a/n: special fict for Sasuke's birthday. 23 Juli 2011.

Disclaimer: Not mine but this story is mine

Warning: OOC. Typo(s). miss-typo(s). AU. And many more.

.

.

.

행복한독서

Haengboghan Dogseo! ^^

Selamat membaca! ^^

.

.

Chapter 10: Marry Me?

Sakura mendorong dada Sasuke dengan seluruh kekuatan yang ia miliki. Jujur, ia ingin sekali menghajar wajah Sasuke hingga babak belur, tapi ia ingat statusnya sekarang—yang sudah terbongkar—dan sedikit saja kesalahan yang ia perbuat di depan publik maka akan membahayakan nama Ayahnya.

Mata Sakura menyalak menatap Sasuke yang lebih tinggi darinya. Rahangnya mengeras dan napasnya memburu. Oh, hell! Sewaktu Sasuke menciumnya tidak di depan umum saja sudah membuat Sakura marah hingga menghajarnya, tapi sekarang dia sangat berani mencium Sakura di hadapan banyak orang! Benar-benar cari mati bocah ini.

Tidak hanya Sakura yang syok melihat apa yang Sasuke lakukan. Bahkan wartawan-wartawan dan anggota SHINee yang lain terlihat membuka mulut mereka dengan mata terbelalak. Namun mereka tidak menyia-nyiakan momen itu begitu saja, mereka segera mengambil kesempatan dalam kesempitan.

Sedangkan pria yang memakai masker di wajah tampannya itu hanya mampu mematung memandang kejadian yang hanya berlangsung beberapa detik itu. Meskipun tidak sampai sepuluh detik, Kakashi bisa merasakan jantungnya berdetak dengan kencang dan menimbulkan efek nyeri di sana. Tapi pria ini tidak bisa melakukan apapun, ia hanya bisa mengepalkan tangannya karena jalan kekerasan bukanlah ciri dari sifatnya yang tenang.

"Apa kau sudah gila, Uchiha Sasuke?" geram Sakura. Keempat angota SHINee yang berdiri di dekat mereka dapat merasakan aura mengerikan menguar dari tubuh Sakura.

"Oh, gawat!" batin mereka—Sai, Naruto, Sasori dan Gaara—dengan menelan ludah.

Sasuke tidak merasa takut sama sekali, ia bahkan tertawa kecil membuat Sakura dan Kakashi menatapnya dengan heran.

"Sasuke cari mati," gumam Naruto yang melihat Sasuke terkekeh.

Bocah berambut pantat ayam itu menghentikan tawanya dan menatap emerald yang masih menatapnya dengan tajam, seolah mata itu ingin melahap habis tubuh Sasuke.

"Aku memang sudah gila. Lebih tepatnya aku sudah gila karena jatuh cinta padamu," ucap Sasuke sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana.

"No neun!" geram Sakura.

Kakashi menatap tajam Sasuke. Ia menyeringai, sepertinya permainan akan semakin panas. Sasuke sudah mengibarkan bendera persaingan dengannya. Dan ia akan bermain dengan gayanya sendiri.

"Uchiha Sasuke," panggil Kakashi dengan suara yang tenang.

Sasuke menoleh dan menatap Kakashi tidak kalah tajam. Aura di antara mereka berubah menjadi aura yang panas. Terlihat kilatan-kilatan persaingan di mata masing-masing. Meski wajah Kakashi tetap tenang, matanya menunjukkan bahwa ia tidak akan main-main.

Sedangkan kilatan mata Sasuke seolah berarti bahwa ia akan terus berusaha mempertahankan dan menunjukkan ke semua orang kalau Sakura akan dan tetap menjadi miliknya, bukan yang lain, khususunya Hatake Kakashi.

"Sasuke dan Kakashi hyung terlihat manly sekali," gumam Sai yang sibuk memotret bersama Sasori.

"Siapa yang akan menang?" bisik Gaara.

"Aku harap Sasuke," sahut Sasori dengan pelan.

Sakura kini menatap bergantian antara Sasuke dan Kakashi. Mereka berdua terlihat tenang meski mata mereka saling menantang. Sakura tahu betul apa yang sedang mereka pikirkan, lalu kenapa dia terlibat dalam hal konyol seperti ini?

"Kau sangat berani," gumam Kakashi.

Sasuke tidak menyahut, ia hanya menatap bola mata yang sama dengan bola matanya itu. Sasuke mencoba menggali maksud dari yang Kakashi katakan tadi.

"Kita harus cepat ke kampus. Ayo pergi!" ucap Sakura yang mencoba menghindari hal-hal lebih lanjut terjadi di antara mereka bertiga dan menatap tajam Sasuke untuk yang terakhir.

"Jalgaseyo, Sasuke-ah." Kakashi mengucapkan salam terakhir dan pergi mengikuti Sakura yang sudah jalan duluan menuju tempat parkir. Para wartawan segera mengambil foto Sasuke yang masih berdiri di tempatnya.

"Jalgaseyo, hyung."

.

.

.

Burung-burung gagak berkoak-koak menghiasi langit yang sudah berubah warna menjadi oranye. Satu persatu mahasiswa dari Universitas Korea keluar dari gedung kampus dan kembali menuju rumah mereka masing-masing. Seperti yang dilakukan oleh gadis berambut merah muda yang satu ini.

Belum pernah Sakura merasa ketika ia masuk ke dalam gedung kampus bersama Kakashi ditatap dengan intens oleh mahasiswa-mahasiswa yang lainnya. Bahkan, mereka berbisik-bisik atau dengan beraninya menunjuk Kakashi dan Sakura. Semua karena kejadian tadi siang dengan cepat tersebar di berbagai media elektronik.

Sekarang Sakura agak bersyukur karena keadaan di sekitar kampusnya sudah sepi. Kebetulan Kakashi sudah pulang duluan karena harus bertemu dengan manajernya, sehingga Sakura bisa pulang sendirian dan ia sangat lega mengetahui hal tersebut.

Sakura menggerakkan kakinya berjalan menelusuri trotoar jalan di taman kampus dan saat akan melewati sebuah bangunan yang ia tahu itu adalah gedung khusus UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), ia mendengar dentuman musik membahana di sana.

Dum! Dum! Dum!

Musik itu terdengar sangat nge-beat membuat Sakura yang mempunyai jiwa dance itu ingin menggerakkan tubuhnya sesuai irama musik, namun ia tidak mungkin melakukan hal tersebut di trotoar jalan seperti ini.

Sakura semakin mendekati gedung itu dan menelusuri lorongnya. Lorong itu sudah agak gelap karena langit akan dipayungi oleh langit malam. Lampu-lampu juga belum ada yang dinyalakan.

Suara musik itu semakin terdengar jelas saat Sakura semakin dalam menelusuri lorong itu. Dan di antara beberapa ruangan yang tertutup, Sakura dapat melihat salah satu ruangan yang pintunya terbuka sedikit.

