Stomachache 10

ChanBaek

T

BGM : EXO - Unfair (Wajib sewajib-wajibnya! :D)

.

.

.

Ini sudah hampir seminggu Baekhyun tidak menghubungi Chanyeol, ponselnya yang hampir setiap menit berdering ia abaikan dan malah memegangi kedua pipinya memerah saat 'Future Husband' tertera secara berulang-ulang dilayar ponselnya.

Berkali-kali Baekhyun meminta Yeri mengangkat panggilan dari Chanyeol dan meminta gadis manis itu mengatakan pada Chanyeol kalau Baekhyun sedang sibuk. Namun, bermimpilah Yeri akan berbaik hati menuruti kemauan Baekhyun. Gadis itu malah tertawa girang dan mengatakan pada Chanyeol 'Kau tahu Oppa, Baekkie Oppa kini wajahnya sangat merah. Ia malu padamu makanya ia tidak ingin mengangkat teleponnya' dan saat itu juga Baekhyun langsung memekik keras hingga suara tawa Chanyeol terdengar dari sebrang sana. Memang sudah berkali-kali, tapi Baekhyun tetap mengulanginya dengan meminta Yeri mengangkat teleponnya.

Seperti hari-hari sebelumnya dimana Baekhyun akan menghampiri Yeri kapanpun ia menginginkan, kini pun demikian. Ia tengah berlari sangat buru-buru, bahkan nekat menaiki tangga daripada lift ketika Yeri memekik keras diteleponnya dan meminta Baekhyun untuk cepat-cepat kekamarnya.

"Ada apa? Kau baik-baik saja? Tidak ada yang salah denganmu kan? Kau tidak terluka kan? Kau ke-"

"Jangan mengoceh terus Oppa! Aku tidak apa-apa!"

Baekhyun menghela nafasnya lega mengetahui keadaan Yeri, ia hampiri anak itu dan tersenyum walau nafasnya masih terengah-engah setelah menaiki tangga dari lantai 3 menuju lantai 7.

"Kenapa kau memintaku menemuimu?"

"Ah, aku punya kejutan untukmu!"

"Apa?"

Yeri menyeringai dan Baekhyun langsung mengikuti arah pandang anak itu. Matanya membelalak menyaksikan bagaimana kekas- ah maksudnya Park Chanyeol tengah tersenyum sangat tampan bersama Wu Yifan disebelahnya. Yeri yang menyadari keterkejutan Baekhyun tertawa menang didalam hati, ia raih remote televisinya dan membesarkan volume-nya.

"Kudengar dari beberapa pihak, belakangan ini banyak yang melihat kalau kau menghabiskan waktu dengan keksih barumu? Apakah benar?"

"Ah itu...tidak juga, kenyataannya dia belum menjadi kekasihku"

"Tapi kau dan dia bahkan sudah mempunyai panggilan sayang Park!"

Wu Yifan yang baru saja menyela ucapan Chanyeol tertawa, diikuti Chanyeol yang juga tertawa mendengar seniornya terus-terusan menggodanya.

"Apa Chef Wu juga mengenal kekasih Park Chanyeol?"

"Apa aku boleh mengatakannya?"

"Oh, apakah kalian berdua merahasiakan ini dari publik?"

"Hmm, sebenarnya iya. Tapi...Chef Wu mengenalnya, bahkan sangat dekat"

Kedua lelaki tinggi itu saling bersalaman, tertawa setelahnya yang mau tak mau membuat wanita pembawa acara itu juga ikut tertawa mendengar jawaban dari bintang tamunya.

"Kau ribut-ribut memintaku kesini hanya untuk memberitahukan acara itu."

"Hn. Aku tahu kau merindukan Chef Park. Dan Oh, apa yang orang yang Chef Park Maksud adalah dirimu?"

"Tidak-tidak! Orang itu bukan aku!"

"Ah, sayang sekali. Serius kau tidak merindukannya?"

Baekhyun merasa ia mendadak linglung mendengar pertanyaan Yeri. Jangan tanyakan Baekhyun apa ia merindukan Chanyeol atau tidak karena sudah pasti jawababbya adalah IYA!

Baru saja ia hendak memarahi Yeri karena gadis kecil itu terlalu mencampuri urusan orang dewasa, namun perhatiannya kembali teralihkan pada televisi besar yang masih menampilkan wajah tampan pujaan hatinya.

"Kudengar Chef Wu dan Chef Park akan membintangi sebuah acara memasak diluar negeri?"

"Ah itu, rencananya memang seperti itu. Tapi itu masih rencana, karena Chef tampan yang baru menemukan belahan jiwanya ini belum menkonfirmasi"

"Yayaya, hyung apa maksudmu?"

Chanyeol tertawa malu-malu dengan tangan menyikut perut Yifan, keduanya kembali tertawa bersama dengan para penonton yang hadir distudio.

"Aku sudah memutuskan untuk mengikuti acara itu bersama Yifan hyung."

"Bisa berikan bocoran sedikit mengenai acaranya?"

"Jadi begini...Hyung atau aku yang menjelaskan?"

"Kau saja, jika yang menjelaskan yang lebih muda pasti lebih menarik"

Dengan sedikit cibiran Yifan kembali tertawa, ah bayangkan betapa menyenangkannya siaran kali itu karena kedua bintang tamu itu terus-terusan membangun suasana yang menyenangkan distudio.

"Aku akan membocorkan sedikit saja. Judul acaranya ''Food Traveling with Chef Park and Wu'. Ini adalah acara memasak pertama kami yang dilakulan dibeberapa negara, kalian akan mengetahui banyak kegiatan yang biasa dilakukan oleh Yifan hyung dan juga aku tentu saja"

"Tunggu, beberapa negara?"

"Ne, Amerika, Belanda dan Prancis"

"Kapan kalian akan memulai shooting?"

"Rencananya Lusa, setelah kami mengadakan pressconference di restoran Park Chanyeol"

Yeri membuka matanya lebar-lebar mendengar percakapan ditelevisi, mengedip beberapa kali masih tak percaya kalau Chef Park akan pergi keluar negeri yang mana artinya, Baekhyun akan...ditinggal.

