The Moon That Embraces The Sun

Disclaimer: Remake story K-drama The Moon That Embraces The Sun. Couple tetep KyuHyuk.

Warning: Genderswitch for uke

Cast:

-Kyuhyun(Lee Hwon) -Eunhyuk/Hyukjae(YeonWoo/Wol) -Siwon(YangMyung) -Sungmin(BoKyung) -Hankyung(HeoYeom) -Heechul(MinHwa) -Jungsoo/Kasim Park(Kasim HyungSun) -Jongwoon(Chae Woon) -Jihyun(Seul) -Kibum (JanShil)

& other cast

Happy reading

"Bisakah kau menidurkan semua kepedihanku." Kyuhyun mengatakannya dengan nada menantang seakan-akan ingin membuktikan apa yang pernah Hyukjae katakan padanya.

"Hamba akan melakukan apapun yang bisa hamba lakukan."

"Angkatlah wajahmu." Pinta Kyuhyun.

Pelan-pelan Hyukjae mengangkat wajahnya menatap Kyuhyun.

Tepat saat itu Sungmin membuka pintu kamar Raja. Ia terkejut melihat Raja berdiri memandangi seorang gadis, peramal itu. Belum sempat ia bereaksi, seseorang menutup pintunya. Jongwoon.

Sungmin melirik marah pada Woon. Woon tidak berkata apa-apa. Sungmin melihat para dayang dan Kasim Park yang cemas menunggu reaksinya. Ia melepas pegangan pintu dan berbalik.

Pada Kasim Park ia memaksakan sebuah senyum, "aku hanya mencemaskan Jeonha."

Kasim Park mengangguk. Sungmin pergi dengan menekan seluruh kemarahannya.

Kasim Park menghela nafas lega. Tapi tiba-tiba ia dipanggil oleh Kyuhyun.

"Panggil tabib istana untuk datang ke kediamanku." Ujar Kyuhyun.

"Apa Jeonha sakit." Tanya Jungsoo.

Kyuhyun tak melepaskan pandangannya dari wajah Hyukjae.

"Bukan aku, tapi gadis ini." Kyuhyun melihat luka di wajah Hyukjae. Hyukjae dan kasim Park terkejut.

"Tapi Jeonha, tabib istana dikhususkan untuk merawat Jeonha saja. Bagaimana bisa ia memeriksa sebuah jimat…"

"Bukankah dia jimat manusia untuk menyerap penyakitku? Jika tubuhnya tidak dalam keadaan baik maka hal itu berpengaruh juga padaku. Ini bukan untuknya tapi untuk kepentinganku jadi cepat panggil dia."

"Tapi, Jeonha…"

"Ini adalah perintah! Perintah!" bentak Kyuhyun. Kasim Park terpaksa pergi.

Woon berjalan keluar kediaman Kyuhyun. "Jongwoon-ah kenapa kau keluar? Biasanya kau menjaga di dalam kediaman Jeonha." Tanya rekan Jongwoon yang bertugas menjaga di luar.

"Jeonha memerintahkanku untuk berdiri di luar." jawab Jongwoon.

Pengawal itu memberikan surat Hyukjae pada Jongwoon. Ia mengambilnya karena sepertinya Hyukjae akan memberikan surat itu diam-diam pada Kyuhyun. Ia meminta Woon memeriksa surat itu. Woon membuka surat itu dan membacanya.

Sungmin melampiaskan kemarahannya. Ia teringat tatapan Kyuhyun pada Hyukjae, yang tak pernah sekalipun ia terima dari suaminya. Ia berteriak histeris dan menghempaskan semua barang dari mejanya. Para dayang berlarian masuk dan melihat Sungmin menangis. Tangis penuh amarah, frustasi, kesedihan, dan kekecewaan.

Tabib mengobati Hyukjae dengan akupunktur. Tabib itu tampak sedikit kesal karena harus memeriksa Hyukjae. Bayangkan tabib istana yang hanya bertugas memeriksa Raja, malam-malam dipaksa mengobati seorang jimat, yang dianggap bukan manusia.

Kyuhyun duduk sambil membaca buku sementara Hyukjae diobati. Namun diam-diam sesekali ia melirik ke arah Hyukjae. Hyukjae pun melakukan hal yang sama. Ketika tatapan mereka bertemu, Kyuhyun kembali menekuni bukunya. Semua itu tidak lepas dari pengamatan kasim Park.

Malam itu Hyukjae tetap duduk di sisi Kyuhyun saat Kyuhyun tidur. Setelah gong berbunyi, Hyukjae meninggalkan kamar Kyuhyun. Kyuhyun membuka matanya dan memejamkannya kembali. Jelas ia tidak tidur selama Hyukjae duduk di sisinya.

Keesokan harinya, Jongwoon menyerahkan surat Hyukjae pada Kyuhyun. Kyuhyun memandang surat itu dan tidak membukanya, Jongwoon menawarkan untuk mengambil kembali surat itu jika Kyuhyun tidak mau membacanya.

