Hola Minna, ketemu lagi dengan fic saya.

.

Disclaimer : Tite Kubo

.

RATE : M For Safe

.

Warning : OOC, AU, Misstypo

.

Attention : Fic ini hanyalah fiksi belaka. Apabila terdapat kesamaan atau kemiripan situasi dan karakter atau apapun itu dengan cerita lain dalam bentuk apapun adalah tidak disengaja. Mohon maklum, heheheh

.

.

.

"Rukia? Kau datang ke sini dengan siapa?"

Pagi itu, Unohana mendengar jika rumah panti asuhannya digedor oleh seseorang dari luar. Beberapa perawat yang bekerja di rumah panti asuhan ini pun mendengar gedoran itu. Unohana kemudian memberitahu bahwa dia yang akan membukakannya pintu. Karena saat itu suasana masih begitu pagi dan belum banyak anak-anak panti asuhan yang bangun.

Saat membuka pintu, Unohan terkejut melihat kedatangan Rukia sendirian di depan pintunya.

Wajah Rukia terlihat pucat dan tatapannya begitu dingin.

Unohana hanya merasa Rukia yang sekarang sama sekali tidak terlihat seperti Rukia yang datang pertama kali dalam beberapa waktu lalu. Entah kenapa ada aura yang berbeda yang dirasakan oleh Unohana begitu bertemu dengan Rukia yang ini.

"Ru... kia?" panggil Unohana lagi karena Rukia tak kunjung merespon apapun.

"Boleh aku masuk lebih dulu? Aku agak lelah setelah perjalanan panjang kemari," ujar Rukia sembari langsung masuk tanpa menunggu Unohana lagi.

Begitu Rukia memasuki rumah panti asuhan itu, Rukia menatap sekeliling ruangan itu dengan seksama. Setiap senti bangunan itu ditelusuri oleh Rukia dengan baik seakan-akan Rukia ingin mengingat semua itu selamanya. Atau memang itulah yang diinginkannya.

Hampir tidak ada yang berubah setelah lama Rukia meninggalkan rumah ini. Hanya sebagian perabotan seperti lemari dan meja yang berganti. Lalu cat dinding yang sudah diperbaiki.

Rukia... sempat menganggap tempat ini sebagai 'rumah' baginya.

Tempat dimana akhirnya Rukia memiliki tempat untuk kembali kapanpun jika dia merasa rindu di sini. Perasaan yang begini mengharukan namun tak terasa sedikit pun menyedihkan untuk Rukia. Dia hanya rindu, namun perasaannya tak bergejolak sebagaimana seharusnya.

Dia hanya ingin melihat tempat ini.

Itu saja.

Unohana yang sedikit penasaran tentang kedatangan mendadak dari Rukia membuatnya sedikit gugup.

Gadis itu sudah datang beberapa minggu lalu dengan temannya. Memang saat itu Rukia sempat bilang kalau dia akan berkunjung lagi, tapi Unohana hanya tidak menyangka bahwa dia benar-benar datang lagi kemari. Apalagi mengingat tempat tinggal Rukia saat ini sangat jauh dari sini.

"Rukia...?" panggil Unohana karena Rukia masih terus memperhatikan setiap detil letak di ruangan ini.

Saat Unohana memanggilnya, Rukia menoleh dan kemudian membalikkan badannya sepenuhnya. Tatapannya masih sama. Begitu datar dan tanpa ekspresi. Jauh berbeda seperti waktu pertama kali dia datang. Saat itu Rukia terlihat ceria dan begitu gembira.

Apakah terjadi sesuatu padanya?

"Cukup banyak yang berubah di sini," ujar Rukia akhirnya.

"Bukankah kau sudah pernah datang kemari? Semuanya masih sama seperti terakhir kau datang kemari."

"Benarkah? Oh, ternyata sudah pernah kemari."

Unohana semakin bingung dengan sikap Rukia yang sangat aneh itu.

Langsung saja Unohana mendekati Rukia.

"Ada apa kau tiba-tiba datang kemari? Apakah... terjadi sesuatu?" tanya Unohana.

Rukia kemudian berbalik menatap Unohana dengan tajam.

"Bukankah harusnya kau menanyakan itu padaku lima tahun yang lalu?"

"Lima tahun yang lalu?" ulang Unohana tak mengerti.

Unohana sempat mengingat-ingat apakah Rukia diadopsi lima tahun yang lalu. Tapi bukankah Rukia diadopsi oleh keluarganya sendiri?

"Saat kau berkunjung kemari, bukankah kau bilang kau sangat bahagia sudah bertemu dengan keluarga kandungmu? Kau bahkan sudah memiliki teman di sana. Teman yang pernah kau ajak kemari, benar kan?"

"Ya, kehidupanku sangat jauh berbeda kan? Bertemu dengan keluarga kandung, mendapatkan banyak teman, dan seseorang yang begitu perhatian. Kehidupan seperti itu sangat menyenangkan. Iya kan, Unohana-san?"

Unohana benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh Rukia.

"Apa... benar terjadi sesuatu denganmu?" tanya Unohana sekali lagi.

Mungkinkah Rukia mendapatkan masalah atau ada sesuatu yang membuatnya jadi begini aneh?

"Sepertinya Unohana-san tidak lagi mengingat semua anak yang telah pergi dari panti asuhan ini kan? Unohana-san... bahkan tidak mengenaliku lagi."

"Tentu saja aku mengenalimu. Kau Rukia kan?"

"Kalau kukatakan aku bukan Rukia?"

"Apa yang kau bicarakan? Tentu saja kau Rukia. Ada apa sebenarnya? Apa sungguh terjadi sesuatu padamu? Apakah sebaiknya aku menghubungi keluargamu kalau kau di sini?"

"Unohana-san, apa kau lupa? Kalau kau memberikanku pada bajingan gila yang sangat mengerikan? Kau sudah tahu kalau aku tidak mau ikut bajingan gila itu, tapi kau memaksaku! Kau mengatakan kalau aku tidak ikut dengan bajingan gila itu, semua anak di panti ini tidak akan mendapatkan kehidupan lagi!"

Unohana terkejut sekali lagi.

Apa maksudnya ini?

"Rukia...?"

"Dan bajingan gila itu... sudah membiarkanku hidup seperti setengah mayat. Aku dipaksa untuk tetap hidup tapi seluruh tubuhku dipaksa berubah menjadi mayat. Kau membiarkanku hidup mengerikan seperti itu, Unohana-san!"

"Rukia, apa yang kau bicarakan ini? Aku sungguh tidak mengerti apa maksudmu?" tanya Unohana yang mulai panik.

Unohana panik karena suara Rukia mulai meninggi dan dia bisa membangunkan anak-anak lain yang masih terlelap.

"Tentu saja kau tidak tahu. Kau tidak mau tahu nasib anak-anak yang kau berikan pada bajingan gila itu. Kau hanya tahu bagaimana caranya mendapatkan uang untuk melanjutkan hidupmu dan panti asuhan ini. Panti asuhan sebagai kedok sumber uangmu!"

"Rukia, kau sudah keterlaluan. Apa maksudmu bicara seperti itu? Bukankah kau sendiri sudah tahu kalau aku memberikan anak-anak adopsi itu orangtua asuh yang layak. Termasuk dirimu."

"Tidak. Jika Rukia tidak bertemu dengan keluarga kandungnya, mungkin dia akan berakhir sepertiku juga. Aku bersyukur bahwa Rukia hidup dengan sangat baik dan jauh dari tempat terkutuk ini!"

Unohana terdiam beberapa saat.

Unohana hanya menduga hal yang tak masuk akal. Tapi... dilihat dari bagaimana pun memang Rukia yang sekarang dan Rukia yang datang pertama kali menemuinya beberapa waktu lalu sangat berbeda. Dan sekarang Unohana sedikit mengerti bahwa... mungkinkah yang dihadapannya saat ini...

"Kau bukan Rukia?" lirih Unohana.

Rukia kemudian menatap Unohana dengan mata yang menggelap. Aura yang benar-benar menakutkan untuk dirasakan Unohana.

"Benar. Aku bukan Rukia. Aku hanya meminjam raganya untuk membuat jiwaku tenang. Jika Unohana-san lupa padaku, aku akan mengatakannya padamu. Lama tak berjumpa Unohana-san, aku Senna."

