1st fanfic by~Yaklin1412
Yamamoto X OC / _
Disclaimer : Akira Amano
Mengejar Hujan
Chapter 10
"Ah, ada! Yamamoto-san disitu kosong!" Aku menunjuk ke salah satu kursi yang masih kosong.
"Ah iya! Ayo kesana!" Yamamoto-san menggandeng tanganku ke kursi yang tadi kutunjuk.
Sekarang ini aku sedang bersama dengan Yamamoto-san di kereta yang menuju ke stasiun dekat rumahku. Kami berdua bergandengan tangan karena kalau tidak bergandengan kami pasti akan terpisah di tengah keramaian begini. Tadi saja aku terpisah dari Haru walau kami bergandengan tangan.
"Haah. Akhirnya bisa duduk juga." Kuhempaskan badanku ke kursi yang kosong itu. Akhirnya setelah berjuang dan berdesakan serta berebut dengan seorang bapak-bapak aku bisa duduk juga.
"Ahaha. Kita beruntung bisa dapat kursi," kata Yamamoto-san sambil duduk di sebelah kananku. Bahu kami berdua bersentuhan karena kursinya sempit.
"Kenapa tadi Yamamoto-san mengikuti aku dan Haru pulang?" tanyaku.
"Eh i- itu. Aku tidak mengikuti kalian pulang kok. Rumahku lewat situ juga jadi sejalan. Ahaha."
"Yamamoto-san bohong. Rumah Yamamoto-san kan berlawanan arah dari rumahku dan Haru. Aku kan dulu pernah ke rumah Yamamoto-san."
Yamamoto-san hanya diam saja sambil menggaruk kepalanya. Sepertinya dia bingung mau menjawab apa.
"Jangan-jangan Yamamoto-san itu stalker yaa?" kataku lagi sambil menyikut lengannya pelan.
"Bukan kok!" katanya sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
"Kan hari sudah gelap. Aku takut nanti kau kenapa-napa di jalan," jawabnya pelan ssambil menggaruk kepalanya dan melihat ke arah lain.
"…" aku tidak bisa berkata apa-apa. Jadi Yamamoto-san mengikuti aku dan Haru karena khawatir? Aku jadi malu. Rasanya hatiku berdebar lebih kencang dan berbunga-bunga.
"Ngomong-ngomong aku baru tahu Yamamoto-san bisa memakai pedang. Yamamoto-san belajar kendo juga?" Aku mencoba memecah keheningan yang agak kikuk di antara kami.
"Ah iya. Aku diajari ayahku berpedang. Ayahku bahkan punya dojo sendiri," jawabnya sambil tersenyum lebar.
"Bukannya ayah Yamamoto-san itu pembuat sushi?"
"Ahaha. Ayahku memang bekerja sebagai pembuat sushi tapi waktu muda dulu ayahku pernah belajar pedang. Ayahku jago sekali berpedang. Aku belum ada apa-apanya."
Sepertinya Yamamoto-san bangga sekali pada ayahnya. Wajahnya terlihat berseri-seri dan sambil bercerita tangannya bergerak-gerak seakan ia tengah memegang pedang.
"Kemana pedang Yamamoto-san yang tadi?"
Sepertinya waktu ia melawan pria bernama Hibari itu ia memakai pedang besi. Tapi aku tidak melihat pedang besi itu. Yang Yamamoto-san bawa hanya sebuah pedang bambu dan sebuah tongkat baseball.
"Ada disini kok," jawab Yamamoto-san sambil mengacungkan pedang bambunya. Aku hanya mengerutkan keningku dan menatap pedang bambu itu lalu menatap Yamamoto-san lagi
"Itu kan pedang bambu?"
"Ahaha. Ini pedang spesial. Namanya Shigure Kintoki. Pedang ini kalau dalam keadaan biasa memang seperti pedang bambu biasa tapi kalau dipakai untuk jurus Shigure Soen dia akan berubah jadi sebuah pedang besi."
"Aku tidak pernah dengar soal pedang yang bisa berubah. Yamamoto-san tidak bohong kan?" Aku mengulurkan tanganku dan menyentuh pedang bambu di tangan Yamamoto-san itu. Rasanya sama saja dengan pedang bambu biasa di dojo kendo sekolah.
"Aku tidak bohong kok. Lain kali akan kuperlihatkan." Yamamoto-san memasukkan pedang bambu itu ke dalam tasnya lagi.
