Lima Syndrome

Summary: penculikan, pembunuhan dan usaha pelarian ternyata bisa berbuah cinta.

Rating: M

Pairing: Geduatujuh for evaaaaah \^^/

Disclaimer: KHR bukan punya saya. Fic ngaco ini punya saya.

Warning: FULL OF CRIME! OOC sudah pasti. Abal, alay, gaje, gagal, mistypo, banyak OC, tidak memenuhi kaidah bahasa Indonesia dan EYD yang benar. Kacangan, bikin bete. Jika tidak suka jangan lanjutkan baca. Membaca kelanjutan diluar tanggung jawab author.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Central Rome, Italy.

Constatine Pugliese duduk di jok belakang Cadillac DeVille produksi 1949-2005 berwarna hijau metalik dengan gelisah. Setelah 10 tahun berjalan, usahanya untuk menemukan godfather dari Devour 76 membuahkan hasil. Hari-hari rasa bersalahnya kepada Signore Giovanni Shimon yang meninggal dalam damai akan terbayarkan, karena beliau sendiri benar-benar mempercayakan anaknya kepada pria Italia itu. Supirnya berkali-kali melirik spion, memastikan bahwa dua iringan di depan dan belakang mereka masih dalam keadaan semula, mengikuti mereka. Constatine Pugliese tersenyum lembut kepada supirnya.

"Kau punya sesuatu yang hendak kau katakan, ya?"

Sang sopir menggeleng. Namun, sejurus kemudian, ia mengangguk pelan. Constatine melihat arlojinya dan menimbang-nimbang waktu. Ia datang tiga jam lebih awal dari janjinya dengan pria Perancis cedal yang cerdas itu. Maka, sang godfather meminta sopirnya untuk menepi di sebuah toko kue yang baru buka, yang menguarkan bau harum mentega ketika ia meminta seorang pelayan pria menyediakan meja dan kursi yang cukup nyaman untuk 20 orang.

Dua poci kopi espresso double shot dihidangkan bersama mangkuk berisi krim kental dan satu toples gula kubus. Talam-talam perak berisi Brioche yang baru keluar dari oven dihidangkan bersama potongan aprikot kering, kismis dan beberapa jenis keju. Sebelum mulai makan, bagian kecil dari persekutuan Devour 76 memanjatkan doa pada Tuhan Yang Esa dengan begitu khidmat. Lalu, mereka semua menoleh pada Constatine.

"Buongiorno, il mio fratelli (Selamat pagi, saudara-saudaraku)." Sapanya. "Mungkin, ini jarang sekali terjadi diantara kita. Untuk hari ini, dan pagi ini... kurasa adalah hari terakhir aku dapat memimpin kalian sebagai seorang godfather. Tugasku akan selesai, dan kita semua akan memiliki pemimpin baru yang lebih pantas."

Para pria berjas hitam itu masih dalam keheningan, mendengarkan boss mereka yang penuh wibawa dengan seksama.

"Kita harus saling bahu-membahu. Saling merangkul dan mendukung dalam suka dan duka. Saling menyokong dalam susah maupun senang. Il mio fratelli, griazie mille! (Saudara-saudaraku, terima kasih banyak!)."

"Dio ci benedica! (Tuhan memberkati kita!)." seru para anggota. Mereka mengangkat cangkir mereka, menyerukan pemberkatan singkat dan melakukan toast.

"Dio ci benedica, Il mio fratelli." Balas Constatine Pugliese dengan airmata kebahagiaan yang berlinang.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Corte Costituzionale della Repubblica Italiana (Constitutional Court of the Italian Republic), Rome, Italia.

