COSMIC RAILWAY
Biancadeo
.
.
NINE
.
Penyesalan memang datang paling akhir. Seharusnya ia mengambil tangan itu, seharusnya ia kembali mendatangi Jongin, seharusnya ia datang lebih cepat, seharusnya ia membunuh Seungjoo sejak awal, seharusnya Jongin tidak terluka,
Seharusnya..
Seharusnya..
Seharusnya..
Rerumputan ini mengingatkan Jongin saat masa kecilnya, sebagian dari ingatan kembali mengasah kenangan lampau, saat diumur yang belia ia dihadapkan pada cerita mengerikan dari orang terdekat. Bagaimana ia bisa bertahan sampai saat ini pun, Jongin tidak pernah tahu. Pria perunggu itu berjalan pelan, menusuri setiap jalan setapak yang sengaja dibuat disekitar rerumputan. Maniknya memandang jauh kedepan, dahulu kala, ilalang adalah tempatnya berbicara, dahan adalah tempatnya berpangku dan rindang pohon adalah tempatnya melontar resah. Kini segalanya berubah, ia bukan lagi Jongin. Bukan lagi pemudah rapuh bernama Kim Jongin. Namanya adalah Kai, seorang biseksual dengan tubuh bak berhala. Dikagumi dan dipuja banyak umat. Tidak ada cacat dalam diri Kai, segalanya sempurna. Ia diibaratkan sebagai nikotin, alkohol dan bom atom. Segalanya bisa berubah indah dan menjadi runtuh sekaligus setiap berhasil menyentuh tubuh itu, karena ia adalah candu, menolak untuk melambat, sekarat ketika berhenti.
Pemuda itu terduduk diantara semak belukar, menikmati angin yang marak berhembus. Ia tidak pernah merindukan masa itu sejujurnya, seakan dunia tidak memihak padanya. Kini segalanya telah menjadi baik, tidak ada yang menghina pahat wajah serta tubuh apik seorang Kai. Ia hidup tanpa kekurangan suatu apapun.
Baru saja ia hendak berbaring diatas tanah lembab, suara derak kaki mengalihkan perhatian, Kai kembali menegakkan tubuh, memindai sekitar hanya untuk terpaku pada sosok diujung sana. Seorang itu berlari pelan kearahnya, rambut merah berkibar dengan setelan hitam yang membalut tubuh.
Ah orang ini adalah satu-satunya kelemahanku, Do Kyungsoo.
Kai mendapati dirinya melambai, menunjukan senyum terbaik untuk menyambut Kyungsoo. Pria ini adalah keseluruhan dunia, nafas, pusat kehidupan dan tempat berpijak. Do Kyungsoo adalah satu-satunya titik terlemah Kim Jongin, satu-satunya tahta milik Kai, karunia tuhan yang paling berharga.
Kai hendak menegakan lutut, berniat untuk menghamburkan diri kedalam peluk pria itu, namun urung begitu maniknya menangkap sosok lain dibelakang tubuh Kyungsoo. Sosok itu paruh baya, dengan pisau tajam ditangan sebelah kanan, berlari secepat kilat sampai berada dijarak terdekat dari Kyungsoo. Kai berubah panik, ia berteriak dengan putus asa mencoba memperingati Kyungsoo, namun pria pucat itu tidak juga mendengarkan. Kai mencoba menyipitkan manik, ia merasa mengenal sosok itu. Seorang pria dengan manik biru yang sama dengan milik Kyungsoo, menggunakan setelah jas mahal, kulit pucat serta seringaian licik dari dua sudut bibir.
Dia adalah ayah Kyungsoo.
Kai dengan panik mulai berteriak lebih keras, ia tidak mengerti sebab mengapa kakinya terasa kaku, kerongkongannya kering dan telinganya mendadak tuli. Ia tidak mampu mendengar suaranya sendiri sampai saat pandangan itu kabur, Kai melihat dengan pilu bagaimana pisau itu menusuk tepat didada Kyungsoo, mengalirkan banyak darah diantara rerumputan hijau. Kai meronta, menangis sampai ikut terjatuh ditanah. Kepalanya berdenyut menyakitkan begitu melihat tubuh lemah Kyungsoo tergeletak tak berdaya.
.
.
.
Maniknya terbuka, tubuh itu mengejang dan nafas terengah menciptakan embun tebal pada dinding masker oksigen. Bunyi nyaring pertanda alat vital mulai bekerja segera memenuhi ruang, suara langkah kaki terburu serta teriakan samar dari samping mendominasi gendang telinga. Kai tersadar dari masa kritisnya.
Ia bermimpi.
Perlahan Kai memperhatikan seisi ruang, tubuhnya terasa sakit dan telinganya berdengung. Ia tidak mengerti sejak kapan air mata mengalir dari sudut kelopak, Kai merasa lemah, sakit dan kaku. Ia ingin segera melihat Kyungsoo, memastikan keadaan pria itu baik-baik saja. Bahwa tidak ada darah yang mengalir dari tubuh itu, bahwa kejadian dipadang rumput benar hanya mimpi, bahwa pria itu aman bersama dengannya.
Dan kali ini, tuhan mengabulkan.
Kyungsoo ada disana, mengenggam tangannya dengan kuat, menaruh perhatian penuh pada Kai yang terisak samar, pelacur itu tidak peduli bagaimana ia bisa berada disini, mengapa tubuhnya berbalut banyak perban atau mengapa Kyungsoo juga menangis pilu menatapnya. Apa ia juga mendapat mimpi yang sama?
Dalam sekejap ruangan dipenuhi dengan banyak orang, masing-masing dari mereka berpakaian putih. Beberapa diantaranya memeriksa mesin yang menampakan detak jantung normal milik Kai, infus pada pergelangan tangan serta peralatan lainnya. Ada diantara mereka yang mencoba menjauhkan Kyungsoo darinya, pegangan tangan itu melemah dan Kai mendapati dirinya enggan melepas tangan Kyungsoo. Ia mencekram tangan itu sekuat yang dimampu, menatap pilu pada Kyungsoo yang kini sudah meronta dalam tangis agar dizinkan tetap bersama.
Pada akhirnya itu berakhir percuma, gambaran wajah pucat itu semakin jauh, Kyungsoo seperti telah kehilangan banyak hal, rahangnya mulai tirus dan pria itu punya kantung mata yang cukup tebal. Kai tidak mengerti bagaimana semuanya terjadi, mengapa tubuhnya mulai terasa kaku dan telinganya terus berdengung. Ia semakin panik begitu teriakan ronta Kyungsoo tidak lagi terdengar, apa yang terakhir dilihatnya dari balik pintu adalah tubuh Kyungsoo yang tidak sadarkan diri, dibawa oleh beberapa orang menjauh dari pandangan. Kai mendapati dirinya kembali menangis, air mata turun dari kelopak dengan deras, mengabaikan nafasnya yang mulai sesak serta pandangan yang kian mengabur.