"K-kau baik-baik saja Oppa?"

"N-ne, memangnya aku kenapa?"

"Kau tidak akan menemui Park Chanyeol dulu? Memang acaranya pasti hanya akan ada 7 atau 8 episode, tapi aku tidak yakin kalau Shootingnya hanya akan berjalan seminggu. Jadi kupikir daripada kau menyesal tidak menemui Chef Park untuk waktu yang sangat lama lebih baik kau me-"

"Tidak mau!"

"Kau tahu? Shooting seperti itu bisanya paling singkat berlangsung selama 6 minggu, itu paling singkat. Tapi ini acara memasak, banyak hal-hal yang harus dipersiapkan. Dan menurutku pasti Chef Park akan meninggalkanmu sekitar..."

Yeri menimang, menggerak-gerakan jarinya seolah tengah menghitung yang dihadiahi tatapan bingung dari lelaki manis disisinya. Jujur, ssttt bahkan Yeri sendiri tak tahu apa yang ia bicarakan adalah benar atau tidak. Ia tidak tahu apakah variety show akan melakukan shooting selama itu wkwk.

"... 3 atau 4 bulan. Kau mau ditinggal Chef Park selama itu? Dia pasti akan bermain-main dengan para gadis cantik diluar negeri. Kudengar wanita di benua Eropa itu sangat manis dan cantik, mereka memiliki kepribadian lembut yang pasti disukai para lelaki. Kau tidak takut Chef Park malah jatuh cinta pada gadis-gadis itu?"

"T-tutup mulutmu! Lagipula apa peduliku? Aku tidak peduli kalau Chan-"

"Tidak peduli tapi kau mau dicium olehnya-_-"

Yeri mencibir, mematikan televisinya karena acara yang menampilkan Park Chanyeol baru saja selesai. Dapat ia rasakan aura membunuh yang berasal dari sisi kirinya, siapa lagi kalau bukan Baekhyun?

Sejak insiden dimana Yeri mendapati video dimana dirinya dan juga Chanyeol tengah berciuman, Yeri tak henti-hentinya menggodanya. Memang anak itu tidak memberitahukan perihal tersebut kepada Mama Byun, Baekhyun sedikit bersyukur mengenai itu. Namun, perbuatan Yeri yang terus-terusan menggodanya membuatnya malu hingga ia pun malah mengabaikan Park Chanyeol.

"Aku mau kembali ke-"

"Ponselmu berbunyi lagi! Chanyeollie~ Baekkie merindukanmu~ Ayo kita berte-"

"YAK! Hentikan ucapanmu Yeri!"

"Ck, dasar menyebalkan!"

"Ini angkat! Katakan padanya kalau aku sedang ke toilet!"

Yeri kembali menggerutu, menyambar dengan sangat kasar ponsel yang disodorkan oleh Baekhyun sebelum ia menggeser ikon hijau yang ada diponsel milik lelaki manis yang sialnya dicintai Park Chanyeol.

"Ne Chef, maaf karena aku lagi yang mengangkat teleponnya"

"..."

"Speaker-nya Yeri!"

"Berisik!"

Dengan sangat kesal Yeri menekan gambar speaker diponsel Baekhyun, langsung membanting ponsel hitam itu keatas ranjangnya yang langsung dihadiahi tatapan tak suka dari si pemilik.

Tentu saja, Baekhyun tak mau sampai ponselnya rusak dan menghapus semua chat dan juga foto-fotonya bersama Chanyeol. Awas saja kalau itu terjadi, Yeri adalah satu-satunya tersangka yang akan Baekhyun jebloskan ke neraka nanti.

"Jadi, kemana lagi anak itu?"

"Baekhyun Oppa sebenarnya ada disebelahku, tapi ia memintaku mengatakan padamu kalau ia sed-amphthh! Jangan menutupi mulutku Oppa!"

"Dia baru saja menutup mulutmu sayang?"

"Ne~ Baekhyun jahat sekali padaku...ia terus memarahiku dan juga kasar padaku~"

"Hentikan omong kosongmu Yeri!"

"Apa Baekhyun masih disana?"

"Hn, dia baru selesai menonton acaramu barusan"

Disebrang sana Chanyeol tersenyum, membayangkan bagaimana manisnya wajah Baekhyun membuatnya semakin merindukan anak itu. Sudah berkali-kali Chanyeol mencoba menghubungi anak itu, bahkan sampai menghampirinya kerumah dan juga tempat kerjanya, namun hasilnya nihil Baekhyun tetap bersembunyi darinya walau ia tahu lelaki manis itu terus memperhatikannya dari tempatnya bersembunyi.

"Apa Baekkie sudah makan siang?"

"Akan aku tanyakan. Oppa, kau sudah makan siang belum?"

Baekhyun mengangguk, membuat Yeri cepat-cepat mengabari Chanyeol. Sebenarnya Yeri pusing dengan kelakuan Baekhyun, apa susahnya menjawab telepon Chanyeol. Kalau ia merona malu Chanyeol juga tak akan mengetahuinya kan?

"Baekkie? Aku merindukanmu!"

"Wajah Baekhyun Oppa memerah! Senyumnya aneh sekali"

"Yak! Jangan beritahu dia Yeri!"

"Ck, Chef Park juga sudah mengetahui keberadaanmu bodoh!"

"Katakan pada Baekkie aku mencintainya. Ng, maaf aku harus pergi sekarang. Ada beberapa pekerjaan."

"Ne. Baekkie Oppa juga mencintaimu Chef"

tuuuuuuttt

"Aku tidak mengatakan aku juga mencintai Park Chanyeol!"

"Pergilah! Aku mengantuk Oppa!"

"Yak! Setelah kau mempermalukanku?"

"Ckck, kembalilah saat pekerjaanmu sudah selesai!"

