WARNING MOON
SCANDAL band X The GazettE fics.
A fanfic by. Summer Chii
Warning: OC,OOC, AU,AR,AT,typo(s),lit bit bloody
Disclaimer: Semua korban yang ada disini bukan milik Chii. Saya Cuma punya OC, story aja. Fic ini juga cuma fiksi yang kaga ada maksud lain selain menghibur
#eakz
Pair: Ruki x Mami, etc
_happi reading!_
CHAPTER 9
Mami POV
Aku tak pernah menyangka Ruki akan melakukan hal senekad ini. Otakku tak pernah sampai untuk berpikir sejauh itu.
Bingung, aku tak mengerti sama sekali maksud dari perbuatannya. Ditambah lagi dia kelihatan sangat kacau sehingga aku tak bisa bertanya padanya. Aku yakin, dia hanya akan menjawabku dengan kata-kata yang bahkan tak kumengerti.
Aku menyondorkan ocha dingin yang barusan kubeli untuknya. Kami berada disebuah taman kecil dekat asramaku. Aku berusaha menenangkannya dan ingin meminta penjelasan lengkap darinya. Tapi kurasa ini bukan saat yang tepat. Dia sangat labil sekarang walau aku tak tahu apa akibatnya. Tapi dari matanya saja, aku bisa tahu kalau dia gelisah. Dia takut.
"aku takut harus menjauh darimu," ucapnya. Glek. Aku lupa kalau dia bisa membaca pikiran.
"aku tidak ingin," ucapnya lagi. Aku hanya diam, kemudian menepuk punggungnya pelan. Jujur, aku masih agak syok karena serangannya tadi. Untung saja dia segera melepaskan bibirku dari bibirnya yang... lembut itu. ARGH! Aku tidak bermaksud untuk bicara begitu... aku...
"kau tahu, aku menyukai dirimu. Aku tak mau kehilanganmu hanya karena masa depan bodoh yang sama sekali tak kita ketahui," ucapnya membuatku semakin bingung. Sebenarnya ada apa pada dirinya? Perlukah aku bertanya?
"tapi aku juga bodoh karena terlalu takut, Mami..." ucapnya lagi sambil mengacak rambutnya. Aku melongo. Baru kali ini ada yang mengatakan 'aku takut kehilanganmu' dan menganggap dirinya bodoh. Ini semua seperti mimpi untukku.
"Ruki... sebenarnya ada apa?" ucapku langsung. Aku sampai lupa menambahkan keigo '-san' pada akhiran namanya. Aku tahu aku tak sopan. Tapi rasa penasaranku melebihi semua etikaku. Biarkan saja, toh juga kami sudah sering bertemu ini.
Dia terdiam, kemudian tersenyum lembut kearahku.
"bukan apa-apa. Aku hanya mimpi buruk lagi," ucapnya. Dia berbohong, aku tahu itu. lagipula, mana ada orang yang mau percaya kalau kau mimpi buruk di siang bolong?
XXX
Hari sudah cukup sore karena hari ini Ruki mengajaku pergi. Sepertinya dia tidak ingin aku ke rumah sakit, entah itu hanya perasaanku atau itu memang kenyataannya. Dia terlihat sangat protektif seperti induk penguin dan aku anaknya.
Aku menghela napas berat dan masuk ke dalam asramaku. Aku membuka pintu dan mendapati isi kamarku sudah berantakan. Seseorang terbaring diatas ranjangku dan aku bisa merasakan firasat aneh. Bagaimana dia masuk kesini?
"Tomo?" aku memanggilnya. Mungkin saja itu Tomomi kan? Tak ada jawaban. Aku hanya bisa melihat kegelapan. Aku berjalan menuju knop lampu dan menyalakannya, kemudian berbalik menatap gundukan itu.
Ada darah... A-apa ini?!
Aku mengatur napasku dan berusaha tenang, kemudian mengambil kertas kuning yang tergeletak di lantai dingin itu dan menemukan tulisan yang tidak asing. Tapi tulisan siapa? Dan kenapa menggunakan tinta merah? Aku membaliknya dan menemukan sebuah nama tertera di sana dengan sangat jelas.
'selanjutnya, ...'
Tanpa banyak bicara, aku membuka selimut yang menutupi gundukan itu dan mendapati sosok yang tak asing dimataku berbaring telungkup.
"KYAAAA!"
XXX
Ruki membuka matanya saat dia merasakan kegelapan menyelimutinya. Didepannya berdiri sebuah makam, dan dirinya yang berdiri di makam itu dengan hampa, tanpa sedikitpun hawa kehidupan. Entah apa yang membuatnya bisa seperti itu. Dia bisa merasakan kesedihan tiap melihat makam itu.
