OOC, OC, Many typo(s), bener-bener gaje and many others *plakplak

I beg you DO NOT READ it, if you HATE the best pair for me

May you enjoy my second fic ^^


You turn your head and crying
I hate you being like this, that's why I'm crying too


Second Project of Mine

Sickness by Rin

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Main Pairing : SasuxNaru slight ShikaxNaru

Rate : T

Setting : AU

Italic words : Sasuke or Naruto's thought

*just remind that this is not real story*


"Shikamaru, siapa dia?" tanya lelaki berambut hitam kelam itu sambil menunjuk sesosok wanita cantik berambut pirang keemasan yang berdiri dan memeluk lengan Shikamaru dengan erat.

Shikamaru mendecak kesal. "Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan di sini." Lalu dia menurunkan telunjuk Sasuke yang sudah tidak sopan itu. "Bersikaplah sopan pada wanita."

"Hn," jawab Sasuke sambil semakin mengeratkan dekapannya di sekeliling tubuh Naruto.

"T-Teme! Lepaskan aku!" berontak Naruto karena dekapan Sasuke terlalu erat hingga membuatnya sesak napas.

"Keine—tidak mau."

"Merepotkan. Kau membuat perhatian tamu milikku teralihkan, Baka Sasuke," kata Shikamaru asal sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia melirik malas pada Sasuke yang masih dengan posesif mendekap Naruto.

Sebenarnya dia kasihan pada muka memelas pemuda itu, tapi saat ini sang Uchiha muda sedang tidak dalam mode bisa dibantah.

"Shikamaru, siapa mereka?" tanya seorang wanita cantik di samping Shikamaru.

Ah, akhirnya dia berbicara juga.

"Hm, kita akan menyelesaikan pesta ini dulu," bisiknya pada wanita berhelai rambut berwarna sama dengan Naruto.

Sasuke masih ingin penjelasan lebih dari Shikamaru. Dia mengarahkan tatapan tajamnya pada kedua sosok yang malah asyik mengobrol berdua itu—seakan dia dan Naruto tidak ada di dekat mereka. Saat hendak menginterupsi, dia merasakan injakan tak pelan yang ditujukan Naruto pada kakinya.

"Tsk! Dobe!"

"Siapa suruh kau memelukku erat sekali? Aku tidak bisa bernapas, Baka Teme! Huuh!" Naruto menghirup udara sebanyak-banyak yang dia bisa. Sedikit lebih lama lagi dia dalam dekapan Sasuke, bisa dipastikan dia akan kena sesak napas akut.

Tapi yang lebih membuatnya merasa sesak adalah detak jantungnya yang terasa begitu menghentak dan membentur rongga dadanya.

Wajah yang memiliki tiga buah garis halus di masing-masing pipinya itu kemudian sedikit merona tipis. Dia mengusap bibirnya yang masih terasa basah dan mulai bengkak juga memerah itu.

"Dan lagi... kenapa menciumku seperti itu? Memalukaaan!" teriak Naruto frustasi sambil mengacak-acak rambutnya—yang memang sudah berantakan sedari dulu itu.

Merasakan perhatian tamu-tamu Shikamaru yang mulai teralihkan pada mereka lagi, tanpa mengucapkan apapun, Sasuke menarik lengan Naruto dan membawanya menuju ke luar ruangan. Dia mengedikkan kepala pada Shikamaru, dan Shikamaru mengerti apa maksud Sasuke dengan mengangguk pelan. Saat Sasuke berbalik, dia tidak melihat seukir senyum lega tergambar di wajah lelaki Nara itu.

Syukurlah.

"Apa-apaan ini? Lepaskan Teme!" Naruto memberontak sambil mencoba melepaskan lengannya yang digenggam Sasuke. Sasuke hanya terus berjalan menjauh dari ruangan tempat pertunangan itu–tanpa menghiraukan Naruto yang terus meronta.

Setelah kedua pria dewasa itu menghilang di balik pintu keluar, Shikamaru mendecak pelan. Dia melingkarkan lengannya di pinggang ramping milik wanita di sampingnya

"Troublesome."

"Jadi dia orangnya, ya Shika?"

"Ya, benar sekali."

"Kau... sedih?" tanya wanita cantik itu. Ada nada yang menyiratkan perasaan tak rela saat menanyakan itu.

Shikamaru terdiam sejenak. Kemudian dia mengacak rambutnya pelan. Kemudian dia tersenyum sekilas kepada wanita yang telah membuatnya mengerti.

Mengerti bahwa perasaan yang dimilikinya untuk Naruto hanya perasaan tertarik, dan perasaan sayang untuk seorang sahabat. Perasaan untuk melindungi sahabat.

Dan kali ini, Nara Shikamaru tidak akan salah mengenai perasaannya pada Temari. Dia, Nara Shikamaru memang mencintai Namikaze Temari. With his own way, of course.

"I have you, Temari," kata Shikamaru sambil membimbimbing tunangan resminya itu menuju balkon untuk menghindari ajakan teman-temannya untuk berdansa.

