Forgive Me

disclaimer : Masashi Kishimoto

pairing : Naruhina dan pairing kanon lainnya

warning : pasaran, typo dimana mana,OCC dll.

Aku senang dengan saran dan kritik yang membangun jika flame akan aku abaikan.

Jika tidak suka tekan tombol back dari pada menyesal dan kesal sendiri.

CHAPTER 10

Suana hening mendominasi sebuah kamar yang didiami sepasang manusia yang baru saja resmi menjadi suami istri itu. Tak ada yang memulai pembicaraan bahkan sejak 15 menit yang lalu mereka masuk kamar. Mereka sama-sama bingung dan canggung untuk membuka pembicaan. Naruto memandang Hinata yang sedari hanya menunduk terdiam dipinggir tempat tidur dengan gaun pernikahan yang belum ia lepas. Sedangkan Naruto sendiri masih bertahan dikursi rodanya dengan kemeja berwarna putih yang sudah terbuka 2 kancing bajunya. Jas dan dasi yang ia kenakan tadi sudah ia lempar ketempat cucian kotor yang berada dikamarnya. Naruto menghela nafas, mereka berdua tidak mungkinkan tetap seperti ini terus kan?

"Aku ingin mandi. Setelahnya baru kau." Ucap Naruto pada akhirnya yang sudah memutarkan kursi rodanya.

"Na-naruto-kun mau ku bantu?" tanya Hinata agak ragu, dia takut Naruto tersinggung atau bahkan marah saat ia menyatakan itu.

"Aku sudah terbiasa." Ucap Naruto santai yang kini mengarahkan kursi rodanya kekamar mandi, namun sebelum itu ia mengarahkan kursi rodanya wadrop pakaian yang berada diruangan tersendiri dikamarnya untuk mengambil piyama. Hinata yang melihat Naruto menuju wadrop segera berlari untuk membantu Naruto.

"Ap-apa boleh aku yang menyiapkannya?" tanya Hinata yang kini berada tepat dibelakang Naruto. Naruto memandang Hinta sebentar, setelahnya ia hanya mengangguk dan segera saja Hinata mengambilkan satu set piyama yang memang sudah tersusun rapi wadrop. Naruto menerima piyama yang diberikan Hinata dan cukup menyukai selera istrinya. Sebuah piyama polos berwarna biru muda yang menjadi warna kesukaan Naruto. Setelahnya Naruto segera masuk kekamar mandi meninggalkan Hinata yang tersenyum. Hinata merasa sangat senang Naruto tidak menolak atau mengacuhkan semua tindakannya seperti biasanya. Bolehkah ia berharap jika Naruto sudah mau menerimanya. Andai dia tahu bahwa Naruto sudah membuka hatinya pasti Hinata lebih senang. Hanya suara air mengalirlah yang terdengar setelahnya. Hinata memutuskan untuk menunggu Naruto dengan duduk dipinggir tempat tidur. 10 menit menunggu Naruto keluar dari kamar mandi dan tampak lebih segar meski raut kelelahan tidak menghilang dari wajahnya.

"Sekarang kau bisa mandi. Kaa-san sudah menyiapkan piyama sementara untukmu, kau bisa mencarinya sendiri." Ucap Naruto tanpa melihat Hinata karna saat ini ia tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk yang berada dipundaknya. Aroma orange segar menguar dari tubuh Naruto, menyebarkan aroma maskulin dari seorang lelaki dewasa.