Jantung Unohana kemudian berdetak sangat cepat. Rasanya begitu menakutkan dan... mengerikan...

"Sen... na?"

"Ya, aku Senna. Mungkin terlihat aneh, tapi aku sungguh Senna. Anak perempuan kecil yang kau serahkan pada bajingan gila. Anak perempuan kecil yang tidak tahu apapun tapi harus menderita seperti itu karena obsesi mengerikan seorang brengsek seperti itu. Kau berpikir dengan mengirimkan anak-anak perempuan lain kepada bajingan gila itu adalah ide bagus. Tapi kau salah. Kau tidak tahu hal mengerikan apa yang mereka hadapi."

"Apa maksudmu?"

"Aku akan melenyapkan bajingan gila itu bagaimana pun caranya. Agar tak seorang anak perempuan lain yang menderita sepertiku dan anak-anak lain yang sudah lebih dulu menderita. Kehilangan keluarga sudah cukup menderita untuk kami, tapi kau mengirim kami ke dalam neraka. Apa sehina itu kehidupan kami karena tidak memiliki orang tua?"

"Rukia! Apa yang kau bicarakan ini sebenarnya?!"

"AKU BUKAN RUKIA! AKU SENNA! Apa Unohana-san masih tidak bisa mengenaliku? Baiklah, mungkin kau memang tidak bisa mengenaliku dengan wujud seperti ini. Setelah balas dendamku selesai, berikutnya adalah kau. Kau tunggu saja apa yang aku lakukan padamu karena sudah membuat hidupku menderita seperti ini!"

Setelah mengatakan hal itu, Rukia kemudian keluar dari panti asuhan itu.

Ya, Rukia saat ini memang bukanlah Rukia.

Senna datang kepadanya.

.

.

*KIN*

.

.

"Oyaji, kurasa Rukia tidak ada di sekitar sini," ujar Ichigo.

Setelah Rukia pergi menghilang itu, seluruh keluarga Kurosaki panik bukan main. Mereka tidak yakin harus menghubungi siapa dan dimana petunjuk tentang keberadaan Rukia saat ini.

"Apa maksudmu dia tidak ada di sekitar sini?" tanya Isshin pula.

Ichigo tidak yakin bagaimana, tapi sepertinya Rukia memang bukan ada di dekat sini. Kemungkinan... dia bisa saja pergi jauh.

Ichigo hanya tidak berani memikirkannya. Tapi kemungkinan itu jauh lebih besar mengarah ke sana.

Ichigo dan Isshin saat ini masih berada di depan kediaman Kuchiki. Mereka masih bingung apakah sebaiknya menghubungi polisi atau tidak. Karena jelas Rukia pergi sendiri kali ini. Tidak ada tanda-tanda aneh kalau Rukia menghilang mendadak.

Ichigo dan Isshin sempat memeriksa barang penting di kamar Rukia waktu itu.

Dompet dan identitas pengenal lain tidak ada di kamarnya. Bisa jadi dia memang merencanakan pergi tanpa memberitahu siapapun. Kalau benar seperti itu, Ichigo jadi gugup dengan kemungkinan tempat tujuan Rukia.

"Kurosaki-san."

Baik Ichigo maupun Isshin sama-sama menoleh karena marga keluarga mereka dipanggil dan mendapati Byakuya datang.

Tentu saja dua ayah anak ini tampak terkejut saat Byakuya melangkah lebih dekat kepada mereka.

"Kau... bukankah kau ada di Hokkaido?" tanya Isshin.

"Aku mendapat kabar kalau terjadi sesuatu di rumahku. Makanya aku bergegas kemari," jelas Byakuya.

"Bagaimana dengan istrimu? Kau sendirian kemari?" lanjut Isshin.

"Aku tidak bisa memberitahu Hisana mengenai kejadian ini. Makanya aku membiarkannya tinggal di sana lebih dulu sampai ayahku benar-benar sehat. Aku datang ke sini karena alasan pekerjaan. Kudengar, kalianlah yang menolong adik iparku malam itu."

Isshin dan Ichigo sama-sama saling menoleh dan kembali bingung harus mengatakan apa. Tapi sepertinya memang mustahil pihak kepolisian tidak memberitahu masalah ini pada Byakuya. Apalagi rumah Byakuya-lah yang menjadi sasaran malam itu. Tentu saja mereka akan memberitahu pemilik rumah bagaimana pun caranya.

"Adik iparmu menghilang," buka Ichigo akhirnya.

Kontan saja mata Byakuya membelalak besar. Wajahnya berubah panik dan cemas bersamaan.

"A-apa katamu? Rukia menghilang?!" seru Byakuya.

"Sepertinya dia pergi karena kemauan sendiri. Tidak ada petunjuk aneh yang tertinggal di rumah kalian," sela Isshin.

Byakuya tampak terpukul. Sebenarnya dia sungguh khawatir dengan keadaan Rukia setelah kejadian malam itu. Tapi rekannya memberitahu bahwa tetangga mereka yang menjaga adiknya sementara ini sampai Byakuya bisa kembali bertugas. Hanya saja... Byakuya tidak menyangka dengan kemungkinan ini. Bagaimana mungkin adiknya bisa menghilang begitu saja?

"Kenapa kalian tidak memberitahuku lebih cepat!"

"Karena kami juga baru pagi ini mengetahuinya. Malam kemarin dia masih ada makan malam bersama kami. Sebaiknya kita mencarinya segera."

"Mencarinya kemana? Astaga, bagaimana jika Hisana tahu?"

"Aku tidak yakin dengan ini, tapi kurasa... dia pergi ke Seireitei," celetuk Ichigo.

"Apa?"

Langsung saja Isshin dan Byakuya menatap langsung ke arah Ichigo.

"Seireitei? Kenapa dia pergi ke sana?" lanjut Byakuya.

"Aku akan mencoba menyusulnya. Sebaiknya Byakuya-san dan Oyaji mencari di sekitar sini," kata Ichigo.

"Hei, bagaimana kalau dia bukan ke sana? Kenapa kau harus pergi sejauh itu? Kita bahkan belum yakin kalau Rukia-chan pergi ke sana!" sergah Isshin.

Ichigo juga tidak bisa mengatakannya, tapi entah kenapa perasaannya begitu kuat bahwa Rukia mungkin pergi ke sana. Perasaan yang terus mendorongnya untuk segera menyusul Rukia ke sana. Rukia pasti pergi ke sana. Entah bagaimana... tapi Ichigo sangat yakin dengan itu.

"Kalau begitu aku ikut pergi ke sana," sambung Byakuya pula.

Ichigo langsung menoleh ke arah Byakuya.

"Kenapa kalian mau pergi ke tempat yang tidak pasti seperti ini? Apalagi tempat itu begitu jauh!" ujar Isshin hampir putus asa.

Dia tidak mengerti kenapa dua orang ini sepertinya sangat aneh berharap Rukia mungkin pergi ke tempat sejauh itu.

"Kurosaki-san, aku akan memberitahu rekan kepolisianku di sini untuk mencari Rukia, jika Kurosaki-san tidak keberatan mungkin Kurosaki-san bisa membantu penyelidikin mereka. Kami akan pergi ke Seireitei sekarang juga untuk memastikannya. Jika memang Rukia berada di dekat sini, tolong jaga Rukia sampai kami kembali," jelas Byakuya.

Memang ada apa dengan Seireirei sebenarnya?

.

.

*KIN*

.

.

"Hari ini Kurosaki-kun dan Kuchiki-san tidak masuk ya," ujar Orihime setelah mendengar bel masuk berbunyi.

"Kau benar. Kenapa mereka berdua tiba-tiba tidak masuk?" lanjut Tatsuki.

Orihime hanya menatap dua bangku di belakangnya yang kosong itu. Dua bangku yang bersebelahan satu sama lain.

.

.

*KIN*

.

.

Rukia berdiri di depan sebuah rumah saat ini.

Rumah yang pernah didatanginya beberapa waktu lalu.

Rukia hanya berdiri di sana tanpa bergerak sedikit pun dan melihat rumah mengerikan itu dengan seksama. Keadaannya masih sama. Sepi dan seperti tanpa penghuni.