Sakura mendekati pintu itu dan membukanya dengan pelan. Gadis ini melihat seorang cewek berambut pirang sedang menari seorang diri diiringi oleh lagu SHINee yang berjudul Lucifer. Sakura hanya memerhatikan gadis pirang itu dari pintu dan Sakura menganggap tarian gadis itu tidak buruk, gerakannya sudah sangat mirip dengan SHINee.

Musik pun berhenti, begitu pula dengan gadis pirang yang hanya menggunakan tangtop ungu dan hotpants itu. Sakura melihat gadis itu memutar tubuhnya dan mata mereka bertemu. Gadis itu terdiam sebentar dengan mulut menganga sedikit.

"Sakura-ssi!" pekiknya heboh.

Kesan pertama Sakura terhadap gadis itu adalah berisik, cerewet, bawel dan hampir mirip dengan Sasori juga Naruto.

Drap! Drap! Drap!

Gadis itu berlari kecil dan berdiri tepat di depan Sakura. Ia tersenyum lebar membuat Sakura menaikkan sebelah alisnya bingung. Sakura juga menganggap gadis di depannya ini sangat aneh.

"Ya! Aku sudah melihat beritamu dengan Sasuke dan Kakashi. Omona! Sasuke itu manly sekali menunjukkan pada semua orang kalau dia mencintaimu!" racaunya blak-blakan membuat Sakura mengernyitkan alis.

"Ayo masuk!" ajaknya dengan menarik tangan Sakura.

Sakura bisa saja menepis tangan gadis itu dengan kasar seperti yang biasa ia lakukan. Tapi, entah kenapa ia merasa gadis ini mempunyai suatu daya tarik yang bisa membuatnya nyaman meski dia berisik. Sakura juga selama di Korea ini belum mempunyai teman perempuan, jadi sedikit dia berharap agar ia bisa mendapatkan teman perempuan.

Sakura mengedarkan pandangannya melihat seisi ruangan itu. Ternyata ruangan yang ia masuki ini adalah ruangan untuk latihan dance karena terlihat kaca-kaca besar di dinding ruangan, dan sebuah tape yang lumayan besar.

"Ini adalah ruang UKM KU (Key You-red) dancer!" seru gadis pirang itu dengan ceria karena melihat Sakura sedang mengamati seisi ruangan.

Sakura berjalan menuju tape tanpa memedulikan Si Pirang yang terus mengikutinya. Sakura melihat banyak CD album SHINee di atas tape tersebut, sepertinya ada yang menjadi penggemar berat SHINee di UKM tersebut. Atau gadis pirang itu penggemar berat SHINee?

"I'm a big fans of SHINee! Terutama Sai!" seru Si Pirang dengan ceria.

Sakura mengambil salah satu CD album yang berjudul Romeo dan melihatnya dengan membolak-balikkan album tersebut. "Kenapa kau menyukai SHINee?" tanya Sakura yang mulai tertarik untuk bicara.

"Tentu saja karena mereka tampan!" Sakura yang mendengar ucapan ceplas-ceplos dari gadis itu mendengus dan menahan tawanya. "Geundae, suara mereka juga bagus. Lagu-lagu mereka juga easy listening. Mereka juga kelihatannya sangat ramah. Ya! Aku envy sekali denganmu. Kau bisa bertemu dengan mereka setiap hari. Andai aku jadi kau~" racaunya panjang lebar, Sakura diam saja mendengarkan sambil melihat album yang berjudul AMIGO.

"Kita belum kenalan, ya walaupun aku sudah tahu namamu," gadis itu berdiri di samping Sakura dan mengulurkan tangannya. "Yamanaka Ino. Mari kita berteman!"

Sakura melirik tangan Ino, lalu dia menatap mata aquamarine yang berbinar cerah. "Kau yakin ingin berteman denganku?" tanya Sakura.

"Mulon imnida! Aku sudah tahu kau ini tipe orang yang sangat dingin dan tidak bersahabat, tapi aku tulus ingin berteman denganmu!" ujarnya dengan senyum lebar.

"Kau yakin tidak ada maksud terselubung?" tanya gadis yang memiliki cold eyes ini.

Ino menyambar tangan kanan Sakura dan mengajaknya berjabat tangan. "Ada sih sedikit, aku tidak mau munafik," sahutnya kemudian melepaskan jabat tangan mereka. "Kau tidak akan menyesal berteman denganku!" serunya dengan bangga sambil menunjuk dirinya sendiri.

"Kuharap begitu," sahut Sakura.

"AMIGO!" Ino mengambil CD album yang sedang Sakura pegang. "Aku suka sekali dengan lagu Love Like Oxygen di album repackage ini." Ino memasukkan kepingan CD itu ke dalam tape dan melangkah ke tangah-tengah ruangan. Gadis pemilik mata aquamarine ini mengambil kursi ke tengah-tengah ruangan dan duduk di sana.

[Naruto] dduluhjyuh kkaejildeut han toomyunghan naegae

Dalgeomhan dokmool pujideut

As if it's about to fall and shatter, clear, toward me

The sweet poisonous substance about to spread

Sakura mengerti apa yang akan dilakukan Ino, dia pasti ingin menari lagi. Kemudian terdengar musik berbunyi dan Sakura mengenali suara Naruto—Si Lead Vocal—memulai lagu yang berjudul Love Like Oxygen itu.

[Sai] hayakae uluhbooteun nae oraen sangchyuhga

[Sasori] nuhyae gaseumsok gipgaepuhjyuhdo

My old scars that have frozen white and stuck fast

Even though they spread deep inside your heart

Sakura tertawa kecil melihat Ino yang menari sangat persis dengan SHINee, terutama Sai. Sepertinya gadis jutek ini berminat untuk bergabung dengan Ino. Ia melangkah ke tengah ruangan itu dan bersiap menari ketika Ino selesai menari bagian Sasori.

[SasuGaa] jabeun deut hal ddae pagodeuneun geuromae bineul nalkaroum

When I'm thinking about to hold you

The flakes of chrome that gnaw away

Their string

Sakura dan Ino menari bersama dengan luwes. Ya, Sakura memang sudah hampir satu bulan ini tidak menari karena sibuk dengan mengajari SHINee latihan vokal. Tapi, diam-diam ia memelajari gerakan tarian SHINee dari seluruh lagu boyband itu. Dan kalau boleh jujur, Sakura juga menyukai lagu ini, juga koreografinya.

[all] sanso gateun nuh nan nuhmoo deuleeshweemyun

Dashi naebaeteul soo uhbsuh ee janeenhan koyong sokae

Naega jookuhgago eetjahna

You're like oxygen, when I drink you in

I can't breathe you out

Inside this intense agony

Can't you see I'm dying away like this

Ino terperangah melihat keluwesan tubuh Sakura, apalagi saat Sakura menggerakan bagian tubuh atasnya. Ino tersenyum lebar, dia merasa akan menemukan sahabat dan juga menemukan pelatih yang pantas untuk mengajari club dance-nya menghadapai dance competition satu minggu lagi.