Mendengar itu, Temari pun tersenyum. Dia mengikuti lelaki di depannya yang kelak akan menjadi suaminya. Dia tahu bahwa Shikamaru pernah menaruh hati pada Naruto—sepupunya. Tapi melihat binar indah di mata hitam tunangannya itu, Temari dapat menarik napas dengan ringan.

Karena bukan kilau kesedihan yang tergambar di bola mata Shikamaru, tapi kilau lega karena kebahagiaan kedua sahabatnya.

.
.

Sasuke menggiring Naruto ke sebuah gazebo yang ada di pinggir kolam renang yang ada di lantai paling atas hotel itu. Hampir seluruh lampu di sana dimatikan, karena kolam renang itu merupakan kolam renang terbuka yang berarti setiap yang ada di sana dapat menikmati keindahan langit malam secara langsung.

Sasuke menarik dan mendudukkan Naruto di atas kursi yang berada tak jauh di pinggir kolam. Dia menyentuh dagu Naruto dan membawanya menatap matanya.

"Jadi, apa perlu aku jelaskan lagi?" tanya Sasuke pelan sambil menikmati iris azure dan safir yang ada dalam bola mata Naruto.

Entah kenapa, jantung Naruto berdetak lebih kencang. Menghentak-hentak dadanya sehingga dia yakin, bahkan Sasuke pun dapat mendengar degup jantungnya itu. Melihat bola mata kelam Sasuke, membuatnya harus meneguk ludahnya dengan susah payah.

Dia merasa tenggorokannya kering.

Sasuke menatap Naruto dengan intens. Rindu sekali pada kehangatan milik Naruto yang sudah lama tak dirasakannya. Dia mendekatkan dirinya ke arah Naruto, mencoba merasakan kehangatan yang tadi sudah dicurinya.

DUAGH

Ah, Sasuke lupa kalau di belakangnya ada kolam renang.

BYUR

"Hei!" teriak Sasuke sambil mengumpat kasar di dalam kolam renang jernih yang cukup dalam itu. Ingin sekali dia memukul kepala Naruto yang kuning itu saat melihat wajah terkikik yang tergambar di wajah manis itu.

"Hahahaha—umpph!"

Sasuke mendesis karena suhu dingin air yang membasahi tubuhnya. Tiba-tiba dia mendapat ide cemerlang untuk membuat tawa Naruto hilang dan membuatnya menyesal.

Lihat saja, Dobe.

Naruto yang masih terkikik sambil memegang perutnya melihat ke arah Sasuke yang masih ada di dalam kolam renang. Betapa terkejutnya dia saat melihat sosok berjas hitam itu tiba-tiba hanya diam saja. Dan tanpa dia tahu mengapa, sosok Uchiha itu tiba-tiba terbawa ke daerah kolam yang lumayan dalam bahkan untuk lelaki dewasa seperti mereka.

Dia tak bergerak dan tak bergeming sedikit pun.

"Sasuke!"

Naruto langsung menceburkan dirinya ke dalam kolam tanpa mempedulikan dia sudah melepaskan jasnya maupun sepatunya. Dia mengkhawatirkan keadaan Sasuke yang kelihatan tidak baik itu. Sedikit lagi, dan dia dapat meraih bahu Sasuke mendekat ke arahnya.

Tapi—

GREP!

—tangan Sasuke malah mengenggam erat jemari Naruto yang mendekat ke arahnya itu. Naruto terkejut sampai dia tidak mengedipkan matanya barang sekali. Setelah cukup lama, lelaki bermata safir itu berteriak kesal.

"TEME!"

"Hmmphh!" tawa Sasuke tertahan. Sebelah tangannya yang lain digunakan untuk menutupi mulutnya agar tawa kerasnya tidak terdengar.

Naruto mengarahkan satu tangannya yang bebas ke arah pinggang Sasuke, dan mencubitnya dengan keras tanpa ampun.

"Auw!"

"Kau menyebalkan tahu! Kukira kau benar-benar tenggelam!"

"It hurts, you know?"

Naruto menarik napas cepat. Dia masih kesal dengan sifat agak kekanakan—yang entah kenapa sekarang ada di Uchiha bungsu itu. Kemudian, entah kenapa tiba-tiba bibirnya berbisik lirih tanpa disadarinya. "It's not hurt like mine."

Mata hitam milik Sasuke terbelalak saat mendengar bisikan lirih dari lelaki di depannya ini. Ada rasa dingin yang terdengar saat lirihan itu terdengar. Tapi Sasuke tahu, ini bukan karena suhu minimum yang berasal dari air dari kolam renang, tempat mereka berada sekarang.

Itu dari suara Naruto.

Lirihan itu seakan menghantam lelaki Uchiha itu tepat di ulu hatinya. Dia lupa. Dia lupa alasannya ke sini.

Dia lupa.

Uchiha Sasuke yang lupa tujuannya ke Jepang dengan terburu-buru.
Uchiha Sasuke yang tidak sadar dengan alasannya yang mencumbu Naruto di depan banyak orang.

Uchiha Sasuke terlalu merindukan Naruto hingga dia tidak sadar lagi akan tujuan awalnya.

