Disclaimer: Axis Powers Hetalia © Hidekaz Himaruya

On this fic: OC, OOC, dan alert lainnya yang bisa kalian temukan sendiri (?)


Show Yourself Lady

Chapter 10 – That secret


Hari sabtu sudah datang kembali, saatnya murid-murid di Hetalia International High School melaksanakan kegiatan ekstrakulikuler. Sekolah yang bangunannya seperti museum kuno tersebut cukup mempunyai sarana untuk kegiatan ekskul, bahkan melebihi daripada cukup. Karena kepala sekolah pun menginginkan yang terbaik dari murid-muridnya.

Sebenarnya hari ini Alfred berniat untuk masuk kegiatan ekskul capoeira, namun niatannya pun kembali hilang karena kecelakaan kemarin malam. Ya, hari ini dia lebih berniat untuk menjenguk Arthur. Semalam pun dia tidak bisa tidur nyenyak karena perasaan bersalah terus menghantuinya. Rencananya dia akan menjenguk bersama Francis dan Sey. Alfred baru memberitahu mereka berdua pagi subuh tadi. Untuk Sey tidak masalah, dia langsung bersimpati dan menerima ajakannya untuk pergi menjenguk. Namun untuk Francis, meskipun pemuda France itu keras kepala akhirnya pun luluh juga.

Pagi itu, Alfred menyempatkan online sebelum pergi ke rumah sakit. Dan seperti biasa, Kiku menyiapkan sarapan untuk mereka. Sedangkan Gilbert menonton televisi dan Hasan sedang memeriksa makalah untuk kegiatannya di Islamic Center.

Kali ini Alfred hanya menggunakannya untuk memeriksa email dan social networking. Dia enggan untuk chatting, meskipun rasa penasarannya masih terbesit dalam hatinya. Betapa kagetnya Alfred ketika dia sedang chatting dengan Arthur yang berpura-pura sebagai Alice, dan tiba-tiba saja ada berita bahwa Arthur kecelakaan. Dia berpikir, apa yang berperan sebagai Alice ini benar-benar Arthur? Atau orang lain? Ah, dia tidak ingin memikirkan hal itu sekarang.

"Hei, kamar ini akan kosong lagi kan?" tanya Gilbert memecah suasana.

"Hem, sepertinya begitu. Aku ada kegiatan di OSIS, sepertinya menggantikan tugas Arthur-san untuk sementara." jawab Kiku sambil terus memasak.

Hasan ikut menjawab, "Ana juga ada kegiaan di Islamic Center. Gilbert, anta juga ada kegiatan kan?"

"Memang, kesesesesese! Hoi Alfred, kau bagaimana?" Gilbert membalas pertanyaan Hasan lalu bertanya pada Alfred.

Alfred menoleh, "Aku? Hari ini aku absen dulu dari ekskul capoeira, aku ingin menjenguk Arthur hari ini.

Gilbert hanya menganggukkan kepalanya membalas jawaban Alfred.

Tak lama kemudian, sarapan pagi sudah terhidang di meja makan. Tak luput juga dengan minumannya.

"Baiklah semuanya, sarapan sudah siap!" seru Kiku memanggil semuanya.

-x-

Setelah sarapan dan bersiap-siap, Alfred keluar dari kamar asrama dan menunggu di dekat pintu gerbang sekolah. Alfred menyuruh Francis dan Sey bertemu di pintu gerbang. Tak lama kemudian, muncullah mereka berdua.

"Halo Alfred! Maaf ya lama menunggu." sapa Sey ramah.

"Halo~ aku baru saja sampai di sini. Bagaimana? Sudah siap?" tanya Alfred dengan aura ceria yang sedikit dipaksakan.

Francis mendengus, "Cepatlah, aku tidak mau berlama-lama di sini."

Alfred menggembungkan pipinya seperti anak kecil, sedikit jengkel dengan kata-kata Francis tadi. Sey tertawa kecil melihat reaksi Alfred. Kemudian, Sey menarik tangan mereka berdua dan keluar dari pintu gerbang lalu menuju halte bis.

