Don't Hold Back

Disclaimer : All Character Harry Potter punya Mommy Jo Rowling

7 bulan 2 minggu masa kehamilan Hermione..

Dua minggu ini kami siswa-siswi Hogwarts tahun terakhir disibukkan dengan ujian N.E.W.T. dan hanya tinggal satu bulan saja sebelum kami di wisuda.

Jadi satu bulan ini kami para siswa tahun terakhir tidak lagi di sibukkan dengan jadwal kelas ataupun tugas-tugas sekolah. Urusan prefek juga tidak terlalu banyak, hanya mengurusi sedikit tentang persiapan pesta perpisahan untuk murid tahun ke tujuh dan patroli biasa saja. Tapi masalah patroli yang biasa ini sempat membuatku jengkel. Granger bersikeras tak ingin pensiun berpatroli padahal usia kandungannya sudah mencapai 7 bulan for Merlin sake.! Tentu saja aku tak kehabisan akal, aku minta sahabatnya berkonspirasi denganku, aku bahkan melapor pada McGonagall untuk membantu membujuknya, dan akhirnya Granger menyetujuinya juga.

Sore ini Granger sedang ada di asrama Gryffindor bercengkrama dengan teman-teman satu asramanya, dia bilang rindu dengan suasana disana. Jadi aku putuskan untuk mengunjungi asramaku, aku juga sudah lama tak mampir kesana.

Setelah melewati pintu masuk asrama Slytherin aku mendapati Pansy dan Theo sedang membaca di sofa depan perapian. Blaise sedang... - aku memutar bola mata - merayu siswi tahun keenam dipojok ruangan. Aku juga melihat Goyle berjalan menuju perapian dengan... - aku memutar bola mata lagi - membawa makanan ditangan kanan dan kirinya.

Goyle yang pertama kali melihatku "Draco" sapanya, lalu duduk di sofa yang bersebrangan dengan Pansy dan Theo.

Pansy dan Theo menoleh, "tumben kau kesini," sindir Pansy. Theo cuma nyengir.

Aku duduk di sebelah Goyle. "kenapa? Ini masih asramaku, aku bisa kesini kapan saja."

"Hey mate, sedang apa kau disini? Kau tidak pacaran, kemana pujaan hatimu?" tanya Blaise duduk disebelahku.

"See?" Kata Pansy, mengejek.

"Kalian hanya iri saja padaku."

"Iri?" balas mereka kompak.

"Makanya kalian cepatlah cari pasangan, agar kalian tau bagaimana surga dunia itu. Jadi kalian tau kebahagiaanku dan tak perlu iri padaku,"

"Silly," aku memicingkan mata pada Pansy.

"Idiot," lalu menatap galak Blaise.

"Pathetic," lalu beralih pada Theo

Buru-buru aku menatap galak Goyle sebelum dia mengataiku, "aku tak bilang apa-apa." katanya, lalu menyuapkan biskuit ke mulutnya.

"Ah sudahlah, malas aku berbicara dengan kalian."

Tak lama setelah aku dan Granger menjalin hubungan, kami mengumumkannya kepada sahabat-sahabat kami, awalnya aku sedikit was-was pada Potter dan Weasley kalau-kalau mereka freak out seperti waktu mereka tau Granger hamil anakku. Tapi tak disangka situasinya justru sebaliknya, mereka dengan santainya bilang, "hanya tinggal waktu saja," bahkan Ginny dan Pansy berkata, "aku heran kenapa kalian butuh waktu lama untuk menyadarinya." Theo juga tak mau kalah dengan bilang, "Dua jenius yang terlalu bodoh." Walaupun aku kesal dengan kata-kata mereka tapi aku senang mereka menerima hubungan kami dengan baik.

Aku melihat majalah yang Pansy pegang, yang ternyata adalah majalah Muggle. Lalu aku lihat setelan yang dikenakannya, aku mendengus, dia bahkan menggunakan pakaian Muggle sekarang. "Kau sangat terlihat seperti Muggle Pans," kataku, mengalihkan pembicaraan. Aku tak mau hanya aku yang diejek.!

"Dia dan si Weaslatte kemarin pergi belanja ke Muggle london, mate." Blaise memberitahu.

"Ya, sayang sekali Hermione sedang hamil tua, kalau tidak dia pasti akan sangat membantu kami disana."