Yaitu untuk menjelaskan kesalahpahaman yang sudah terlalu lama ini.

Naruto tidak bergeming sedikit pun. Suhu kolam yang dingin pun tidak sanggup merobohkan sang lelaki berambut pirang yang sedang menunduk itu. Kedua tangannya terkepal di kedua sisi tubuhnya, menahan getaran hatinya yang hampir tak dapat ditahannya lagi.

Dia tidak mengerti.

Hubungan apa yang dimilikinya dengan Sasuke sekarang?

Keheningan tercipta di antara mereka. Menyisakan riak air kolam yang berbunyi lirih sebagai musik pengiring suasana kaku di antara mereka.

Dan sekarang, dadanya terasa begitu sesak.

Lagi.

Dengan perlahan, lelaki berambut pirang itu membalikkan tubuhnya dari hadapan orang yang masih juga berdiam diri tanpa melakukan suatu hal apapun. Saat kaki kanannya mencoba melawan berat air, dia merasakan sesuatu mencengkeram lengannya.

Dengan kuat.

Dan di saat bersamaan Naruto merasakan ada getaran pelan dari cengkeraman itu. Membuat jantung Naruto berdegup kencang tidak keruan. Ini bukan pertama kalinya dia sedekat ini dengan lelaki Uchiha itu. Dan bukan yang pertama kalinya juga saat orang lain dapat membuat jantungnya berdebar keras seperti ini.

Tapi ini berbeda.

Debaran dalam dadanya sekarang begitu membuat hatinya terasa sesak.

Karena Sasuke tidak memeluknya seperti tadi. Dia hanya menggenggam lembut kedua lengan Naruto dan mendekatkan punggung lelaki Namikaze itu dengan dadanya. Seakan-akan dia ingin menyampaikan perasaannya tidak lewat kata ataupun lisannya—

—tapi lewat reaksi tubuhnya.

Sasuke ingin Naruto tahu.

Dia ingin memberitahu orang yang dikasihinya ini bahwa sekarang dadanya terasa dihentak-hentak oleh sesuatu yang ada di dalam sana. Dan itu membuatnya merasa sesak, seperti ada yang mencekat tenggorokannya untuk menerima udara.

"Naruto," lirih Sasuke dalam. Suara bass itu menerpa daun telinga Naruto yang berada tak jauh dari bibir yang mengucap namanya tadi.

Suara yang lembut bagai bisikan pelan, hampir tak terdengar. Entah kenapa, rasanya mata lelaki Namikaze itu terasa panas sekarang.

"Naruto," lirih Sasuke lagi sambil mengeratkan kedua genggamannya di kedua lengan Naruto.

"Naruto."

Orang yang namanya sedari tadi disebut itu tak bergeming sedikit pun. Tapi Sasuke dapat merasakan tubuh yang memang lebih kecil darinya itu bergetar pelan. Kedua telapak tangan Sasuke yang mencengkram lengan Naruto berpindah ke pinggang Naruto dan mendekapnya dengan erat—ingin menenangkan kekasih hatinya yang gemetaran itu.

Sasuke meletakkan dagunya di bahu Naruto. Membisikkan kata-kata yang sedari tadi ingin diucapkannya. Dia berbisik lirih seakan suaranya telah habis. "Maaf Naruto... maaf."

Tubuh Naruto semakin bergetar saat merasakan kehangatan yang dirindukannya itu membungkusnya dengan lembut. Dia tidak mau berbohong. Sudah sejak lama Naruto merindukan lengan hangat ini memeluknya lagi. Dengan erat, seperti tak akan lepas.

Dia ingin berkata banyak hal, tapi napasnya terasa terputus-putus dan itu membuatnya sulit bicara. Dia tidak bisa bicara, karena tenggorokannya kini mencekatnya.

Tanpa disadarinya sendiri, lelaki beriris mata azure dan safir itu terisak.

Mendengar isakan lirih dari Naruto, Sasuke semakin mengeratkan dekapannya. Bahkan sekarang dia membalikkan Naruto ke hadapannya. Sasuke menyentuh kedua sisi wajah Naruto, dengan begitu perlahan.

Dia takut, jika dia salah dalam bersikap semuanya akan kembali hancur.

"Maaf."

Sasuke mengecup lembut dahi Naruto. Mencoba menutup luka hati pemuda di hadapannya ini yang telah tercipta akibat kesalahan yang seharusnya tak dilakukan olehnya.

"Maaf," lirihnya sambil terus menyentuhkan bibirnya di dahi lelaki yang dicintainya itu. Tubuh yang didekapnya itu masih bergetar—namun kini intensitas getarannya berkurang.

Dia sudah sedikit lebih tenang.

"Maaf."

Kali ini Sasuke menyentuhkan bibirnya di kedua kelopak mata Naruto yang tertutup erat—karena menahan diri untuk tak menangis. Dengan lembut, jemarinya menyentuh kedua sisi wajah Naruto untuk mengeratkan ciumannya.

Dan kali ini, jemari Naruto pun turut menggenggam kedua telapak tangan Sasuke yang masih menyentuh sisi wajah miliknya.

