Warning ; Adult content untuk chapter kali ini, Rated M, jadi yang belum punya ktp, jangan baca ya!
Idih author kepo banget ya, padahal udah suka baca novel-novel harlequin sama komik golden boy dari kelas dua SMP #LemparBakiakAuthornya!
Makasih udah yang buat baca, terutama yang udah ngefave, follow, dan yang udah repot-repot bikin pegel jari-jarinya gara-gara ngeriview. Maaf ya, masih banyak typo bertebaran.
Chapter 10
The First Touch
Kurapika bertingkah aneh sejak percakapannya dengan Kuroro. Kerap kali wajahnya memerah dan seringkali menghindari kontak mata dengan Kuroro, apalagi kontak fisik. Kuroro merasa geli sendiri melihat tingkah gadis itu, bahkan hal itu sangat disadari oleh Ryo dan Lily.
"Sedang PMS" jelas Kurapika singkat.
Bahkan Kurapika selalu meleset menembak hadiah yang ada di salah satu satn, karena Kurapika menyadari, Kuroro tepat di sampingnya, membuatnya gugup setengah mati.
"ternyata si pengguna rantai sangat payah" bisik Kuroro, hidung Kurapika mengembang, pipinya panas, "ini semua gara-gara kau, brengsek!"
Ryo dan Lily hanya menatap mereka dengan heran.
"giliranku" kata Kuroro santai, dia mendapat tigat jatah tembakan dan memenangkan semua tiga tembakan, membuat si pemilik stan mengerutkan dahinya, memberikan tiga hadiah terbaik dengan wajah cemberut. Ia benar-benar sedang sial, gerutu si pemilik, tentu saja dalam hati. Kuroro memberikan semua hadiahnya untuk Lily, dan Lily menerimanya dengan sangat senang, salah menafsirkan kebaikan Kuroro. Kurapika diam-diam kesal melihatnya, yang benar saja, dia kan baru mencium seorang gadis, dan memberikan hadiah pada gadis lain? Hey Kurapika ada apa denganmu? Apa kau cemburu? Menyadari hal itu Kurapika menggeleng-menggeleng kepalanya dengan pipi dikembungkan. Sungguh kurapika sangat lucu, pikir kuroro yang sebenarnya sengaja ingin membuat Kurapika kesal, entah kenapa ia suka sekali menggoda Kurapika yang pemarah itu akhir-akhir ini. Ingin rasanya Kuroro mencubit pipinya yang lembut itu, dan mencium bibirnya yang cemberut, mencium pipinya, lehernya, cuping telinganya, dadanya dan...apa yang ku pikirkan? Tanyanya dalam hati, pipi Kuroro bersemu merah. Belum pernah sekali pun ia berpikiran kotor pada seorang wanita. Jangankan berpikiran seperti itu, merasakan seperti yang ia rasakan kepada Kurapika saja belum pernah.
"Kurapika, kau kenapa? Kau ingin hadiah juga?" tanya ryo menyadari Kurapika yang terlihat kesal, "aku akan mendapatkannya untukmua. Meskipun yang tersisa Cuma boneka jelek itu."
"Jangan bodoh Ryo, si jantan itu tidak suka boneka" oceh Kuroro datar, lalu melanjutkan, "dia itu laki-laki yang terperangkap dalam tubuh perempuan"
Satu tinju melayang ke pipi Kuroro Ryo dan Lily terbelalak kaget, "sialan kau Kuroro! Aku tidak seperti itu!"
"nah kalian lihat sendiri kan?" sahut kuroro lagi menyeringai sambil menyeka darah di sudut mulutnya. Ryo dan Lily bergidik ngeri, membuat Kurapika makin malu, lalu ia menarik yukata Kuroro dengan kedua tangannya dan berkata dengan kesal, "kalau memang begitu, berarti kau itu YAOI, suka sekali mencium seorang pria yang terpernagkap dalam tubuh perempuan!"
Kuroro tersenyum geli, Kurapika pun baru menyadari ucapannya adalah bumerang buat dirinya sendiri, wajahnya merah padam sampai ke telinga. Ia melepaskan Kuroro lalu pergi berlari dengan rasa malu yang amat sangat, seandainya ia memiliki fun fun cloth, ia akan masuk ke dalamnya. Ia pergi ke arah penginapan masuk ke kamarnya, menghempaskan diri ke tempat tidur, wajahnya ia tenggelamkan di atas bantal, tangan dan kakinya memukul-mukul tempat tidur, dengan kesal.
"idiot, bodoh, tolol! Arghhhhh! " teriak Kurapika, bagaimana ia dapat menghadapi Ryo dan Lily nanti?
Sementara itu di festival Ryo dan Lily yang sedari tadi hanya bisa menyimak mereka, akhirnya mengerti.
