Review~

Desi2121: omo~ reviewer sekarang serem2 ye? *ngumpet di ketek Appa* hmm, Hangeng ngomong gitu Cuma buat becanda kok~ sejak~ dia ada di hatimu~ betewe, chap kali ini panjang lho~ *sawer kolor Changmomo*

Meirah.1111: mianhae lama apdet… *sembah sujud* Coz we're humanoids~ lala~ *malah nyanyi* tapi kali ini panjang kan~? 8)

Aoi ko Mamoru: doh, reviewer jaman sekarang serem2 -_-'; namanya juga penpik YunJae nak, tentu aja mereka bersama dong~

Milia Schiver: kalo untuk itu~ di tahan dulu ya~ satu-dua hal yg membuat antar laki2 itu berdamai ada banyak… dan untuk sekarang gue cuma bisa jawab, Changmin nggak mau ngerusak hubungannya dengan Jaejoong, apa lagi Jae lagi kayak gitu, mereka bakal tambah terpuruk~

YuyaLoveSungmin: ini udah lanjut~ ^^

Bambaya: iya, mian… chap depan aku usahain lebih banyak YooSu ' 'd hahaha~ sama2 makasih udah baca fanfic ku yg aneh ini x)d

Andreychoi: yep, YunJae~

Dan special thanks buat silent reader sekalian~


Isi saya tidak menanggung, apakah sebagus yang kalian harapkan atau tidak… but~ I hope you enjoying this story~

Disclaim : always casts belong to god and them self

Pair at this Chapter : YunJae

Warning : full of Gajeness, Hugar (humor garing), Typo(s), and many more…

Perfect! 9

.

.


"Jadi, kau sudah mendengar masa lalu keluarga kami, boo?" Yunho membuka pintu kamar Changmin. Namja bermata musang itu kian mendekati dua orang namja yang berada di dalam ruangan tersebut.

Changmin mengernyitkan dahinya tak senang, lihatlah wajah Yunho itu. Sama menyebalkannya saat mereka masih kecil. Dengan wajah tak suka, Changmin kemudian menolehkan parasnya kembali kepada buku-buku yang hendak ia baca. "Hei, kalian… setidaknya, carilah tempat yang bagus tanpa mengganggu orang jika ingin berbicara…" ucap Changmin saat melihat Yunho dan Jaejoong yang masih saling bertatapan.

Namja bermata musang itu melirikkan matanya pada Changmin, hanya singkat dan beberapa detik saja dan kemudian kembali menatap Jaejoong yang masih duduk di tempatnya. "Boo, sebaiknya kita bicarakan ini di kamarku saja…" ucapnya kemudian menarik lengan Jaejoong.

"Hei, ingat hyung… jangan terlalu kasar dengannya—ah, dasar… anak muda jaman sekarang…" ucap Changmin saat ia melihat atau merasakan jika Yunho pasti tak akan mendengarkan apa yang ia ucapkan tadi. Ckckck, terlihat seperti orang tua sekali dia.

"Tsk, andai saja Kyuhyun ada di sini saat ini… aish, aku merindukan senyum evilnya yang menggemaskan itu…" ucap Changmin kembali, menggelengkan kepalanya dan kembali menekuni buku pelajaran yang dengan terpaksa harus ia pelajari.

.

Diruangan Yunho, atau lebih jelasnya kamar Yunho yang bersebelahan dengan Changmin lantas melepaskan jeratan tangannya dari Jaejoong yang sudah meronta-ronta ingin di lepaskan.

"Yak! Apa kau tak tahu jika genggamanmu itu menyakitkan, Jung Yunho?!" namja cantik itu mengusap pergelangan tangannya yang memerah akibat tangan Yunho yang dengan sangat kasarnya mencengkram dengan sangat erat.

Yunho menatap Jaejoong, wajahnya terlihat sangat bersalah namun sikap dingin itu kembali, ia berakhir dengan menatap Jaejoong. Menunggu namja cantik itu untuk bertanya, berucap atau pun berteriak kepadanya yang telah berbohong.

