Lily-chan: *nyanyi-nyanyi gaje* Begii~nii~ Naa~sii~b jaa~dii authoress... *ditimpuk botol Aqua*
Claire: Berenti nyanyi authoress jelek! Mana suara fals geto! Cepet mulai nih fanfic!
Lily-chan: Gak perlu buru-buru kan? Sohib gue aja deh, yang nyanyi! Lisa-chi! Winda-chi!
LS&WA: Oke! *mulai nyanyi lagu Album Biru*
Claire: Wooowww! Bagus sekale bo' beda sama suara fals authoress...
LS&WA: Bye Ly... *pergi entah kemana*
Claire: Ngomong2 apa ada hubungannya, lagu dengan chapter ini?
Lily-chan: Bye Lis, bye Iwin... Ada dong! Cepet sebutin disclaimer, jadi kita bisa mulai!
Claire: Iya! HM bukan punya Lily-chan, lagu-lagu di sini juga bukan punya dia...
Lily-chan: Betul-betul-betul! By the way, thanks to Griezalys and wihan yang udah merepiu, juga Tinari Tin-tinngeeeng... So! Let's start my dear readers!
Cliff's POV
Perlahan kubuka mataku. Mencoba mengenali sekelilingku. Aku berbaring di sesuatu yang empuk, pasti tempat tidur. Tempat tidur di UKS, mungkin, karena ini bukan kamarku, hanya ruangan kecil yang ditutupi tirai biru. Kurasakan denyutan-denyutan kecil di kepalaku. Oh, ya. Aku ingat. Trent-kun memukuliku. Itu sebabnya aku pingsan. Lalu siapa yang menolongku?
"Cliff-chan!" teriak sebuah suara yang familiar dengan telingaku.
"I-ibu?" Ya, itu suara ibuku, Manna-san. Dia langsung memeluk aku.
"Ugh!" teriakku. "Saakiit..." tambahku lirih.
Yah, badanku memang sakit, sampai bagian dada juga luka. Tunggu! Siapa sih yang mengobatiku? Lagipula, kalau dilihat nggak ada guru UKS. Mungkin sudah pulang. Jadi siapa yang mengobatiku? Sampai di bagian dada juga diobatinya, sampai membuka baju kaos di bawah kemeja sekolahku... Oh, Harvest Goddess! Moga aja bukan cewek! Kalau ibuku, sih, boleh saja, tapi temanku yang lain...
"Cliff-chan tidak apa-apa? Kok mukanya merah?" tanya ibuku.
"Eh, mu-mungkin demam?" jawabku gugup. Tangan ibuku menyentuh kepalaku.
"Tidak panas kok." katanya heran.
"Ehh... Ibu... Yang mengobati aku itu... siapa?" tanyaku. Mungkin saja ibuku. Oh, Harvest Goddess, biarkan ibuku berkata iya...
"Tidak. Bukan ibu. Yang pasti pemilik saputangan ini." jawab ibuku, menyodorkan selembar saputangan.
Basah, saputangan itu basah oleh air mata. Kuperhatikan saputangan putih dengan corak strawberry dan bunga-bunga kecil berwarna senada di sudut kanan bawah dan sudut kiri atas. Memang tidak ada nama pemiliknya, tapi... Ini pasti milik Claire-chan. Siapa lagi yang lebih suka strawberry dari dia?
Jadi... Yang mengobati aku Claire-chan? Mukaku semakin memerah. Masa' sih, dia ngelihat badanku... Aku ngerasa mau nosebleeding a.k.a mimisan, lalu semuanya... gelap.
Ketika kubuka lagi mataku, aku merasa agak pusing. Kulihat sekelilingku, aku tidak berada di ruang UKS sekolah lagi. Ini kamarku, dengan langit-langit cokelat dari kayu dan dinding kamar warna biru langit. Kulirik jendela kamarku, sudah sore.
"Cliff-chan sudah bangun?" sapa ibuku dengan nada seperti bertanya, sembari memasuki kamarku dengan membawa nampan bersama ayahku, Duke. Aku mengangguk.
"Kamu pasti lapar, kan! Makan dulu, ya. Ini makanan kesukaanmu, Cliff-chan. Nasi kare spesial buatanku!" kata ibuku sambil menyodorkan sepiring nasi kare, segelas air minum dan beberapa butir (?) obat-obatan.
"Iya..." kataku sambil mulai memakan nasi kare yang masih hangat itu. Hari ini campurannya apel, kentang, wortel, daun bawang dan daging sapi.
"Nah, Cliff. Sekarang ceritakan masalah sekolahmu, ya." kata ayahku, lembut namun tegas.
"Ba-baiklah..." kataku sambil menelan nasi kare yang sudah kukunyah.
"Nah, ada apa? Apakah kau bertengkar?" selidik ayahku.
"Ti-tidak... Trent-kun me-menyuruhku menjauhi sahabatku..."