.

.

.

Keributan terjadi di sebuah ruangan pelayan di dalam kediaman Perdana Menteri. Ekspresi pelayan-pelayan itu dominan sangat terkejut, ada juga yang kesal dan mendecak kagum. Itu terjadi karena seorang pelayan laki-laki—dengan kelakuan seperti wanita—memberitahukan pelayan yang lain karena adanya berita menghebohkan yang terjadi pada nona muda mereka—Haruno Sakura.

"Berani sekali bocah itu mencium agassi!" komentar pelayan perempuan berambut hitam pendek.

"Dia cari mati saja," sahut seorang bodyguard yang pernah dihajar Sakura sewaktu dulu mengejar Sakura yang lari dari acara perjodohannya dengan Nara Shikamaru. Dia bicara begitu karena dia pernah merasakan hantaman-hantaman keras yang pernah Sakura berikan padanya.

"Bagaimana reaksi perdana menteri dan nyonya jika melihat ini, ya?" gumam seorang gadis berambut cokelat yang diikat dua.

"Ne, bagaimana ya?" gumam yang lain sambil membayangkan reaksi tuan dan nyonya besar mereka.

Sementara itu di sebuah ruangan besar dan terdapat bendera Negara Korea, tampak tiga orang di sana. Yamato duduk di kursinya sambil membaca sebuah laporan dari asistennya yang sedang berdiri di samping meja. Sedangkan Reina yang kebetulan juga ada di sana sedang duduk di salah satu sofa menghadap layar LCD TV.

Istri dari perdana menteri ini baru saja selesai menghadiri sebuah acara amal di daerah Yongin. Karena kantor perdana menteri lebih dekat daripada kediamannya, maka wanita ini mampir sebentar untuk menengok Sang Suami.

Merasa bosan, Reina pun menyalakan televisi dan dia langsung disuguhkan oleh berita yang sedang heboh di Negara mereka itu. Skandal yang dilakukan oleh Uchiha Sasuke terhadap Anak Perdana Menteri, Haruno Sakura.

"OMO!" pekik Reina saat melihat Sasuke mencium Sakura. Yamato dan asistennya—Danzo, segera menoleh dan menatap ke layar LCD TV tersebut. Mereka terkejut luar biasa melihat adegan barusan di televisi.

"Siapa anak laki-laki itu?" pekik Reina heboh sendiri yang tidak memerhatikan kalau ada nama Sasuke di layar televisi.

"Uchiha Sasuke," sahut Danzo yang melihat nama Sasuke di layar televisi. Reina dan Yamato segera menoleh pada Danzo.

"Segera cari tahu info tentang dia, Danzo-ssi!" seru Reina yang kelihatan sumringah sekali. Eh? Sumringah?

"Kenapa kau kelihatan senang sekali melihat putrimu dicium oleh seorang laki-laki?" tanya Yamato yang sweatdrop melihat tingkah Istrinya.

Reina terkikik geli kemudian menatap Suaminya itu. "Sakura pernah bercerita padaku kalau dia tidak mau bibirnya tersentuh oleh bibir laki-laki sebelum dia menikah. Dan menurutku Uchiha itu sangat keren karena berhasil mematahkan pendirian Sakura!" serunya dengan riang. Lagi-lagi Yamato sweatdrop namun kali ini ditemani oleh Danzo.

"Sepertinya Uchiha yang lancang mencium agassi," ucap Danzo namun dihadiahi deathglare oleh Reina. Danzo pun mengatupkan mulutnya dengan rapat.

"Pokoknya cari informasi yang detil soal Uchiha Sasuke! Aku ingin sekali bertemu dengannya. Entah kenapa aku mempunyai firasat kalau dia yang akan memberikan warna pada kehidupan Sakura," ucap Reina dengan mata berbinar-binar. Jelas sekali Sakura tidak mempunyai kesamaan sedikit pun dengan Ibunya ini.

Danzo mengangguk meski agak canggung melihat sisi lain dari Haruno Reina. Sedangkan Yamato menghela napas panjang.

"Sepertinya aku juga akan kerepotan," gumam Yamato.

.

.

.

Sasori menggeleng-gelengkan kepala menonton acara infotainment yang menayangkan kejadian siang tadi di SME. Setiap ia mengganti channel, berita yang disajikan pun sama. Sepertinya dongsaeng-nya satu itu semakin terkenal melebihi ia sekarang.

Sasori melemparkan remote LCD TV-nya ke sofa, tepat di samping Sasuke. Ia menatap Sasuke dengan heran dan bingung, kemudian menghela napas frustasi. Sedangkan Sasuke tampak diam saja tidak mengeluarkan sepatah kata pun.

Anggota SHINee yang lain juga ada di sana dan memandang magnae mereka. Mereka kompak menghela napas frustasi. Suasana sangat hening hingga ponsel milik Naruto berdering. Sasori langsung merebut ponsel Naruto dan mencabut baterainya membuat Naruto mendelik.

"Ya! Apa yang kau lakukan? Tadi itu Hinata yang meneleponku bukan wartawan-wartawan sinting itu!" teriak Naruto di samping Sasori.

Ngek!

Sasori merauk wajah Naruto dan mendorongnya hingga Naruto terjengkang. Ia menatap Naruto dengan matanya yang sayu namun berkilat tajam.

"Hyung! Untuk sementara ini kita harus menghindari orang-orang yang mencoba menghubungi kita!" sungut Sasori.

Naruto yang tadi mengaduh kesakitan kini mencoba duduk kembali. "Aigo, Saso-ah! Tadi itu Hinata! Ya, Tuhan! Itu Hinataku yang tidak suka mencampuri urusan orang lain!" sungut Naruto dengan kesal.

Sasori mendecih dan membuang mukanya—tidak peduli dengan wajah Naruto yang mengeluarkan urat-urat emosi. Sementara Gaara dan Sai yang menonton hanya bisa menghela napas pasrah.

"Ugh! Bagaimana kalau Hinata marah padaku dan memutuskanku?" teriak Naruto frustasi sambil menjambak rambutnya.

"Bukan urusanku."

"Sabar ya, hyung. Sebaiknya kau turuti saja apa kata Si Almighty, kalau tidak, bisa saja yang lebih buruk akan terjadi padamu," bisik Gaara pada Naruto yang membuat Naruto bergidik ngeri membayangkan kekejaman Sasori. Akhirnya Naruto diam.

"Hyungs."

Keempat namja yang tadi duduk di karpet segera menoleh ke arah kiri mereka, di mana Sasuke duduk paling pojok dengan aura yang kelam. Sasuke terlihat seperti orang depresi yang sedang mempertimbangkan akan bunuh diri dengan cara apa.

"Bantu aku," pinta Sasuke yang kini mendongak menatap hyungdeul-nya satu persatu. Keempat hyungs-nya menaikkan sebelah alis mereka.

