Being hormonal is the same as being a bitch, sometimes.
.
.
.
"Ada lagi?" tanya Jongin dengan lembut.
Kyungsoo menggeleng, "No. Aku ingin tidur sekarang juga."
Jongin menghela nafasnya ketika Kyungsoo memalingkan wajah dan menghadapkan punggungnya. Sudah biasa sebenarnya, karena Jongin mengalami ini selama beberapa hari belakangan. Semenjak Kyungsoo benar-benar tinggal bersamanya, melakukan aktivitas berdua, membuat Jongin menyadari banyak yang berubah dari Kyungsoo. Bukan hanya fisik, tentu saja Kyungsoo makin bulat dimana-mana, tapi, sudah beberapa hari ini, Jongin menjadi tempat untuk Kyungsoo membuang amarahnya.
Jongin memakluminya; sangat memaklumi itu. Lagipula dia tidak separah Chanyeol yang pernah diusir dari rumah hanya karena membelikan Baekhyun es krim dengan rasa yang salah; atau Sehun yang harus tidur di café hanya karena Luhan memaksanya untuk memakai parfum beraroma strawberry—dan Sehun tidak mau. Kyungsoo masih jinak, tentu. Dia paling kalem diantara ketiganya. Tapi Jongin merindukan Kyungsoo yang masih malu-malu atau manja padanya, bukan Kyungsoo yang mudah protes dan memerintah.
Dia tersenyum getir sembari menatap punggung kekasihnya itu. Dia ingin memeluknya, tapi dia tahu Kyungsoo akan menghindar dan lebih memilih untuk menjauh. Jongin melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul tiga pagi. Ia menggigit bibir bagian bawahnya, menimang apakah dia harus tidur atau tidak karena jam tujuh pagi dia harus pergi ke manajemennya untuk membicarakan proyek drama besar barunya. Dia tahu, jika dia pergi tidur sekarang juga, akan sangat mungkin dia tidak terbangun, dan lagipula, Kyungsoo belum tahu bagaimana jadwalnya nanti. Maka dari itu, dia memilih untuk menyibakkan selimutnya, dan berjalan keluar dari kamar.
Dia menghentikan langkahnya ketika sampai di dapur, mencari-cari apakah ada sesuatu yang dimakan. Hingga akhirnya dia menemukan sekardus besar Choco Pie. Dia sudah tersenyum bahagia, namun kebahagiaannya hanya berlangsung sepersekian detik ketika dia ingat bahwa itu milik Kyungsoo. Jika Jongin memakan satu bungkus kecil saja, maka Kyungsoo bisa merengek dan tidak berbicara dengannya seharian; layaknya Jongin adalah hantu yang transparan.
Dia memutuskan untuk mengambil ponsel miliknya di kamar dengan mengendap-endap. Didapatinya nafas Kyungsoo yang sudah teratur, dan lelaki itu sekarang menghadap ke arah dimana Jongin seharusnya tidur. Kyungsoo meringkuk, seperti biasanya. Ingin Jongin kembali ke ranjang mereka, namun dia takut Kyungsoo terbangun seperti sebelum-sebelumnya.
"I miss you, Soo." Gumam Jongin yang mengecup pucuk kepala Kyungsoo sebentar sebelum keluar dari kamar lagi.
Beberapa hari ini dia memang punya pekerjaan ekstra. Semenjak web dramanya bersama Kyungsoo—yang masih diputar empat episode—menjadi pembicaraan publik, tawaran datang dari banyak arah. Tidak hanya untuk drama pada umumnya, bahkan untuk drama gay sekalipun. Mereka bilang, Jongin bisa memerankannya dengan baik, dan chemistrynya bersama Kyungsoo benar-benar bagus. Padahal itu sudah bisa terbaca, karena mereka berkencan sekarang.
Matanya terasa berat. Badannya lelah, jika bisa jujur. Tapi nampaknya keadaan apartment sedang tidak benar-benar membantu. Jika pagi, dia akan disambut dengan pemandangan dimana Kyungsoo meringkuk sembari mengeluarkan kembali makanannya ke kloset, dan Jongin yang tidak bisa melakukan apa-apa. Disaat pagi juga, Jongin akan menerima rengekan dari Kyungsoo yang berkata bahwa ini semua salahnya. Dulu, dia masih bisa menertawakan itu, karena Kyungsoo yang merengek adalah Kyungsoo yang adorable. Namun sekarang, itu semua berubah menjadi sedikit menyeramkan.
Terkadang, jika pulang dari bekerja, Jongin mendapati Kyungsoo yang sudah mendelik padanya. Berulang kali sebenarnya Jongin mengatakan bahwa Kyungsoo tidak perlu menunggunya untuk makan malam, tapi Kyungsoo bersikukuh. Walaupun, setelahnya, Kyungsoo melemparkan semua omelannya pada Jongin yang tidak bisa membalikkan satu katapun.
