We're Going to be Daddies?!

( Kami Akan Menjadi Ayah?! )

Author : yururin

Genre(s) : drama, romance, mpreg

Characters : Byun Baekhyun, Park Chanyeol, EXO (K & M), Others

Pairing(s) : chanbaek, hunhan, taoris, kaisoo

Warning : YAOI, BxB, MPREG

Original link : www asianfanfics com/story/view/508102/we-re-going-to-be-daddies-romance-mpreg-hunhan-taoris-baekyeol-kaisoo

.

.

.

.

Chapter 9: Berjalan Mundur

Pada hari berikutnya, Baekhyun berjalan menuju meja makan siangnya yang biasa dengan langkah riang. Ia melambaikan tangan pada teman-temannya, yang tersenyum balik menyapa. Lu Han menyentuh perut lelaki itu dengan ujung jarinya, dan ia menyingkirkan tangan tersebut dengan bercanda lalu duduk di bangkunya. Seperti biasa, Kyungsoo mengeluarkan sebuah kotak makan ukuran besar dan meletakkannya di tengah, memperhatikan teman-temannya makan dengan lahap. Menu yang ia sediakan nampak lebih sehat dari biasanya, dan Baekhyun tersenyum berterimakasih, tahu bahwa Kyungsoo telah bersusah payah menyiapkan makanan yang baik untuknya. Kyungsoo tersenyum sebelum kemudian berbalik, melambaikan tangan pada Jongin untuk menghampirinya. Dengan menaikkan alis, lelaki berkulit tan itu tergesa menghampirinya dan nyaris terkesiap kaget ketika Kyungsoo menyodorkan sebuah kotak makan siang kepadanya.

"Fuck, apa kau serius?" Tanya Jongin, menerima kotak makan tersebut dengan sedikit ragu.

"Tentu saja aku serius. Kenapa, tidakkah kau juga serius tentang hal ini? Jika kau tidak menginginkannya, teman-temanku akan dengan senang hati memakannya." Jawab Kyungsoo, sambil memiringkan kepalanya.

"Tidak! Tidak, aku akan memakannya. Thanks, Kyungsoo." Jongin tersenyum lebar sebelum kemudian mencubit pipi Kyungsoo, lalu berlari kembali ke tempat duduknya, menjauhkan kotak makannya dari jangkauan Kris.

Baekhun mencondongkan tubuhnya, mulut penuh dengan makanan seraya menaik-turunkan alisnya pada Kyungsoo dengan tatapan menggoda dan penuh arti. Kyungsoo memutar bola matanya, hanya untuk menyadari bahwa Tao dan Luhan melakukan hal yang sama kepadanya. Ia terkikik, mengangkat tangan ke udara dan melipatnya di dada.

"Apa maksud tatapan kalian barusan?" Tanyanya, dengan sebuah senyum tersungging di bibir.

"Jadi, kau dan Jongin?" Tanya Tao, menusukkan garpu ke kuenya dengan penuh semangat.

"Hey, jangan menusuk makananmu seperti itu. Dan apa maksud kalian dengan, aku dan Jongin?"

"Kalian berdua tak hentinya melemparkan pandangan lapar pada satu sama lain, seperti hal yang biasa Baekhyun dan Chanyeol lakukan sepanjang waktu." Imbuh Lu Han, yang kemudian mendapat senggolan dari Baekhyun (lalu lelaki berambut pink itu menjawab dengan, 'hanya karena kau sedang hamil bukan berarti aku tidak akan memukulmu, jalang, awas kau').

"Kami tidak memandang lapar satu sama lain, Lu. What the fuck." Baekhyun mencebikkan bibir, dengan pipi memerah.

"Oh, benar. Maafkan aku, aku yang salah." Ujar Lu Han, memandang Baekhyun dengan acuh tak acuh.

"Uh-huh-

"Kalian hanya, kau tahu, beradu lidah satu sama lain, di dalam kelas yang tak dipakai dan-

"Kau bahkan belum pernah melihat kami melakukan semua hal itu, Lu Han! Apa-apaan?!" Wajah Baekhyun jelas-jelas memerah, dan Lu Han terbahak puas pada akhirnya.