Aku menyeringai, merasa ada angin segar untuk mengejek. "Ngomong-ngomong soal Weaslatte, bagaimana dengan proses pendekatanmu dengan kakaknya Pans?"

"Kau belum tau? Mereka sudah resmi pacaran." Blaise yang menjawab.

Mataku melebar, "Really?" Pansy hanya mengibaskan tangannya, "Wow."

"Mr. Parkinson bahkan sudah mengetahuinya," Theo menimpali.

Mulutku menganga, "bagaimana bisa?"

"Ayah memergoki aku dan Ron saat kami sedang berkencan di Leaky Cauldron seminggu sebelum N.E.W.T" jawab Pansy.

"Tunggu, jadi kau sudah lama berpacaran dengannya?" Pansy mengangguk, "Tapi aku tidak pernah mendengar beritanya ataupun melihat kalian berpacaran, Granger juga tidak memberitahuku"

"Karena kau terlalu sibuk mengurusi wanitamu yang sedang hamil, lagipula aku tidak seperti kau yang mengumbar kemesraan seperti orang yang baru jatuh cinta, silly." sindir Pansy, menekankan kata terakhir.

Aku berdecak, "kau dulu suka pamer waktu denganku."

"I am grow up Mr. Malfoy."

Aku mengibaskan tangan, tapi kemudian aku menyeringai, "aku tidak menyangka aku bisa melihat hari dimana Pansy Parkinson bersanding dengan Ronald Weasley."

Pansy, Theo, Blaise mendengus. Goyle tidak beralih dari cemilannya meski dia mendengarkan percakapan kami.

"Sama seperti kau." Kata Blaise.

"Tidak berkaca dia," Theo lagi-lagi menimpali.

"Well, meskipun Ron BloodTraitor paling tidak dia seorang Pureblood apalagi dia pahlawan perang." Jawab Pansy santai. Aku langsung menatapnya galak dan memicingkan mata, "Itu kata ayahku," Pansy menyeringai.

"Candaanmu tidak lucu Pans." kataku sedikit kesal.

"Kau kan tau aku sudah tidak peduli dengan hal-hal seperti itu,"

"Jadi ayahmu setuju then?" Tanyaku, melupakan candaannya.

Pansy mengangguk, "Setelah memergoki kami, ayah menyuruhku pulang, meminta penjelasan. Lalu meminta Ron datang ke rumahku. Weekend kemarin kami baru kesana, ayah meminta kami segera menikah setelah lulus dari Hogwarts."

"What?!" Jawab kami kompak.

"Kau tidak memberitahuku soal ini Pans?" Kata Blaise.

"Aku memang baru akan memberitahu kalian hari ini."

"Aku cukup terkejut dengan perubahan Mr. Parkinson, karena dia salah satu orang yang prejudice-nya kuat seperti ayahku dan Draco." Kata Theo.

Pansy mengangguk, "Ya, aku juga sempat berpikir begitu. Mungkin ayah merasa bersalah padaku karena dulu memaksaku ikut berperang dan hampir mati."

"Mungkin dunia sudah berubah banyak sehingga bisa lebih bersahabat." Tambah Blaise.

"Aku harap begitu." kataku sungguh-sungguh.

"Lalu bagaimana denganmu dan Granger? Kau harus segera katakan pada orangtua mu mate," usul Blaise.

"Kau harus mencobanya, mungkin ayahmu juga akan sama seperti ayahku, apalagi Hermione membawa penerus Malfoy." kata Pansy.

"Lebih baik kau katakan pada orangtuamu sebelum kau keluar dari sini. Jika nanti terjadi hal yang tidak diharapkan, paling tidak kalian masih aman disini. Granger dan bayimu akan aman dalam pengawasan Dumbledore." Theo menjelaskan.

"Kalian benar, aku akan diskusikan ini dengan Granger segera."

"Draco," panggil Goyle setelah menghabiskan cemilannya.

"Ya Greg?"

"Kenapa kau masih memanggilnya Granger?" Tanya Goyle tiba-tiba.

"Aku juga heran, kalian sudah berpacaran tapi aku lihat kalian masih memanggil nama belakang." kata Theo

Aku tersenyum, "aku suka dengan namanya, anggap saja panggilan sayang." Mereka memutar bola mata, "aku akan merubah nama panggilannya jika dia sudah menjadi seorang Malfoy, aku rasa Granger juga berpikiran sama denganku."