"Kuroro, apa sebenarnya hubunganmu udengan Kurapika?" tanya Lily dengan penuh rasa kecewa dalam nada suaranya yang lemah tidak ceria seperti biasa.
"Kami adalah musuh abadi, aku dan kelompokku telah membantai seluruh keluarganya. Dan dia telah membunuh dua anggotaku"
Ryo dan Lily terbelalak tak percaya, dan sama sekali tak mengerti maksud ucapan Kuroro.
"lalu kenapa kalian bersama?" tanya Ryo
"Aku tak percaya Tuhan, tapi sepertinya sekarang Ia telah menunjukkan dirinya pada kami sekarang"
Lalu Kuroro pun melangkah pergi menuju arah yang sama seperti yang dituju Kurapika. Lily dan Ryo kecewa, tapi juga tak bisa membenci mereka. Lagipula dari awal mereka memang sudah datang bersama. Mereka adalah pasangan yang unik, tapi benar-benar serasi, saling melengkapi satu sama lain.
"Lily, sepertinya kita harus merayakan patahnya hati kita berdua"
"hmm" jawab Lily mengangkat bahu kecewa.
"sampai kapan kau akan menghindari ku?" tanya Kuroro begitu ia berhasil menemui Kurapika yang mengunci diri di kamar. Sat makan malampun, ia makan di kamar dan baru ketika malam sudah larut ia membukanya. Kuroro bisa saja berteleportasi, tapi ia pun menghargai privasi Kurapika. Kurapika baru selesai mandi saat ia membuka pintu, rambutnya basah, hingga membuat warna rambut Kurapika terlihat lebih gelap. Dan keadaan rambut Kurapika membuatnya terlihat semakin seksi di mata Kuroro.
"itu semua gara-gara kau!" kurapika cemberut sambil menyilangkan tangannya, duduk bersila di kepala tempat tidur, Kuroro mendekati Kurapika, "aku?"
"kau, kau yang menciumku!" wajah Kurapika merah padam.
"Kau tidak menolak!"
"aku.."
"kau menyukainya"
"Tidak bukan begitu, aku.." wajah kurapika semakin memerah,
"ah sudahlah!" kata kurapika kesal sendiri. Tiba-tiba Kuroro duduk di samping Kurapika. Kurapika meloncat dari tempatnya semula, tapi Kuroro menahan pinggangnya, hingga akhirnya Kurapika duduk di pangkuan Kuroro dengan punggung menempel di dada Kuroro yang keras, dan tangan pria itu menahan perut kurapika yang rata. Kuroro membenamkan wajahnya di lekukan leher kurapika, menghirup aroma lemon dan mint yang kuat pada Kurapika. Kurapika terkesiap, terasa sengatan listrik mengaliri setiap inchi tubuhya, membuat indra-indranya semakin peka. Darahnya berdesir, merasakan embusan napas Kuroro di lehernya, dan bagaimana bibir pria itu menempel di kulit lehernya yang sensitif. "lepaskan aku!" erang Kurapika, tapi tubuhnya mengkhianati otaknya, tubuh itu malah melemah, mencair, meleleh seperti es yang terkena panas. Jantung Kurapika berhenti sepersekian detik, saat Kuroro menekankan bibirnya di leher Kurapika, menghisapnya, hingga meninggalkan jejak merah di sana, Kurapika menoleh kaget pada Kuroro, "apa yang kau lakukan?!"
Tapi Kuroro malah emanfaatkan momen itu dengan menutup jarak antara bibir mereka, Kurapika berntak, tapi pelukan Kuroro makin kuat, sekuat dorongan kebutuhan biologisnya, ia sendiri bahkan tidak pernah tahu bahwa kebutuhan itu memang benar-benar ada, memaksanya untuk menyerah. Tapi akalnya yang tinggal setipis kabut pagi, masih terus bertahan. Kurapika menahan tangan Kuroro Kuroro yang sudah masuk, menyelinap ke balik piyamanya.
"jangan!" Kurapika menatap Kuroro dengan tatapan yang rapuh, yang justru membuat hasrat kuroro bertambah untuk menaklukan Kurapika. Kuroro bukanlah orang yang begitu saja menyerah pada instingnya, ia seorang yang penuh kendali dan berakal kuat. Tapi kali ini ia tidak bisa bertindak seperti biasanya. Ia menyerah pada hasratnya, menyerahkan diri pada otak reptilnya, dan membiarkan alam yang mengatur semuanya. Untuk sekali ini saja, ia hanya ingin menikmati dirinya sebagai seorang manusia, seorang pria biasa yang membutuhkan seorang wanita. Ia ingin menyentuh Kurapika, tidak hanya ingin, tapi butuh menyentuh Kurapika, seperti ia membutuhkan oksigen untuk bernapas. Kuroro mencium Kurapika lagi hingga akhirnya tanga Kurapika pun melemah dan membiarkan tangan Kuroro melakukan apa yang diinginkannya. Kurapika mendesah di tenggorkannya, sambil mengernyitkan alisnya saat merasakan payudara mungilnya diremas Kuroro dengan lembut, Kuroro dapat merasakan puncaknya mengeras di telapak tangannya.