"Kenapa kau begitu malu? Kalian bahkan sudah melakukan seks-

"Lu Han, fuck you!" Baekhyun melempar sebuah gelas kosong pada wajah Lu Han, membuat yang lainnya ikut tertawa.

"Dan topik pun akhirnya berubah ke hal yang lain dalam sekejap mata." Tao bergumam, menarik perhatian Kyungsoo.

"Apa yang kita bicarakan sebelumnya tadi?" Ia bertanya, dan Tao menyeringai.

"Kau dan Jongin. Kalian punya hubungan khusus, bukan?" Tao kembali mencari jawaban, dan Baekhyun mendorong Lu Han menjauh seraya menempelkan tubuhnya pada Kyungsoo.

"...aku hanya memberinya makan siang. Apakah itu termasuk hubungan khusus?" Tanya Kyungsoo, menaikkan alis pada mereka.

"Well, tidak, tapi...aku tidak tahu, mungkin iya jika ada perasaan satu sama lain?" Baekhyun berusaha menjawab.

"Cukup tentang dugaan bodoh kalian mengenai aku dan Jongin. Kami ingin tahu tentangmu, Baekhyun." Kyungsoo tersenyum, menggigit bibirnya dengan bersemangat seraya membalikkan tubuhnya menghadap lelaki yang dimaksud.

"Aku?"

"Yeah, kau. Kau, bayi-bayimu dan Chanyeol!" Kicau Tao, garpu terapit di bibirnya seraya mengangguk penuh semangat.

"Kalian sudah resmi jadian, kan?" Lu Han menyiku bahu Baekhyun, membuat lelaki itu mengeluh kesal padanya.

"Sakit, jalang. Hentikan itu. Dan...baiklah, akan sangat bodoh jika aku tidak memberitahu kalian, teman-teman. Yeah, kami sudah resmi jadian." Baekhyun berujar malu-malu, dan Tao bersorak senang sepertihalnya seorang bayi.

Baekhyun meringis, melirik ke arah meja Chanyeol dan membuat kontak mata dengannya. Wajah Baekhyun memerah, dan Chanyeol tersenyum padanya, melambaikan tangan. Ia kemudian menggunakan tangannya untuk menutupi area mulutnya dari pandangan Jongin dan Kris, dan berujar tanpa suara pada Baekhyun. Lelaki yang lebih pendek memiringkan kepala, dan Chanyeol memutar bola matanya.

"Aku bilang, aku mencintaimu, Byun Baekhyun!" Ujar Chanyeol, dengan begitu keras dan percaya diri, membuat hampir separuh mahasiswa di area kafetaria menoleh ke arah mereka dan bersorak.

Baekhyun hanya bisa merona, menggigit bibir bawahnya, dan mengacungkan jari tengahnya, membuat lelaki yang lebih tinggi tertawa di meja lain.

"Yeah, mereka benar-benar sudah resmi jadian." Goda Kyungsoo, dan Baekhyun hanya bisa mengerang malu.

.

~ xoxo ~

.

Jongin menarik sesaat tubuh Chanyeol saat mereka keluar dari gedung kampus. Chanyeol memandangnya bingung, kunci mobil sudah di tangan, dan Jongin menariknya lebih kuat, dengan Kris mengikuti mereka tanpa banyak bicara. Segera setelah mereka sampai di sebuah ruangan kosong, Jongin melepaskan tangan Chanyeol, dan lelaki yang lebih tinggi menaikkan alisnya.

"Apa? Apa kalian bermaksud memperkosaku bersama-sama atau semacamnya?" Tanya Chanyeol bercanda, membuat Kris berpura-pura muntah.

"Dalam mimpimu." Lelaki Chinese itu bergidik, memukul bahu Chanyeol pelan sebelum mengalungkan satu lengan ke bahunya.

"Oh, wow, apa aku semenjijikkan itu. Ngomong-ngomong, ada apa? Aku sedikit terburu-buru. Baek sedang menungguku dan aku bermaksud untuk pulang bersamanya." Chanyeol mengayunkan kunci di tangannya dan Jongin menghela nafas.

"Kami tahu, tapi ini penting."

"Apa yang lebih penting dari Bae-

"Park Sooyoung."