Jaksa Penuntut Sawada Iemitsu memeluk putranya penuh rindu. Airmatanya tak lagi bisa terbendung, mengisyaratkan betapa anak itu sangat berharga bagi seluruh kehidupannya. Sawada Tsunayoshi kelihatan sangat kurus, dan memiliki banyak bekas luka. Setelah melewati pemeriksaan visum di rumah sakit terdekat, remaja berusia 17 tahun itu juga mengalami kekerasan seksual. Sekarang, anak itu sudah aman di dalam pelukan ayahnya, dan makan panini berisi kalkun dan keju serta minum es teh dengan nikmat dan lahap.

"Sekarang kau bisa aman, Tsunayoshi." Lal Mirch mengacak-acak rambut Tsuna dengan penuh sayang. Anak itu menatap Lal Mirch dengan tatapan tidak mengerti.

"Lal-san bilang, kau aman bersama kami." Kata Iemitsu, berusaha menerjemahkan. Ia sendiri sudah mengabari Nana di Jepang, wanita itu sungguh bersyukur putranya bisa diselamatkan.

"Anak ini tegar sekali, tapinya." Celetuk Reborn. "Trauma yang diakibatkan Giotto del Vongola tidak separah yang kubayangkan. Dia hebat."

Meskipun tidak mengerti, Tsunayoshi tersenyum. Sebelum makan, Tsuna bersih diri di kamar mandi rumah sakit. Ia sekarang mengenakkan kemeja dan celana denim coklat milik Basil yang sedikit kepanjangan. Rona wajah dan sinar matanya memulih secara bertahap, dan ini membuat Lal Mirch sangat lega. Tsunayoshi mengambil potongan kedua panini dari kotak karton dan makan lagi.

"Ayah akan temani kau ke flat ayah. Atau, kau mau menetap di rumah salah satu teman kerja ayah? Suami Lal Mirch adalah pria yang menyenangkan." Kata Iemitsu, seraya mencium kedua belah pipi montok Tsunayoshi.

Anak itu menatap ayahnya dengan pandangan bingung. Ia hanya memberikan senyum kecil yang sangat manis, lalu merapatkan diri kembali ke Iemitsu.

"Alaude belum datang?" tanya Reborn setelah menelaah ruang kerja CEDEF. Pria itu nyaris tak pernah meninggalkan kantornya. Sementara apartemennya berjarak 5 menit perjalanan dengan kereta.

"Beliau dari semalam bahkan belum pulang." Kata Tumeric, yang kebetulan jaga malam pada minggu ini. "Setelah menemukan Tsunayoshi, ia pergi begitu saja. Beliau bilang ia memiliki janji penting, makanya beliau tidak akan kembali sampai jam makan siang."

Reborn mengerutkan keningnya. "Apa Monsieur Nuvuola sekarang punya pacar?"

"Kurasa bukan itu," sanggah Tumeric dengan sangat sopan. "Beliau terkesan kaku dan sedikit bingung. Sepertinya, yang akan beliau temui bukanlah orang biasa."

Reborn mengangguk paham. Alaude menempelkan memo untuk Lal Mirch dan Reborn, bahkan untuk Basil juga. Pria berdarah Perancis itu menugaskan Reborn untuk menyusun laporan kasus pembunuhan ini untuk diajukan ke persidangan, sementara Lal Mirch diminta untuk datang ke apartemen Alaude Nuvuola di salah satu sudut kota Roma dengan membawa Cozart Shimon. Ketika Basil dan Tumeric hendak kembali ke penjara tempat mereka bertugas, pintu kantor CEDEF menjeblak terbuka. Seorang pria jangkung dengan jas lab panjang, membawa sebuah koper kulit ukuran sedang yang dihiasi motif peta dunia jaman Columbus dan ditempeli banyak stiker berbentuk perangko. Pria itu menelaah kantor yang dimasukinya dengan seksama, dibalik kacamata bulat silinder dua yang bertengger di hidungnya. Pria itu membanting kopernya dan berteriak dengan sangat lantang.

"Bonjour, débiles! Vous êtes tout de même les abrutis? (Selamat pagi, orang-orang bodoh! Apa kalian masih bodoh?)."