Baekhyun berdecak, mengambil ponselnya dengan kasar dan mengutuk Yeri sesuka hatinya sebelum ia melangkah pergi dan membanting pintu kamar anak itu dengan keras. Menimbulkan tatapan bingung dari seorang perawat yang kebetulan ada dilorong. Baekhyun menunduk minta maaf, sebelum akhirnya ia berlari sambil memegangi pipinya yang memerah mengingat ucapan Park Chanyeol.

Didalam kamarnya Yeri bersorak dengan sangat kencang, tidak sama sekali memejamkan matanya seperti yang ia bilang kalau ia mengantuk. Cepat-cepat ia mengambil ponselnya, mengetik pesan dengan sangat cepat kepada Park Chanyeol dan mengatakan pada lelaki tampan itu kalau ia berhasil membuat wajah Baekhyun memerah, semerah buah tomat.

.

.

.

"Aku sepakat dengan Luhan dan juga Eomma kalau aku akan menikan setelah kau menikah!"

Chanyeol yang tengah bersantai disalah satu kursi yang ada direstorannya setelah rasa lelah yang menyelimutinya sejak acara TalkShow tadi membelalakan matanya. Dihadapannya, Sehun, Eomma-nya dan juga Luhan tengah memperhatikannya dengan seksama. Terlebih Eomma-nya, wanita itu menyeringai dan bergumam 'Dr. Byun' tanpa suara, yang mana membuat Chanyeol makin terkejut ditas keterkejuatannya karena ucapan Sehun sebelumnya.

"Kenapa begitu? Kau bahkan bisa menikah besok kalau kau mau!"

"Tidak. Aku akan membiarkanmu dan Dokter muda itu menikah terlebih dahulu, baru setelahnya aku dan juga Lu-"

"Aku belum akan menikah!"

"Bukannya kau dan juga Dokter Byun bahkan sudah merencanakan bulan madu kalian?"

Kali ini Eomma-nya, kembali membuat Chanyeol tersedak minumannya sendiri. Bagaimana Eomma-nya bisa tahu kalau ia dan juga Baekhyun bahkan sudah merencanakan bulan madu mereka? Padahal menjadi sepasang kekasih saja belum, tapi mereka sudah merencanakan sejauh itu. Payah.

"Eomma mendengar percakapan kalian ketika malam itu Dokter Byun main kerumah. Kau dan juga Baekhyun berencana menghabiskan bulan pertama honeymoon kalian di Paris kan?"

"E-eomma!"

"Ah, apa eomma benar?"

"Lupakan saja! Bahkan sampai saat ini dia belum mau menjadi kekasihku"

Ada niat ingin tertawa sebenarnya, baik didalam hati Eomma Park dan juga Sehun tentu saja. Kedua kalinya Park Chanyeol menceritakan kepada mereka bahwa orang yang ia sukai tidak membalas perasaannya.

Mungkin kalau ini 10 tahun yang lalu Eomma Park dan juga Sehun akan mentertawakan Chanyeol sampai mereka kehabisan tenaga untuk tertawa. Namun sekarang situasinya berbeda, Chanyeol sudah tidak bisa dibilang muda lagi untuk ditertawakan walau anak itu tetap saja terlihat Laughable.

"Harusnya kau berusaha hyung!"

"Aku sudah, dan dia hanya tersenyum dan mengatakan 'aku sudah tahu' atau 'tunggu, Baekkie belum siap'. Arghh, aku kehabisan kesabaran"

"Kau tahu, aku setuju dengan Dokter itu. Kalian baru saja saling mengenal dan kau sudah bertingkah seolah kalian sudah saling mengenal sejak kehidupan sebelum ini"

"Sehunna, jangan berbicara seperti itu. Kau juga dulu begitu padaku!"

"L-luhan!"

Kali ini Chanyeol yang menahan tawanya, tak menyangka kalau sikap adiknya yang sok cool itu ternyata tak berbeda jauh dengannya.

Ia tersenyum menyaksikan perdebatan kecil yang dilakukan pasangan didepannya, merasa terhibur akan pertengkaran menggemaskan yang sudah pasti dimenangkan oleh Luhan karena pastinya Sehun akan mengalah pada kekasihnya.

Cara merajuk Luhan mengingatkannya pada Baekhyun, senyumnya mengembang dan ia lirik ponselnya yang masih menggunakan foto menggemaskan Baekhyun sebagai wallpaper-nya.

"Berusahalah kalau kau benar-benar mencintai Dokter Byun. Eomma, Sehunnie, Luhannie dan juga teman-temanmu akan selalu mendukungmu. Jangan takut Baekhyun menolakmu, karena apa? Karena kau adalah Park Chanyeol, kau anak Eomma, dan tidak akan ada satupun orang yang menyia-nyiakan anak tampan sepertimu. Termasuk Baekhyun sekalipun, Eomma sangat yakin itu"

"Terimakasih Eomma, Aku akan berusaha sampai aku mendapatkan apa yang aku inginkan"

.

.

.

"Yeri?"

"Ne Chef?"

"Baekkie masih disisimu?"

"Tentu, dia mendengarkan dan hampir menangis ketika mengetahui kau akan pergi"

"Benarkah? Baekkie sayang? Ohiya, aku...Maafkan aku, waktu itu aku benar-benar tidak bermaksud untuk mencium-mu sampai seperti itu. Aku sung-"

"Apa ini pembicaraan dewasa? Apa aku harus pergi dan membiarkan kalian berdua bicara?"

Baekhyun membelalakan mata sebulat-bulatnya, bibirnya berucap 'Diam' dengan gesture tangan memerintah yang hanya dihadiahi tatapan jengah oleh anak manis yang kini masih bertelungkup diranjangnya.

"Hmm, sebenarnya ada beberapa hal yang ingin kusampaikan pada Baekkie...hanya...berdua"

"Baiklah, aku tahu kalau ini pasti pembicaraan dewasa"

"Maafkan aku Yeri sayang, aku akan mentraktirmu setelah ini"

"Aku menunggu. Aku akan kekantin saja sekarang"

"J-jangan tinggalkan aku!"

"Ck, bicaralah terus terang pada Chanyeol Oppa kalau kau merindukannya! Aku pergi!"