"Ba-baiklah. Aku mandi dulu." anggukan kecil Naruto berikan pada Hinata yang segera menuju wadrop dan mengambil piyamanya untuk dibawanya kekamar mandi. Meski tidak biasa berganti pakaian didalam kamar mandi namun itu harus ia lakukan karna sekarang dia tidak lagi memiliki kamar untuk seorang diri. Setelah Hinata masuk kamar mandi Naruto menghela nafas lelah. Lalu setelah ini apa yang akan mereka lakukan? Malam pertama? Rasa-rasanya itu belum bisa mereka lakukan. Naruto sendiri belum siap untuk melakukan itu. Hinata mandi sedikit lebih lama dari Naruto, yah seperti wanita pada umumnya. Hinata keluar dengan piyama putih yang cukup tipis dan membentuk sempurna tubuhnya. Naruto yang berada ditempat tidur tidak sengaja mengalihkan perhatiannya saat mendengar pintu kamar mandi terbuka. Hanya tegukan ludak yang susah payah Naruto lakukan saat melihat tubuh mempesona Hinata. Apalagi dengan rambut yang masih basah dan leher jenjang yang sesekali teraliri tetesan air sehabis mandi. Huh pemandangan yang benar-benar menguji iman. Jika nafsunya yang menang bukan akal sehatnya sudah pasti saat ini Naruto ingin segera membuat Hinata menjadi wanitanya. Hinata memandang canggung Naruto yang terus memandanginya, untuk mengatasi kecanggungan itu ia menuju meja rias dan menyisir rambut panjangnya. Naruto setia memperhatikan setiap gerak-gerik Hinata. Apakah yang ia lihat ini bidadari? Batin Naruto mulai ngelantur. Ukh ini pasti kerjaan ibunya yang memberikan piyama tipis itu pada Hinata, Naruto sebenarnya cukup tersiksa dengan pemandangan itu. Naruto menggeleng kuat untuk mengenyahkan segela pemikiran yang cukup berbahaya. Bersamaan dengan Hinata yang telah selesai menyisir rambutnya ia memandang Naruto bingung antara mendekat atau tetap diposisinya. Naruto yang memang memperhatikannya mengerti maksud itu.

"Kemarilah. Aku tidak akan menyentuhmu hari ini. Kita sama-sama lelah." Ucap Naruto yang melambaikan tangannya, gestur seperti seorang ibu yang memanggil anaknya untuk mendekat. Tunggu apakah Naruto tadi sadar mengatakan tidak akan menyentuhnya hari ini? Apakah ia boleh berharap jika Naruto akan menyentuhnya suatu saat dan ia bisa menunaikan tugasnya sebagai istri yang sebenarnya? Memikirkan itu membuat wajah Hinata menjadi panas dan sudah dipastikan memerah yang membuat Hinata menundukkan kepalanya selama berjalan kearah tempat tidur. Dan sepertinya Naruto pun tak menyadarinya karna kini ia tengan membuka tabletnya.

"Na-naruto-kun tidak tidur?" tanya Hinata heran saat Naruto terlihat masih sibuk dengan email-email dari para bawahannya.

"Tidurlah terlebih dahulu. Aku belum bisa tidur jam segini." Ucap Naruto yang melihat sebuah jam kecil disamping tempat tidurnya.

"Aku akan menemani Naruto-kun." mendengar pernyataan Hinata, Naruto segera berbalik memandang Hinata dengan tatapan heran.

"Untuk apa?" tanya Naruto bingung.

"Sebagai seorang istri aku akan selalu menemani Naruto-kun meski itu hanya untuk hal sepele saja."Jelas Hinata tanpa sadar. Naruto tersenyum tipis, Hinata begitu perhatian padanya. Bahkan untuk hal sekecil ini pun Hinata memperhatikannya. Tapi sayang sepertinya Hinata tidak melihat senyum tipis Naruto karna ia sedang tertunduk malu setelah mengatakan itu.

"Kau tidurlah. 10 menit lagi ini selesai. Aku tahu kakimu pasti lelah." Ucapan Naruto membuat Hinata tersentak. Padahal ia sudah menyembunyikan kelelahannya, namun Naruto tahu hal yang orang lain pasti akan tertipu.

"Aku akan tetap menemani Naruto-kun meski itu cuma 10 menit." Ucap Hinata yakin.

"Dasar keras kepala. Terserahlah." Naruto mendengus dan tertawa kecil melihat kekeras kepalaan Hinata. Hinata ikut tersenyum menanggapi ejekan dari Naruto, ah sudah lama rasanya ia tidak melihat Naruto tampak lebih santai.

Seperti yang dikatakan Naruto, ia hanya menyelesaikan 1 berkas dalam 10 menit setelahnya ia akan tidur. Saat dia menengok kearah Hinata yang ada disampingnya ia cukup terkejut.

