The Truth About Forever
[REMAKE]
Last Chapter :
Chanyeol tak menjawab karena dia sendiri sedang susah payah untuk tidak menangis. Sekarang, Chanyeol juga menyesal sudah memberitahu Sehun soal penyakitnya. Dia pikir, Sehun satu-satunya orang yang cukup kuat untuk menerimanya. Ternyata, bahkan Sehun pun tidak sanggup. Seharusnya, dari awal Chanyeol tidak meminta bantuan pada siapa pun. Seharusnya, memang dari awal Chanyeol hidup sendiri.
Enjoy reading!
CHAPTER 10
Another Lie
Kyungsoo menatap langit-langit kamarnya hampa. Semalaman, dia tidak bisa tidur lagi, belum bisa menerima kenyataan bahwa Chanyeol adalah seorang gay. Kyungsoo masih sulit mempercayainya. Kyungsoo setengah mati berharap Chanyeol hanya berbohong, tetapi yang Kyungsoo lihat kemarin terlalu meyakinkan. Bahkan, Chanyeol memanggil namanya dan memeluknya.
Kyungsoo terduduk lemah. Kyungsoo merasa terlalu lemah dengan semua ini, tetapi Kyungsoo tidak pernah menyesal telah menyukai Chanyeol. Sampai sekarang pun, Kyungsoo masih menyukai Chanyeol walaupun Chanyeol tidak mungkin menyukainya.
Kyungsoo tidak tahu harus melakukan apa dan bersikap bagaimana di depan Chanyeol. Kyungsoo tidak jijik padanya karena dia seorang gay, tetapi Kyungsoo terlalu menyukainya sampai tidak mampu menatapnya. Kyungsoo membentur-benturkan kepalanya ke lututnya, berharap bahwa semalam tidak pernah terjadi apa-apa. Mendadak semua kenangannya bersama Chanyeol terputar di otaknya. Kyungsoo benar-benar tidak mau percaya. Tiba-tiba ponsel Kyungsoo berdering. Baekhyun meneleponnya. Kyungsoo cepat mengangkatnya.
"Kok gak kuliah?" seru Baekhyun dari seberang. "Kenapa? Kamu sakit?" Belum sempat menjawab, Kyungsoo sudah keburu terisak.
"Kyungsoo? Kamu kenapa? Ada apa?" tanya Baekhyun panik sementara isakan Kyungsoo semakin menjadi - jadi.
"Baekhyun..." gumam Kyungsoo, dan selanjutnya cerita semalam mengalir seperti air bah. Di ujung sana, Baekhyun terdiam, tak bisa berkata apa-apa.
"Dia... gay?" kata Baekhyun lambat-lambat, tak percaya. Kyungsoo semakin terisak. "Kamu tunggu ya! Aku langsung ke kost-mu sekarang!"
Baekhyun memutuskan sambungan sementara Kyungsoo kembali tersuruk di antara bantal-bantalnya.
Baekhyun sekarang sudah berada di kost Kyungsoo, memegang tangannya erat-erat. Baekhyun benar-benar tidak habis pikir dengan cobaan yang dialami Kyungsoo tanpa berkesudahan. Sudah cukup Chanyeol adalah seorang HIV positif, sekarang ditanbah kenyataan bahwa Chanyeol menderita penyakit itu gara-gara hubungan sesama jenis. Baekhyun jadi semakin menyesal kenapa kemarin-kemarin dia malah memberi semangat pada sahabatnya itu.
"Maafin aku, ya," sesal Baekhyun membuat Kyungsoo menatapnya.
"Kenapa? Emang kamu salah apa?" tanya Kyungsoo dengan suara serak.
"Karena kemarin aku sudah bilang yang gak-gak. Soal takdir itu," jawab Baekhyun hati-hati. Kyungsoo tersenyum menatap sahabatnya itu.
"Gak apa-apa. Bukan salah kamu," balas Kyungsoo pelan.
Baekhyun menatap Kyungsoo lama. Baekhyun tahu kesedihan Kyungsoo hanya dengan melihatnya. Hati Kyungsoo sudah hancur, tetapi gadis itu berusaha mati-matian untuk tegar.
"Terus... kamu mau gimana?" tanya Baekhyun.
Kyungsoo terdiam sejenak, lalu tersenyum dengan sisa-sisa kekuatannya.