"Errr... Pardon, il ne pas la ici (Maaf, ia tidak ada disini)." Balas Basil terbata-bata. "S'il vous plait, professeur (Silakan, Professor)."

Lal Mirch mengerutkan dahinya. Sepertinya pria itu orang CEDEF juga, namun karena ia sudah lama bekerja di Peru, ia tidak pernah hafal wajah-wajah lain selain Reborn, Alaude, Basil, Tumeric, Oregano, Jaksa Sawada Iemitsu dan Mammon. Pria yang dipanggil Professor itu duduk di sofa di dekat meja kerja Mammon, dan Basil menyuguhkannya segelas kopi.

"Laki-laki itu siapa?" Lal Mirch menyenggol bahu Reborn.

"Professor lingustik CEDEF, Professor Verde. Beliau berdomisili di Ukraina selama dua belas tahun terakhir. Hubungannya dengan Alaude sangat buruk, tapi jika pria Perancis itu sampai memanggil Professor Verde, berarti ia sangat membutuhkan bantuannya."

"Sehebat itukah dia?" Lal Mirch mengangkat sebelah alisnya.

"Dia bisa bicara dengan 18 bahasa secara fasih. Selain itu, dia juga grafolog. Kita tak banyak punya grafolog di dunia ini, kan?"

Lal Mirch mengangguk paham. "Berarti, dia adalah guru besar untuk semua yang berhubungan dengan bahasa?"

Reborn mengangkat bahu. "Bisa jadi."

Pada pukul sepuluh pagi, Lal Mirch pergi menjemput Cozart Shimon seperti yang telah dijanjikan, di depan halaman rumah sewanya. Professor Verde juga ikut serta, duduk di jok depan sambil memangku buku catatannya yang penuh dengan kata-kata rumit, warna serta tulisan yang rapi. Ketika Cozart Shimon keluar dari rumahnya, ia mengenakkan kaus putih polos dengan luaran jaket denim beraksen sederhana, celana jeans berwarna biru tua yang sengaja dilunturkan dengan pemutih, dan sepasang sepatu sneaker warna beige dengan kancing pengait di sampingnya. Professor Verde memicingkan mata, menatap anak itu dengan seksama sampai akhirnya Cozart masuk ke dalam mobil.

"Ada apa, Professor?" tanya Lal bingung.

"Anak ini..." lirik Professor Verde dengan seksama, lalu pada akhirnya dia benar-benar menoleh. "Namamu siapa?"

"Eh?" alisnya bertaut bingung, namun Professor Verde menatap jauh ke dalam matanya. "Shimon. Cozart Shimon."

"Kau punya mata yang bagus." Kata Professor Verde. "Tidak seperti penderita ADHD yang lainnya."

Dari spion, Cozart Shimon memasang wajah bingung polos khas anak kecilnya, dan dia mengangkat bahu. Namun Lal Mirch bisa melihat ada kilat kemarahan terpancar dari matik cokelat bata itu. Ia menyetir dengan santai, sesekali mendengarkan apa yang beliau obrolkan dengan Cozart Shimon. Sang guru besar linguistik meminta Lal Mirch berhenti di sebuah restoran waralaba.

"Tapi kita tidak punya waktu, Professor." Keluh Lal Mirch. "Alaude minta jam dua belas, dan akan tetap jam dua belas. Aku tidak mau dipindah-tugaskan lagi."

"Aku tidak takut pada kemarahannya, sayangku." Balas Professor Verde lembut. "Nah, karena kita semua lapar, bagaimana kalau kita cari sarapan dulu. Kau suka sarapan ala Inggris, nak Cozart?"

"Sejujurnya aku lebih suka makan waffle dengan madu. Tetapi kalau yang Anda maksud adalah sosis dengan jamur atau pai ginjal, aku setuju."

