Naruto © Masashi Kishimoto
Bloody Indigo © White Apple Clock
Rate: M
Chapter: 9, Our Ending Story
Genre: Tragedy, Romance
Main Pairing: NaruHina
Warning: M for bloody scene, psychological content, bad words, death-chara, and AU
Inspired by Romeo and Juliet's Shakespears and other literatures
DLDR!
"Anda yang memanggil saya untuk memperbaiki saluran air?" tanya pemuda itu di ambang pintu.
Hinata mengangguk dan memberi isyarat untuk mengikutinya. Tak banyak gerakan yang berarti, karena Hinata berhati-hati dalam setiap tindakannya kali ini. Ketika di dapur, Hinata hanya menatap punggung lebar lelaki itu yang sibuk dengan perkakasnya. Kepala indigo-nya penuh dengan berbagai macam pikiran akan keganjilan yang ia temui saat ini.
Tubuh tegap, tinggi, proporsional, dan atletis. Setahunya, lelaki penjaga apartemen ini gemuk, berwajah sangar, dan tinggi badannya sama dengan dirinya. Juga belakangan ini ia tidak mendengar kabar adanya perekrutan penjaga baru. Ia sama sekali tak mengenal pria ini.
Perlahan angka kewaspadaan pada Hinata bertambah. Jangan-jangan pria itu pencuri? Wajar karena tengah malam dan kasus seperti ini marak terjadi. Hinata yang bersender pada meja dapur mengeratkan pegangannya pada pinggiran meja.
"Aku tidak boleh lengah," batinnya.
Tapi sekelebat pemikiran positifnya menghampiri tatkala ia melihat sebuah sapu tangan yang dibordir terikat di lengan atas kanan lelaki itu. Seperti nama perusahaan. Pemikiran positif itu diperkuat dengan fakta bahwa baru-baru ini ada perusahaan air baru di sekitar apartemen Hinata. Sejenak gadis Hyuuga itu bernapas lega, membawa pergi semua kekhawatirannya.
"Sudah selesai, Nona."
"Ah, cepat sekali. Bagian mana yang rusak?" tanya Hinata, mensejajarkan tinggi badannya pada bagian bawah keran. Tetapi tangannya perlahan mengambil obeng yang berada pada tas perkakas di dekatnya. Kemudian diam-diam ia sembunyikan dalam saku celana.
"Untuk mengantisipasi."
"Cuma tersumbat. Sepertinya sudah lama rusak ya? Soalnya ada tali yang mengikat keran ini," jawab lelaki itu sambil mengecek kerannya kembali.
Hinata menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ano, terima kasih sudah datang tengah malam seperti ini. Jangan pergi dulu, biar saya buatkan jus."
Lelaki itu menolak, masih dengan wajahnya yang tertunduk seolah-olah sedang menutupi sesuatu. "Tidak perlu, Nona. Nona hanya perlu membayar saja."
"Sudah, duduk saja." Perempuan bermarga Hyuuga itu tersenyum, kemudian meletakkan dua gelas jus jeruk di meja ruang tamu. Kemudian mempersilahkan tukang ledeng itu duduk.
Ini merupakan bagian dari rencana yang ia susun sejak tukang ledeng itu memperbaiki kerannya. Sekalipun ia berusaha keras untuk berpikir positif dan tidak khawatir, tetap saja Hinata tidak bisa menangkis instingnya yang berkata kau sedang dalam bahaya.
Hal pertama yang akan Hinata lakukan adalah buat suasana menjadi lebih santai, ajak lelaki itu mengobrol. Saat lelaki misterius itu berbicara, Hinata dengan sigap akan menganalisis untuk langkah selanjutnya.
"Saya baru melihatmu pertama kali ini. Kau anak buah barunya penjaga di bawah?" Hinata mulai melancarkan aksinya. Dengan tenang ia minum jus itu, meneguknya perlahan.
"Ehm, penjaga itu paman dari saudara jauh saya. Beliau menawarkan pekerjaan ini."