Kyungsoo menelan ludah kasar, maniknya mencoba untuk beradaptasi dengan sekitar. Ia cepat mengingat dimana dirinya sekarang, ruang putih bersih dengan aroma alkohol mendominasi. Selang infus melilit lengannya serta selimut hangat membalut tubuh itu. Kyungsoo merasa kepalanya berdenyut sakit, tentu saja ia bahkan tidak mengingat kapan terakhir kali ia menyentuh makanan. Rasanya seperti seluruh tubuh pecah berkeping, sakit serta nyeri bersarang didalamnya. Kyungsoo menoleh kesamping, senyum tipis berhias begitu mendapati Yerin terlelap disana. Gadis ini luar biasa, ia bisa saja membunuh Baekhyun jika suatu saat berani menyakiti Yerin.
Kyungsoo mencoba untuk bergerak bangun hanya untuk kembali merintih sakit pada kepala, ia mencoba lagi dan lagi, berkali-kali namun nihil. Seperti paku besar tertancap atau beton menimpali kepalanya.
Tanpa sadar Kyungsoo menangis dalam diam, air mata mengalir deras dari sudut kelopak. Ia ingin melihat Kai, Kyungsoo ingin bersama pria itu, merawat dan memastikan Kai baik-baik saja.
Memilih untuk menguatkan tekad serta mengabaikan sakit berdebar dikepala, Kyungsoo sekali lagi mencoba bangkit. Kali ini berhasil, ia terduduk dikasur dengan terengah, memejamkan maniknya erat tatkala kepalanya mulai berdebar. Setelah beberapa saat berhasil tenang, Kyungsoo sepelan mungkin turun dari kasur, berjalan ringan membawa serta infus yang melekat. Pria tu sebisa mungkin tidak membuat suara, Yerin tentu akan memintanya untuk kembali jika saja gadis itu terbangun.
Kyungsoo sesegara mungkin berjalan keluar, maniknya memindai dimana letak ruangan Kai. Beruntung karena kamarnya berada satu lantai dengan si pria coklat. Senyum lebar tersaji begitu ia menemukan kamar yang dicari, seakan ia tidak lapar, seakan tidak lelah, seakan sakit dikepala hilang dalam sekejab begitu membayangkan wajah Kai dengan senyum paling manis.
Ia sudah berulang kali mencoba untuk tidur, Kai lebih dari tahu bahwa memperbanyak istirahat akan membantunya cepat pulih dan keluar dari rumah sakit, namun ia terus memikirkan Kyungsoo. Pria itu memonopoli isi otaknya, bahkan mengambil waktu tidurnya. Kai terus memikirkan apa yang diucap Baekhyun siang tadi, kenyataan bahwa dirinya tidak sadarkan diri selama hampir empat hari, dan selama itu pula Kyungsoo selalu duduk ranjang, mengenggam tangannya, berbicara sendiri seperti orang tidak waras, dan tidur hanya beberapa jam selama empat hari. Bahkan Baekhyun tidak ingat kapan terakhir melihat Kyungsoo makan. Tidak mengherankan jika tubuh apik Kyungsoo berubah menjadi tulang dan ia pingsan saat mencoba memberontak.
Kai menghemmbuskan nafas lelah, ia akan sadar cinta yang dimiliki Kyungsoo untuknya. Ia juga mencintai Kyungsoo, Kai merasa nyeri hanya dengan mendengar cerita Baekhyun, ia juga bisa saja menangis lagi jika dipaksakan untuk mengingat kembali isi mimpinya tentang tubuh Kyungsoo yang tergeletak tak berdaya. Kai takut tertidur, ia tidak ingin memimpikan Kyungsoo bersama ayahnya, ia tidak ingin melihat tubuh itu berlumuran darah, ia tidak ingin—
"Hai Jongin" Kai tersadar dari lamunannya, ia sedikitnya tersentak mendapati Kyungsoo sudah berdiri dari balik pintu. Pria itu dengan tegopoh menutup pintu kembali, berjalan mendekat dengan sebelah tangan membawa tiang infus. Tanpa disadari senyum Kai mengembang dari dua sudut bibir, ia merasa akan bisa tidur nyenyak setelah ini. Kai tidak lagi memikirkan apapun karena pria itu ada disini sekarang.
Do Kyungsoo. Oh tuhan akhirnya dia baik-baik saja.
"Kyungsoo" Kai berucap pelan dari balik masker oksigen, ia tidak berharap Kyungsoo untuk mendengar, namun diluar dugaan suara samar itu cukup masuk kedalam indra pendengaran Kyungsoo. Pria yang lebih putih menampilkan senyum hati sebelum kemudian berucap
"yeah, aku disini. Kau— tidak tidur?" tanyanya. Ada raut ragu dari wajah Kyungsoo, mungkin pria itu terlalu canggung, tidak tahu bagaimana memulai, tidak terpikir juga tentang basa-basi.
Alih-alih menjawab, Kai justru berusaha untuk melepas masker oksigen yang melekat pada wajah. Ia ingin leluasa berbicara dengan Kyungsoo, ia ingin mengucap banyak hal meski itu tidak dimungkinkan. Melihat usaha Kai, Kyungsoo mencoba membantu,
"apa ini tidak masalah jika dilepas" yang lebih putih bertanya. Setelah mendapati Kai mengangguk, maka Kyungsoo dengan lembut melepas masker oksigen dari wajah pelacur. Kini wajah itu kembal tersaji, wajah indah seorang Kim Jongin. Sesembahan serta pujaan banyak kaum.
Tidak ada yang memulai pembicaraan setelahnya, ini kali pertama Kai memperhatikan raut bingung seorang Do Kyungsoo. Pria itu teramat kaku, seperti anak anjing yang ditinggal oleh majikan, hanya diam dikursi dengan menunduk dan menggingit bibir bawahnya. Manik itu mengamati setiap jemari yang bermain dengan kain pakaiannya yang mahal. Ini bukan masalah untuk Kai melihat Kyungsoo dalam keadaan gugup, selama ia tetap bisa memperhatikan wajah itu.
Pria yang lebih coklat begitu ingin mengucap sesuatu, apapun, apa saja yang bisa membuatnya mendengar suara lembut pria ini, mungkin keadaannya akan cepat pulih jika saja ia bisa berbagi ruang sakit dengan Kyungsoo. Mungkin luka-luka ini akan segera mengering jika bisa mendengar suara Kyungsoo setiap saat.