Maka, dengan berat hati Lal Mirch meminggirkan mobil di sebuah restoran kecil. Sarapan pagi yang mereka pesan adalah selusin sosis asap kecil dengan tumis jamur yang gurih, polenta panggang, tumis paprika tiga warna dan semacam kuah kental daging yang aroma dan rasanya benar-benar membangkitkan semangat. Professor Verde memberikan kebebasan pada Cozart untuk memesan apa saja yang dia mau, tetapi lelaki berambut merah itu mengatakan sosis dengan polenta saja sudah cukup. Mereka bertiga makan pagi dengan tenang. Lal Mirch melihat sebenarnya Professor Verde tidak sejahat seperti yang dideskripsikan oleh Basil. Hanya butuh beberapa macam obrolan dengan topik yang berbeda, beliau dan Cozart menjadi cepat akrab.

"Kau ini anak yang baik, ya? Seperti keponakan perempuanku di Ukraina." Katanya sambil mengusap helai-helai rambut Cozart dengan penuh wibawa.

"Terima kasih." Balas Cozart beriring senyuman.

Lal Mirch sejenak mengulum garpunya, dan mulai menajamkan insting. Bocah ini mungkin kelihatan polos, tetapi Alaude meminta mereka semua merahasiakan fakta bahwa seluruh anggota CEDEF yang terlibat kasus ini sudah mengetahui bahwa dialah Antonov Rvell yang seharusnya mati delapan tahun yang lalu. Ia tidak kelihatan seperti penderita ADHD, seperti yang tadi katakan. Apa karena usianya sudah lebih dari dua puluh, maka gejalanya sudah jauh teredam? Ia terlihat seperti anak kecil, dengan semangat tinggi dan pengambilan kesimpulan yang terlalu tergesa-gesa, namun cukup lihai. Yang jelas, ia tidak ingin membanting gelasnya seperti Alaude beberapa waktu yang lalu. Ia tidak ingin dipermainkan.

"Nah, anak baik. Ini alamat yang seharusnya kita tuju. Aku mau lihat seberapa handal kau dalam memecahkan masalah."

Cozart Shimon pergi begitu saja ketika Professor Verde memberikannya sebuah notes kecil dan pensil, lalu selembar sepuluh Euro dan secarik kartu. Lal Mirch hendak mengejarnya, namun sang professor linguistik menarik lengannya hingga wanita itu terpelanting kembali ke bangkunya. Ia sempat mengelak kuat, namun Professor Verde menghadangnya.

"Biarkan saja. Aku memberikan alamat apartemen Alaude." Katanya lembut.

"Apa yang Anda lakukan? Bocah brengsek itu adalah saksi kunci—atau mungkin statusnya bisa berganti menjadi tersangka hari ini, detik ini. Bagaimana kita bisa tahu bahwa dia pergi ke apartemen Alaude?" sanggah Lal.

"Dengar, nona manis." Professor Verde menghela nafas. "Aku percaya, anak itu akan datang tepat setelah kau menarik rem tanganmu setelah selesai memarkir mobil. Meskipun aku bukan seorang ahli kinesik, aku bisa melihat apa yang tidak terjangkau di sini." Tambahnya sambil mengetuk lembut dahi Lal, lalu membayar tagihan makan pagi mewah mereka.

Lal Mirch melengos kesal, lalu ia dan Professor Verde melanjutkan perjalanan kembali ke arah Apartemen Alaude. Sebelum bekerja di wilayah kepolisian, Alaude Nuvuola memang berasal dari keluarga yang cukup berada. Tidak heran, ketika mereka memasuki apartemennya, kemewahan semerbak menerjang seluruh indera Lal Mirch. Kemewahan furnitur, dan arsitekturnya lebih berkesan simpel dan minimalis. Sehingga ia merasa ruang duduk di living room section-nya luas sekali bak lapangan tennis.

