Dendam & Missing-Nin S2
Warning : Chap ini full Naruto-story dari ringkasan kisah Dendam and Missing-Nin season satu and season dua. Ini dari segi full POV-Naruto. Belum lanjutan adegan fighting kemarin yah.. Jeda dikit.
Chapter 10 : a fill heart of Naruto.
.
.
Naruto Point Of View
Aku rasa sudah cukup banyak moment keberuntungan yang ada di diriku. Puncaknya mungkin di hari ini. Aku bisa bertarung one by one dengan salah seorang yang paling kubenci dari konohagakure.
Siapa lagi kalau bukan Menma ? Ia adalah saudara kembarku. Meskipun sekarang aku sudah malas untuk mengakuinya lagi. Namun faktanya mengatakan seperti itu. Kami kembar identik. Hal ini bukanlah semacam klise semata.
Lalu, mengapa dulu orang-tua ku membeda-bedakan cara memerhatikan diriku dengan Menma ?
Aku pernah atau bahkan sering untuk meminta dilatih atau sekedar jalan-jalan ke taman. Namun apa yang kudapat ? Tak lain tak bukan adalah tolakan.
"Tou-san, boleh temani naruto ke taman ?"
"Naruto, tou-san sedang sibuk, tolong jangan menggangu. Pergi saja sendiri."
Berbanding terbalik dengan Menma. Si anak sialan itu bahkan selalu dimanjakan. Aku ? Kebalikannya. Disuruh bersikap mandiri dan jangan bergantung kepada orang-tua lagi.
"Tou-san, ayo kita latihan."
"Oke, tou-san akan mengajarkan Menma taijutsu style yang dimiliki oleh tou-san."
"Yeah.. !"
Itu yang dinamakan sikap adil ? Aku memang mungkin anak bodoh yang tak pernah dididik oleh orang-tua. Namun aku tau ada yang salah dengan perlakuan berbeda tou-san dan kaa-san kepada kami. Sialan.
Aku bahkan sempat muak ketika mendengar bahwa nama Yondaime Hokage disegani di seluruh pelosok dunia shinobi. Katanya sih memiliki kharisma dan tingkat kedewasaan luar biasa. Juga kekuatan dan kejeniusan di atas rata-rata.
Huh. Dewasa apanya ? Kalau mengurus anak saja pilih kasih. Atau bahkan bisa disebut kasar secara tidak peduli.
Aku juga benci dengan warga sipil dari konoha. Apa ada yang salah denganku ? Sebenarnya aku tidak memiliki kesalahan apapun dengan mereka.
Namun mengapa mereka menyerangku ? Katanya sih mereka ingin menjadikan aku sebagai pelampiasan kekesalan mereka terhadap Menma.
Sialan. Aku dianggap apa oleh mereka ?
Sampah ? Tidak. Mungkin lebih menjijikan dan kotor daripada itu. Aku seperti batu kerikil ataupun kaleng bekas minuman soda yang ditendang kasar sebagai pelampiasan orang yang sedang kesal.
Mereka tentu takut untuk secara langsung balas kesal dengan Menma. Pasalnya si anak goblok itu dikawal ketat oleh para ANBU elit. Mana berani warga sipil biasa ngeroyokin Menma di gang-gang sempit seperti yang pernah mereka lakukan kepadaku.
Tujuan mereka hanyalah agar Yondaime Hokage murka kepada mereka. Alasannya agar si idiot itu memarahi mereka, dan kemudian bertanya apa alasan mereka mengeroyokiku.
Dengan begitu ; mereka bisa menjawab jujur secara langsung. Bahwa target sebenarnya atau sasaran empuknya adalah Menma. Si anak goblok nan sialan itu.
Namun mereka salah dugaan. Mana peduli si goblok itu terhadapku ? Ia malahan memarahiku ketika aku pulang dalam keadaan parah. Pakaian sobek-sobek dan banyak luka memar.
Sialan. Aku benci akan keluargaku. Aku benci para warga sipil sialan itu. Bagaimana perasaan mereka jika mereka yang diperlakukan seperti itu ?
Aku bisa katakan mereka orang bodoh. Walaupun jika aku memiliki dendam kepada mereka. Maka aku bisa dicap sebagai orang bodoh juga. Namun aku tidak peduli. Dianggap bodoh atau tidak itu terserah.