"apa kau— baik-baik saja?" akhirnya Kyungsoo memecah hening, manik biru itu menangkap manik Kai. Butuh beberapa detik sebelum Kai memberi respon. Pria perunggu mengedipkan maniknya berulang, memilah jawaban seperti apa yang akan keluar, karena yeah tentu saja ia tidak sedang baik-baik saja. Ia merindukan Kyungsoo teramat sangat dan itu bukan sesuatu yang baik.
"yeah, aku baik. Um, bagaimana denganmu? Kau pingsan dan kudengar kau tidak makan bahkan tidak tidur selama—"
"aku baik-baik saja Jongin, melihatmu sadar membuatku jauh lebih baik" entah bagaimana itu terdengar seperti kalimat yang indah dari bibir Kyungsoo, Kai mendapati dirinya memperhatikan manik biru gelap itu, memindai apapun dusta yang bisa ditemukan disana, namun nihil. Kai kecewa, ia ragu dan merasa pusing. Kyungsoo sangat dingin beberapa hari yang lalu saat Kai mendapat banyak pukulan bertubi dari Seungjoo, dan itu membuat Kai kalut, ia terlalu takut, terlalu lengah untuk kembali jatuh
"kau marah padaku. Kau meninggalkanku, kau tidak datang padaku, kau tidak peduli saat aku menghadang mobilmu ditengah jalan, kau—"
"kau melepasku Jongin! Berulang kali, berkali-kali, aku datang padamu dan kau membiarkan aku pergi, kau mengambil tubuhku yang terluka kemudian kau membiarkan mereka mengambilku lagi. Kau menganggapku jarum, duri, rasa pahit bahkan kotoran, kau tidak mau berbagi hidup denganku karena kau takut. Aku membiarkanmu tahu segalanya, bahkan tentang Haneul! Aku memberimu segalanya termasuk tempat tinggal agar kau aman, tapi kau tetap menganggapku ancaman!" Kai tersentak kaget, ia tidak mengerti bagaimana hanya dengan kalimat bisa membuat sakit pada tubuh kembali kentara.
Kai tidak pernah sadar bagaimana kalimat Kyungsoo seperti sayatan dari benda tajam. Pria perunggu itu terdiam sejenak, melihat bagaimana air mata Kyungsoo mulai bergumul dikelopak. Kai merasa bersalah, ia bertahan dalam keegoisannya begitu lama, ia membiarkan Kyungsoo pergi berulang kali. Kai menyayangkan hal ini, ia terlalu bodoh dan marah pada diri sendiri karena menyia-nyiakan Kyungsoo terlalu dalam, terlalu lama, terlalu menyakitkan.
"aku.. aku minta maaf Kyungsoo, aku minta maaf. Aku tidak tahu, aku bodoh. Aku hanya tidak ingin segalanya menjadi rumit, jatuh dilubang yang sama dan menderita untuk kesekian kali. Aku tidak.. aku tidak ingin kau pergi, aku minta maaf sungguh" dengan itu, Kai berusaha mencari dimana letak jemari Kyungsoo, mengenggam mereka sekuat mungkin seakan pria putih itu akan kabur jika Kai melonggarkan pegangannya. Kyungsoo terdiam, ia memandang jemarinya yang kini terkait dengan milik Kai. Kyungsoo seperti memilah apa yang akan diucap, beberapa saat berlalu dan pada akhirnya designer sombong itu memberi respon
"aku ingin menjadi egois Jongin, selama ini aku banyak menghindari orang-orang. Aku tidak ingin ayahku menjadikan mereka umpan seperti apa yang terjadi pada Yerin. Tapi aku sungguh tidak bisa menjauh darimu, aku tidak akan peduli apakah kau menerima atau tidak, tapi aku bersumpah tidak akan menjauhimu lagi. Aku akan terus mendekat meski itu membuatmu menjauh, aku akan ada disisimu bahkan 24 jam penuh jika perlu. Dengar, aku seperti orang gila selama ini saat jauh darimu, aku berbicara sendiri, mengomel sendiri, menangis sendiri, bahkan aku menghabiskan lebih banyak waktu dikamar mandi untuk memikirkanmu, aku seperti orang gila karena kau mengambil segalanya bahkan tidak bersisa sedikitpun untuk diriku sendiri, kau—" Kyungsoo berhenti berbicara begitu dikejutkan dengan suara tawa milik Kai. Itu sedikit tersendat karena terbatasnya gerakan, namun terlihat murni, jujur dan lapang. Pria coklat itu tertawa, menampilkan pipinya yang memerah serta sirat wajah bahagia.
Kyungsoo mendapati dirinya terdiam, ia tidak ingat kapan terakhir kali melihat Kai tampil secantik ini. Pahat apik itu dipenuhi rona merah, bibirnya lentur dengan tawa dan kelopaknya melengkung indah. Kyungsoo menikmati saat seperti ini, ia mengamati setiap inci wajah itu sampai saat Kai berhenti dari tawa, pria yang terbaring menyeka air yang setitik mengalir dari kelopak, sisa tawa itu masih mendominasi wajah dan Kyungsoo mendapati hatinya menghangat.
"apa yang sedang kau tertawa kan?" pria yang lebih putih bertanya.
"tidak-tidak, hanya yeah. Kau tau, kau seperti orang tua yang tidak bisa berhenti bicara!" Kai berucap ditengah sisa tawanya, masih mencoba untuk tenang karena sakit ditubuhnya mendera ketika terlalu banyak bergerak.
"aku bersungguh-sungguh man, itu menyakitkan asal kau tahu"
"dan apa yang kau lakukan dikamar mandi dengan memikirkanku? Aku tau kau melakukan hal-hal yang tidak senonoh, beraninya kau— Aah!" kali ini Kai sungguh mencengkram kasar kepalanya, ia merasa nyeri yang kentara. Mungkin ini akibat dari terlalu banyak tertawa. Kai melihat gerak Kyungsoo yang dengan cekatan mendekat, menunduk dan ikut memegangi kepalanya selembut mungkin. Kyungsoo bahkan tidak memperdulikan infusnya yang bisa saja terlepas dari tangan. Jarak keduany terlampau dekat, dan Kai sejenak bisa melupakan sakitnya.
"hey, are you okay?" Kyungsoo bertanya dengan lembut.
"yes, yes I'm" Kai berusaha menjawab ditengah sakitnya. Ia sungguh tidak masalah merasakan sakit jika bisa berada dijarak sedekat ini dengan Kyungsoo.