Dibelakangnya, berdiri Tomomi dengan wajah basah. Dia sama sekali tidak menjerit dan menangis seperti biasanya. Dia hanya terdiam sambil menatap bunga yang ada disamping makam itu. Putih, semua bunga itu putih. Airmata menuruni pipinya, dan dia hanya terdiam sambil meletakkan setangkai bunga lain , satu-satunya bunga yang tidak berwarna putih. Warna merah darah.
Ruki menatap gadis itu dengan tatapan terkejut, kemudian dia melihat Tomomi menatapnya tajam dengan jejak-jejak darah dipipinya. Matanya terus mengeluarkan cairan itu.
"kau yang membunuhnya, kau membunuh..."
'SRAKK'
Ruki terbangun. Napasnya terengah-engah ketika dia membuka matanya. Mimpinya kali ini memang tidak seseram biasanya, namun mimpi ini paling terasa nyata. Dan dia tak mau mendengar kelanjutannya. Lebih tepatnya, dia tak sanggup.
"hh... kenapa..."
'trrt'
Suara ponsel itu membuatnya langsung menoleh ke ponselnya dan menyambar ponsel hitamnya. Nama Uruha tertera disana, membuatnya bingung.
"Hm? Ada—Uru, kau menangis?" tanya Ruki heran. Jantungnya berdegup kencang. Apa yang terjadi?
"Ru-ruki..."
Mendengar suara parau itu, Ruki terdiam. Dia takut, takut kalau mimpinya benar-benar jadi kenyataan. Dia berniat untuk bertanya ada apa, namun lidahnya kelu.
"lebih baik kau langsung ke rumah sakit sekarang," ucap suara berat nan tenang itu sambil merebut ponsel Uruha. Ruki segera memutuskan sambungan telepon dan pergi menurut perintah Aoi.
XXX
Ruki berlari dikoridor putih itu dengan wajah khawatir, dan dia hanya menggunakan kaus oblong putih dengan sneakers coklat favoritnya. Uruha memintanya untuk segera menemui mereka di ruang tunggu UGD.
Ruki mendapati teman-temannya dengan Mami yang terduduk di ruang tunggu. Dia menatap lantai dibawahnya dengan kosong, rambutnya menutupi wajahnya. Melihat kedatangan Ruki, semua langsung berpaling menatapnya.
Mami tetap terdiam sambil mengaitkan jari-jarinya satu sama lain. Tangannya masih sedikit bergetar saat dia mengetahui apa yang barusan dilihatnya. Ruki menyadari itu, dan dia langsung memeluknya protektif sambil mengusap punggungnya. Rasa takutnya tidak terbukti, dan dia bersyukur Mami masih berada didepannya tanpa luka sedikitpun.
"tenanglah. Semua masalah pasti selesai," ucapnya lembut. Dia bisa merasa pelukan Mami dipinggangnya mengerat, dan dadanya mulai basah. Sampai akhirnya dia mendorong Ruki dan mengusap airmatanya.
"A-aku tidak tahu apapun... aku benar-benar tak tahu apapun... tapi mereka mengira aku yang melakukannya. sungguh, aku tak tahu apapun," ucapnya sambil sedikit terisak. Ruki mengerutkan dahinya dan menatap Uruha dengan penuh tanda tanya.
"Mami..."
Mami menoleh dan mendapati Haruna berdiri dibelakangnya dengan senyuman lembut dan tangan masih terinfus. Dia terlihat sangat tenang, dan menatap Mami seakan tidak terjadi apa-apa.
"tak ada yang perlu di khawatirkan," ucapnya singkat sambil duduk disamping Mami. Dia menatap Mami dengan santai dan kembali tersenyum. Melihatnya, Mami sedikt merasa kesal. Dia kesal karena tak bisa setenang Haruna, dan merasa Haruna sama sekali tak peduli dengan kohainya.
"biarkan saja semua yang sudah terjadi. Daripada kau menangis, lebih baik kau tena—"
'PLAKK'
Tamparan itu membuat Haruna terhuyung kesamping. Ruki segera membuat Mami menjauh dari Haruna, sementara Kai membantu Haruna untuk tetap tegak. Dia kaget, karena baru kali ini dia melihat mereka bertengkar sampai angkat tangan.
"kau menyuruhku untuk tenang Haru? Mana mungkin aku bisa tenang sementara dia didalam sana entah bagaimana keadaannya?! Aku yang menemukan dia, Haru! Jelas aku yang paling takut!" ucap Mami keras sambil menatap tajam Haruna. Haruna terdiam sambil memegangi pipinya.