"Dasar. Kau benar-benar keras kepala Hinata." Naruto mendengus setelah mengatakan itu. ternyata Hinata sudah tertidur dengan lelapnya, sepertinya ia sudah benar-benar kelelahan dan tanpa sadar tertidur. Naruto segera membenarkan letak selimut Hinata agar Hinata lebih nyaman. Dan mematikan lampu dikamarnya dengan sebuah remot. Mengingat apa yang ia lihat sekarang membuat Naruto ingin tertawa.

"Kau benar-benar menarik Hinata." Naruto tersenyum tulus memandang sang istri yang tampak pulas. Meski lampu sudah ia matikan namun cahaya bulan yang menerobos dari jendela membuat wajah Hinata terlihat lebih cantik. Ya Hinata seperti malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk Naruto.

"Oyasumi." Sebuah kecupan pada kening Naruto berikan. Hinata sedikit menggeliat namun itu tidak membuatnya bangun. Ia ternyata lebih menyamankan lagi posisinya. Setelah melihat Hinata lebih nyaman Naruto pun ikut tertidur. Malam ini adalah malam pertama Naruto tidur pada jam wajar sejak dia mengambil alih perusahaan ayahnya. Kehadiran Hinata memang baru sehari dalam hidupnya namun sudah mampu memberikan pengaruh positif dalam hidupnya.

.

.

.

Cahaya matahari yang sudah meninggi mengusik Hinata dan membuatnya menggeliat pelan sebelum membuka matanya sepenuhnya. Hal pertama yang ia lihat adalah langit kamar yang berbeda warna dengan kamarnya yang sebelumnya. Oh tunggu dulu, ini memang bukan kamarnya. Sekarang ia sudah menikah dan sudah menjadi istri dari seorang Namikaze Naruto. Ok sekarang ia ingat apa yang terjadi, Hinata segera membalikan badannya namun ia tidak melihat seseorang yang semalam berbagi kamar dengannya. Segera saja ia bagun dan hampir melompat dari tempat tidur andai saja suara pintu kamar mandi yang terbuka tidak mengalikan perhatiannya.

"Oh kau sudah bangun?" tanya Naruto santai sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dia memandang heran Hinata yang tadi sempat panik. Namun ia acuhkan saat raut wajah itu terlihat lega. Apa Hinata mencarinya? Itulah yang terlintas dipikiran Naruto. Hinata masih belum mampu menjawab, dia hanya menganggukan kepalanya.

"Sebaiknya kau mandi. Setelah itu turunlah kita akan sarapan bersama. Dan oh iya hari ini Kaa-san melarang kita kekantor." Ucap Naruto santai yang segera bersiap untuk keluar kamarnya.

"Ba-baik." Ucap Hinata sedikit gugup, ah sepertinya Naruto sudah benar-benar menerimanya meski ia tidak yakin Naruto mencintainya. Andai saja kau tahu Hinata jika Naruto sudah mencintaimu sebelum ia mengerti arti cinta yang sesungguhnya.

Hinata bergegas kekamar mandi, ia cukup kesiangan kali ini. Bahkan Naruto sudah bangun lebih pagi darinya. Dan semoga saja Kaa-san tidak marah jika ia bangun kesiangan dan tidak membantu membuat sarapan. Setelah membersihkan dirinya Hinata segera menuju dapur untuk membantu hal yang dapat ia bantu. Sesampainya didapur ia mendapati Kaa-sannya tengah asik memotong sayur-sayuran untuk membuat sup. Hidangan lainnya nampak sudah selesai dibuat. Dan tinggal disiapkan dimeja makan.

"Ohayo Kaa-san. Gomene aku kesiangan." Ucap Hinata tak enak hati pada ibu mertuanya. Mendengar suara Hinata, Kushina segera menoleh dan menyambut Hinata dengan senyum cerianya.

"Ohayo Hina-chan. Tak apa pasti kau lelah." Ucap Kushina maklum. Pesta kemarin memang cukup melelahkan bahkan untuknya yang selalu bersemangat. Namun juga sangat membahagiakan saat melihat anak tunggalnya dapat mendapatkan pasangan yang layak.