Hening melewati mereka. Mata bulan Hinata tak henti mengamati lelaki misterius di hadapannya top-to-toe. Menganalisis sedikit demi sedikit, membaca aura yang terpancar dari lelaki itu, dan mencoba menebak isi kepalanya. Semakin ia menganalisis, pegangan gadis itu pada gelasnya kian mengerat.
Semuanya mengarah pada hal yang negatif. Lebih buruk dari kata negatif.
"Jangan biarkan dia pulang, Hinata. Ulurlah waktu!"
"Bisa saya mencuci cangkir sebentar? Nanti kita mengobrol lagi."
Hinata menapakkan langkahnya di keramik yang dingin dengan hati-hati. Dalam setiap waktu telapak kakinya bersentuhan dengan keramik putih gading itu, ia menguatkan dirinya dan menanamkan mindset bahwa apa yang akan ia lakukan adalah benar. Untuk keselamatan dirinya dan keberlangsungan hidupnya.
Jari putih itu mulai memutar kenop keran. Arus air begitu kuat menghantam cangkir kotor Hinata. Perlahan tapi pasti, sambil mencuci tangannya bergerak dengan sangat hati-hati. Meraih sebilah pisau dari rak pisau yang tak jauh dari jangkauannya.
"Kau mau memotong apa tengah malam begini, Hinata-chan?"
Kalimat polos yang masuk ke indera pendengaran Hinata membuat tangannya mengendur tatkala sudah mencabut pisau itu dari tempatnya. Genggamannya melonggar saat ia tahu gaya bicara ini. Ia sangat mengenalnya. Dan seketika itu Hinata membalikkan badan, meletakkan pisaunya sambil melotot tak menyangka dengan apa yang ada di depannya.
Naruto yang ia kenal berdiri di depannya. Dengan tatapan yang berbeda, jiwa berbeda, tetapi tubuh yang sama.
Hinata buta akan perasaannya. Segera saja gadis itu memeluk Naruto, sangat erat. Kemudian menangis pada dada bidang lelaki itu. "Kenapa kau datang? Bukannya kau memintaku untuk melupakanmu? Apa yang kau lakukan?"
Rentetan pertanyaan itu terputus-putus, isak tangis menjeda setiap kalimatnya. Tangisnya semakin pecah, ketika lengan kekar itu membalas pelukannya. Dengan sama erat, namun hangat yang berbeda.
Hinata menyadari segala keganjilan yang ada, namun persetan baginya. Ia tidak perduli. Sampai ketika sebuah besi dingin menyentuh kulit lehernya. Besi tajam yang selalu ia gunakan saat memasak.
"Bukan aku yang memintamu, tapi diriku yang lain."
Semua sudah jelas bagi Hinata. Bukan, ini bukanlah Namikaze Naruto yang ia kenal. Yang selalu riang, tersenyum dan hangat. Pria ini bukanlah Naruto-nya, begitu dingin dan menyeramkan. Mendengar desir suara berat di tengkuknya, Hinata hanya bisa membatu. Ia terancam. Gadis itu ingin menancapkan pisau pada lelaki itu, tapi di satu sisi ia juga tidak tega.
Sementara itu Uzumaki Naruto menarik tubuh mungil dalam dekapannya, membawanya dengan kasar ke pojok ruangan. Menatap Hinata yang berada di bawahnya dengan hina, rendah, dan sinis.
"Wah, kita belum kenalan, ya? Aku Uzumaki Naruto," katanya, kemudian mensejajarkan tingginya pada Hinata yang tersudut dan mencoba untuk tidak takut. "Sisi lain dari laki-laki yang kau cintai."
Hinata menatap lurus pada manik merah di depannya. "Apa maumu?"
Si Uzumaki memutar kedua bola matanya dengan bosan lalu kembali berdiri, "pertanyaan itu lagi. Kenapa setiap orang yang ingin kuajak untuk bermain malah menanyakan hal yang sama di awal?" keluhnya.
"Aku hanya ingin bermain, dan kini gilirannya denganmu. Oh iya, mungkin sambil menyampaikan sesuatu yang ingin kuungkapkan," imbuhnya, wajah tampannya tak luput dari seringaian sinis yang selalu terpatri.