Hening mengitari pasangan YunJae ini, hingga pada akhirnya sebuah dengusan sebal terdengar dari sang namja cantik. "Hei, kau tahu, Yunho-ah?" ucap Jaejoong seraya melipat kedua tangannya di depan dadanya bibirnya menampakkan sebuah senyuman. Hening sesaat.

Yunho menatap namja cantik itu dengan pandangan bertanya, ada rasa syukur juga jika Jaejoong tak berteriak atau melakukan apapun yang dapat mencederai telinganya itu.

Namja cantik itu mendekati Yunho, tangannya tak lagi melipat di depan dada. Namun salah satunya mengepal menjadi sebuah kepalan tinju yang kokoh. "JUNG YUNHO! SEENAKNYA SAJA KAU BERBOHONG KEPADAKU!" setelah teriakan itu mencapai pertengahan, sebelah tangan Jaejoong menyentuh pundak namja di hadapannya, lain halnya dengan tangan yang terkepal.

Tangan terkepal itu dengan kekuatan penuh dan kecepatan yang tak kalah dengan kekuatannya itu menghantam perut Yunho dengan sangat hebatnya. Membuat namja bermata musang itu melenguh kesakitan, entah bagaimana rasanya menerima pukulan dari seorang namja dengan wajah cantik itu.

"Uhuk!" hanya itu suara yang dapat Yunho keluarkan saat merasakan perutnya memanas, dan rasanya terkocok hingga ingin mengeluarkan seluruh isinya.

Lega telah memukul namja beramata musang di hadapannya, Jaejoong kemudian segera menepuk tangannya. Mendongakkan sedikit kepalanya, terlihat bangga dengan pukulannya yang sangat sukses dan merubuhkan seekor beruang di hadapannya.

"Ayolah, bear… aku yakin, pukulanku belum ada apa-apanya, kan?" ucap Jaejoong merendah diri, ia menatap Yunho dengan tatapan cukup puas. Andai namja di hadapannya ini masih bisa bangun, mungkin ia akan memukulnya untuk yang kedua kali.

"A-Ani, Boo… sekali saja sudah cukup sakit, apa lagi dua kali? Bisa-bisa aku langsung masuk ke rumah sakit…" ucapnya dengan suara lirih, tangannya masih memegangi perutnya yang terasa perih.

Demi kaus kaki Leeteuk, pukulan Jaejoong ini sungguh dapat membuatnya merasakan nyeri di sekitar perutnya. Cantik-cantik tapi tenaga bulldozer. Sepertinya, namja bermata musang ini sudah kapok membohongi namja cantik itu lagi.

Di sisi lain, Changmin yang mendengar teriakan Jaejoong dan suara batuk Yunho hanya menggeleng dan kemudian menangkupkan kedua tangannya. "Kami-sama di atas sana, maafkanlah hyungku itu… ia memang bodoh, dan tak tahu jika ia tengah menghadapi salah seorang juara karateka di sekolah dasar." Changmin tampak khusyuk berdoa, mendoakan agar hyungnya selamat setelah ini atau malah, agar di terima di sisiNya.

Kembali kepada Jaejoong dan Yunho. Namja cantik itu tertawa sangat sadis saat mendengar frase yang di lancarkan oleh Yunho. Paras cantiknya terlihat sangat menyeramkan walau tetap saja wajah menyeramkan itu terlihat sangat cantik.

"Berarti kau sangat lemah sekali jika mendapat hal seperti ini saja kau masuk rumah sakit. Hei, Jung Yunho, apa kau tak malu kepada adik tirimu? Dia bahkan mendapatkan yang lebih daripada dirimu!" jika saja di sana ada sebuah pisau kecil atau belati, mungkin saja saat ini Jaejoong tengah menempelkan sudut yang tajam pada leher Yunho.

"B-Boo, kumohon… jangan lakukan lebih dari ini…" pinta Yunho, yah walau hal itu akan sangat di sayangkan karena Jaejoong, ayolah, namja cantik itu tak mungkin berbaik hati.