Kini pria yang lebih putih menunduk, mendekatkan wajahnya dengan wajah milik Kai, sebelah tangan Kyungsoo mengambil setiap surai peraknya, menyingkirkan setiap helai dari dahi. Kai tidak lagi merasakan sakit, atau mungkin sakitnya teredam oleh sentuhan Kyungsoo. Jika kemudian tuhan memberinya kemampuan untuk menghentikan waktu, mungkin sekarang saat yang tepat untuk melakukannya. Ia ingin memandangi wajah ini lebih lama, wajah sombong Kyungsoo, tampilan berkuasa Kyungsoo, seringaian licik Kyungsoo serta segala hal mewah tentang lelaki ini.
Kyungsoo mendekatkan hidung mereka bersama-sama, ia mulai menciumi setiap inci wajah Kai, mengagumi tekstur kulit serta bola mata gelap milik pelacur. Tanpa aba-aba yang pasti keduanya mulai berciuman, menyatukan dua buah bibir yang haus hasrat. Sudah sekian lama Kyungsoo menginginkan ini, bersandar dengan menciumi bibir manis Kai.
Tidak ada yang sadar bahwa ciuman itu berubah menjadi nafsu, lidah bersilat dengan lidah, mendorong setiap inci sampai pada telak. Kyungsoo menikmati setiap daging lunak didalam mulut hangat Kai, ia menyapu seisinya dengan lidah tanpa ada yang tersisa. Beberapa saat masih berlalu dan Kai memutuskan untuk menyudahi kegiatan mereka, ia mundur perlahan dengan sepihak, mengundang kerutan alis dari pria yang lebih putih. Wajah Kyungsoo memerah, maniknya setengah terpejam dan Kai lebih dari tahu tubuhnya mungkin akan hancur jika mengikuti nafsu seks Kyungsoo.
"hentikan, kau bisa membuatku terangsang. Kita tidak bisa membuang sperma disini Kyungsoo, jangan gila" Kai berucap dan Kyungsoo terkekeh setelahnya. Kai menikmati kedekatan mereka, nafas Kyungsoo yang berhembus menghalau kulit terluar serta sentuh mengesankan yang menenangkan
"hey Jongin" Kai diam ketika namanya mengalir indah berpadu dengan suara rendah pria ini, Kai selalu menyukai setiap Kyungsoo mengucap nama lahirnya.
"kau mendengarku atau tidak?" Kyungsoo memprotes begitu sekiranya Kai lambat dalam memberi respon. Tidak ada yang berubah dari posisi mereka dan Kyungsoo mendapati dirinya nyaman bermain dengan rambut perak itu.
"oh tuhan Kyungsoo, kau berada hanya beberapa inci dariku, bagaimana aku tidak mendengarmu" Kai melihat Kyungsoo tersenyum mengejek begitu setelah ia menjawab. Jika saja tidak ada perban yang melilit lengannya, mungkin ia sudah memukul pria tampan ini.
"bisakah.. bisakah aku tetap berada disini?" Kyungsoo bertanya lembut, jemarinya turun sampai rahang tegas Kai, menyapu setiap inci yang ada disana. Kai mengangguk dalam diam, senyum berhias dari dua sudut bibir.
Setelahnya, entah siapa yang memulai, apakah Kyungsoo yang naik atau Kai yang menarik, namun keduanya kini terbaring diranjang yang sama. Kyungsoo memeluk Kai dari samping, ia tidak ingin memaksa pria itu bergerak lebih sering mengingat luka yang masih basah. Kai menikmati setiap momennya, berada diantara sentuh Kyungsoo ditubuh serta hembus nafas pria ini. Ia menoleh, mendapati Kyungsoo menatapnya dalam disana, tidak ada yang perlu dikhawatirnya, selama ia tetap bisa melihat wajah ini, tidak ada lagi yang perlu dipikirkan, karena Kyungsoo adalah keseluruhan nafas, pusat dunia dan harta tak terhingga.
"OMO, YA TUHAN!"
Yerin menjadi histeris begitu muncul dari balik pintu kamar Kai. Pemandangan yang membuatnya sakit mata tersaji dihadapan, sedari pagi ia panik karena mendapati ranjang Kyungsoo kosong. Berulang kali menghubungi Baekhyun dan mencari kesana kemari namun nihil, diakhir ia baru mengingat Kai dan memutuskan untuk pergi ke ruang rawat pria itu, dan seperti inilah keadaannya. Dua orang sialan itu tidur bersama diranjang yang sama, bahkan saling berpelukan.
Apakah mereka pikir ini hotel atau apa?
"Yerin-na, apa yang terjadi?" Baekhyun datang dari lorong, ikut bergabung dengan Yerin di ujung pintu ruang rawat.
"lihat sendiri" si gadis menunjuk dengan malas ranjang milik Kai, disana sudah ada dua manusia saling berpelukan dengan cara yang menurut Baekhyun paling menjijikan.
"Aigoo, dua orang bodoh itu" Baekhyun mendesah lelah, memijat pangkal hidungnya.
"singkirkan mereka atau aku tidak mau mengurus Kyungsoo maupun Kai!" gadis itu memprotes, memberi tatap jengkel pada kekasihnya.
"hei, lalu siapa yang akan mengurus mereka. Kau tau aku dokter dan pasienku tidak hanya dua orang idiot itu" dengan geram Baekhyun menunjuk ranjang, tidak ada respon dari Kai maupun Kyungsoo, keduanya masih nyaman berada diposisi yang sama.
"kau tega membiarkanku mengurus mereka? Bagaimana jika ada sisa sperma disana, siapa yang tahu" Yerin merengek dan Baekhyun memutar bola mata dengan malas.
"maka aku akan meminta Kyungsoo untuk mengganti sendiri seprai itu. Tenanglah, hanya tunggu sampai mereka bangun dan pastikan mereka makan"
"tapi aku juga harus bekerja" si gadis masih memohon, ia memegangi lengan Baekhyun dan mengayunkannya dengan manja.
"untuk apa kau bekerja jika bos mu saja disini. Aku akan menemuimu saat makan siang. Aku mencintaimu, sampai jumpa" dengan itu Baekhyun pergi setelah sebelumnya menanamkan ciuman singkat didahi gadisnya.
Yerin ditinggal sendiri, ia mengamati tidur keduanya dalam diam. Sudah sejak lama ia tidak melihat Kyungsoo tidur senyaman ini. Pria itu selalu kesulitan tidur, tidak peduli berapa banyak ia mengkonsumsi obat tidur hasilnya pun tetap saja. Namun kini, berada nyaman dalam peluk Kai, seperti semua bebannya terangkat. Pria itu tidur seperti bayi dan kali ini Yerin tersenyum, mungkin ia bisa membiarkan mereka seperti ini.