Dia menggulirkan foto-foto yang ada di ponselnya dan mendapati foto ultrasound yang dikirimkan Kyungsoo tiga hari lalu. Disaat itu Jongin sedang melakukan shooting CF, sehingga tidak bisa menemani Kyungsoo—yang pada akhirnya pergi bersama Chanyeol. Kyungsoo sendiri sedang vakum, dan mungkin hanya akan menerima pekerjaan seperti pemotretan atau semacamnya. Jongin sendiri sebenarnya melarang Kyungsoo untuk beraktivitas, dan karena Kyungsoo yang berfisik lumayan lemah, maka dia mengiyakan semua perintah Jongin tersebut.
"Stay strong, Baby Boy." Gumam Jongin dengan senyum bodohnya pada gambar yang hanya menampilkan bulatan berbentuk aneh tersebut.
Jongin menginginkan anak laki-laki, dan Kyungsoo sebaliknya. Ketika Kyungsoo dengan semangat mengatakan bahwa dia menginginkan anak perempuan, Jongin hanya bisa berkata iya. Dia menyetujuinya. Jongin tidak berani mengutarakan pendapatnya, karena, jika dia melakukannya, Kyungsoo akan merengek seperti biasanya.
"Stay strong, Papa." Gumamnya yang sebenarnya menyemangati dirinya sendiri.
.
.
.
Kyungsoo membuka matanya dengan rasa malas pagi itu. Dia ingin lebih lama di ranjang tapi dia tidak mungkin membiarkan Jongin kelaparan sebelum berangkat bekerja. Kyungsoo, yang menghadapkan punggungnya pada Jongin itu menguap, dan membalikkan badannya. Jika biasanya dia disambut dengan seseorang, maka pagi itu tidak. Ranjang di sebelahnya seperti tidak tersentuh, sama sekali. Bahkan bantal yang biasanya sudah hampir terjatuh, kali ini tertata dengan rapi.
"Jongin?"
Kyungsoo terdiam. Menanti adanya jawaban dari panggilannya baru saja. Tapi, setelah beberapa saat dia menunggu, jawaban itu tidak kunjung terdengar. Dengan segera, dia menjejakkan kaki keluar dari kamar.
"Jongin? Nini-ya!"
Dia menyerah ketika melihat apartment benar-benar sepi. Kyungsoo merasa kecewa, tentu saja. Dengan keadaan sepele begitu rasanya dia sudah ingin menangis. Entah, akhir-akhir ini dia menjadi sangat sensitif. Bahkan terkadang dia tersinggung dengan candaan Jongin yang padahal, sudah biasa dia dengar.
Kyungsoo melangkahkan kakinya mendekat ke arah meja makan. Dia mendapati tiga irisan toast berada di atas piring dan disandingkan dengan Nutella yang tersisa separuh dari wadah besarnya. Di samping piring itu, Kyungsoo mendapati sebuah sticky notes berwarna kuning, dan coretan-coretan huruf yang sangat amat ia kenal.
Good morning, Sunshine!
Jika kau menemukan ini berarti aku sudah tidak di rumah.
Aku harus pergi ke kantor tepat jam tujuh, dan aku lupa untuk memberitahumu semalam.
Sebagai ucapan permintaan maaf, aku sudah memanggangkan roti untukmu.
Bukan, untukmu dan untuk Binnie.
^^v
Happy breakfast, Dear!
Your J.
Kyungsoo tersenyum kecil. Hatinya selalu terasa hangat jika tahu Jongin memanggil anak mereka dengan sebutan Binnie. Meskipun belum benar-benar terlihat, tapi Jongin selalu berandai-andai dan terkadang memegang perutnya yang belum tumbuh besar itu.
Terkadang dia merasa bersalah pada Jongin. Lelaki itu sangat sabar untuk menghadapi sikapnya yang sangat kekanak-kanakan. But he can't help it; after all. Sifatnya yang biasanya saja sudah bisa digolongkan childish, apalagi sedang dalam keadaan hormonal begini. Dia ingin mengubah itu, jika bisa. Tapi tak jarang dia hanya ingin marah, merengek; dan Jongin mau tidak mau menjadi sasarannya.
Layaknya pagi ini, jika tidak ada roti panggang dan Nutella, pasti dia akan menelepon Jongin dan seperti biasa, membuang kekesalannya. Bukan hanya menjadi orang yang pemarah, tapi Kyungsoo juga berubah menjadi orang yang sangat posesif. Sering dia melarang Jongin untuk melakukan ini itu hanya karena dia takut Jongin akan dekat dengan orang lain—meskipun dia tahu Jongin tidak akan melakukannya. Yup, possessive couple, indeed.