Di ruang tengah itu, berdiri lusinan pria berjas hitam dengan pandangan defensif yang dingin dan kaku. Dan satu-satunya yang duduk diantara mereka kini mengenakkan setelan jas krem muda. Rambutnya disisir rapi ke belakang, wajahnya kelihatan sangat ramah. Ia berdiri dengan kikuk untuk menyalami Lal Mirch dan Professor Verde .

"Lal Mirch, Verde. Perkenalkan, godfather Devour 76, Constatine Pugliese." Kata Alaude datar dan sekenanya seperti sedang membaca running text.

"Kalau saya boleh tahu, apakah kasus ini menyeret anda juga kemari, Signore Pugliese?" tanya Professor Verde dengan logat daerah Italia Selatan yang khas.

"Non," Constatine tersenyum, lalu menggeleng ramah. "Aku kemari untuk mengembalikan mahkota kepada raja."

"Raja?" Lal Mirch mengangkat sebelah alisnya. "Apakah Anda memutuskan untuk pen..."

Tepat pada saat itu pula, Alaude baru selesai menutup pintu. Sesosok lelaki muda dengan sepasang mata sendu berwarna cokelat bata dengan rambut merah kasar, jaket denim, bleached jeans, kaus putih dan sneaker warna beige muncul dan melangkah masuk dengan polosnya. Matanya membelalak terkejut ketika melihat Constatine Pugliese, lalu seketika ia berlari—menghampiri dan menubruk pria itu. Memeluknya dengan sangat erat sampai akhirnya terdengar isak tangis riuh dari gerombolan mereka.

"Kau hutang penjelasan, bocah bodoh." Rutuk Professor Verde kepada Alaude.

"Singkatnya, ternyata kasus ini melibatkan suatu gembong mafia terbesar skala nasional." Kata Alaude.

Setelah reuni singkat itu dibubarkan, Cozart Shimon duduk berhadapan dengan Alaude di sofa berlengan. Pria Perancis itu berdiri, kadang berjalan mengelilinginya. Constatine Pugliese kelihatan sangat resah, mengkhawatirkan anak itu. Namun, semuanya pasti baik-baik saja, karena Alaude mengusir mereka semua, dan menyisakan mereka berempat—Alaude, Professor Verde, Lal Mirch dan Cozart sendiri.

"Apapun yang terjadi. Hanya boleh ada suaraku dan suara Cozart." Ancam Alaude pada seluruh orang di dalam apartemennya.

Lal Mirch merasa sedikit tidak sabaran, Alaude akan menggunakan kekuatan super yang sudah hampir 12 tahun tidak pernah ia gunakan lagi.

Komunikasi Tingkat Tinggi. Begitu semua orang CEDEF menjulukinya. Kemampuan itu menurut Lal Mirch merupakan indikasi bahwa pria Perancis yang agak cedal ini masih punya hati nurani dan rasa empati yang tidak pernah dia tunjukkan selama ia menjabat sebagai atasannya.

Yang membuat hal ini lebih menarik lagi adalah, Professor Verde duduk di lantai, memangku sebuah laptop dan siap dengan sebuah notepad yang terbuka.

"Cozart Shimon..." Gumam Alaude. "Sekarang pejamkan matamu, dan rileks. Tarik nafas yang dalam dari hidung, lalu hembuskan perlahan lewat mulut. Jangan dibuka, sebab semakin tubuhmu merasa rileks, kau akan semakin aman."

Lal mengerutkan dahi. Ia malah melihat Alaude berusaha menghipnotis Cozart hanya dengan mengitari bangkunya dan berbicara padanya. Anak itu kelihatan tenang, kepalanya menganguk-angguk pelan seperti orang ngantuk. Sampai pada suatu titik keheningan, Alaude menjulurkan tangannya ke arah Cozart.

"Ulurkan tangan kananmu. Raih apapun yang bisa kamu jangkau, karena disanalah titik dimana kau bisa berbicara dengan Tuhan tentang kebenaran. Kebenaran yang membebani hatimu. Kebenaran yang akan melepaskan hak dan tuntutan bagi yang pantas menerimanya."