Hari-hari berlalu dan Kai mendapati dirinya cepat pulih. Luka sialan itu mengering dan ia terlepas dari banyak peralatan rumah sakit, terkecuali infus tentu saja. Kyungsoo sudah tidak dalam masa perawatan sejak beberapa hari yang lalu setelah mereka tidur bersama, pria itu kini banyak makan, tubuhnya kembali berisi dan rahang kentara itu tidak lagi terlihat jelas. Kai merasa inilah kehidupan seharusnya, memandangi wajah tidur Kyungsoo setiap pagi, menikmati hari dengan bermalas-malasan bersama dan bercinta dimalam sampai pagi menjelang. Namun kali ini hanya dengan memandangi tingkah Kyungsoo yang berulang kali berteriak geram ketika menonton pertandingan sepak bola ditelevisi sudah cukup baginya. Ia baru melihat sisi Kyungsoo yang seperti ini, gembira seperti bocah jika gol tercetak serta merajuk dengan kecewa saat gelandang tidak bisa mengoper bola dengan tepat.
"kalian sangat berisik sehingga menanggu orang sakit!" Yerin menggerutu di sofa agak jauh dari ranjang. Baik itu Baekhyun maupun Kyungsoo melempar tatap malas pada si gadis. Yerin tidak pernah mengerti tentang mengapa orang harus berebut bola disaat banyak bola yang terjual dikota.
"Kai tidak lagi sakit, ia besok bahkan sudah bisa pulang. Apa masalahmu oh tuhan" Kyungsoo menimpali, ia tidak pernah memanggil Kai dengan nama lahirnya disaat mereka sedang tidak berdua. Kyungsoo ingin panggilan itu hanya untuknya.
"apa kalian pikir dirumah sakit ini hanya ada satu pasien?"
"tanyakan pada Kai apakah dia terganggu, aku yakin tidak karena tidak ada lelaki yang tidak menyukai pertandingan sepak bola" dokter itu mulai berucap, kini maniknya memandang Kai yang hanya sibuk melihat pertengkaran kawanan aneh itu. Tatapan Baekhyun kemudian diikuti oleh Yerin maupun Kyungsoo, ketiganya menunggu respon yang pasti dari Kai
"Uh, yeah. Aku tidak terganggu, aku menikmati pertandingan itu" katanya dengan canggung, menggaruk tengkuk yang diyakini tidak gatal. Itu adalah dustanya, seumur hidup ia bahkan baru ini menonton pertandingan sepak bola, televisi besar dirumah tidak pernah digunakan, ia terlalu sibuk menyendiri dan selalu menjauhi tempat ramai apalagi saat siang hari.
"lihat, dia tidak terganggu!" Kyungsoo melempar serangan pada Yerin. Gadis itu hanya mendengus malas. Ia memilih untuk kembali duduk dan memoles kukunya dengan cat merah.
Beberapa saat berlalu dan si gadis seakan mengingat sesuatu, Yerin menghentikan kegiatannya, menatap malas pada laki-laki berisik didepan sebelum kemudian berucap
"Ah, Kai oppa, kau besok akan pulang bukan? kau harus punya seseorang untuk menjagamu, kau tau jika sesuatu terjadi dengan lukamu itu tidak akan—"
"dia akan tinggal bersamaku" Kyungsoo menginterupsi apa yang diucap Yerin tanpa melihat wajah bingung dari Kai.
"baiklah kalau begitu" si gadis mengendikan bahu dengan acuh, kembali sibuk dengan polesan cat pada kukunya yang lentik.
"lalu bagaimana dengan rumahku? Baju ganti dan sebagainya?" Kai bertanya, menarik lengan Kyungsoo agar pria yang lebih putih mengalihkan perhatiannya dari pertandingan ditelevisi.
"kita bisa mengambilnya dirumahmu, atau kita membeli yang baru. Apa rumahmu akan hancur jika tidak dihuni?" pria yang lebih putih kini bertanya lembut, menaruh fokus penuh pada Kai.
"tidak, tentu saja tidak. Hanya saja—"
"jika kau tidak nyaman, kau bisa tinggal hanya sampai lukamu sembuh. Setelahnya kau bisa kembali, aku tidak akan memaksa" Kai melihat jemarinya yang bertaut dengan milik Kyungsoo. Telapak itu begiu putih bersanding dengan miliknya yang perunggu, namun itu terlihat cocok bersama.
"itu ada benarnya. Tidak ada yang tahu apa yang bisa terjadi denganmu, kau terluka cukup parah" Baekhyun menimpali dengan acuh, maniknya tetap fokus pada layar.
"Uh, baiklah. Apa tidak masalah tinggal diapartemenmu?" pelacur itu bertanya
"apa yang terjadi denganmu? Sejak kapan kau berubah menjadi canggung, hentikan itu dan anggap apartemenku itu juga milikmu" dengan itu Kyungsoo maju dan menangkup kedua pipi milik Kai, menciumi bibir itu berulang dengan gemas.
"OH DEMI NEPTUNUS, HENTIKAN ITU ATAU KU USIR KALIAN DARI RUMAH SAKIT INI!" Baekhyun berteriak frustasi, mengambil pisau buah dan bersiap untuk menerjang siapa saja yang berani bergerak.
Mereka merayakan hari kepulangan Kai diapartemen Kyungsoo. Yerin membeli banyak makanan sehat dan Baekhyun mengambil persediaan anggur mahal milik Kyungsoo. Designer itu cukup kaya, tidak masalah hanya dengan mengambil beberapa botol anggur miliknya.
Satu lagi hal baru dikehidupan kelam Kai, ia tidak pernah memiliki teman. Dikelilingi oleh orang-orang ini sungguh membuatnya canggung. Kai cukup terbiasa melakukan semuanya sendirian, namun kali ini menerima bantuan Baekhyun serta perhatian Yerin sungguh membuat hangat suasana.
Tidak ada yang istimewa dari perayaan ini, Baekhyun yang tertawa riang, Yerin yang cantik saat terus berbicara dan Kyungsoo dengan senyum businessman nya. Mereka seperti melupakan setiap ancaman yang ada, setiap batu lompatan dengan garis yang menghadang. Namun biarkan segalanya menjadi baik untuk hari ini, Kai tidak ingin memikirkan apa yang aneh atau apa yang salah, ia berusaha untuk terus mengikuti arus. Mungkin tuhan memang menghadiahkan Kyungsoo untuknya, karena kali ini Kai beranggapan bahwa tuhan maha baik.
Yerin mengernyit begitu ada panggilan masuk, Kyungsoo sedikit melirik ponsel Yerin dan ikut terdiam. Keduanya saling panjang sebelum kemudian Yerin meminta ijin menjauh untuk berbicara di telfon. Sementara Baekhyun maupun Kai yang mengangguk ringan, Kyungsoo duduk dengan gelisah. Pria itu menggigit bibir bawah dan Kai baru sadar bahwa Kyungsoo terbiasa dengan itu setiap mendapati dirinya gelisah.