"apa kau tak peduli padanya? Apa sikapmu selama ini didepan kami hanyalah kebohongan?" ucap Mami asal, membuat Haruna terdiam sambil menatapnya tajam.
"ya. Memang," ucapnya kemudian, membuat Mami terkejut. Dia sama sekali tak menyangka akan medapat pengakuan seperti itu.
"memang semua bohong. Aku berpura-pura didepan kalian, kenapa? Mau protes?" ucapnya tajam, membuat Mami naik darah. Dia ingin beradu mulut dengan Haruna sekarang tanpa peduli tempat dan waktu.
"apa? Jadi, sikap perhatianmu, sikap baikmu, dan semuanya itu hanya buatan? Kau berpura-pura didepan kami? Apa ini sebuah pengakuan kalau kau dalang dari masalah di sekolah?!" ucap Mami keras sambil melepaskan diri dari Ruki. Haruna terdiam. Dia menatap tajam Mami, kemudian dia tersenyum licik.
"pikiranmu terlalu picik. Untuk apa aku melakukan itu, bodoh?" balas Haruna tajam sambil menatap Mami kesal. Mami mengepalkan tangannya.
"mana kutahu? Tapi tak ada yang tak mungkin 'kan? Dan mungkin saja kau memang pelakunya. Oh, apa kau menyuruh para arwah-arwah penasaran itu untuk mengganggu kami? Begitu? Aku tahu kau bisa melihat mereka, Haruna. Dan kau berbohong pada kami kalau kau tak bisa melihat mereka, iya kan?" ucap Mami mengelak. Haruna diam, kemudian menatap Mami lurus.
"kau sudah tahu. Kalau begitu, mau kuberitahu apa penyebab Rina ada didalam sana sekarang, hm?" ucapnya santai sambil mendekati Mami. Dia berdiri dan menyajarkan tingginya dengan tinggi gadis itu. Tomomi yang menontonnya hanya bisa diam sambil menggigit bibirnya. Dia belum pernah melihat Haruna semarah itu.
"kau. Dan dia," ucap Haruna tegas sambil menunjuk Ruki. Mami terbelalak. Dia menatap Haruna tak percaya, kemudian menggertakkan giginya, sementara Ruki menatap Haruna penuh rasa bersalah.
"bohong!" ucap Mami cepat sambil menarik kerah baju Haruna. Kai dan yang lain berusaha menghentikan mereka, namun sia-sia.
"dengar ya, aku tak pernah berniat untuk berbohong, Mami. Aku sudah cukup banyak berbohong, dan sekarang aku tak mau melarikan diri lagi. Kau ingin tahu semua yang kusembunyikan, begitu? Aku sudah memberitahumu. Sejak awal aku tak pernah mengizinkanmu bertemu Ruki kan? Sekarang inilah akibatnya kalau kau bertemu Ruki, apalagi sampai mencintainya. Aku tak tahu berapa banyak lagi yang harus jadi korban, dan aku takkan melarikan diri jika harus jadi korbanmu juga," ucap Haruna santai sambil menatap Mami tajam.
"aku tidak per—"
"terserah mau percaya atau tidak, yang pasti aku sudah mengatakannya. Kana Erizawa mengincarmu, karena itu dia mendekatimu. Aku tak tahu jelas apa tujuannya, tapi satu hal yang kutahu, dia menginginkanmu dan Ruki," ucap Haruna cepat.
"aku tak mau percaya pada pembohong sepertimu!" ucap Mami mengelak sambil menutup kedua telinganya. Haruna terdiam, kemudian mencabut selang infusnya dengan kasar, membuat luka ditangannya karena jarum itu.
Dia melemparkan jarum itu sembarang tempat dan meminta Mami membuka matanya. Dengan kasar, Haruna mengambil kertas kuning yang ada dikantung celananya dan merobeknya, dengan darah membasahi kertas itu. Dia membuang kertas itu mengarah pada Mami.
"terserah apa maumu," ucap Haruna tegas sambil menatap Mami. Mami menatap Haruna tajam dan sedikit terkejut dengan benda aneh yang ada dibelakangnya. Dia melihatnya, sangat jelas.
"karena aku tak peduli. Aku hanya perlu menjalankan tugasku, baik kau suka atau tidak."
Haruna pergi meninggalkan Mami dan yang lain. Tak ada seorangpun yang berani mengejarnya, karena sosok dibelakangnya yang menyeramkan itu. Dengan leher patah dan rambut yang panjang. Kepala tanpa tubuh bagian bawah yang tangannya terus bergelayutan dipundak gadis itu. Perlahan, Mami melihat tangan makhluk itu bergerak mencekik leher Haruna.