Baekhyun mempout, Yeri benar-benar meninggalkannya sendirian bersama ponselnya yang terhubung dengan Chanyeol. Ia ingin kabur, ingin pulang saja karena jam kerja-nya pun sudah habis. Ia tidak mau pipinya merona karena mendengar rayuan-rayuan Chanyeol untuknya. Ia malu, bahkan insiden ciuman diladang bunga itu masih membuatnya terus merona ketika mengingatnya.

"Baekkie?"

"..."

"Aku tahu kau masih disana. Aku tahu kau tidak akan meninggalkanku"

"..."

"..."

Keduanya terdiam cukup lama, tak ada kata-mata romantis terlontar dari mulut Chanyeol padahal Baekhyun mengharapkannya. Baekhyun pun demikian, Chanyeol menunggunya berbicara, merindukan suara menggemaskan milik lelaki manis itu menyapa pendengarannya.

"Aku...aku akan pergi untuk memulai shooting lusa. Dan besok pagi aku ada press conference direstoranku. Kuharap kau bisa datang"

"..."

"Hanya 6 bulan, tidak lama kan? Kau...tidak akan kesepian kalau aku tinggal selama itu?"

Baekhyun tertegun, menutup mulutnya dengan telapak tangannya karena tak ingin suara terkejutnya terdengar oleh Chanyeol.

Tunggu, selama itu? Hanya untuk acara dengan 7 atau 8 episode Chanyeol akan meninggalkannya selama itu? Tentu saja Baekhyun tidak terima kalau ditinggal selama itu, walau ia masih menggantung perasaan Chanyeol ia tidak ingin lama-lama berpisah dengan lelaki tampan itu. Apapun alasannya!

"Kuharap kita bisa menghabiskan waktu bersama sebelum aku berangkat. Tapi kau sepertinya masih marah padaku karena aku menciummu waktu itu? Maafkan aku, aku sungguh tak bermaksud melakukan itu padamu, hanya saja waktu itu...aku benar-benar ingin menciummu. Maafkan aku"

"..."

Baekhyun merasa sedih, ia merasa bersalah karena membuat Chanyeol merasa bersalah padanya. Ia tidak bermaksud mengabaikan lelaki itu, ia hanya malu dan belum siap kalau lelaki tampan yang gemar memasak itu mengetahui kalau Baekhyun tak bisa tidur nyenyak selama berhari-hari karena terbayang-bayang dengan ciuman yang mereka lakukan.

"Aku hanya ingin bilang...Tunggu aku, aku akan kembali secepat yang aku bisa. Aku sangat berharap kau akan menungguku dan kita bisa benar-benar terikat oleh suatu hubungan setelah kepulanganku nanti. Kumohon, jangan menolakku lagi Baek, aku bisa menyerah kalau kau menolakku lagi. Ah, dan satu lagi. Jangan coba dekati lelaki lain, karena kalau sampai aku mendapatimu berkencan dengan lelaki lain, aku bersumpah akan loncat dari atas menara eiffel!"

"..."

Sungguh, Baekhyun tertawa mendengar kalimat terakhir Chanyeol. Ia hapus air mata harunya dengan senyum mengembang, tak tahan dengan sikap menggelikan Chanyeol yang selalu membuatnya merasa senang.

"Sudah malam, kau belum pulang? Kau ingin kujemput atau tidak?"

"..."

"Ah sepertinya tidak. Sekali lagi maafkan aku, hati-hati dijalan! Kalau ada apa-apa cepat-cepat hubungi aku! Aku mencintaimu!"

"..."

"Jangan lupa mimpikan aku ketika kau tidur. Selamat malam sayang"

"..."

Tuuutuut

"Selamat malam...Sayang! Aku juga mencintaimu, sangat!"

.

.

.

Mata Baekhyun terbuka secara perlahan ketika tepukan dibabunya terasa menusuk dan menyakitkan. Ia gosokan punggung tangannya dengan lembut diarea sekitar matanya, ia masih mengantuk dan siapa orang yang berani mengganggu tidurnya dipagi hari yang in- tunggu ini sudah siang!

"Kamar Yeri?"

"Ne, kau tidur dirumah sakit dan membuat Mama khawatir!"

"Rumah sakit?"

Baekhyun mengedarkan pandangannya, melirik tangannya yang masih memegangi ponselnya. Ia baru ingat, setelah teleponnya terputus dengan Chanyeol ia merasa mengantuk, namun ia tidak sadar kalau ia malah tertidur diatas kursi dengan kepalanya yang tenggelam diatas ranjang Yeri.

"Press Conference Chef Wu dan Chanyeol Oppa akan dumulai sebentar lagi!"

Yeri memekik tiba-tiba dan mau tak mau membuat Mama Byun dan juga Baekhyun mengikuti arah pandang gadis manis itu. Baekhyun bersumpah, Chanyeol yang ada didalam televisi sangatlah tampan dengan setelan Jas berwarna abu-abu, sama dengan yang digunakan sepupunya Yifan.

"Ini Live?"

"Tentu saja!"

Baekhyun hanya mengangguk mengerti ketika Yeri menjawabinya dengan tegas. Ia menggaruk tengkuknya sejenak, membiarkan Mama-nya duduk dikursinya dan ia malah melangkah pergi karena ingin buang air kecil sekalian membasuh mukanya.

"Aku akan kekamar mandi dan absen sebentar, sekalian memeriksa jadwal operasi"

"Ne, tak usah kembali juga tak apa! Aku disini saja bersama Mama cukup!"

"Terserah!"

Dengan sangat kesal Baekhyun berlari meninggalkan kamar Yeri, membuat nafasnya terengah-engah dan akhirnya ia memilih berjongkok didalam lift karena kelelahan. Ia meraih ponselnya, mengecek sebuah pesan masuk dari Park Chanyeol yang membuat senyumnya mengembang secara tiba-tiba.

Future Husband

Selamat pagi sayangku~

Jangan lupa sarapan sebelum memulai pekerjaanmu!

Aku mencintaimu! :*

"Aku juga sangat sangat mencintaimu Yeollie!"