"mmphh, Kurapika aku hanyalah seorang pria" gumam Kuroro, sebeum akhirnya membalikan tubuh Kurapika, hingga kini mereka berbaring dengan tubuh Kuroro di atasnya, di tempat tidur yang kecil milik Kurapika. Akhirnya Kurapika pun menyerah seutuhnya saat Kuroro kembali menciumnya dalam-dalam. Maafkan aku, kali ini aku ingin menjadi egois sekali saja, batin Kurapika saat itu.
Entah bagaimana caranya, pakaian mereka sudah tergelatak tak berdaya, meninggalkan pemiliknya. Tubuh kurapika memanas dan perutnya bergolak, seolah ada ratusan kupu-kupu di dalamnya, saat kulit mereka saling bersentuhan langsung. Gejolak diperutnya seolah meminta untuk dilepaskan dari tempat asalnya, gejolak itu turun dan semakin turun, membuat daerah kewanitaanya memanas dan lembab. Mata Kurapika terpejam rapat-rapat, sementara kuku-kukunya yang terpotong pendek, mencengkram bahu Kuroro, saat Kuroro mulai memasuki tubuh Kurapika yang hangat, namun berhenti sejenak, saat Kuroro merasakan penghalang dalam tubuh Kurapika.
"Kurapika.."
Kurapika menganggukan kepalanya, Kuroro menyelesaikannya dengan cepat, agar tidak lama-lama menyakiti gadis itu. Kurapika mengigit bibir bawahnya sambil melengkungkan tubuhnya ke belakang merasakan rasa perih yang luar biasa, menyengat dan mengaliri tubuhnya. Kuroro menciumnya, mencoba meredakan rasa sakit Kurapika. Kurapika melingkarkan lengannya di tengkuk Kuroro dan membalas ciuman Kuroro sama intensnya, sementara kuroro mulai bergerak keluar hanya untuk masuk lagi. Tubuh Kurapika terasa pas untuk Kuroro, tubuh yang saat ini berdenyut, memberikan sensasi luar biasa yang belum pernah Kuroro rasakan seumur hidupnya. Kuroro bergerak pelan, dan makin lama, makin cepat, membuat ranjang kecil itu berdecit menahan aktifitas di atasnya.
Kini tubuh Kurapika mulai bergetar, ia merasakan sesuatu akan datang dan meledak seperti kembang api. Sesuatu yang berasal dari perutnya, turun ke inti kewanitaannya. Sementara tempurung lututnya terasa seolah akan lepas dari tempat asalnya. Ia melengkungkan tubuhnya, tak kuat lagi menahan gelombang itu. Kuroro menatap Kurapika yang terlihat sangat cantik, kulitnya memerah, matanya pun ikut berwarna merah, bukan karena amarah atau dendam dan kebencian, tapi karena emosi alien yang ia dan Kuroro rasakan kali ini. Cengkraman kuku Kurapika semakin kuat, membuat kuku-kukunya memutih, jika pria yang bersamanya bukan Kuroro, pasti pria itu aka terluka karenanya. Tubuh Kurapika bergetar hebat, dan ia mengerang saat ia merasakan gelombang itu pecah, lututnya terasa benar-benar kosong. Denyutan intens dan dahsyat akibat orgasmenya yang pertama semakin merangsang Kuroro. Pria itu bergerak semakin cepat dan tak lama kemudian iapun menyusul Kurapika ke puncak, puncak yang belum pernah mereka rasakan dan mereka raih sebelumnya. Ia menumpahkan pelepasannya di tubuh Kurapika. Setelah itu ia membelai rambut Kurapika, mereka bertatapan sejenak, lalu saling bertukar senyum dan Kuroro mencium Kurapika dengan lembut. Setelah itu Kuroro memisahkan diri dari Kurapika, turun dari tempat tidur, dan menggeser tempat tidurnya sendiri agar merapat ke tempat tidur milik Kurapika. Lalu ia kembali ke tempat tidur, memeluk Kurapika dan menciumnya lagi, hingga api itu terpercik lagi, dan mereka pun mengulanginya lagi dengan sempurna karena rasa sakit Kurapika sudah berkurang dan berganti dengan kenikmatan yang juga sempurna.
Kini mereka mengerti dan merasakan apa itu surga, surga yang hanya bisa didapatkan dari pasangan mereka. Surga yang dulu selalu diremehkan mereka sebagai naluri primitif liar, yang selalu mereka pikir tak akan pernah terjadi dalam hidup mereka sekalipun. Kini mereka mengerti, kenapa orang-orang melakukannya. Hanya satu yang masih belum mereka mengerti, yaitu perasaan mereka sendiri.