"Aku gak bisa ngejauhin dia. Perasaanku masih sama, bahkan setelah tahu dia gay. Aku gak bisa lantas benci sama dia," ujar Kyungsoo lirih.
"Jangan maksain diri" kata Baekhyun. "Dia pasti ngerti."
"Ngga. Aku mau nemenin dia sampe dia pergi. Itu sudah keputusanku."
Baekhyun menatap Kyungsoo sedih. "Tapi, Kan, dia bisa aja nyakitin kamu lagi," katanya membuat Kyungsoo menggeleng.
"Baek, apa lagi yang tersisa buat disakitin?" Kyungsoo tersenyun getir. "Dia mungkin gak suka sama aku. Tapi, aku gak pernah nyesal pernah suka sama dia. Dia... sedikit banyak sudah ngasih aku pelajaran. Dia sangat menghargai orang lain sampe dia mau hidup sendirian. Itu yang bikin aku gak bisa ninggalin dia."
Baekhyun menatap Kyungsoo, matanya masih menyiratkan ketidakpercayaan. Sebenarnya, Baekhyun ingin berteriak pada Kyungsoo agar tidak. Berhubungan lagi dengan Chanyeol. Kyungsoo menghela napas melihat kekhawatiran Baekhyun.
"Baek, di luar dia HIV positif dan seorang gay, dia butuh seseorang. Kita semua butuh seseorang," kata Kyungsoo.
"Tapi, kenapa harus kamu?" tanya Baekhyun lagi membuat Kyungsoo tersenyum lembut.
"Mungkin karena ini takdir. Seperti yang kamu bilang," jawab Kyungsoo membuat Baekhyun terkesiap.
Kyungsoo sudah mengambil keputusan. Kyungsoo tidak akan menjauhi Chanyeol. Kyungsoo akan menerima Chanyeol apa adanya walaupun itu berarti cinta Kyungsoo tidak akan terbalas. Kyungsoo akan berusaha semampunya untuk mendukung Chanyeol.
Baekhyun mempererat genggamannya pada tangan Kyungsoo, mengangumi kekuatan hati sahabatnya itu. Kyungsoo juga sudah tidak menangis lagi. Dia berjanji dalam hati untuk menjadi lebih kuat, agar bisa menemani Chanyeol tanpa membebaninya.
Chanyeol menatap kosong langit penuh bintang di atasnya. Pikiran Chanyeol melayang ke mana -mana, dari kenangan masa SMA-nya sampai kejadian beberapa malam lalu saat dia mengaku gay pada Kyungsoo. Dan, sekarang, wajah sedih Kyungsoo memenuhi kepalanya.
Mendadak, terdengar suara seperti pintu yang ditendang paksa. Chanyeol menoleh dan mendapati Kyungsoo sudah berdiri di sana dengan kedua tangan memegang mug yang mengepul. Di wajahnya, terpasang cengiran nakal.
Chanyeol menatapnya nanar. Cewek itu masih saja mau mencarinya, bahkan setelah tahu dia gay. Kali ini, Chanyeol benar-benar tak habis pikir. Chanyeol menyerah untuk mengerti cewek yang satu ini.
Kyungsoo menghampiri Chanyeol, lalu duduk di sebelahnya. Dia menyodorkan mug plastik berisi susu coklat pada Chanyeol. Chanyeol menerimanya dan mengangguk kecil sambil mengucapkan terima kasih.
"Wah, bintangnya lagi banyak, ya?" ujar Kyungsoo sambil mendongak. Chanyeol tak mejawabnya. Menyeruput susu cokelatnya. Kyungsoo menatap Chanyeol.
"Gimana Chan?, udah ketemu?" tanya Kyungsoo membuat Chanyeol menatapnya heran. "Suho. Udah ketemu belum?"
Chanyeol melotot mendengar pertanyaan Kyungsoo. Chanyeol sama sekali tidak menyangka Kyungsoo akan membahas masalah ini dengannya. Dia pikir Kyungsoo akan jijik padanya dan menghindar, tapi perkiraannya salah. Cewek ini ternyata benar-benar ingin mencampuri hidupnya.
"Belum," jawab Chanyeol setelah terdiam beberapa detik. Kyungsoo mengangguk-angguk.