Disaat dia sedang sibuk mengoleskan Nutellanya, pintu apartment terbuka. Kyungsoo menoleh, dan mendapati Chanyeol beserta Baekhyun berjalan ke arahnya.
"Hyung? Ada apa?" tanya Kyungsoo dengan mata besar dan berkedip itu.
"Jongin menyuruh kami kemari. Dia hanya ingin kami memastikan kau sudah makan atau belum—kau sepertinya sedang makan sih." Ucap Baekhyun yang langsung duduk di samping Kyungsoo.
Kyungsoo tersenyum kecil dan kembali mendaratkan perhatian pada roti panggangnya, "Jongin yang menyuruh kalian kemari?"
Chanyeol mengangguk, "Ini. Dia juga menyuruh kami untuk membelikan susu cokelat hangat untukmu."
"Thank you, Hyung! Such a perfect breakfast." Kicau Kyungsoo yang langsung meraih susu cokelat yang dibawa Chanyeol.
"Aigoo," Chanyeol mengacak-acak rambut Kyungsoo, "rasanya aku tidak ingin mempercayai ucapan Jongin tempo hari." Gumamnya.
"EH?" Kyungsoo mendongakkan kepalanya dan menatap Chanyeol, "Jongin mengatakan apa?" tanyanya penasaran.
"Tidak, tidak. Bukan apa-apa, Soo," merasa hampir mengucapkan hal yang dirahasiakan, Chanyeol langsung mengubah arah topik pembicaraan, "ah, aku baru ingat. Manajemen menyusunkan jadwal kegiatan untukmu. Sekitar tiga minggu lagi, tepat ketika drama webmu selesai, kau harus melaksanakan fan meeting selama dua hari. Setelah itu kau baru bisa vakum total—well, sampai kau merasa siap untuk kembali lagi."
"Begitukah?"
Chanyeol tertawa kecil. Apalagi ketika melihat Kyungsoo, lelaki yang selama ini ditemaninya dan sudah dia anggap adiknya sendiri duduk dengan Baekhyun, yang sekarang menjadi bagian hidupnya. Mereka berdua menatapnya dengan wajah yang sangat polos dan mata yang tanpa dosa. Kyungsoo sendiri sedang mengunyah makanannya sehingga pipinya terlihat lebih gembung, dan Baekhyun sendiri, dengan berat badan yang sudah naik beberapa kilogram, membuat pipinya juga lebih chubby daripada sebelumnya. Yah, walaupun Baekhyun selalu membenci kenyataan itu.
"Uhum. Tapi aku pikir sepertinya Jongin akan melarangmu melakukan apapun—" Chanyeol menatap kedua orang itu secara bergantian, "pipi kalian menjadi chubby dan itu sangat lucu, astaga."
His inner thoughts speak louder than it should be. Setelah menyadari apa yang baru saja dia katakan, Chanyeol membelalakkan matanya—sembari mengutuk dirinya sendiri. Apalagi ketika melihat mata yang membunuh dari Baekhyun dan wajah yang meringsut dari Kyungsoo. Mereka berbeda, tentu. Jika Kyungsoo adalah orang yang berubah menjadi anak kecil, maka Baekhyun adalah iblis yang siap membunuh kapan saja; dan Chanyeol akan menghadapi keduanya setelah mengatakan satu kalimat saja. Poor him.
.
.
.
"Aku ingin pulang, Hyung…" gerutu Jongin pada Yixing yang duduk di samping.
"Aku juga, Jongin. Aku juga."
Mereka masih ada di kantor manajemen Jongin. Sudah malam hari dan Jongin belum makan malam—dia sangat lapar tentu saja. Mereka masih membahas bagaimana jadwal Jongin ke depannya dan juga kontrak yang sudah akan habis dalam waktu dekat. Mereka membicarakan apakah Jongin akan menandatangani kontrak baru atau pergi ke agensi lain. Karena Jongin adalah salah satu sumber pendapatan manajemennya, maka mereka berusaha mempertahankannya. Termasuk dengan memberkan tawaran seperti kebebasan berkencan dan semacamnya.
Jongin sudah lelah. Apalagi dengan jadwal tambahannya yang baru saja dia selesaikan. Siang hari tadi, dia harus melakukan pemotretan secara mendadak. Untung saja dia sedang tidak dalam jadwal yang lain, jadi Jongin bisa melakukannya. Setelah melakukan pemotretan hingga petang, Jongin kembali ke agensi untuk membicarakan hal yang lain-lain. Dia sangat bosan sejujurnya, apalagi CEO agensinya yang sedari tadi menawarkan ini itu padanya. Sebenarnya Jongin akan memperpanjang kontraknya, tapi dia hanya ingin diberi kebebeasan lebih; termasuk untuk berkencan atau mungkin nanti menikah.
