The Emptiness Of The World
By : Salazar Redholc
.
.
.
.
Disclaimer : Naruto (Masashi Kishimoto) & HS DXD (Ichie Ishibumi)
Rated : T – M
Warning : Typo, OOC, Gaje, Godlike!Naru, Dll
CHAPTER 10
Seorang gadis tengah bersenandung di sebuah pelabuhan kosong yang telah ditinggalkan sejak lama, rambut putih peraknya berkibar mengikuti arus angin yang berhembus lembut, mata lavender indahnya menatap laut malam dalam diam, di dalam matanya nampak sebuah pantulan dari cahaya bulan berwarna perak.
Ditangannya, tergenggam sebuah perahu kertas yang telah di bentuk sedemikian rupa, dan di dalam perahu kertas tersebut telah terselipkan satu sobekan kertas lagi yang di isi dengan beberapa kalimat.
"Kau tahu, ada sebuah legenda tentang perahu kertas yang dapat mengabulkan permohonan". Kaguya berujar, pandangannya menatap lurus perahu kertas yang dibuatnya. "Memang terkesan bodoh, tapi izinkan aku untuk mempercayainya hanya untuk kali ini". Dengan perlahan, Kaguya meletakan perahu kertas itu diatas laut, dan membiarkan ombak laut membawa harapannya pergi menjauh.
Hyabuto menatap ratunya dalam diam, meski sejujurnya dia sedikit penasaran dengan harapan dari ratunya itu.
Setelah perahu kertasnya menghilang, Kaguya menghentikan senandungnya. "Ayo pergi, kita harus menyelesaikan tujuan kita secepatnya". Kaguya berbalik, dan pergi dari tempat itu dengan langkah anggun layaknya seorang bangsawan, setelah beberapa langkah tiba-tiba sebuah portal berwarna hitam tercipta di depannya lalu dia memasuki portal berwarna hitam itu tanpa merasa khawatir karena bagaimanapun portal tersebut adalah salah satu dari sekian banyak kemampuan yang dia miliki.
...
Romania... Salah satu negara besar di Eropa, sebuah negara indah yang terletak di Eropa bagian tenggara di utara semenanjung balka, dan berbatasan dengan laut hitam di bagian timur. Ada beberapa hal yang tak diketahui oleh para manusia, meski negara ini menjadi salah satu negara terbesar tapi nyatanya negara ini juga telah menjadi rumah bagi beberapa klan Vampir, dan dari sekian banyak klan ada 2 klan ternama yang tengah mengalami konflik yaitu Tepes dan Carmilla.
Di salah satu kastil yang ada di Romania, nampak Kaguya serta bawahan setianya Hyabuto, tengah berjalan dengan santainya di dalam kastil, seolah-olah kastil yang mereka pijak adalah kastil mereka sendiri. Nyatanya, kastil ini memang telah menjadi milik Kaguya sepenuhnya, tentunya setelah dia melakukan sedikit sihir untuk mendapatkannya.
Di dalam kastil tersebut, terdapat berbagai jenis makhluk yang tengah berkeliling disekitar bangunan kastil dan disaat Kaguya melewati mereka maka mereka akan berlutut penuh hormat kepadanya. Setelah beberapa menit berjalan melewati lorong-lorong, kini Kaguya telah sampai di sebuah ruangan yang terdapat singgasana kebanggaannya.
Dengan gerakan anggun, dia mendudukan tubuhnya di singgasana tersebut, yang di dampingi dengan Hyabuto di sampingnya. "Katakan padaku, bagaimana perkembangan dari Rizevim". Ujarnya.
Hyabuto mengangguk singkat, kemudian dia mengambil posisi berlutut di depan Kaguya yang tengah menatapnya.
"Dari laporan yang kuterima, Rizevim telah berhasil menggunakan Holy Grail dari Vampir bernama Valerie Tepes untuk membangkitkan puluhan naga jahat, termasuk beberapa naga jahat ternama seperti Grendel ataupun Com Cruach"
"Dia bekerja lebih cepat dari perkiraanku". Gumam Kaguya setelah mendengar informasi dari Hyabuto. "Lalu, bagaimana dengan segelnya? Apa dia sudah menemukan letak segel yang tersisa? Sebanyak apapun dia membangkitkan pasukan naga jahat, hasilnya akan tetap percuma bila tubuh utamaku belum terbebaskan"
"Maaf Kaguya-Sama, sepertinya seluruh segel yang tersisa cukup sulit untuk ditemukan karena adanya suatu penghalang ditempat segel itu berada"
"Begitu... Hmmm... Aku takkan heran bila itu benar, karena yang menciptakan segel tersebut adalah Naruto-Kun, yang merupakan satu-satunya pria yang kucintai".
Meski Kaguya mengucapkan kalimat yang terdengar tulus dari hatinya, tapi wajah Kaguya hanya menunjukan suatu ekspresi datar, seolah-olah apa yang dia ucapkan tadi tak ada bedanya dengan bumbu penyedap dalam makanan.
"Bicara soal segel, sebenarnya segel apa yang sedang kita cari saat ini, bahkan sampai harus menghancurkan beberapa tepat dan salah satu tempat yang telah kita hancurkan adalah sebuah desa yang dipenuhi orang-orang tak berdosa?"
Untuk sesaat Kaguya memejamkan matanya. "Segel yang saat ini kita cari adalah segel yang pernah diciptakan oleh seorang Onmyoji jenius, bila ingatanku benar nama onmyoji tersebut adalah Abe no Seimei. Dan biar kuberitahu, aku dan Naruto dahulu adalah seorang manusia yang hidup dimasa, dimana manusia adalah ras yang mendominasi dunia, bahkan pada era itu makhluk supranatural tak ada satupun yang berani menginjakkan kakinya dibumi..."