"Siapa sahabatmu itu?" tanya ayahku lagi.
"C-Claire-chan..." jawabku pelan.
"Hah? Yang mana, sih?" tanya ayahku heran.
"Aduh, Duke! Kamu ini benar-benar pikun, ya! Itu, lho, cewek cantik berambut pirang yang sering pulang bareng Cliff-chan! Hihihi, Trent-kun itu pasti cemburu karena kalian pacaran..." kata ibuku sambil tertawa khas tante-tante penggosip.
"I-ibu! C-Claire-chan bukan pacarku! Di-dia cuma sahabatku!" kataku cepat, terbata-bata, mukaku memerah.
"Kalau begitu, yang salah itu Trent-kun... Dia mencoba menggangu kehidupan seseorang dengan kekerasan... Lain kali, Cliff, kamu harus cerita kepada kami masalah sekolahmu, jadi kamu tidak begini... Kata dokter, kau harus istirahat dua hari di rumah. Hari Senin kau bisa masuk sekolah." nasihat ayahku.
"Uuhh... I-iya." kataku sambil mengambil gelas air minum dan menelan obat-obatan tadi, sesudah memakan habis nasi kareku.
"Nah, istirahat, ya, Cliff-chan... Sana, berbaring!" kata ibuku. Aku pun berbaring dan menutup mataku, aku memang sudah mengantuk, mungkin gara-gara obat yang kuminum.
"Sweet dream, Cliff..." kata ibuku sambil mengecup dahiku, sebagai salam pengantar tidur. Aku pun membiarkan diriku terbuai oleh alam mimpi.
*************** Dua hari kemudian ***********************
Hari senin, aku sudah benar-benar sehat. Untung saja ada teman sekelasku yang berbaik hati mengantarkan catatan dan soal PR yang disuruh kerjakan oleh guru-guruku. Sementara Trent-kun, kabarnya dia dihukum skors oleh sekolah. Aku merasa sedikit bersalah.
"Ohayou Claire-chan." sapaku begitu bertemu Claire-chan.
"Ohayou." balasnya tanpa tersenyum. Aneh, biasanya Claire-chan sangat ceria.
"Ada apa, Claire-chan?" tanyaku sedikit khawatir sekaligus heran.
"Nggak pa-pa." katanya singkat sambil berbalik dan meninggalkanku.
Sepanjang hari itu Claire-chan menjauhiku. Aku tak tahu apa sebabnya. Akhirnya aku tidak tahan lagi, ketika istirahat kutanyakan kenapa dia diam saja hari ini.
"Claire-chan, kita perlu bicara-"
"Itu tidak perlu. Maaf, aku harus belajar!" katanya menolak.
"Baiklah..." kataku lemas, marah sekaligus bingung. Kenapa sih, dia menjauhiku?
Aku tidak bisa berkonsentrasi seharian. Sampai ketika piket pun aku melamun. Ketika sedang membersihkan meja aku melihat potongan kertas kecil.
"Hhh... Siapa sih yang hobi buang sampah sembarangan?" keluhku. Setelah kuamati, ada tulisan kecil yang kukenal.
"To: Cliff-kun
Kutunggu kau di dekat kolam Harvest Goddess
Claire xoxo"
Segera kuselesaikan tugas piketku, lalu menyandang tas dan mengganti uwabaki, sepatu sekolahku, dengan sepatu hitam yang ada di lokerku dan berlari ke kolam Harvest Goddess. Benar saja, Claire-chan sudah menunggu di sana, matanya menatap langit yang berwarna biru cerah.
"Sudah kutunggu." katanya sambil tersenyum manis seperti biasa. Tapi sedetik setelah itu, ...
*BUKK*
"Auww! Saakiit!" Claire-chan memukulku. "Apa salahku, sih?" tanyaku kesal sekaligus bingung.
"Itu, untuk membuatku khawatir setengah mati, panik, upset dan bad mood selama seminggu." katanya, lalu Claire-chan berdiri di sampingku, ia berjinjit sedikit.
*Cup*
Mukaku memerah. Claire-chan mencium pipiku untuk kedua kalinya.
"Itu, untuk hari ini." katanya sambil bersemu, ia meletakkan sebuah kotak kecil di tanganku.
"Hari ini?"
"Ini hari ulang tahunmu! Masa' lupa?" kata Claire-chan sambil tertawa kecil.
"Otanjoubi omedetou, Cliff-kun... Wish you'd all the best and be my best friend forever ok?" katanya. "Coba buka hadiahku."
":Eh, i-iya..." kataku sembari membuka kado ulang tahunku, yang berada di sebuah kotak kecil, dibungkus kertas bercorak awan putih di langit biru, berisi sebuah...
"Harmonika..." kataku senang sambil tersenyum. "Ini salah satu alat musik yang paling kuinginkan. Terima kasih, Claire-chan."