"Ada yang bisa kubantu Kaa-san?" tanya Hinata yang tidak ingin tinggal diam hanya menonton saja. Kushina melihat sekelilingnya, semua hampir siap hanya perlu memasukkan sayuran kedalam sup maka semua siap.

"Bagaimana jika Hina-chan menyusun makanan yang sudah jadi kemeja makan saja. Supnya hanya perlu menunggu sayurannya matang." Tanpa bertanya lagi Hinata segera menyanggupi perintah Kushina. Semua sudah tersusun dengan rapi oleh Hinata dengan cukup cepat, supnya pun sudah matang dan sudah tertata cantik didepan.

"Dimana Tou-san dan Baa-san, Kaa-san?" tanya Hinata saat tidak melihat anggota keluarga Namikaze yang lain. Kushina berfikir sejenak mengingat kira-kira dimana keberadaan anggota keluarganya pada pagi ini.

"Minato-kun masih tidur tadi. Mungkin sekarang sedang mandi dan akan turun setelahnya." Baru saja dibicarakan sang empunya sudah menuruni tangga dan berjalan menuju dua orang wanita anggota keluarganya diikuti sapaan selamat pagi yang ceria.

"Baa-san sudah berangkat subuh tadi karna ada pasien yang harus ditanganinya secepatnya. Dan dimana Naru-kun?" tanya Kushina saat belum melihat anaknya sejak tadi.

"Gomen. Tadi Naruto-kun keluar saat aku sedang mandi." Ucap Hinata merasa bersalah dan malu pada mertuanya. Seharusnya sebagai istri ia tahu dimana Naruto berada. Mendengar jawaban Hinata, Kushina hanya mengangguk. Dia tahu kemana perginya anak tunggalnya itu. sementara Minato tersenyum memandang kepolosan Hinata.

"Tak apa Hina-chan, Naru-kun memang seperti itu orangnya. Suka pergi tanpa pamit. Kau tahu ruang kerjanya kan?" tanya Kushina yang dibalas anggukan dari Hinata.

"Dia pasti disana. Anak itu benar-benar tidak tahu arti dari kata libur ya!" omel Kushina yang sudah hafal dengan watak anak tunggalnya itu. Minato yang melihatnya hanya tertawa kecil melihat tingkah istrinya. Setelahnya Hinata melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan yang ia ketahui sebagai ruang kerja suaminya.

.

.

.

Tok tok tok

Suara ketukan dipintu mengelihakan Naruto yang masih membaca sebuah berkas. Ketukan itu berbeda dari soerang pelayan yang biasanya memanggilnya untuk sarapan. Pasti sang istrilah yang mengetuk pintu itu jika didengar dari suara ketukannya yang lembut.

Kriet

Dan benar saja sebuah kepala dengan surai dark blue masuk keruangannya setelah ia mempersilakannya masuk.

"Na-naruto-kun, Kaa-san meminta kita untuk sarapan." Ucap Hinata yang masih agak gugup dengan Naruto walaupun saat ini yang berdiri didepannya adalah suaminya sendiri. Naruto memandang Hinata sekilas dan segera meletakkan kaca mata yang sedari tadi dipakainya. Hanya sebuah anggukan kecil jawaban dari Naruto sudah mampu mebuat Hinata senang. Hinata merasa senang mengingat perlakuan Naruto yang sudah lebih baik padanya apalagi semalam ia melindunginya dari seorang lelaki yang dipanggil Naruto Otsutsuki-san disaat ia tak berkutik untuk membela diri. Dia terlalu terkejut saat itu sampai tak mampu beraksi dan membela diri. Padahal Hinata juga bukan wanita lemah, dia pun menguasai beladiri khas klan Hyuga meski tidak seterampil kakak sepupunya. Mereka berjalan bersisian menuju ruang makan dimana orang tua Naruto menunggu.

"Ck, kau tidak tahu arti libur Naruto!" ucap Kushina seraya berdecak melihat kelakuan anaknya yang sangat sulit untuk dihilangkan.