"Permainan seperti apa yang kau maksud?" tanya Hinata dengan tegas. "Pulanglah ke tempatmu dan sadarkan Naruto, bajingan."
"Kau barusan memakiku? Astaga dunia seperti apa ini." Naruto mengeratkan genggamannya pada gagang sebilah pisau yang berada di tangannya sejak tadi. Mata merah itu mengamatinya dan memainkannya di depan wajah. "Sudah tidak sabar untuk bermain, ya?"
Ketika tangan Naruto mengudara hendak menusuk tubuh di depannya, Hinata sudah mendorong lelaki itu sekuat tenaganya dan dengan sigap lari sejauh mungkin–di luar dari jangkauan Naruto. Langkah kakinya menggema menuju pintu keluar yang tertutup. Namun, sisi Naruto yang lain ini lebih kuat dari gebetan sisi malaikatnya. Ia langsung saja menghadang pintu, tidak membiarkan makanannya lenyap.
"Kau mau ke mana?" tanya Naruto dengan senyuman jahat dan tatapan tajamnya yang lagi-lagi membuat Hinata menciut. Perlahan tangannya memutar kunci di belakang–menguncinya.
Alarm berbunyi sangat keras menandakan bahwa Hinata benar-benar terancam di posisinya, terancam garis keras. Adrenalinnya naik, jantungnya berpacu sangat cepat, otaknya mendesak untuk membuat keputusan lawan-atau-lari. Sepersekian detik ia membuat keputusan yang tepat menurutnya. Belum lagi ia membalikkan tubuhnya dan melayangkan seribu langkah, tangan kekar Naruto mencengram tubuhnya lantas mendorongnya kasar ke dinding.
"Aku tidak akan membiarkanmu lari, Hinata." Naruto melangkah, mempertipis jarak di antara mereka. "Hari ini, dendamku harus terbalaskan."
"Jangan macam-macam denganku," ancam Hinata dengan sirat tegas di kedua matanya.
Manik merah Naruto menatap lurus pada manik bulan Hinata. Melayangkan deathglare yang mampu membuat keberanian Hinata goyah. "Selama kau ada, aku tersiksa. Aku tidak bisa bebas. Namikaze sialan itu selalu menekanku dalam dirinya. Wah, bagaimana kalau kalian sudah pacaran? Menikah? Kalian akan membunuhku dalam paksaan."
Naruto mengarahkan ujung belatinya mengenai permukaan wajah Hinata yang bersih. Memainkannya tanpa ragu, mengukir garis halus–sangat halus–di wajah cantik Hinata. Kemudian perlahan turun, menuju perut rata gadis itu. "Maka dari itu, sebelum kalian memusnahkanku, ada baiknya terlebih dahulu aku–"
JLEB!
"–memusnahkanmu."
Teriakan Hinata menggema ke seluruh ruangan di apartemennya. Perihnya belati dingin menusuk perutnya begitu terasa. Penderitaan Hinata tidak berakhir sampai di situ. Tubuhnya seperti sedang dikuliti ketika Naruto memainkan belatinya di satu titik itu. Gadis Hyuuga itu kembali berteriak, kali ini lebih keras. Menunjukkan betapa sakitnya pisau itu membuat sebuah lubang besar di perutnya.
"Sepertinya akan lebih seru, jika aku memainkanmu di berbagai titik. Sial, ini akan menyenangkan," umpat Naruto untuk mengekspresikan rasa senangnya saat ini.
Hinata ingin melarikan diri. Namun apa daya semua rasa sakitnya telah menguras tenaga untuk sekedar berdiri dan berpindah. Yang bisa Hinata lakukan adalah menyumpahserapah sosok di depannya dengan amarah yang tak mendasar dan tatapan bulan yang menyalang.
"Bodoh."