"Kau tahu Rukia... di sinilah penjara itu dimulai."

Ya, itu Senna.

Rukia yang sekarang dikendalikan oleh Senna yang merasuki dirinya.

Sebelumnya Senna memang berusaha untuk masuk ke dalam diri Rukia begitu Senna bisa menemukannya. Sayangnya Senna baru bisa merasakan kehadiran Rukia ketika Rukia tiba di Karakura. Setiap kali Senna berusaha berkomunikasi dengan Rukia, ada sesuatu yang menghalangi mereka.

Senna berulang kali mencoba mendatangi Rukia di dalam mimpinya, tapi semua itu tidak berpengaruh.

Senna terus mencari cara tapi tidak berhasil satu pun. Sampai akhirnya Senna mengetahui bahwa Rukia kini 'dijaga' oleh seseorang.

"Kau beruntung Rukia... kau bertemu keluargamu tepat sebelum iblis bajingan ini mendatangi kita. Tuhan tampaknya begitu menyayangimu. Dan aku... sayangnya sempat iri dengan keberuntunganmu. Kau begitu beruntung hidup di dunia ini. Padahal kita selalu bersama-sama, tapi kenapa nasib kita berbeda seperti ini?"

Senna berbicara dengan menggunakan diri Rukia, meskipun dia tahu Rukia mungkin tidak bisa mendengarnya. Senna tahu yang dia lakukan ini salah. Tapi saat ini tidak ada yang bisa menghentikannya. Dan Senna tidak ingin ada siapapun yang menghentikannya.

"Aku melakukan ini agar tidak ada anak lain yang menderita sepertiku. Kau juga pasti ingin membantuku kan melakukannya jika ini berhubungan dengan tolong menolong kan? Kau harus menolongku kali ini, Rukia. Hanya kau yang bisa melakukannya."

Walaupun nanti pada akhirnya nasib mereka mungkin akan sama.

.

.

*KIN*

.

.

Keadaan Szayel saat ini berangsur baik.

Keputusan yang tepat dia melakukannya ketika dia akan melakukan cuti bulanannya. Kalau dia bekerja dengan keadaan seperti ini, akan lebih sulit baginya jika terjadi sesuatu yang merepotkan.

Apalagi bocah brengsek itu berhasil melukainya.

Szayel tidak menyangka akan bertemu bocah orange itu saat kejadian malam lalu. Seharusnya dia tidak datang ke sana. Kenapa dia tiba-tiba muncul sebelum sempat mengetahui apa yang terjadi?

Bocah orange itu juga terlihat aneh.

Sejak bertemu pertama kali, Szayel memang tidak merasa aman sedikit pun berada di dekat bocah itu. Setiap kali mereka bertemu, Szayel selalu merasa bocah itu mengawasinya tanpa alasan yang Szayel ketahui.

Tapi jelas. Bocah itulah yang datang ke rumahnya beberapa waktu lalu.

Hanya saja Szayel tidak tahu alasannya kenapa bocah orange itu bisa datang ke tempat sejauh ini. Apa yang membuatnya sampai datang kemari?

Szayel hanya tertarik dengan anak perempuan yang lepas dari cengkeramannya.

Ternyata anak itu tumbuh menjadi gadis remaja.

Szayel tidak percaya dirinya tertarik dengan gadis remaja yang masih ingusan seperti itu.

Seharusnya malam itu Szayel bisa membawanya saja. Itu lebih baik daripada menakuti seperti itu. Szayel ingin membuat gadis itu ingat padanya meskipun caranya menakutkan seperti itu. Jika gadis itu ingat padanya, mungkin dia akan teringat terus pada Szayel dan mencari tahunya.

Memikirkan hal seperti ini saja sudah membuat Szayel berdebar bukan main.

Saat Szayel tengan menikmati khayalannya tentang gadis yang menarik perhatiannya itu, tiba-tiba pintu rumahnya digedor dari luar.

Biasanya Szayel selalu bersikap baik di lingkungan Seireitei ini agar tidak seorang pun yang mencari tahu soal dia. Dengan bersikap baik, semua orang akan menganggap Szayel orang yang baik. Mereka tidak akan berpikiran jauh jika Szayel datang ke sini begitu jarang.

Apakah orang-orang di dekat sini yang membutuhkan bantuannya?

Szayel terpaksa membuka pintu rumahnya. Dia tidak boleh menolak apapun permintaan warga di sini meskipun dia enggan.

Begitu pintu terbuka, mata Szayel langsung terbelalak lebar melihat siapa tamu yang mendatangi rumahnya hari ini.

"Kau...?" gumam Szayel tak percaya.

"Maaf aku mengganggu, tapi aku ingin sekali mampir kemari. Kau tidak menyilakan tamumu masuk?"

Dikatakan aneh, Szayel tentu merasa takjub bukan main.

Gadis yang beberapa waktu ini mengganggu pikirannya kini mendatanginya sendiri.

"Tentu, silahkan masuk," ujar Szayel dengan seringaiannya.

Gadis itu melangkah masuk tanpa ragu sedikit pun. Tapi sebelum benar-benar masuk ke dalam rumahnya, gadis itu melepaskan sepatunya di depan pintu masuk. Biasanya tamu akan membuka pintu di dalam pintu masuk. Szayel sedikit curiga dengan apa yang dia lakukan, tapi itu bukan hal yang perlu dia pikirkan.

Auranya mungkin tampak berbeda dan cara dia menatap pun sedikit aneh.

Tapi bagi Szayel dia tetap gadis yang membuatnya tertarik.

Seperti mangsa yang mendatangi kandang predatornya sendiri, bukankah ini sangat mudah?

Szayel hanya harus berakting sempurna. Sedikit lagi... mungkin dia bisa memiliki gadis ini. Kali ini Szayel tidak perlu berusaha terlalu keras. Dia bisa mendapatkan boneka barunya sebentar lagi.

"Apa yang membawamu kemari sejauh ini, Nona?" tanya Szayel ketika mereka sudah duduk.

Gadis manis itu memilih duduk di kursi single dan Szayel duduk di sisi sebelah kirinya.

"Kau tahu kalau aku datang dari tempat yang jauh?" ujar gadis itu lagi.

Szayel tersenyum.

"Bukankah kau pernah melihatku di rumah sakit Karakura beberapa waktu lalu? Kau berasal dari Karakura kan? Kita sempat bertemu di sana karena aku tidak sengaja menabrakmu dan membuat pergelangan kakimu terkilir," jelas Szayel.

Tatapan mata gadis itu terlihat kosong. Tapi Szayel bisa memastikan bahwa dia saat ini tengah mengawasi seluruh yang ada di diri Szayel.

"Kalau begitu... apa kau tahu namaku?"

"Kau belum mengenalkan namamu padaku."

"Kuchiki Rukia."

"Ah, Kuchiki Rukia."

"Dan aku pernah tinggal di salah satu panti asuhan di Seireitei ini."

"Benarkah? Ternyata kau sudah tahu daerah di sini rupanya."

"Ya, aku pernah kemari lagi beberapa waktu lalu. Untuk mencari temanku."

"Temanmu? Apa dia masih tinggal di panti asuhanmu dulu itu?"

"Tidak. Dia sudah pergi tepat setelah aku meninggalkan panti asuhan itu."

"Sayang sekali kalau begitu. Apa kau masih mencarinya?"

"Tentu, aku masih mencarinya."

"Mungkin aku bisa membantumu untuk mencari temanmu."

"Tidak perlu. Karena aku sudah menemukannya. Dia mungkin... ada di sini."

Szayel terdiam beberapa saat.

Szayel tidak menyangka bahwa pembicaraan mereka mengarah pada hal-hal yang aneh. Apa sebenarnya maksud gadis ini?

"Di sini? Maksudmu di lingkungan sini?" kata Szayel.

"Tidak. Maksudku di rumah ini. Kau masih menyimpannya. Kau menyimpan temanku di nerakamu ini."

Baiklah, ini tidak lucu.

"Apa yang kau bicarakan, gadis muda? Kau tidak tahu apapun—"

"Aku tahu semuanya. Semua yang kau lakukan di rumah ini. Aku tahu. Dan kau masih terus melakukannya. Karena itu, aku kemari ingin menghentikanmu."