Kyuhyun mengambil surat itu dan membacanya. Dalam surat itu Hyukjae mengisyaratkan bahwa walau ia tidak dianggap sebagai manusia tapi ia tetap berharap menjadi seorang warga negara Yang Mulia.

Kyuhyun ingat ia berkata Hyukjae yang bukan manusia telah berani menyentuhnya.

"Bahkan sebuah jimat pun adalah warga negara jadi jangan anggap rendah diriku," ujar Kyuhyun menerjemahkan isi surat Hyukjae.

Jungsoo berusaha mengintip isi surat Hyukjae. Kyuhyun melirik. Jungsoo tersenyum polos.

"Tidak biasanya seorang peramal tahu cara menulis hanja (karakter cina) dan juga tidak biasanya seorang shaman bisa menulis puisi seperti ini," kata Jungsoo. Melihat tatapan Kyuhyun, Jungsoo nyengir.

Kyuhyun ingat surat permintaan maaf Eunhyuk 8 tahun yang lalu. Ia mengulang perkataannya saat itu, "Bagaimana bisa aku melupakanmu."

"Jeonha," panggil kasim Park dengan wajah sedih. Ia mengingatkan Hyukjae adalah sebuah jimat. "Hamba telah berada di sisi Jeonha dan melayani seumur hidup Jeonha. Bagaimana mungkin hamba tidak bisa membaca pikiran Jeonha. Hamba harap Jeonha tidak goyah."

"Apa kau berkata hatiku goyah karena sebuah jimat?" tanya Kyuhyun kesal.

"Dia bukan Eunhyuk Agassi, tidak peduli betapa miripnya mereka."

Kyuhyun tahu ke arah mana pembicaraan Jungsoo. Ia menyuruhnya tutup mulut tapi Jungsoo merasa harus menyadarkan Kyuhyun bahkan ketika Kyuhyun menyuruhnya berbalik menghadap tembok.

"Semalam Jungjeon Mama datang kemari dan membuka pintu. Lalu beliau pergi. Betapa sulitnya bagi Jungjeon Mama untuk datang dan harus pergi dengan mengesampingkan harga dirinya. Menurut Jeonha bagaimana perasaan beliau?"

Kyuhyun terdiam.

Sungmin tidak beranjak dari tempat tidurnya. Dayangnya bergegas masuk dan memberi kabar kalau Jeonha akan mengunjungi Sungmin. Sungmin sangat gembira.

Kyuhyun berjalan menuju kediaman Sungmin. Daebi Mama melihatnya dan melaporkan "kabar baik" ini pada Daewangdaebi Mama. Tampaknya mereka semua terkejut.

"Pasti ini semua karena kemampuan Hyukjae yang luar biasa hingga Jusang sekarang merasa nyaman dan tenang." ujar Daewangdaebi Mama.

"Tapi hamba tidak yakin peramal itulah penyebabnya Daewangdaebi Mama." ujar Daebi Mama.

"Tuhan sudah membantu kita. Karena Hyukjae anak angkat Jang Nok Young maka ia juga mempunyai kekuatan."

Daewangdaebi Mama ingin menjadwal ulang tanggal penyempurnaan pernikahan Ratu dan Raja. Selama ini Raja terus mengundurnya. Sekarang Raja sudah sehat dan sepertinya mulai dekat dengan Ratu jadi mereka harus memanfaatkan kesempatan ini. Daebi Mama tidak ingin terburu-buru tapi Daewangdaebi Mama bersikeras ingin memajukannya seawal mungkin.

Kyuhyun duduk di kediaman Sungmin. "Jungjeon Mama tampak tidak sehat."

"Hamba tidak tidur nyenyak semalam."

"Kudengar Jungjeon Mama datang semalam."

"Joseonghamnida Jeonha, hamba hanya merasa khawatir pada Jeonha."

"Apa yang sedang Jungjeon Mama selidiki."

"Apa maksud Jeonha dengan menyelidiki?"

"Apapun yang kaulihat dan yang kaudengar di kamarku, itu bukanlah manusia. Jika kau melihat sesuatu, itu adalah jimat dari Seongsucheong. Bukankah waktunya sebulan lagi?"

Sungmin tidak mengerti.

"Malam pernikahan kita," Kyuhyun menjelaskan. "Mereka dari Seongsucheong menasihati berulangkali agar sampai tanggal tersebut kita sebaiknya tidak bertemu dan menjaga jarak."

"Apa maksudmu? Apakah itu artinya kau tidak ingin aku melangkah ke kediamanmu?" tanya Sungmin dalam hati.

"Apakah Jungjeon Mama mengerti?" tanya Kyuhyun tajam.

Sungmin memaksakan sebuah senyum dan mengangguk. Kyuhyun pergi meninggalkan kediaman Sungmin.

Sungmin berpikir apa yang disembunyikan Raja hingga ia tidak boleh datang ke kediaman Raja. Ia ingat tatapan Raja pada Hyukjae. Insting wanitanya berkata semua itu pasti gara-gara Hyukjae. Ia kesal karena bukan hanya ia takut pada orang mati (Eunhyuk) sekarang ia harus waspada pada seorang peramal rendahan. Ia memerintahkan dayangnya mencari seorang dayang Raja yang berpihak pada mereka untuk mengawasi Hyukjae dan Raja tiap malam dan melapor padanya.