Pemikiranku ini sudah berkembang dari waktu ke waktu. Aku tidak lagi terlalu banyak berfikiran atau beransumsi hal-hal tertentu. Aku hanya mengikuti kemana hati nurani ini ingin melangkah. Karena keraguan tak akan memberi kepastian.
Awal mula kedatangan Tobi-sensei memberikan pencerahan pada diriku. Dia pernah menyatakan bahwa yang kulakukan selama ini itu benar. Aku tidak perlu takut ataupun khawatir.
Hal yang kulakukan ini benar. Begitu kata sensei. Dia mengatakan bahwa dendam kesumatku itu adalah bukti kenyataan. Dendam ini akan menyeretku untuk menuju cerita. Cerita dimana pembalasan akan terjadi.
Awalnya aku hanyalah seorang bocah. Bocah aneh yang selalu disakiti. Bersikap caper yang tidak membuahkan hasil. Persetan dengan pepatah yang sering mengatakan bahwa perjuangan akan membuahkan hasil.
Mereka salah besar.
Aku bahkan menggangap mantan ayah dan ibuku itu tidak berguna. Tentunya selain mereka yang telah melahirkan diriku. Aku pun meyakini kalau itu terpaksa. Aku seperti hanya menambah umat manusia di dunia ini. Miris sekali.
Aku mulai mengerti arti persahabatan semenjak kemunculan Sasuke. Kami seperti terikat oleh tali persahabatan. Tujuan dan motivasi hidup kami boleh dikatakan secara garis besar adalah sama.
Kami menderita karena dendam. Kami tetap bertahan hidup karena dendam. Kami berusaha kuat karena dendam. Dan kami seperti sekarang karena dendam.
Aku dan Sasuke itu memiliki penderitaan yang bisa dikatakan sama besar. Aku yang selalu disiksa dan dihajar oleh para warga sipil, dan keluargaku yang tidak memberikan kasih sayang. Itu semua sudah cukup. Dan aku tidak menginginkan hal itu terjadi lagi.
Sasuke yang seluruh anggota klannya dibunuh oleh sang kakak sendiri. Ia yang hidup dalam kesepian dan bayang-bayang tragis pembantaian klan Uchiha yang selalu terbayang di dalam mimpinya. Miris.
Sasuke mungkin hanya dendam kepada seseorang. Yah siapa lagi kalau bukan sang kakak sendiri ? Ia sempat bercerita bahwa dulu kakaknya adalah orang yang sangat baik dan penuh perhatian. Kakaknya selalu meluangkan waktu sebagaimana sibuknya tugas menjadi seorang shinobi.
Sementara aku ? Aku dendam pada hampir seluruh orang di konoha. Pengecualian untuk beberapa orang yang menghargai keberadaanku. Aku tidak akan menyakiti mereka. Aku akan membiarkan mereka hidup tenang. Anggap saja itu adalah kebaikan diriku, yang bisa muncul dan hilang sesuai dengan moodku.
Sasuke mungkin masih menahan diri. Ia dendam. Sangat dendam kepada kakaknya. Ambisinya untuk membunuh sang kakak dengan tangan sendiri dan membangkitkan kembali klan Uchiha sudah tak dapat dibendung lagi. Ia adalah tipe orang yang ingin menggapai ambisinya. Dan tak ada orang yang bisa menghalangi tekadnya.
Sasuke bisa kapan saja membalaskan dendamnya. Itachi — sang kakak — 'kan satu desa dengan dirinya. Satu organisasi besar dan tempat tinggal utama pula. Sasuke bisa mencari celah untuk membunuh Itachi kala pria itu lengah. Dan semua selesai.
Aku sendiri sebenarnya sudah ingin melaksanakan rencana yang telah kususun. Namun aku masih memperbaiki rancangan rencana itu untuk menyempurnakannya. Akan kubuat adegan pembantaian yang lebih sadis dan kejam daripada aksi si Minato yang membantai pasukan Iwa kala PDS tiga.
Hahahaha. Membayangkan itu saja sudah membuat diriku merasa puas. Aku tidak akan menghentikan rencana ini. Percuma toh aku rancang sebagus-bagusnya kalau akhirnya tidak digunakan ?