Dia ingin mengejarnya, tapi suara dari pintu ruang UGD itu menghentikannya.
XXX
Tak ada luka serius di tubuh Rina, dan dokter juga sudah melakukan pengecekan. Namun tak ada tanda-tanda kekerasan ditubuh Rina dan obat-obatan terlarang di darahnya. Bersih. Keadaannya normal. Untuk masalah suhu badannya yang luarbiasa dingin diluar batas kewajaran dan denyut nadinya yang melambat tadi, dokter masih belum bisa mendiagnosanya.
Sekarang keadaan gadis itu sudah stabil. Suhu badannya kembali dan denyut nadinya juga. Dia tertidur semalaman penuh dan terbangun esok harinya seperti biasa tanpa tahu apa-apa. Dia hanya bingung kenapa dia ada di rumah sakit.
"Mamitasu..."
Panggil Tomomi saat Mami masih berada didalam ruangan bersama Rina. Rina tersenyum pada Tomomi dan menyuruhnya masuk.
"Tomomi, masuk ayo!" ucap Rina ceria sambil memanggil senpainya itu. Tomomi berjalan masuk, kemudian saat dia melewati kaki ranjang itu, sesuatu keluar dari selimut Rina, membuatnya terkejut. Rina tertawa terbahak-bahak melhat reaksinya yang langsung menjauh.
"ahahahaha! Puh.. pa-padahal itu kan hanya boneka kaus kaki-ku yang gagal, kenapa sekaget itu sih? ahaha! Yeaahh!" teriak Rina girang. Dia merasa senang berhasil membuat Tomomi kaget. Tomomi hanya cemberut sambil bercacak pinggang.
"Kau! Sudah sakit juga! Lihat saja, aku akan balas dend—KYAAAA! JAUHKAN ITU DARIKU!" teriak Tomomi histeris saat Rina melemparinya boneka kaus kaki hitam dengan jahitan berantakan itu lagi. matanya dijahit dengan kancing merah dan kepalanya sengaja disobek. Rina tertawa geli.
"ini produksi massal, kau tahu?" ucap Rina sambil membuka selimutnya, memperlihatkan belasan boneka-boneka kaus kaki lain yang keadaannya lebih kacau, badan compang-camping dengan dakron yang diberi warna merah berjejeran disana. Tomomi mengangga, sambil menatapnya. Rina mengangkat satu boneka putih yang paling parah, dengan bercak-bercak darah ditubuhnya.
"inilah masterpiece! Sayang aku takbisa membuat yang begini," ucapnya sambil menatap si boneka. Tomomi berjalan mundur, kemudian menatap Rina horror.
"jangan lempar! Itu bukan boneka gagal, tahu! Itu boneka voodo!" teriak Tomomi sambil mengacungkan tangannya. Sementara Mami hanya diam sambil mengagumi masterpiece Rina.
"ngomong-ngomong, kapan kau membuatnya?" tanya Mami heran. Perasaan dia belum pernah melihat yang seperti ini. Barang-barang Rina biasanya lebih lovely dan lucu-lucu daripada ini.
"eh? Aku tidak membuatnya," ucap Rina santai. Mami mengangkat alisnya.
"aku mendapatkan lima diantaranya dari kamar Haru-nee. Sementara sisanya, aku menyuruh yang menjagaku kemarin untuk membuat kloning. Tidak terlalu buruk sih," ucap Rina santai. Mami mengingat, tadi pagi saat dia bertemu Reita yang menjaga Rina berjalan terhuyung-huyung dengan kantung mata panda dan jari-jarinya yang diperban. Mungkin saja anak ini sudah menyiksanya semalam.
"Oh, iya! Dimana Haru-nee?" tanya Rina antusias. Tomomi dan Mami diam. Beberapa saat kemudian terdengar kericuhan dari depan.
"Kai! Le—pas! Aku bukan umpan!" teriak seorang laki-laki didepan. Kepala pirang bernoseband itu muncul didepan pintu yang terbuka.
"ahaha... selamat siang, maaf mengganggu. Sampai jumpa!" ucapnya cepat sambil menutup pintu. Rina terdiam. Dia mengenali pemuda itu sebagai objek penderitaannya semalam.
"ah! Om-om pesek yang semalam!" ucapnya dengan senyum polos bagai malaikat. Reita langsung masuk, sementara Mami berjalan mundur setelah melihat sinyal dari Kai.
"kau tahu, bocah?! Aku masih muda!" ucap Reita kesal. Sudah dua kali dia dipanggil 'om'.
'BLAM'
Suara pintu itu membuat Tomomi dan Reita langsung berpandangan. Pintu dikunci dari luar.