"Bantu aku mendapatkan Sakura. Naruto-hyung, Sasori-hyung, bantu aku menaikkan kualitas vokalku." Sasuke menatap Naruto dan Sai dengan dalam. "Sai-hyung, Gaara-hyung, bantu aku menemui perdana menteri," pintanya pada Sasori dan Gaara.

"Kau ingin bertemu dengan perdana menteri?" tanya Sasori tidak percaya. Sasuke mengangguk. "Untuk apa?" tanya Sasori lagi. Dia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran dongsaeng-nya ini.

"Aku ingin melamar Sakura."

"MWO!" pekik keempat namja itu dengan syok.

"Kau serius?" tanya Sai. Sasuke mengangguk.

"Ya, Tuhan! Apa di pikiranmu itu cuma ada Sakura?" tanya Sasori sambil menepuk jidatnya. Sasuke mengangguk. Sekarang Gaara yang menepuk jidatnya karena tertegun dengan respon Sasuke.

"Apa kalian mau membantuku, hyungs?" tanya Sasuke dengan memelas.

"Kalau kami membantumu dan Sakura jatuh cinta padamu, kami kalah taruhan dan menjadi budakmu selama sebulan," sahut Sasori tidak serius dengan ekspresi muka dibuat semalas mungkin namun sudut bibirnya berkedut ingin tertawa.

"Aku tidak melakukan ini atas taruhan kita. Aku ingin mendapatkan cinta Sakura karena aku mencintainya dengan tulus," jawab Sasuke.

Keempat hyungdeul-nya tertegun dengan jawaban Sasuke. Mereka saling menatap kemudian tersenyum.

"Ne, sepertinya kita akan dilangkahi oleh dongsaeng kita ini dalam pernikahan," ucap Sai dengan senyumannya. Sasuke terkejut dan menoleh pada Sai.

"Well, sepertinya aku akan sibuk melatih dongsaeng-ku ini. Semoga Hinata mengerti," ucap Naruto dengan cengirannya. Sasuke tersenyum pada Naruto.

"Hm, aku sudah lama menantikan hal ini. Menjadi seorang detektif yang mencari infomasi!" ucap Gaara dengan tersenyum menatap Sasuke. Senyum Sasuke semakin lebar.

"Ne, bagaimana pun kita adalah saudara. Aku akan bahagia jika uri magnae juga bahagia. Kami akan membantumu!" ucap Sasori dengan senyuman lembutnya.

"Hyungs!" Sasuke memeluk Sasori. "Gomawo, jeongmal gomawoyo," ucapnya dengan senyum lebar hingga matanya menyipit.

Sai, Naruto dan Gaara pun ikut berpelukan. Mana mungkin mereka membiarkan dongsaeng mereka mengalami kesusahan dan sedih akibat cinta yang tak tergapai.

"Jangan lupa memberitahu hyung-mu, Itachi," gumam Sasori. Sasuke hanya mengangguk. Mereka tertawa kecil.

.

.

.

Pagi kembali menjelang, Sakura kembali menjalani rutinitasnya meski kali ini saat ia keluar dari apartemennya dan berpapasan dengan tetangga, mereka menyapa Sakura dengan senyum yang aneh. Sakura bukanlah orang bodoh yang tidak mengerti arti senyuman itu. Sakura menghela napas ketika pintu elevator tertutup.

Sasuke sedang berkonsentrasi menyetir Volvo hitam milik Sai, entahlah kapan ia akan membeli mobil, ia belum sempat memikirkan itu, lagipula Sai oke-oke saja meminjamkan mobilnya. Bukannya Sasuke memanfaatkan kebaikan kakak tertuanya di SHINee itu, hanya saja jadwal kegiatan SHINee yang sedang merangkak padat itu membuatnya kesulitan untuk pergi ke show room mobil.

Sasuke bersama Volvo hitam itu memasuki halaman gedung apartemen Sakura. Ia melihat sedan hitam yang ia kenali sebagai mobil pribadi milik Kakashi sudah terparkir di depan pintu utama gedung. Dan benar dugaan Sasuke, tidak lama kemudian Kakashi keluar dari dalam mobil dan melambai ke arah pintu kaca.

Sasuke mematikan mesin mobil ketika mobilnya—mobil Sai—berhenti tepat di belakang mobil Kakashi. Ia melihat siluet seseorang yang berjalan menuju pintu kaca yang ia yakini itu adalah Sakura.

"Annyeonghaseyo!" sapa Kakashi saat pintu kaca otomatis tertutup ketika Sakura melewatinya.

"Annyeong," sahut Sakura datar.

"Ayo kita berangkat ber—"

"Sakura! Annyeong!" seru Sasuke yang sudah keluar dari Volvo hitam. Ia berjalan menghampiri Sakura dan Kakashi yang menoleh memandangnya dengan alis terangkat.

"Sasuke-ah, annyeong!" sapa Kakashi dengan senyum di balik maskernya.

Sasuke menatap Kakashi dan membalas senyuman itu dengan seringai. "Annyeong, hyung. Ada apa kau ke sini?" tanyanya tanpa bahasa formal lagi.

Kakashi dengan sikap kalemnya menjawab, "Tentu saja untuk menjemput Sakura. Lalu, kau sendiri ada urusan apa pagi-pagi begini sudah berada di sini?"

"Sama denganmu, hyung," jawab Sasuke dengan seringai yang tak lepas dari bibirnya.

Jika Sasuke tidak dapat menyembunyikan ekspresi menantangnya di depan Kakashi, maka Kakashi dengan sempurna menyembunyikan ekspresi wajahnya yang tertantang itu. Perbedaan umur yang cukup jauh—enam tahun—membuat kedua pria itu menunjukkan sikap yang jauh berbeda.

Kakashi selalu menghadapi masalah dengan kepala dingin dan sikap tenangnya, sedangkan Sasuke masih suka terbawa emosi karena remaja itu masih labil dan Kakashi sangat mengerti hal itu, apalagi mengingat ia mengenal Sasuke sejak Sasuke berumur empat belas tahun.

"Nah, sebaiknya kita tanyakan pada Sakura." Kakashi menoleh pada Sakura, begitu juga Sasuke. Sedangkan Sakura memandang mereka berdua dengan datar. "Dengan siapa kau akan berangkat menuju gedung SME, Saku-ya?" tanya Kakashi dengan lembut.

Sakura melirik Sasuke dan Kakashi bergantian. Dia masih tidak percaya jika dirinya terjebak dalam masalah konyol seperti ini. Diperebutkan dengan dua cowok cakep, kece, dan terkenal memang sangat membanggakan. Tapi, masalahnya Sakura tidak suka hal-hal merepotkan—diperebutkan—seperti ini terjadi pada dirinya.

Sasuke, bocah itu sangat menyebalkan tapi terkadang dia bisa bersikap manis dengan kedewasaannya. Ingat! TERKADANG.