Rahang Chanyeol mengeras, dan senyumannya jatuh seketika. Ia sesaat memandang Jongin, kemudian Kris, dan ia sadar bahwa mereka serius. Ia menggeram frustrasi, mengacak rambutnya seraya Jongin dan Kris melangkah mundur untuk mengamatinya. Ia menarik nafas panjang, dan berbalik pada teman-temannya.

"Kenapa?" Tanya Chanyeol, tidak terlalu yakin ingin tahu apa yang akan ia dengar.

"Well...ia kembali ke Korea, dan ia mengirimiku pesan kemarin bahwa ia tinggal di tempat ibumu. Ia benar-benar kesal, kau tahu." Ujar Jongin memberi informasi, memasukkan tangannya ke dalam saku.

"Aku sama sekali tidak peduli."

"Ia bilang ia mencoba meneleponmu berkali-kali untuk memintamu menjemputnya di bandara, tapi kau tidak mengangkatnya." Tambah Jongin.

"Ku rasa kau tidak memberitahunya kalau kau mengubah nomormu ketika ia pergi?" Kris memandang ke arah Chanyeol bertanya-tanya, dan ia mengangguk.

"Ia tidak perlu tahu. Aku membenci jalang itu."

"Well, jalang tersebut adalah kakakmu, dan ibumu meneleponku pagi ini, memintaku untuk memberitahumu bahwa Sooyoung akan menginap di tempatmu selama ia menetap di sini." Jongin melihat bagaimana Chanyeol mengumpat di antara nafasnya.

"Dan aku rasa aku tidak diberi kesempatan menolaknya?" Chanyeol memicingkan mata pada Jongin, tapi ia tahu pasti bahwa temannya paham betul bahwa tatapan membunuh itu bukan ditujukan untuk mereka.

"Tentu. Selalu seperti itu. Apa yang akan kau lakukan? Sooyoung akan membuat hidup Eyeliner Bitch hancur."

"Aku tidak akan membiarkannya."

.

~ xoxo ~

.

Baekhyun duduk sendirian di anak tangga depan bangunan kampus, ibu jari terselip di antara tali ranselnya selagi ia menunggu dengan sabar hingga Chanyeol menjemputnya. Ia sudah memberitahu Kyungsoo dan yang lain untuk pergi duluan karena ia akan menunggu kekasihnya dan mereka akan pulang ke rumah bersama-sama. Ia tersenyum, menggigit bibirnya untuk menghentikannya tersenyum terlalu lebar seraya membiarkan kata-kata itu terucap. Kekasih. Ini adalah pertama kali baginya untuk menyebut seseorang dengan kata-kata tersebut, dan diam-diam, ia berharap itu akan bertahan selamanya. Ia menghela nafas dengan puas, meletakkan tangannya lembut di perutnya yang sedikit membesar dan tersenyum.

"Hai, sayang. Apa kalian baik-baik saja di sana?" Baekhyun berbisik lembut, mengusap perutnya penuh kasih sayang.

"Jadi, kau benar-benar hamil? Ew keterlaluan."

Kepala Baekhyn menoleh cepat pada suara nyaring itu, dan ia menemukan dirinya menatap tajam pada Hyuna, si jalang kampus. Rok yang dikenakannya begitu pendek hingga sebatas pertengahan betisnya, dan kemeja yang ia kenakan terlalu ketat, menampakkan lekuk tubuhnya terlalu jelas yang mana akan membuat tidak nyaman siapa saja yang tak tertarik dengan wanita tersebut, dan itu berarti adalah orang-orang waras di kampus yang tidak meletakkan otaknya di penis mereka. Rambutnya yang dicat terikat berantakan membentuk sebuah kucir kuda tinggi (ala-Amy Winehouse) dan ia mengunyah sebuah permen karet dengan cara yang begitu menyebalkan hingga membuat kesal Baekhyun.

"Apa kau seekor kambing?" Lelaki itu bertanya, kesal oleh ucapan kasar Hyuna.

"Apa kau gila? Kau pikir aku nampak seperti kambing?" Hyuna berujar balik, dan Baekhun menahan tawanya.

"Apa aku benar-benar perlu menjawabnya?"

"Terserah kau, keparat. Aku tebak kau hanya berbohong dan mengancam Chanyeol."

"Maksudmu?"

"Kau mendengarku. Aku tebak kau hany-

"Oh, pergilah, Hyuna. Baekhyun sama sekali tidak melakukan hal semacam itu. Aku tidak ingin memukul seorang wanita."