Cozart mengulurkan tangannya dengan patuh, lalu mencengkrang lengan Alaude dengan sangat erat.

Hening.

"Buka matamu. Biarkan kami mendengar pengakuanmu." Lirih Alaude lagi.

Perlahan, Cozart membuka matanya.

Tidak ada yang berubah.

Ia tetap celingukan, namun tidak banyak bertanya. Ia masih saja mencengkram lengan Alaude dengan sikap defensif, tidak mau lepas sama sekali. Alis tebal Professor Verde bertaut erat, sepertinya dia benar-benar deeply pay attention.

"Siapa namamu?" tanya Alaude lembut.

"Cozart Shimon." Jawab Cozart pendek.

"Apa kau pernah dipanggil dengan nama lain?"

Cozart mengangguk. "Sewaktu aku dijemput pulang oleh keluarga ibu. Saudara tiri ibuku. Mereka orang Jerman, tetapi mereka memberiku nama Antonov. Antonov Rvell. Seperti nama orang Rusia, tapi menurutku itu keren."

"Kau ingat siapa saja mereka? Maksudku, keluarga Rvell."

"Paman Nico, Bibi Marge, Sasha dan Kieren."

"Kau suka tinggal dengan mereka?"

Cozart memanyunkan bibirnya santai. "Biasa saja. Paman Nico sedikit acuh, tapi dia baik. Bibi Marge keras. Sasha adalah wanita jalang. Sementara Kieren hanya anak aneh gendut penggila dunia maya."

"Bagaimana hubunganmu dengan mereka?"

"Kacau. Kami kesulitan berkomunikasi. Di sekolah lamaku kami menggunakan Bahasa Inggris, keluarga Rvell tidak bisa Bahasa Inggris. Kieren bisa sedikit. Jadi aku hanya bisa mengobrol dengan Kieren, meski kadang suka tidak nyambung. Aku tidur satu kamar dengan Kieren. Dia agak aneh, tapi menurutku lumayan seru. Aku sering merasa kesal dan tidak nyaman dengan perilaku mereka. Mereka terlalu mendominasi dan tidak toleran. Aku tidak suka ditundukkan dengan paksa seperti itu. "

"Ceritakan yang lain, Cozart. Bagaimana perilaku pamanmu, misalnya?"

"Paman Nico baik. Hanya saja Bibi Marge agak rewel. Mereka mengelola sebuah perusahan teknologi skala multiregional. Dulu Paman Nico bekerja disana. Lalu atasannya meninggal karena kanker. Dia mencuri beberapa saham besar lalu membiarkan perusahaan itu hancur, kemudian membangunnya kembali. Tapi tidak sepenuhnya, seperti renovasi sebagian pada rumah."

"Lalu, bagaimana dengan Sasha?"

"Dia model. Kecil dengan kontur muka garang yang mudah dipoles. Agak kenes. Ia suka mengencani pria yang lebih tua agar bisa melakukan hubungan seks. Mulutnya kasar dan suka mengumpat. Ratu pesta sejati. Bibi Marge sering memarahinya—agar dia tidak terlalu sering berganti pacar. Setidaknya, Kieren menerjemahkannya begitu untukku. Awalnya aku suka pada Sasha, ingin mencumbunya. Tetapi dia menjijikkan. Alkoholik, temperamen dan manja. Sikapnya tidak seperti perempuan sepantasnya."

"Kieren? Kau dekat sekali dengannya, Cozart?"

"Ya. Dia pengertian. Kami berbagi segalanya. Sampai suatu hari, ia meremas bokongku dan bilang bahwa aku menggemaskan."

Alaude menatap Professor Verde sebentar. Pria itu hanya memberikan instruksi untuk lanjut.

"Dia homoseksual? Kieren itu?"

"Iya." Cozart bergumam pelan. "Homoseks cabul tingkat menengah."

"Kenapa kau bisa berkata begitu?"