"Jangan bertengkar! Karena sekarang kita akan menjenguk teman kita yang paling berharga." kata Sey sambil tersenyum.


St. Bartholomew's Hospital, akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit itu. Mereka bertiga menanyakan kamar yang ditempati Arthur kepada resepsionis, karena yang terakhir Alfred tahu waktu itu Arthur masih ada di dalam ruangan unit gawat darurat. Kamar 153, itu lah kamar yang ditempati Arthur. Setelah bertanya kepada resepsionis, mereka langsung pergi menuju kamar tersebut.

Sampai, mereka memasuki kamar 153 dengan perlahan. Tidak ada siapa-siapa di situ, kecuali teman mereka yang sedang terbaring lemah. Di kamar bercat putih itu, Arthur tertidur dengan pulas. Bersama dengan selang infus dan selang oksigen, dia dibantu untuk tetap hidup.

"Ya Tuhan.." Sey menutup mulutnya yang terperangah dengan tangannya, dia tidak menyangka teman yang dulu pernah disukainya menjadi seperti ini.

Francis hanya melihat Arthur dengan tatapan hampa. Alfred melihat mereka berdua bereaksi seperti itu, dia mengerti. Karena selama ini, Arthur tidak pernah terlibat dalam masalah apapun dan selalu baik-baik saja. Alfred juga sebenarnya tidak mengira bahwa Arthur akan mengalami kecelakaan berat seperti sekarang ini. Sosok Arthur yang ceria, cerewet, tepat dalam berpikir dan bertindak, juga penyayang itu terngiang dipikirannya. Alfred merasa, tanpa Arthur rasanya berbeda.

Alfred mengerjapkan matanya beberapa kali, dia menggeleng perlahan. Apa yang telah dia pikirkan? Tiba-tiba saja bayangan Arthur terus teringat dalam pikirannya.

"Hei, ada apa denganku? Kenapa aku.." Alfred bertanya-tanya dalam hati.

Tiba-tiba, ada seseorang yang membuka pintu kamar dan berjalan menuju ke dalam. Mereka bertiga pun menoleh kepada orang tersebut, ternyata Kiku.

"Kiku, kenapa kau di sini? Bukannya kau bilang ingin menggantikan tugas Arthur sebagai calon ketua OSIS?" tanya Alfred bingung.

"Pengurus OSIS mengizinkanku untuk berhenti dulu menggantikan tugas Arthur-san, katanya jika bukan Arthur-san yang mengerjakan nanti hasilnya tidak valid. Jadi tugasnya ditunda dulu. Lagipula, pemilihan ketua OSIS pun masih lama." jawab Kiku jelas.

Alfred hanya membalasnya dengan anggukan. Dia berpikir, bagaimana jadinya proses pemilihan ketua OSIS jika Arthur belum sadar pada hari yang telah ditentukan? Oh, Alfred berdoa semoga Arthur bisa bangun secepatnya.

Kiku memulai pembicaraan, "Kalian baru datang?"

"Iya, kami baru saja sampai." jawab Sey.

"Bagaimana keadaan Arthur-san?" tanya Kiku.

"Entahlah. Rasanya belum ada perubahan apa-apa, menurutku sih.." jawab Alfred mengira-ngira.

Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka kembali. Kali ini yang terdengar bukan suara langkah berjalan, melainkan langkah berlari. Dalam sekejap orang tersebut berlari melewati mereka berempat tanpa permisi.

"Arthur! Ya Tuhan!"

Peter langsung memeluk kakaknya yang terbaring lemah di tempat tidur. Kemudian muncul Anna yang terlihat khawatir.

"Maaf telah mengagetkan kalian." kata Anna menanggapi kelakuan Peter yang kelihatannya tidak sopan.

"Eh, bibi kan pembantu di rumahnya Arthur kan?" tanya Sey.