Baekhyun membalikkan badan dan melihat Chanyeol berdiri di belakangnya, nampak begitu kesal seraya menatap tajam Hyuna dengan penuh ancaman, satu tangan di dalam saku sementara yang satunya memegang ransel di bahu. Baekhyun mendengar Hyuna mengumpat pelan, dan ia menoleh untuk melihat wanita itu mengangkat jari tengahnya pada Chanyeol, membuat lelaki itu tertawa garing.

"Aku bisa mengatasinya sendiri, kau tahu." Ujar Baekhyun pelan, berdiri menepuk-nepuk celananya membersihkan debu.

"Aku tahu."

"Lalu kenapa kau repot-repot ikut campur?" Baekhyun mencebikkan bibir.

"Karena aku ingin melakukannya." Chanyeol tersenyum lebar, mengeluarkan tangan dari sakunya dan mengaitkan jemarinya dengan jemari Baekhyun.

"Itu bukan alasan yang cukup." Baekhyun membiarkan dirinya ditarik pelan menuju lapangan parkir, Chanyeol membukakan pintu penumpang terlebih dahulu untuknya.

"Well, karena kau milikku, dan aku tidak suka ketika jalang-jalang sepertinya, atau orang-orang pada umumnya, berkata seperti itu padamu. Itu juga melukaiku, karena aku tahu bahwa seperti apapun kau bertingkah seperti seorang diva, kau tetaplah manusia. Kau tetap bisa terluka, dan aku tidak ingin hal itu terjadi." Chanyeol menunggu hingga Baekhyun merasa nyaman di kursinya sebelum mencondongkan tubuh dan memberikan sebuah kecupan di dahi lelaki tersebut. Sebelum ia menutup pintu, Baekhyun meletakkan tangan di bahunya, dan memandang balik ke arahnya.

"Bagaimana kau mengenal Hyuna?" Baekhyun bertanya lirih, dan Chanyeol seketika merasa ingin memiliki kekuatan yang bisa membuatnya memutar balik waktu dan mengubah masa lalunya.

"...hanya salah seorang one-night stand, Baek."

"Oh." Lelaki yang lebih pendek membiarkan tangannya jatuh kembali ke pangkuannya, menyandarkan tubuhnya dan memandang Chanyeol seraya ia menutup pintu.

Baekhyun memperhatikan bagaimana Chanyeol berjalan memutari bagian depan mobil, dengan hati-hati memasuki bangku kemudi dan menutup pintu. Ia memasukkan kunci ke dalam slot, dan menghidupkan mesin. Dengan tangan di atas setir dan yang lain pada pemindah gear, ia merasakan Baekhyun menggenggam tangannya pelan, dan ia menoleh pada lelaki yang lain.

"Kau tidak perlu terlalu khawatir mengenai hal semacam itu, Yeol, tapi terima kasih." Baekhyun memberinya sebuah eye-smile yang begitu ia sukai, dan Chanyeol kaget karena bagaimana bisa tubuhnya tidak meleleh oleh hal tersebut.

"Kapanpun, sayang." Chanyeol kembali memfokuskan dirinya pada jalan dan mengemudikan mobil memasuki jalan raya, tak menyadari tatapan malu yang terlukis di wajah cantik Baekhyun.

"A-apa kau baru saja memanggilku sayang?!"

"Yeah. Kenapa? Kau tidak menyukainya?"

"Tidak, itu hanya...well...itu...tak apa, ku rasa, tapi...aku belum terbiasa dengan hal itu." Baekhyun memainkan jarinya, mencebikkan bibir dan menatap pemandangan di luar.

"Well, kau akan semakin terbiasa dengan hal itu, sayang." Goda Chanyeol, dan ia tertawa ketika Baekhyun memukul bahunya pelan.

"Idiot...oh, hey, kau melewati belokannya, Yeol." Baekhyun menegakkan tubuhnya di kursi, menempelkan hidungnya pada jendela dan mencoba melihat belokan yang baru saja mereka lewati.

"Aku tahu. Kita belum akan pulang."

"Hm? Lalu kita akan kemana?"

"Shhh, tenang saja. Kita akan segera tiba di sana, babe."

