Ini terjadi pada bulan kedua pernikahan.

Baekhyun tidak pernah tau, mahasiswa seperti Chanyeol bisa sibuk mengalahkan pekerja kantoran. Lelaki itu berangkat pagi hari lalu pulang ketika malam menjelang. Chanyeol terlihat kelelahan bersama tas tabung pada pundak kiri. Baekhyun menyambutnya di depan pintu namun berubah urung untuk sebuah sapaan.

Lalu setelah membersihkan diri Chanyeol tanpa kata apapun segera pergi tidur dengan Baekhyun yang menyimpan canggung yang sama. Malam mereka terlewati dingin.

Pagi adalah Chanyeol. Lelaki itu berangkat lebih cepat bahkan sebelum Baekhyun bangun. Baekhyun pikir Chanyeol akan pulang seperti waktu kemarin namun taunya ketika malam menjelang sosok tingginya tak berada disana.

Baekhyun menatap ponselnya lama, menimbang untuk sebuah pesan atau panggilan namun ketika malam beranjak semakin jauh ponselnya tetap berada posisi yang sama.

Chanyeol tak pulang hari itu. Baekhyun tak mampu menyembunyikan gelisah hatinya namun bodohnya ia bahkan tak mampu mengetikkan sebaris pesan disana. Satu malam dua hari, Chanyeol tak pulang. Baekhyun mulai bertanya apa yang tengah lelaki itu lakukan. Sebanyak apa memangnya tanggungan kampus yang Chanyeol miliki sampai tak memiliki waktu untuk pulang ke rumah?

Baekhyun menenangkan dirinya sendiri, Chanyeol mungkin saja pulang ke rumah orangtuanya tapi ketika Baekhyun mendatanginya kediaman Park… Chanyeol tetap tak berada disana. Baekhyun tak mampu menahan gelisah lebih lama—mengambil ponsel dan menghubungi Chanyeol akhirnya.

Suara operator adalah yang menyambut—mengatakan jika nomor tujuan Baekhyun tidak berada dalam status aktif. Baekhyun tercenung bodoh dan mulai memarahi gengsi dirinya sendiri untuk sebuah panggilan di hari lalu. Seharusnya ia menghubungi Chanyeol sejak kemarin, Baekhyun seharusnya bertanya—apapun kepada lelaki itu bukannya malah terdiam bodoh seolah mereka bukanlah dua orang yang mengikat janji pernikahan.

Apartemen masih dalam keadaan sepi yang sama ketika Baekhyun sampai disana. Chanyeol masih tak pulang dan tak terlihat akan berada disana dalam waktu dekat. Baekhyun mencoba menghubungi lagi namun jawaban yang sama pula yang ia dapati.

Baekhyun mulai mencari kontak kiranya disana ia memiliki nomor dari teman Chanyeol atau seseorang yang bisa ia tanyai tentang keberadaan lelaki itu. Namun taunya tidak. Baekhyun baru menyadari betapa tidak pedulinya dia selama ini. Chanyeol mungkin merasa jengah pula, sifatnya yang menyebalkan kiranya satu bulan adalah waktu yang cukup untuk tinggal bersamanya.

Baekhyun tak pernah suka menangis, itu hanya akan membuatnya terlihat konyol. Apalagi jika itu adalah Chanyeol, Baekhyun selalu berteriak mengatakan ia pernah sudi melakukannya. Namun akhirnya disanilah ia, tersedu orang diri dengan panggilan ponsel berulang kepada Chanyeol.

Lalu suara ceklikan pintu tiba-tiba diikuti pergesakan alas kaki pada lantai menyentak Baekhyun dalam tangisnya. Ia berjalan tergopoh keluar kamar dan menuju pintu. Chanyeol berada disana, tengah melepas sepatu dengan raut wajah lelah seperti kali terakhir Baekhyun lihat.

Pandangan mata mereka bertemu. Baekhyun tak peduli jika Chanyeol akan mengatainya jelek dengan buraian air mata seperti itu. Baekhyun tak ingin mempedulikan apapun kecuali Chanyeol yang ia lihat kembali akhirnya.

"Hai—"

Chanyeol terkesiap tak mampu melanjutkan sapaan yang hendak ia suarakan kala Baekhyun menubruknya tiba-tiba dalam pelukan. Kepala Baekhyun bersandar keras pada dadanya dengan kedua lengan membelit erat pinggang Chanyeol.

"Kupikir kau takkan pulang lagi." Lalu diikuti dengan suara serak dalam ucapannya.