"Eh Chan, aku punya ide bagus," kata Kyungsoo membuat Chanyeol kembali menatapnya. "Gimana kalo aku bantuin nyari di kampusku? Aku bakal tanya-tanyain di semua jurusan. Gimana?"
Chanyeol hampir saja menganga. Dia bahkan sudah melakukannya, tetapi untungnya Kyungsoo sibuk menghirup susu cokelatnya, jadi tidak sempat menyadarinya. Chanyeol mengatupkan mulutnya. Gelas di tangannya sudah hampir remuk.
Chanyeol tidak tahu mengapa dia bisa sebegini kesal, tetapi perkataan Kyungsoo barusan membuat darahnya naik ke kepala. Bisa-bisanya cewek itu mengatakan akan membantu Chanyeol mencari Suho, padahal kemarin-kemarin dia bilang sayang dan sebagainya.
"Kenapa lo ngelakuin ini?" tanya Chanyeol kemudian, membuat Kyungsoo menatapnya. Chanyeol balas menatap Kyungsoo tajam. "Kenapa lo mau ngebantu gue?"
"Chan, dulu aku pernah bilang kan, kalo aku mau nemenin kamu?" Kyungsoo berkata lembut. "Sekarang, mungkin kita udah gak bisa bersama, tapi aku tetap mau bantu kamu. Sebagai teman. Boleh, kan?"
Chanyeol mengalihkan pandangannya dari Kyungsoo. Tentu saja. Perasaan Kyungsoo kemarin memang cuma simpati, makanya sekarang dia sudah melupakannya dan memutuskan untuk membantunya. Chanyeol menertawai kebodohannnya sendiri dalam hati. Sekarang, Chanyeol hanya harus berhati-hati untuk tidak terbawa oleh perasaannya sendiri. Chanyeol harus meneruskan perannya.
"Hei," ujar Kyungsoo membuat Chanyeol menoleh. "Jangan khawatirin perasaanku. Aku pa sti bisa baik- baik saja."
Mata Chanyeol melebar setelah mendengar perkataan Kyungsoo. Pikiran Chanyeol ternyata salah besar. Cewek itu masih menyukainya, hanya saja dia berusaha untuk kelihatan tegar. Perasaan Kyungsoo untuknya ternyata tulus. Hati Chanyeol terasa sakit mengetahui ini. Tidak seharusnya dia berbohong pada cewek ini, tetapi Chanyeol tak mau mengambil resiko. Menyelamatkan Kyungsoo dari masa depan suram bersamanya adalah tugas utamanya sekarang.
"Boleh aja," kata Chanyeol akhirnya, kemudian tersenyum pada Kyungsoo. "Thanks ya. Lo udah baik banget sama gue selama ini."
Kyungsoo balas tersenyum, lalu mengangguk. Kalau saja Chanyeol tidak bisa menahan diri, dia pasti sudah menangis di depan Kyungsoo. Chanyeol mengalihkan pandangannya, sebisa mungkin tidak melihat cewek itu.
"Chan, karena sekarang kita temen, kamu bisa kan cerita sama aku?" tanya Kyungsoo ceria. Kyungsoo tak mau terlihat sedih di depan Chanyeol.
"Hm, cerita apa ya?" kata Chanyeol. "Gimana kalo... Si kancil?"
Kyungsoo tertawa lepas mendengar gurauan Chanyeol, tetapi di dalam hatinya dia sedih, baru kali ini Chanyeol mau bercanda dengannya. Chanyeol sendiri menolak untuk melirik Kyungsoo. Selama beberapa saat, Kyungsoo dan Chanyeol sama-sama terdiam, sibuk dengan pikiran masing- masing. Kyungsoo tiba-tiba bergidik.
"Kamu gak kedinginan?" tanya Kyungsoo.
"Gak," jawab Chanyeol.
"Aku kedinginan nih. Aku turun duluan ya?" Kyungsoo bangkit dan membersihkan celananya, lalu bergerak ke pintu.
"Kyungsoo," panggil Chanyeol membuat Kyungsoo menoleh. Chanyeol mengangkat mug plastik yang dipegangya.
"Makasih ya."
Kyungsoo mengangguk, lalu meneruskan berjalan. Beberapa langkah kemudian, dia kembali menoleh.