Ting.

Lift-nya terbuka dan Baekhyun kembali berlari keruangannya, mampir sejenak keruang Staff karena ia harus absen kehadiran. Senyumnya mengembang dan ketika ia sampai diruangannya, tanpa banyak bicara ia langsung mandi, mengganti pakaian dan juga jas putih kebanggannya dengan yang masih bersih.

"Noona"

Baekhyun yang baru saja keluar dari ruangannya tak sengaja bertemu dengan Jina, si suster senior yang sudah ia anggap sebagai Noona-nya sendiri karena wanita itu sangat baik dan perhatian padanya. Baekhyun tersenyum, menunjukkan senyum manisnya pada wanita itu dan dibalas dengan senyum tak kalah manis dari Jina sendiri

"Oh Baekkie, ada apa?"

"Noona mau kemana?"

"Eung...aku akan menonton press conference Park Chanyeol."

"Memangnya Noona tidak ada pekerjaan?"

"Belum ada, aku sudah melakukan semua pekerjaanku. Jadi karena ini waktu luang aku akan menontonnya sedikit. Ah, kau juga bukannya hari ini tidak ada jadwal?"

"Hn, hanya meneriksa nenek Kim, Yeri dan juga beberapa pemeriksaan rutin seperti biasanya"

"Kau bisa meluangkan waktumu Baekkie, beristirahatlah, kau sudah bekerja keras akhir-akhir ini"

"Ah, ne. Akan aku pikirkan lagi. Kalau begitu...sampai jumpa Noona"

Setelah menyempatkan sebuah senyum pada Jina, Baekhyun kembali berjalan sendiri, bersenandung kecil sambil membalas beberapa sapaan. Hari ini jadwalnya tidak terlalu padat, dan setelah dipikir-pikir tak ada salahnya menemui Chanyeol, sekalian minta maaf pada lelaki tinggi karena mengabaikannya. Mungkin nanti siang, ia harus memeriksa beberapa pasien terlebih dahulu.

"Nenek~"

"Eung, kau telat 3 menit 21 detik sayang"

"Iyakah? Maafkan aku, tadi aku sedikit bangun kesiangan"

"Tak apa"

"Baiklah, ini pemeriksaan terakhir nenek. Nenek bisa pulang siang ini, tapi apa nenek sudah meminum obat nenek?"

"S-sudah"

"Bohong. Ayo Baekkie bantu minum obatnya, nenek harus cepat sembuh agar bisa berkumpul dengan cucu nenek lagi~"

"T-tapi aku tidak mau! Obatnya membuatku mengantuk!"

"Ayolah nenek, hanya mengantuk sebentar, nenek bisa tidur kalau merasa mengantuk. Tunggu, Baekkie akan ambilkan airnya"

"Tidak mau!"

"Nenek~ Baekkie tidak akan mengizinkan nenek pulang kalau nenek tidak mau minum obat. Bagaimana?"

"Ckck, baiklah. Kau satu-satunya yang selalu bisa membuatku merasa kalah seperti ini"

Baekhyun pun tertawa, tak ketinggalan pula Nenek Kim yang kini matanya menyipit karena tersenyum pada Baekhyun. Dengan perlahan dibantunya Nenek Kim meminum obatnya, memperhatikan dengan sangat teliti takut-takut wanita tua itu tersedak minumnya.

Ah, ada satu hal. Baekhyun sangatlah digemari bagi para Nenek pasien rumah sakit. Selain sikap baik hatinya yang membuat siapapun menyanginya, sikap manjanya juga terkadang selalu membuat para nenek gemas dan akhirnya malah menganggapnya seperti cucu mereka sendiri.

Seperi contohnya Nenek Kim, wanita tua itu bahkan selalu mendengarkan setiap ocehan Baekhyun apapun itu. Entah ketika anak itu tengah membicarakan tentang kenapa ia bangun kesiangan ataupun ketika Baekhyun tak bisa tertidur semalaman karena memikirkan seseorang. Tentu saja orang itu Park Chanyeol, tapi Baekhyun tidak mengatakannya pada nenek Kim. Ia malu kalau sampai wanita tua itu mengetahui ia memiliki sedikit hubungan yang menarik dengan Chef muda kenamaan itu.

"Kuperhatikan semua orang tengah sibuk didepan televisi. Apa perasaanku saja atau memang benar?"

"Hmm, perasaan Nenek saja. Buktinya aku tidak sibuk didepan televisi"

"Yak! Bukan kau yang aku maksud"

"Aku hanya bercanda."

"Aku tahu"

Baekhyun hanya tersenyum dan diam ketika nenek Kim memeluknya cukup erat, membuatnya sedikit terkejut memang, tapi tak apa, bagi Baekhyun pasien-nya adalah prioritas. Sebagai dokter Baekhyun bersumpah akan melakukan pelayanan yang baik untuk para pasiennya.

Sambil tetap tersenyum dan mendengarkan ocehan nenek Kim, pandangannya menerawang pada ruang rawat yang berisikan sekita 5 orang pasien. Memperhatikan para nenek yang tengah sibuk berkumpul dibawah televisi. Dan senyum Baekhyun pun makin mengembang, ketika menyadari siapa sosok yang ada didalam televisi itu.

"Wajahmu memerah sayang"

"A-ah, nenek a-aku harus memeriksa pasien yang lain hehe. Nanti siang, aku akan menemui nenek lagi sebelum nenek pulang"

"Yak! Jangan berlari seperti itu! Kau bisa jatuh Baekkie!"

Baekhyun tak peduli, ia tak peduli kalau ia bisa terjatuh karena berlari sangat cepat. Pagi itu ia benar-benar melakukan pekerjaannya dengan sangat terburu-buru, walau terburu-buru ia tetap memperhatikan tanggung jawabnya sebagai dokter.

"Yeollie, Baekkie akan datang secepatnya"

Ketika pekerjaannya sudah sedikit lebih ringan, Baekhyun memutuskan untuk kembali kekamar Yeri. Berniat istirahat dan siapa tahu Mama-nya masih berada disana, jadi ia bisa bermanja-manja nantinya.