"Silly,"

"Idiot,"

"Pathetic"

"Kau sudah parah mate," kata Goyle menepuk pundakku, yang berhasil membuat gelak tawa orang-orang yang mendengarnya.

Sial.

.

Satu setengah jam sebelum jadwal patroli, aku dan Granger bercengkrama di depan perapian ruang rekreasi setelah kami mendiskusikan tentang persiapan pesta perpisahaan murid tahun ke tujuh yang akan kami serahkan sepenuhnya pada prefek dibawah angkatan kami.

Granger berbaring di sofa membaca buku, kepalanya berada dipangkuanku, aku sedang mengelus-elus perut dan rambutnya.

Aku putuskan saat ini adalah waktu yang tepat untuk mendiskusikan masalah orangtua ku dengannya.

"Granger," panggilku.

"Mmm.." jawabnya, tak mengalihkan perhatiannya dari buku yang tengah ia baca.

"Aku ingin mendiskusikan sesuatu yang penting denganmu"

"Tentang apa?"

"Orangtua ku,"

Granger meletakkan pembatas buku pada halaman terakhir yang dia baca, lalu menutup buku dan mendekapnya di dada.

'Duk'

"Putraku menendang Granger, tepat di bawah telapak tanganku." Ucapku antusias, walaupun ini bukan kali pertama, entah mengapa aku selalu gembira tiap kali ini terjadi.

Granger tersenyum, "Ya. Mungkin putramu ingin mengucapkan selamat malam padamu."

"Night son. Daddy here, sleep well" sapaku pada si jabang bayi, sambil mengelus-elus perut Granger, senyum tak lepas dari bibirku.

'Duk'

"Ah.!" Granger sedikit menjerit dan memukul lenganku, "Sorry, it was reflex."

"That's fine. Pasti kali ini tendangannya sangat keras. Kau kesakitan kan? Apa ini masih normal?"

"Ini masih normal," jawabnya seperti ingin menenangkanku.

"Lalu apa yang bisa aku bantu untuk mengurangi rasa sakitnya?"

"Mmm.. tetaplah disisiku."

Aku mengecupnya, "Itu pasti, kau tidak perlu memintaku."

Lalu dia bangkit dari pangkuanku, aku membantunya duduk dan bersandar pada pundakku. Aku memeluknya dari belakang.

"Kau ingin mengatakan pada orangtuamu tentang kita?"

"Ya, jika kau tidak keberatan, aku akan mengatakan pada mereka segera, sebelum kita meninggalkan Hogwarts."

"Baiklah, jika kau siap, akupun siap, harus. Kapan rencananya, kita akan mengatakannya sama-sama"

Aku menggeleng, "Tidak. Kau tidak ikut, aku saja yang menjelaskan pada mereka sendiri."

"Tapi.."

"Tidak. Aku takut mereka melakukan hal buruk padamu, jadi biarkan aku sendiri. Kau jangan khawatir, mereka tidak akan terlalu membahayakanku. Jika mereka menghukumku aku yakin aku sanggup menanganinya tapi aku tak akan sanggup bertahan jika kau dalam bahaya. Percayalah padaku." Kataku, meyakinkannya.

Granger berpikir sesaat lalu mengangguk, "baiklah jika itu mau mu, tapi kau tetap harus hati-hati, kembali dengan selamat." Aku mengangguk, mengecup pelipisnya. "Lalu bagaimana jika orangtua mu tidak menerima berita ini dengan baik, Apa yang harus kita lakukan?"

"Well, sebenarnya aku sudah memikirkan kemungkinan terburuk itu ketika aku mengetahui bahwa kau hamil, terlebih lagi ketika kita mulai menjalin hubungan."

"Seperti?"

"Misalnya jika mereka tidak menyutujui hubungan kita dan tidak mengakuiku lagi sebagai anak mereka. Tetapi yang penting bagiku adalah mereka tidak berbuat macam-macam terhadap kita dan bayi kita." Kataku, menjelaskan.

"Kau benar, bagaimana jika mereka bertindak seperti itu?"

"Untuk itu kita harus mengatakan kepada mereka sebelum kita lulus, kita bisa pantau reaksi mereka agar kita bisa menentukan langkah kita selanjutnya."