"Chan," kata Kyungsoo membuat Chanyeol menatapnya. "Kalo ada apa-apa, kamu boleh cerita sama aku. Kalo aku bisa, aku pasti bantu kamu."
"Oke. Thanks ya," kata Chanyeol, dan Kyungsoo menghilang di balik pintu.
Chanyeol menatap pintu itu lama dan setelah yakin Kyungsoo sudah tidak ada di sana, air matanya mulai mengalir tanpa bisa dihentikannya. Dari sekian banyak penderitaan yang pernah dilaluinya, inilah yang paling menyakitkan. Sebelumnya, Chanyeol sudah parah menerima penyakitnya dan siap mati, tetapi semenjak bertemu Kyungsoo, Chanyeol menjadi sangat marah pada Tuhan.
"Kenapa..." gumam Chanyeol geram. Matanya menatap langit yang berbintang. "Kenapa harus dipertemukan sama dia kalau harus dipisahin lagi?"
Gelas di tangan Chanyeol sudah remuk, isinya tumpah. Tangannya terkepal keras dan gemetar hebat. Dia menunduk, dan tetesan air matanya dengan segera membasahi lantai semen yang dingin.
Kyungsoo tersaruk menuju kamarnya. Air mata sudah menetes di pipinya. Dia masuk dan menutup pintu, lalu merosot ke lantai. Ternyata, perasaan Kyungsoo terhadap Chanyeol masih sama besarnya seperti sebelum Chanyeol berkata dia gay. Kyungsoo masih belum bisa sepenuhnya merelakan Chanyeol. Kyungsoo masih saja berharap Chanyeol akan berkata bahwa dia bohong soal perkataannya itu.
Namun, kemudian Kyungsoo tersadar. Sekarang sudah tidak ada gunanya lagi terus-terusan memikirkan itu. Kyungsoo harus mengesampingkan perasaannya untuk membantu Chanyeol. Chanyeol membutuhkan teman, dan hal itulah yang akan dilakukan Kyungsoo. Kyungsoo akan menjadi kuat untuk menolong Chanyeol.
Kyungsoo menghapus air matanya, dan tanpa sengaja dia melirik komputernya. Tiba-tiba, dia mendapatkan ide. Kyungsoo menyalakan komputernya, lalu mulai mengetik.
Hari ini, Chanyeol sedang mencari Suho di Universitas Negeri Yogyakarta Fakultas Olahraga. Namun, tampaknya orang itu tidak berkuliah di sini.
Chanyeol menghela napas, lalu membuka handycam-nya. Di dalam handycam-nya itu, terdapat kaset yang selalu dihindarinya. Kaset dengan judul : Anyer 2014. Chanyeol menggigit bibirnya ragu, tetapi dinyalakannya juga handycam itu.
Mata Chanyeol terasa panas karena tidak berkedip saat menonton film yang terputar di sana. Rahangya mengeras. Mungkin seharusnya dia tidak pernah menonton film ini lagi. Mungkin seharusnya Chanyeol membuangnya.
Film ini mengingatkan pada semua hal yang telah hilang darinya. Keluarganya. Sahabatnya. Kekasihnya. Mimpinya. Hidupnya. Setetes air jatuh di layar handycam itu. Tetes air yang berasal dari mata Chanyeol.
Kyungsoo mengendarai motornya tanpa semangat. Tadi di dekat kampus, dia hampir menabrak seseorang karena melamun. Barusan di dekat kost-nya, dia juga hampir menabrak Heechul yang baru pulang dari warung. Kyungsoo mematikan motornya dan mendorongnya masuk ke garasi. Dia membuka helm dan menyangkutkannya di spion tanpa semangat. Heechul menatap wajah Kyungsoo yang kusut.
"Ngopo Kyung?" tanyanya bingung.
"Ra popo," jawab Kyungsoo lesu sambil naik ke tingkat dua.
Tadi di kampus, Kyungsoo mencari orang yang sedang dicari Chanyeol selama ini. Namun, tak satupun dari orang-orang yang ditanyainya bernama Suho, ataupun mengenalnya. Kyungsoo merasa tak akan pernah menemukan oramg itu kalau caranya seperti ini.