Sedangkan Kakashi, lelaki ini memiliki sikap dewasa seperti umurnya yang memang sudah dewasa. Tapi, pria ini agak aneh menurut Sakura. Karena dia suka membawa novel mesum dan terlalu percaya diri membanggakan wajahnya yang tampan dan statusnya yang seorang selebriti.

Omong-omong soal mesum, ah~ keduanya sama-sama mesum! Sigh! Kenapa Sakura harus terjebak di antara dua orang aneh bin mesum ini?

"Ya! Jadi kau mau berangkat bersama siapa?" seruan Sasuke menyadarkan Sakura dari lamunannya. Ia menatap Sasuke dengan kesal. Sakura tepat sekali mengatakan "Terkadang" untuk sikap dewasa Sasuke.

Sakura mendecak dan berjalan ke tengah jalan antara mobil Kakashi dan Volvo hitam yang Sasuke bawa—belakang mobil Kakashi yang berarti di depan moncong Volvo hitam milik Sai.

Sasuke menduga Sakura akan masuk ke dalam kursi penumpang di Volvo hitam milik leader hyung-nya itu, tetapi dugaannya meleset karena Sakura membuka pintu sedan hitam milik Kakashi dan duduk dengan nyaman di sana.

Sasuke terbengong-bengong dengan apa yang dilihatnya barusan dan tepukan di bahu Sasuke membuat Sasuke tersadar dari rasa ketidak-percayaannya.

Sasuke menoleh dan melihat Kakashi tersenyum di balik maskernya. Sasuke merasa benar-benar dicundangi oleh Kakashi sekarang. Hah! Dia rasanya ingin menceburkan kepala ke dalam kolam air mancur yang ada di halaman gedung apartemen agar dapat menghilangkan rasa panas di wajahnya akibat malu karena kalah dalam sesi perebutan cinta tahap satu.

"Aku yakin kau pasti sadar kalau aku menyukai Sakura—terlihat dari sikapmu yang berubah padaku—oleh karena itu, aku tidak akan menyerah begitu saja untuk mendapatkan hati Sakura," ujar Kakashi dengan sorot mata yang sudah berubah lebih tegas. Sasuke bahkan sampai terdiam menatap kedua bola mata yang sama dengan bola matanya itu.

Blam!

"Sampai ketemu di SME, Sasuke-ah!" ucap Kakashi—yang sudah masuk ke dalam mobilnya—sembari tersenyum dan melambai lewat jendela mobil yang tadi ia turunkan.

Sasuke masih berdiri di tempatnya ketika mobil Kakashi perlahan meninggalkan area gedung apartemen. Sasuke mendengus kasar menyadari kalau persaingan ini tidak akan mudah baginya, apalagi yang ia hadapi adalah Hatake Kakashi. Dan sepertinya Sakura lebih pro kepada Kakashi dibanding dengannya.

"Sial!"

.

.

.

Latihan vokal SHINee berjalan dengan lancar meski Sakura tidak pernah menanggapi jika Sasuke bicara dengannya. Tentu saja Sakura masih kesal dengan kejadian kemarin. Hal nekat yang Sasuke lakukan kemarin membuat dirinya tercebur dalam lautan wartawan di depan gedung SME tadi pagi. Dan hadirnya Kakashi sedikit membantunya untuk menghindari wartawan-wartawan itu.

Omong-omong soal Kakashi, pria tampan itu sudah pergi ke studio latihannya di gedung SME juga namun berbeda lantai. Pria itu tidak lelah melindungi Sakura dari wartawan-wartawan yang haus akan berita skandal gadis itu dengan magnae SHINee. Ia juga sangat sabar menghadapi sifat Sakura yang masih dingin dengannya itu. Kakashi sudah berjanji pada Yamato untuk menjaga Sakura dari apapun yang dapat melukai Sakura—baik fisik maupun psikis.

Tidak terasa waktu latihan SHINee sudah berjalan selama satu setengah jam. Sakura segera menyuruh mereka—SHINee—istirahat karena Sakura juga butuh istirahat, lebih tepatnya mengistirahatkan dirinya dari rasa capek akibat diberondong pertanyaan "Kau marah padaku, ya?" oleh Sasuke sepanjang latihan dimulai.

Tentu saja Sakura marah pada Sasuke. Kalau tidak marah, dia tidak perlu mendiamkan Sasuke ketika bocah itu bertanya dan memberi salam padanya. Dia tidak perlu memberi tatapan tajam ketika Sasuke tersenyum padanya. Dan dia tidak perlu menepis tangan Sasuke ketika Sasuke mencoba membantunya mengangkat keyboard dan menyuruh anggota SHINee yang lain untuk mengangkat keyboard itu.

Sasuke sendiri sudah merasa sangat frustasi akibat sikap Sakura yang berubah sangat dingin dengannya. Dia mengakui jika ia salah karena sudah melakukan hal nekat dengan mencium Sakura di depan umum kemarin. Ia juga merasakan kerepotan dengan wartawan-wartawan di depan gedung SME seperti yang Sakura rasakan.

Ia ingin menebus kesalahannya dan membuat Sakura kembali seperti dulu, mengobrol dengannya meski suara tidak banyak yang keluar dari mulut Sakura. Tapi, suasana dingin antara ia dan Sakura kali ini membuatnya benar-benar sedih dan kesal.

"Hyungs, apa yang harus kulakukan?" tanya Sasuke pada keempat hyung-nya yang sedang duduk sambil mengistirahatkan kakinya yang tadi habis latihan menari.

Sai menoleh dan menatap Sasuke yang menunduk sedih. "Kau sudah minta maaf dengannya?" tanyanya.

Sasuke menggeleng lemah. "Belum, hyung. Tadi pagi aku sudah berencana untuk minta maaf padanya tapi, dia memilih untuk naik mobil Kakashi hyung dibanding naik mobil bersamaku—mobil Sai hyung."

Sai mendesah, begitu juga yang lain. Mereka bisa mengerti kenapa Sakura tidak mau berangkat bersama Sasuke ke SME. Mungkin saja gadis itu masih was-was kalau Sasuke akan berbuat nekat seperti kemarin.

"Kalau begitu, sekarang coba kau minta maaf dengannya," saran Gaara.

"Ne. Dia pasti sekarang ada di ruang santai," kata Sasori.

Sasuke menghela napas lalu memandang hyungdeul-nya. "Apa dia mau mendengarkanku?" tanyanya dengan tidak yakin.

"Kau jangan menyerah begitu saja, Sasuke-ah. Cinta itu butuh pengorbanan," sahut Naruto.

Sasuke diam sejenak kemudian dia berdiri. "Baiklah. Aku akan menemuinya," katanya.

"Hwaiting, Sasuke-ah!" seru Sai, Sasori, Gaara dan Naruto bersamaan.

Sasuke tersenyum pada mereka berempat dan beranjak menuju ruang santai.

.

.

.

Sakura sedang duduk di sofa berwarna krem sambil memandang langit cerah dengan sekaleng jus strawberry di tangannya. Kejadian kemarin terngiang lagi di otaknya. Ia mengumpat pelan kemudian meminum jus itu, berharap rasa asam-manis jus itu dapat menghilangkan bayangan kejadian kemarin di otaknya.