Anna mengangguk, "Iya. Aku mendapat berita dari pihak sekolah pagi subuh tadi kalau tuan muda mengalami kecelakaan, jadi aku dan Peter berniat untuk datang kemari."

Alfred yang berada disamping Arthur menjauh agar Anna bisa melihat keadaan Arthur. Peter masih terus memeluk kakaknya, diikuti Anna yang menggenggam tangan tuan mudanya. Alfred, Kiku, Sey, dan Francis hanya terdiam melihat mereka berdua melepas rasa khawatir mereka pada Arthur. Ada rasa kekeluargaan yang hangat timbul di lubuk hati mereka berempat.

Sambil terus menggengam tangan Arthur, Anna membaca doa keselamatan agar Arthur bisa cepat sembuh. Mulutnya berkomat-kamit, kemudian dia menggerakkan tangannya di dada seperti tanda salib. Setelah itu, Anna memeriksa leher Arthur. Kalung salib masih melingkari leher anak itu, dia menghela nafasnya.

"Tuhan pasti melindungimu dari bahaya maut, tuan muda. Semoga Tuhan tetap melindungimu." harap Anna dalam hati.

"Anna, katanya Arthur tertabrak di Smithfield kan?" tanya Peter tiba-tiba, masih memeluk kakaknya.

Alfred dan yang lainnya terdiam mendengar pertanyaan Peter, mereka ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Anna mengangguk, "Iya. Ibu yang bernama Mrs. Maria itu bilang kecelakaan itu terjadi di tempat penyeberangan jalan. Tapi aku tidak sempat menanyakan di jalan mana."

"Mau jauh atau dekat, pasti tidak terlalu jauh dengan rumah kita kan? Apa mungkin.." ujar Peter, raut wajahnya serius.

Alfred dan yang lainnya jadi penasaran dengan lanjutan ucapan Peter. Apa hubungannya kecelakaan itu dengan rumah Arthur?

"Apa mungkin.. setelah Arthur pergi dari rumah kita, dia pergi ke jalan itu? Bisa saja terjadi.." kata Peter menyimpulkan.

Alfred yang mendengar itu langsung memotong pembicaraan, "Maaf menyela pembicaraan kalian. Peter, Arthur pergi ke rumahmu sebelum kecelakaan itu?"

Peter diam mendengar pertanyaan Alfred, begitu juga Anna. Hening pun mendatangi ruangan itu beberapa detik. Lalu, Peter menjawab dengan nada tinggi.

"Iya, dia pergi ke rumah hanya untuk memarahi dan mengancamku. Dan itu semua gara-gara kau, Alfred!"

Alfred terkejut mendengar jawaban kasar dari Peter. Kenapa Peter menjawab bahwa hal itu disebabkan olehnya?

"Hei, kenapa kau langsung menuduhku seperti itu?" Alfred membalas dengan nada rendah, agar tidak terpancing emosi.

"Jangan pura-pura tidak tahu! Kau membongkar rahasia Arthur lewat buku harian milikku, iya kan? Itu membuat Arthur mengira bahwa aku telah memberikan buku harian milikku kepadamu!" jawab Peter penuh amarah.

Alfred terdiam, akhirnya Peter sudah tahu bahwa yang membawa buku harian itu adalah dia. Pantas saja. Peter menatapnya dengan tatapan tajam, lalu berjalan melewati Alfred dan menuju pintu keluar. Anna pun langsung menyusul Peter.

"Maafkan sikap Peter ya, mungkin emosi dia sedang tidak stabil sekarang. Aku permisi." kata Anna sebelum pergi meninggalkan kamar tersebut.

Mereka berempat mengangguk, tinggalah mereka berempat di situ. Alfred yang sejak tadi terdiam mulai duduk di kursi disamping tempat tidur.

"Ya Tuhan.. apa yang sudah aku lakukan?" kata Alfred, bertanya-tanya dalam hati.