"...Dan segel yang sedang kita cari, itu adalah segel yang Naruto pelajari saat aku dan dia masih seorang bocah manusia. Pada saat itu, Naruto adalah seorang anak yang amat sangat pintar, begitu pintarnya hingga namanya dikenal oleh beberapa klan luar dari Ootsutsuki, bahkan beberapa klan itu dengan senang hati mengajarinya kemampuan yang klan mereka miliki, termasuk Abe no Seimei yang mengajarinya segel delapan arah mata angin atau segel yang tengah kita cari"
Kaguya menghentikan ucapannya, pandangannya beralih pada lantai kastil yang terbuat dari batu marmer murni, seandainya saja saat ini Hyabuto tidak menunduk maka mungkin dia akan melihat jelas adanya setetes air mata yang mengalir keluar dari iris lavender indah milik Kaguya.
"Jadi maksud anda, segel yang Juubi-Sama buat adalah segel yang dia pelajari dari seorang onmyoji, dan bila dilihat dari namanya, segel itu terbagi menjadi delapan bagian dan masing-masing bagiannya berada pada delapan titik arah mata angin"
Mendengar itu tanpa sadar Kaguya menunjukan sebuah seyum tipis yang terlihat sempurna di wajah cantiknya.
"Begitulah... dan setelah kedelapan segel itu dihancurkan maka dari pusat segel tersebut akan keluar sebuah Scrool yang di dalamnya terdapat kunci untuk membebaskan tubuh utamaku"
"Hmmm... Tak kusangka ternyata ada segel seperti ini yang telah dibuat sejak berabad-abad lamanya, bahkan bila dibandingkan pada era ini maka perbandingan kekuatannya sangat berbeda jauh". Gumam Hyabuto dengan sedikit menunjukkan rasa kagumnya.
"Sekarang hiraukan itu, saat ini kita baru berhasil menghancurkan lima segel, jadi masih tersisa tiga segel lagi. Hyabuto, aku ingin kau memata-matai golongan pahlawan, kudengar mereka berniat untuk menyerang kerajaan youkai dengan dibantu oleh dewa jahat dari Norse"
"Golongan pahlawan dibantu oleh seorang dewa? Apa itu benar? Maksud saya, bukankah sampai saat ini tujuan dari golongan pahlawan adalah untuk menghancurkan seluruh fraksi supranatural termasuk golongan dewa, lantas mengapa mereka malah bekerja sama dengan seorang dewa?"
"Itu bukan urusan kita, tak peduli mereka berniat melakukan apa, yang pasti aku ingin sedikit memanfaatkan mereka, untuk setidaknya mengalihkan perhatian Naruto-Kun dari kelompok kita"
"Begitu, lalu apakah tugasku hanya untuk mengawasi pergerakan mereka saja?"
"Jika bisa, cobalah untuk bergabung kedalam kelompok mereka, lalu cari informasi apapun yang akan berguna, dan jika mereka tak lagi memiliki sesuatu yang menguntungkan bagi kita maka kau kuijinkan untuk menghancurkan mereka"
"Dimengerti"
Setelah mengucapkan hal itu, Hyabuto segera menegakkan tubuhnya, lalu membungkuk sekali pada Kaguya sebelum akhirnya dia berbalik arah dan berjalan pergi dari ruangan tersebut.
Kini hanya tersisa suasana sunyi di dalam ruang takhta tersebut, namun Kaguya seakan tak peduli dengan keadaan itu, dia hanya berdiam di singgasananya dengan kaki yang disilangkan, tangan kanan yang menopang wajahnya serta tangan kiri yang diletakkan pada pegangan singgasana yang didudukinya.
...
Hari ini terasa menyedihkan bagi Naruto, kini dia sedang duduk sendirian di balkon penginapannya di Underworld. Nampaknya kepergian Kaguya telah sedikit mempengaruhi mental yang Naruto miliki, karena sejak pagi tadi dia sama sekali tidak menunjukkan suatu ekspresi apapun selain ekspresi datar.
Eloise yang selalu bersama dengan Naruto sendiri dibuat bingung oleh perubahan sikap pria itu. Sejak awal dia tidak pernah tahu apapun tentang Naruto, yang dia tahu Naruto telah bersikap seperti ini sejak mereka kembali kepenginapan.
Tak ada bedanya dengan Eloise. Zetsu, sebagai satu-satuya makhluk yang telah mengikuti Naruto sejak lama, bahkan tak dapat menyembunyikan rasa khawatirnya, ini terlihat dari sikap Zetsu yang tak pernah sekalipun pergi dari sisi Naruto, padahal sebelumnya Zetsu akan selalu pergi ketempat lain bila dia tidak mendapat panggilan dari Naruto.
"Naruto-Sama, ada kabar dari Kyoto, bahwa Sun Wukong generasi pertama telah menerima undangan anda". Ujar Zetsu yang masih berdiri setia disamping tuannya.
Naruto tak menjawab ucapan Zetsu tadi dengan kata-kata, melainkan hanya dengan melambaikan tangan kanannya sebagai tanda bahwa dia tetap mendengarkan apa yang Zetsu katakan.
"Saat ini, Sun Wukong-Sama ingin segera menemui anda, jadi tolong kembalilah ke Kyoto". Lanjut Zetsu.
Sesaat Naruto menghembuskan nafas panjang, lalu dia mengalihkan pandangannya kearah Zetsu. Disana, mata hitam yang biasanya berkilau saat terkena cahaya, kini hanya terlihat gelap kusam, seolah tak ada setitik cahayapun yang dapat masuk kedalam pandangan mata Naruto.