"Benar kata ibumu Naruto. Seharusnya kau tidak usah memikirkan pekerjaanmu saat ini. Jika perlu kalian harus bulan madu." Ucap Minato yang mendukung sang istri.

Hinata merona saat ayah mertuanya itu menyinggung bulan madu. Ia tidak bisa membayangkan akan seperti apa bula madunya nanti. Namun mengingat hubungannya dengan Naruto baru membaik membuat Hinata perlu untuk memikirkan ulang kapan bulan madunya akan dilaksanakan. Naruto memandang kedua orang tuanya bosan.

"Ya ya sekarang lebih baik kita makan." Jawab Naruto bosan yang membuahkan delikan dari ibunya dan sang ayah hanya menggeleng.

"Naruto!" ucap Ibunya penuh peringatan yang kini tengah memandangnya galak.

"Apa? Aku sudah lapar." Jawab Naruto dengan polosnya dan langsung membuka piring yang sudah disiapkan. Hinata yang melihat keributan kecil itu terkikik kecil. Keluarga Naruto memang ramai dan ceria berbeda dengan keluarganya yang dingin namun penuh kasih sayang.

.

.

.

Berlibur selama sehari saat yang lainnya bekerja membuat Naruto tidak betah dirumah. Ia pun memutuskan untuk pergi kekantor meski ibu dan ayahnya melarangnya. Namun dengan bantuan dan bujukan Hinata yang mengatakan kepada kedua orang tuanya jika ia juga bosan dirumah membuat mereka luluh dengan mudahnya. Ia sebagai anak sampai tak mengerti bagaimana bisa mereka lebih mudah dibujuk oleh menantu dari pada anaknya sendiri. Hinata memang benar-benar mengubah keluarganya padahal baru dua hari mereka tinggal bersama. Sesampainya dikantor para karyawan menyambutnya dengan sapaan dan salam hormat ketika meraka berpapasan. Dan saat ia hendak melewati meja sekertarisnya – Shikamaru – Naruto merasa heran. Tidak biasanya Shikamaru membuat seringai mengerikan dan tertawa jahat seperti difilm-film anime sebagai peran antagonis.

"Hmm... berani juga kau rupanya." Ucap Shikamaru dengan seringai mengerikannya. Jarang-jarang Naruto melihat Shikamaru menunjukkan seringai mengerikannya. Shikamaru masih asik berkutat dengan leptopnya tanpa menyadari kehadiran dari sahabatnya sekaligus bosnya.

"Hahahah rasakan itu. Berani sekali meremehkanku." Ucap Shikamaru dengan hebohnya membuat Naruto yang sedari tadi memperhatikannya menjadi heran.

"Lihat lawanmu dulu sebelum menyerang. Ceroboh sekali dirimu." Kali ini ucapan Shikamaru terdengar seperti ia tengah meremehkan. Mendengar kata menyerang membuat Naruto menghampiri Shikamaru untuk menegurnya. Mendengar kata-kata Shikamaru Naruto menduga jika Shikamaru tengah bermain game saat kerja.

"Shikamaru apa yang kau lakukan?" tanya Naruto seraya mendekat. Shikamaru tampak sedikit terkejut dengan kehadiran Naruto meski hanya sebentar dan menyuruh Naruto mendekat untuk melihat apa yang kini tengah dikerjakannya. Sesampainya disana Naruto mengerutkan keningnya bingung. Dia tidak mengerti dengan apa yang saat ini dikerjakan Shikamaru. Ia kira tadi Shikamaru tengan bermain game namun nyatanya salah. Leptop Shikamaru kini menampilkan tab-tab yang tidak ia mengerti yang berisi kode-kode dengan kata-kata dan huruf-huruf asing yang tidak pernah ia jumpai sebelumnya.

"Apa ini?" tanya Naruto heran.