Ting.

Tepat ketika pintu lift itu terbuka, tanpa pikir panjang lagi Baekhyun segera berlari. Tak lupa membalas sapaan dari beberapa perawat dan juga pasien yang ia temui disepanjang koridor lantai 7.

"Ma- ada apa dengan kalian"

"B-baekkie Oppa! C-chanyeol...Chanyeol..."

"Chanyeol berencana tinggal di Paris."

"Selama 2 tahun"

"M-mwo?"

Saat itu juga, tanpa memperdulikan pekikan Mama-nya dan juga Yeri yang meneriaki namanya Baekhyun kembali berlari. Dengan degup jantung dan juga perasaan tak karuan yang menyelimutinya. Ia berlari dengan cepat menghampiri mobilnya, mengendarainya dengan sangat cepat menuju ketempat dimana ia bisa menemui lelaki tinggi yang belakangan hadir dihidupnya.

Baekhyun tak tahu apa yang diucapkan Mama-nya dan juga Yeri adalah benar atau tidak, Baekhyun sungguh tak tahu. Bahkan sebelum mencari tahu kebenarannya, ia langsung bergegas karena ia sendiri juga tak tahu kenapa ia sangat ingin menemui dan memarahi Chanyeol saat itu juga. 2 tahun di Paris? Bahkan Baekhyun masih ingat benar apa yang semalam lelaki tinggi itu ucapkan melalui teleponnya. Ia ingat Chanyeol mengatakannya kalau lelaki itu hanya akan meninggalkannya selama 6 bulan, lalu apa-apaan dengan 2 tahun di Paris?

.

.

.

Sorakan riuh para penggemar meramaikan ruangan bernuansa coklat yang kini terlihat sangat penuh dan sesak. Beberapa diantaranya nampak sangat sedih ketika sebelumnya sosok yang mereka kagumi baru saja mengatakan akan pergi ke tempat yang jauh selama 2 tahun untuk memperdalam ilmunya.

Dua orang lelaki tinggi yang sedari tadi menjadi sorotan itu hanya tersenyum, mengatakan tak apa-apa pada para penggemarnya sambil terus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilayangkan untuk mereka.

Pada sesi tanya jawab bebas tadi bahkan keduanya nampak sangat menikmati, mengabaikan bahwa pertanyaan yang dilontarkan para penggemarnya sangatlah bersifat pribadi. Seperti seorang gadis muda yang menanyakan bagaimana sosok dokter yang bisa mencuri perhatian Chanyeol, atau bagaimana bisa Wu Yifan yang selalu terlihat sibuk itu bisa datang secara rutin untuk mampir ke Material Art Class. Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

"Aku tidak bisa membocorkan identitasnya. Dia bisa mengamuk padaku kalau aku memberitahukannya pada publik, dia sangat pemalu. Bahkan ia juga sesekali masih bersikap malu-malu padaku"

Suara teriakan 'Wah' itu kembali memenuhi ruangan ketika Wu Yifan mengatakan sedikit hal mengenai seaeorang yang selalu ia temui di Material Art Class. Membuat Park Chanyeol bahkan tak ketinggalan untuk bersorak menggoda juga pada Yifan, seperti yang kini dilakukan para penggemar lelaki keturunan China itu.

"Ada lagi?"

Kali ini sang MC yang bertanya, melirik para penggemar. Memperhatikan satu persatu karena banyak sekali orang yang mengangkat tangannya. Ia tak menyangka, sebegitu penasarannya kah para penggemar Chanyeol dan juga Yifan mengenai masalah percintaan artisnya.

"Ah, baiklah. Tolong berikan mic-nya pada gadis dengan sweater biru muda diujung sana"

"Terimakasih"

"Siapa namamu dan siapa yang ingin kau tanya?"

"Eung, a-aku Joy. Aku ingin bertanya sedikit pada Chanyeol Oppa"

"Aku?"

"Ne"

Chanyeol sempat membulatkan matanya walau pada akhirnya ia tetap tersenyum pada gadis yang masih mengenakan seragam sekolah berbalut sweater biru. Gadis itu tersenyum sedikit, nampak sedikit gugup juga, membuat Chanyeol kembali tersenyum untuk menenangkan gadis berambut pendek itu.

"A-aku... Kau, apa tidak ada tempat selain Paris? Kau tinggal di negara lain selama itu, bagaimana kalau kami semua merindukanmu? Dan bagaimana kalau dokter yang kau sukai itu merindukanmu juga? Kau sungguh-sungguh ingin menetap di Paris selama itu?"

"..."

Chanyeol diam sejenak, ya benar, Baekhyun. Bahkan saat mengatakan pada publik perihal ia yang akan tinggal di Paris tadi Chanyeol tak memikirkan Baekhyun. Tak sadar apakah kalau lelaki manis yang mencuri perhatiannya itu akan baik-baik saja kalau ia tinggal selama itu.

"A-apa pertanyaanku salah? M-maafkan aku, aku hanya ingin menyampaikan bagaimana perasaan kami, para penggemarmu. Kami sedikit terkejut ketika mendengar pernyataan mendadak seperti itu Oppa"

"A-ah tidak. Kau tidak salah...Joy. Aku mengerti kalau kalian terkejut. Tapi sungguh, maafkan aku. Aku akan berusaha menyelesaikan pekerjaanku secepat yang aku bisa agar bisa berkumpul dengan kalian lagi"

"..."

"Dan untuk 2 tahun itu...maafkan aku, aku memang harus tinggal di sa-"

"Tidak boleh!"

"B-baekkie?"

Semua pasang mata yang ada diruang itu memebelalak, menatap penuh keterkejutan. Termasuk para ahjussi pemegang kamera yang berniat memutar balik kameranya untuk bisa mengambil gambar sosok manis yang kini berdiri diambang pintu Park Restaurant dengan wajah tak bersahabat dan juga air mata yang hampir mengalir dipipinya.