"Mianhae, Yunho-ah… aku tak mendengar apa yang kau katakan…" ucapan itu langsung menjadi frase terakhir yang di dengar Yunho hari itu. Karena sekali lagi Jaejoong menendang perut Yunho dengan lututnya dan kepalan tinjunya mengenai wajah tampan namja itu.

"Selamat tidur Yunnie~" kemudian namja cantik itu menepuk kedua tangannya.

Sebuah deritan halus terdengar dari arah pintu, sosok namja jangkung terlihat tengah bersandar pada pangkal pintu. "Kau berhasil membuatnya pingsan hyung, kau memang daebak…" ucap namja yang di ketahui sebagai Changmin itu.

Jaejoong tersenyum, "Inilah akhir, dari orang yang berbohong padaku…" ucapnya dengan sebuah senyuman di bibirnya.

Changmin ikut tersenyum bersama hyung cantiknya itu, "Ah~ aku merasa kembali kebeberapa tahun yang lalu, saat kau masih kencan dengan Yoochun-hyung." namja jangkung itu melipat kedua tangannya. "Kau sering menghajarnya saat hyung berdahi lebar itu berbohong padamu… hahaha~" ucap Changmin.

Jaejoong membelalakkan kedua matanya, "Pantas saja aku merasa déjà vu saat memukul Yunho tadi, ternyata aku pernah melakukannya pada Yoochun-ah? Aku bahkan tak mengingatnya, kenapa kau bisa ingat?" tanya Jaejoong yang kemudian mendudukkan diri di tempat tidur Yunho. Membiarkan namja tampan itu tertidur atau bisa di katakan pingsan di atas lantai beralaskan karpet bulu yang lebar.

"Karena… itu adalah tontonan paling menarik daripada opera sabun yang sering Omoni lihat~" ucap Changmin, namja jangkung itu lantas melangkahi tubuh Yunho dan duduk di sebelah Jaejoong. Menyandarkan kepalanya di pundak namja cantik yang lebih tua darinya itu.

"Jangan manja Shim Changmin…" ucap sang namja cantik dengan nada berbahaya. Seperti tak mendengar, Changmin tetap terus menyandarkan kepalanya di pundak namja cantik itu.

Namja jangkung itu terkekeh pelan, "Ayolah hyung, hanya sekali, dan setelah ini, aku tidak akan lagi bermanja seperti ini padamu."

"Tentu saja kau tak akan bermanja lagi padaku, karena kau sudah memiliki Kyuhyun…" Jaejoong mengusap surai kecoklatan Changmin, benar-benar seperti anak kecil saja.

"Hyung… aku senang, cinta pertamaku adalah dirimu…" ucapnya dengan kekehan yang terdengar lemah. Mau tak mau Jaejoong hanya tersenyum mendengar perkataan Changmin, dan terus mengusap surai namja itu hingga namja yang lebih muda darinya itu tertidur pulas di pundaknya.

"Kakak beradik ini sama saja, tidur di tempat yang seenaknya…" namja cantik itu menghela nafasnya lelah. Oh, ayolah, bukan salah Changmin atau Yunho saja. Ini juga menjadi salah satu kesalahannya, kenapa ia membuat Yunho pingsan di lantai.

.

.


Keesokan paginya, Yunho dengan susah payah bangun dari tidurnya. Bukan karena ia masih ingin tidur di tempat itu, tetapi lebih karena serangan Jaejoong yang, wow, sampai saat ini membuat tubuhnya terasa ngilu. Sepertinya, untuk kedepan, Yunho tak akan lagi berbohong pada namja cantik itu.

Jaejoong memang namja berwajah cantik, imut dan terlihat lemah lembut. Tetapi, sepertinya persepsi itu harus kita hapus setelah melihat Yunho yang langsung out saat terkena berbagai jurus karate dari namja cantik itu.

Demi apapun yang membuat Ibu Jaejoong memiliki anak secantik itu, Yunho benar-benar terbuai dengan kecantikannya dan melupakan jika, Jaejoong masihlah seorang namja.