"Aku mengerti Zetsu, kini kau boleh pergi". Suara yang Naruto ucapkan kini terdengar dingin dan menusuk bagaikan sebuah silet yang mampu memotong nadi.
Meski telah mendapat perintah, Zetsu tetap berdiam di tempatnya berada, sungguh berbanding terbalik dengan sikapnya yang biasa.
Dari dalam penginapan, Eloise menatap interaksi dua sosok di balkon dalam diam, sejujurnya dia ingin membantu Naruto bila memang pria itu memiliki suatu masalah. Hanya saja hatinya berkata lain, dia takut bila dia ikut campur dia hanya akan menambah masalah yang sedang dialami Naruto, sehingga dia hanya bisa berdiam diri dan mempercayakannya pada Zetsu.
Saat berniat untuk pergi, langkah Eloise kembali terhenti ketika melihat sebuah cahaya emas berkilau tengah turun dari langit di tempat Naruto berada, dan saat cahaya itu sudah mendarat, Eloise dapat melihat seorang gadis cantik dengan rambut pirang bergelombang yang terbawa angin, mata biru cerah bagai permata, dan sebuah senyum menghangatkan yang menghiasi wajahnya. Eloise menatap sosok yang baru datang itu dengan sedikit ekspresi terkejut, dia tentu tahu siapa sosok tersebut. Gabriel, seorang Archangel cantik yang juga menjadi rival dari Maou Leviathan saat ini.
"Gabriel kah?...".
Masih dengan nada yang sama, Naruto memanggil nama Gabriel tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya.
"...Kenapa kau kesini?". Lanjutnya
Sekilas Gabriel melirikan matanya pada Zetsu lalu dia tersenyum kecil. Seolah mengerti dengan tatapan yang diberikan Gabriel padanya, Zetsu segera mengangguk kemudian pergi dari tepat itu dengan cara menyelam kedalam tanah.
Setelah Zetsu pergi, Gabriel kembali mengalihkan pandangannya pada Eloise yang berada di dalam penginapan dan sedang memperhatikannya dengan wajah antara bingung dan terkejut. Sama seperti Zetsu, Eloise yang mengerti arti dari tatapan Gabriel pun segera pergi dari tempat tersebut, meninggalkan dua sosok berbeda ras yang telah lama saling mengenal itu.
"Kau tahu, sepertinya Zetsu-San sungguh sangat menyayangimu, dia bahkan rela mengirimkan klonnya untuk menemuiku di Eden"
Mata Naruto sedikit menunjukkan getaran begitu mendengar apa yang diucapkan Gabriel.
"Zetsu, pergi ke Eden?"
"Ya, dan dia menceritakan kondisimu saat ini. Jujur saja, aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, jadi maukah kau bercerita padaku?"
Gabriel mengucapkan hal itu penuh dengan kelembutan dan kehangatan, benar-benar mencerminkan sifat dari seorang malaikat.
Tapi, hal tersebut tidak cukup bila ingin membujuk Naruto saat ini, karena meski dia mendengar apa yang Gabriel katakan, dia tetap tak mengatakan apapun seolah dia hanya menganggap permintaan Gadis itu hanyalah sebuah angin lalu.
Meski begitu, bukan Gabriel namanya bila dia menyerah, karena bagaimanapun sejak dia dilahirkan sebagai seorang malaikat, dia selalu tak dapat membiarkan seseorang yang sedang berada dalam masalah, sehingga ketika dia melihat Naruto seperti ini, sesuatu di hatinya berkata bahwa dia harus membantu pria didepannya.
"Kau tak ingin bercerita? Baiklah, tidak masalah, aku hanya perlu menemanimu disini hingga kau mamu menceritakan tentang apa yang terjadi"
Gabriel mengambil satu bangku yang tersisa dan mendudukinya tepat disamping Naruto berada. Pandangannya masih menatap Naruto yang tetap berwajah datar, dia tahu apa yang dia lakukan mungkin akan mengganggu pria di depannya itu, hanya saja setiap dia melihat wajah tampan itu hatinya selalu terasa dipenuhi oleh kegembiraan.
Sayangnya saat ini, sosok yang selalu memberinya rasa bahagia itu sedang berada dalam suatu masalah, karena itu kali ini dialah yang harus membantunya.
Suasana sunyi memenuhi tempat itu, yang terdengar hanya beberapa kesibukkan para warga Underworld di siang hari dan suara detik jam yang terus berputar. Tanpa terasa, waktu telah terlewati selama dua jam, dan Naruto memutuskan untuk menyerah, sekilas dia menarik nafas panjang kemudian membuangnnya, matanya beralih pada sosok Archangel disampingnya, namun alisnya sedikit menekuk ketika melihat gadis yang bersamanya itu tengah tertidur dengan wajah damai.
"Kau bilang ingin menemaniku? Dasar merepotkan". Gumamnya,
Meski berkata dengan nada kesal, tapi Naruto tetap menunjukkan perhatiannya, itu terlihat dari dirinya yang tanpa segan membawa tubuh tertidur Gabriel ke dalam gendongannya dan memindahkan gadis itu kedalam kamar milik Eloise.
Dirasa cukup dia memutuskan untuk mengambil sebuah bangku kesamping tempat tidur yang Gabriel tempati.
"Dia sungguh merepotkan, aku berani bertaruh dia akan tinggal untuk waktu yang lama bila tidak melakukan sesuatu... Hahh..". Gumam Naruto yang diakhiri dengan helaan nafas.
...
Dilain tempat, disalah satu jalan Underworld, nampak sosok Eloise dan Zetsu yang tengah berjalan berdampingan, bila diperhatikan dengan seksama maka akan terlihat bahwa saat ini Eloise tengah menggenggam lengan Zetsu dengan erat seolah tidak ingin melepaskannya.