"Rina-chan, kau boleh mengajak mereka bermain kalau bosan. Aku masih ada sisa bahan untuk boneka lagi dibawah ranjangmu. Selamat berkreasi!" ucap Kai lantang. Reita berusaha mendobrak pintu, sementara Tomomi menatap Rina yang mencari kantung kertas dibawah tempat tidurnya.
"oh ya, jangan terlalu berisik, Reita. Ini rumah sakit," ucap Kai sedikit mengancam. Reita diam dan berbalik menatap Rina yang sudah memegang gunting dan jarum.
"ayo!" ucap Rina sedikit mendesis. Mereka merinding, sementara Rina memainkan gunting itu seakan itu mainan surgawi dengan senyum tanpa bersalahnya.
"H-hiiiyyy!" jerit Tomomi didalam hati. Dia hanya terdiam menatap Rina.
'aku tahu, aku umpan. Aku harus menahan mereka, begitu kan... Kai-senpai?' ucap Rina dalam hati.
XXX
"ada apa?" ucap Mami datar sambil menatap Kai tajam. Kai terdiam sampai dia berhasil masuk ke sebuah ruangan kosong.
"Mami, apa kau ingin tahu semua masalahmu dengan jelas?" tanya Kai sambil menatap gadis itu. Ruki berdiri disudut ruangan itu sambil menatap Kai.
"aku akan menceritakannya, kenapa Haruna berbohong padamu," ucap Kai lembut. Mami terdiam sambil menatapnya tajam.
"dan ini bukan kebohongan."
Kai POV
Aku masih bisa mengingat dengan jelas kejadian itu, kejadian tujuh atau delapan tahun yang lalu, saat Haruna masih duduk di bangku SD. Kami satu sekolah, dan dia termaksud anak yang cukup terkenal disekolah kami.
Terkenal cukup aneh.
Dia gadis penyendiri yang suka berjongkok sambil bicara pada angin didepan kelas, atau didepan pohon Sakura yang sedang kering. Terkadang kalau dia bilang 'hati-hati saat pulang' itu berarti ada pertanda buruk. Dan dia selalu dikatai 'penyihir' dan 'tukang kutuk'. Meski begitu, kulihat dia tetap cuek dan menikmati 'rutinitasnya'. Sampai hari itu, aku terlibat dengannya.
Beberapa anak membulinya, dan saat itu aku melihat kepalanya terbentur dengan tiang penyangga net voli di ruang olahraga. Teman-temannya langsung kabur saat melihat kepalanya berdarah, padahal aku masih melihatnya membuka mata. Uruha mendatanginya dan membantunya hari itu. Dan satu hal yang tak bisa kulupakan dari kata-katanya waktu itu.
'salah satu dari mereka akan mengalami hal yang lebih parah dariku.'
Dan benar saja, esoknya salah seorang dari pembulinya kecelakaan dan pengalami patah tulang cukup parah. Sejak saat itu juga, dia dijauhi. Tak ada yang berani berkontak padanya kecuali aku dan Uruha. Itupun... karena seorang miko yang meminta kami untuk menemaninya.
Miko itu mengatakan pada kami, kalau nanti saat dewasa kami akan menemukan seorang yang merupakan cetakan dari temannya di dunia lain, namanya Naomi. Saat itu aku sama sekali tidak percaya. Karena bagiku itu hanya takhayul belaka. Tapi perlahan-lahan aku percaya, karena aku memang mulai melihat hal-hal aneh yang tidak dilihat orang lain.
Haruna, sama sepertiku. Namun dia lebih tajam. Entah kenapa, tiap kali miko itu menatap Haruna, dia seakan ingin menangis. Tiap kali dia terluka, dia akan menangis dan memeluk tubuh kecil Haruna. dan itu membuatku kesal. Mungkin aku cemburu?
Sampai aku menguping pembicaraan mereka.
"Haru-chan, janji ya padaku kalau kau akan menjaga Naomi-chan untukku, oke?" ucap miko itu dengan lembut. Haruna hanya terdiam.
"Naomi-chan itu temannku yang paling berharga," lanjutnya. Haruna terdiam, kemudian menatapnya polos.
"dia arwah kan? Berarti dia sudah mati," ucap Haruna tajam. Miko itu tersenyum, kemudian membisikkan sesuatu yang masih bisa kudengar.
"reinkarnasinya..."
Aku terdiam. Dia meminta anak kecil ini untuk menanggung beban begitu?
"dia akan kembali, Haru-chan... dia berjanji padaku. Tapi aku tahu, aku akan gagal lagi. Aku tak bisa melindunginya. Dan kau... mau kan menggantikanku? Bantulah aku, sedikit saja. Setidaknya, aku sudah banyak menolongmu kan?" ucapnya pelan sambil mengelus pipi Haruna. Haruna menyentuh tangannya.