"Sekarang jam berapa?" tanya Jongin pada Yixing.
Lelaki itu mengangkat jam tangannya, "Sembilan?"
"OH!"
Merasa terkejut, Jongin langsung mencari ponselnya. Dengan cepat dia mencari salah satu kontak yang tertera dan meneleponnya. Our Kyungsoo.
"Halo?" tanya Jongin setelah menunggu beberapa saat.
"Jonginnie! Cepat pulang!"
Jongin tertawa kecil ketika mendengar Kyungsoo berseru dengan cerianya, "Sebentar lagi, Soo. Sudah makan?"
"Sudah. Mingyu dan Wonwoo baru saja datang dan kami makan bersama! Mereka membawa untuk empat orang tapi kau tidak ada di rumah…"
Jujur, Jongin bisa membayangkan wajah Kyungsoo yang meringsut dan bibir yang mengerucut. Dia juga bisa melihat Kyungsoo yang merengek manja. Kyungsoo yang seperti inilah yang ia rindukan, namun itu tidak akan berlangsung lama. Jongin tahu itu.
"Maafkan aku. Aku akan pulang jika semua urusan sudah selesai. Ah, kau tidak ingin menitipkan sesuatu? Aku akan membelikannya nanti jika pulang."
Kyungsoo terdiam sebentar sebelum berbicara, "Ddeokbokki! Aku ingin ddeokbokki, Jongin…"
"Tapi itu pedas, Sayang. Bukankah yang lain lebih baik?"
"Aku ingin itu, Jongin. Tidak ada yang lain."
Jongin terkekeh, "Baiklah. Aku akan membelikannya nanti. Lainnya?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin kau cepat pulang saja."
"Aku akan cepat pulang jika semuanya sudah selesai. Akan dengan segera pulang." Ucap Jongin menegaskan.
"Aku menunggumu, Nini!"
Jongin tersenyum dengan bodoh ketika menutup teleponnya. Rasa lelahnya seperti menguap begitu saja ketika mendengar suara Kyungsoo yang berbicara dengan lucunya—tadi. Meskipun dia tahu dia harus terus berbuat baik agar Kyungsoo tetap seperti itu. Dia tidak bisa memahami, jujur, mengapa Kyungsoo menjadi sangat amat sensitif. Dia tahu jika Kyungsoo sedang bermasalah dengan hormon, tapi sikap sensitifnya serasa berubah berkali-kali lipat dari sebelumnya. Seperti… apapun yang dilakukan Jongin tidak pernah benar.
"Kyungsoo?" tanya Yixing yang mendengar percakapan Jongin di telepon baru saja.
"Uh? Iya, Hyung. Ah, bisakah nanti kita membeli ddeokbokki dulu ketika perjalanan pulang?"
Yixing mengangguk, "Kyungsoo memintanya?"
"Iya… aku bisa menjadi bulan-bulanan jika tidak membelinya nanti."
"Dia menjadi sangat sensitif?"
Jongin mengangguk, "Sangat amat sensitif."
"Tapi setidaknya kau tidak mengalami hal parah seperti Chanyeol dan temanmu itu… siapa? Bihun?"
Jongin memutar bola matanya, "Sehun, Hyung."
"Seingatku dia bernama Bihun! Ah, lupakan saja—tapi Kyungsoo tidak mengusirmu dari rumah, bukan?"
"Iya… tapi sama saja, Hyung. Terkadang, jika menurutnya aku menyebalkan, aku tidak akan dianggap. Seperti… transparan."
"Kau tidak transparan, Jongin. Kau sangat terlihat! Kecuali jika cahaya gelap—redup mungkin? Karena kulitmu lumayan temaram—"
Jongin menghela nafasnya ketika mendengar ucapan manajernya itu, "Hyung, please."
"Oke, maafkan aku. Aku mudah teralihkan, memang."
"Aku sudah tahu," Jongin memutar kedua bola matanya, "tapi terkadang aku merasa tidak punya harga diri, Hyung. Entah, mungkin karena dia menyuruhku ini itu dan aku hanya bisa berkata iya."
"Tidak apa, Jongin. Lagipula, jika Kyungsoo sedang terkena morning sickness misalnya, kau tidak bisa berbuat apa-apa, bukan?" Jongin mengangguk dengan wajah yang murung, "kau tahu, kau hanya perlu menahan ini beberapa saat. Karena mungkin Kyungsoo akan berubah biasa lagi seiring berjalannya waktu. Tapi kau tadi tahu bagaimana berjuangnya dia nanti." Ucap Yixing.