…
Lagi-lagi kami berdua diam. Aku masih cemas memikirkan Haru. "Haru bagaimana ya?" gumamku pelan sambil melihat keluar jendela. Langit sudah gelap sekarang.
"Jadi tadi kenapa Hibari menyerang _-san?" tanya Yamamoto-san padaku.
"Aku tidak tahu. Aku bahkan tidak pernah bertemu dengannya sebelum kejadian tadi," jawabku jujur.
"Hmmm." Yamamoto-san menaruh tangannya di dagu. Sepertinya ia masih memikirkan kenapa si Hibari itu menyerangku.
"Mungkin karena aku pernah memberi makan burungnya kuaci waktu menonton pertandingan Yamamoto-san dulu," tambahku lagi.
Yamamoto-san menatapku dengan bingung. Sepertinya penjelasanku barusan membuatnya tambah bingung.
"Kata si Hibari tadi sejak aku memberi makan burung peliharaannya tadi, burung itu jadi mogok makan."
"Oooh." Yamamoto-san menganggukkan kepalanya sambil ber-ooh ria dan tersenyum. Sepertinya rasa bingungnya sudah cukup terhapus oleh penjelasanku barusan.
"Tapi dia aneh ya. Masa' tidak tahu apa itu kuaci." Tanpa sadar aku jadi tertawa kecil mengingat orang aneh yang tadi nyaris memukul kepalaku itu.
"Oh," balas Yamamoto-san singkat.
…
Hening. Entah kenapa suasananya jadi tidak enak. Yamamoto-san juga jadi diam saja. Apa aku salah bicara?
"_-san! _-san!"
"Eh, apa?" aku buru-buru menengok, membangunkan diriku dari lamunanku.
"Ayo turun. Kita sudah sampai lho," kata Yamamoto-san.
Aku menengok ke kanan-kiri. Baru kusadari bahwa kereta sudah berhenti dan orang-orang juga sudah turun. Aku buru-buru bangkit dan keluar dari gerbong bersama Yamamoto-san. Begitu turun kami berdua hanya berdiri diam saja.
"Terima kasih ya sudah mengantarku, Yamamoto-san!" kataku memecahkan keheningan di antara kami. Aku membungkukkan badanku dan membalikkan badanku. Capeknya! Rasanya aku ingin cepat-cepat pulang, makan, lalu mandi berendam.
"Tunggu!" Yamamoto-san menahan pergelangan tanganku.
"Ada apa Yamamoto-san?" tanyaku. Aku mencoba tetap terdengar tenang padahal jantungku berdebar tidak karuan.
"Biar kuantar sampai ke rumah," katanya sambil tetap menahan pergelangan tanganku.
Aku membalikkan badan dan menganggukkan kepala. Tidak sanggup menolak Yamamoto-san. Kami berdua berdiri diam lagi sebelum Yamamoto-san pelan-pelan melepaskan tanganku.
Sepanjang perjalan ke rumahku lagi-lagi kami berdua hanya saling diam. Yamamoto-san tidak berkata apa-apa lagi semenjak dari stasiun tadi. Yang terdengar di jalan ini hanya bunyi langkah kakiku dan Yamamoto-san.
…
Aduh! Situasi ini menyebalkan sekali! Apa-apaan sih situasi ini?
"Yamamoto-san!" panggilku dengan suara yang agak keras.
"Eh? Ada apa?" Sepertinya Yamamoto-san agak kaget karena aku tiba-tiba memanggilnya.
"Kenapa dari tadi diam saja?"
"I- itu. Mmm, ti- tidak kenapa-napa kok. Ahaha," jawabnya sambil tersenyum dan menggaruk kepalanya.
"Tadi aku salah bicara ya?" tanyaku lagi. Jawaban Yamamoto-san mencurigakan. Sepertinya dia menutupi sesuatu.
"Tidak kok! _-san tidak salah!" katanya cepat sambil menatapku.
"Kalau begitu kenapa? Kalau memang aku salah bicara, Yamamoto-san jujur saja."
"…" Kenapa sih Yamamoto-san tidak mau jujur padaku? Sekarang dia malah hanya diam saja.
"_-san tidak salah. Aku yang salah," katanya sambil tersenyum. Tapi entah kenapa senyumnya itu beda dari senyumnya yang biasanya. Ada sesuatu yang lain di senyumnya. Kesedihan? Ataukah itu kebingungan?