Malam pun datang begitu cepat. Seperti biasa, Alfred kembali duduk tenang sambil ber-online ria dengan laptopnya. Mumpung besok hari minggu, pikirnya. Yang lainnya sibuk dengan urusannya masing-masing. Alfred yang asyik sendiri sedang chatting dengan saudara kembarnya lewat webcam. Saudara kembarnya yang bernama Matthew tinggal di Canada, dia tinggal di negara itu untuk melanjutkan sekolahnya. Sebenarnya, Matthew ingin sekolah di Hetalia International High School. Namun sayang dia tidak lolos seleksi, akhirnya malah Alfred yang bisa masuk ke sekolah itu.

matt_maple : Bagaimana dengan sekolahmu, Al? Aku jadi ingin ke sana~

jones_the_hero : Entahlah.. antara baik dan buruk.

matt_maple : Eh, kenapa kau bilang begitu?

Matthew jadi merasa aneh dengan sikap Alfred, terlihat dari wajah lesunya yang terpampang oleh layar webcam. Tidak seperti biasanya Alfred muram begitu, yang dia tahu Alfred selalu cerah ceria setiap hari.

jones_the_hero : Yah.. pokoknya masalahku saat ini banyak sekali.

matt_maple : Ceritakan saja padaku, siapa tahu aku bisa membantumu, Al~ e-eh!

jones_the_hero : Matt, ada apa?

Di layar, Alfred melihat seekor beruang kutub yang menaiki pundak Matthew. Alfred melebarkan matanya.

matt_maple : Aduh.. Kumajirou, jangan seperti itu!

jones_the_hero : Matt, kau masih merawat beruang itu sampai sekarang?

matt_maple : Hehe.. begitulah, kau kaget ya? Aku sayang padanya, dan mungkin dia juga sayang padaku

jones_the_hero : Dasar kau ini..

Tiba-tiba saja, satu layar chatting terbuka. Ada seseorang yang menyapanya. Alfred melihat siapa yang mengajaknya chatting, dalam sekejap matanya pun terbelalak lebar.

jones_the_hero : Matt, sebentar ya. Ada sesuatu yang aneh.

matt_maple: E-eh.. baiklah~

Alfred mengalihkan perhatiannya terhadap layar chatting tersebut. Sepertinya malam ini akan jadi malam yang sengit. Alfred membalas pesan chatting itu.

jones_the_hero : Mau apa kau, Alice gadungan?

alice_doremi : Oh, sekarang kau sudah bersikap dingin ya sejak bertengkar dengan Arthur.

jones_the_hero : Jangan bicara macam-macam!

alice_doremi : Dan.. yang aku dengar, Arthur mengalami kecelakaan ya?

jones_the_hero : Darimana kau tahu?

Alfred semakin kesal saja dengan kata-kata Alice tadi. Kenapa sampai Arthur kecelakaan pun orang itu tahu? Sebenarnya siapa Alice ini? Alfred hanya bisa bertanya-tanya dalam hati.

alice_doremi : Malam ini, datanglah ke rumah sakit di mana Arthur dirawat. Lebih tepatnya kamar rawatnya. Kita akan bertemu di sana.

jones_the_hero : E-eh.. apa maksudmu?

alice_doremi : Sudahlah, kau datang saja. Kau ingin tahu siapa Alice kan?

alice_doremi is now offline.

Dan lagi-lagi Alice kabur dalam sekejap.

-x-

Di tempat lain, lebih tepatnya di kamar asrama Arthur dan yang lainnya. Tino, Vash, dan Antonio sekarang hanya tinggal bertiga. Tetapi mereka tetap melanjutkan aktivitas mereka. Sejak Arthur kecelakaan, mereka belum sempat untuk menjenguk.

"Eh, kapan kita menjenguk Arthur di rumah sakit?" tanya Antonio yang sedang duduk di sofa.

"Entahlah, minggu-minggu ini aku merasa lelah sekali. Aku jadi malas.." jawab Vash yang sedang memakan roti.

Tino ikut sumbang bicara, "Nanti malam aku mau menjenguknya."

"Hee? Menjenguk kok malam? Dengan siapa?" tanya Antonio bingung.