'Aish, badanku sakit semua… Boo Jae benar-benar tidak tanggung-tanggung.' Yunho berdiri dengan susah payah, sebenarnya ia ingin bertukar tempat menuju tempat tidurnya yang lembut hingga ia urungkan niatnya saat melihat Changmin dan Jaejoong tengah tertidur nyenyak di atas sana.

Sebuah kerutan terlihat di dahi Yunho, "YAK! SHIM CHANGMIN!" teriaknya kemudian, dan ya, memang sukses. Sukses mendapat lemparan bantal dari Jaejoong, sedangkan Changmin dengan seenak perutnya menyamankan posisinya pada Jaejoong.

"Aish, mereka ini…" Yunho berkacak pinggang hingga terlintas sebuah ide jahil di dalam otaknya.

Dengan hati-hati ia merangkak menuju tempat tidurnya, di tengah-tengah, antara Changmin dan Jaejoong. Namja bermata musang itu menjauhkan badan Changmin dan membaringkan dirinya di space kosong itu. Menghadapkan tubuhnya kearah Jaejoong dan memunggungi Changmin.

Setelah Yunho rasa nyaman, namja itu kemudian memejamkan matanya dan tidur kembali dengan pulas. Kembali kealam mimpi yang hanya dirinya saja yang mengetahuinya.

.

.


"Aigooo… pantas saja mereka tidak turun saat kupanggil, ternyata mereka masih tidur…" ucap sebuah suara, suara seorang yeoja sebenarnya. Satu-satunya yeoja di rumah Changmin adalah Ibunya, Nyonya Shim, atau biasa di panggil Eomma Shim, atau mungkin Shim Ahjumma.

Melihat tiga pemuda tengah tertidur pulas di sebuah tempat tidur yang memang cukup lebar untuk ketiganya tidur. "Aduh, Kyuhyun-ah, sepertinya Changmin masih tidur… ingin kau tunggu atau kubangunkan?" tanya Shim ahjumma saat melihat Kyuhyun berdiri di sampingnya.

Namja manis itu tersenyum dan menggeleng. Tiba-tiba senyum jahil terlihat di bibirnya, "Tidak usah ahjumma… biar Changmin kubangunkan sendiri," ucapnya dengan sebuah senyum biasa, menggantikan seringai jahil yang beberapa detik yang lalu masih setia terlihat.

Hei, dia ini seorang evil, jadi tentu saja ia akan dengan sangat senang hati mengganggu orang di sekitarnya. Terutama namja chingunya sendiri, Changmin.

Dengan hati-hati Kyuhyun melangkahkan kakinya saat ia melihat Shim ahjumma telah meninggalkannya sendiri di kamar Yunho. Ia sedikit iri melihat ketiganya begitu akrab dan bahkan saat ini tidur bersama dalam satu tempat tidur, walau yang terlihat hanya pasangan YunJae yang dengan nyenyaknya tidur saling berpelukan dan menyisihkan Changmin di pinggir.

Kyuhyun kembali melangkah, kali ini ia berjalan menuju sisi Changmin. Sedikit membungkukkan dirinya, bersiap membangunkan atau lebih tepatnya mengganggu Changmin yang tengah tidur nyenyak.

"Bisa-bisanya kau lupa jika hari ini ada test kecil dan absen dari sekolah?" tanya Kyuhyun yang tentu saja tak di jawab oleh Changmin. Namja manis itu menyentil ujung hidung Changmin dan kemudian menekan dahi namja jangkung itu iseng.

Hei, tiga namja berbeda rupa itu sepertinya lupa waktu dan tidur hingga siang. Sedangkan Shim Ahjumma dengan baik hati membiarkan tiga namja kelelahan itu tidur lelap hingga siang.

"Changmin-ah… kenapa kau tidak bangun juga?" tanyanya kembali, namun suaranya terdengar berbisik. Tentu karena ia tak ingin membangunkan dua hyungnya yang juga berada di sana.