Hangat.

"Maafkan aku Naruto," lirih Sasuke lagi sambil membawa bibirnya mengecup titik-titik air yang terbentuk di sekitar bola mata Naruto. Mencoba menghilangkan rasa sedih dari orang yang dikasihinya itu.

"Maafkan aku."

Disentuhkannya ujung hidung bangirnya ke arah hidung Naruto. Dan kali ini jemari Sasuke menyentuh dagu Naruto. Memaksa Naruto membuka matanya, dan berhadapan langsung dengan hitamnya bola mata Sasuke.

Membawa mata beriris safir itu menatap langsung ke arah matanya.

"Maafkan aku."

Naruto tidak menjawab apapun. Dia hanya bisa menahan tangisannya mati-matian dengan menggigit bibirnya. Dia merasa tidak berdaya menatap mata kelam yang terlihat begitu redup itu.

"Maaf," bisik Sasuke entah yang ke berapa kalinya. Kali ini dia menundukkan kepalanya karena tidak sanggup melihat kilauan bening yang mengalir pelan dari mata safir itu.

Dia bahkan tidak sadar bahwa satu dari kebanggaan Uchihanya sudah dirusaknya sekarang.

Tapi, apapun.
Apapun akan dia lakukan, dia serahkan, apapun.

Untuk mengembalikan sang kekasih hati ke dalam pelukannya. Ke dalam jangkauan pandangnya. Ke dekatnya.

"Ma—"

"—Sst."

Sasuke merasakan satu telunjuk menyentuh bibirnya dengan lembut. Dia mengarahkan matanya ke arah mata Naruto lebih dalam sekarang.

God.

Jika sedaritadi jantungnya terasa sesak dengan penuh siksa, sekarang malah lebih parah.

Jantungnya seperti berhenti berdetak.

Yang didapatinya sekarang adalah senyum hangat yang sudah lama tak pernah dilihatnya. Tepatnya, tak pernah dilihatnya lagi Naruto tersenyum seperti ini padanya—setelah kejadian itu.

Lama tak ada yang berbicara. Seakan mereka masih menikmati kedekatan dan rasa satu sama lain.

Mereka masih bersentuhan. Masih dengan posisi tadi.

Dengan telunjuk Naruto yang berada di bibir Sasuke, dengan jemari Sasuke yang membelai sisi wajah Naruto lembut. Saling berbagi kehangatan dan menyalurkan kerinduan dengan cara yang berbeda namun sama dalam harfiahnya.

"Maaf... karena tak mempercayaimu, Sasuke."

Jemari Sasuke yang masih menikmati empuknya pipi Naruto terhenti saat mendengar lirihan itu. Sebuah senyum lembut yang sudah lama tak pernah ditampakkannya terukir indah di wajah tampan itu. Mata hitamnya menatap dalam ke iris mata kebiruan yang cantik milik Naruto.

Perlahan, dia menarik napasnya sebelum mengucapkan seuntai kata. Kata yang seharusnya sedari dulu diucapkannya pada pemuda di dekapannya ini.

"Kembalilah padaku, Naruto."

.
I love you, is the word I wanna say
but
Come back to me, is the word that I gotta say
.

Suara halus dari mesin pendingin terdengar pelan di telinga lelaki Uchiha itu. Beberapa jam yang lalu, dia bahkan tidak menduga kalau sekarang ia akan menginap di salah satu kamar President Suité hotel ini bersama dengan seseorang yang kini tidur dengan damai di dalam pelukannya.

Seprai putih dan halus, serta selimut lembut dan hangat sama sekali tidak berhasil menggoda lelaki berkulit putih pucat itu untuk tidur. Padahal jam digital yang terpasang indah di dekat LCD di dinding itu sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari.

Dia lebih memilih memandangi wajah kekasihnya yang ada di dekatnya itu.

Mengapa mereka bisa ada di dalam kamar hotel?

Dengan posisi saling mendekap dengan erat seperti itu?

Mari, kita lihat kejadian beberapa jam yang lalu.

.
.

Entah kenapa, Sasuke juga tidak mengerti. Tak lama setelah Sasuke mengucapkan kata 'kembali–padaku' Naruto langsung tersungkur ke depan. Menyandarkan dahinya di atas bahu tegap miliknya. Lama kembali tak ada jawaban, namun sebuah lirihan terdengar sebelum Sasuke bertanya ada apa sebenarnya.

"Terlambat, bodoh."

Jika saja Naruto mengucapkan dua kata itu dengan suara datar, tentu saja seorang Uchiha yang meminta hubungan mereka kembali itu akan gelagapan juga. Hanya saja, nada suara yang digunakan Naruto bukanlah nada datar.

Tapi lebih seperti seseorang yang mendapatkan lagi kebahagiaannya.

Sasuke memeluk tubuh dingin itu erat. Seakan mencoba membagi panas tubuh mereka berdua untuk sama lain. Dikecupnya puncak kepala Naruto dalam—mencoba menghirup lama aroma yang sangat dirindukannya. Sebelah tangannya merengkuh kepala Naruto untuk mendekat ke lekuk lehernya.