Siwon, yang sepertinya tidak punya pekerjaan lain, berusaha mencari tahu di mana Hyukjae. Ia bertanya pada pemilik toko kertas tempat Hyukjae membeli kertas tapi tentu saja pemilik toko kertas itu tidak tahu apapun walau ia ingat pada Hyukjae.

Siwon terus berjalan memikirkan Hyukjae. Ia berpapasan dengan beberapa orang petamal istana. Salah satu dari mereka adalah Kibum.

Kibum ingat Siwon adalah penyelamatnya. Siwon terkejut saat tiba-tiba seorang gadis memanggilnya, "Orabeoni!"

Kibum memeluk Siwon. Siwon buru-buru melepaskan diri dari pelukan Kibum. Ia melihat pakaian Kibum, tidak seperti pakaian seorang gisaeng (wanita penghibur).

"Hamba adalah peramal dalam pelatihan. Ini adalah seragamnya, "kata Kibum. "Apakah Siwon Orabeoni tidak ingat pada shaman kecil?"

Siwon teringat. "Astaga aku hampir tidak bisa mengenalimu. Sekarang kau seorang gadis muda. Bagaimana kabarmu?"

"Hamba ditolong oleh ibu angkat hamba dan sekarang hamba seorang peramal betulan, bukan peramal palsu."

Siwon teringat pada Hyukjae yang juga diculik oleh Jaegil, seorang ahli perbintangan di istana.

"Apa kau bilang kau seorang peramal?"

"Benar. Di Seongsucheong," tutur Kibum sambil berputar memamerkan seragamnya.

"Tempat teraman bagi seorang peramal adalah….," Siwon memegang pundak Kibum, "Apakah ada seorang peramal bernama Hyukjae di antara kalian?"

"Hyukjae…" Kibum hampir memberitahu Siwon jika ia tidak teringat pada peringatan keras shaman Jang. Peringatan itu pasti diberikan setelah Kibum hampir membocorkan rahasia bahwa Hyukjae adalah "bulan" atau Ratu. Shaman Jang mengancam akan merobek bibir Kibum jika Kibum menyebut sesuatu tentang "bulan/matahari" atau segala sesuatu yang berhubungan dengan Hyukjae. Saking ketakutannya saat itu Kibum sampai cegukan.

Kibum menutup mulutnya rapat-rapat lalu menggeleng. Ia melepaskan diri dari cengkeraman Siwon. "Ini pertama kalinya hamba mendengar nama Hyukjae." Kibum dipanggil oleh teman-temannya.

"Orabeoni, kita akan bertemu kembali jika kita ditakdirkan bertemu," kata Kibum, lalu ia buru-buru pergi. Siwon bingung, jika Hyukjae bukan di Seongsucheong lalu di mana Hyukjae berada.

Karena malamnya Hyukjae harus berjaga di sisi Raja maka siang hari ia mempergunakan waktunya untuk tidur. Jihyun selalu menemani di sisinya. Kibum masuk dengan wajah sedih. Ia duduk di tempat tidur dan melirik Hyukjae. "Kibum-ah ada apa denganmu, apa terjadi sesuatu?" tanya Jihyun.

"Tidak apa-apa Eonni." jawab Kibum.

"Maafkan aku, Orabeoni…Aku benar-benar minta maaf," kata Kibum dalam hati (ia merasa bersalah karena telah berbohong pada penyelamatnya). Ia lalu membaringkan diri di sebelah Hyukjae, seperti seorang adik pada kakaknya. Jihyun tersenyum melihat tingkah Kibum.

Jihyun melihat Hyukjae tidak tenang dalam tidurnya. Hyukjae bermimpi saat malam pesta topeng 8 tahun yang lalu. Seseorang dengan mengenakan topeng menariknya. Hyukjae tidak mengenali orang itu. Saat pria itu membuka topengnya dan wajahnya hampir terlihat, Hyukjae terbangun.

"Apakah Agassi bermimpi hal yang sama?" tanya Jihyun.

Hyukjae mengangguk.

Jihyun bingung, Hyukjae sudah lama tidak memimpikan hal itu lalu mengapa ia mulai memimpikannya kembali. "Apakah kali ini Agassi tidak juga melihat wajah orang bertopeng itu?"

"Kali ini aku ingin sekali melihat wajah di balik topeng itu. Dan kali ini aku hampir melihatnya."

Jihyun memandang Hyukjae dengan sedih.

"Agassi, kau ingin melihat wajah di balik topeng itu padahal tiap malam kau duduk di sisinya," katanya dalam hati.

Malamnya, Hyukjae melakukan tugasnya ke kediaman Kyuhyun. Kyuhyun belum tidur. Hyukjae duduk di hadapan Kyuhyun. Jongwoon duduk di sudut kamar. Kyuhyun mengungkit surat Hyukjae.

"Suratmu telah memukulku dengan keras. Aku telah merasakan kemarahanmu padaku."

Hyukjae kebingungan, ia tidak marah pada Kyuhyun.