"Aku sering memergokinya sedang nonton film porno khusus gay. Ia hanya tersenyum padaku dan kadang mengajakku ikut menonton."

"Lalu?"

"Kieren sangat pengertian. Ia memberikan rasa aman dan kasih sayang seorang kakak. Ia akan membelaku di hadapan Bibi Marge yang mengataiku anak iblis, atau Sasha yang suka mengumpatku dengan sebutan...apa, ya? Anak jadah tuli atau semacam itulah."

"Apa dia tertarik padamu?"

"Iya. Dia tergila-gila padaku." Cozart tertawa kecil. "Aku tahu aku seharusnya menolak. Tapi...entah. Mungkin aku gila. Tapi semua permainan itu menyenangkan... . Dia liar, dan bilang bahwa aku boleh minta lebih seperti tukar pasangan atau semacamnya."

Alaude menghela nafas pelan, lalu mulai lagi.

"Apa yang kau ketahui tentang kehidupan pribadi mereka? Masing-masing keluargamu, yang seharusnya jadi rahasia."

"Nggh..." Cozart menggeliut. "Paman Nico selingkuh dengan seorang pelacur kampung berdada besar. Aku pernah mengintip mereka bercumbu. Saat itu Bibi Marge sedang pergi. Menemani Sasha untuk pemotretan."

"Ada lagi?"

"Paman Nico...entahlah, aku tidak tahu. Dia baik, atau mungkin dia hanya babi dungu penuh nafsu. Ia bercinta dengan pelacur itu berulang kali, dan frekuensinya terlalu sering sehingga Bibi Marge mulai curiga. Bahkan Paman Nico tidak tahu bahwa pelacur itu mengeruk uangnya pelan-pelan setiap kali melayani Paman Nico."

"Bagaimana kau tahu? Saat itu usiamu berapa?"

"14. Siapa yang tak tahu? Bibi Marge mengamuk dan berteriak hingga seluruh penjuru blok mendengar bahwa Paman Nico selingkuh."

Cozart mulai menggeliut lebih sering, dan pegangan tangannya pada lengan Alaude mengendur. Sejurus kemudian, terdengar bunyi dengkur halus dan keheningan masih berlangsung lama. Wajah pria berambut merah itu kelihatan lelah, seperti ia habis menyelesaikan tiga ratus kolom teka-teki silang pada sudut kanan belakang halaman surat kabar. Alaude mengambil selimut dan memberikannya pada Constatine Pugliese. Para anggota Devour 76 mulai tergopoh-gopoh mengurusi godfather muda mereka supaya tidak terbangun. Constatine Pugliese mencium kening Cozart penuh cinta dan menidurkannya di sofa dengan lembut.

Lal Mirch merasa penasaran sekali. Bagaimana bisa ia membuat orang yang sudah bercerita begitu banyak tertidur? Alaude mengacuhkannya selama beberapa saat sampai akhirnya ia menoleh dan melemparkan sekaleng susu coklat berenergi kepada Lal.

"Kalau kau merasa dibodohi oleh Cozart Shimon yang sekarang—kau salah. Saat aku mengetahui kebenarannya bahwa anak itu pengidap ADHD, aku memang harus melakukan ini." Jawabnya santai.

"Sejak kapan kau tahu? Dan melakukan apa?" Lal Mirch membuka kaleng minumannya.

"Semenjak ia meninggalkan Reborn dan memutuskan untuk hilang dari keterlibatannya dengan kasus ini. Anak itu sulit fokus, dan instingnya buruk sekali. Cerita dari Elena Shetterfield yang bilang kalau Cozart itu sering mengamuk tidak bohong. Stabilitas emosinya sudah lebih baik, dan ia bisa dikatakan nyaris sembuh. Mungkin setelah beberapa tahun ia menghilang dari kasus ini, ia menjalani terapi. Atau, bisa yang lebih buruk,"

"Aku tidak bisa membayangkan ada yang lebih buruk dari ini." Keluh Lal Mirch.