Katakan saja Baekhyun itu bodoh, ia tidak tahu situasinya sekarang. Ia tidak berpikir kalau ia bisa saja berada didalam masalah karena mengacaukan acara yang ditonton oleh jutaan pasang mata, tak hanya didalam restoran ini namun diseluruh penjuru korea. Tapi siapa yang peduli? Baekhyun pun demikian. Kau akan ditinggal jauh oleh pujaan hatimu dan kau pikir kau harus diam saja?

"T-tolong jangan arahkan kamerannya!"

Chanyeol segera berlari meninggalkan tempatnya, mengabaikan Sehun yang baru saja meneriaki namanya karena memintanya untuk kembali ketempat semula. Lelaki tinggi itu menatap penuh ketekejutan pada Baekhyun yang kini tengah menghapus air matanya kasar. Beberapa penggemar langsung mengeluarkan ponselnya, memotret ataupun merekam apa yang mereka lihat dengan mata mereka sendiri.

"Tolong, kumohon sekali pada kalian semua...jangan ambil gambarnya lagi"

"..."

"Kumohon"

Dengan perlahan, kamera-kamera yang sebelumnya diarahkan pada Baekhyun menghilang dan kembali lagi kedalam saku para pemiliknya. Kameranya memang sudah tak ada, tapi semua orang disana tak berniat melepaskan tontonan membingungkan ini barang sedetikpun.

Banyak yang bertanya-tanya, apakah itu sosok dokter yang bisa membuat Park Chanyeol jatuh cinta? Sosok yang selalu Chanyeol rahasiakan identitasnya dari para penggemarnya?

"B-baekkie, bagaimana bisa?"

PLAK

Banyak pasang mata membulat saat itu juga, ada juga yang memekik tak terima ketika tangan ramping yang dihiasi jemari-jemari lentik itu menampar pipi Park Chanyeol.

Chanyeol hanya diam, menatap Baekhyun yang hampir meneteskan air matanya lagi. Ia baru saja hendak menarik Baekhyun kedalam pelukannya, berniat meminta maaf atas kesalahan yang ia perbuat. Ngomong-ngomong mengenai kesalahan, Chanyeol sendiri agak bingung. Baekhyun menamparnya karena apa? Karena ciuman waktu itu kah?

"A-apa bisa kita jeda dulu acaranya?"

"A-ah, kita iklan dulu saja"

Sang MC diujung sana yang juga tak ketinggalan untuk memperhatikan Chanyeol dan juga dokter manisnya masih saling tatap pun berdeham sekali. Mengatakan beberapa hal singkat sebelum akhirnya muncul iklan dilayar televisi.

"K-kau akan hiks meninggalkanku?"

"B-baekkie"

"Hiks"

Menyadari banyaknya pasang mata yang memperhatikan, Chanyeol pun urung untuk memeluk Baekhyun dan menenangkannya. Ia membungkuk sejenak pada para kru dan juga orang-orang disana sebelum akhirnya menggandeng tangan Baekhyun untuk keruangannya saja.

Ia merindukan Baekhyun, ia ingin memeluk anak yang sudah menghilang dari pandangannya beberapa hari ini. Akhirnya, setelah mendapatkan izin untuk meninggalkan ruangan ramai itu Chanyeol pun menarik Baekhyun agar mengikutinya, dengan jemari saling bertautan yang mengundang bisik-bisik dari para penggemar yang memperhatikan.

"Kalau aku jadi dokter itu aku juga akan menangis dan melarang Chanyeol pergi. Gila saja, untuk apa dia berlama-lama di Paris kalau di korea saja banyak yang menunggunya"

"Ssst, kau merusak keheningan ini!"

"Tapikan me- ah sudahlah"

.

.

.

Keduanya kini hanya saling tatap, dengan hidung memerah Baekhyun dan juga lelehan air mata yang mengering dipipinya. Chanyeol mengangkat tangannya, menghapur air mata Baekhyun dan mencubit dengan lembut pucuk hidung anak itu.

"Jangan tinggalkan aku. Kau bilang hanya 6 bulan, kenapa jadi 2 tahun? Untuk apa, untuk apa kau berlama-lama di Paris? Kau...kau tidak berniat mengencani gadis-gadis Paris kan? Hiks, Yeollie~"

Chanyeol tersenyum mendengarnya, menarik Baekhyun yang terisak kedalam pelukannya yang langsung dibalas dengan pelukan super erat dari dokter manis itu.

Oh, Baekhyun hanya teringat ucapan Yeri semalam. Dimana anak itu mengatakan kalau gadis-gadis di Eropa sangatlah menarik. Baekhyun tidak mau Chanyeol mengencani gadis Eropa, ia cemburu tentu saja.

"Siapa yang mengatakan aku akan mengencani gadis di Paris eum?"

"Hiks"

"Hei hei, jangan menangis. Aku...ada sesuatu yang harus aku lakukan disana"

"Apa?"

"Eung, rahasia"

Baekhyun mengangkat kepalanya dengan kesal, bibirnya ia poutkan dan kembali mengundang gelak tawa dari Chanyeol yang melihatnya. Keduanya masih saling berpelukan hingga Chanyeol dapat dengan mudah mengecup pucuk hidung Baekhyun yang memerah.

"Kau...menciumku lagi"

"Maaf, aku kelepasan"

Chanyeol tertawa dan kembali mengulangi kesalahannya, mengecup pucuk hidung Baekhyun secara berulang, membuat Baekhyun mengeluh tak suka dan hendak saja melepaskan pelukannya namun ditahan oleh Chanyeol.

"Jangan menangis seperti ini Baekkie"

"Kau menyebalkan! Kau bilang mencintaiku, tapi kau malah ingin meninggalkanku selama 2 tahun tanpa alasan jelas"

"Aku tidak bisa 100% mengatakan alasannya pada publik. Aku hanya bisa mengatakan kalau aku ingin memperdalam ilmu"

"Padahal?"

Baekhyun kembali merajuk, matanya dengan sangat sedih menatap menusuk kedalam mata Chanyeol. Lelaki tinggi itu hanya bisa tersenyum, mengecup sekali pipi Baekhyun dan mengeratkan pelukannya pada lelaki manis itu.