Dan pasti rencana ini akan digunakan, bukan ? Kalau aku masih dendam dan benci kepada mereka. Aku pasti akan melaksanakan rencana ini. Anggap saja ini adalah ambisi yang kurancang khusus untuk diriku sendiri.
Jika Akatsuki memiliki tujuan untuk mengumpulkan bijuu dan melaksanakan rencana mata bulan. Maka aku juga begitu. Namun tentu dengan rencana dan tujuan yang berbeda. Prinsipnya sih sama ; dendam.
Aku dan Sasuke diberi pelatihan oleh Tobi-sensei. Seminggu awal pelatihan kami, sensei mulai berfikir bahwa letak dari reruntuhan desa nenek moyangku ini sangat srategis. Ia berkata bahwa daerah ini dekat dengan sekitar perbatasan antara konoha-suna-iwa yang berpusat pada suatu titik.
Ia langsung melaporkan hal ini kepada ketua Pain. Dan dengan otak yang cemerlang ; desa akatsuki mulai terbentuk.
Pembangunan dilakukan secara sederhana. Tetapi memakan dana yang cukup besar. Sialan. Si Kakuzu yang menjabat sebagai bendahara itu menguras uang kas kami.
Aku, Sasuke, dan sensei membantu pembangunan. Tentunya dengan diselingi oleh latihan kami yang dilaksanakan di sudut desa. Desa kami langsung ditutup oleh kekkai berlapis-lapis yang sangat kuat, bahkan waktu pembentukannya menghabiskan waktu berkisar empat hari. Bisa dibayangkan seberapa kuat kekkai itu. Gila.
Beberapa bulan setelah pembangunan, Pain-sama sadar bahwa sebuah desa harus memiliki banyak warga sipil dan para ninja-ninja yang mengabdi.
Akhirnya kami semua sepakat untuk mengusung penyerangan ke markas Orochimaru. Pain tidak begitu menyukai pria tua bangka itu.
Lagipula, Orochimaru menyimpan suatu cincin Akatsuki yang dibawanya sewaktu ia keluar. Pain juga memanfaatkan untuk menguras seluruh eksperimen dan tawanan Ninja-Ninja dari klan yang memiliki kemampuan khusus.
Kami menyerbu markas utara dan selatan dengan membagi diri. Berkat taktik gerilya kami ; kami dapat meruntuhkan wilayah itu walau membutuhkan waktu lama.
Tidak ada satupun korban dari pihak kami ; ini sungguh luar biasa. Meski bisa dikatakan bahwa kami kalah jumlah. Namun dengan kecerdikan dan kekuatan tekad, semua hal itu dapat diatasi dengan mudah.
Mungkin kapan-kapan aku akan menceritakan penyusupan ke markas si ular tua itu. Aku memang tidak mendapat benda apapun dari penyergapan misi itu. Tetapi Sasuke bisa mendapatkan pedang kusanagi yang sekarang selalu dibawanya dalam setiap pertarungan.
Aku hanya mendapatkan beberapa scroll jutsu elemen yang dibagikan oleh ketua. Aku pikir dia orang yang baik. Aku dapat mempelajari jurus kombinasi antara katon dan fuuton yang memiliki level rank B sampai A plus.
Dan aku juga mempelajari scroll jurus terlarang.
Aku mendapatkannya di celah rak-rak misterius di ruang eksperimen Orochimaru. Aku memang dijadikan sebagai pencari benda-benda termasuk cincin yang dibawa Orochimaru.
Dan salah satu jurus yang paling kuidamkan adalah...
Edo Tensei.
Kedengarannya mustahil. Mengingat jurus itu diciptakan oleh Hokage kedua yang berhasil dibuat lebih sempurna oleh Orochimaru. Namun apa yang tidak mungkin terjadi di dunia ini ?
Kupikir jurus itu bisa berguna. Aku bisa membangkitkan dan mengontrol orang mati. Dan aku tidak mendapatkan efek berarti. Namun sampai sekarang aku masih belum bisa menguasai jurus itu. Bukannya aku payah atau tidak. Namun cara mempelajarinya sangat rumit.
Aku dibuat tak paham. Jadi kuputuskan untuk tidak mempelajari jutsu itu saja. Aku tidak bermaksud untuk menyerah atau apa. Namun aku tidak bisa hanya terfokus pada suatu pelatihan. Biarlah di senggang waktu nanti aku mempelajari jurus itu.