"Ada, tentu saja. Selalu ada. Pertama, mungkin dia menjalani rehab atau terapi. Hal ini tidak selamanya ampuh. Kedua, ia menemukan minat hidup yang membuat tujuannya fokus pada satu titik. Ini bisa menjadi titik kesembuhan yang menjanjikan. Yang ketiga, adalah dia menemukan orang yang menjadi tujuan hidupnya. Aku harus menunggu keputusan dari Professor Verde, apakah dia mau melanjutkan dengan caraku atau dengan gayanya sendiri."

"Mengerikan." Lal Mirch bergidik. "Dan kau belum menjawab pertanyaanku tentang apa yang kau lakukan pada Cozart tadi."

"Aku membawanya rileks dan tenang. Mengorek ingatan alam bawah sadarnya. Hal ini tentu saja sulit dan melelahkan. Terkadang kita punya, bukan? Ingatan menyakitkan yang terus berulang-ulang di kepala kita? Memang butuh waktu, namun aku tidak menyangka bahwa Cozart benar-benar masih mengingat detail suatu kejadian itu. Sebenarnya dia adalah anak yang sangat tangguh. Maksudku, itu adalah memori lama yang berusaha kau hapus. Mengingat mungkin kasus ini dapat membuat stabilitas mentalnya hancur, cara ini aku lakukan."

"Hebat." Lal Mirch meneguk minumannya. "Darimana kau belajar hal itu?"

"Seorang Imam Katholik bernama Dino Cavallone. Sesungguhnya, dia itu seorang psikiatris. Lalu pada perjalannya menuju jenjang S3, dia menyadari bahwa semua yang putus asa membutuhkan kekuatan Yang Maha Pengasih untuk menolongnya dari kegelapan. Percayalah, betapapun durhakanya kau denganNya, Ia masih akan mencintaimu, lebih dari cinta kasih kedua orangtuamu."

Lal Mirch tertegun sejenak. Ia merasa Alaude seperti tengah menempun jalan pertaubatan.

"Dino Cavallone itu..."

Alaude mengangguk. "Wakil Kepala Sekolah di Saint Guineford. Ia datang tepat saat Cozart Shimon mendaftar."

"Dunia itu sempit." Lal Mirch meringis. "Satu kasus dingin membawa kita semua ke dalam pusaran masalah. Aku harap kita bisa selesai secepatnya."

"Dan..." Alaude berpikir sejenak. "Setelah ini. Kau harus beli setelan baru. Kita akan menghadapi persidangan yang berat. Maksudku, kau dan Iemitsu."

"Apa maksudmu?"

"Kasus ini berat, dan memaksaku turun tangan. Aku sudah mempersiapkan diri untuk liburan di pantai tropis yang bebas dari gangguan kalian. Mungkin Hongkong atau Phuket. Tapi biro perjalanan wisata menawarkanku Pulau Lombok. Sepertinya menarik. Hadapi persidangan dengan tegar, ya!"

Alaude kembali ke ruang tengah. Lal Mirch hanya meremas kaleng minumannya yang sudah kosong itu hingga penyok. Melampiaskan amarahnya pada atasan sewenang-wenang yang malas dan suka makan gaji buta itu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Wuaaaaaaaaaaaa akhirnya punya kesempatan apdet. Maaf ya readers sekalian, makin kesini makin pendek. Habis, akunya malas #plak. Anyway, aku seneng banget masih banyak readers yang mau RnR di fic ini. Dan maaf juga yang reviewnya nggak pernah dibales. Aku memang nggak pernah bales, males banget #plak. Tapi, kalau ada waktu dan mood yang memungkinkan akan kubales satu-satu lewat PM. Makasih udah ngikutin Lima Syndrome sampe Chapter ini. Terus dukung aku hingga cerita ini the end ya. Ciaooooo :*****