"Iya, aku juga merasa begitu. Apalagi jika pagi hari—dia harus memuntahkan semua makanannya atau hanya karena bau-bauan aneh yang menurutku tidak aneh sama sekali. Bahkan terkadang aku hanya bisa mengusap punggungnya jika dia meringkuk—apalagi fisiknya ringkih begitu. Aku tidak tega, tapi… hey! Bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti, Hyung?" tanya Jongin heran.
"Aku? Mengatakan apa?"
"Yang baru saja! Kau baru saja menasehatiku dengan baik—wow!"
"Ah, benarkah? Aku bahkan tidak begitu paham dengan apa yang ku katakan tadi."
Jongin ingin membenturkan kepala Yixing. Berharap agar otak Yixing bekerja dengan normal. Terkadang Jongin merasa takjub dengan manajernya itu. Yixing selalu bisa mengingat jadwalnya dengan baik, menatanya dengan rapi, bahkan sekarang bisa dibilang sangat amat jauh lebih rapi dari Baekhyun. Yixing juga orang yang tepat waktu, sama seperti Baekhyun. Jika dulu Baekhyun membangunkannya dengan cara yang brutal, maka sekarang Jongin tidak merasakan itu lagi. Selain karena Kyungsoo sudah tinggal bersamanya, Yixing selalu membangunkannya dengan cara menelepon berulang kali layaknya alarm yang tidak berhenti. It is annoying; as hell.
Semua ada kurang dan lebihnya. Seperti Yixing yang lemah otak—otaknya berjalan sangat lambat—tapi dia orang yang sangat penyabar dan telaten, dan Baekhyun, orang yang pemarah tapi bekerja dengan sangat cepat. Jongin mengalami keduanya, dan bersyukur karena bekerja dengan mereka. Sebab, Yixing dan Baekhyun lah yang membantu semua pekerjaannya berjalan dengan baik.
"Eh, by the way, bisakah kita mampir ke kedai kopi Bihun nanti?"
"Sehun, Hyung. Oh Sehun."
"Iya Oh Sehun atau Bihun sama saja. Pokoknya temanmu itu."
Jongin mengangguk dan menghela nafasnya, "Aku senang kau memanggilnya Bihun. Karena dia menyebut Kyungsoo dengan sebutan Kyungpoo." Gumam Jongin yang kemudian menyandarkan punggungnya dengan penuh rasa lelah.
.
.
.
"Kyungsoo? Aku pulang." Ucap Jongin dengan rasa was-was.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Dia pulang dua jam setelah Kyungsoo menelepon di kantor tadi, dan dia merasa sangat bersalah karena membuat kekasihnya itu menunggu. Dengan kantong plastik berisi ddeokbokki panas di tangannya, dia masuk ke dalam apartment. Wajahnya mengisyaratkan rasa lelah yang luar biasa. Selain karena kegiatan yang berjalan seharian penuh, dia juga merasa kurang tidur dan kepalanya sedikit pening. Memang, pagi sebelumnya Jongin memutuskan untuk tidak tidur dan lebih memilih menonton televisi saja.
"Soo? Baby?" panggil Jongin yang melepas jaketnya dan bergegas menuju kamar.
Ketika dia membuka kamarnya, dia mendapati Kyungsoo yang sudah terlelap. Dia tidak tega untuk membangunkannya dan membiarkan Kyungsoo tetap tidur. Dengan perlahan Jongin meletakkan barang-barangnya; dia berusaha untuk tidak bersuara agar Kyungsoo tetap terlelap. Walaupun pada akhirnya, dia membuat kegaduhan fatal karena menjatuhkan deodorantnya dengan suara keras.
"Shit!" umpat Jongin yang bergegas mengambil deodorant miliknya tersebut.
Tak lama kemudian, "Jongin?"
"Oh, hey. Aku baru saja pulang. Pesananmu ada di meja makan. Kau bisa memakannya sekarang. Aku akan mandi cepat; jika kau menungguku—in case." Ucap Jongin yang sudah bertelanjang dada itu.
"Aku sudah tidak ingin memakannya. Kau bisa memakannya jika kau mau."
"Oh?"
Jongin kecewa, jika dia bisa mengatakannya. Apalagi Kyungsoo mengatakannya dengan nada datar dan tidak berekspresi. Tapi dalam hatinya, Jongin merasa itu wajar. Karena mungkin dia pulang terlambat. Dua jam menunggu tentu membuat rasa lapar atau hanya sekadar ingin itu hilang dengan sendirinya.
"Okay."
Jongin masuk ke dalam kamar mandi dengan perasaan tidak menentu; berada di antara rasa bersalah dan rasa kesal. Jika dia bisa, dia akan berteriak pada Kyungsoo. Ayolah, dia sangat lelah dan emosinya kemana-mana. Tapi dia juga merasa bersalah karena pulang terlambat. Jadi mungkin saja Kyungsoo berkata seperti itu karena sudah menunggu terlalu lama. Mungkin, mungkin saja.