Beberapa bulan selanjutnya setelah Invasi singkat di markas Orochimaru itu, pembangunan desa kembali dilaksanakan.
Kami mulai menempatkan para warga sipil di rumah-rumah darurat. Awalnya mereka tidak percaya dengan niat kami, yang hendak menampung mereka dengan aman. Namun kami pun tidak meminta mereka untuk percaya.
Kegiatan desa mulai lancar sekitar satu tahun kemudian. Ekonomi desa mulai berlancar dengan baik. Skuad ninja desa pun semakin melonjak. Aktifitas dagang dan bekerja lainnya para warga sipil tidak mengalami hambatan.
Mulai ada pengambilan pajak dari Pain. Yang turun tangan dalam hal ini pastilah Kakuzu si bendahara mata duitan itu. Huh. Matanya yang hijau itu memang melambangkan kalau ia adalah si mata duitan.
Pelatihan aku dan Sasuke kembali terlaksana dengan fokus. Tobi-sensei mulai mengajarkan kinerja teamwork kepada kami. Kami dikatakan harus selalu kompak dalam pertarungan. Sebisa mungkin saling melindungi dan menguatkan diri.
Karena skuad yang solid itu adalah skuad yang bisa menjalin kerja sama dengan baik. Tidak saling menjatuhkan atau segala hal lainnya.
Beberapa minggu kemudian, tempat tinggal khusus para pelopor pendirian desa dibangun. Setiap anggota memang tidak diwajibkan untuk tinggal disana. Tetapi harus setidaknya sekali dalam satu minggu untuk beristirahat atau tidur di markas khusus itu.
Aku sendiri tak terlalu nyaman disana. Tempatnya itu berkesan misterius dan gelap. Lampunya aja bohlam seken yang bentar lagi mau putus. Persetan dah dengan Kakuzu yang pelit banget cuman untuk beli lampu bohlam. Sialan.
Setahun kemudian, aku dan Sasuke sudah memasuki tahap akhir pelatihan. Tobi-sensei mengatakan bahwa kami sudah merupakan tim yang solid. Formasi kami pun sering bergantian. Kadang aku sebagai eksekusi dan kadang Sasuke yang menjadi bagian eksekusi.
Kami menjalani testing singkat. Lalu dinyatakan dalam tingkat Tonkebetsu Jounin. Seluruh Ninja diwajibkan memakai jubah akatsuki. Bahkan para warga sekalipun. Mereka akan turut serta dalam invasi atau penyerangan. Karena toh notabenenya mereka juga bekas shinobi.
Misi demi misi bergilir berganti datang menghampiri diriku. Aku terkadang bisa dipartnerkan dengan pasangan yang berbeda-beda. Jika ada kesempatan maka aku akan latihan dengan Sasuke untuk mempertajam kinerja teamwork kami.
Berkat misi-misi yang banyak datang menghampiri diriku, aku berhasil membeli sebuah apartemen sederhana di sekitar sudut desa yang banyak dikelilingi pepohohan rindang. Aku sengaja memilih tempat disana.
Alasannya simple. Disana ada banyak tempat santai yang sepi. Sangat rileks untuk menjernihkan fikiranku yang suka kalang kabut. Ada juga berbagai training ground yang sering kujajal dengan kemampuan diriku yang semakin meningkat pesat.
Lama-kelamaan aku semakin sadar, bahwa laju pertumbuhan di Akatsukigakure sangat melonjak tinggi. Kawasan pemukiman semakin sempit. Pain yang cerdik pun kembali merencakan sesuatu.
Yah. Rencana itu adalah invasi ke desa Suna. Tujuannya adalah untuk menambah wilayah kekuasaan. Wilayah Suna adalah desa terbesar yang daerah perbatasannya paling dekat dengan Akatsuki. Jadilah wilayah daerah desa itu yang menjadi target.
Desa Suna juga dipikir-pikir adalah desa yang paling lemah di antara lima desa besar lainnya. Disana juga ada Jinchuruki Ichibi yang merupakan Bijuu ekor satu. Keuntungannya banyak sekali.