Baekhyun mengerang malu, menutupi wajahnya dengan tangan dan menarik lututnya ke dada. Park Chanyeol benar-benar menjadi kelemahannya.

.

~ xoxo ~

.

Jongin memandang tidak percaya pada Lu Han, yang juga memandangnya balik dengan ketidakpercayaan yang sama besar. Sehun memandang dengan terhibur kedua lelaki di hadapannya itu. Ia berdehem, menarik perhatian mereka berdua dan menoleh pada Lu Han, yang nampak menaikkan alisnya.

"Lu, aku tidak akan lama. Aku hanya akan menerima pesanan Jongin.

Ia berjalan kembali ke meja konter, menghampiri Minseok sementara Jongin menghampiri mereka. Alisnya dinaikkan, dan Sehun menganggap ekspresinya itu konyol. Minseok hanya memperhatikan mereka, nampak begitu terhibur.

"Kau kenal Lu Han?" Tanya Jongin begitu ia tiba di meja konter.

"Ia sudah jadian dengan Lu Han. Ketika Chinese cantik itu tidak di sini, aku merasa seakan telingaku akan copot karena Sehun tak hentinya berbicara tentang kencan mereka berdua." Ujar Minseok, melebih-lebihkan akting pur-pura pingsannya dan mendapat tanggapan tawa dari Jongin dan senggolan pelan dari Sehun.

"Diam kau, Minseokkie." Sela Sehun, dan Jongin mendecakkan lidahnya.

"Aish, adik kecilku sudah besar rupanya? Kau harusnya memberitahuku, kau tahu? Ini benar-benar lucu dan luar biasa karena belum pernah sekalipun aku percaya dengan kebetulan atau hal-hal semacamnya, tapi entah mengapa, kita semua terhubung. Bukan kau, Minseok, jangan nampak terlalu senang." Ujar Jongin, mencondongkan tubuhnya ke meja konter.

"Aw." Minseok mencebikkan bibir, namun ikut mencondongkan tubuhnya, nampak ingin tahu, paling tidak.

"Apa maksudmu?" Tanya Sehun, sepenuhnya tertarik.

"Ingat dengan lelaki yang aku katakan padamu sebelumnya? Do Kyungsoo?" Ujar Jongin, memindahkan beban tubuhnya pada meja konter dan menggoyang-goyangkan kakinya asal.

"Yeah, orang yang membuat kau jatuh cinta, atau semacamnya."

"Fuck you. Ngomong-ngomong, yeah, itu dia. Ia berteman baik dengan kekasih Chanyeol, Byun Baekhyun." Lanjut Jongin.

"Daaan? Ini semua kebetulan karena?"

"Lu Han juga berteman dengan Baekhyun dan Kyungsoo. Ku pikir Kris juga tertarik dengan salah satu teman mereka juga, Tao." Jongin menyimpulkan, dan Minseok tertawa.

"Ini semua seperti acara televisi itu, uh, Friends? Kalian semua berteman dengan satu sama lain dan kalian menyukai satu sama lain. Wow, berbicara soal sesuatu yang mustahil terjadi di kehidupan nyata." Ujar Minseok, menghindari sedotan yang Jongin lempar kepadanya.

"Well, ini benar-benar terjadi. Terima saja, bakpao hangat." Jongin menjulurkan lidahnya keluar, dan Sehun menggelengkan kepalanya terhibur.

"Ngomong-ngomong, aku yakin itu bukan satu-satunya hal yang membawamu kemari. Kau bukanlah tipe bajingan yang menyukai bubble tea. Ada apa?"

"Wel, aku hanya ingin memberitahumu. Sooyoung kembali, kau tahu?"

"Sooyoung-noona? Ia kembali?" Mata Sehun melebar, diikuti anggukan kepala Jongin.

"Yeah. Ku pikir ia siap menghancurkan hidup Chanyeol lagi. Aku tidak tahu. Chanyeol nampak tidak akan mempedulikan kelakuannya lagi, tapi ia masih belum bertemu dengan nenek sihir itu."

"Noona punya banyak cara dalam melakukan rencananya. Aku merasa kasihan dengan Chanyeol."