Tidak beberapa lama Yerin kembali dan Kyungsoo memandang si gadis dengan tatap memohon. Baik itu Baekhyun maupun Kai tetap diam ditempat, menunggu Yerin menarik nafas sebelum kemudian berucap
"ayahmu berhasil menemukan Eunha dan Jongdae" mendengar itu Kyungsoo menahan nafas. Ia menjanjikan perlindungan untuk gadis malang itu, Kyungsoo tidak mengerti lagi bagaimana ayahnya begitu cepat menemukan Eunha bahkan ditempat antah berantah.
Kai telah mengetahui Eunha adalah tunangan Kyungsoo, gadis itu kabur dan menolak bertunangan dengan Kyungsoo. Apa yang menjadi pertanyaan Kai adalah, apakah mereka sedang membicarakan Jongdae yang sama?
"sekarang ayahmu ada disana, jika kita tidak segera kesana maka—" apa yang diucap Yerin terhenti begitu Kyungsoo dengan gegabah berdiri, mengambil kunci mobil dan berlalu menuju pintu keluar. Tanpa aba-aba Kai mengikuti kearah pintu, menarik kasar lengan Kyungsoo setelah dirasa pria itu telah menulikan telinganya.
"kemana kau akan pergi?!" Kai bertanya, memaksa Kyungsoo untuk berfokus kepadanya.
"dengar kai, aku berjanji akan melindungi Eunha juga.. juga Jongdae. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri jika—"
"Jongdae?!" kalimat Kyungsoo terpotong begitu Kai menyela. Pelacur itu memastikan apakah ini adalah Jongdae yang sama dengan bartender tampan di Railway atau bukan.
"yeah, Kim Jongdae. Orang yang sama di Railway" pria yang lebih putih menjawab dengan putus asa. Kai terkejut dengan kenyataan ini, menyadari begitu sempit dunia bahwa Jongdae adalah kekasih dari calon tunangan Kyungsoo.
"dengar Kai, kita tidak punya waktu dengan ini. Aku harus kesana, jika ayahku berbuat macam macam maka—"
"kita akan kesana" Kyungsoo terdiam begitu Kai berucap agak keras. Kedua telapaknya memegangi pundak pria yang lebih putih dengan cekatan. Kyungsoo terdiam, ia kalah berhadapan dengan manik fokus milik Kai.
"kita akan kesana sekarang, berikan kunci mobilnya padaku" Kai berucap lagi, ia menengadahkan telapaknya dihadapan Kyungsoo, meminta agar Kyungsoo segera memberikan kunci itu.
"kau baru saja pulih jika—"
"hentikan omong kosongmu. Kita hanya akan celaka jika kau menyetir dengan kegelisahanmu" pelacur itu kembali menyela apa yang diucap Kyungsoo.
"aku yang akan menyetir, berikan saja kuncinya padaku" Baekhyun muncul dari ujung lorong bersamaan dengan Yerin. Dokter itu berusaha untuk merebut kunci mobil dari Kai namun gagal begitu menyadari betapa keras kepalanya si pria perunggu.
"tunjukan tempatnya dan kita akan sampai disana dengan cepat" setelah itu Kai berjalan duluan menuju pintu, menarik pergelangan Kyungsoo yang kaku bersamanya.
Rumah itu terlihat sepi, ada beberapa penjagaan diluar serta mobil Youngha yang terparkir rapih. Kyungsoo mengenggam jemarinya kuat, ia tidak akan memaafkan diri sendiri jika sang ayah menyakiti teman-temannya. Melihat itu, Kai mengenggam jemari Kyungsoo, memaksa pria itu untuk tetap tenang. Kyungsoo mematuhi dan menarik nafas panjang, melirik sejenak Yerin dan Baekhyun dikursi belakang seakan meminta persetujuan, sebelum kemudian ke-empatnya membuka pintu dan berjalan keluar.
Seluruh keamanan bersiaga begitu bayang tubuh Kyungsoo muncul, pria itu berdiri dengan sombong ditemani ketiga lainnya yang berjalan tepat dibelakang. Beberapa diantara penjaga itu berbicara dengan alat komunikasi canggih mereka, mungkin memberitahu bahwa sang anak majikan telah tiba. Kyungsoo sekali lagi menghela nafas, menampilkan seringaian licik begitu tubuhnya dihadang oleh salah satu pengawal ayahnya. Jemari Kyungsoo itu mengeluarkan pisau dari saku celana, ia menekan pisau itu ke dagu si pengawal dengan lembut.
"kau mau mati? aku bisa membunuhmu ditempat jika kau mau" ini sudah menjadi Kyungsoo yang berbeda. Kai bergidik disampingnya, seringaian itu bukan milik Kyungsoo. Kai bahkan tidak sadar sejak kapan pria ini menyembunyikan pisau dari balik pakaiannya.
Pengawal itu mundur, mungkin ia memilih untuk tidak melawan anak majikan. Dengan itu Kyungsoo masuk kedalam, tidak terlihat sama sekali ketakutan dari wajah itu, namun Kai lebih dari tahu bahwa Kyungsoo sedang melawan ketakutannya sendiri. Jemari putih itu bergetar walau samar setiap Kyungsoo mencoba untuk berlaga sombong dengan kuasa seperti biasa.
Mereka sampai diruang dimana Jongdae dan Eunha berada. Tidak ada luka atau bekas ikatan ditubuh keduanya dan Kyungsoo bersyukur untuk itu. Pasangan ini duduk tegak diatas kursi kayu, tepat dibelakang mereka ada dua orang dengan pistol ditangan, siap menembak jika mangsanya berani macam-macam. Jongdae menatap Kai dengan kaku, bartender tampan itu kini kehilangan bias cahayanya. Keduanya saling tatap untuk waktu yang lama sampai kemudian Kai mengalihkan pandangan pada si gadis. Eunha terus menatap Kyungsoo, dan itu berhasil membuat designer kehilangan wibawanya, sampai kemudian Kai memberi sentuh lembut pada pundak, dan Kyungsoo kembali sadar. Si pria pucat melirik Yerin serta Baekhyun sekilas sebelum kemudian memindai keberadaan ayahnya.
Youngha ada disana, berdiri dengan kuasa, seringaian licik dan rokok terselip diantara bibir. Kyungsoo selalu muak setiap berhadapan dengan laki-laki ini, ia selalu malu mengakui bahwa pria kasar ini adalah ayahnya. Dahulu, Kyungsoo pernah berpikiran bahwa sang ayah adalah seorang psikopat, pembunuh tanpa hati, membantai tanpa jiwa. Namun semakin kemari, Kyungsoo sadar bahwa Youngha bukan hanya psikopat. Pria ini bahkan lebih rendah dari hewan.