"kenapa aku?" tanya Haruna polos. Tanganku sudah terkepal, tapi aku menahan diri untuk maju kedepan.
"karena aku percaya padamu. Kau akan membelanya apapun yang terjadi, bahkan sampai kau mati Haru-chan. Aku tahu itu," ucapnya sambil mengelus pipi kecil itu. Haruna hanya ber-'oh' singkat sambil menatap miko itu datar.
"aku tahu, kau pasti akan membantuku, Haru-chan. Aku memang tidak salah memilihmu," ucapnya senang sambil memeluk tubuh kecil itu. Sementara Haruna hanya terdiam sambil menahan tangannya yang ingin membalas pelukan itu. Dia tahu, apa yang akan terjadi selanjutnya. Masa depannya. Dia hanya diam sambil mengepalkan tangannya.
Aku tahu, Haruna tak mau melakukannya. Aku tahu dia merasa dimanfaatkan, aku tahu itu. Awalnya dia memang menolak. Dia tahu dia bisa melihat hal-hal yang seharusnya tidak bisa ia lihat. Dan dia masih sangat kecil untuk mengetahui itu. Tapi dia berusaha untuk tetap menjalani harinya seperti biasa sambil menahan semua kebingungan itu dalam hatinya. Sampai hari dimana ibunya meninggal. Ayahnya menyalahkannya, seakan semua itu salahnya. Dia tetap diam tanpa bicara sekalipun. Dia tidak menangis saat pemakaman ibunya, dan hanya berwajah hampa. Semua orang mengira dia memang tidak sayang pada ibunya. Tapi aku tahu, dia syok. Dia terlalu takut untuk berekspresi dan mengucapkan salam perpisahan pada ibunya. Jangankan itu, dia bahkan takut untuk menangis didepan ayahnya. Aku melihat dia menahan tangan kecilnya untuk menepuk bahu ayahnya, dan diam sambil mengepalkan tangannya lagi.
Itu kejadian pertama. Kejadian kedua, miko itu yang mati bunuh diri didepan Haruna. Sampai sekarang, aku tak pernah tahu apa penyebabnya. Tapi yang kutahu, Haruna hanya terdiam diruangan itu dengan tatapan kosong. Sekali lagi, tanpa air mata.
Dan kejadian terakhir yang membuatnya benar-benar terpukul. Uruha, yang kecelakaan karena melindunginya. Bersyukur dia masih baik-baik saja dan hanya ingatannya yang hilang. Sebenarnya itu semua sangat bagus. Uruha juga indigo, sama seperti Haruna, dan sesuatu mengikutinya terus. Aku memang tidak bisa melihatnya dengan jelas tapi yang pasti makhluk itu bukan manusia. Kecelakaan itu membuat Uruha lupa segala hal, dan dia juga lupa kalau dia memiliki indra keenam. Dia juga mengaku kalau dia memang tak pernah melihat hal-hal aneh lagi. Kupikir itu semua hanya faktor biasa. Tapi aku salah besar.
Haruna yang membuatnya melupakan segalanya. Di lokernya, aku bisa melihat sebuah logam kecil terpaku disana. Logam yang sering dibawa Uruha. Dia sering mengatakan itu 'jimat'nya. Tapi sekarang, benda itu terpaku di loker Haruna dengan keadaan retak parah. Mungkin... itu yang membuat Uruha melupakan semuanya?
Dan anehnya, aku menemukan beberapa benda serupa disana. Sekitar... lima atau enam. Aku menanyakan hal itu padanya, tapi dia tak pernah mau menjawab. Dia tetap diam, dan hanya mengatakan kalau dia akan benar-benar pergi dan takkan mengganggu kami lagi.
Aku berusaha mencari tahu. Tapi semakin aku berusaha, aku semakin sering merasakan hal-hal aneh. Entah nyaris tertabrak mobil, terpeleset dari tangga, hampir tertimpa tiang net voli, dan terakhir aku benar-benar tertabrak, motor. Semua kejadian itu selalu terjadi tiap aku berusaha mengejar Haruna atau dia berada didekatku. Tapi aku tak peduli. Aku terus berusaha sampai akhirnya aku mengambil kesimpulan. Ada roh yang menginginkan tubuhnya, tidak seperti yang selama ini mengikuti Uruha dan berusaha melindunginya, tapi 'yang ini' jahat.