"Kau berkata kau tidak marah tapi suratmu jelas menyatakan hal itu. Apa aku salah mengerti?"

"Hamba hanya berusaha menyampaikan ketulusan dan sudut pandangnya."

"Jadi kau bukan marah kepadaku tapi menegurku?" tanya Kyuhyun.

"Hamba hanya ingin menjadi seorang warga negara walau hamba seorang yang rendah dan ingin melakukan yang terbaik bagi Jeonha."

"Kata-kata itu seakan menegurku bahwa aku tidak bisa mengerti perasaan rakyat jelata. Apa kau ingin membuatku menyadari kalau aku tidak kompeten?" ujar Kyuhyun.

"Jeonha. Hal itu tidak ada kaitannya dengan penulis surat itu. Jika yang membaca surat itu dipenuhi praduga dan asumsi maka akan menimbulkan kesalahpahaman."

"Jadi kau bilang aku dipenuhi praduga hingga salah memahami isi suratmu?" tanya Kyuhyun tertawa sinis.

"Jeonha. Bukan itu maksud hamba." Hyukjae berusaha menjelaskan.

"Aku memperlakukanmu dengan baik dan sekarang kau melanggar batas. Apa kau lupa dengan siapa kau berbicara?" tanya Kyuhyun. "Aku adalah….."

Kyuhyun teringat ia mengucapkan kata-kata yang sama pada Eunhyuk saat mereka bertemu untuk pertama kalinya. Hyukjae menatapnya dengan tatapan yang sama dengan Eunhyuk ketika itu. Mendadak suasana hatinya berubah. Ia berdiri dan memanggil Kasim Park.

"Silahkan perintah Anda Jeonha." ujar Jungsoo.

"Aku merasa sesak hingga aku ingin berjalan-jalan di luar sebentar."

"Jeonha, udara di luar sangat dingin jadi bagaimana jika acara jalan-jalannya diundur besok."

"Bukankah kubilang aku merasa sesak?!" ujar Kyuhyun kesal.

Kasim Park memerintahkan semua bersiap-siap. Kyuhyun berjalan ke luar kamar. Hyukjae tetap duduk di tempatnya. Kyuhyun berhenti di dekatnya, "apa yang kau lakukan?"

Hyukjae tak mengerti.

"Kau bilang akan mengambil alih semua bebanku jadi mengapa kau tidak melakukan tugasmu sekarang. Kau adalah jimatku jadi cepat ikuti aku."

Kyuhyun berjalan-jalan diikuti Hyukjae, Jongwoon, kasim Park dan para dayangnya. "Semuanya mundur." Suruhnya tiba-tiba.

Walau kasim Park terlihat keberatan tapi akhirnya ia menuruti perintah Kyuhyun. Ia dan para dayang mundur beberapa langkah ke belakang. Demikian juga dengan Jongwoon.

Hyukjae ikut melangkah mundur namun Kyuhyun memegang tangannya dan menahannya. Sebagai jimatnya, Hyukjae harus berdiri di dekatnya. Ia menyuruh para pengikutnya untuk mundur lebih jauh.

Kyuhyun berjalan diikuti Hyukjae dan berhenti di depan bekas kediaman Eunhyuk. Ia memandang gedung itu dengan penuh kesedihan. Melihat kesedihan Kyuhyun, Hyukjae menoleh melihat gedung itu. Tiba-tiba ia teringat membuka jendela dan melihat Kyuhyun menunggunya di luar jendela.

Ia juga teringat Eunhyuk dibawa keluar oleh para tabib istana karena penyakitnya sementara Kyuhyun menangis sambil berteriak memanggil namanya.

Hyukjae tertegun, "Apakah di sini tempatnya? Di sinikah tersimpan kenangan sedih dan kepedihan Jeonha? Apakah orang yang menangis di tempat ini, adalah Jeonha?"

Kyuhyun menoleh dan memegang lengan Hyukjae, "apa yang sebenarnya kau lihat?"

Hyukjae tak menjawab. Kyuhyun mendekap Hyukjae agar mendekat padanya. Woon dan kasim Park mengalihkan pandangan mereka. Hyukjae tak berani menatap Kyuhyun.

Kyuhyun meraih wajah Hyukjae dan menatapnya. "Apakah kau melihat melalui kemampuan peramalmu?"

"Ye Jeonha." Hyukjae membenarkan.

"Kalau begitu cobalah menebak dengan kemampuanmu. Menurutmu apa yang akan kulakukan saat ini? Hari ini Jungsoo mengatakan sesuatu yang aneh. Bagaimana menurutmu? Apakah kau pikir aku akan memelukmu, sebuah jimat belaka?"

"Kenapa Jeonha bersikap seperti ini."

Kyuhyun melihat para dayangnya, Woon dan kasim Park mengalihkan pandangan mereka. Kyuhyun mendekatkan wajahnya pada Hyukjae. Lalu tiba-tiba menarik tangan Hyukjae dan membawanya berlari pergi. Kyuhyun sengaja melakukannya agar bisa bicara berdua dengan Hyukjae.