"Sudah seharusnya kau kasihan. Ia adalah saudara sepupumu, tapi kau sudah jarang berbicara dengannya lagi, dan sekarang saudara perempuannya kembali untuk menghancurkan hidupnya. Lagi. Mungkin." Ia meraih minuman yang hendak Minseok minum dan menegaknya, membuat lelaki itu menatapnya nyalang.

"Aku sibuk bekerja, kau tahu. Keluargaku tidak kaya seperti keluarga Chanyeol."

"Aku tahu, tapi kenapa kau tidak bekerja pada keluarga Park saja?"

"Aku menunggu Chanyeol mengambil alih bisnisnya. Aku tidak akan ikut campur dengan keluarga Park jika Sohee-ahjumma masih menjadi pengendali mereka. Ia adalah iblis yang sebenarnya, kau tahu."

"...wow, sekarang ketika aku memikirkannya, Baekhyun benar-benar akan hidup bagai di neraka dengan keluarga Park. Ku harap jalang itu sanggup bertahan."

"Aku masih belum bertemu dengannya, tapi dari yang apa yang kau ucapkan, Chanyeol terdengar begitu mencintai lelaki itu. Dan kau pasti juga sangat menyukainya, hingga begitu khawatir padanya. Aku sudah langsung berpihak padanya sekarang."

"Aku bersumpah, kapan akan ada waktu dimana nama Park Sooyoung tidak diartikan sebagai malapetaka?" Jongin mengerang, dan Sehun melakukan hal yang sama.

"Kemungkinan tidak akan pernah."

"Apa yang telah orang bernama Sooyoung itu lakukan memangnya?" Minseok menyela penasaran.

"Well...ceritanya panjang, tapi untuk meringkasnya, ia adalah alasan mengapa Chanyeol tidur kesana-kemari dengan para gadis jalang itu." Jawab Jongin, kesedihan nampak terdengar jelas di suaranya.

"Keterlaluan." Balas Minseok, mengangkat bahunya.

.

~ xoxo ~

.

Baekhyun mengangkat satu alisnya pada taman hiburan di depannya dan wajah bersemangat Chanyeol seraya lelaki tersebut menunggu Baekhyun mengikutinya. Dengan menghela nafas lelah, ia menghampiri Chanyeol, meraih tangannya dan menggenggamnya. Chanyeol memandang balik padanya.

"Apa ini sebuah kencan, Park Chanyeol?"

"Hmm. Kurasa begitu, Byun Baekhyun."

Chanyeol berhasil mengajaknya menaiki berbagai wahana, menghindari permainan roller coasters dan wahana-wahana menyeramkan karena Baekhyun tengah hamil. Lelaki yang lebih pendek dari keduanya menghargai hal tersebut, dan meski ia sedikit kecewa karena tidak bisa menaiki wahana favoritnya, itu semua tetap terasa begitu spesial. Hingga akhirnya, mereka terduduk di sebuah kafe, berbagi sepotong kue selagi keduanya beristirahat.

"Ini sedikit aneh, kau tahu?" Baekhyun memulai pembicaraan, dan Chanyeol memiringkan kepalanya bertanya-tanya.

"Apa maksudmu?"

"Ini." Baeknyun menggunakan garpunya untuk menunjuk mereka berdua.

"Kita?"

"Yeah. Maksudku...kita melakukan hal-hal yang biasa pasangan baru lakukan, dan maksudku, kita memang pasangan baru...tapi kita seakan melakukan beberapa hal jauh di depan lalu kembali lagi ke belakang. Kau paham apa yang kumaksud?" Ujar Baekhyun, tertawa.

"...oh. Aku mengerti." Jawab Chanyeol, ikut tertawa.

"Kita melakukan kencan pertama dan berbagi sepotong kue untuk pertama kali tapi kita sudah memiliki ini." Pipi Baekhyun memerah seraya menunjuk pada perutnya, area yang membesar nampak sedikit tertutup dengan hoodie besar yang ia kenakan.

"Tapi aku tidak keberatan. Meski ini semua berjalan mundur, bukan masalah bagiku selama itu semua ku lakukan bersamamu." Chanyeol berujar serius, dan Baekhyun tersenyum malu.

"Kau benar-benar tukang gombal. Kau tahu itu?"

"Tapi kau menyukainya."

"Terserah kau, Chanyeol." Baekhyun menjulurkan lidahnya keluar, dan Chanyeol tertawa.

.