Szayel mendengus geli. Dia tertawa tanpa ekspresi dan mulai menatap tajam perempuan kecil yang mengaku bernama Kuchiki Rukia ini.

"Dengar, kita baru beberapa kali bertemu dan tidak pernah bicara sedikit pun. Kenapa kata-katamu... seolah-olah kau mengetahui segalanya tentangku?"

"Aku memang tahu. Karena kau melakukan hal yang sama padaku."

"Apa yang pernah kulakukan padamu selain menabrakmu tidak sengaja di rumah sakit dulu itu?"

"Kau membunuhku."

Szayel terdiam dengan tatapan dingin.

Szayel masih tidak percaya, tapi dia merasa bocah ini membuatnya tersudut. Dia seolah-olah membicarakan hal-hal yang pernah dirasakannya secara langsung. Ini sangat tidak masuk akal.

Atau...

Gadis ini tahu kalau Szayel menyerangnya malam itu?

Tidak, kalau dia tahu pasti dia akan melaporkannya pada polisi tentang Szayel. Tapi hingga hari ini semua masih baik-baik saja dan tidak ada laporan aneh apapun yang dialamatkan kepada Szayel.

Tidak mungkin...

"Kau pasti bertanya-tanya tentang apa maksud perkataanku kan? Biar kujelaskan. Aku datang kemari... karena ingin balas dendam padamu."

"Balas dendam? Kita hanya beberapa kali bertemu dan kau ingin balas dendam padaku?"

Rukia tiba-tiba berdiri dan merogoh sesuatu dari balik sakunya. Szayel langsung bersikap waspada karena anak ini benar-benar terlihat sangat berbeda. Dia tidak seperti yang Szayel lihat di Karakura.

Tiba-tiba dari balik saku jaketnya, gadis itu mengeluarkan sebilah pisau lipat dan mencoba menusuk Szayel dengan itu. Untung Szayel bergerak cepat sehingga hadis itu hanya menggores sandaran sofa tempat dimana Szayel duduk.

"Apa yang kau lakukan?" geram Szayel yang berusaha sedikit keras untuk menghindari serangan mendadak itu.

Rukia hanya menarik kembali pisau lipatnya dan kembali menggenggamnya dengan erat. Dia berbalik menatap Szayel dengan nafsu membunuh yang amat kentara di matanya. Dia bersungguh-sungguh menyerang Szayel!

"Kenapa? Kau takut? Kau takut dengan pisau kecil seperti ini? Bukankah kau menggunakan pisau yang jauh lebih kecil dari ini?" ujar Rukia lagi seraya berjalan perlahan mendekati Szayel.

Szayel berusaha mundur dan mulai menyusun strategi.

Dia harus menghindari anak ini atau dia bisa mati konyol di sini.

"Sebaiknya kau letakkan benda itu dan pergi dari rumahku sebelum aku memanggil polisi!" ancam Szayel.

"Polisi? Silahkan saja. Dengan begitu aku lebih mudah membongkar tempat ini!"

Apa yang sebenarnya diketahui oleh gadis ini? Dia sepertinya sungguh mengetahui sesuatu di sini.

Szayel mencoba menghindar, tapi Rukia tanggap lebih cepat dan berusaha menyerangnya sekali lagi.

Sekarang, Rukia berhasil menggores lengan Szayel. Sepertinya gerakannya tidak begitu lincah dari yang dilihat Rukia. Mungkinkah dia masih terluka karena teman Rukia waktu itu?

Senna tak membuang waktunya. Dengan tubuh yang mampu bertahan seperti ini, Senna ingin menghabisi iblis tak punya hati ini. Dia ingin melenyapkan setan neraka ini untuk selama-lamanya, walaupun harus mengorbankan temannya sendiri. Senna tak punya pilihan selain menggunakan Rukia, karena hanya Rukia yang bisa membuatnya melakukan ini.

Mereka terlibat perkelahian serius. Szayel terus menghindar serangan Rukia, tapi ternyata gadis itu jauh lebih lincah dari perkiraannya. Akhirnya Szayel terpaksa menggiringnya menuju ruang kerjanya di rumah ini. Szayel tidak percaya ternyata tubuhnya masih belum cukup kuat untuk bertarung lagi. Bocah orange sialan itu benar-benar menghajarnya malam itu.

Mereka nyaris berkejar-kejaran hingga akhirnya Szayel berhasil menuju meja kerjanya. Szayel bersembunyi di bawah mejanya dan membuka lacinya satu per satu. Seharusnya ada di dalam laci ini. Szayel selalu meninggalkan benda itu di dalam salah satu lacinya.

"Keluarlah setan sialan! Kau tidak pantas hidup! Kau harus mati sekarang juga!" pekik Rukia ke seisi ruangan.

Ya, dia berhasil mengikuti Szayel sampai ke ruang kerjanya.

Senna yang berada di dalam diri Rukia pun menyadari bahwa dia berada di pintu utama tempat dimana semua malapetaka itu terjadi. Jika dia bisa menemukan kuncinya, Senna mungkin masih memiliki kesempatan untuk melepaskan semuanya yang tersisa di sana.

Fokus Senna pecah saat tanpa sadar dia mencari dimana pintu utama ruangan terkutuk itu berada hingga tanpa menyadari Szayel sudah berdiri di belakangnya.

Szayel berhasil menusuk sesuatu ke leher Rukia. Tapi Rukia juga berhasil menusuk pisau lipatnya ke bahu Szayel. Tapi sayang serangan seperti itu tidak cukup kuat untuk menumbangkan iblis ini.

Tunggu, apa yang ada di leher Rukia?

Senna mencabutnya dan melihat sebuah suntikan kecil ada di sana.

Sialan... apa ini...

"Lima menit lagi kau tidak akan bisa bertahan. Aku yang menang di sini," ujar Szayel dengan percaya diri sambil mencabut pisau lipat itu dari bahunya.

Szayel memang mengalami pendarahan, tapi sayangnya pisau itu tidak menusuknya begitu dalam. Luka ini bisa sembuh dalam sekejap.

Tapi berbeda dengan Rukia yang mulai merasa pusing setengah mati. Matanya perlahan-lahan berubah begitu berat. Tapi Rukia berusaha mengumpulkan kesadarannya meskipun pandangannya tak lagi jelas. Rukia terus menabrak apa saja yang ada di sekitarnya.

"Percuma saja, itu adalah obat bius dengan dosis tinggi. Waktumu hanya lima menit sampai kau jatuh pingsan. Dalam satu menit kau akan kehilangan kemampuan bergerakmu, dua menit berikutnya tubuhmu kehilangan respon dan tiga menit selanjutnya seluruh inderamu akan mati rasa. Tinggal empat hingga lima menit kau tidak akan sadarkan diri. Semua itu sekarang tergantung seberapa lama kau bisa bertahan dari obat itu," kata Szayel lagi.

Obat bius?

Senna pernah merasakan obat ini...

Obat... yang membawa penderitaan untuknya.

Tubuh Rukia mulai merespon efek obat itu. Tubuhnya benar-benar tidak bisa bergerak lagi. Bahkan jari-jari tangannya. Meskipun kesadarannya masih dapat dikendalikan. Akhirnya Rukia ambruk di tempat.

"Sepertinya kau tahu sesuatu mengenai diriku dan tempat ini. Apa kau pernah datang kemari? Oh, tentu kau pernah. Bersama bocah orange sialan itu. Jadi kau sudah menyelidiki tempat ini dan aku bukan? Kalian bekerja sama untuk mengacauku. Tidak heran dia terus muncul dihadapanku dengan pertanyaan-pertanyaan anehnya."

Di saat pertarungan dalam mempertahankan kesadarannya itu, diri Rukia tiba-tiba kembali. Entah bagaimana akhirnya Senna menghilang dari dalam tubuh Rukia. Kini Rukia sepenuhnya sadar dengan dirinya sendiri.

Dimana dia?

Kenapa ada orang ini dihadapan Rukia?

Rukia sempat mendengar kata-katanya tadi dan tentang bocah orange? Dia membicarakan... Ichigo?