Gadis itu kesal—sangat kesal—dengan Sasuke. Pikiran bocah itu di mana sih sampai nekat melakukan hal bodoh seperti itu kemarin? Apa Sasuke amnesia kalau ia adalah selebriti yang tidak bisa melakukan hal seenaknya saja?

Sekarang siapa yang repot akibat ulahnya? Sakura yakin, bukan hanya dia saja yang direpotkan oleh ulah Sasuke kemarin. Agensi, manajer dan juga anggota SHINee yang lain pasti dibuat repot dengan ditanyai segala macam oleh wartawan, ah bahkan Kakashi juga ikut terlibat dalam skandal yang dibuat Sasuke.

Sakura teringat ucapan Kakashi di mobil pria itu saat mengantarnya ke SME.

"Wartawan-wartawan itu tidak berhenti menghubungiku ataupun manajerku. Mereka bertanya, apa aku patah hati saat melihatmu dicium oleh Sasuke?" Kakashi terkekeh kecil saat menceritakan bagaimana wartawan-wartawan sangat ambisius meliput skandal Sasuke dan Sakura.

"Hn? Lalu apa yang kaujawab?" tanya Sakura tanpa melihat Kakashi, justru ia sibuk dengan diktat kuliahnya.

"Tentu saja aku patah hati!" ucap Kakashi membuat Sakura secara refleks menoleh padanya.

"Aku ingin sekali bilang begitu pada mereka, tapi aku tidak menjawab apa-apa. Cukup kau saja yang tahu apa yang aku rasakan." Kakashi menoleh pada Sakura sekilas dan tersenyum kecut meski Sakura tidak melihatnya.

Sakura menghela napas. Ia memang tidak melihat senyum kecut Kakashi, tapi ia dapat merasakan kekecewaan dari nada bicara pria itu meski Kakashi mencoba bicara setenang mungkin seperti biasanya.

Dan sekarang Sakura selalu menghindari Sasuke. Ia tidak mau berdekatan dengan cowok itu dulu karena emosinya yang masih di ubun-ubun. Ia takut jika nanti ia tidak bisa mengontrol emosinya dan berakhir dengan menghajar Sasuke. Hal ini bisa menimbulkan skandal baru yang bisa membawa nama Ayahnya.

Ah! Bagaimana reaksi appa dan umma jika mereka tahu skandal apa yang terjadi pada anaknya? Sakura yakin kedua orangtuanya itu sudah tahu perihal berita tersebut.

"Sakura," panggil Sasuke yang sudah berdiri di ruang santai.

Sakura menghela napas berat. Orang yang sedang tidak ingin ia temui kenapa sekarang berada di dekatnya lagi? Tidak bisakah Sasuke membiarkannya tenang sedikit? Atau cowok itu sangat ingin merasakan kekuatan tinju Sakura?

"Mianhae. Jeongmal mianhaesseoyo…," ucap Sasuke.

Sakura tertegun mendengar suara Sasuke yang terdengar sangat menyesal. Tapi, Sakura tidak lantas menolehkan kepalanya dan memaafkan Sasuke. Ia meminum jusnya hingga habis dan berdiri sebelum meremas kaleng jus itu dan melemparnya masuk ke tempat sampah.

.

.

.

Sasuke terdiam memandang Sakura yang masih bergeming di tempat duduknya sembari melihat langit. Sasuke merasa jantungnya seperti dihantam palu puluhan kali melihat air muka Sakura yang sangat dingin, bahkan gadis itu tidak mau menoleh padanya saat ia memanggil namanya.

Sasuke menunduk menatap sepatu kets-nya yang berwarna putih. Ia benar-benar menyesal atas apa yang sudah ia lakukan kemarin. Saat itu pikirannya sedang kalap dan yang ia inginkan hanyalah memonopoli Sakura untuk dirinya sendiri, meski ia tahu Sakura tidak merasakan perasaan apapun padanya.

"Mianhae. Jeongmal mianhaesseoyo…," ucap Sasuke dengan suara yang tercekat di tenggorokannya.

Sasuke lebih senang jika Sakura berlari padanya dan menghajarnya hingga babak belur daripada Sakura diam dan tidak mengacuhkan Sasuke, itu membuat batinnya terasa lebih tersiksa.

Sasuke melirik Sakura, ia melihat gadis itu berdiri dan meremas kaleng minumannya lalu melemparkannya ke dalam tempat sampah. Sasuke yakin sekali kekesalan Sakura dilampiaskan dengan meremas kaleng itu.

Sasuke sangat mengharapkan Sakura menjawab permintaan maafnya, tapi yang ia dapat adalah Sakura yang berjalan dengan stoic-nya melewati Sasuke, seolah Sasuke itu tidak ada di sana.

Sasuke segera membalikkan badannya dan memandang punggung Sakura yang perlahan menjauh darinya. Ia gelisah, ia takut Sakura tidak mau memaafkannya dan terus bersikap dingin padanya. Jika itu terus terjadi, masih bisakah Sasuke berharap agar gadis itu membalas perasaannya?

Sasuke menggigit bibir bawahnya. Ia harus melakukan sesuatu agar Sakura berhenti berjalan meninggalkannya dan memandangnya lagi.

"Marry me!" teriak Sasuke tanpa pikir panjang lagi dan itu berhasil membuat langkah kaki Sakura berhenti.

Perlahan Sasuke melihat Sakura membalikkan badan menghadapnya. Suara lantang Sasuke yang menggema di lorong yang cukup besar itu membuat Sakura tertegun. Ekspresi Sakura berubah menjadi datar lagi ketika ia membalikkan badan dan memandang Sasuke.

"Menikahlah denganku!" seru Sasuke sekali lagi. Ia sangat berharap Sakura menjawab dengan "Iya" tapi, ia juga sadar bahwa Sakura tidak menunjukkan tanda-tanda kalau gadis itu tertarik padanya.

Sakura mendengus menahan tawa dan ia menyeringai. Mata emerald-nya menatap onyx yang berjarak cukup jauh itu namun Sakura masih bisa melihat kalau onyx itu serius menatapnya.

"Tch! Kau itu baru berusia delapan belas tahun. Menikah itu bukan hal yang main-main! Pabo." Sakura melihat Sasuke tercengang dengan apa yang dikatakannya, lalu gadis ini berbalik dan meninggalkan Sasuke sendirian berdiri mematung di tengah lorong.

"Sakura…"

.

.

.

"Aiiiisssh! Jangan dorong-dorong, pabo!" dengus Sasori saat ia merasakan Naruto mendorongnya dari belakang.

"Ya! Lagian kenapa kita harus bersembunyi di lemari alat kebersihan ini sih? Sudah tahu sempit," gerutu Naruto.

"Tidak ada tempat lain yang bagus untuk mengambil gambar kecuali di sini," jawab Sai yang sibuk dengan kameranya.