Meski gelarnya sebagai iblis liar telah dicabut tapi nampaknya rasa traumanya pada iblis masih sedikit tersisa dihati Eloise.
Zetsu tahu apa yang terjadi pada Eloise, karena sampai saat ini dia telah mencari banyak informasi mengenai masa lalu Eloise, belum lagi perintah Naruto yang menyuruhnya untuk mencari tahu masa lalu Eloise, meskipun Naruto juga memerintahkannya untuk tidak menceritakan kepada siapapun tentang apa yang dia ketahui mengenai Eloise termasuk pada Naruto sendiri, sehingga dia hanya mampu menyimpan apa yang dia ketahui itu seorang diri.
"Eloise-Sama, mau mencari tempat yang sedikit sepi?". Tanya Zetsu.
Untuk orang mesum mungkin akan memikirkan hal lain ketika mendengar apa yang Zetsu katakan, tapi percayalah meski Zetsu memiliki tampilan yang aneh tapi dia tetaplah seorang pria yang terhormat, belum lagi dia adalah bawahan yang paling dipercaya oleh Naruto, jadi tentu dia akan takut untuk melakukan sesuatu pada Eloise yang sudah jelas telah dianggap sebagai seorang adik oleh tuannya itu.
"Kalau begitu tolong yah, Zetsu-San"
Setelah mendapat persetujuan dari gadis disampingnya, Zetsu mulai menenggelamkan dirinya dan Eloise ke dalam tanah, dan tentunya aksinya itu telah berhasil membuat sedikit keributan bagi para iblis yang melihat kejadian tersebut.
Hanya dalam waktu singkat, mereka berdua telah sampai di sebuah tempat yang cukup sepi. Bila dilihat kesekitar tempat tersebut merupakan sebuah lapangan kosong yang dikelilingi oleh pohon-pohon, meski begitu mereka juga melihat beberapa orang yang berada ditempat tersebut.
"Zetsu-San, tempat apa ini?"
Zetsu memandang sekitarnya, bila boleh jujur dia sendiri kurang tahu tentang tempat mereka berada sekarang, bagaimanapun tempat ini lebih terlihat seperti sebuah training ground yang sering dia lihat saat dia Clan Ootsutsuki masih ada.
"Entahlah, tapi bila dilihat sepertinya disini adalah sebuah taman atau sejenisnya"
Eloise tak membantah, saaat dia melihat sekelilingnya maka tak heran bila Zetsu menyimpulkan tempat ini sebagai sebuah taman.
"Apa kau sudah tenang? Kurasa tempat ini sudah cukup sepi, atau kau ingin mencari tempat yang lain?"
"Tidak, tempat ini sudah cukup, terima kasih Zetsu-San"
Zetsu tidak membalas, tapi saat dia melihat gadis di depannya mulai mendudukan tubuhnya diatas rerumputan hijau, dia tanpa sadar ikut mendudukan tubuhnya disamping Eloise.
"Sepertinya aku hanyalah sebuah beban bagi kalian yah". Ucap Eloise tiba-tiba
Zetsu memandang Eloise dengan tatapan memicing, sejujurnya dia merasa sedikit terkejut dengan ucapan mendadak yang diucapkan oleh gadis cantik disampingnya.
"Apa maksudmu?"
"Bukan apa-apa, hanya saja sampai saat ini kurasa aku hanya merepotkan Zetsu-San dan Naruto-San tanpa mampu memberikan balasan apapun, karena itu aku merasa bahwa keberadaanku disamping kalian hanyalah sebuah beban"
Zetsu memandang Eloise dalam diam, tapi di wajahnya muncul sebuah senyum tulus yang tak pernah dia perlhatkan pada siapapun. Tanpa dia sadari tangan kanannya telah bergerak sendiri kearah surai hitam milik Eloise.
"Ketahuilah aku serta Naruto tak pernah sekalipun menganggapmu sebagai sebuah beban, dimata kami kau adalah salah satu keluarga kami yang tidak tergantikan, jadi jangan pernah berpikir bahwa kau itu sebuah beban"
Eloise menundukkan kepalanya dalam, bila dilihat ada sebuah rona tipis diwajahnya. Senang? Sudah pasti, bahkan saking senangnya, Eloise merasa bahwa dia siap untuk meledak kapanpun dan dimanapun.
"Meski begitu aku ingin menjadi lebih kuat dari diriku yang sekarang, aku ingin lebih kuat untuk dapat berdiri disamping kalian, karena...A..Aku... Menganggap kalian... Sebagai... Se..Seorang... kakak" Ujar Elose yang diakhir kalimatnya nada yang dia ucapkan semakin pelan dan terputus-putus.
Sayangnya meski bagian akhir dari kalimat Eloise terdengar sedikit tidak jelas, Zetsu masih dapat mendengar seluruh kalimat yang diucapkan Eloise dengan jelas karena memang tubuhnya bukanlah tubuh manusia normal.
"Baiklah, aku mengerti, sekembalinya kita nanti, aku akan meminta Naruto untuk dapat melatihmu secara pribadi, bagaimana?"
Sesaat Eloise mendongakkan wajahnya dan meanatap wajah dua warna milik Zetsu. "Ehh... Bukankah Zetsu-San adalah seorang mata-mata, lalu bagaimana jadinya jika Zetsu-San memilih untuk melatihku?"
"Jangan khawatir, aku memiliki ribuan bunshin untuk melakukan tugasku, jadi bagaimana menurutmu apa kau mau mendapat sedikit latihan dariku?"
"Tentu! Tentu saja aku mau!". Eloise bahkan tak lagi mampu menahan rasa senangnya, ini terlihat dari nada ucapannya yang terdengar sangat bersemangat dan mata yang menunjukkan sebuah sinar.