"Lalu bagaimana jika kau dikeluarkan dari ahli waris mereka?"

"Aku tidak peduli, selama mereka tidak membahayakan kita, aku akan tetap bersamamu dan anak kita. Untuk itu kita butuh rencana. Dimana kita akan tinggal? Bagaimana kita akan mengurus bayi dan pekerjaan kita?"

"Aku bisa menggunakan tabungan hasil kerja part time ku untuk mencukupi kebutuhan kita beberapa bulan pertama."

"Tidak. Kita tidak akan punya masalah dengan uang. Aku bisa menggunakan uangku di account pribadiku di Gringotts meski aku dikeluarkan dari ahli waris Malfoy, karena account ini dibuat kakekku dari keluarga Black khusus untukku semenjak aku lahir."

"Okey, aku tak ragu disana banyak uangnya."

"Yeah. Kita aman untuk masalah yang satu itu. Yang harus kita khawatirkan adalah situasi kehidupan kita."

"Well, kita bisa menyewa tempat sementara waktu. Kita tidak perlu tinggal di apartment atau rumah yang mewah." Usulnya.

Aku mengernyitkan, seperti baru saja meminum jus labu basi. "Ugh. Fine."

"Lalu tentang pekerjaan?" tanyanya, mengabaikan reaksiku.

"Aku mengambil intern-ship di kementrian sihir."

"Dan aku mengambil kelas dan training di St Mungo."

Kami duduk terdiam sejenak, berpikir.

"Intern-ship ku hanya dari pagi hingga siang saja. Jika mereka memberiku tugas, aku bisa mengerjakannya di rumah."

"Okey, jadi siang hari kita aman."

"Paginya?"

Dia menggigiti bibirnya. "Hmm... karena aku mengambil kelas dan training di St Mungo, aku bisa membawa bayiku dan menitipkannya di bagian anak. Dan ketika aku sedang breaks aku bisa mengecek anak kita, pasti akan baik-baik saja." katanya meyakinkanku.

Aku mengangguk. "Okey, jadi saat ini kita sudah menemukan jalan untuk beberapa hal yang mendasar."

"Yeah, that's good," dia setuju.

"Tapi bagaimana jika keadaannya tidak baik-baik saja? Maksudku, jika mereka tidak hanya mengusirku dari keluarga tapi juga membahayakan dirimu dan bayi kita. Itu adalah hal yang paling aku takutkan."

"Then we'll deal with them."

"If there are any problems? Maksudku, Jika itu terlalu berbahaya bagaimana?"

"Aku tak tau denganmu tapi aku akan membawa bayiku keluar negeri atau kemanapun tempat yang tidak bisa diketahui orangtua mu, jika mereka akan membahayakan anakku."

"Kau benar. Aku pun akan ikut kemanapun kau akan pergi. Kau tidak boleh pergi tanpa aku."

Sesaat kami saling menatap, lalu kami mengangguk, meyakinkan satu sama lain.

.

Pagi-pagi sekali aku mengirimkan surat kepada orangtua ku bahwa malam ini aku akan pulang ke rumah dan ingin menyampaikan suatu hal yang penting pada mereka.

Setelah itu aku datang ke kantor Dumbledore meminta izin untuk pulang, aku juga menjelaskan padanya maksud dari kunjunganku ke rumah. Sebenarnya aku sedikit heran pada penyihir tua yang satu ini, karena sepertinya dia antusias sekali dengan rencana kami dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Aku tidak tau bagaimana dia begitu yakin seperti itu, tapi jauh dilubuk hatiku, aku berharap bahwa apa yang dikatakannya benar bahwa aku dan Granger tak akan mendapat masalah yang berarti saat menghadapi orangtuaku.


A/n : dua chapter terakhir ini ngerasa kurang maksimal deh bikinnya, karena memaksakan diri untuk beresin chap ini, jadi ngerasa hasilnya kurang memuaskan, pasti yang baca juga tau deh kalo kualitas tulisan saya menurun dari chap sebelum-sebelumnya, iya ga sih?

Deauliaas : makasih masukannya, emang saya agak bingung mau nerapin eyd apa jeda baca hahaha. ok, di usahain chap selanjutnya saya perhatiin eydnya, makasih banget loh ilmunya.

Staecia : abis gimana donk udah bawaan lahir moodyan gini, ini aja maksain banget bikin chap ini kekekeke