Naruto yang hendak melayangkan kembali belatinya kini terhenti mengudara setelah mendengar satu kata lolos dari bibir Hinata. Mata merah itu semakin tajam dan penuh emosi. Ia tidak bisa diperlakukan serendah ini. Yang bisa melakuaknnya hanya sisi malaikatnya–itupun berakhir dengan sisi bejat yang memenangkan pertarungan.
"Apa katamu? Kau mengataiku lagi?" Naruto menggeram.
"Iya, kau bodoh–ugh!" Refleks Hinata mengepalkan tangannya memendam rasa sakit yang amat sangat. "Bayangkan jika Naruto-kun yang sebenarnya sadar dan tahu perlakuanmu terhadapku sekarang. Bukankah dia tetap menyingkirkanmu dari tubuhnya? Mungkin dia akan lebih dendam padamu daripada biasanya."
Hinata mengukir senyuman kemenangan tatkala ia sukses membuat pancaran mata sangar Naruto menciut. Naruto membenarkan apa kata Hinata, dan itu membuat amarahnya semakin membara, seperti menumpahkan minyak kepada dirinya yang sudah memanas.
Tapi senyuman kemenangan itu tak bertahan lama, ketika Naruto dengan sigap menarik kerah kaus gadis tersebut dan mengangkatnya. "Lalu kau berpikir aku akan lari ketakutan? Kau salah."
Tangan kekar itu membenturkan kepala Hinata ke tembok, berulang kali seiring dengan kemarahannya yang semakin membesar–pelampiasan yang begitu kejam. Setiap benturan diwarnai dengan teriakan pilu Hinata. Kepalanya seakan mau pecah, tengkoraknya akan retak saat itu juga, dan telinganya berdengung. Darah mengucur dari pelipis dan bau anyir itu begitu menusuk hidung Hinata.
Tapi, hal tersebut tidak mampu membuat Hinata berhenti mempekerjakan otaknya yang lumayan pintar. Sejak awal ia bertemu pertama kali dengan sisi brengsek gebetan-nya itu, gadis indigo ini terus memikirkan rencana yang pas untuk mengembalikan sosok Naruto yang sebenarnya. Belum ada rencana yang ditetapkan, namun baginya untuk melawan balik sinis adalah solusi sementara yang tepat.
"Jangan harap aku mati di depanmu. Kau, tidak pantas mengambil nyawaku," ucap Hinata dengan dingin, lengkap dengan pancaran matanya yang tajam dan tanpa takut.
Hinata terus menekan rasa takut dan sakitnya demi keselamatan dirinya, Namikaze Naruto, dan mereka berdua. Serpihan keberanian perlahan ia kumpulkan, menggunung dalam dirinya. Hinata menatap lurus Naruto. Rasa takutnya memberontak untuk lepas ketika ia melihat pupil di depannya mengecil. Hinata tidak akan menyerah untuk berani di posisinya saat ini.
Naruto menjatuhkan Hinata dengan kasar, kemudian berjongkok menyejajarkan tingginya dengan gadis yang sudah bersimbah darah di depannya. "Kau menikmati permainan ini, hm?"
"Tentu saja," jawab Hinata dengan penuh tekad. "Kau berharap aku akan lari ketakutan dan menyerah dengan keadaan? Mati di tanganmu? Kau salah, brengsek. Mana mungkin manusia rendah sepertimu mampu mengalahkanku?"
"JANGAN BERANI MERENDAHKANKU, JALANG!"
Uzumaki Naruto benar-benar murka tatkala Hinata melemparkan bola api padanya. Dengan membabi buta Naruto menyayat seluruh tubuh Hinata, menodai pakaian Hinata dengan darah, menggenangi lantai dengan darah, dan menyemarakkan seisi ruangan dengan bau anyir segar. Pemuda itu mengakhirinya dengan tertawa puas, melihat Hinata di depannya sekarat dalam balutan merah darah.
Dalam usahanya mempertahankan nyawa yang tersisa, Hinata selesai menyusun rencana untuk melumpuhkan pemuda di depannya. Ia baru ingat dengan obeng yang ia sembunyikan dalam saku celana. Dengan tenaga yang ada, Hinata diam-diam menarik tangannya masuk ke saku celana, menggenggam sejenak benda itu di sana. Saatnya melaksanakan apa yang sudah ia susun.