"Dan kau sudah tahu sempit masih saja mendorongku, hyung! Kameraku bisa rusak kalau begini caranya!" omel Sasori pada Naruto.

"Mian, mian. Aku juga ingin melihat apa yang terjadi, Saso-ah!" Naruto membela diri.

"Sudah, sudah jangan ribut terus." Gaara menengahi yang sejak tadi sibuk merekam Sasuke dan Sakura dengan handycam-nya. "Lihat! Sakura meninggalkan Sasuke!" ucapnya. Lantas ketiga temannya yang lain segera mencoba melihat Sasuke dan Sakura dari celah-celah pintu.

"Marry me!" teriak Sasuke.

"Mwo? Sasuke melamar Sakura? Aish! Bocah itu benar-benar!" umpat Sasori.

Naruto mendecak. "Sasuke pabo. Tidak bisakah dia melamar Sakura disaat yang tepat? Kalau seperti ini sudah pasti ditolak," gumam Naruto.

"Aish! Hyung, kau mendoakan Sasuke untuk ditolak?" tanya Gaara dengan kesal.

Naruto yang melihat Gaara akan mengamuk segera menggelengkan kepala. "Bukan begitu maksudku."

"Naruto benar. Kalau aku jadi Sakura, aku sudah pasti akan menolaknya." Sai menyahut.

"Aiiisssh! Hyung, dengar! Ki—"

"Tch! Kau itu baru berusia delapan belas tahun. Menikah itu bukan hal yang main-main! Pabo." Suara Sakura memotong ucapan Gaara yang hendak keluar. Keempat namja ini lantas mengarahkan mata mereka pada sosok Sakura yang berdiri dengan seringai di wajahnya.

"Benar kan kataku," ucap Sai.

"Hyung, sebaiknya kau tidak mengatakan itu di depan Sasuke karena kau memang ahlinya membuat mood orang gampang jatuh," sahut Gaara dengan dengusan keras. Sai hanya mengangguk dengan senyum innocent-nya.

"Hey, Sakura pergi!" seru Naruto.

"Semoga Sasuke baik-baik saja. Wajahnya terlihat sedih tapi, hey lihat itu!" seru Sasori.

"Lihat apa?" tanya Sai.

"Sasuke! Lihat Sasuke! Dia tersenyum!" seru Sasori dengan suara tertahan karena Sakura mendekat ke lemari penyimpanan alat kebersihan itu.

Gaara segera menutup pintu lemari itu dengan pelan. Mereka berempat menahan napas saat Sakura berjalan ke lemari itu dan menghela napas lega setelah Sakura melewatinya.

"Baguslah, Sasuke masih bisa tersenyum," kata Naruto.

"Hey, Sasuke sepertinya akan kembali ke studio latihan." Gaara kembali menutup pintu lemari saat Sasuke berjalan ke arahnya.

Sasori merasa lehernya digerayangi sesuatu. Ia lantas meraba-raba lehernya dan mengambil benda yang merambati lehernya tadi. Sontak mukanya pucat lalu melempar benda itu ke Naruto.

"Kyaaaa! Itu kecoa!" teriak Sasori.

"Kyaaa! Kenapa kau lempar padaku?" Naruto meraba-raba tubuhnya takut kecoa itu menempel di badannya.

Kecoa tersebut terbang menuju handycam Gaara. Sontak Gaara mencoba menghindarinya.

"Bersembunyi di sini memang bukan ide yang bagus!" seru Gaara yang melihat kecoa itu terbang ke arah Sai.

"Semua ini karena Si leader sangtae!" seru mereka bertiga—Sasori, Gaara dan Naruto—sementara Sai hanya tersenyum polos.

Sasuke menghentikan langkahnya ketika ia mendengar keributan dan suara-suara hyungdeul-nya. Ia menoleh ke berbagai arah mencari keempat kakaknya tapi tidak melihat satu pun dari mereka.

"Mungkin hanya perasaanku," gumam Sasuke dan meneruskan perjalanannya menuju studio latihan.

.

.

.

Sakura terus memandang ke luar jendela mobil dan tidak mendengarkan Kakashi yang sedang bercerita soal latihannya hari ini pada Sakura. Gadis itu terus diam dan kembali terngiang ucapan Sasuke saat istirahat latihan vokal tadi.

"Menikahlah denganku!"

Sakura dapat merasakan jantungnya berdegup kencang setiap kali mengingat kata-kata itu yang keluar dari mulut Sasuke. Pipinya terkadang mengeluarkan semburat merah tipis saat mendengar kalimat itu, persis seperti saat Sasuke mengatakannya dengan lantang di lorong SME tadi pagi dan untungnya Sakura masih bisa mengontrol ekspresinya tetap datar meski sekuat tenaga ia mengatur tempo jantungnya agar berdegup dengan normal.

Sasuke, bocah itu benar-benar sudah membuatnya bingung dengan dirinya sendiri. Sakura bingung apa yang ia rasakan pada Sasuke. Ia sebenarnya tahu perasaan itu karena perasaan itu sama seperti ia mendengar Pein menyatakan cinta padanya. Dan saat itu ia menyadari kalau ia jatuh cinta dengan Pein. Lalu, apakah perasaannya ini pada Sasuke juga berarti kalau ia mencintai bocah itu?

"Tidak. Aku tidak mungkin jatuh cinta pada orang menyebalkan seperti Sasuke," batin Sakura yang terus menerus menampik perasaannya sendiri.

"Sakura-ya…, Sakura-ya…," panggilan Kakashi yang membuyarkan lamunan Sakura.

Sakura menoleh dan melihat Kakashi sedang menatapnya dengan heran. "Hn?"

"Kau kenapa? Sejak tadi kau diam saja—iya, aku tahu kau memang pendiam—maksudku, kau terlihat melamun terus sejak kita meninggalkan SME," kata Kakashi sambil membelokkan stir mobil ke kanan.

"Aku hanya memikirkan soal permintaan Ino agar aku menjadi pelatih dance di club-nya," elak Sakura sambil membuka diktat kuliahnya yang sejak tadi menganggur terbuka di pangkuannya.

Kakashi mengangguk menanggapi ucapan Sakura. "Kemampuanmu sebagai handy girl memang mudah dikenali. Kenapa kau tidak menerima permintaannya saja?" Kakashi dapat merasakan Sakura menoleh padanya dengan alis terangkat satu.

"Jika kau menerima permintaannya, bukankah berarti kau tidak menyia-nyiakan bakatmu? Bahkan kau dapat berbuat baik dengan membagi ilmumu pada mereka." Kakashi tersenyum padanya.

Sakura memang sudah menceritakan pada Kakashi perihal Ino yang kemarin memintanya untuk menjadi pelatih di club dance-nya untuk dance competition yang akan diadakan seminggu lagi.