.
.
.
"Astaga… tidak ada makanan sama sekali." Gumam Jongin yang sudah selesai mandi dan menginspeksi dapurnya.
Dia mendengus kesal, karena mungkin Mingyu menghabiskan makanannya tadi. Memang, dia dan Mingyu selalu makan dengan porsi besar. Jadi wajar saja jika Mingyu memakannya, lagipula dia tadi tidak di rumah, bukan?
Sedikit ada rasa menyesal karena Jongin menolak tawaran Yixing yang menyarankan dirinya untuk makan terlebih dulu. Karena Jongin memikirkan kue beras yang dia beli itu—apalagi orang yang memintanya—maka Jongin mengesampingkan kebutuhannya untuk makan. Dengan rasa putus asa, Jongin membuka cabinet dapurnya, mengambil sebungkus ramyeon, dan memasaknya. Dia tidak berani menyentuh ddeokbokki milik Kyungsoo, karena dia tahu Kyungsoo akan menginginkannya nanti—bahkan Jongin sudah hafal dengan kebiasaan kekasihnya tersebut.
Dia ingin segera tidur. Tapi dia tahu Kyungsoo sedang kesal padanya. Dia merindukan Kyungsoo yang dulu; yang belum terserang oleh hormon. Dimana Kyungsoo selalu menyambutnya dengan senyum dan mata yang melengkung. Rasanya, Jongin ingin menangis sekarang. Hanya karena dia merasa kecewa dan ingin marah, tapi tidak tahu harus marah pada siapa. Yang ada, dia menyalahkan dirinya sendiri karena membuat Kyungsoo menjadi seperti ini.
Dengan langkah terseret, Jongin mengangkat mangkok berisi ramyeon panasnya itu ke arah balkon. Disana dia mendudukkan dirinya di sebuah kursi malas dan mulai meletakkan apa yang dia bawa. Semangkok ramyeon panas, sebotol besar air dingin, ponsel, dan… barang yang lama tidak Jongin sentuh, sebungkus rokok. Jongin merokok, dulu. Ketika dia masih sekolah menengah atas dan sedikit merasa ketagihan. Dia mulai menguranginya ketika sudah mulai bekerja. Walaupun dia tetap menyediakan sebungkus rokok dan mengkonsumsinya jika dia sedang stress atau jenuh seperti sekarang.
Dia menyantap makanannya di bawah dinginnya udara malam dan gemerlapnya kota Seoul. Sudah lama dia tidak duduk disana. Memang, semenjak Mingyu keluar dari apartmentnya, dia jarang melakukan itu. Di balkon itu terdapat dua buah kursi malas, sehingga dulu, ketika mereka—Jongin dan Mingyu—masih tinggal bersama, mereka duduk disana berdua dan membicarakan hal-hal konyol. Mulai dari masalah keluarga yang mungkin berat, masalah pasangan dan tipe idealnya, hingga membicarakan masa kecil mereka yang rindukan. Sekarang, Jongin duduk disana seorang diri. Dia merindukan kehadiran adiknya, tentu saja. Meskipun jika diingat-ingat lagi, Jongin sering mengusirnya—sebenarnya dia tidak benar-benar mengusirnya.
Ketika makanannya sudah sudah habis, Jongin mengambil sebatang rokok dan mulai menyalakannya. Dia menyandarkan punggung sembari mengamati langit Seoul yang dipenuhi dengan bintang. Sudah lama dia tidak merasakan hangatnya asap rokok menjalar di sempitnya tenggorokan miliknya. Dia mengambil ponsel dan menelepon seseorang yang sangat dia butuhkan sekarang. Seorang wanita yang mau mendengarkan keluh kesahnya, wanita yang mau mendengarkan amarahnya, wanita yang tidak pernah lepas dari kehidupannya, dan satu-satunya wanita yang sangat berharga di dalam hidupnya.
"Halo? Eomma? Apa aku mengganggu tidurmu?"
.
.
.
Kyungsoo mengerjapkan matanya. Rasa kantuk benar-benar sudah menyerap di seluruh pori-pori tubuhnya. Dia membalikkan badan, dan menemui sampingnya masih sangat rapi—bahkan selimutnya sekalipun. Dia kesal pada penghuninya. Karena si pria itu pulang terlambat. Apalagi Kyungsoo sudah menunggunya—dan makanannya tentu saja. Entah mengapa sekarang dia tidak ingin mengajak pria itu berbicara—karena kesal, mungkin saja. Apalagi sekarang ketika dia melihat sampingnya masih benar-benar rapi; membuat kekesalannya makin memuncak.