"Kalau begitu bersiaplah, karena kau akan menerima berbagai latihan yang lebih sulit dari yang Naruto berikan". Ucap Zetsu yang disertai dengan sedikit aura intimidasi.
"Ah, ngomong-ngomong Zetsu-San, selama kita mengobrol kau selalu memanggil Naruto-San hanya dengan nama depannya tanpa disertai panggilan formal seperti biasanya, apa itu tidak papa?"
"Aku lupa kau belum tahu tentang hal ini yah. Baiklah begini saja, apa kau ingin mendengar cerita tentang masa laluku dan masa lalu Naruto jutaan tahun yang lalu saat kami berdua masih seorang manusia?"
"A-apa boleh, aku mengetahuinya?". Tanya Eloise, yang merasa sedikit ragu.
"Tentu saja, bukankah sudah kukatakan bahwa kita adalah keluarga, terlebih kau telah menganggap aku dan Naruto sebagai seorang kakak, jadi kurasa kami harus membalasnya dengan menganggapmu sebagai adik kami"
Zetsu mengakhiri ucapannya dengan sebuah tawa singkat dan tangan yang dia gunakan untuk mengusap kepala Eloise secara perlahan.
"Baiklah, ayo mulai ceritanya.."
...
Di dalam sebuah hutan yang gelap dan sunyi, seorang anak kecil dengan rambut hitam acak-acakan serta mata yang memiliki warna senada dengan rambutnya, memakai sebuah haori berwarna putih dengan pola bunga mawar berwarna hitam.
Anak itu tengah berlari di dalam hutan gelap tersebut seorang diri, dan alasan mengapa dia berlari adalah karena dibelakangnya ada seekor monster kerbau dengan dua kaki dan dua tangan serta sebuah battle axe raksasa di kedua tangannya. Monster itu adalah seekor Minotaur, monster demi human yang terdiri dari setengah kerbau dan setengah manusia.
Minotaur itu bergerak dalam kecepatan tinggi, senjata yang ada ditangannya beberapa kali dia ayunkan untuk menghancurkan pohon-pohon yang menghalangi jalannya dalam satu libasan. Tapi secepat apapun Minotaur itu berlari nampaknya jarak antara dirinya dengan targetnya tak sedikitpun menipis yang ada malah bergerak semakin jauh.
Tiba-tiba saja pandangan Minotaur itu menyipit saat melihat targetnya berhenti berlari dan tengah memandangnya dengan tatapan tajam serta sebuah seringai mengerikan yang tak cocok di usia kecilnya.
Merasa diremehkan, Minotaur itu mengaum dengan keras, langkah larinya semakin cepat serta tebasan kapak digengamannyapun semakin dahsyat hingga mampu menciptakan sebuah gelombang tiap kali menebas sebuah pohon.
Sayangnya meski Minotaur tersebut terlihat semakin ganas dan mengerikan, nampaknya yang menjadi targetnya bahkan tidak menunjukkan suatu perasaan apapun yang mencerminkan rasa takut pada Minotaur yang tengah mengaum marah tak jauh di depannya.
"Satu...". Anak kecil itu bergumam seraya mengambil sepasang Dagger dipinggangnya.
"...Dua...". Setelah menggenggam sepasang Dagger miliknya, anak kecil itu menundukkan tubuhnya, dengan posisi kaki kiri ke depan dan kaki kanan kebelakang serta kedua tangannya yang berada di atas tanah, posisinya sama dengan posisi start jongkok pada perlombaan lari.
"...Tiga...". Dalam hitungan ketiganya, anak itu berlari cepat kearah Minotaur yang tengah menerjang kearahnya, pada awalnya jarak antara mereka terpaut sekitar seratus meter lebih tapi hanya dalam waktu singkat jarak antara mereka berdua mulai terpotong menjadi beberapa meter.
Merasa mangsanya telah berada pada jarak serangnya, Minotaur tersebut dengan ganas mengayunkan kapak raksasanya secara horizontal. Tapi karena perbedaan besar tubuh, nampaknya tebasan itu dapat dihindari mangsanya hanya dengan menundukkan tubuhnya saja.
Dengan gesit anak kecil itu menghindari tebasan horizontal yang mengarah kepadanya dengan melakukan gerakan slide diantara kedua kaki Minotaur tersebut. Dan pada saat itu juga anak tersebut langsung menancapkan sepasang daggernya tepat di otot tendon pada kaki Minotaur tersebut.
Dengan luka dalam di kakinya, monster kerbau itu meraung menahan perih dari luka yang disebabkan oleh sepasang dagger pada kakinya. Belum cukup sampai situ, ditengah raungannya monster itu dapat merasakan sebuah tarikan kuat di kakinya dan itu berhasil membuatnya kehilangan keseimbangan sehingga dia terjatuh dengan posisi tengkurap.
Dilain sisi, seorang anak kecil yang nyatanya adalah target dari monster di depannya, kini tengah tersenyum puas atas apa yang telah dia lakukan, di tangannya bila diperhatikan baik-baik maka akan terlihat sebuah kilauan cahaya berwarna putih dari sepasang benang kawat yang tersambung pada dagger yang tertancap di kaki Minotaur tersebut.
Belum cukup sampai situ, anak berambut hitam itu kembali mengambil sebuah katana yang berada dipunggungnya, lalu hanya dalam sekian detik dia telah memotong kedua tangan Minotaur yang masih meraung-raung menahan nyeri dibagian kaki dan tangannya.
"Baiklah karena aku diminta untuk membawa seekor monster hidup-hidup, kurasa kau akan kuberikan sedikit waktu untuk hidup". Gumam anak itu.