"Changmin-ah, ada chajangmyeon di meja makan… jika kau tak bangun, makanan itu menjadi milikku…" ucapnya.

Kyuhyun tampaknya harus kembali mengerucutkan bibirnya saat tak melihat Changmin yang bergerak sedikitpun. Sebenarnya selama apa mereka berbicara hingga sampai siang pun mereka belum terbangun juga.

Namja manis itu kembali memutar otaknya, haruskah ia menggunakan sebuah aegyo untuk membangunkan namja jangkung di hadapannya ini? Tetapi itu sangat memalukan, dan ia tak terlalu terbiasa melakukan hal aegyo seperti itu.

"Uuh… sepertinya itu satu-satunya…" ucapnya lebih pada dirinya sendiri.

Kyuhyun berdeham sesaat dan mendekatkan dirinya pada telinga Changmin. "Oppa, bangun~" suaranya terdengar seperti seorang yeoja dan ia buat secentil mungkin.

Seperti sebuah anugrah atau mukjizat, Changmin membuka matanya cepat dan menolehkan kepalanya kesamping, menatap Kyuhyun. "Apa yang kau lakukan…" ucapnya pertama kali setelah terbangun.

Kyuhyun mengerucutkan bibirnya, "Apanya yang apa?" tanyanya kesal.

"Barusan, aku seperti mendengar seseorang memanggilku dengan 'Oppa' untuk menyuruhku bangun dan suaranya terdengar mendesah…" Changmin mendudukkan dirinya, tampak tak percaya dengan apa yang ia dengar.

"Hmm, lalu?"

"Apa itu kau atau orang lain? Itu yang aku bingungkan…" balasnya.

Kyuhyun melipat kedua tangannya di dada, "Jika itu aku lalu apa?" tanyanya.

"Aku ingin mendengarnya lagi, kali ini lebih jelas." Changmin terlihat bersungguh-sungguh, hei, dia benar-benar ingin mendengarnya lagi.

"Andwae…" Kyuhyun menjawab, memejamkan matanya dan kepalanya bergoyang kekiri dan kanan mengungkapkan penolakan.

"Mwo? Ayolah, aku ingin lihat, apa lagi jika kau menambahkan dengan bbuing bbuing. Pasti akan sangat manis!" kedua tangan Changmin terlihat seperti memperagakan sebuah bbuing bbuing.

'Aigoo~ kyeopta~' batin Kyuhyun saat melihat bbuing bbuing Changmin.

"ANNYEONG HASSEYO~!" oke teriakan dan dobrakan dari arah pintu tentu saja membuat Changmin, Kyuhyun bahkan Yunho dan Jaejoong berdiri tegak mendengarnya. Siapa lagi jika bukan Junsu sang suara dolphin? Weker berjalan mereka?

Di samping Junsu terlihat Yoochun yang tengah menutup kedua telinganya, sepertinya ia sudah menduga jika Junsu sang namja chingu akan berteriak untuk membangunkan tiga pangeran tidur di tempat tidur mereka.

"Aish! Junsu-ya! Kau mengganggu tidurku!" ucap Jaejoong seraya mengusap kedua matanya yang masih berat. Yunho di sampingnya harus meringis karena tiba-tiba berdiri, padahal ia tahu badannya masih terasa ngilu karena amukan Jaejoong.

"Yak! Duck butt hyung, kau berisik… bisa tidak suaramu di kecilkan sepuluh volume lagi?" teriak Changmin yang berada di samping Kyuhyun. Kurang senang juga dengan suara weker berjalan itu.

"Ya! Salah kalian sendiri kenapa siang-siang seperti ini masih tidur!" jawab Junsu, terlihat tak mau di salahkan. "Kalian ini tidur jam berapa, eoh? Sampai si Food Monster bahkan tidak bangun walau sudah waktunya makan…" kembali Junsu berucap, terlihat lumayan terkejut.

Setelah Junsu mengatakan kata 'makan' sebenarnya perut Food Monster itu berbunyi dengan cukup keras dan dapat di dengar oleh Kyuhyun. Namja manis itu tersenyum saat melihat Changmin mengusap perutnya yang lapar, sepertinya namja jangkung itu memang lupa waktu.