Sakura awalnya terkejut saat Ino tahu kalau dia adalah handy girl yang terkenal di dunia dance itu dan lebih terkejut lagi saat ia tahu kalau Kakashi juga sudah mengenalinya sebagai handy girl lebih dulu dari Ino meski Kakashi tidak pernah mengatakan itu padanya.

Sakura merasa senang karena Ino merupakan salah satu fans-nya dan gadis pirang itu memperlakukan Sakura seperti teman biasa. Tidak mengistimewakan Sakura meski Sakura adalah handy girl, anak perdana menteri dan juga guru vokal SHINee yang controversial.

"Tenang saja, Sakura-ya. Yamanaka itu adalah keluarga yang cukup terpandang dan baik. Kurasa dia akan cocok menjadi temanmu—mengingat sifatnya yang heboh dan kau yang pendiam." Kakashi kembali terkekeh pelan memandang Sakura yang sedang berpikir.

"Lagipula kesibukanmu nanti bisa mengalihkan perhatianmu dari berita—skandal kau dan Sasuke—yang sedang menyebar," lanjutnya dengan kalem.

Sakura menoleh dan melihat Kakashi sedang fokus menyetir. Sakura baru sadar, setiap bersama Kakashi, ia bisa melupakan sejenak akan masalah yang sedang dihadapinya. Kakashi juga merupakan teman cerita yang baik. Ia selalu bisa membuka jalan pembicaraan hingga terasa tidak membosankan. Sakura bersyukur bisa mengenal Kakashi. Sosoknya seperti seorang kakak bagi Sakura.

"Jangan melihatku terus seperti itu, nanti kau jatuh cinta padaku." Kakashi mengedipkan sebelah matanya pada Sakura.

"Sigh!" Sakura mendecih dan kembali memandang ke luar jendela. Diam-diam ia tersenyum geli.

Melihat reaksi Sakura, Kakashi tertawa.

Kakashi berdeham dan kembali memasang ekspresi serius di wajahnya. "Sasuke tidak menyerah mendapatkanmu, meski kau sudah menolaknya berkali-kali. Dia lawan yang tidak bisa diremehkan," kata Kakashi sambil menginjak rem mobil karena lampu lalulintas berwarna merah.

Sakura mendengus. "Dia keras kepala," sahutnya.

Senyum kecil terukir di bibir Sakura saat mengingat usaha apa saja selama ini yang telah dilakukan Sasuke untuk menarik perhatiannya.

Kakashi tertawa kecil lalu kembali melajukan mobilnya. "Aku tidak akan melunak menghadapinya, meski Sasuke sudah kuanggap seperti adikku sendiri."

Sakura menoleh pada Kakashi dan melihat Kakashi dengan ekspresi yang sangat berbeda. Pria itu terlihat bersungguh-sungguh.

Kakashi menengok pada Sakura dan air mukanya berubah menjadi lebih lembut. "A… ne, besok orangtuaku akan berkunjung ke rumahmu minggu ini."

Sakura menaikkan alisnya tinggi-tinggi. "Mwo?"

Kakashi hanya tersenyum membalas pertanyaan Sakura.

.

.

.

To be continue…

Terjemahan:

No neun: kau/kamu

Jalgaseyo: sampai jumpa

Omona: astaga

Agassi: nona muda

Jeongmal mianhaesseoyo: aku benar-benar minta maaf

A… ne: oh… ya.

Hwaiting!: semangat!

a/n: Annyeonghaseyo! Jumpa lagi dengan author di sini… hehehe… sebelumnya author mau ngucapin, Saengil chukhae, Sasuke-ah! Semoga Sasuke cepat sadar dan kembali ke Konoha lalu kumpul lagi dengan team 7. Amin!

Kamsahamnida yang udah baca dan review fict saya ini. Jwesonghamnida karena banyak sekali kekurangan fict ini di sana-sini.

Joha! Balas review dulu… check this out!

tiffany90: ne, aku juga suka banget pas bagian itu. Hohoho… aku juga kalau Taemin beneran kayak gitu paling speechless and shock banget! -.- ye, Key suka banget sama Spongebob.

Yue Heartphilia: ahahaha… ya gak gitu juga -.- makasih makasih review-mu :D ini udah diupdate kilat loh :D

Haza ShiRaifu: jangankan kamu, aku juga mau dicium Sasuke kalau Sasuke nyata -.-" *menghayal*

Kinomoto Riko: jwesonghamnida… aku sibuk banget jadinya gak sempet update fict -.- ahahaha~ pengen sih bikin Sasuke dihajar Sakura tapi gak mungkin soalnya di depan umum and Sakura mikirin harga dirinya juga :D

UchihaKeyRaSHINee20: boleh banget, saeng! :D hmm, reaksi Sakura sesuai imajinasi kamu gak nih? Hohoho…

Rizuka Hanayuuki: nama anak kecil di Hello Baby itu Yoogeun :) ne, makasih doanya tapi aku kalah -.- but it's okay, setiap kompetisi pasti ada yang menang dan yang kalah. Hohoho~

Ayhank-chan UchihArlinz: mian dah bikin kamu nunggu lama, sebagai penembus dosa, aku update kilat loh… iya ini udah aku perpanjang kok fict-nya. Semoga kamu suka…

ichiyama qalbi-neechan: kurang 'y', geundae gwaenchana… hohoho… iya makasih doanya ya ichiyama-chan :)

Fiyui-chan: makasih review-nya. Benarkah bagus? Hahaha… jadi malu… *senyum malu-malu* #plak!

Sichi: hahaha… ini udah di-update kilat loh.

Choi Dong Hee: ini udah di-update kilat, chingu. Hohoho…

Ka Hime Shiseiten: iya, aku juga bikin fict birthday buat Taemin di screenplays, kalau berkenan bisa mampir ke profil aku dan baca fict gaje itu kalau bisa coret-review-coret juga.. hahaha. Kampus aku emang ketinggalan banget nih, payah -.- *dihajar rector*

Ame Kuroyuki: aku juga suka, chagiya! Hohoho… ini udah aku update :D

Ghifia Kuraudo: boleh BANGET. Mmuahaha… makasih ya udah dijadiin fav :3 dan makasih Fiyui-chan yang udah promosiin ff ini :D

shimohira kinouye: mannaseo ban gapsseumnida (senang berkenalan denganmu)! :D makasih review-nya. Terharu saya. Hehehehe… ini udah diperpanjang chapter-nya. Smoga suka :)

Devil's of Kunoichi: waaaah~ terima kasih atas koreksinya. Aku juga ngerasa agak gimana gitu sama kata itu, jadi udah aku edit kok. Semoga chapter ini juga berkenan bagi kamu. Ohoho…

Putri Luna: Lunaaaaa~ aku udah update kilat loh~ hahahaha… semoga gak ngecewain :)

Nyx Quartz: Yosh! Aku tetap semangat update kok :D gwaenchana~ hehehe… yang penting ada yang baca aja udah seneng :D

Makasih buat yang udah review yaaaah~ yang belum dan cuma baca juga makasih :D

Review again? Kamsahamnida! ^O^