Szayel mendekati tubuh Rukia yang sudah terkapar dan tak berdaya itu. Sebentar lagi dia akan kehilangan kesadarannya. Dia hanya berusaha mencoba untuk tetap sadar meskipun tubuhnya tidak bisa melakukan apapun. Tubuhnya sudah benar-benar kehilangan respon untuk bergerak.

Sambil menahan luka-lukanya, Szayel berjongkok di dekat Rukia dan menatapnya dengan sinis.

"Kau benar-benar ingin menjadi bonekaku rupanya. Kau datang kemari dan masuk sendiri ke dalam sarangku. Perlu kuakui... kau boneka yang sangat menarik."

Boneka? Apa maksudnya...?

"Kau ingin tahu bagaimana aku mengubahmu menjadi boneka? Baiklah, sebagai hadiah karena kau benar-benar hebat bertahan seperti ini untuk tetap sadar. Kau akan kubuat pingsan seperti ini selama satu hari penuh. Aku akan memotong kaki dan tanganmu supaya kau tidak bisa melarikan diri. Kemudian aku akan menulikan pendengaranmu dan membutakan matamu. Dan terakhir, aku akan merontokkan semua gigimu agar kau tidak bisa melawan lagi. Dengan begitu kau bisa menjadi boneka seks yang sangat menarik."

Rukia tak bisa bertahan lebih lama lagi. Tiba-tiba air matanya turun begitu saja.

Ternyata... Senna begitu menderita...

"Ya, kau akan menjadi boneka seks-ku. Kau akan melayani tuanmu tanpa bisa menolak sekali pun. Kau tidak akan bisa melakukan apapun terkecuali aku yang melakukannya untukmu. Ini adalah sebagai balasan karena kau sudah membuatku tertarik padamu. Kau akan jadi bonekaku yang sempurna."

Setidaknya dengan dosis itu, gadis ini tidak akan bangun hingga tengah malam nanti. Begitu Szayel membereskan dirinya sendiri, dia akan segera melakukan persiapannya.

Gadis ini sudah terlalu banyak tahu tentang dirinya, Szayel tidak akan membiarkannya lolos begitu saja.

"RUKIA! RUKIA KELUARLAH!"

Szayel terkejut mendengar teriakan itu. Seseorang membuka pagar rumahnya dengan sangat kasar dan menggedor pintu rumahnya.

Siapa mereka?

Karena Szayel terus diam di tempatnya, jadi tidak ada respon apapun dari dalam. Apa yang harus Szayel lakukan sekarang?

DOR!

Kali ini situasi sudah sangat kacau. Szayel mendengar suara tembakan.

.

.

*KIN*

.

.

"Apa kau benar-benar yakin Rukia datang ke Seireitei?" tanya Byakuya sekali lagi setelah mereka tiba di Seireitei.

Ichigo tidak bisa mengatakannya, tapi perasaannya begitu kuat mengatakan kalau Rukia ada di sini. Ichigo hanya tidak yakin apakah Rukia pergi ke panti asuhannya dulu atau... pergi ke tempat berbahaya itu.

"Kita harus bergegas sebelum terjadi sesuatu padanya," mohon Ichigo.

"Tapi kita harus kemana?"

Selagi mereka kebingungan dengan tempat Rukia, Ichigo melihat sosok aneh di depan mereka. Sosok yang pernah dilihat Ichigo ketika berada di rumah dokter sialan itu. Sosok tubuh tanpa tangan dan kaki.

Sosok itu terus memperhatikan Ichigo lalu melayang-layang beberapa saat. Dia terus memperhatikan Ichigo seperti sebuah isyarat untuk mengikutinya.

"Sepertinya aku tahu dimana Rukia sekarang," ujar Ichigo yang bergegas berlari mengikuti sosok aneh itu.

Byakuya tidak mengerti tapi dirinya hanya mencoba mengikuti Ichigo saja.

Sudah Ichigo duga, mereka memang berhenti di rumah dokter bedah itu.

Suasana rumahnya masih tampak sepi. Tapi Ichigo melihat ada sepasang sepatu di luar pintu masuk itu. Sepatu yang sangat dikenalinya.

"Itu sepatu Rukia," tunjuk Ichigo.

Tanpa basa basi lagi, Ichigo membuka pintu pagar itu dengan kasar diikuti dengan Byakuya dan menggedor pintu rumah itu sekeras mungkin.

"RUKIA! RUKIA KELUARLAH!"

Karena tidak ada respon, Byakuya meminta Ichigo mundur dan langsung mengeluarkan pistol kecil yang sengaja dibawanya. Sebenarnya pistol ini adalah usul Ichigo karena mereka tidak tahu akan berhadapan dengan apa. Dengan Byakuya yang sebagai seorang polisi tentu saja membawa pistol tidak akan aneh.

Setelah menembak kunci pintu rumah itu, mereka berhambur masuk dan mulai menggeledah tempat itu. Ichigo mulai melihat tanda-tanda tidak menyenangkan di rumah ini.

Sayangnya tidak ada siapapun di rumah itu.

Tapi mereka terus mencari seisi rumah hingga akhirnya mendapatkan tubuh Rukia terkapar pingsan di sebuah ruangan.

Byakuya langsung menghampiri adik iparnya itu dengan sangat panik karena mendapati Rukia sama sekali tidak sadar.

"Kurosaki, ambulans! Tolong panggil ambulans!"

Apa... yang terjadi?

.

.

*KIN*

.

.

Rukia lagi-lagi terbangun di tempat asing.

Sekarang Rukia sudah membiasakan dirinya jika dia terbangun di tempat seperti ini. Kemungkinan saat ini dirinya masih di dalam mimpi. Rukia mulai menyadari bahwa ada tempat-tempat tertentu yang bisa muncul di dalam mimpinya. Sama seperti apa yang terjadi dengan wanita di sungai waktu itu dan wanita yang ada di restoran tempat bekerja sambilan Ichigo.

Kali ini Rukia terbangun di sebuah ruang tamu dan di atas sofa.

Sekelilingnya gelap dan hanya ada cahaya bulan yang mengintip dari balik kaca jendela yang tidak tertutup rapat oleh tirai. Rukia mencoba mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat ini.

Rukia belum pernah ada di sini sebelumnya.

Mungkinkah dia akan bertemu dengan sesuatu?

Begitu Rukia sepenuhnya bangkit dari sofa itu, Rukia mulai berjalan perlahan-lahan menyusuri tempat itu. Ada seberkas cahaya yang muncul dari sebuah ruangan lain. Kali ini Rukia mendatangi ruangan itu yang ternyata adalah ruang kerja. Ruang itu dipenuhi dengan rak buku yang begitu tinggi.

Saat Rukia memasuki ruang kerja itu, ada satu rak yang terlihat sangat aneh.

Rak buku itu miring ke arah lain, persis seperti sebuah pintu yang tengah separuh terbuka. Dari celah rak buku ada cahaya yang begitu terang di sana mengintip. Rukia semakin penasaran dengan tempat ini.

Jika sebelumnya Rukia pernah berada di mimpi seperti ini, seharusnya Rukia tidak akan mengalami hal-hal apapun. Dia hanya melihat suatu kejadian yang tidak pernah dia alami. Rukia hanya melihat kejadian yang berhubungan dengan apa yang pernah dilihatnya.

Tapi beberapa waktu belakangan ini Rukia tidak pernah bertemu dengan bayangan apapun lagi. Karena Ichigo selalu berada di dekatnya dan gelang yang diberikan oleh pendeta Ukitake itu yang menghalau bayangan itu mendekati Rukia.

Jadi... siapa yang kali ini akan dilihat Rukia?

Akhirnya Rukia memutuskan memasuki celah rak buku itu dan menemukan sebuah tangga kecil yang mengarah ke bawah. Ada cahaya lagi di ujung tangga itu. Cahaya yang seakan menuntun Rukia untuk mencapai sebuah tempat.

Rukia tiba di akhir tangga dan menemukan pintu besi yang sangat mencurigakan. Tanpa basa basi lagi, Rukia membuka pintu besi itu dan terkejut melihat apa yang ada di dalam ruangan itu.

Ruangan ini... begitu menakutkan meskipun lampu menerangi tempat ini.