Kasim Park dan para dayang buru-buru berlari mengejar mereka. Jongwoon berjalan ke arah lain.

Kyuhyun menarik Hyukjae ke sebuah ruangan dan pelan-pelan melepaskan tangannya. Dengan penuh kesedihan dan harapan, "siapa kau sebenarnya." Tanya Kyuhyun.

"Hamba adalah peramal Hyukjae."

"Bukan, kau bukan Hyukjae."

"Kalau begitu siapakah hamba? Ketika hamba hidup sebagai seorang peramal tanpa nama, Jeonha menamai hamba, Hyukjae."

Kyuhyun memegang kedua lengan Hyukjae.

"Apa kau benar-benar tidak mengenalku? Apakah kau tidak pernah bertemu denganku sebelumnya?"

"Kenangan siapakah yang Jeonha lihat di dalam diri hamba? Siapa yang Jeonha lihat melalui diri hamba? Apakah gadis yang bernama Eunhyuk?"

Kasim Park dan para dayang tiba di depan kamar tempat Kyuhyun membawa Hyukjae. Jongwoon berjalan merintangi mereka dan menoleh ke arah gedung tersebut. Kasim Park menoleh ke kamar yang sama dan mengerti Kyuhyun ada di dalam.

"Mengapa Jeonha membiarkan hamba berada di sisi Jeonha? Apakah karena hamba mirip dengannya? Tapi hamba bukan gadis itu."

"Bisakah kau diam. Kau telah melanggar batas. Hanya karena aku mengijinkanmu berada di sisiku bukan berarti aku menyerahkan hatiku padamu. Kau hanyalah jimat untuk menangkal roh jahat, tidak lebih dan tidak kurang." Ujar Kyuhyun putus asa. "Siapa kau yang…seseorang sepertimu…yang berani…." Kyuhyun melanjutkan kalimat itu dalam hatinya, "membuatku goyah."

Kyuhyun berbalik dan berjalan keluar kamar tapi ia terhuyung hampir terjatuh. Hyukjae buru-buru menghampirinya dengan khawatir.

"Jangan mendekat," ujar Kyuhyun tanpa berbalik melihat Hyukjae. "Jika kau melanggar batas lagi, aku tidak akan mengampunimu."

Kyuhyun keluar dari kamar. Kasim Park buru-buru memakaikan jubah pada Kyuhyun.

Tanpa berbalik pada Hyukjae yang juga sudah keluar dari kamar tersebut, "Kau tidak perlu mengikutiku. Aku akan tidur sendirian malam ini."

"Ye Jeonha." Hyukjae terlihat sedikit kecewa.

Setelah agak jauh, Kyuhyun meminta Jongwoon diam-diam menjaga Hyukjae hingga kembali ke Seongsucheong dengan selamat. Ia juga meminta Jongwoon mampir di suatu tempat.

Hyukjae berjalan kembali ke Seongsucheong dengan kata-kata Kyuhyun yang terngiang di pikirannya. Bahwa ia tak lebih dan tak kurang sebuah jimat untuk menangkal roh jahat. Diam-diam Jongwoon mengawasi Hyukjae.

Shaman Jang sedang bersembahyang ketika tiba-tiba ia merasakan sesuatu. Ia berjalan keluar dan menemukan Hyukjae yang sedang termenung menatap ke langit. "Kenapa kau di luar, bukankah seharusnya kau di sisi Jeonha, apakah ada yang terjadi?"

"Shinmu-nim, siapakah aku sebenarnya?"

Shaman Jang terkejut dengan pertanyaan Hyukjae.

"Saat aku ditelantarkan keluargaku karena kemampuanku, Shinmu-nim menemukanku terlunta-lunta di jalanan. Shinmu-nim menolongku karena melihat kemampuan di dalam diriku."

"Mengapa tiba-tiba kau menanyakannya?" tanya shaman Jang cemas.

"Aku terus menerus melihat hal aneh. Jelas ini adalah kenangan orang lain tapi juga terasa sebagai kenanganku. Ini sangat membingungkan."

"Itu karena kau belum bisa mengendalikan kemampuanmu."

"Aku tidak mungkin pemilik kenangan itu bukan? Walau aku mirip dengannya, aku tidak bisa menjadi dirinya, bukan?"

Shaman Jang tak bisa mengatakan apa-apa lagi. Jihyun yang mendengar percakapan mereka diam-diam menangis.

Hankyung keluar dari kediamannya dan melihat ke langit. Di balik tembok, Jihyun diam-diam memperhatikannya dengan penuh kerinduan. Tiba-tiba Hankyung mendengar sebuah suara. Hankyung berjalan ke arah datangnya suara. Siwon tiba-tiba melompat ke hadapan Hankyung hingga Hankyung terkejut.

"Aku terbiasa muncul dari sana daripada dari pintu depan. Hankyung-ah ayo masuk kita minum bersama."

Tiba-tiba Jongwoon muncul dari belakang Hankyung hingga Siwon terkejut.

"Ya! Kim Jongwoon kau mengagetkanku." Protes Siwon.

Hankyung terkekeh.

Mereka bertiga duduk bersama di dalam rumah.