"Aku rindu," bisiknya dengan sangat pelan.

Naruto mengeratkan dekapannya pada pinggang Sasuke, hidungnya yang cukup bangir menekan leher Sasuke—akibat dekapan mereka yang terlalu erat.

Dihirupnya dalam-dalam aroma tubuh Sasuke dari leher putih yang tegas itu. "Aku juga merindukanmu."

Naruto mengusap lembut punggung Sasuke yang basah dengan air kolam yang dingin, dan tiba-tiba dia tersadar akan sesuatu. "Err, Teme. Kau ingin membuat kita flu?"

Sasuke mengangkat kepalanya dari puncak kepala Naruto dan memandang kembali pada kedua bola mata Naruto. "Hn?"

"Dan... tumben sekali kau mau jadi tontonan gratis," tambah Naruto dengan raut wajah geli.

Sasuke menoleh ke arah sekelilingnya. Rupanya di malam sedingin ini pun masih saja ada banyak tamu yang memilih atap hotel dengan panorama hotel berupa kolam renang yang mereka masuki sekarang. Mata hitamnya mengerjap pelan saat melihat ada kilatan kamera yang berasal dari sebuah kursi santai—yang terletak di tepi kolam.

"Aku berhasil mendapat fotonya!"

"Aku merekamnya, ufufu."

"Mereka manis sekali~"

"Lebih dari manis."

"Berani taruhan, setelah ini mereka pasti menyewa kamar hotel."

Melihat kerumunan orang yang mulai berkasak-kusuk dengan pendapat mereka sendiri, membuat Sasuke merasa gondok karena moment-nya bersama orang yang dirindukannya terganggu.

Dan dia tidak pernah suka itu.

Dengan cepat, dia berenang menuju ke tepian kolam sambil menarik Naruto di sampingnya. Mengabaikan para tamu yang memandangi mereka dengan tatapan yang jika diartikan akan begitu banyak artinya.

Tetesan air yang cukup deras mengalir dari pakaian mereka berdua setelah naik ke atas tangga kolam. Dan tentu saja, tubuh mereka tercetak dengan pas di dalam pakaian basah yang mereka kenakan.

"Kenapa tadi kita main cebur segala sih, Teme?"

"Bukannya kau yang mendorongku, Dobe?"

Naruto mencibirkan bibirnya sambil melepas jas hitamnya. Menampakkan kemeja putih polos dan dasi yang menggantung indah di kerah kemeja itu. Mata hitam milik Uchiha bungsu itu mengamati pemuda bermata azure dan safir itu dengan intens.

Sudah hampir bertahun, dia merasa tidak pernah lagi melihat sosok Naruto. Padahal kenyataannya, tidaklah selama itu.

Tubuh Naruto masih sama seperti apa yang ada di ingatannya.

Tidak kurus, tidak gemuk. Semuanya proporsional dengan tambahan otot-otot yang berisi di tempat yang tepat. Khas milik seorang laki-laki pada umumnya. Yang Sasuke heran, dia sangat tahu pemuda di hadapannya—yang kini melepas sepatu basahnya—ini adalah seorang pecinta olahraga ataupun hal yang berbau atletik lainnya.

Tapi kenapa, tubuh Naruto tidak 'membengkak'; seperti atlet-atlet pada umumnya?

Nonsense.

Malahan dia, Uchiha Sasuke sangat bersyukur atas semua itu.

"Kau tidak kedinginan, Sasuke?"

Sasuke tidak menjawab. Udara malam di atas atap hotel memang lebih dari dingin, apalagi dengan keadaan mereka yang sangat basah itu. Tiba-tiba sebuah ide terlintas dalam benaknya. Ide yang cukup baik, mengingat dia memang sangat merindukan kekasihnya itu.

"Kita akan menginap di sini, Dobe."

.
.

Ya, itulah beberapa cuplikan adegan mengapa kedua lelaki dewasa itu dapat berada di kamar President Súite hotel ini.

Dan yang perlu digarisbawahi adalah :

Mereka tidak memakai jas serta pakaian yang mereka gunakan tadi di bawah selimut. Kedua lelaki itu hanya mengenakan jubah mandi yang selalu disediakan di tiap kamar. Sasuke dan Naruto memang melepas pakaiannya masing-masing, sebab pakaian yang dikenakan tubuh mereka itu basah kuyup—karena insiden you know what.

Mereka memang berpelukan di atas tempat tidur dengan ukuran King Size yang khas dari President Súite's Room. Namun, mereka tidak melakukan hal lain yang mungkin ada di pikiran orang yang sedang membaca cerita ini.

Sasuke tidak mau melakukan hal itu, karena yang saat ini dia butuhkan hanya kepercayaan Naruto saja. Munafik memang, jika dia berkata bahwa dia tidak merindukan kehangatan dari tubuh yang didekapnya erat ini.

Tapi sungguh.

Itu tidaklah penting, jika kepercayaan dari orang yang dicintainya belum kembali dimilikinya.