Ada dua ranjang kecil yang mirip sekali seperti yang ada di dalam sebuah kamar rumah sakit. Ada lemari kaca yang berisi barang-barang medis layaknya selang dan kantong infus. Rukia mendekati lemari kaca itu dan melihat ada lebih banyak lagi barang seperti pisau bedah beragam jenis, gergaji, dan banyak hal lainnya.

Ini seperti ruangan operasi pribadi.

Saat Rukia tengah memperhatikan seisi tempat menakutkan ini, tiba-tiba Rukia terkejut mendengar suara pintu besi itu terbuka. Rukia menoleh dan mendapati seorang pria menggendong seorang gadis di punggungnya.

Pria itu... orang yang pernah dilihat oleh Rukia di rumah sakit waktu itu. Orang yang pernah menabrak Rukia dan memiliki aura yang begitu menakutkan. Apa Rukia melihat orang ini? Apakah dia sudah mati?

Seingat Rukia, dia bisa masuk ke dalam mimpi seperti ini jika orang yang dilihatnya sudah meninggal. Apakah sungguh dokter itu sudah mati?

Tapi hal mengejutkan lainnya yang membuat jantung Rukia terasa berhenti berdetak adalah gadis yang dibawa oleh orang itu. Gadis itu terkapar tak berdaya dan sama sekali tidak sadarkan diri di atas salah satu ranjang yang ada di ruangan ini.

Malangnya, Rukia sungguh mengenal gadis itu.

Itu Senna, yang masih berusia belasan tahun. Kalau tak salah itu adalah sosok Senna ketika Rukia bertemu dengan kakak kandungnya hari itu. Rukia berlari mendekati gadis yang tak sadarkan diri itu untuk memastikan bahwa sosok yang dilihatnya tidak salah.

Tapi setelah mendekatinya, ternyata benar-benar tidak salah.

Dia benar-benar Senna.

Apa yang dia lakukan di sini?

Selagi Rukia memperhatikan Senna yang tak sadarkan diri, Rukia kembali terkejut karena pria itu menyetel musik klasik di ruangan ini.

Apa yang dia lakukan di sini sebenarnya?

Rukia melihat sebuah meja di dekat ranjang yang ditempati Senna saat ini. Ada papan nama yang menulis Szayel. Mungkinkah nama orang ini?

Orang yang berkemungkinan memiliki nama Szayel itu membuka lemari kaca yang dilihat oleh Rukia. Dia mengambil kantong infus berikut selangnya. Szayel kemudian membawanya ke tempat Senna lalu memakaikannya di tangan teman sekamar Rukia itu. Setelah infus terpasang, Szayel menyuntikkan sesuatu di sana.

Senna benar-benar terlelap dan sama sekali tidak sadar dengan apa yang terjadi padanya.

Setelah beberapa saat, Szayel pergi sejenak dan kembali lagi dengan sebuah gergaji di tangannya. Itu gergaji mesin.

Untuk apa dia menggunakan gergaji itu?

Seakan menjawab pertanyaan Rukia, Szayel menyalakan gergaji mesin itu dan mulai mendekati ranjang Senna. Szayel mengukur tangan dan kaki Senna dengan seksama sebelum mendekatkan gergaji mesin itu ke tubuhnya. Rukia berteriak, tapi suaranya sama sekali tidak keluar.

Rukia pun nekat menghentikan Szayel, tapi tubuhnya sama sekali tidak berpengaruh apapun dengan sentuhannya. Rukia seperti bayangan tak terlihat di sini.

Hingga akhirnya Szayel mengarahkan gergaji mesin yang hidup itu ke arah tangan Senna dan memotongnya. Darah pun terciprat begitu banyak hingga mengenai Szayel. Rukia benar-benar berteriak kencang hingga menangis histeris. Tapi semua itu tidak berpengaruh apapun.

Bukannya merasa bersalah melihat darah itu, Szayel justru semakin senang melakukannya dan mendekati bagian lainnya dari tubuh Senna.

Rukia hanya bisa melihat semua darah berceceran di sana. Juga berikut potongan tangan dan kaki Senna yang jatuh dari tempat tidur itu. Rukia terus menangis dan memohon untuk menghentikan pertunjukkan horror ini.

Karena tak kuat melihatnya lebih banyak, Rukia pun jatuh pingsan.

Walaupun Rukia jatuh pingsan, tapi ternyata tak begitu lama di dalam mimpi ini. Rukia kembali terbangun masih dengan situasi yang masih menakutkan. Hanya saja tidak ada lagi darah Senna yang berceceran. Kali ini Rukia melihat kedua tangan dan kaki Senna sudah terbalut dengan perban. Ya, tangan Senna hilang hingga sebatas siku sama dengan kaki yang menghilang hingga sepatas lutut.

Senna masih tidak sadarkan diri.

Rukia mencoba membangunkannya, tapi ternyata tidak ada hasil. Suasana di ruangan ini juga tidak segelap seperti dia datang pertama tadi dan lampu pun dimatikan. Ada sebuah jendela di atas langit-langit ruangan ini yang menyalurkan cahaya. Sepertinya itu cahaya matahari dari luar.

Rukia kembali menangis melihat kondisi Senna. Apa yang sebenarnya telah dialami oleh temannya ini?

Szayel ada di sana dan tengah melakukan sesuatu pada Senna lagi. Szayel membuka mata Senna yang masih tidak sadarkan diri itu dan merusakkannya. Rukia tak tahu lagi bagaimana orang ini bisa begitu kejam. Dia bahkan mencabut semua gigi Senna begitu saja. Setelah melakukan perbuatan keji itu, Szayel kembali meninggalkan ruangan itu. Tapi itu pun tidak lama.

Szayel kembali datang. Kali ini dia membawa sebuah headphone besar. Suara musik keras terdengar dari sana. Itu benar-benar musik yang memekakkan telinga dengan volume yang luar biasa besar.

Dia memakaikan headphone berisi musik keras itu kepada Senna yang masih tidak sadarkan diri. Apa yang dia inginkan dengan memberikan Senna itu?

Selagi Senna dalam keadaan seperti itu, Szayel membuka semua pakaian Senna dan melakukan perbuatan tak senonoh pada teman baiknya itu. Szayel melakukan pelecehan seksual kepada seorang anak perempuan berusia belasan tahun yang masih belum mengerti apapun.

Rukia tidak ingin melihat semua ini lebih jauh. Dia ingin menghentikan semua mimpi buruk ini.

Tolong... tolong hentikan...

Rukia tidak bisa melihat lebih banyak dari ini... hatinya benar-benar hancur dan membuatnya menyesal hidup begitu bahagia selama ini setelah bertemu dengan kakak kandungnya.

Rukia menyesal pernah bahagia.

Bahkan Rukia menyesal... merasa egois saat berada di sisi Ichigo...

.

.

*KIN*

.

.

Sesuai dengan permintaan Byakuya, polisi setempat mendatangi kediaman Szayel dan mulai melakukan penggeledahan. Rukia sudah dibawa pergi ke rumah sakit terdekat bersama Ichigo. Byakuya ingin menangkap orang yang telah melakukan perbuatan jahat itu kepada adiknya. Tapi walaupun seisi rumahnya digeledah tak ada apapun di sana. Bahkan penghuni rumah itu pun tidak ada.

Byakuya tidak tahu bagaimana caranya orang itu bisa meloloskan diri ketika pintu utama rumah itu sudah dikepung. Bahkan tidak ada jalan keluar dari rumah ini selain pintu utama di depan. Tentu saja Byakuya semakin penasaran dengan orang itu.

Karena tak berhasil menemukan orang itu, Byakuya meminta tolong kepada rekannya sesama polisi untuk menemukan pria pemilik rumah itu yang telah mencelakai adiknya. Lalu Byakuya bergegas menuju rumah sakit tempat dimana Rukia dirawat.

Ternyata begitu tiba di sana, Isshin bersama Ichigo baru keluar dari ruang rawat Rukia.

"Kurosaki-san, bagaimana dengan adik iparku?" tanya Byakuya saat tiba di sana.