"mau apa kau kemari?" Kyungsoo adalah yang pertama bertanya. Youngha diam sejenak, mengamati anak semata wayangnya sebelum kemudian melempar rokok kelantai dengan sembarang.
"aku menemukan tunanganmu, seharusnya kau senang" Youngha berucap dengan penuh kemenangan. Maniknya membara seakan Kyungsoo adalah mangsa besar yang siap diburu.
"pertunangan itu batal dan tidak ada pembahasan yang sama dengan orang tua Eunha. Semuanya telah berakhir Youngha, kau tidak bisa terus mengancamku!" emosi begitu terpancar dari apa yang diucap Kyungsoo, tidak ada gentar dari sana. Youngha menegakkan lututnya, berdiri kokoh dengan kuasa yang tersirat jelas mengalahkan seisi rumah.
"apa yang membuatmu berfikir bahwa pertunangan itu batal?" sang ayah bertanya.
"karena memang pertunangan itu seharusnya batal" apa yang dijawab Kyungsoo terlampau dingin, maniknya tidak meninggalkan Youngha sama sekali.
"apa karena jalang itu?" kali ini Youngha tanpa ragu menunjuk Kai, seirngaian terbentuk lagi dan manik garang itu berpindah dari Kyungsoo menjadi terfokus pada Kai.
Tidak ada reaksi goyah dari si pelacur, entah keberanian dari mana namun selama itu bukan manik Seungjo yang mengingatkannya pada masa lalu, ia akan baik-baik saja untuk melawan. Kai menantang manik Youngha tanpa gentar, itu biru kelam persis seperti milik Kyungsoo.
Tidak ada yang bereaksi selama beberapa saat sampai Kyungsoo bergeser ditengah keduanya, ia menangkis lengan Youngha dengan kasar. Jika saja nyawa Eunha dan Jongdae tidak dipertaruhkan, ia mungkin bisa membunuh pria ini dalam satu kali tebas.
"jangan kau sebut dia jalang dengan mulut kotormu, bajingan!" setiap kalimat yang diucap dengan pelan dan penuh penekanan.
"kau mengatai ayahmu sendiri bajingan demi pelacur ini?! PERSETAN, AKU BISA MEMBUNUH ORANG-ORANG BODOH INI DENGAN MUDAH!"
Youngha berteriak marah, segera pengawal disekililing Youngha bersiaga, mengarahkan persenjaan mereka kearah kawanan Kyungsoo. Satu yang paling besar diantara para pengawal maju kedepan, orang itu berusaha untuk menarik Kyungsoo untuk menjadi yang pertama masuk ke medan pertarungan. Saat itu Kai bersumpah ia melihat senyum membunuh Kyungsoo, pria pucat itu menggerakan kepalanya menyamping, maniknya sayu bahkan tidak fokus. Saat tubuh desaigner itu ditarik, semuanya terjadi dengan cepat. Kyungsoo bergerak dengan kuasanya, menarik senjata tersembunyi dari banyak tempat dibalik pakaian, ia menelusupkan setidaknya empat benda tajam ke tubuh pria itu dalam sekali tebas. Tubuh korban lunglai jatuh ke lantai, darah mengalir deras dari banyak sudut. Kyungsoo masih berdiri disana, mimik mengerikan tersaji seakan tidak pernah terjadi sesuatu yang buruk.
Kai tetap bergeming dari tempatnya, nafasnya tidak beratur begitu menyaksikan Kyungsoo membunuh orang dengan tangannya sendiri. Tidak ada getar dari tubuh itu, kini Kyungsoo berdiri tegak ditempatnya, jemari bermain dengan pisau dan sebelah tangan menjilati setiap darah yang tumpah ke kulitnya, seakan darah itu adalah sesuatu yang nikmat. Kai menoleh kebelakang, ia melihat Yerin menutup mulutnya, manik itu melebar kaget dan tubuhnya lunglai nyaris terjatuh jika saja Baekhyun tidak menyangganya dari samping.
Ada kilat kemarahan dari manik Youngha, sudut bibir pria tua itu melengkung licik. Maniknya fokus pada Kyungsoo. Tidak ada yang normal disini, tidak ada seorang ayah yang hendak membunuh anaknya, atau lelaki baik hati yang dengan santai membunuh pemuda bahkan menjilati darahnya, tidak ada seorang yang tulus ternyata menyembunyikan banyak senjata ditubuhnya.
"kau ingin mengakhiri semuanya hari ini?" si tua bangka bertanya.
"aku akan menghabisimu serta anak buahmu hari ini" itu bukan suara Kyungsoo, begitu dingin, angkuh dan penuh kebencian. Kai terus melihat Kyungsoo, ia tidak peduli apa yang nanti akan terjadi, tapi apa yang menjadi realita adalah Kyungsoo tidak jauh beda dengan ayahnya.
Youngha tertawa lepas setelahnya, ia bermain dengan cerutu ditangan, menatap Kyungsoo dan kawanannya dengan sirat mengejek.
"aku punya banyak anak buah disini, dan mereka bersenjata. Apa yang akan kau lakukan dengan kawanan kecilmu?"
Dengan itu Kyungsoo menyerinai, manik birunya lebih gelap dan aura kebencian tersirat jelas. Kyungsoo tidak pernah bermain-main dengan ini, kebencian yang telah ditumpuknya sejak kecil, kekalutan yang telah digali sejak balita. Kyungsoo membenci ayahnya lebih dari apapun di dunia. Jemari Kyungsoo mengambil sesuatu dari dalam saku pakaian, sebuah alat penghubung kecil dengan antena disekitar. Kai tidak mengerti alat apa itu, Kyungsoo tidak pernah membicarakan apapun. Namun tanpa aba-aba, pria pucat itu menekan tombol yang terletak tengah alat dengan santai.
"siapa yang kau sebut dengan kawanan kecil?" ucap Kyungsoo sebelum kemudian suara berisik terdengar dari luar rumah.
Alat komunikasi milik Youngha berbunyi, seseorang memberitahu bahwa mereka sedang dikepung. Ada banyak mobil berjajar diluar, mereka bersenjata lengkap bahkan ada diantaranya yang membawa sebuah bom.
Itu adalah anak buah Kyungsoo. Beberapa diantara mereka masuk kedalam, masing-masing membabat habis pengawal Youngha dengan cepat dan tuntas. Kai sekali lagi melirik Yerin dibelakang, gadis itu menggeleng kearah Kai, pertanda memang Yerin tidak ikut andil dengan pasukan baru Kyungsoo.
Seringaian Kyungsoo semakin lebar begitu raut Youngha terlihat bingung dan kalap. Pria tua itu kalah jumlah, kalah pasukan, kalah persenjataan. Ia tidak pernah menyangka Kyungsoo bisa menjadi selicik dan sekeji ini.