"Seperti biasa, kau memang hebat... Naruto". Disalah satu ranting pohon, nampak seorang bocah laki-laki yang seusia dengan Naruto. Anak itu memiliki rambut berwarna hijau rumput, sepasang mata berwarna kuning pudar serta memakai pakaian yang sama dengan yang dipakai Naruto hanya saja dengan motif bunga Dandellion berwarna ungu.
"Zetsu, bagaimana bagianmu?". Tanya Naruto tanpa mengalihkan pandangannya.
"Seharusnya kau tak perlu bertanya bukan?"
"Lalu, apa yang kau dapatkan?"
Zetsu tak lekas menjawab, tapi dari tatapannya yang tiba-tiba menjadi tajam dapat dipastikan bahwa apapun yang akan dikatakannya pasti bukanlah sesuatu yang menyenangkan.
"Nampaknya situasi jauh lebih buruk dari yang kita kira..."
Naruto menunggu lanjutan dari ucapan Zetsu seraya mengikat Minotaur yang baru saja dia lumpuhkan.
"... Beberapa saat lalu, tepat di tengah hutan ini ada sekumpulan monster yang membentuk suatu kelompok. Kau tahu sendiri, sangat jarang bagi seekor monster untuk-"
"Oke cukup sampai situ, seterusnya akan kita bicarakan di desa, sekarang sebaiknya kau membantuku membawa Minotaur ini". Potong Naruto.
"Ya, ya baiklah". Balas Zetsu sedikit kesal karena penjelasannya dipotong begitu saja seolah hal itu bukanlah suatu masalah yang besar, meski begitu dia tetap melangkah ke sisi lain dari Minotaur. "Aku akan menarik kaki kirinya". Pinta Zetsu
"Yah tentu, tak masalah"
...
Ootsutsuki, sebuah klan shinobi yang telah berdiri selama ribuan tahun. Klan ini juga sering dikatakan sebagai ujung tombak umat manusia dalam menghadapi serangan dari ras-ras supranatural.
Selain klan ini ada juga beberapa klan lain yang melindungi umat manusia, sebagai contohnya adalah klan samurai Toyotomi, klan Onmyouji Ketsuno, atau klan penyihir Pendragon.
Selain hebat dalam pertempuran, nyatanya klan Ootsutsuki juga sangat luar biasa dalam urusan politik dan bahkan karena kehebatan mereka, mereka telah diakui sebagai klan dari manusia-manusia terhebat yang pernah ada.
Tapi sebenarnya, ada sebuah alasan yang membuat klan Ootsutsuki menjadi sekuat sekarang dan alasan utamanya adalah sebuah pohon raksasa yang tumbuh tepat di atas gunung di pusat desa Ootsutsuki.
Menurut catatan kuno, dahulu leluhur klan Ootsutsuki tidaklah memiliki kekuatan sehebat saat ini, tapi setelah dia membuat perjanjian dengan sebuah pohon suci, tanpa dia ketahui dia telah mendapatkan suatu kekuatan yang cukup untuk menjatuhkan seluruh dunia kedalam jurang kehancuran.
Kemudian hinggaa ribuan tahhun lamanya pohon suci itu akan selalu dikenal dengan nama Shinjuu.
Tapi, layaknya roda takdir. Sebuah kekuatan besar, akan membutuhkan suatu pengorbanan dalam mendapatkannya, hal ini juga berlaku terhadap perjanjian antara leluhur Ootsutsuki dengan Shinjuu.
...
Setelah lebih dari satu jam perjalanan, kini Naruto serta Zetsu telah keluar dari hutan, disalah satu tangan mereka terdapat sebuah bongkahan tubuh Minotaur tanpa tangan yang masih meronta serta menggeram marah tapi sepertinya mereka berdua bahkan tidak sedikitpun terganggu dengan geraman menakutkan tersebut.
"Oke, kurasa kita akan berpisah disini aku akan melaporkan apa yang kita ketahui pada tetua klan". Ujar Naruto.
"Eh, apa kau tidak apa bila kutinggalkan sendiri? Lagipula ini adalah tugas kita berdua bukan? Dan lagi aku harus melaporkan apa yang kulihat ditengah hutan tadi"
"Tentu, serahkan saja padaku, soal laporanmu itu dapat kau laporkan nanti malam disaat seluruh tetua berkumpul untuk mengadakan pertemuan"
Untuk sesaat Zetsu terlihat sedikit ragu, tapi karena yang berbicara padanya adalah seorang Naruto jadi keraguan tersebut dapat menghilang dengan mudah. "Hahh... Baiklah, kalau begitu aku akan pulang sekarang"
"Tentu". Balas Naruto yang mulai melangkah pergi dengan tubuh Minotaur yang dia seret di belakangnya.
Selama beberapa menit, Zetsu masih melihat kepergian Naruto dengan pandangan selidik. Dia tahu, kenyataannya Naruto adalah teman masa kecilnya dan lagi dia adalah sosok yang tidak mungkin menyembunyikan sesuatu darinya, tapi akhir-akhir ini Zetsu merasa bahwa Naruto sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
'Kurasa aku terlalu berpikir buruk tentangnya akhir-akhir ini'. Pikir Zetsu yang merasa sedikit tidak nyaman terhadap pemikiran mendadaknya tentang Naruto.
Setelah melihat sosok Naruto yang telah menghilang dari pandangannya, Zetsu lekas berbalik arah dan melangkah pergi dari tempat tersebut.
...
Tanpa terasa matahari telah terbenam yang diawali dengan sebuah cahaya jingga di langit bagian barat dan disaat bulan telah menunjukkan wujudnya nampak seorang Zetsu tengah berjalan sendirian di jalan utama desa yang ramai oleh beberapa warga yang sedang menikmati waktu istirahat setelah seharian bekerja, atau ada juga sebuah keluarga yang sedang mencari makan malam.