Dia menjejakkan kakinya keluar dari kamar untuk mencari lelaki itu—dan menanyakan mengapa pulang terlambat serta mengapa tidak cepat-cepat tidur. Ketika dia baru saja membuka pintu kamarnya, dia melihat seseorang duduk di balkon apartment mereka dengan asap yang mengepul disana. Kyungsoo sudah siap untuk mencecar lelaki itu dengan banyak hal; sebelum akhirnya dia menyadari lelaki itu menghela nafasnya berkali-kali dan dia berbicara dengan suara lemah.
"—aku lelah, Eomma. Aku hanya ingin istirahat dan dia berbicara dengan nada yang ketus padaku. Aku tahu aku salah, Eomma, aku pulang terlambat dan terlampau malam. Aku kesal, tapi aku merasa bersalah, Eomma…"
Kyungsoo memperhatikan bagaimana Jongin yang berhenti sejenak hanya untuk menghisap rokoknya. Kyungsoo tidak pernah melihat pemandangan itu sebelumnya, bahkan Jongin tidak pernah mengatakan bahwa dia merokok. Lagipula Kyungsoo juga tidak pernah menemukan bungkus rokok di pakaian maupun tas dari Jongin. Sejenak dia merasa terbohongi, sebelum dia mendengar ucapan Jongin lagi.
"—aku merasa bersalah karena membuatnya begini. Apalagi ketika aku melihat dia memuntahkan semua makanannya ketika pagi hari tiba hingga wajahnya memucat. Aku tidak pernah tega jika melihat dia begitu…" dia terdiam sejenak sebelum dengan panik untuk mematikan rokoknya, "aku tidak merokok, Eomma. Tidak."
Kyungsoo tertawa kecil. Dia melihat bagaimana Jongin yang selama ini berusaha memanjakannya berubah menjadi anak kecil yang bahkan tidak berani melawan orang tuanya walaupun tidak benar-benar bertatap muka. Kyungsoo merasa bersalah, hingga dia pun menangis. Dia membenci dirinya sendiri karena berubah menjadi spoiled bitch yang harus dituruti semua permintaannya; dan dia membenci dirinya karena sudah membuat Jongin menjadi seperti ini.
"—apa dulu Appa mengalami hal yang sama denganku?" dia terdiam dan bahunya terkoyak, karena mungkin mendengarkan cerita ibunya sebelum akhirnya terkekeh, "Aku tahu, Eomma. Dia akan mempertaruhkan nyawanya nanti jika sudah waktunya tiba. Tidak, aku tidak marah padanya—bahkan aku tidak bisa membentaknya. Aku marah pada diriku sendiri karena membuatnya kecewa setiap harinya. Mungkin aku hanya lelah hingga aku begini." Dia kemudian terisak, "Iya, jadwalku seharian penuh. Dari jam tujuh pagi dan aku baru pulang sekitar jam sebelas malam—iya, aku sudah makan, Eomma. Aku sudah makan dari tadi."
"Pembohong." Gumam Kyungsoo yang mengetahui ada mangkuk di samping Jongin. Rasa bersalah benar-benar menggelayuti dirinya, karena dia baru tahu Jongin belum makan malam dan tadi dia sama sekali tidak peduli.
"—dia sudah tidur, Eomma. Aku tidak tega membangunkannya—sudah, Mingyu dan pacarnya datang kemari untuk membawakannya makanan. AH! Eomma! Ingatkan Mingyu untuk segera menyelesaikan kuliahnya. Akhir-akhir ini dia sibuk berkencan terus—ah, benarkah nilainya sangat bagus? Aku tidak tahu jika Mingyu sepintar itu. Dia memang lebih pintar dariku, Eomma." Jongin melipat kakinya dan meringkuk di kursi tersebut, "Aku merindukan Mingyu, Eomma. Aku merindukan masa-masa dimana kami masih bermain di belakang rumah dan Eomma memarahi kami." Dia menghela nafasnya panjang-panjang dan kembali berbicara dengan suara parau, "Bekerja dan menjadi dewasa tidak seperti yang aku kira dulu. Karena aku merasa tanggung jawabku bertebaran dimana-mana, harus kuhadapi seorang diri, dan itu terasa menyesakkan."
Kyungsoo ingin memeluk Jongin sekarang. Bagaimana tidak, dia merasa sangat amat bersalah dan berpikir penyebab Jongin menjadi seperti ini adalah dirinya. Jika saja dia tidak mengedepankan ego dan lebih mengerti perasaan Jongin, maka tidak akan seperti ini. Lagipula Jongin bukan orang yang suka menangis, tentu saja kejadian ini membuat perasaan bersalahnya berkembang menjadi berkali-kali lipat.