Diusapnya lembut sisi wajah Naruto yang tertidur di atas lengannya. Sebenarnya, Naruto tidur di atas bantal awalnya. Namun, lelaki Uchiha itu menarik lembut lengan Naruto dan meletakkan kepalanya di atas lengan miliknya.

Memandangi wajah yang memiliki tiga garis halus di pipi empuk milik Naruto. Dipandanginya lekat-lekat bulu mata halus yang sedikit bergerak-gerak saat Naruto terganggu dalam tidurnya.

"Meiné Liébe—kekasihku."

Tak lama kemudian, setelah tangan berkulit putih pucat itu menarik dan membenahi selimut, terdengarlah desau halus yang berasal dari napas mereka berdua.

Dan ini pertama kalinya, setelah berbulan-bulan, sang Uchiha Sasuke dan Namikaze Naruto dapat tidur dengan lelap.

Lelap, dalam dekap sang kekasih.
.

.

Sensasi yang pertama kali dirasakan Naruto saat dia membuka kedua matanya adalah, cahaya matahari yang merambat masuk lewat celah-celah gorden. Dan sensasi kedua yang menyapa alat inderanya adalah kehangatan dan hembus napas teratur dari orang yang ada di sampingnya.

Bola mata hitam kelam milik pemuda itu masih bersembunyi di balik kelopak mata yang tertutup rapat itu. Dikecupnya lembut masing-masing kelopak mata itu dengan perlahan.

Naruto meregangkan badannya dan menguap dengan lebar. Khasnya setelah bangun tidur.

Kali ini dia merasakan sensasi gatal yang memenuhi hidungnya. Tanpa dapat dicegah lagi, suara khas dari orang yang bersin pun keluar dari bibir Naruto. Lelaki itu mengusap hidungnya yang kini terasa gatal dan sedikit basah—efek dari bersin tadi.

Mendengar suara gaduh yang mengganggu tidurnya, sang Uchiha bungsu pun ikut terbangun dari tidurnya. Dia mengacak rambut hitamnya sehingga semakin membuat helai rambut itu berantakan. "Kenapa, Dobe?" tanyanya saat melihat Naruto menggosok hidungnya dengan beringas.

"Gataal. Aku ingin bersin terus, Teme."

Sasuke menutup mulutnya dengan sebelah tangannya saat dia menguap. Memandangi wajah Naruto sampai pukul 3 dini hari bukanlah sesuatu yang bisa ditahannya untuk tidak dilakukan. Namun akibatnya, rasa kantuk seperti membebani langsung pada kedua matanya.

"Flu?"

Naruto mengangguk. "Mungkin. Ada yang mengajak aku berenang malam-malam sih~"

Kali ini mata hitam kelam Sasuke terbuka lebar. Dia menegakkan punggungnya dan bersandar di kepala tempat tidur. "Hm? Bukannya kau yang menceburkan orang itu?" tanya Sasuke sambil tersenyum kecil.

Suasana yang santai dan ramai dengan ejekan ini adalah salah satu hal yang dirindukannya.

"Mou~ dia seperti ingin memakanku hidup-hidup sih," kata Naruto sambil tersenyum usil.

"Hn, coba kutanya pada orang itu."

Sasuke seperti memasang pose mendengarkan sesuatu sambil memegang ujung dagunya. Tak lama, dia memandang wajah datar seperti yang biasa dilakukannya.

"Ya, dia memang ingin memakanmu sampai tak bersisa."

Mendengar balasan telak dari Sasuke, wajah Naruto yang semula usil menjadi sebal karena seperti biasanya si Uchiha ini berhasil mengalahkannya. Dia tidak menyangka bahwa gurauannya akan dibalas sedemikian seriusnya oleh lelaki yang kini sedang mengusap tengkuk putih pucatnya—mencoba meredakan rasa pegal akibat jetlag—yang datang terlambat.

Melihat gurat keruh, malu, bahkan sebal di wajah manis itu, Sasuke tersenyum lembut bercampur geli. Melihat ekspresi Naruto membuatnya senang, dia kemudian menarik dagu Naruto lembut ke arahnya. Dikecupnya lembut sisi wajah Naruto sebentar.

"Morgén, Naruto," kata Sasuke sambil tersenyum lembut dan menatap Naruto.

Naruto tersenyum lebar. Meski tidak tahu sama sekali tentang bahasa Jerman, dia mengerti Sasuke mengucapkan salam pagi yang sering mereka bagi. "Morgén juga, Teme."

Sambil terus memandang keindahan bola mata masing-masing, Naruto mengusap lembut helai rambut Sasuke yang berjatuhan di sisi wajah tampan lelaki Uchiha itu. "Kau tahu? Aku mulai rindu dengan Fugaku Tou-san, dan Itachi-nii. Sudah lama tak menemui mereka."

Sasuke mengangguk. "Aku juga sudah lama tak menemui mereka."

Naruto melipat kedua kakinya, dan menumpukan dagunya di atas kedua lututnya. Dia memeluk kedua lututnya—seakan ingin menghangatkan tubuhnya sendiri. "Ayo temui mereka," putusnya sambil tersenyum.