"Daegam, Jeonha meminta Daegam datang ke istana."

"Kenapa aku mendadak dipanggil ke istana?" Tanya Hankyung.

Jongwoon tak menjawab.

"Anggap saja aku tidak bertanya. Tanpa perintah Jeonha, kau tidak akan bicara," kata Hankyung mengerti.

Woon pamit kembali ke istana karena ia keluar istana terlalu lama. Ia menoleh dan di sudut ia mengenali sebuah surat berwarna kuning dengan tulisan yang terasa familiar.

"Surat itu dibuat Eunhyuk saat ulang tahunku."

"Itu tulisan adik Daegam?" tanya Jongwoon.

"Ya Woon-ah." Hankyung membenarkan.

"Tulisan tangannya sangat bagus." Puji Jongwoon

Siwon terihat curiga karena tidak biasanya Woon tertarik pada hal seperti itu.

"Adikku sangat pintar dalam segala hal, sayang ia dilahirkan sebagai wanita. Lebih dari itu adikku juga sangat sopan dan baik hati. Kenapa kau menanyakan surat itu."

"Hamba tak sengaja melihat surat itu hingga hamba menanyakannya."

Jihyun melihat semuanya masuk ke dalam jadi ia berjalan pulang. Jongwoon yang tahu kalau sejak tadi Jihyun mengamati mereka, langsung menyerang Jihyun. Mereka berkelahi tapi kekuatan mereka seimbang, atau lebih tepatnya Jongwoon tidak menggunakan seluruh kekuatannya.

"Siapa yang mengirimmu." Tanya Jongwoon.

Jihyun melarikan diri.

"Sepertinya aku pernah melihat dia." Jongwoon tampaknya teringat pada Jihyun.

Hankyung dan Siwon masih minum bersama. "Kau pasti mendengarnya dari Heechul."

"Apakah itu benar? Kukira itu gurauan, ternyata benar? Siapa dia?"

"Aku juga tidak tahu."

Hankyung kebingungan.

"8 tahun yang lalu aku pernah melompati tembok rumahmu dan aku menanyakan apakah Eunhyuk mau pergi bersamaku. Tapi apakah kau tahu bagaimana jawaban adikmu? Ia berkata leluconku keterlaluan," ujar Siwon sedih, "Melihat tatapan matanya aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Tapi malam itu, jika aku tidak tersenyum dan menyembunyikan perasaanku, dan lebih berani meraihnya dan memintanya melarikan diri denganku, maka ia…bukankah ia akan berada di sisiku sekarang?"

Hankyung menghela nafas.

Hyukjae sedang duduk merenung di kamarnya ketika Jihyun kembali. Jihyun kaget melihat Hyukjae belum tidur.

"Jihyun-ah kenapa lengan bajumu terkoyak." Tanya Hyukjae.

"Baju hamba terkoyak ketika hamba sedang berlatih."

"Kau darimana saja."

"Hamba baru mengujungi rumah kediaman majikan hamba yang lama."

"Majikanmu pasti orang yang baik hingga sekarang kau masih mengunjungi mereka."

"Mereka orang yang sangat baik, ketika hamba diperlakukan tidak seperti manusia mereka memperlakukan hamba sebagai manusia dan memberi hamba nama yang cantik, Jihyun."

Hyukjae tersenyum.

"Agassi, kau orang seperti itu," kata Jihyun dalam hatinya.

Hankyung teringat pada perkataan Siwon, "walau kita bertambah dewasa tapi aku selalu mengingat Eunhyuk yang berusia 13 tahun." Hankyung pergi ke rumah lamanya dan pergi ke kamar Eunhyuk. Ia menangis teringat adiknya.

Ia duduk di depan sebuah kotak permainan (tempat Eunhyuk menyimpan suratnya untuk Kyuhyun). Ia membuka laci kotak dan meraup biji-biji permainan itu (semacam permainan catur cina). Ia ingat Eunhyuk pernah berkata, "Jangan pernah mundur ketika kau sudah melangkah maju. Bukankah itu yang Orabeoni ajarkan padaku?" Hankyung menangis dan menutup laci itu kembali.

Ia membuka tutup kotak dan melihat surat yang ditujukan untuk Kyuhyun. Ia mengambil surat itu.

"Hati manusia pun seperti itu. Tidak mudah mengubah hati seseorang saat ia sudah memutuskan. Tidak peduli apapun hasilnya, aku tidak akan pernah melupakan Putra Mahkota," suara Eunhyuk terngiang di kepalanya. Eunhyuk mengatakan itu saat ia mengungkapkan kekhawatirannya saat Eunhyuk mengikuti seleksi Putri Mahkota.

Siwon sedang berjalan sendirian ketika tiba-tiba ia melihat seseorang dalam kegelapan. "Apakah kau manusia atau hantu?" tanyanya terkejut.

Kibum melangkah maju hingga wajahnya terlihat. Siwon bingung mengapa Kibum ada di situ malam-malam begini. "Maafkan hamba, Orabeoni," Kibum menangis, "Aku bersalah padamu."

Siwon tambah bingung.