Chanyeol tercenung menyadari pergi tanpa kabarnya meninggalkan kekhawatirkan untuk Baekhyun. Chanyeol luput memikirkan jika ia kini memiliki seseorang yang menunggunya pulang ke rumah. Kini ia memiliki Baekhyun, suaminya.

"A-aku khawatir sekali, ponselmu tak aktif dan aku… aku tak memiliki satupun kontak temanmu." Aku Baekhyun mengatakan apa yang membebani pikirannya.

"Maafkan aku tak memberi kabar…" sesal Chanyeol. Lengannya terangkat di udara dan balas memeluk lelaki mungil itu.

"Aku rindu…" ucap Baekhyun.

Chanyeol lagi terkesiap, berdengung seolah apa yang Baekhyun katakan hanyalah benih imajinasinya sendiri. Chanyeol tidak bermimpi bukan?

"Sangat rindu…" dan Baekhyun malah menekan jika apa yang ia katakan bukanlah delusi Chanyeol semata. Itu nyata pun bagaimana desiran darah menyenangkan melingkupi Chanyeol seperti itu.

"Aku juga rindu padamu…" Chanyeol memeluk Baekhyun lebih erat dan mengecupi pundak kepala lelaki itu. "Maafkan aku,"

"Jangan ulangi lagi." Tekan Baekhyun.

"Aku berjanju tidak!" sambut Chanyeol cepat. Baekhyun terkekeh dan mengusap wajah yang beraliran air matanya pada Chanyeol.

"Tidakkah aku bau?" Chanyeol bertanya memperhatkan apa yang baru saja Baekhyun lakukan.

"Apa kau mau bilang jika kau tak mandi selama dua hari ini?" Baekhyun balik melempar tanya.

"He-he…" Chanyeol menyengir. Baekhyun mendongak dan berdecih namun tak jua melepaskan pelukannya.

"Kau benar-benar rindu sampai tak mau melepasku ya?" Chanyeol bermaksud menggoda dan berharap adanya rona merah muda pada pipi Baekhyun. Chanyeol mengharapkan celotehan bantahan namun yang ia dapati adalah Baekhyun yang menganggukkan kepalanya lalu membenamkan diri kembali pada dada itu.

Chanyeol tertawa bahagia. Kedua tangannya berpindah pada pinggang Baekhyun dan tak kesusahan mengangkat lelaki itu melingkari pinggangnya. Baekhyun menahan nafas dan reflek memeluk erat leher Chanyeol.

"Yak! Kau membuatku serangan jantung!" Baekhyun dengan kesal menarik telinga Chanyeol. "Kau ingin membunuhku atau bagaimana? Dasar abnormal!" makinya.

"Aku ingin menciummu." Bukannya marah Chanyeol malah menggoda Baekhyun kembali.

Ia mengendong Baekhyun menuju dapur dan mendudukkan lelaki itu di atas meja makan. Chanyeol berdiri di depannya di antara kedua paha Baekhyun yang terbuka. Jalinan mata tertaut lagi sebelum Chanyeol memutusnya dalam ciuman.

Baekhyun menyambut dengan kecupan yang sama. Lalu berlanjut dalam lumatan yang lain.

"Kau belum mengatakan kemana saja selama 3 hari ini." Disela Baekhyun menarik diri dan menangkup pipi Chanyeol agar menatap dirinya.

Chanyeol mendengus pelan tak suka ciumannya di hentikan Baekhyun tiba-tiba. "Dosenku memiliki seminar ke Jepang selama 1 bulan dan aku harus menyelesaikan tambahan sketsa yang beliau minta sebelum hari ini." Chanyeol menjelaskan. "Dan aku menginap di tempat temanku selama menyelesaikan sketsanya."

"Dan tidak menghubungiku?"

"Aku lupa dan baterai ponselku habis. Maaf…" Chanyeol membentuk dua jari dengan senyum selebar papan bunga.

"Aku kesal sekali." Baekhyun cemberut. "Aku hampir menuduhmu selingkuh tapi kemudian ingat orang jelek sepertimu mana ada yang mau."

Kini berganti Chanyeol yang cemberut namun tak cukup mampu untuk menghilangkan hasratnya untuk mencium Baekhyun kembali.

"Aku jelek tapi kau suka, 'kan?"

"Huekss—hmpp!"

Seolah tau apa yang akan Baekhyun katakan setelah itu Chanyeol lantas segera membungkamnya dalam ciuman kembali.

"Gara-gara kau menginap di tempat temanmu, jadwal bercinta kita jadi bolong."

"…"