.

.

Sasuke dan Naruto segera bangun dan mandi setelah Sasuke memastikan keberadaan orangtuanya dan kakaknya. Mereka berjanji akan bertemu di sebuah café yang tidak jauh dari hotel tempat mereka berasa sekarang.

Saat Naruto sedang mandi, Sasuke memanggil jasa layanan kamar dan meminta pelayan mengantarkan pakaian basah mereka semalam. Belum lima menit dia menelepon, datanglah seorang pelayan membawakan pakaiannya dan pakaian Naruto. Setelah memberikan uang tip, pelayan tersebut membungkukkan tubuhnya hormat dan berlalu dari kamar.

Sesekali terdengar suara bersin Naruto dari dalam kamar mandi, dan itu membuat Sasuke merasa geli. Karena jujur saja, dia rindu semua hal yang dilakukan pemuda pirang di kamar mandi itu.

Sasuke mengenakan kemeja dan celana panjangnya dengan cekatan. Saat dia mengancingkan kancing lengan kemejanya, keluarlah Naruto dengan jubah mandinya. Rambut pirangnya itu berjatuhan di sekitar wajahnya dan menitikkan beberapa air.

Lelaki Uchiha itu meneguk ludahnya dengan sulit.

"Setidaknya baumu lebih segar sekarang, Dobe."

Naruto segera mendatangi Sasuke dan menjitak kepala orang yang memang lebih tinggi darinya itu. "Menyebalkan!"

Sasuke tidak membalas. Hanya saja, dia menarik tangan Naruto sebelum dia membalikkan badan. Ditariknya tubuh Naruto hingga punggungnya menyentuh dinding kamar yang berwarna peach itu.

"Sasuke? M-mau apa kau?"

"Aku tidak suka kalau hanya kau yang mendapat flu itu."

"Hah? Mak—hmmph!"

Sekali lagi Sasuke memagut bibir Naruto dengan lembut. Lembut sekali pada awalnya dan membuat Naruto merasa nyaman. Jemarinya bergerak pelan menuju tengkuk Sasuke. Sesekali digenggamnya erat helai rambut kehitaman Sasuke yang sudah sampai leher itu.

Merasakan reaksi Naruto, tangan Sasuke yang semula menempel di dinding seakan mengurung Naruto, berpindah sebelah untuk merengkuh pinggang ramping milik kekasihnya itu. Dicumbunya lebih dalam bibir itu untuk mengecap rasa yang sangat dirindukannya.

Naruto menggenggam lembut kedua pundak Sasuke saat merasakan napasnya mulai terengah. "S-sasuke—Mmh."

Sasuke seakan tak membiarkan Naruto untuk berbicara, barang sedikit.

Beberapa menit kemudian, Sasuke melepaskan bibirnya dari bibir Naruto yang telah cukup dilumatnya hingga memerah dan basah.

"Setidaknya dengan ini, flumu akan tertular padaku."

Naruto tidak membalas, dia hanya mengusap bibirnya yang masih terasa panas dan bengkak itu. Dilihatnya seulas seringai kecil tercipta di wajah tampan milik Sasuke. Ternyata, lelaki di depannya ini sama sekali tidak berubah. "Kau menyebalkaan!"

.

.

Lama mereka berbincang dengan kedua lelaki Uchiha senior itu sampai tak terasa siang sudah menjelang. Suasana hangat dan penuh rasa kekeluargaan tercipta di antara keempat lelaki yang duduk di meja dekat tepi jendela itu.

Mereka sengaja mencari tempat yang tidak terlalu mencolok—karena kehadiran mereka berempat itu pun sudah bisa dibilang mencolok, sebenarnya.

Fugaku menyesap kopinya pelan sambil menatap wajah Naruto yang bercerita tentang kejadian semalam. Dia sedikit tertawa saat mendengar sang putra bungsu yang selalu menjaga karakternya di depan orang lain, bisa sedemikian ekspresifnya dalam mengungkapkan rasa cintanya.

Sedangkan Sasuke hanya diam dengan wajah kesal dan malu.

Itachi terkikik senang dan mengatakan bahwa adiknya itu terlalu merindukan sosok Naruto. Dan pernyataan itu dibalas dengan sebuah tatapan tajam dari kelamnya mata sang Uchiha bungsu.

"Jadi, dia benar-benar melakukan itu?"

"Um! Coba Tou-san tanyakan pada Shikamaru!"

"Haha—hmmph! Coba saja kita rekam, kemudian kita masukkan ke YouTube, pasti asyik sekali!"

"Aniki."

Percakapan hangat itu terus berlangsung, tanpa membahas permasalahan internal yang terjadi pada Sasuke dan Naruto. Yang Fugaku dan Itachi tahu hanyalah, tentang Sasuke yang pergi ke Canada, dan Naruto yang tetap tinggal karena ada urusan pribadi. Jadi, kedua Uchiha Senior itu tidak mengetahui tentang masalah Neji–Sasuke–Naruto yang terjadi beberapa waktu lalu.

Biarlah itu menjadi rahasia kami dan Tuhan.

"Naruto..."