Kepala indigo yang tadi sempat tertunduk kini menengadah. Menatap Naruto dengan tatapan pilu dan sendu tak berbatas. Matanya ia paksa untuk memanas, menciptakan bulir-bulir air mata yang akan terjun melewati tetes-tetes darah mengering di wajahnya.
"Mungkin setelah ini kau yang akan menang," Hinata meraih tangan Naruto, kemudian menggenggamnya. "Doaku selalu menyertaimu, berdoa untuk kesuksesanmu dalam membunuh setiap orang. Tapi–"
JLEB!
"–aku adalah pengecualian."
Hinata dengan cepat menancapkan obeng itu di lengan Naruto kemudian menariknya hingga terbentuk sebuah luka memanjang dari bahu menuju telapak tangannya. Darah mengucur deras, mendesak keluar dari lengan kekar itu. Naruto mengaduh dengan amat sangat. Dalam hati ia mengutuk Hinata karena tidak terima ia dibalas seperti ini. Naruto ingin lebih menyiksa Hinata, namun itu semua terhambat karena sakit kepala yang menderitanya secara tiba-tiba.
Akhirnya Naruto tumbang bersama dengan Hinata. Mereka saling berhadapan. Dengan mata bulan Hinata yang sayu dan mata biru Naruto yang menatap gadis di depannya tak percaya.
"Syukurlah," kalimat Hinata terputus oleh napasnya yang juga terputus-putus, "kau kembali."
Ketika tangan putih Hinata yang penuh darah membelai lembut pipi Namikaze Naruto, Naruto meluncurkan satu tetes air mata dari genangan air mata yang menumpuk di kedua bola matanya. Kalimatnya tertahan di tenggorokan, namun akhirnya keluar meskipun ia tak sanggup mengucapkannya. "A-apa yang terjadi?"
Hinata hanya membalasnya dengan senyuman tenang. Tapi tidak mampu menenangkan Naruto yang sudah menyalahkan dirinya dalam batin. Tak mampu menghapus rasa bersalah yang amat besar, mengiris luka sangat lebar di hatinya.
Lelaki Namikaze itu memejamkan kedua matanya, merasakan sentuhan lembut yang singgah di pipinya. Namun tetap saja, tidak mampu menyingkirkan rasa bersalah pada Hinata dan kekesalan sebesar semesta pada sisinya yang bajingan.
Sebelum sampai di napasnya yang terakhir, Hinata mencoba untuk mengutarakan kalimat-kalimat sebagai pesan kematiannya. "Hiduplah, hiduplah dengan te-tenang–ukh!–sembuhkan dirimu. D-dan h-hi-hidup-lah dengan nor-mal."
Mendengar itu, serbuan air mata terjun dari mata safir Naruto. Ia menggeleng kuat dan mengenggam tangan Hinata dengan sangat erat. Seakan tidak mau kehilangan Hinata. "Jangan! Tolong, aku tidak akan bisa tenang hidup tanpamu. Jangan berkata seperti itu."
"Maafkan aku, Hinata! Maafkan aku yang tidak jujur padamu siapa diriku yang sebenarnya dan bagaimana diriku yang sebenarnya. Maafkan aku karena sempat menjauh darimu," cecar Naruto, dan di kalimat berikutnya isak tangis Naruto pecah, sebagai ungkapan emosinya yang bercampur aduk. "Aku seharusnya tidak menuruti si brengsek itu untuk menjauhimu, maafkan aku, Hinata!"
Kepala Hinata menggeleng lemah, dan senyum itu belum pergi dari wajahnya yang pucat. "Tidak, ini bu-kan–ukh–salahm-mu." Hinata menjeda kalimatnya untuk mengambil napas, "t-tidak apa, N-Na-Naruto-kun. Jangan–ukh–me-memi-in-nta ma-a-af."