"Dengan.."

Tiba-tiba handphone milik Tino berdering.

"Sebentar, aku ada telepon." kata Tino.

Tino berjalan menuju teras dan mengangkat telepon, ternyata dari Berwald. Berwald adalah murid yang berasal dari Sweden. Dia adalah sahabat Tino sekaligus.. kekasihnya juga.

"Halo Su-san~" kata Tino menjawab telepon.

Kemudian terdengar suara berat Berwald, "Ehm. Aku ingin menanyakan sesuatu, kau jadi nanti malam menjenguk Kirkland?"

"Iya, kita pergi bertiga ya! Ingat itu." balas Tino sambil menganggukkan kepalanya.

"Ou.. baiklah." kata Berwald singkat.

Tino tersenyum mendengarnya, "Lagipula, nanti juga ada seorang lagi yang akan datang menjenguk. Hihi!"


Next Chapter…

"Ya, aku yang berperan sebagai Alice dalam skenario Arthur."

Malam itu, mereka berempat bertemu di kamar rawat Arthur. Menemani Arthur yang masih dinyatakan koma. Alfred terkejut dalam hati mendengar cerita dari Tino, dan juga seseorang yang mengaku sebagai Alice. Alfred sudah tahu, seseorang itu adalah orang yang mengenal Arthur dari kecil. Tetapi Alfred tidak menyangka, ternyata..

"Alfred, mungkin ini akan mengejutkanmu. Tapi kau harus mengetahui hal ini. Arthur sering bercerita padaku tentang keluh kesahnya, dia juga selalu menceritakan perasaannya." kata Tino dengan tenang, Berwald yang disampingnya mengangguk.

Tino kembali melanjutkan penjelasannya, "Kau tahu? Aku yakin kau akan berpikir bahwa ini mustahil, tapi ini adalah kenyataan. Alfred, aku ingin menyampaikan perasaan Arthur padamu."

"Arthur.. menyukai dirimu.." kata orang yang mengaku menyamar sebagai Alice.

Mendengar itu, Alfred tidak bisa menyembunyikan perasaan terkejutnya. Mulutnya ternganga, diikuti tangannya yang menutup mulut ternganga itu.

"A-apa? Arthur.. menyukai diriku? Menyukai sahabatnya sendiri?"


#nowplaying Lenka – Trouble is A Friend

Hola! Akhirnya fanfic ini ke-update juga, maaf ya bagi yang udah nungguin chapter ini~ :3 begini, tadinya chapter ini aku mau selesain abis UTS awal Oktober lalu. Tapi yang ada malah ngaret karena gak ada waktu buat nyalain kompu + ide macet mendadak. Ujung-ujungnya penulisan dimulai sekitar tanggal 20-an deh. Dan lebih parahnya lagi, selesainya bulan November alias sekarang! Bah.. =A=

Oh iya, maaf untuk para readers sekalian. Chapter ini mungkin kayaknya pendek ya? Hem.. sebenarnya scene inti di sini cuma pas Peter marah-marah doang kok ke Alfred, tapi karena jadinya lebih pendek lagi kebawahnya pun aku tambahin deh. Jadi bisa dibilang, scene setelah itu hanya scene basa-basi. Scene inti selanjutnya dilanjut di chapter depan, baca aja teaser-nya~ :P

Satu lagi, saat pengeditan chapter ini aku dapat kabar kalo Indonesia udah didesain sama Himaruya-sensei! Gyaaa! Langsung ngacir ke blognya, ngeliatin desain Indo-tan. Akhirnya.. selama penantian bertahun-tahun (?) Indonesia mulai ada tanda-tanda kehidupan. Dan yang bikin senangnya lagi, ternyata Indo-tan gendernya CEWE! Yeah! XD

Oke, bagaimana dengan chapter kali ini? Bagus atau jelek? Silakan utarakan kesan dan pesan kalian untuk chapter ini lewat review ya~ :)

Thanks for RnR!

Mizuhashi Azumi