Hari itu aku pingsan didepan Haruna. Orang tuaku menganggapnya sebagai pembawa sial, dan aku diminta untuk menjauh darinya. Terakhir, saat sekolah esok harinya, aku melihat loker Haruna penuh sampah, mejanya yang sengaja diseret kedepan ruang kelas dan teman-temannya yang tak menganggap keberadaannya. Aku mencarinya hari itu, dan menemukannya diam berjongkok didepan pohon Sakura kering dibelakang sekolah, tempat yang sering dianggap horror oleh anak-anak. Hanya hari itu... aku melihatnya menangis, sendirian. Tapi aku tak punya keberanian untuk menghampirinya dan menenangkannya hari itu. Aku hanya menontonnya dari jauh. Aku tahu, ini bukan salahnya. Ini perbuatan arwah itu yang berusaha membuatnya bunuh diri. Aku tahu itu. Dan ini salahku yang terlalu takut untuk menenangkannya.
Esoknya, aku tak menemukan dia di sekolah lagi, bahkan saat kucari kerumahnya ayahnya yang keluar dan mengatakan dia tak boleh ditemui. Kupikir... dia bunuh diri. Tapi ternyata, aku salah. Dia tak selemah yang kupikirkan. Dia hanya butuh waktu untuk menenangkan dirinya.
Kenyataannya, dia tak pernah tenang. Dia malah bertambah parah, dan menganggap hidupnya tak pernah berarti. Tujuannya hanya satu; mengabulkan permintaan gila miko itu, karena itu bisa membuatnya pergi perlahan dan menyiksa dirinya sendiri. Tanpa harus bunuh diri. Dan akulah yang selalu bodoh, karena aku baru menyadarinya saat aku bertemu kembali dengannya.
XXX
-author POV-
Kai menghentikan cerita masa lalunya yang panjang, kemudian menatap Mami yang terdiam dengan mulut terkatup. Kai tersenyum menatap Ruki dan Mami yang tak percaya, kemudian menghela napas kecil.
"aku tahu ini sulit untuk dipahami. Tapi ini memang kenyataannya. Tomomi sudah tahu."
Mami terdiam. Matanya mulai berair, saat dia membayangkan dirinya berada diposisi senpainya yang luarbiasa nekad itu.
"ada cara kan? Untuk membuat dia tetap hidup dan melupakan semua masa lalunya? Uruha saja bisa. Logam yang kau maksud itu, pasti sama yang seperti milikku kan?" ucap Ruki. Kai tersenyum miris.
"ya. Benda itu mungkin berfungsi sebagai memori. Kau membawanya terus kan? Mami juga. Mungkin kau tidak sadar tapi benda itu bisa jadi ada di laci kamarmu atau dibawah tempat tidurmu. Sementara punya Haruna, aku tak pernah melihatnya. Dia... mungkin sudah membuangnya?" ucap Kai sambil menatap kedua orang itu. Mami masih sibuk dengan pikirannya sendiri, sampai akhirnya dia teringat akan sesuatu.
"Kai-san... kapan dia pulang?" ucap Mami terbata sambil menatap datar lantai dibawahnya. Kai mengerutkan dahinya.
"tadi pagi, kenapa?" ucapnya.
"apa dia bilang dia ingin pergi kemana?" tanya Mami lagi. Kai memutar bolamatanya, kemudian menjawab.
"tadi pagi, dia bilang dia ingin pergi kesekolah untuk mengecek lo—"
Kai terdiam. Dia membelalakkan matanya lagi. Kemudian mengingat-ingat Haruna yang tadi pagi memutar-mutar kunci kecil berwarna hitam saat meninggalkan rumah sakit.
"lokernya."
Mendengar perkataan itu, Mami langsung berlari menuju sekolah, tanpa peduli apapun yang terjadi.
XXX
Mami mencapai sekolahnya dengan cukup cepat, karena Ruki mengantarnya. Dengan cepat, dia menghampiri ruang loker dan melihat semua kekacauan disebuah loker dekat miliknya. Masih sama, dan yang lebih parahnya lagi, kertas-kertas itu bertambah. Walaupun sudah disingkirkan olehnya tapi kertas itu malah makin bertambah. Lokernya penuh dengan kertas bekas dan tulisan dari spidol merah. Dibawah loker itu, ada sebuah kunci yang terjatuh. Dan dia yakin, itu kunci Haruna.
Mami menyingkirkan kertas-kertas itu dengan kesal, kemudian dia merasakan sesuatu yang keras diujung lokernya.
"hei, Sasazaki," ucap suara itu membuatnya berpaling. Erizawa berdiri diujung ruang loker sambil menatapnya tajam. Mami balas menatapnya dengan tajam.