Sesekali Zetsu menyapa beberapa warga yang kebetulan mengenalnya, yah... Tidak heran bila dia cukup terkenal, karena bagaimanapun dia sendiri adalah anak dari salah satu tetua desa di desa Ootstsuki, belum lagi kemampuannya dalam dunia shinobi sudah mendapat pengakuan dari beberapa tetua klan.
Meski begitu Zetsu sadar, dirinya yang sekarang tetap tak dapat disetarakan dengan teman masa kecilnya. Yah... Naruto, meski dia telah mendapat gelar prodigy tapi kenyataannya dia tetap berada jauh dibawah kemampuan Naruto dan hal ini yang selalu membuatnya merasa bahwa dirinya tak pantas berada disamping Naruto.
"Hahh...". Sekilas dia menghela nafas. 'Aku melakukannya lagi, kurasa memang sulit menghilangkan perasaan iri pada seseorang yang lebih unggul dari dirimu sendiri'. Pikir Zetsu.
"Yo!"
Sebuah seruan membuat Zetsu mengalihkan pandangannya kebelakang, kini dia dengan jelas dapat melihat seorang pria seusianya yang beberapa saat lalu sempat berada dalam pikirannya.
"Naruto? Kukira kau sudah menunggu di rumah utama?"
"Kau tahu, aku juga memiliki beberapa hal yang harus kuurus"
"Terserah kau saja...". Sahut Zetsu singkat. "... Jadi, bagaimana dengan Minotaur yang kita bawa tadi siang?"
Sekilas Naruto menghentikan langkahnya saat mendengar pertanyaan dari teman masa kecilnya itu.
"Soal itu, kurasa kita memang berada dalam situasi yang buruk...". Jawabnya seraya kembali melanjutkan langkahnya. "... Setelah ingatan dari Minotaur diselidiki, rupanya alasan kenapa intensitas monster di wilayah ini semakin meningkat, ternyata ada sangkut pautnya dengan seekor naga"
"Naga?"
"Jangan tanya padaku, aku mendapat informasi ini dari Inoicihi-San, sebaiknya kita tunggu semua kejelasannya dipertemuan nanti, terlebih kau juga harus melaporkan apa yang telah kau peroleh siang tadi"
"Kurasa kau benar tentang hal itu"
Tanpa banyak bicara lagi, mereka berdua mulai mempercepat langkah mereka menuju rumah utama dari klan Ootsutsuki.
Setelah sekian lama berjalan, akhirnya Naruto beserta Zetsu telah tiba di depan sebuah pintu geser bernama shoji yang terbuat dari kayu jati dan kertas tembus pandang berwarna putih.
Seolah tak memiliki sopan santun, Naruto dan Zetsu langsung masuk begitu saja ke dalam ruang pertemuan, kini mereka dapat melihat sekelompok pria atau wanita dewasa yang tengah menatap mereka dengan tatapan tajam.
"Apa?". Ujar Naruto yang dari nadanya terdengar sedikit ketus terhadap para tetua diruangan ini, walaupun ayahnya sendiri ada di dalam ruangan yang sama.
"Naruto! Jaga sopan santunmu!". Bentak seorang pria dengan rambut berwarna hitam jabrik sebuah ikat kepala yang terpasang si dahinya serta jenggot tipis berwarna putih.
Naruto tidak membalas, hanya mengalihkan pandangannya kearah lain dan menghiraukan sosok yang baru saja membentaknya.
Zetsu menatap tingkah Naruto dengan heran, seingatnya Naruto selalu memiliki impian untuk menjadi seorang tetua terhebat sepanjang sejarah, dan bahkan Naruto juga selalu memandang kagum para tetua tiap kali dia melihat salah satu dari mereka. Tetapi lihat sekarang, dia bahkan berani menghina sekumpulan tetua yang tengah menatapnya dengan pandangan kesal.
"Tetua sekalian, mohon maaf atas kesalahan temanku". Ucap Zetsu seraya membungkuk sembilan puluh derajat, tak lupa dia juga menggunakan salah satu tangannya untuk menarik Naruto agar mengikutinya.
"Bangunlah kalian". Pinta salah satu tetua.
Setelah mendapat izin Zetsu mulai menegakkan tubuhnya dan melepaskan tangannya dari Naruto. Yah, setidaknya dia tidak harus berurusan dengan hal-hal yang lebih merepotkan.
"Sekarang mari mulai pertemuannya"
...
Waktu berlangsung begitu cepat, tanpa terasa setelah berjam-jam lamanya di dalam ruangan yang penuh sesak oleh orang-orang tua bau tanah, kini Naruto beserta Zetsu telah berada di sebuah kedai ramen dan bila diperhatikan nampaknya ada sesuatu yang salah dengan mereka saat ini.
"Hahh...". Zetsu menghela nafas panjang seraya menelungkupkan wajahnya di meja menghiraukan semangkukk ramen hangat yang telah disajikan beberapa saat lalu.
Berbanding dengan Zetsu, Naruto lebih terlihat seperti sedang gelisah karena suatu hal, itu terlihat dari dirinya yang sedari tadi hanya memainkan ramen hangatnya menggunakan sumpit yang dia pegang.
"Hei tidakkah ini terlalu tidak adil untuk kita?...". Tanya Zetsu secara tiba-tiba, namun sayanganya pertanyaan itu hanya dijawab dengan sedikit tatapan bingung dari Naruto.
"... Maksudku, bukankah sampai saat ini kita telah melakukan banyak hal untuk desa? tapi kenapa kali ini kita dilarang mengikuti misi selanjutnya?"