"Maksud Yamamoto-san apa?" Aku bingung. Memangnya Yamamoto-san berbuat apa tadi?
"Aku …" kalimat Yamamoto-san terpotong oleh suara teriakan dari arah jalan di depan kami.
"KAKAAAAK!" teriak adikku sambil berlari menerjang ke arahku.
"Kakak kemana saja? Kenapa baru pulang malam-malam begini? Kakak baik-baik saja kan?" tanya adikku bertubi-tubi. Aku tidak sempat menjawab satupun pertanyaannya.
"Lho? Kak Takeshi! Kok ada disini?" tanya adikku lagi sambil menatapku dan Yamamoto-san bergantian dengan seringai yang menyebalkan.
"Ya sudah deh lebih baik kita cepat pulang dulu, kak. Ayah dan ibu khawatir sekali." Adikku menarik tanganku. Setelah beberapa langkah adikku berhenti dan menengok ke belakang.
"Kak Takeshi tidak ikut?" Aku ikut menengok dan melihat Yamamoto-san masih berdiri di tempat yang tadi.
"Tidak. Sekarang sudah malam, lebih baik aku cepat pulang," jawabnya sambil tersnyum dengan senyum khas-nya.
"Sudahlah kak Takeshi ikut saja. Sekalian makan malam di rumahku." Adikku menarik tangan Yamamoto-san dengan tangannya yang lain.
"Sebagai tanda terima kasih telah mengantar kakakku juga," kata adikku sambil menarik tanganku dan Yamamoto-san. Menyeret kami berdua ke rumahku.
"Kami pulang!" kata adikku dengan lantang. Di teras rumah ayah dan ibuku sudah menanti.
"Selamat datang! Kamu dari mana saja sih? Membuat ibu cemas saja!" Ibu dan ayahku langsung menghampiriku dan menatapku dengan tatapan lega.
"Tadi aku-" kalimatku langsung terpotong begitu ibu melihat Yamamoto-san disebelahku.
"Lho! Takeshi-kun?" tanya ibuku bingung.
"Selamat malam om, tante! Tadi saya mengantar _-san pulang. Sekarang saya permisi pulang dulu ya." Yamamoto-san membungkukkan badan dan langsung berbalik hendak pergi.
"Sudah malam. Lebih baik kau makan malam saja dulu disini," kata ayahku sambil memegang pundak Yamamoto-san.
"Eh, tapi-" Ibuku langsung memotong kata-kata Yamamoto-san, "Iya. Takeshi-kun pasti lapar, kan? Ini juga sebagai terima kasih telah mengantar _-chan pulang." Ibuku tersenyum ramah pada Yamamoto-san sementara adikku tersenyum lebar.
Yamamoto-san terlihat ragu-ragu untuk beberapa saat sebelum tersenyum dan berkata, "Baiklah. Terima kasih om, tante!" Lalu dia berjalan masuk ke dalam rumah sambil mengobrol dengan adikku. Ayah dan ibuku berjalan didepan dan langsung menuju ke ruang makan.
Aku langsung menuju ke telepon di ruang tamu dan menghubungi nomor rumah Haru. "Moshi-moshi, bisa bicara dengan Haru? Ini dari temannya," kataku begitu saluran telepon sudah terhubung.
"_-chan ya? Sebentar ya, biar om panggilkan Haru dulu," kata ayah Haru.
"Moshi-moshi. Hahiii _-chan!"
"Haru! Kau baik-baik saja kan? Aku khawatir sekali!" Leganya mendengar suara Haru.
"Haru baik-baik saja desu. Tadi Haru langsung pulang, untung kereta berikutnya kosong. _-chan sendiri?" Haru balik bertanya padaku.
"Aku juga baik-baik saja. Tadi Yamamoto-san mengantarku sampai ke rumah," jawabku.
"Hahii! Kalau begitu sekarang Yamamoto-san ada di rumah _-chan?" Entah kenapa nada suara Haru terdengar terlalu bersemangat.
"Iya. Memangnya kenapa?"
"Tidak kenapa-napa kook. Ehm ehm, ada yang lagi berbunga-bunga nih. Cieeeh."
"Apa-apaan sih Ha-chan?" Wajahku jadi memerah gara-gara Haru!
"KAKAAAK! Makanan sudah siap! Ayo makan!" panggil adikku dari ruang makan.
"Sudah dulu ya, Ha-chan. Aku sudah dipanggil makan."