"Aigo, hyungdeul-ah, ayo turun dan makan… aku lapar…" ucap Changmin terdengar manja pada Jaejoong.

Namja cantik itu menghela nafas, jarinya menekan pelipis Changmin. "Baru saja ada yang mengatakan 'makan' perutmu sudah bereaksi… arrasseo, ayo kita turun dan makan. Kebetulan aku juga lapar…" ucap Jaejoong pada akhirnya.

Kyuhyun dan Yunho mengerucutkan bibirnya saat melihat kedua namja itu terlihat melupakan mereka. Hei, mereka ada di sana dan melihat keakraban mereka. Itu sangat menjengkelkan, kalian tahu?

"Kkk~ kajja, kajja~! Shim Ahjumma membuat sundubu dan kalguksu~!" ucap Junsu semangat, tentu tanpa aba-aba lagi Changmin langsung berlari menuju tangga dan turun ke dapur. Hei, dia sudah lapar.

.

.


"Tuan Shim, segalanya telah di laksanakan… anda hanya tinggal memberikan saya sebuah perintah dan semua akan di laksanakan…" ucap seorang namja dengan pakaian hitam yang terlihat rapi. Tengah menunduk hormat pada seorang namja paruh baya yang setia duduk di singga sananya.

Namja paruh baya itu tersenyum menatap sang namja, "Kerja yang bagus, Seunghyun-ah… besok, jika tidak lusa… kau bisa berangkat ke Korea. Dan kita lihat, seperti apa reaksi mereka saat kau berada di sana." Namja paruh baya yang merupakan Ayah dari Changmin dan Yunho ini berdiri. Berjalan dengan santai menuju jendela, salju telah menebal di tempat ini.

Namja bernama Seunghyun itu mengangguk, mengerti dan membungkuk. "Choi Seunghyun mengundurkan diri Tuan…" ucapnya kemudian dan keluar dari ruangan Tuan Shim.

"Yunho-ah, Changmin-ah… semoga kalian senang dengan kejutan yang kuberikan." Namja paruh baya itu kembali tersenyum, ah tidak, lebih tepat menyeringai. Membayangkan apa yang akan terjadi kedepan nanti.

.

"Seunghyun-hyung… benarkah kau akan ke Korea?" tanya sebuah suara tak jauh dari Seunghyun berada.

Namja bermata tajam bak elang ini menghentikan dua langkah kakinya. "Menguping itu perilaku yang buruk, Ji… berhenti bersikap seperti itu. Hyung tak pernah mengajarimu hal seperti itu."

"Ta-Tapi hyung-ah…" namja bernama Ji ini kembali menjawab, suaranya terdengar lirih dan sedih.

"Hyung harus pergi, jika hanya itu yang ingin kau tanyakan padaku…" Seunghyun kembali melangkah hanya beberapa senti hingga kembali terhenti. Namja bernama Ji itu memeluknya dari belakang, kedua tangannya terlihat sangat erat memeluk.

"Andwae hyung… jangan tinggalkan Ji di sini sendiri, jebal…" ucapnya mengeratkan pelukan.

Dengan terpaksa namja bermata tajam itu melepas tautan kedua tangan namja bernama Ji yang melingkar di pinggangnya. Kembali melangkah, tanpa pernah melirik kebelakang. Tanpa melirik kepada adik tirinya yang ia sayangi, tidak, lebih tepat jika ia mencintai adik tirinya. Choi Jiyong.

.

.

To be continue…


A/N:

Omo… what the… kenapa malah ada TOPGD di cerita ini juga… aigoo.. mian hae… ini secara tak langsung. Ukh, pabbo, ne? dan, yg nungguin fanfic TWGOK untuk saat ini, aku belum bisa lanjutin karena… moodnya lagi ngilang entah kemana T^T mian~~ dan sudahlah… daripada kebanyakan changkam… ayo, pada review… arra?

18-12-12