"wah, sepertinya kau sudah tahu semuanya ya? Padahal aku mau memberikan kejutan," ucap gadis itu sambil tersenyum. Mami hanya diam sambil membongkar kotak kecil diujung loker Haruna itu. Dia berhasil membuka kotak itu dan mendapati kotak itu terpaku disana. Mami langsung memasukkan benda itu ke kantung celananya, dan menatap Erizawa yang berdiri didepannya.
"wah, mau menolong gadis bodoh itu? Kau itu benar-benar lugu ya. Dia takkan pernah bisa kembali seperti semula, tahu?" ucap Kana sambil menertawai Mami. Mami hanya diam, kemudian dia menatap tajam gadis yang setinggi dirinya itu.
"hanya orang bodoh yang mengatakan 'tidak mungkin' dan berpikir untuk balas dendam pada orang lain yang jelas-jelas bukan orang yang menanamkan dendam itu pada dirinya termaksud kau," ucap Mami dingin sambil sengaja menyenggol bahu Erizawa dengan angkuh. Dia bisa merasakan bahunya nyeri namun dia tak peduli.
Nyeri yang dirasakannya tidak seberapa dengan rasa nyeri menanggung beban orang lain yang tidak seharusnya kau tanggung.
"musim panas ini, akan jadi yang terakhir untukmu, Mami. Dan aku akan membuatkan persembahan spesial untukmu," ucapnya. Mami terdiam, kemudian melanjutkan perjalanannya ke taman belakang sekolah diam-diam.
XXX
Mami berdiri didepan pintu belakang dengan napas memburu. Sosok berkepala coklat itu mengubur kepalanya dilutut sambil memeluk lututnya protektif. Punggung kecilnya yang ringkih bersandar pada batang Sakura yang besar itu, Tanpa peduli angin yang menerpa tubuhnya dan langit yang mulai mendung. Dia tak peduli segala hal, seakan semua itu tidak penting.
Titik-titik air mulai turun membasahi bumi dengan derasnya, namun gadis itu tetap diam seperti batu. Mami ikut terdiam, kemudian dia berjalan menuju pohon Sakura itu tanpa peduli kausnya yang basah. Mami melepas jaketnya dan menutupi kepala itu dengan jaketnya sambil memeluk kepala itu. dia tak peduli dengan rambutnya yang basah dan hujan yang membasahi tubuhnya. Yang penting baginya sekarang, memberikan Haruna 'tempat berteduh' yang selama ini tak pernah ia dapatkan dari orang lain.
"maaf aku tak pernah sadar," ucap Mami pelan sambil menepuk-nepuk bahu gadis itu. Haruna hanya diam, sambil terus mengubur wajahnya.
"maaf aku terus melibatkanmu pada masalahku," ucap Mami pelan sambil menundukkan kepalanya. Dia merasakan punggung itu bergetar, sementara tangannya masih terus mengelus punggung itu, melakukan apa yang selama ini ingin dilakukan Haruna pada orang lain.
"mulai sekarang, kumohon... jujurlah pada dirimu sendiri, pada keinginanmu, ya?" lanjut Mami sambil melepaskan pelukannya. Namun tangan itu menahannya. Tangan yang menggenggam erat kausnya dengan gemetar.
Mami tersenyum, kemudian kembali memeluknya, membiarkan Haruna menangis sepuasnya. Baru kali ini, dia merasakan bagaimana menjadi seorang 'kakak'.
Kai berdiri didepan gerbang belakang sekolah Mami dengan tubuh basah, sementara Ruki mengejarnya dari belakang. Dia menatap pemandangan itu dengan senyum.
'kau melihatnya kan, Haruna? Dia menyayangimu, bukan memanfaatkanmu. Dia peduli padamu...'
XXX
Erizawa Kana menatap kedua gadis itu dari sisi lain. Dia menatap dengan benci kedua gadis itu, sambil berdecih. Haruna menatapnya dengan tatapan tajam, sementara dia terus menyeringai sambil memainkan jarinya, membuat Haruna menggigit bibirnya. Dia puas menjadikan Haruna 'boneka'nya. Mainannya yang berharga, untuk menghancurkan semuanya.
Tiba-tiba saja, sesuatu mengalir di pipinya, dan kepalanya terasa pening. Haruna menatapnya tajam.
''Erizawa Kana' yang sebenarnya baru akan bangkit, dan itu akan menjadi akhir dari semuanya. Hantu gila itu akan benar-benar pergi. Akan kupastikan itu, Mami. Maaf, tapi aku punya rencana lain'
-TBC/ch9/end-
a/n: yohoo~sori ini chapter bosenin banget. - bagian dari plot, sayang harus dipotong disini . gomen minna!