Kyungsoo menghela napas lagi, lalu menggeleng-geleng. Kyungsoo akan melakukan apa pun untuk membantu Chanyeol, tak peduli yang sedang dicarinya itu pasangan sejenis atau siapapun. Kyungsoo mengangguk semangat, tak mau terlihat sedih di depan Chanyeol. Ketika sampai di lantai dua, Kyungsoo terpaku melihat seorang cewek yang sedang berdiri di depan kamar Chanyeol. Cewek itu menoleh dengan wajah cemas, lalu tersenyum dan mengangguk pada Kyungsoo. Kyungsoo balas mengangguk, tapi masih heran.
"Halo," sapa cewek itu ramah. "Kamu kost di sini?"
"Iya," jawab Kyungsoo. Ekspresi cewek itu segera berubah ceria. Kyungsoo mengamati cewek yang cantik dan semampai itu.
"Kamu... kenal sama Chanyeol?" tanya cewek itu lagi.
"Kenal. Itu kamar dia," jawab Kyungsoo lagi, tapi entah mengapa firasatnya terhadap cewek ini tidak bagus. Cewek itu sendiri masih tersenyum penuh semangat.
"Dia lagi keluar ya?"
"Mungkin," jawab Kyungsoo. "Kamu... siapa ya?"
Ketika cewek itu akan baru mejawab, terdengar suara orang sedang menaiki tangga. Chanyeol muncul dari tangga dengan wajah lelah. Dia sedang memijati lehernya dan segera terpaku saat melihat sosok cewek di depan kamarnya.
Chanyeol serasa tidak bisa melakukan apa-apa, baik bernafas maupun bergerak, saat melihat cewek itu. Cewek itu sendiri mekap mulut, lalu berlari ke arah Chanyeol dan memeluknya erat. Chanyeol terlalu kaget sampai tidak bisa menghindar.
"Chanyeol!" sahut cewek itu, air matanya mengalir. "Aku pikir aku gak bakal ketemu sama kamu lagi!"
"Seul.. gi...?" gumam Chanyeol, masih terlalu terkejut. Seulgi mempererat pelukannya.
"Maafin aku, maafin aku. Aku janji gak bakal ninggalin kamu lagi..." Seulgi sudah terisak. "Aku nyesel udah ninggalin kamu. Maafin aku"
Chanyeol merasa seluruh tubuhnya membeku, termasuk lidahnya. Dia sama sekali tidak menyangka Seulgi akan menyusulnya dan meminta maaf. Chanyeol berusaha mengambil napas, dan saat itulah, dia menyadari keberadaan Kyungsoo yang sedang menatapnya marah.
Kedua tangan Kyungsoo gemetar di samping pahanya. Kyungsoo sangat marah sampai ingin meninju Chanyeol di tempat, tetapi tidak dilakukannya. Entah mengapa, Kyungsoo hanya bisa terdiam menonton adegan romantis si pembohong Chanyeol dan mungkin pacarnya.
Chanyeol balas menatap Kyungsoo sambil berpikir keras sementara Seulgi masih terisak di pelukannya. Chanyeol akhirnya balas memeluk Seulgi, membuat Kyungsoo memalingkan pandangannya.
Chanyeol berusaha untuk tidak melihat bagaimana Kyungsoo menangis. Chanyeol juga menahan segala keinginannya untuk menahan Kyungsoo saat cewek itu melewatinya dan berderap turun. Yang sekarang Chanyeol pikirkan hanyalah, bagaimana Kyungsoo bisa menjauhinya, apa pun caranya.
"Apa kabar Chan?" tanya Seulgi.
Sekarang, mereka ada di lantai tiga. Seulgi menatap punggung Chanyeol yang tampak jauh lebih kurus dari yang pernah diingatnya.
"Begitu aja," jawab Chanyeol pendek. "Jadi tahu dari mana alamat ini?"
"Aku telpon Sehun, terus aku ancam dia. Akhirnya, dia ngasih tahu alamat kamu," kata Seulgi. Chanyeol mendengus. Tentu saja, Sehun. Hanya Sehun satu-satunya orang yang tahu di mana Chanyeol tinggal.
"Terus ngapain ke sini?" tanya Chanyeol lagi.
"Aku... maafin aku, Chan," kata Seulgi pelan. "Dulu, kita masih muda. Dulu, aku gak pernah berpikir kalo aku bakal sangat kehilangan kamu." Chanyeol tak berkomentar. Dia menatap langit yang berwarna kemerahan. Angin Yogya yang sejuk membawa wangi bunga kenanga yang ditanam ibu kost di taman bawah. Mendadak, Chanyeol merasa melankolis.