Dalam sekejap mata Kyungsoo menodongkan pistol kearah sang ayah. Gerakannya terlihat tenang, tanpa ada gentar sekalipun. Punggung itu tidak bergetar, nafasnya bahkan teratur dan itu pertanda Kyungsoo tidak lagi punya belas kasih. Pria pucat itu menjilat bibir atasnya seakan Youngha adalah seekor domba.
"kau akan mati sekarang Youngha-ssi" jemari Kyungsoo bersiap untuk menekan pelatuk, namun ia mengurungkan niat begitu Yougha tiba-tiba tertawa seperti orang sinting.
"kau benar akan membunuhku? Anak ingusan sepertimu?" pria tua itu berucap diantara tawanya, memicu kemarahan Kyungsoo.
"aku bisa saja membunuhmu sekarang, aku bukan lagi Kyungsoo yang akan patuh padamu. Aku bisa membunuh siapa saja diruangan ini" Kyungsoo berucap santai.
Kai mendapati dirinya hampir jatuh tersungkur, Aku bisa membunuh siapa saja diruangan ini. Kalimat itu terngiang dalam otak, ia tidak mengira akan menghadapi sisi lain Kyungsoo yang seperti ini.
"apa kau yakin? Jika kau membunuhku, aku bisa membunuh milikmu yang lain" kini dengan berani Yougha menyalakan pematik, menyelipkan rokok diantara bilah bibir dan mulai menghisap nikotin didalamnya.
"situasi disini cukup menjelaskan bahwa kau yang akan terbunuh" Kyungsoo berucap lagi, mengabaikan asap rokok yang kini bergabung dengan udara sekitar.
"kau pikir aku tidak tahu dimana kau menyembunyikan si kecil Haneul?" Youngha berucap santai, maniknya memindai reaksi Kyungsoo yang mulai goyah dihadapan.
Manik Kyungsoo melebar mendengar nama itu. Kepalanya berdenyut seakan dunia berputar ditempatnya berada.
Haneul.
Kyungsoo tidak ingin mendengar nama itu dari mulut ayahnya.
Kyungsoo membiarkan air mata jatuh keluar. Penglihatannya kabur dan pendengarannya mendadak tuli. Pistol yang pelatuknya hampir ditekan penuh percaya diri kini jatuh keatas marmer. Tubuhnya kaku, bahkan Kyungsoo merasa tidak sanggup lagi menyangga lututnya sendiri.
"apa yang kau—"
"Haneul, darah dagingmu bocah bodoh! Kau terlalu sibuk melindungi orang-orangmu disini dan mengabaikan bocah balita itu" belum selesai Kyungsoo mengucap apa yang akan ia lontarkan, Youngha menginterupsi.
Kini Kyungsoo terduduk tak berdaya di atas marmer, pria malang itu menangis. Kyungsoo merasa ia adalah manusia paling bodoh, manusia terkutuk, ayah tidak berguna, ia pantas mati atau menerima siksaan paling berat sekalipun.
"tolong.. dia segalanya untukku.. tolong.. jangan sakiti anak itu" pria pucat itu sungguh kehilangan wibawanya, terduduk menyedihkan dilantai, memohon pada orang yang telah menghancurkan hidupnya menjadi keping menyedihkan. Youngha menyerinai penuh kemenangan, ia sekali lagi menghela asap ke udara kemudian berucap
"dia aman bersamaku Kyungsoo sayang, selama kau ada dibawah kuasaku tentu saja, dia akan tetap aman"
Kai merasa hancur melihat Kyungsoo seperti ini, ia ingin menghamburkan diri pada tubuh rapuh itu, mengatakan sagalanya akan menjadi baik dan Haneul akan baik-baik saja. Namun itu urung dilakukan begitu tangan Kyungsoo meraih pisau yang terdekat dari jaraknya, mengenggamnya erat dibagian yang tajam sampai darah segar mengalir dari celah jemari putihnya. Begitu darah itu mengalir deras, Kyungsoo mendekatkan jemarinya disekitar bibir, menjilat setiap sisa merah yang ada dengan lidah. Tubuhnya perlahan kembali menegak, lutut itu mengangkat badannya dengan sempurna. Kyungsoo kembali berdiri dengan kuasanya, seringaian lebih licik muncul dari dua sudut bibir sebelum kemudian lengannya kembali menodongkan pistol kearah sang ayah.
Kyungsoo tertawa keras, memicu perhatian sekitar. Bahkan Youngha kini memandang ngeri kearah anak semata wayangnya.
"BUNUH SAJA HANEUL JIKA KAU INGIN MEMBUNUHNYA!"
Kyungsoo berteriak keras, ia tertawa nyaris seperti orang gila. Jemarinya siap untuk menarik pelatuk, senyum licik tersaji dan tidak ada sama sekali gentar dari tubuh itu bahkan saat ia memutuskan untuk menodongkan pisau ke tubuh ayahnya sendiri.
Ini bukan seperti apa yang diharapkan Kai. Kyungsoo adalah seorang Designer sombong dari label ternama Cosmic dengan senyum businessmannya, setidaknya itu yang diketahui Kai selama ini.
Kyungsoo bukan seorang yang menyembunyikan banyak senjata dibanyak tempat, bukan seorang yang membunuh tanpa gentar dan bahkan menjilat darah korbannya, bukan seorang yang menodongkan pistol tanpa perasaan ketubuh ayahnya, bukan seorang yang merelakan anaknya dibunuh dengan tanpa syarat.
Kai tidak ingin Kyungsoo terlahir sama seperti ayahnya, namun pemandangan ini cukup untuk menjelaskan segalanya. Tidak ada perbedaan antara Do Youngha dengan Do Kyungsoo, keduanya memiliki kult pucat yang sama, manik biru kelam yang sama, cara tertawa yang sama bahkan taktik membunuh yang sama, cepat dan tuntas tanpa getar dan perasaan.
.
.
to be continue
.
.
Haloo kawan, kita bertemu lagi hihi, apakah ada yang menunggu cerita ini?
Semoga ada banyak yang memberi review, karena ada banyak pembaca tapi cuma sedikit review bikin sedih huhu:(
TERIMAKASIH SEKALI BUAT YANG SUDAH MEMBERI FOLLOW, FAVORITE DAN TERUTAMA YANG MEMBERI REVIEW hihi💓 oh dan haloo Kyubear9597 : aku kuliah kok belum kerja hehe💓💓💓
terimakasih sekali untuk setiap review dan yang sudah baca yaa hihi💓 jangan lupa berikan pendapat, kritik dan saran diterima bangett hihi
See you!