"Hahii. Ya sudah deh. Besok jangan lupa cerita-cerita sama Haru ya. Hihihi," kata Haru sambil terkikik sebelum ia menutup telepon.
"Haah," kuhembuskan nafasku. Apa-apaan sih Haru? Yamamoto-san kan cuma mengantarku pulang saja. Itu bukan sesuatu yang spesial, kan?
"Sudah selesai teleponnya _-san?"
"Eh i- iya," jawabku kaget. Sejak kapan Yamamoto-san ada disini? Jangan-jangan dia dengar percakapanku dengan Haru barusan!
"Kalau sudah aku mau pinjam teleponnya sebentar. Aku mau telepon ayahku dulu."
"Ooh. Ini silahkan." Aku menyerahkan gagang telepon ke Yamamoto-san dan berjalan menjauh. Yamamoto-san mengambil gagang telepon itu dengan senyum lebar di wajahnya. Dia langsung memencet tombol-tombol di telepon itu.
"Mmm, _-san ke ruang makan duluan saja. Tak usah menungguku," kata Yamamoto-san dengan gagang telepon masih menempel di telinganya. "Atau _-san masih mau memakai telepon habis ini?"
"Ti- tidak kok. Kalau begitu aku duluan ya, Yamamoto-san," kataku cepat. Aku langsung buru-buru berjalan ke ruang makan. Aduh! Bagaimana sih aku ini? Bisa-bisanya aku bengong di depan Yamamoto-san.
Keluargaku menunggu sampai Yamamoto-san selesai menelpon dulu baru kami mulai makan. Malam ini kami makan kare ayam dan salad tuna.
Aku duduk di sebelah ibuku sementara Yamamoto-san duduk di sebelah adikku, berhadapan dengan tempat dudukku.
Makan malam hari ini sedikit lebih ramai dari biasanya karena kehadiran Yamamoto-san. Ayah dan ibuku bertanya soal sekolah Yamamoto-san sementara adikku sibuk bicara dengan Yamamoto-san tentang baseball. Aku? Aku hanya diam saja.
"Terima kasih untuk makanannya!" Setelah selesai makan Yamamoto-san merapikan piringnya dan berjalan ke bak cuci piring.
"Eh, Takeshi-kun! Tidak apa-apa biar tante yang cuci saja. Lebih baik Takeshi-kun cepat pulang, sekarang sudah gelap," kata ibuku.
"Ahaha. Tidak apa-apa tante! Ini sebagai terima kasih atas makan malamnya. Lagipula tadi aku sudah menelpon rumah kok," jawab Yamamoto-san sambil tersenyum.
"Ya sudah kalau begitu. Terima kasih ya, Takeshi-kun." Sepertinya ibu senang tidak perlu repot mengurus piring lagi.
"Sini, biar kubantu." Aku menghampiri Yamamoto-san dan mengambil salah satu piring kotor dan mulai mencuci.
"Tidak apa-apa kok! Aku bisa sendiri _-san."
"Sudahlah. Biar lebih cepat selesai, ok?" Aku merasa tidak enak hati. Yamamoto-san sudah mengantarku pulang masih juga membantu mencuci piring di rumahku. Padahal sekarang kan sudah malam. Sudah jam setengah 8 lebih.
"Terima kasih ya!"
"Apa tidak apa-apa Yamamoto-san pulang sendiri?" tanyaku cemas. "Tidak apa-apa kok!" jawab Yamamoto-san dengan senyum cerianya seperti biasa.
Kami berdua ada di depan pintu rumahku sekarang. Cucian piring sudah beres dan jam menunjukkan pukul 8 malam sekarang.
"Kalau begitu hati-hati ya, Yamamoto-san," kataku sambil mencoba tersenyum walaupun aku merasa cemas. Sebetulnya aku masih penasaran kenapa tadi Yamamoto-san diam saja di kereta, tapi …
Ya sudahlah, sekarang kan sudah malam. Hal itu bisa kutanyakan lain kali.
"Ahaha. Iya, iya aku akan hati-hati." Yamamoto-san berbalik badan dan berjalan pergi namun tiba-tiba ia berhenti dan berbalik lagi.
"_-san. Soal tadi waktu aku diam saja itu karena …" Yamamoto-san diam sambil menggaruk lehernya. Aku hanya berdiri diam, menunggu Yamamoto-san melanjutkan kalimatnya.
"Aku. Mmm, bagaimana ya bilangnya? Aku entah kenapa aku merasa kesal habis mendengar _-san membicarakan soal Hibari. Mmm yaah kurang lebih begitulah. Ahaha."