"Hamba akan membantu Orabeoni menemui orang yang Orabeoni cari," kata Kibum. Ia lalu berlari memeluk Siwon. Saking terkejutnya, Siwon diam saja. Entah terkejut dipeluk Kibum atau karena kata-katanya.

"Karena Orabeoni penyelamatku, hamba akan membalas kebaikan Orabeoni. Walau bibir hamba dirobek, hamba akan pastikan membalas kebaikan Orabeoni. Hamba akan pastikan Orabeoni menemuinya jadi jangan begitu terluka," kata Kibum sambil terus menangis.

Hankyung duduk di depan rumahnya sambil memegangi surat Eunhyuk.

Kyuhyun tidak bisa tidur tanpa Hyukjae di sampingnya. Ia ingat Hyukjae bertanya "siapakah yang Jeonha lihat melalui diri hamba. Kenangan siapa yang terus Jeonha cari dalam diri hamba?"

Heechul terus menemani ibu mertuanya hingga ia kurang istirahat. Walau Jaejoong meminta Heechul kembali tapi Heechul bersikeras menemani hingga ibu mertuanya pulih. Jaejoong meyakinkan Heechul ia tidak akan sedih lagi dan ia berterima kasih pada Heechul untuk itu.

Hankyung masuk dan menyapa mereka. "Hankyung-ah, Putri tak pernah meninggalkanku sejak kemarin karena takut aku bersedih lagi."

"Putri, aku mengucapkan banyak terima kasih karena telah menjaga ibuku dengan baik."

Heechul tersipu malu mendengar pujian suaminya. Ia lalu menyadari Hankyung mengenakan baju resmi istana.

"Apa Sobang-nim akan pergi ke istana?"

"Aku baru menerima pemberitahuannya kemarin."

"Kenapa Sobang-nim tidak memberitahuku. Jika Sobang-nim memberitahuku sejak awal, aku bisa ikut dengan Sobang-nim ke istana."

"Aku tidak terpikir. Lain kali aku pasti akan mengajak Putri," ujar Hankyung. Hankyung pamit dan pergi.

Jaejoong melihat Heechul yang cemberut, "apakah Putri marah karena Hankyung pergi sendiri."

"Aku tidak marah tapi merasa tidak tenang."

Jaejoong tak mengerti, "kenapa Putri harus merasa tak tenang."

"Itu…. karena jika Sobang-nim pergi ke istana… Maka semua dayang terpesona pada ketampanannya." Ujar Heechul.

Jaejoong terkekeh.

Hankyung berjalan di halaman istana, dan semua dayang terpesona melihatnya. Menteri keuangan Shin Dohan tak menyadari Hankyung berjalan di belakangnya. Ia mengira semua dayang itu terpesona padanya.

Kyuhyun sangat gembira bertemu Hankyung. Ia menyambutnya dengan hangat.

Dae-hyung dan sekutunya membicarakan kedatangan Hankyung ke istana. Mereka pikir Hankyung seharusnya hidup dengan tenang di luar istana. (Sejak dulu, seorang Uibin (suami Putri) dilarang melakukan kegiatan apapun, baik itu kegiatan politik maupun menuntut ilmu. Itu sudah hukumnya. Itulah sebabnya Siwon mengomel terus karena Heechul menjadikan Hankyung suaminya.)

"Hal ini berbahaya karena rankingku akan turun. Di istana ini peringkat teratas pria tertampan diduduki oleh Jeonha, kedua Jongwoon. Ketiga diriku sendiri. Jadi kehadiran Uibin di istana ini berbahaya." Ujar Menteri Shin Dohan. (YANG BENER BAE, WKWKWK)

Dae-hyung diam mendengarkan.

"Apakah mungkin Jeonha sedang menggalang kekuatan para cendekiawan. Tapi Uibin bukan tipe orang seperti itu. Namun bagaimanapun juga Uibin adalah figur kuat di kalangan cendekiawan. Kehadirannya bisa membangkitkan kalangan cendekiawan (yang merupakan pendukung ayah Hankyung)." Ujar menteri Park.

Dae-hyung khawatir popularitas Hankyung akan melebihi ayahnya sendiri. Ia bertanya-tanya dalam hatinya mengapa Hankyung pergi ke istana padahal sayapnya telah patah (tidak bisa melakukan apa-apa).

Surat Eunhyuk terletak di atas meja Kyuhyun.

"Jeonha ini adalah surat yang ditinggalkan Eunhyuk untuk Jeonha. Tadinya hamba akan melupakannya (tidak memberikannya pada Kyuhyun) karena itu sudah menjadi masa lalu tapi hamba berpikir hamba harus menyerahkannya pada Jeonha."

"Surat Eunhyuk yang ditinggalkan untukku?'"

"Ye Jeonha." Hankyung membenarkan.

"Surat ini adalah peninggalan Eunhyuk yang terakhir untukku." Kyuhyun mulai menangis.

"Saat adik hamba masih hidup, hanya ada satu-satunya suami di hatinya, yaitu Jeonha. Karena surat ini berasal dari seorang pendosa (Eunhyuk dianggap bersalah karena membawa tubuhnya yang sakit ke istana), seharusnya surat ini dibakar. Jika Jeonha sendiri yang melakukannya (membakar surat itu), Eunhyuk akan bahagia di surga."