"Ne, Tou-san?"

"Kau sudah memanggilku Otou-san, memanggil Mikoto Okaa-san, memanggil Itachi aniki. Mengapa tidak segera menjadi Uchiha saja?"

Mendengar pertanyaan straight to the point dari Fugaku, Naruto membelalakkan matanya. "E-eh?"

"Kau sudah seperti putraku sendiri, bahkan Minato dan Kushina adalah sahabat baik kami. Dan yang penting, Sasuke mencintaimu."

Itachi mengangguk dan tersenyum. "Kau sudah menjadi otoutoku, Naruto-kun."

Naruto merasa terharu dan senang atas sikap 'keluarganya' itu. Dia memang sudah menjalin hubungan dengan Sasuke beberapa tahun lamanya. Tapi, untuk menjadi bagian dari keluarga Uchiha, dia merasa belum pantas.

Tapi bolehkan dia berharap?

Sasuke yang sedari tadi diam kini angkat bicara. Wajahnya memang datar, namun ada ekspresi lembut yang kentara di sana. "Naruto akan jadi Uchiha dalam waktu dekat ini, Tou-san."

Fugaku dan Itachi tersenyum kecil ke arah Naruto yang kini mulai salah tingkah. Dia bahkan sampai mencampurkan lada ke dalam jus orangenya. "Ahaha, sepertinya telingaku sedang bermasalah. K-kau bilang ap—"

"Menikahlah denganku, Namikaze Naruto."

.

.


Percayalah pada hatimu
Dengarkan ia, dan respon dari hati terdalam milikmu

Jagalah orang yang kau sayangi
Jangan kecewakan ia
Jujurlah, dan peliharalah kepercayaan dalam hubungan itu

.

Mengertilah,
Walau kadang hatimu hancur berkeping
Walau kau hampir melepas peganganmu atas hidup
Walau banyak hal yang tak sesuai dengan kemauanmu
Walau dadamu terasa sesak atas himpitan kebingungan

Itulah hidup...

.

Cegahlah kehilangan selagi kau mampu
Jangan membiarkan kesalahpaham berlanjut,
karena mungkin itu adalah awal kehilangan

Jujurlah, karena itu kunci hubunganmu

.

Percayalah, kebahagiaan akan datang padamu
Dengan bangga, dengan lapang

Karena kau telah memperjuangkannya


Fin or ? :)


R/N

Rin ngga berharap banyak, di sini rin sangat tahu bahwa bisa dikatakan saya telah menelantarkan cerita ini. Saya tidak mau banyak alasan, setengah tahun tidak update, tolong jangan katakan rin sedang WB, karena sebenarnya, rin masih sering menulis beberapa bulan terakhir.

Wajar saja jika Minna-sama mengira rin menelantarkan cerita ini, karena rin malah sering mengupdate/ mempublish fic baru, tapi tidak melanjutkan fic ini.

Gomenne, Minna-sama.

Ide saya sedang stag untuk cerita ini.. sekarang saja saya tidak percaya diri, apakah cerita ini layak atau tidak :(
Maaf ya.. semuanya..

Saya sangat berterima kasih kepada semua teman-teman, senpai, junpei, adik, kakak, semuanya .. maaf saya mengecewakan T.T

Kritikan, marahan, sebalan, *dll* bisa diluangkan ke dalam kotak review. Jika kecewa pada saya, katakan saja ya.. saya tahu saya mengecewakan..

Terima kasih banyak semuanya..
Sungguh.


Thank You Very Much
Thank You

I Owe You Many Things
Minna-sama

Vii-eonnie
Sou
Nhia-eonnie
Muthia Momogi
Ci-chan
Harucha me Hana
Dark Dobe
Touru-san
Kouru Ryuki
Shinki-san
Itazura Ryuuki
Zumi
SlythGirlz Phantomhive aka Yuki-san
Chic-kun
Tori Nadeshik
LUKIAST
Yufa-san
Chi-nee
Micon
Orange Naru
Fujoshi Nyasar
Ai-san
mechakucha no aoi neko
sizunT Hanabi
Vipris
Matsuo Emi
Fi-chan
Sana-chan
Uchi-san
Akayuki Kaguya-chan
ulquiora ekor empat
sabaku no machi,
tsukiyomi hikari
Beside The World
Firenze Firefly
Pochi
Riri-eonnie
Risa-chan
Michi-chan
Lills
saphire-san
Ly-saengi
Winter Ney-san
Winda-san
DarkBloodyDiamond
alwayztora aka Leon-san
FujoshiLoveYaoi
Dallet no Hebi
icha22madhen
Namiakaze Kawaii
Luce Stellare of Hyuzura aka Hyuzu-san
KyouyaxCloud
Mihael Keehl is still alive
Ryonee
hyuga oshima

.

Dan semua yang telah membaca, memfaves, meng-alert, mereview, memberi semangat, masukan kritik, kasih sayang, persahabatan, dll
Maaf kalau ada yang tertinggal namanya

Terima kasih banyak

sampai jumpa di lain waktu

.

.

I'm honoured as writer to meet all of you :')