Dengan rencana yang matang dan efesien ; penyerangan langsung dilakukan dalam waktu semalam. Tepat pada pukul dua belas malam. Tim mulai bergerak. Anggota klan Hozuki menjadi penyusup dan anggota klan Fuma yang membom-bardir desa Suna dengan senjata berat khas mereka.
Dalam tempo sekitar beberapa jam saja, wilayah Suna bisa ditaklukkan. Kelihatannya taktik gerilya memang menjadi andalan dari Pain. Mungkin cara itu terlihat lebih efesien dan selektif. Pain 'kan tipe orang yang ingin semuanya berjalan perfect.
Wilayah Suna hancur. Tak ada satupun bangunan yang tersisa kecuali bangkai-bangkainya. Kazekage juga berhasil ditaklukkan karena sudah kehabisan banyak chakra. Warga sipil ataupun Ninja kebanyakan sudah tewas di tempat. Palingan hanya beberapa yang selamat. Itu pun karena kabur ketakutan.
Suna langsung dilapisi kekkai. Pain memproklamir bahwa wilayah Suna adalah cabang daerah dari Akatsuki. Nyaris 40 % warga baik counvil ataupun Ninja pindah ke daerah sana.
Sementara sisanya tetap menetap di Akatsuki utama. Pain telah mempercayakan wilayah Aka-Suna itu kepada Konan, sang partner wanita yang sangat bisa dipercaya. Sosok wanita yang dingin dan tidak banyak berbicara. Terkesan aneh namun menantang. Walaupun sudah berumur, tetapi kesan anggun tak dapat hilang sebegitu banyak kali aku memandangnya.
Tapi bukan berarti ini aku jatuh cinta. Tidak. Cinta hanya akan melemahkan semua perasaan. Aku tidak butuh yang namanya rasa saling berbagi kasih sayang dan perhatian. Aku tidak patut dikasihani. Aku tidak bisa ditarik kembali ke jalan yang benar.
Atau lebih tepatnya ; aku tidak ingin kembali ke arah jalan yang benar.
Aku bukannya tetap ingin menjadi jahat atau apa. Namun di dalam hati nuraniku yang paling dalam ; aku mantap untuk tetap dalam posisi ini.
Resiko pasti selalu ada. Dan aku berusaha untuk menghadapinya. Setiap pekerjaan atau aktifitas pasti memiliki resiko tersendiri.
Setelah Invasi dari Suna sebenarnya aku ingin langsung tidur. Namun aku harus menjalani terlebih dahulu prosesi penyegelan yang rumit dan memakan waktu. Huh. Repot banget sih.
Setelah Sealing Ichibi selesai pun aku langsung menuju apartemen. Baru hendak kubuka pintu apartemen dan menjatuhkan diri di sofa. Selembar kertas langsung melayang di hadapanku.
Kau dipanggil Pain. Datang ke ruangan penyegelan.
-Konan-
Dan aku kembali harus menjalankan misi. Damn it !
.
.
Kelihatannya aku boleh sedikit bersyukur. Mengapa ?
Pain ternyata memberiku misi. Ia menyatakan bahwa ada Menma yang terlibat pergerakan di sekitar perbatasan. Aku pun sudah tak sabaran untuk menjumpainya ; menjajal kekuatannya.
Aku ingin meng-observasi kekuatannya. Menma adalah target dari rencanaku. Aku harus meneliti lebih baik dari kekuatan yang ia punya. Baik itu dari segi fisik ataupun kualitas jurus.
Menma bisa menjadi penghalang terbesar dalam rencanaku. Ia seperti berpotensi menjadi seorang shinobi yang hebat. Jangan lupakan bahwa ia juga memiliki Kyuubi di dalam tubuhnya.
Belum lagi ada sosok Yondaime itu. Kecepatannya menggunakan Hiraishin pasti akan merepotkan. Namun aku sudah memiliki cara untuk mengatasinya. Yah tentu saja dengan memakai metode teleportasi dengan Hiraishin juga. Iya kan ?
Kushina ? Wanita itu gampang diurus. Ia kan cuman bisa mengandalkan kemampuan rantai chakra dan kombinasi pukulannya yang kuat saja. Kuyakin dengan sepuluh bunshin yang memiliki taktik menyerang beruntun — si tomat itu dapat kutangani.