"Ck, kau tahu? Saingan perusahaan kita benar-benar licik ternyata. Dia ingin menghancurkan database perusahaan kita. Namun dia salah besar jika ia mengira bisa menghancurkan data base kita saat aku yang menjaganya." Ucap Shikamaru yang wajahnya masih menampilkan serigai mengerikan dan tangannnya tidak berhenti menari diatas keybort untuk memperbarui lagi keamanan yang hampir ditembus. Naruto mengangguk mengerti, ia tahu garis besarnya jika ada perusahaan saingannya yang ingin menyabotase perusahaannya dan hal itu tidak dapat mereka lakuakan karna ada Shikamaru yang memiliki kemampuan hacking yang luar biasa. Menjadi hacker untuk perusahaan ayah dan sahabatnya membuat perusaahan keduanya terhindar dari resiko pencurian atau sabotase selama Shikamaru yang mengendalikannya. Shikamaru sudah menjadi hecker profesinal sejak masih berada diSMA dan sering membantu ayahnya dan Naruto dalam pengamanan data dan menghecking beberapa perusahaan kotor dan menyobotase datanya.

"Apa ada yang mereka curi?" tanya Naruto penasaran.

"Kau meremehkanku?" tanya Shikamaru sakratis. Naruto hanya tertawa canggung saat Shikamaru merasa diremehkan kemamupuannya. Tentu Naruto tidak pernah meremehkan Shikamaru apalagi saat mengingat IQ Shikamaru sampai 200 lebih. Membuatnya sangat sulit untuk dihadapi apalagi dalam hal kepintaran.

"Tentu tidak. Baiklah aku akan kembali keruangan. Jika ada laporan yg harus ku pelajari tolong bawa keruanganku."

"Oke nanti ku bawakan beberapa laporan yang sudah ku seleksi."

.

.

.

Sementara itu suasana mencekam harus dihadapi beberapa orang yang kini tengah ketakutan pada pandangan sepasang mata biru pudar yang memandang mereka tajam.

Brakk

Prang

Sebuah leptop beserta perangkat lainnya jatuh dengan kondisi mengenaskan akibat dari lemparan kemarahan dari seorang lelaki bersurai perak.

"Kerja kalian tidak becus? Apanya yang top hecker dijepang? Hanya untuk mencuri data dari sebuah perusahaan saja kalian tidak bisa?" ucapnya penuh amarah membuat orang-orang yang mendengarnya semakin meringkuk ketakutan.

"Ma-maaf Otsutsuki-sama. Kami tidak tahu jika ada seseorang yang bisa menyaingi kami dan menjaga keamanan database dari Namikaze Corp." Ucap salah seorang diantara mereka yang usia paling tua diantara yang lain. Dia beserta kedua temannya gemetar saat melihat tatapan tajam yang mengintimidasi dari Toneri.

"Persetan dengan itu. Kalian tidak becus. Jirobo beri mereka pelejaran." Ucapan Toneri tidak dapat ditolak, meski mereka sudah memohon bahkan merendahkan dirinya hal itu tidak berpengaruh pada Toneri. Tanpa pikir panjang Jirobo beserta kedua temannya segera menggeret tiga orang hecker yang disewa oleh Toneri untuk menyabotase data base Namikaze Corp namun hasilnya digagalkan. Setelah ruangan itu hanya tersisa dirinya Toneri kembali melampiaskan amarahnya pada semua barang yang berada didepannya.

"NAMIKAZE SIALAN!" teriaknya penuh emosi.

"Kau lawan yang tangguh rupanya. Lihat saja nanti Namikaze Naruto. Kau akan menyesal berurusan denganku." Ucapnya sambil menyeringai kejam.

TBC

Updatenya lama baget ya? Dan apakah masih ada yang inget jalan cerita dari fic ini?

Maaf ya aku gx ada waktu buat ngelanjutin fic ini kemaren-kemaren disebabkan banyak hal yang membuat mood menulisku hancur. Tapi sementara untuk sekarang udah baik-baik aja makanya aku bisa update. sekarang aku udah semester 4 dan tugas sudah semakin menumpuk, aku gx janji kapan bisa up lagi setelahnya.

Terimaksih untuk para reader yang menyempatkan membaca dan memberi review untuk fic ku ini. Dan untuk silent reader juga, semoga kalian terhibur.