"Chan, aku bener-bener bodoh udah ninggalin kamu," kata Seulgi lagi. "Sekarang, aku sadar kalo aku..."
"Kamu udah bener," potong Chanyeol membuat Seulgi menatapnya. "Kamu dulu udah membuat keputusan yang benar, ninggalin aku. Jangan mikir macem-macem lagi. Aku udah gak apa-apa kok."
"Tapi, aku masih sa..."
"Kalo memang kamu masih sayang sama aku, tolong bantu aku. Kamu ngerti, kan?" desak Chanyeol, kemudian duduk di samping Seulgi.
"Aku udah maafin kamu," kata Chanyeol. "Dulu mungkin aku gak bisa terima alasan kamu ninggalin aku, tapi, sekarang aku udah ngerelain kamu."
Seulgi menatap Chanyeol yang menolak menatapnya balik. Air mata Seulgi sudah jatuh.
"Beneran kamu mau maafin aku?" tanya Seulgi.
Chanyeol mengangguk, lalu menepuk kepala Seulgi, membuat cewek itu langsung terisak.
"Jangan nangis dong," Chanyeol mengacak rambut Seulgi. "Thanks ya, udah dateng ke sini."
Seulgi mengangguk di sela-sela tangisannya. Seulgi benar-benar menyesal telah meninggalkan Chanyeol dulu. Sampai sekarang Seulgi masih tak mengerti, kenapa Tuhan memilih Chanyeol untuk menerima penyakit ini, penyakit yang merenggut semua kebahagiaannya.
"Chan..." kata Seulgi sambil menatap Chanyeol. "Jangan cari dia lagi."
Chanyeol menatap Seulgi sebentar, lalu mengalihkan pandangannya. "Gak bisa. Aku harus cari dia sampe ketemu. Setelah itu, aku gak peduli"
"Chan, kamu harus peduli! Kamu masih punya mamamu, kamu masih punya aku! Jangan cari Suho lagi, Chan, aku mohon!" seru Seulgi sambil menarik tangan Chanyeol.
"Karena dia, aku kena penyakit sialan ini. Kamu ngerti, kan?"
Seulgi menatap khawatir Chanyeol yang tampak emosi. "Chan, janji sama aku, jangan ngelakuin hal- hal bodoh. Janji"
"Soal yang satu ini, aku gak bisa ngejanjiin apa pun," balas Chanyeol keras kepala. "Thanks karena udah mikirin aku"
Seulgi terisak lagi, memikirkan Chanyeol yang sudah berada jauh di luar jangkauannya. Sehun memang sudah memperingatkannya, tetapi dia tidak menyangka Chanyeol akan jadi seperti ini. Benar-benar bukan Chanyeol yang dulu pernah dikenalnya.
"Seulgi," kata Chanyeol kemudian. "Jangan pernah mikirin aku lagi. Kamu juga harus nerusin hidup kamu. Kamu udah punya cowok, kan?"
Seulgi menyeka air matanya sambil melirik Chanyeol nyengir.
"Yah, masa sih, kamu jomblo terus selama empat tahun."
"Hatiku sakit banget lho denger kamu ngomong begitu," tukas Seulgi membuat cengiran Chanyeol lenyap. "Denger kamu bisa nanya begitu, seolah-olah kamu udah bener-bener mgelupain aku."
Chanyeol terdiam.
"Maaf," katanya kemudian.
Seulgi mengamati Chanyeol yang sudah kembali menatap lurus.
"Chan," kata Seulgi. "Kamu... suka cewek yang tadi, ya?"
Chanyeol menoleh pada Seulgi yang tampak serius, lalu segera mengalihkan pandangannya. Tak lama kemudian, Chanyeol mengangguk. Seulgi menghela napas.
"Udah aku kira," kata Seulgi. "Apa dia... udah tahu?"
Chanyeol mengangguk lagi. "Dari awal dia udah tahu dan dia bisa terima," kata Chanyeol membuat Seulgi mengangguk-angguk.