Sejujurnya Naruto sempat memikirkan hal yang sama dengan Zetsu tapi setelah dia berpikir secara logis, dia sadar bahwa keputusan ini memang keputusan yang paling tepat mengingat musuh yang saat ini klan Ootsutsuki hadapi bukanlah musuh sembarangan.
Dan soal pertemuan tadi, yang lebih banyak dibahas adalah tentang para monster yang berkumpul membentuk suatu kelompok, dan ditengah-tengah para monster itu terdapat sekor naga hitam yang bertingkah layaknya bos dari monster-monster tersebut.
Namun bukan itu inti masalahnya, tapi sosok naga hitam yang menjadi pusat perhatian para tetualah yang menjadi masalahnya, bila saja naga hitam tersebut adalah naga biasa para tetua pasti tidak terlalu serius dalam mengatasi masalah ini, masalahnya sekarang identitas naga hitam itulah yang membuat para tetua kalang kabut.
Siapa yang tidak tahu, seekor naga hitam dengan sebuah kristal berwarna ungu di dadanya, memiliki tanduk besar yang membentuk layaknya mahkota, mata merah berpupil vertikal yang memberi intimidasi, serta kulit yang keras bagai berlian namun memiliki warna hitam pekat layaknya malam tak berbintang.
Ya... Trihexa, seekor naga jahat yang terlahir dari kejahatan dunia itu sendiri, bahkan tuhanpun melaknatnya dan memberinya julukan sebagai pertanda akhir jaman. Banyak kisah tentangnya, salah satunya adalah kisah tentang seekor ular yang membenci kehidupannya karena tak dapat terlahir sebagai seorang manusia, sehingga ular itu memutuskan untuk mengumpulkan seluruh kebencian yang akhirnya mengubahnya menjadi seekor naga menakutkan, sebenarnya ada beberapa kisah lagi seperti seorang manusia yang mendapat kutukan, ataupun dewa jahat yang berubah menjadi naga.
Tapi dari sekian banyak kisah itu, orang-orang lebih percaya terhadap kisah tentang seekor ular yang menjadi naga, entah karena apa tapi banyak yang bilang bahwa cerita ini adalah cerita yang nyata.
"Trihexa... Kah". Gumam Naruto dan Zetsu bersamaan.
...
Dilain sisi, di dalam hutan yang gelap dan sunyi nampak sesosok bayangan raksasa, dengan sayap yang membentang lebar menghalangi sinar bulan, kepalanya yang panjang menatap langit malam dalam diam, hingga akhirnya dia mengalihkan pandanganya dan menunjukkan sebuah mata berwarna merah berpupil vertikal yang bersinar mengerikan dalam gelap.
.
.
.
T.B.C
NB: MWAHAHAHA... Apa kabar semuanya. Emm... Well, setelah membaca ini mungkin ada sebagian yang berpikir "Buat apa nih author tolol muncul lagi?". Tapi yah jujur, akhir-akhir ini gw lagi males nulis fic dan lebih seneng bermain game, padahal selama 3 bulan ini gw punya waktu kosong yang lumayan banyak, dan disini mungkin banyak yang tahu kalo di tahun ini ada beberapa game-game epik yang rilis contohnya aja FFXV, Ni no Kuni II, ataupun SAOFB, belum lagi game-game lawas yang belum selesai gw tamatin di PC/PS gw, jadi yah beberapa bulan ini gw habisin waktu cuma buat namatin beberapa game sekaligus.
Makanya gw bilang, keterlambatan update fanfic ini emang kesalahan gw sendiri, jadi yahh... author mengucapkan minta maaf bagi reader yang menunggu nih fic update ( Kayak ada yang nunggu "-_-).
Sekarang ayo bahas beberapa REV dan PM yang kita peroleh.
Pertama mari bahas soal pair Naruto karena ini yang sering ditanyain. Oke gini, sebenernya pada awal gw bikin fic gw gk pernah kepikiran buat ngasih pair ke Naruto jadi gw sendiri masih bingung apa Naruto harus di kasih pair atau nggak, dan kalo emang dikasih gw lebih milih buat ngasih single pair daripada harem.
Trus untuk pasangan Naruto, nah ini, gw emang ngasih beberapa adegan antara Naruto dengan beberapa chara perempuan, tapi gw tetep bingung buat nentuin siapa yang lebih cocok dijadiin pair Naruto, belum lagi saat ini calon pair Naruto Cuma ada 3 Kaguya, Gabriel dan Yasaka, tapi kedepannya kalian gk tahu, apalagi di chap sebelumnya ada adegan yang menggambarkan kalo Naruto punya hubungan sama Dewi Amaterasu, trus gw juga belum nyeritain banyak tentang ras iblis dan Datenshi, jadi mungkin aja dari ras iblis atau datenshi juga bakal ada calon lagi buat pair Naruto kedepannya. Intinya karena ini masih awal fic jadi tolong jangan terlalu peduliin soal pair, kalo emang saatnya udh tepat gw pasti bakal ngasih pair buat Naruto.
Ada juga yang nanyain soal Zetsu, apa nih orang aneh akan ikut andil dalam pertaurngan atau cuma jadi mata-mata buat Naruto?. Nah well... soal Zetsu udah gw tentuin bakal kyak gimana, terlebih karena sekarang lagi masuk flasback dari Zetsu, gw jadi mau ngegambarin sedikit tentangnya dalam flashback ini serta memasukan beberapa kejadian tentang hubungan Naruto, Zetsu dan Kaguya.
Nah gw rasa ini aja dulu.
BTW... Kayaknya author-author senior lagi pada hiatus yah? Hmm... Kira-kira kapan mereka kembali?.