"Aku menyerah"

"..."

"Kuberitahu alasannya tapi..."

"Tapi apa?"

"Ayo menikah denganku"

"Aku mau asal kau tidak akan meninggalkanku!"

"Eung...akan aku pikirkan"

"Serius Chanyeol! Jangan tinggalkan aku, jangan pergi ke Paris selama 2 tahun dan aku akan dengan senang hati mau menikahimu!"

"Deal!"

"M-mwo?"

"Aku mungkin tak akan benar-benar menetap selama dua tahun di Paris."

"M-mwo?"

"Sekarang kau milikku!"

Chanyeol kembali menarik Baekhyun kedalam pelukannya, memaksa anak itu untuk membalas pelukannya disela-sela kegiatannya yang tengah menggerak-gerakan tubuhnya yang berpelukan. Chanyeol mengecupi secara berulang-ulang pucuk kepala Baekhyun hingga Baekhyun yang merasa tidak nyaman karena ia masih merasa bingung pun melepaskan pelukannya dengan paksa.

"Kau, bagaimana bisa berkata dengan semudah itu?"

"Tenang sayang. Jadi begini, sejak lama aku memang sudah merencanakan ini. Aku mengambil sebuah kelas memasak dan juga akan membantu temanku direstoran yang baru saja dibukanya. Ohiya, alasan lainnya aku ingin menetap di Paris adalah...kau ingat rencana bulan madu kita?"

"N-ne, sebulan pertama dihabiskan di Paris"

"Aku...berencana menyiapkan segalanya untukmu"

"M-mwo?"

"Untuk bulan madu kita"

"Chanyeol!"

Baekhyun memekik kesal walau pada kenyataannya ia tersipu mendengar salah satu alasan Chanyeol akan meninggalkannya.

Memang mereka sempat membicarakan hal semacam bulan madu beberapa waktu lalu, namun Baekhyun tak menyangka kalau Chanyeol benar-benar menganggap serius permintaannya yang ingin menghabiskan bulan pertama honeymoon mereka di Paris.

"Aku akan membuatmu menyadari seberapa besar aku mencintaimu. Aku berjanji akan mengerjakan semua pekerjaanku secepat yang aku bisa, aku juga tak ingin lama-lama berpisah denganmu. Tapi bagaimana lagi? Aku sudah terlanjur membuat janji Baek"

"C-chanyeol"

"Aku bersyukur akhirnya kau menjadi milikku sekarang. Terimakasih Baekkie"

"C-chanyeol, aku tidak mau! Aku tidak mau kau meninggalkanku selama 2 tahun! Bagaimana kalau nanti ada orang yang menggangguku? Bagaimana kalau aku diculik karena kau tidak menjagaku? Bagaimana kalau aku sakit? Kau sangat jauh dari jangkauanku, memangnya kau tidak akan khawatir? Jangan tinggalkan aku!"

"B-baek"

"Kumohon~ Biarkan aku menjadi seseorang yang egois untuk saat ini"

Chanyeol tak menjawabnya, lelaki itu hanya diam memperhatikan Baekhyun yang kini menatapnya kembali dengan tangan lelaki manis itu yang sudah melingkar dipinggang Chanyeol. Wajahnya terlihat seperti ingin menangis, membuat Chanyeol tak tega dan mengangkat tangannya untuk mengusak surai Baekhyun dengan penuh kelembutan.

"Kau bahkan masih mengenakan seragam kerjamu"

"Ne~ aku langsung kesini ketika Yeri dan Mama mengatakan padaku kau akan tinggal di Paris"

"Maafkan aku, kau sampai sedih seperti ini"

"Chanyeol"

"Hn?"

Secepat kilat Baekhyun menempelkan bibirnya dengan bibir tebal Chanyeol, menahan lengan lelaki tinggi kesayangannya ketika Chanyeol berniat melepaskan pagutannya. Baekhyun membuka matanya perlahan, menatap dalam-dalam mata Chanyeol seolah meminta Chanyeol menuruti saja dirinya. Tentu saja Chanyeol takkan menolaknya, tak akan pernah ia menolak apapun yang diberikan Baekhyun.

Keduannya hanyut dalam ciuman memabukan yang berlangsung dengan sangat lembut, mata keduanya pun kembali terpejam, menikmati bagaimana moment indah tersebut terekam secara otomatis di memori mereka masing-masing.

TBC

Annyeong~

YAAAAAAA~ HAPPY BIRTHDAY MOMMY BAEK~ I LOVE YOU, YOU LOVE ME~ WE LOVE YOU, YOU LOVE US~ CHAN LOVE YOU, YOU LOVE CHAN~

Semoga makin cantiq ya mum, semoga bisa ngasih anak-anakmu ini adik baru lagi eaaa, semoga cepet-cepet go public sama Daddy ya mum, dan semoga-semoga lainnya yang ga mungkin diucapin panjang lebar disini wkwk.

Kita personal Chat aja nanti mum, oke^^ *ditabokChanyeol

PENGUMUMAN :

Harusnya ini udah END...Tapi aku berubah pikiran (lagi) dan malah merombak semuanya~ ada beberapa hal yang masih harus dijelasin biar ga terjadi yang namanya salah paham. Mianhae~ kayanya jadwal End FF ini harus mundur lagi wkwk...

Ohiya, kissing-nya ChanBaek yang terakhir itu masuk ke rated M ga menurut kalian? Tolong kasih pendapat, aku ga mau ada kesalahpahaman antara kita gara-gara adegan kisseu-nya ChanBaek hehe. Takutnya ada yang ngerasa gimanaaaa gitu, ini FF rated T tapi banyak Kisseu-nya wkwk. Maafkan daku~ habisnya greget kalo ChanBaek udah nempel-nempel tapi ga kissing wkwk.

Maaf untuk Typo, kekurangan tanda baca, dan lain-lain. Akan diperbaiki di Chapter berikutnya^^

Love Y'all :*

Review Juseyoooooooo~