"Aku kagum sama dia," ujar Seulgi, matanya menerawang. "Aku bener-bener minta maaf," kata Seulgi lagi. "Aku tahu ini mungkin udah sangat terlambat, tapi kapan pun kamu ngebutuhin aku, aku gak akan lari lagi."
Chanyeol menatap Seulgi lama, lalu tersenyum tulus.
"Thanks."
Mereka kemudian menghabiskan petang itu dalam diam.
Kyungsoo melangkahkan kakinya menuju tangga, berharap kalau Chanyeol tidak ada. Mata Kyungsoo sudah bengkak karena terlalu banyak menangis di kost Baekhyun tadi, dan Chanyeol adalah makhluk terakhir yang mau dilihatnya.
Ketika Kyungsoo muncul dari tangga, Chanyeol baru kembali dari kamar mandi dengan handuk tersampir di bahunya. Kyungsoo menatap Chanyeol marah, lalu berderap menuju kamarnya. Chanyeol menatap Kyungsoo yang tampak enggan menatapnya balik.
"Jadi, itu yang namanya Suho? Cantik." sindir Kyungsoo sebelum masuk kamar, tak tahan untuk bertanya. Chanyeol malah bersandar di dinding sambil memandang Kyungsoo malas.
"Namanya Seulgi." Jawaban Chanyeol membuat Kyungsoo melotot.
Kyungsoo mengambil sepatu dan melempar Chanyeol dengan sepatu itu. Chanyeol bahkan tidak mengelak dan membiarkan dadanya terpukul. Air mata Kyungsoo sekarang sudah jatuh lagi.
"Kamu kejam! Aku bahkan gak mau tahu namanya!" sahut Kyungsoo emosi. Chanyeol hanya menatapnya datar.
Sementara Kyungsoo berusaha untuk menenangkan diri, Chanyeol mengambil sepatu yang tadi dilempar Kyungsoo dan meletakkannya kembali ke rak sepatu. Dia lalu menghela napas, berusaha menatap ke arah lain selain Kyungsoo yang masih menatapnya marah.
"Kenapa sih, kamu bohong terus?" tanya Kyungsoo lagi, hampir menjerit. "Kenapa kamu harus sekejam ini sama aku? Kenapa?"
"Sorry," kata Chanyeol membuat alis mata Kyungsoo terangkat tinggi. "Gue gak bermaksud nyakitin..."
"Gak bermaksud?" teriak Kyungsoo tak percaya. "Gak bermaksud kamu bilang? Kamu pake segala cara buat ngejauhin aku dari kamu!"
Chanyeol terdiam, sementara Kyungsoo sudah memukul-mukul dadanya sambil terisak.
"Kenapa kamu harus bilang kamu gay? Kenapa kamu seneng banget nyakitin aku?" seru Kyungsoo lagi. "Kalo memang segitu gak sukanya sama aku, kenapa gak bilang terus terang?"
"Gue gak suka sama lo!" sahut Chanyeol membuat Kyungsoo terdiam dan berhenti memukulinya. Chanyeol menatap Kyungsoo serius. "Lo mau gue bilang itu, kan? Gue bilang sekarang, gue gak suka sama lo. Gue udah kasih peringatan ke lo dari awal. Tapi, lo tetep mau tahu urusan gue. Gue gak tahu lagi gimana caranya supaya lo ngejauh dari gue, dan terus terang aja gue gak tega ngomong langsung kalo gue gak suka sama cewek desa kayak lo!"
Chanyeol tersengal setelah mengatakan semua itu pada Kyungsoo. Kyungsoo hanya menatap Chanyeol tanpa berkedip, membuat air matanya mengalir semakin deras.
"Apa kamu bisa lebih kejam lagi dari ini?" Chanyeol terdiam menatap Kyungsoo yang sudah gemetar hebat.
"Maaf. Tapi, Seulgi adalah satu-satunya cewek buat gue. Dari dulu sampe sekarang, cuma dia yang ada di hati gue. Gak akan ada yang bisa ngegantiin dia," kata Chanyeol membuat Kyungsoo tersenyum miris.
Kyungsoo berderap menuju kamarnya, bergerak masuk dan membanting pintunya. Chanyeol menatapnya tanpa bisa berbuat banyak. Misi berhasil. Sekarang yang harus Chanyeol lakukan adalah pergi secepatnya dari kost ini.
-to be continued-
