarkan sahabat bodohnya kembali terngiang di kepalanya. Ia berbaring di atas ranjang dan memejamkan mata. Ia sudah mendapatkan apa yang diinginkannya. Ya, tubuh gadis itu sudah ia dapatkan dan rasakan. Seharusnya tidak ada lagi yang ia inginkan dari gadis itu. Tapi entah kenapa ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak puas.

"Bodoh…". Ia mencoba mengabaikan fakta itu.


It Can't be

"Ini tidak akan mudah…". Hinata duduk di depan meja rias dan melihat bayangan dirinya di cermin. Semalam setelah kedatangan mentornya, ia bertekad untuk siap menghadapi kenyataan. Pagi ini ia bangun lebih awal. Bahkan ia sudah mandi dan berganti pakaian. "Aku memang bodoh". Ia melihat bekas luka di pergelangan tangannya akibat cengkraman kuat Uchiha. 'semoga saja semalam Kurenai sensei tidak terlalu memperhatikannya'. Ia beruntung semalam memakai piyama yang menutupi seluruh tubuhnya. Bahkan luka di leher bekas cengkraman Uchiha Sasuke tertutup dengan helaian rambutnya. Ia menunduk ."Aku…aku belum siap….". Ucapnya lirih.

Dering ponsel menandakan ada email masuk membuatnya tersadar. Ia mengambil ponselnya dan duduk di tepi ranjang. Ia akhirnya memeriksa ponselnya setelah sehari semalam ia mengabaikannya. Email baru dari mentornya yang mengatakan bahwa ia akan berkunjung lagi. Setelah itu ia melihat banyak sekali panggilan tidak terjawab dan pesan masuk dari teman-temannya. Ia juga menemukan 1 pesan suara dari Ino dan langsung membukanya,

"Hinata-chan… kau baik-baik saja kan?"

Hinata tersenyum mendengar suara manja sahabatnya.

"Kau tahu... aku dan teman-teman yang lain mengkhawatirkanmu… kau tiba-tiba saja pergi dari festival tanpa memberitahu kami maupun mencoba menghubungi kami…"

'Gomen ne Ino-chan…'

"Aku tadi berencana menjengukmu, tapi aku harus pergi mengantar Dei-nii… dan kau tahu, mood Sakura sangat buruk sekarang… aku bahkan tidak ingin bicara dengannya…"

'Sakura-chan?'

"Biasanya kan kau selalu bisa menyatukan kami dan membuat keadaan yang buruk menjadi baik…"

Ia tersenyum miris. 'sepertinya itu tidak mungkin lagi terjadi, Ino-chan'.

"Aku sangat merindukanmu… kuharap besok kita bisa bertemu di kampus dan mengobrol bersama… ahh gomen Dei nii memanggilku…mata ashita, Hinata-chan…"

Hinata menggigit bibirnya dan meremas ponselnya. Masih ada banyak waktu jika ia memang harus pergi ke kampus. Karena hari ini jadwal kuliahnya masih nanti siang. Ia juga ingin bertemu teman-temannya. Tapi yang menjadi masalah adalah ia masih belum siap jika nantinya ia bertemu Uchiha Sasuke.

-Ting tong-

Suara bel pintu apartemen membuyarkan lamunannya. 'Kenapa Kurenai sensei datang sepagi ini?'. Pikirnya saat mengingat email yang ia baca sebelumnya.

"Baiklah…bersikap biasa saja, Hinata…". Dia menyemangati dirinya sendiri dan menghela napas untuk memberi dirinya keberanian. Ia keluar dari kamar dan mengabaikan sedikit kram di perutnya. Ia berjalan menuju pintu dan saat bel pintu berbunyi lagi, ia langsung membukanya saat itu juga.

"Go-gomenasi sensei, demo…". Kata-katanya tercekat di tenggorokan saat ia menemukan tubuh tinggi Uchiha berdiri di hadapannya.

-TBC-

Terimakasih banyak untuk rezkianashivan, Rhe Muliya Young, Tieve, sasuhina, suyamti, TryanaYuhara, amaiii, Haniuda-Hime, Uchiha Cullen738, BlueDandelion977, Vibra Sayekty, Hinata00, suhu, yuni, Renn Mousy Hyral, TheTomatoShop, hiru neesan, ladycielsp, anonymous maupun silent readers dan yang lainnya udah mau baca fiksi nggak jelas kayak gini. :)

Hehe bener banget kalau di sini Naruto itu plinplan… It's okay, he's just confused. And of course he still has feelings for his first crush. But he tried to change his heart to love someone else.

Sampai jumpa lagi di tahun depan :)