Warga sipil ? Ah. Aku seperti orang bodoh saja. Sekali pakai Ameterasu saja mungkin mereka sudah menjadi abu yang terbang di angkasa.
Aku memang tidak main-main dalam rencana yang kusiapkan. Aku sudah menyiapkan strategi yang matang, bahkan sebelum sensei bertopeng itu pun aku sudah mulai menyiapkan rancangan ini ; balas dendam.
Walaupun jika aku balas dendam, maka yang terjadi hanyalah siklus arus kebencian, dan aku tidak mengambil pusing akan hal itu. Pokoknya yang penting dendamku tuntas dan aku bisa tewas dengan tenang. Meskipun masuk neraka. Toh aku akan menyeret para warga sipil juga kesana.
Aku yang dulu, bukanlah aku yang sekarang.
Jika dulu aku disiksa, maka sekarang aku menyiksa
Jika dulu aku menderita, maka aku yang akan membuat mereka sengsara.
Aku dulunya hanya seorang bocah yang disakiti, namun sekarang mulai menjelma dan berubah menjadi pembunuh yang keji.
Aku selalu pulang dalam keadaan terluka, dan aku akan memulangkan mereka semua ke alam-Nya.
Aku yang selalu mencari perhatian, dan aku yang akan balas dendam.
Aku adalah pendendam, dan yang kudendami adalah korbannya.
Aku bukanlah siapa-siapa. Aku tidak ingin menjadi siapa-siapa. Aku tidak memiliki motivasi atau dorongan untuk meniru siapapun. Karena aku hidup hanya untuk diriku sendiri.
Aku bukanlah orang yang suka meniru gelagat orang lain. Aku hanya hidup dimana aku mengenal rasa berani ataupun takut. Aku suka terlonjak emosi, namun tidak sedikit yang kubawa ke dalam tingkah laku.
Aku yang disiksa, dicaci, dihina, dimaki, dan selalu senantiasa dibenci.
Aku yang mulai berusaha menyiksa, mencaci, menghina, memaki, dan selalu senantiasa membenci.
Aku. Uchiha Naruto. Pemuda penuh dendam yang serat akan kebencian. Pemuda yang akan melahirkan rantai kebencian yang baru. Dan bagiku ; itu sama sekali tidak salah...
.
.
To Be Contineud
A/N
Akhir-akhir ini saya semakin sibuk. Tugas sekolah menumpuk dan ujian datang silih berganti.
Chapter demi chapter pun makin lama terselesaikan. Saya mohon maaf jika makin lama makin pendek. Saat ini wordsnya hanya berkisar 2.500 kata. Berbeda dengan chap-chap sebelumnya yang berkisar 3-ribuan kata real.
Pojok Balas Review
• Ryuuki Namikaze Lucifer : Ok deh. Saya akan berusaha biar fic ini ga di discontineud
• Iwas : Ada alur-alur tertentu yang plotnya sama di canon. Tapi ada juga yang enggak. Contohnya seperti invasi ke Suna.
• Nadia kara annabele : Ok. Saya akan berusaha untuk UPDATE cepet.
• Sunakawa-kun : Naruto membangkitkan Rinnegan ? Wah. Saya jadi kepikiran ntu. Tapi kita lihat kedepannya lah. Saya akan berusaha memakai konsep kamu nanti kalau memang saya ingin Naruto punya skill Rinnegan.
• UnKnOw'S : Uh. Saya rasa enggak. Kalau Tobi ngehidupin Rin pakai Rinne Tensei. Bukannya yang ada Tobi yang mati ?
• ValiLucifer87 : Ok. Makasih yah gan. Ini sudah saya lanjut.
• AshuraRaiga567 : Ok. Sip dah gan.
• Hatake Sakumo : Makasih gan.
• Denoex : Oh. Maaf kalau itu agak menggangu. Saya usahakan di chap kedepannya terfokus pada satu scene dulu. Maaf yah.
• Triple-X : Chap depan pertarungannya udah kelar.
• Guest : Kita lihat aja nanti, Guest-san
• Yukari Clarisha-chan : Ok. Hai juga Yukari-san.
• Nameboe-sama : Sip dah. Tapi saya enggak janji yah. Kita lihat aja kedepannya gimana. Alur ending soalnya masih dipikir2 dulu.
Ok. Sekian dan terima-kasih.
KTJ out !