"Aku minta hadiah kedua, nyanyikan lagu Kubahagia, ya."
"Baiklah..." Claire-chan mengambil napas, lalu dia bernyanyi.
"Kita bermain-main
Siang-siang hari senin
Tertawa satu sama lain
Semua bahagia
Semua bahagia...
Kita berangan-angan
Merangkai masa depan
Di bawah kerindangan dahan,
Semua bahagia
Semua bahagia...
Matahari...
Seakan tersenyum
Walau makan susah
Walau hidup susah
Walaupun 'tuk senyum pun susah...
Rasa syukur ini karena bersamamu juga susah dilupakan...
Oooohh kubahagia...
Oooohh kubahagia..." Claire-chan mengakhiri nyanyiannya, aku memainkan melodi akhir dengan harmonika baruku.
"Yaaayy! Bagus banget... Cliff-kun memang pintar main musik... Hebat!" puji Claire-chan, sukses membuat mukaku memerah lagi.
"Ah, nggak segitunya, kok. Mau kutraktir makan di Inn, nggak?" tawarku.
"Mau dong! Aku mau pesan Strawberry Shortcake!" jawabnya ceria.
Maka kami pun berjalan menuju Inn. Ketika kubuka pintu, semuanya gelap. Namun tiba-tiba lampu di Inn menyala, disusul suara terompet yang menggelegar.
"Otanjoubi Omedetou!" teriak Ann-chan, Mary-chan, Karen-chan, Elli-chan, Popuri-chan, Jack-senpai dan Gray-senpai. Mereka juga melempar potongan kertas kecil ke arahku dan Claire-chan.
"Eh? Ada apa ini?" Tanyaku terkejut.
"Duh! Sama aja kayak pa- Uph!" teriak Gray-senpai sambil menepuk dahinya, tapi kalimatnya tidak selesai karena mulutnya dibungkam Ann-chan.
"Ini pesta kejutan ulang tahunmu! Imoutou-chan yang punya ide begini!" jelas Jack-senpai ceria, dia memang mirip dengan adiknya.
"Te-terimakasih..." kataku terharu sekaligus senang.
Maka kami pun bersenang-senang, ketika matahari sudah hampir terbenam mereka memberi lebih banyak hadiah untukku. Tapi sebagai gantina, mereka memintaku menyanyikan satu lagu. Aku setuju.
"Lagu Sahabat jadi Cinta aja!" teriak Ann-chan. Mukaku dan muka Claire-chan memerah, tapi aku tidak bisa menolak.
"Oke..." kataku tenang. Aku mengambil nafas dan mulai bernyanyi.
"Kuhantarkan bak di pelataran
Hati yang temaram
Matamu juga mata mataku
Ada hasrat yang mungkin terlarang
Satu kata yang sulit terucap
Hingga batinku tersiksa
Tuhan tolong aku jelaskanlah
Perasaanku berubah jadi cinta
Tak bisa hatiku merapikan cinta
Karena cinta tersirat bukan tersurat
Meski bibirku terus berkata tidak
Mataku terus pancarkan sinarnya
Kudapati diri makin tersesat
Saat kita bersama
Desah nafas yang tak bisa teruskan
Persahabatan berubah jadi cinta
Satu kata yang sulit terucap
Hingga batinku tersiksa
Tuhan tolong aku jelaskanlah
Perasaanku berubah jadi cinta
Tak bisa hatiku merapikan cinta
Karena cinta tersirat bukan tersurat
Meski bibirku terus berkata tidak
Mataku terus pancarkan sinarnya
Kudapati diri makin tersesat
Saat kita bersama
Desah nafas yang tak bisa teruskan
Persahabatan berubah jadi cinta
Apa yang kita kini tengah rasakan
Mengapa tak kita coba persatukan
Mungkin cobaan untuk persahabatan
Atau mungkin sebuah takdir Tuhan."
Aku mengakhiri lagu itu, diikuti tepuk tangan teman-temanku.
"Wooowww! Hebat!"
"Bener deh! Hebat buangggeeeetszz Cliff-kun!"
"Idih, Onii-chan lebay!"
"Terimakasih..." Kulirik jam. Sudah jam 5.30 sore.
"Aku harus pulang... Terimakasih semuanya, utuk membuat hari ini menjadi best day dalam hidupku..."
"Only the best for my best friend! Dadah!"
Aku pun pulang ke rumah dengan senyum lebar terpampang di wajahku.
.
.
.
Lily-chan: Selesai! Cliff-kun senang, kan!
Cliff: Iya! Makasih Lily-chan!
Lily-chan: Nggak masalah! Only the best for my husband!
Claire: WHAT!*nyiapin berbagai macam pisau, ngelempar pisau ke authoress* GRRR!
Lily-chan: Hey! Only in game! Bye all! *ngibrit* Review!