Kyuhyun meraih surat itu.

"Hamba memohon agar Jeonha mulai sekarang melupakan adik hamba. Jungjeon Mama yang sekarang berada di sisi Jeonha. Jangan biarkan beliau kesepian lagi. Jika Jeonha terus berada dalam bayang-bayang adik hamba, hamba ragu itu yang adik hamba inginkan. Ini adalah permohonan hamba dan adik hamba. Tolong kabulkanlah," Hankyung memohon.

"Setiap orang terus memintaku untuk melupakannya." Kyuhyun masih menangis(seakan-akan ia bertanya mengapa mereka tidak mengerti bahwa ia tidak pernah bisa melupakan Eunhyuk).

Kasim Park mengantar Hankyung. "Daegam lebih seringlah berkunjung. Walau Jeonha tidak mengatakannya tapi Jeonha sangat merindukan Daegam."

"Bagaimana bisa aku melangkah ringan ke istana sebagai seorang Uibin. Kasim Park jagalah Jeonha baik-baik." Lalu ia pamit untuk pergi.

Kasim Park memandangi kepergian Hankyung. "Daegam, seharusnya Daegam-lah yang berada di sisi Jeonha," gumamnya.

Kyuhyun meraih surat Eunhyuk dan membukanya. Kasim Park duduk di hadapannya. Surat itu berbunyi:

"Yang Mulia, dengan kekuatan terakhir hamba menulis surat ini. Surat ini mungkin membahayakan Yang Mulia atau mungkin tidak sampai ke tangan Yang Mulia. Tapi hamba tetap mengangkat pena untuk menulis. Sebelum hamba pergi, hamba sangat bahagia bisa bertemu Yang Mulia. Tapi sekarang Yang Mulia harus berhenti menyalahkan diri sendiri dan tinggalkan hamba sebagai kenangan. Abeoji akan segera membawakan obat dan hamba tidak akan pernah melihat Yang Mulia lagi. Lupakan hamba. Tolong jaga kesehatan Yang Mulia. Hamba harap Yang Mulia bisa menjadi Raja yang baik dan bijkasana."

"Anak ini mengkhawatirkan kesehatanku bahkan menjelang ia menutup matanya. Ia menulis surat ini dengan kekuatan terakhirnya…Tapi aku...Apa yang sudah kulakukan? Apa yang sudah kulakukan?" Kyuhyun menangis pilu. Kasim Park ikut menangis.

"Dia pasti sangat kesakitan…..Betapa dia pasti sangat menderita...Tulisannya di akhir surat ini begitu lemah," isak Kyuhyun.

"Jungsoo-ya bawakan surat Eunhyuk yang lama karena aku tidak ingat lagi seperti apa tulisan Eunhyuk." Kyuhyun ingin melihat lagi surat Eunhyuk yang ditulis untuknya.

"Jungjeon Mama, sejak jalan-jalan malam itu, Hyukjae-ssi tidak pernah kembali ke sisi Jeonha saat Jeonha tidur." Lapor dayang mata-mata Sungmin.

"Kenapa Jeonha berjalan-jalan bersama Hyukjae malam itu." Tanya Sungmin.

"Jeonha memang punya kebiasaan berjalan-jalan di malam hari." Ujar dayang tersebut.

"Apakah ada yang terjadi setelah itu?" tanya Sungmin.

"Hankyung Daegam datang ke istana dan setelah Hankyung Daegam pulang, Jeonha tampak kurang baik. Bahkan mendadak memerintahkan sebuah kotak dibawa ke hadapan Jeonha."

"Sebuah kotak?" tanya Sungmin.

"Benar. Tampaknya seperti kotak biasa, tapi ada tulisan "hujan" di atas kotak tersebut."

Dayang Sungmin terkesiap. Sungmin pun terkejut, "Apa kau barusan mengatakan hujan?" (hujan = Eunhyuk)

Kyuhyun membuka kotak di hadapannya. Kali ini ia ditemani Jongwoon. Kyuhyun membaca surat lama Eunhyuk (yang ditulis di kertas berbunga). Ia menangis mengingat tulisan Eunhyuk. Ia mengamati tulisan Eunhyuk dan tersadar.

Ia membuka laci di mejanya dan mengeluarkan surat Hyukjae. Ia membandingkan tulisan pada kedua surat itu dan ia terkejut. "Bawa Hyukjae ke hadapanku sekarang juga." Perintah Kyuhyun dengan suara bergetar.

Jongwoon terkejut.

"Bawa Hyukjae kemari sekarang juga." Teriak Kyuhyun.

Hyukjae berjalan ke kediaman Kyuhyun tapi di tengah jalan, seseorang menariknya. Siwon.

Siwon menatapnya, "apakah kau mengenaliku?"

Hyukjae terperanjat.

Kyuhyun terus mengamati tulisan pada kedua surat itu. Ia mengangkat kepalanya dan terlihat yakin akan sesuatu.

TBC