~ xoxo ~

.

Pada sekitar pukul sembilan malam, setelah makan malam di kedai sarapan beberapa blok di bagian bawah kota, Baekhyun dan Chanyeol pulang ke rumah. Di dalam lift, Chanyeol mulai menggelitiki Baekhyun pada daerah sensitifnya di belakang leher, dan Baekhyun menggeliat geli, terkikik dan berusaha menyingkirkan tangan Chanyeol (dan gagal melakukannya). Segera setelah pintu terbuka, Baekhyun berlari ke luar, Chanyeol mengikutinya. Mereka sadar betapa kekanakannya mereka, namun mereka sama sekali tidak peduli dengan hal itu.

Baekhyun terhenti dengan tiba-tiba, ketika melihat seorang perempuan yang tidak familiar duduk menyilangkan kaki di depan rumah mereka. Chanyeol menabrak pelan punggungnya, lelaki yang lebih tinggi dengan cepat merentangkan tangan dan menarik Baekhyun ke pelukannya untuk mencegah ia hilang keseimbangan. Chanyeol memberikan sebuah kecupan pada pipi Baekhyun, berbisik pelan dan jika dalam waktu biasanya, Baekhyun bakal sudah terkikik karena hal tersebut membuatnya kegelian. Tapi sekarang bukanlah saatnya karena ia melihat bagaimana wanita tersebut memandang tajam ke arah mereka, matanya melebar pada pemandangan yang ia lihat.

"Park Chanyeol?" Ia memanggil, suara jelas dan keras di antara kesunyian koridor.

Baekhyun merasakan pelukan Chanyeol di tubuhnya mengerat, dan ia merasakan atmosfer di sekelilingnya yang seketika terasa menegang. Ia tidak bisa mendongak menatap Chanyeol karena posisi mereka, jadi ia hanya memperhatikan wanita tersebut, menyadari ransel-ransel barang di sekitarnya. Chanyeol medecakkan lidah, memandang dingin pada wanita tersebut.

"Apa yang kau lakukan di sini." Itu bukan sebuah pertanyaan, dan Baekhyun sedikit menegang oleh nada kasar yang kekasihnya gunakan.

"Itu bukan cara yang benar untuk menyapa noona-mu, Yeollie."

"Pergi dari sini."

"Tidak akan ku lakukan. Jadi..."

Wanita tersebut berdiri, merenggangkan kakinya dan menepuk-nepuk pelan ripped jeans yang ia kenakan. Baekhyun menyadari bagaimana rambutnya jatuh bergelombang seakan ia sedang membintangi sebuah iklan. Ia tidak bisa menyimpulkan apakah wajahnya terlalu banyak menggunakan BB cream atau memang itu adalah wajah naturalnya. Apa yang Baekhyun tahu hanyalah wajahnya nampak begitu dibuat-buat, dan dari melihat barang-barang yang dibawanya, agaknya ia harus memasak tambahan satu porsi makanan untuk seseorang. Wanita itu menoleh pada Baekhyun, memandang sekilas, dan dengan ekspresi tidak suka yang sama sekali tak disembunyikan, pandangannya kembali pada Chanyeol.

"Siapa dia?" Suaranya memecah keheningan bagai sebuah pisau, dan Baekhyun memandang balik dengan tidak suka, tahu bahwa wanita itu tengah menjadikannya objek pembicaraan.

.

.

.

.

.

(T/N:)

Hai gaes, long time no see... :')

Please jangan timpuk kami karena baru muncul setelah menghilang sekian lama. Wkwkkk. Forgive us juseyo~ ;A;

Sebenernya chap ini udah beres dan tinggal editing aja sejak kemaren. Tapi pas ngedit, baekagain pake acara guling-guling pas baca part cheesy-nya Chanyeol. Dan well, habis megap-megap dan guling-guling, baekagain pun tertidur begitu saja hingga keesokan harinya... XD

Well, berhubung sekarang UTS sudah beres, kami akan kembali berusaha update lebih rajin seperti biasa!

Thank you buat yang udah read, fav, foll, dan review! Terimakasih juga buat kalian yang masih mau nunggu update translate ff ini! I love you so much~

Dont forget to leave your review, dan sampai ketemu di update berikutnya^^

XOXO

baekagain & mashedpootato