Deru napas Hinata yang semakin terputus-putus membuat Naruto semakin khawatir. Dengan sigap ia memeluk tubuh ringkih itu dan tak bosan meminta maaf dengan derai air mata. Ia ingin merasakan detak jantung yang melemah milik orang yang ia cintai.
"Tolong, jangan pergi. Tetap di sini, Hinata-chan."
Hinata ingin membalas pelukan itu, namun ia tidak bisa. "Ma-a-af, N-Naruto-k-ku-kun."
Di akhir napas Hinata, Naruto berteriak tidak terima pada semesta malam. Ia tidak terima dengan kematian gadis dalam pelukannya. Ia merutuki dirinya lebih dalam dari samudra, lebih tinggi dari langit angkasa. Naruto begitu membenci dirinya, membenci sisi lainnya, dan membenci kebodohannya.
Naruto baru sadar, seharusnya ia sudah membunuh si Uzumaki dari awal. Semua kehancuran dalam diri Naruto berasal dari sisi brengsek itu. Ia tidak akan kehilangan Hinata, kehidupannya tidak akan sehancur ini jika ia sudah sadar dari awal. Ia akan lebih bahagia dengan kehidupannya yang tenang. Tertawa bersama Hinata, hidup satu atap dengannya dalam penuh atmosfir kebahagiaan.
Tak semuanya kisah dalam hidup berakhir bahagia–Naruto menyadarinya. Namun ia tak menyangka itu merenggut kebahagiaan cintanya. Ia tidak terima. Naruto begitu terpuruk dan semakin memeluk erat tubuh Hinata yang mulai dingin.
Ia kehilangan Hyuuga Hinata. Yang mengerti semua kekurangan dan kelebihannya dengan kekurangan dan kelebihan gadis itu. Yang mampu menerimanya, mengesampingkan nasib mereka yang sama-sama hitam dan gelap. Ia tidak ingin bertahan hidup karena ia yakin tidak ada seprangpun di luar sana yang mampu menerimanya sama dengan Hinata menerimanya.
Naruto ingin menebus rasa bersalahnya atas kisah cinta yang mengenaskan tertoreh dalam kertas kehidupan. Ketika mata birunya menangkap satu objek dalam genggaman Hinata, ia menemukan hal tepat untuk menebus semuanya dan merasakan ketenangan dalam dirinya.
Ia berniat untuk bunuh diri.
Baginya, hanya ini satu-satunya cara untuk bebas dari belenggu Uzumaki Naruto yang mengikatnya selama belasan tahun. Hanya ini satu-satunya cara untuk bisa kembali bersama Hinata. Hanya ini satu-satunya cara baginya untuk memulai kehidupan baru dalam sejarahnya.
Tatkala besi obeng itu menancap menembus jantungnya, Naruto kembali memejamkan matanya. Merasakan sakit yang menurutnya sama sakit dengan apa yang Hinata rasakan sebelumnya–meskipun ia tahu itu belum seberapa. Semakin dalam ia menancapkan obeng itu, semakin dalam doanya untuk menyusul gadis Hyuuga itu. Hingga akhirnya ia hampir sampai di ujung kehidupannya, Naruto membuka matanya yang sayu seraya berucap satu kalimat.
"Tunggu aku, Hinata-chan."
Dan semuanya dalam pandangan Naruto, gelap.
THE END
A/N: I hope the feels will get into your heart, readers! Baru kali ini saya buat sad-ending dan saya baper:') Maaf update-nya lama tidak seperti biasanya, karena cukup susah mengumpulkan feels untuk chap terakhir ini. Sampai pakai dua lagu untuk membuat adegan gore dan sad-endingnya, hehe. Long chap for the last!
Terima kasih dengan semua views, visits, favorites, follows, dan reviews yang sudah kalian berikan di fict ini. Maaf kalau sampai di chapter terakhir ini masih belum memuaskan kalian, tapi di fict selanjutnya White akan berusaha lebih keras lagi dalam berkontribusi di entri FNI.
Thanks to:
dekfarel526, Reichan Hiyukeitashi, Adinda790, qyu, si-ders, followers, and favorites
Yosh, mind to review?