"Tidak ada luka apapun di tubuh Rukia-chan. Hanya saja, sepertinya dia mendapatkan obat bius dengan dosis yang cukup tinggi. Mungkin Rukia-chan tidak bisa bangun sampai besok," jelas Isshin.

"Apakah obat itu berbahaya untuknya?"

"Setiap orang memiliki kekebalan yang berbeda dengan obat bius. Sejauh ini, sepertinya obat itu tidak berpengaruh apapun kepada Rukia. Kita hanya bisa memantau kondisinya saja sampai dia sadar kembali," kata Isshin lagi.

Isshin mengatakan kalau dia langsung menyusul ke Seireitei karena sepertinya tidak ada tanda-tanda Rukia masih ada di Karakura. Polisi bahkan mencari Rukia hingga ke sekolahnya, tapi semua temannya mengaku tak melihat Rukia. Apalagi kota macam Karakura yang mudah dikenali.

Begitu tiba di Seireitei, ternyata Rukia sudah dibawa ke rumah sakit ini. Isshin memiliki beberapa kenalan di rumah sakit ini.

Ichigo terlihat masih begitu syok saat menemukan Rukia terkapar di rumah itu.

Ichigo pikir tidak akan melihat Rukia seperti itu lagi setelah kejadian malam itu. Tapi ternyata dia salah. Ichigo hanya menyesal mengapa dia bisa berpikiran sesederhana itu...

"Apakah pelakunya sudah ditemukan?" tanya Isshin lagi pada Byakuya.

"Belum. Orang itu menghilang begitu saja. Kupikir dia masih bersembunyi di dalam rumahnya, tapi semua tempat kami geledah dan tidak menemukan dia." Jelas Byakuya.

"Ichigo, apa kau yakin dia orang yang menyerang kalian malam itu?" tanya Isshin pula kepada putra sulungnya itu.

"Aku ingat dengan jelas. Bukankah aku pernah meminta polisi untuk mencari tahu plat mobil yang dipakai oleh orang itu ketika mengawasi rumah kalian dan sekolah kami?"

"Mobil itu adalah mobil sewaan. Butuh waktu untuk mencari tahu siapa saja yang telah menyewanya," celetuk Byakuya.

"Jika memang dia, tentunya di dalam nama salah satu penyewa itu pasti ada namanya bukan?" lanjut Isshin.

"Dia mungkin bisa menggunakan nama palsu. Saat ini kami hanya bisa bekerja sama dengan para detektif untuk menemukan kemungkinan lain," sambung Byakuya.

Ichigo tidak menyangka ternyata semua masalah ini akan menjadi serumit ini. Sungguh menyebalkan.

"Oyaji... apa kau sungguh tidak tahu apapun tentang dokter itu? Bukankah kau bilang kau punya banyak kenalan dokter? Setidaknya... setidaknya kau tahu sedikit informasi soal bajingan itu?" mohon Ichigo.

Isshin tampak serba salah mendengar permintaan putranya itu.

"Kita tidak bisa bicara di sini," kata Isshin akhirnya.

.

.

*KIN*

.

.

"Hei, kenapa ada orang aneh yang bertanya tentang Kuchiki-san?" celetuk Mizuiro setelah mereka pulang sekolah.

Saat jam istirahat tadi, ada seseorang yang mencari tahu apakah Kuchiki Rukia ada di sekolah ini atau tidak. Karena itu, banyak anak yang melihat dan mulai bertanya-tanya tentang apa yang terjadi pada Rukia.

"Entahlah. Apa mungkin itu salah satu keluarganya?" sambung Tatsuki.

"Tidak, tidak. Yang lebih aneh, mereka meminta hubungi polisi setempat jika menemukan Kuchiki-chan! Apa Kuchiki-chan terlibat sebuah kasus?!" seru Keigo histeris.

"Mana mungkin bodoh! Kau lupa kakak Rukia memang seorang polisi!" balas Tatsuki pula.

"Bukannya itu lebih aneh lagi?! Bisa saja kakak Kuchiki-chan terlibat kasus dan Kuchiki-chan... jadi korbannya? Apa itu tidak berbahaya?!" kata Keigo lagi.

"Diam saja kau! Memangnya kau pikir ini seperti komik pembunuhan?!" amuk Tatsuki.

"Dikatakan tidak aneh sih, memang aneh. Kuchiki-san menghilang dan Kurosaki tidak masuk. Apa mereka melarikan diri berdua?" gurau Mizuiro.

"Enak saja! Tidak akan kubiarkan Ichigo menikung seperti itu!" amuk Keigo pula.

"Ichigo tidak perlu menikungmu, Rukia jelas akan memilih seseorang seperti Ichigo dibanding kau!" tembak Tatsuki lagi.

Keigo kemudian menangis histeris menerima kenyataan yang menohok itu.

Tapi akhirnya Tatsuki menyadari bahwa sejak tadi Orihime tidak mengikuti cerita mereka. Orihima hanya terus berjalan dengan menundukkan kepalanya dan tampak gelisah.

"Hei, ada apa denganmu, Orihime?" tanya Tatsuki akhirnya.

"Ah, tidak apa-apa Tatsuki-chan," balas Orihime kikuk.

"Aku bisa tahu ada sesuatu yang kau pikirkan dengan melihat wajahmu. Ada apa? Ah~ kau khawatir soal Ichigo ya?" goda Tatsuki.

Biasanya di saat seperti ini Orihime akan menyangkal godaan Tatsuki. Tapi kali ini Orihime hanya diam dan semakin menundukkan kepalanya dengan wajah yang semakin khawatir.

Tatsuki bahkan lupa bahwa di belakang mereka Keigo dan Mizuiro masih sibuk berceloteh satu sama lain.

"Tenang saja, apapun yang terjadi kau tidak perlu khawatir soal Ichigo. Dia bisa menjaga dirinya dengan baik, sebaik bagaimana dia berkelahi kok. Cerialah. Besok dia pasti masuk kok!" hibur Tatsuki.

"Kau benar, Tatsuki-chan. Kurosaki-kun... laki-laki yang hebat."

Meskipun sebenarnya Tatsuki tidak begitu yakin.

Ada hal aneh dengan Ichigo sejak kedatangan Rukia.

Setidaknya itu yang Tatsuki rasakan hingga hari ini.

.

.

*KIN*

.

.

"Kau ingat aku pernah bilang bahwa dia dokter yang tidak begitu disukai di kalangan kami?" buka Isshin setelah mereka menemukan tempat yang bagus untuk memulai percakapan ini.

Ichigo menganggukkan kepalanya mengiyakan apa yang dikatakan oleh Isshin.

"Aku mendapat cerita, kalau dulunya Szayel adalah dokter magang paling pintar di angkatannya. Karirnya begitu bagus dan mulus. Dia dokter magang pertama yang mendapatkan gelar spesialisnya di usia yang masih begitu muda. Di usia yang masih begitu muda, Szayel banyak bekerja sama dengan dokter senior lain yang jauh lebih berpengalaman. Banyak dokter senior yang menyukainya karena analisisnya tidak pernah salah.

"Namun suatu hari, tiba-tiba terjadi hal aneh padanya. Szayel dulu terkenal begitu ramah dan baik hati pada siapa saja. Hari itu, sikap Szayel begitu buruk pada semua orang yang menegurnya. Dia pernah mengurung diri selama beberapa hari dan menolak bertemu siapa saja.

"Sejak itu pula, Szayel lebih banyak menghabiskan waktu di kamar mayat daripada di bangsal lain. Dia mulai terlihat aneh ketika melihat mayat tanpa luka apapun. Ketika melihat mayat seperti itu, Szayel akan menyayatnya dan memotongnya. Kelakuannya itu didengar oleh Kepala rumah sakit. Mereka kemudian bertanya lebih lanjut pada Szayel tentang apa yang terjadi padanya.

"Karena khawatir dengan kejiwaan Szayel, para senior sepakat untuk melakukan uji kejiwaan pada Szayel. Hasilnya saat itu di luar dugaan. Dia masih layak dan baik-baik saja untuk menjadi seorang dokter. Setelah kecurigaan padanya semakin menjadi karena sikap anehnya itu, Szayel kembali menjadi Szayel yang dulu. Hingga hari ini tidak ada seorang pun yang tahu apa alasan Szayel berubah seperti itu."