Yamamoto-san mengalihkan pandangannya ke arah lain sementara aku hanya bisa berdiri diam. Bingung mau menjawab apa.
"Kalau begitu aku pulang dulu, ya." Lalu Yamamoto-san langsung berlari pulang, meninggalkanku dalam kebingungan.
"…entah kenapa aku merasa kesal habis mendengar _-san membicarakan soal Hibari…"
Apa arti kata-kata Yamamoto-san itu?
"Itu artinya Yamamoto-san cemburu pada si Hibari-san itu desu!" kata Haru dengan ceria.
"Apa-apaan sih, Ha-chan? Buat apa sih Yamamoto-san cemburu?" balasku dengan wajah agak memerah karena mengingat kejadian kemarin.
Aku baru saja selesai bercerita soal kejadian pada hari Senin itu ke Haru. Hari ini sudah hari Jumat. Kemarin-kemarin aku tidak sempat bercerita pada Haru karena banyaknya ulangan.
"Wajar saja Yamamoto-san cemburu! Pria mana sih yang tidak cemburu kalau gadis yang mereka suka membicarakan pria lain."
"Ha-chan! Yamamoto-san tidak suka padaku! Mana mungkin sih?" Yang benar saja, sih. Mana mungkin Yamamoto-san yang begitu populer bisa suka pada gadis biasa sepertiku?
"Hahii! Kenapa tidak mungkin sih! _-chan itu manis, baik, dan pintar! Mana mungkin ada pria yang bisa tak menyukai _-chan!" kata Haru sambil mencubit pipiku.
"_-chan hanya perlu lebih percaya diri saja." Haru melepaskan cubitannya dan tersenyum lembut padaku. Aku hanya bisa balas tersenyum saja. Lebih percaya diri lagi, ya?
"Aku akan berusaha," jawabku pelan. Haru mengangguk-angguk senang mendengar jawabanku itu.
"Begitu dong, _-chan! Kau harus lebih percaya diri! Aku yakin perasaanmu pasti akan sampai kalau kau lebih percaya diri!" Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum saja menanggapi Haru.
Tanpa terasa kereta kami sudah berhenti. Aku dan Haru langsung berjalan keluar dari kereta bersama penumpang lainnya. Setelah saling mengucapkan salam, kami pun pergi ke arah rumah kami masing-masing. Rumahku dan Haru berlawanan arah walau stasiun kereta kami sama.
Ketika aku sudah hampir keluar dari stasiun Haru memanggilku, "_-chan!"
"Apa?" tanyaku sambil menengok menatapnya.
"Jangan lupa, ya besok kita ada janji pergi dengan Kyoko-chan dan Hana-san!"
"Oh, iya!" Aku baru saja teringat bahwa Sabtu besok aku sudah janji pergi dengan Haru, Kyoko, dan Hana. "Terima kasih ya, sudah mengingatkanku!"
"Hahii! Tidak apa-apa kok!"
Setelah itu akhirnya kami saling berpamitan lagi. Walaupun begitu tanpa kusadari Haru belum berjalan pergi dan dia tengah menatapku yang sedang berjalan menjauh sambil tersenyum nakal.
"Haru yakin pasti perasaan _-chan akan tersampaikan jika _-chan lebih percaya diri dan juga dengan sedikit bantuan," kata Haru sambil menatap handphone-nya dan menatap sosokku yang berjalan menjauh.
Semakin dekat jarak diantara kita aku terkadang merasa semakin bingung, apa yang harus kulakukan pada perasaan ini?
~oOo~
Update! Hai minnaaa~!
Buat yang menunggu cerita ini (kayak ada yang nunggu aja *jleb*) maaf ya buat penantiannya! Buat yang baru mulai baca saya harap semoga anda senang dengan cerita ini! Oh ya saya bikin semacam cover buat fic ini!
Silahkan cari di google, type aja "Yamamoto mengejar hujan deviantart yaklin"..
Pasti langsung keluar!
Saya penasaran, orang lebih senang review nya dibalas lewat pm atau di fic?
Oh ya saya lagi mengikuti lomba photo di fb..
Pertama like .com/dolldelightpage?ref=ts
terus like gambar ini .?fbid=1689654845957&set=o.120801697943327&type=1&ref=nf
Bantuan anda sangat saya hargai!
Dan jangan lupa REVIEW nya!