Ichigo dan Byakuya masih mendengarkan sampai Isshin menutup ceritanya. Memang sejak awal Ichigo sudah merasa ada yang aneh dengan dokter itu. Dia tidak terlihat seperti dokter biasanya. Juga mengenai misteri tentang rumah yang ditinggalinya di Seireitei ini.

"Oyaji... kau tahu darimana tentang dokter ini?"

"Kalau tidak salah, dia dokter magang yang bertugas di Seireitei sekitar 10 tahun yang lalu. Baru beberapa bulan terakhir ini dia bertugas di Karakura. Dalam 10 tahun itu, dia bertugas di Seireitei selama lima tahun lalu lima tahun dia pergi ke Tokyo lalu terakhir dia di Karakura," jelas Isshin lagi.

"Jika 10 tahun... apakah dia tidak terlalu tua?" timpal Byakuya.

"Kalian lupa aku bilang dia lulusan hebat? Dia mulai menjadi dokter magang di usia 22 tahun dan mendapat gelar spesialisnya di usia 25 tahun. Jelas saja dia masih terlihat muda meskipun telah lama menjadi dokter," kata Isshin lagi.

"Oyaji, kau tahu banyak soal dia," lanjut Ichigo.

"Perlu kau ketahui saja, ayahmu ini bukan tukang gosip. Tapi berita soal itu sungguh menyebar di kalangan kami. Apalagi ketika dia dipindah tugaskan ke Karakura. Memangnya siapa yang tidak akan tahu berita seperti itu kalau satu profesi dan satu lingkungan kerja hah?" balas Isshin.

"Dari ceritamu, sepertinya memang ada sesuatu yang aneh tentang dokter itu. Aku akan mencari cara agar bisa menyelidikinya lebih jauh tentang orang itu. Kurosaki-san, jika kau tidak keberatan, mungkin kau bisa membagi informasi mendetil tentang orang itu padaku. Mungkin ada yang bisa kuselidiki sekarang," kata Byakuya pula.

"Kalau informasi mendetil soal dia aku sungguh tidak begitu tahu. Tapi akan kucoba bantu dengan menanyakannya pada pihak rumah sakit Karakura."

"Terima kasih banyak, Kurosaki-san atas bantuannya," lanjut Byakuya.

"Tenang saja, demi Rukia-chan aku akan melakukan apa saja. Orang brengsek seperti itu harus dihukum berat karena berani mengganggu Rukia-chan-ku!"

Ichigo melotot garang kepada Isshin karena dia terus menyebut Rukia seperti dengan nada yang aneh di depan kakak iparnya seperti ini.

"Baiklah, kalau begitu sebaiknya kalian berdua segera kembali ke Karakura. Biar Rukia... aku saja yang menjaganya," tambah Byakuya lagi.

"Aku akan menunggu di sini, Kuchiki-san kau bisa melakukan penyelidikan lebih lanjut di sini. Aku akan mengabarimu tentang kondisi Rukia," potong Ichigo.

"Hei, kau tidak mau masuk sekolah besok?" celetuk Isshin.

Ichigo diam beberapa saat.

"Ayahmu benar, sebaiknya kau kembali saja ke Karakura. Bukankah kalian hampir mendekati ujian?" kata Byakuya pula.

"Karena aku berjanji pada Rukia... akan menjaga dan melindunginya. Jadi... biarkan aku di sini sampai dia bangun nanti. Aku mohon, Kuchiki-san."

Isshin dan Byakuya saling berpandangan ragu.

Tadinya Isshin ingin menggoda putranya itu, tapi melihat bagaimana bersungguh-sungguhnya Ichigo memohon, niat itu jadi luntur begitu saja. Byakuya juga tidak menyangka bahwa laki-laki ini akan seserius itu soal menjaga dan melindungi adiknya.

"Mungkinkah istriku yang memintamu melakukan hal itu?" tanya Byakuya tiba-tiba.

"Memang aku pernah berjanji dengan istrimu seperti itu. Tapi... ini sungguh adalah janjiku dengan Rukia. Bukankah aku pernah bercerita bahwa kami memiliki kemampuan itu? Yang dapat melindungi Rukia dari kemampuan itu, hanya aku seorang. Aku pernah memberitahu itu pada kalian bukan? Apa yang terjadi dengan Rukia hari ini pun karena kesalahanku. Jadi... untuk menebusnya, aku ingin menjaganya."

Byakuya akhirnya terdiam.

Mereka memang pernah membahas masalah ini dengan Ichigo dan Byakuya tahu bahwa tidak ada jalan keluar untuk menghilangkan kemampuan mengerikan Rukia itu.

"Kemampuan... apa? Kau punya kemampuan apa?" tanya Isshin bingung ketika mendengar semua kata-kata Ichigo.

Ichigo menoleh ke arah ayahnya dan menatap Isshin dengan serius sekaligus dengan raut wajahnya yang begitu sedih.

"Kemampuan yang membuat Kaa-chan meninggal. Oyaji... kau tahu itu kan?"

Isshin pun tak bisa berkata-kata lagi mendengarnya.

"Jadi... maksudmu... Rukia-chan..."

"Dia sama sepertiku. Kurasa Oyaji pernah diberitahu Kaa-chan bahwa aku memiliki kemampuan ini yang membuatku setiap saat selalu berada dalam bahaya jika tidak berhati-hati. Sama halnya yang terjadi dengan Rukia."

"Kau masih menyesali bagaimana mendiang ibumu meninggal?"

"Tidak, aku tidak lagi menyesalinya. Karena berkat Rukia, aku akhirnya bisa bertemu lagi dengan Kaa-chan."

"Kau... bertemu dengannya?"

"Ya. Dia selalu berada di dekat kita. Kurasa... dia sangat bahagia karena tahu kita bertiga hidup dengan baik selama ini. Rukia... selalu melihatnya tersenyum setiap kali Kaa-chan muncul di depan rumah kita."

Isshin menarik napas lega lalu menepuk pundak Ichigo.

"Kau sudah lebih baik ternyata. Seharusnya kau cepat move on seperti ini. Ah~ aku jadi iri padamu yang sudah bertemu ibumu. Dia tidak pernah datang ke mimpiku sekali pun sejak dia pergi meninggalkan kita."

"Oyaji..."

"Kalau begitu aku kembali dulu ke Karakura. Informasi yang kau butuhkan akan segera kukabari begitu aku mendapatkannya padamu, Byakuya-kun."

Benar...

Ichigo pun pernah merasakan itu.

Bahwa sebenarnya... bukan dia saja yang berat untuk kehilangan ibunya.

Ayahnya... jauh lebih merasa kehilangan dibandingkan dirinya.

.

.

*KIN*

.

.

TBC

.

.

Akhirnya ada kesempatan update yang ini.

Bagi yang masih bingung bagaimana sesungguhnya boneka yang dibuat oleh Szayel ini, saya saranin buat nyari artikel dari de*p w*b tentang boneka s*ks dari manusia. Saya lupa tentang artikel itu dan kurang lebih isinya hampir sama seperti yang saya uraikan di sini.

Inspirasi aslinya sebenarnya dari artikel itu, mungkin masih banyak artikelnya bertebaran di gugel.

Untuk chapchap depan udah masuk klimaks jadi mungkin gak lama lagi bisa ditamatin sih hehehe. Oh ya, ada yang mau rikues soal ending fic ini? Cuma endingnya aja kok hehehe.

Pilihannya ada dua, mau yang hurt pake sad banget atau gantung dengan alternatif ending.

Karena sejak awal penyelesaikan fic ini gak bisa dibikin hepi ending seperti biasa. Ada banyak hal yang kira-kira mungkin akan menyulitkan berbagai pihak sih hehehe. Saya juga sebenarnya dari awal udah komitmen kalo fic ini kemungkinannya gak bisa hepi. Tapi saya pengen denger pendapat yang ngebaca fic ini tentang endingnya dengan dua pilihan itu.

Karena ini fic suspend crime pertama saya, saya pengen tahu gimana responnya. Jika responnya bagus, mungkin saya bisa lanjut bikin genre seperti ini sekali lagi.

Makasih yang udah ngeluangin waktu buat fic saya.

Jaa Nee!