"—iya, Eomma. Aku akan tidur sekarang. Terima kasih sudah mendengarkan aku, Eomma. Maaf sudah mengganggu tidur cantikmu—" Jongin tertawa kecil, "bye, Mom. Love ya."
Kyungsoo masih berdiri disana. Berdiri di depan pintu kamarnya dengan isakan lirihnya. Dia membenci dirinya yang sensitif, dan dia membenci dirinya yang cengeng begini. Tapi mau bagaimana lagi, Jongin yang seperti itu saja bisa menangis, apalagi dirinya. Dia masih tidak bergerak dari tempatnya sebelum dia mendapati Jongin berdiri dan membalikkan badannya.
"Soo?" ucap Jongin yang menatapnya dengan mata sembab itu.
Kyungsoo berjalan cepat ke arah Jongin, dan menghamburkan dirinya disana, "Jonginnie, sorry…"
Jongin terdiam. Dirinya yang masih memegang ponsel itu menghela nafasnya lega, "Kau mendengar percakapanku dengan Eomma?" Kyungsoo menganggukkan kepalanya lemah, "It's nothing, I'm okay, Soo…"
Kyungsoo menggelengkan kepalanya, "Tapi kau menangis begitu—aku bahkan tidak pernah melihatmu menangis sebelumnya."
"Tidak apa, aku hanya merasa lelah saja. Kau tidak perlu khawatir." Ucap Jongin sembari mengusap-usap rambut lelaki yang memeluknya.
Dengan suara yang tenggelam di kaos milik Jongin, Kyungsoo menjawab, "Tapi aku mendengar semuanya… I am so bitchy, right?"
"NO! Aku tidak pernah mengatakan kau seperti itu; dan jangan merasa dirimu berubah menjadi begitu."
"Tapi Jongin, aku—"
"Cukup~ sekarang masuk ke dalam, udara malam tidak baik untukmu."
Kyungsoo melepas pelukannya dan menatap Jongin dengan mata besarnya yang berair itu, "Aku tidak tahu jika kau merokok begini." Ucapnya.
"Sorry, I can't help it. Aku selalu begitu jika sedang… stress—tapi tenang, aku baik-baik saja. Sungguh."
"Jangan berbohong."
"Tidak, Soo. Aku tidak berbohong," dia mengecup puncak hidung Kyungsoo sebelum mendorong perlahan lelaki itu agar masuk ke dalam rumah, "ayo, masuk dan tidurlah lagi. Aku akan menyusulmu jika sudah merapikan barang-barangku yang ada di balkon."
"Aku akan menunggumu di dapur." Ucap Kyungsoo.
"Baiklah, tunggu aku." Jawab Jongin.
Sedikit di dalam hatinya Jongin merasa lega. Meskipun dia merasa ini bukan cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah; karena dia ingin berbicara secara langsung. Tapi setidaknya, Kyungsoo sudah mendengar apa yang dia rasakan sekarang. Iya, dia merasa kesal, lelah, marah, tapi penuh dengan rasa bersalah.
Dia mengantongi ponsel dan rokoknya sembari menenteng mangkuk kosong beserta botol minumannya. Jongin menyusul Kyungsoo yang sudah duduk disana. Kyungsoo hanya bisa menatap dirinya; menatap setiap gerak-geriknya—bahkan ketika mencuci mangkuknya sekalipun. Ketika sudah selesai, dia mendudukkan dirinya di samping Kyungsoo dan menyangga kepalanya—dengan tangan—yang menoleh ke arah kekasihnya itu.
"So?" tanya Jongin.
"Sorry…"
Jongin terkekeh, "It's okay, though. Aku tidak mempermasalahkan itu. Aku hanya… sedang lelah hari ini," dia meraih bungkusan ddeokbokki yang ada di meja makan, "kau ingin memakannya tidak?"
Kyungsoo mengangguk, "Feed me."
"Baiklah…" dia mulai menyendokkan makanan itu dan memberikannya pada Kyungsoo yang sudah membuka mulutnya, "kenapa kau terbangun?"
"Kau tidak ada di kamar dan aku mencarimu…" dia berucap dengan mulut yang mengunyah makanan, "aku minta maaf karena sudah menguping pembicaraanmu dengan Eomma, tapi kenapa kau tidak pernah membicarakan itu padaku? Karena aku menjadi orang yang suka merengek dan pemarah?"
Jongin tertawa kecil, "Mungkin? Tapi aku tidak menyalahkanmu, Baby. Aku tahu kau tidak bisa mencegahnya. Mungkin aku harus lebih bersabar lagi. Sorry."
Kyungsoo menggelengkan kepalanya kuat-kuat, "No, aku yang harus lebih mengerti dirimu sekarang," dia mengerucutkan bibirnya dan matanya berair lagi, "kenapa aku menjadi cengeng begini? Aku juga membenci diriku—"
"Tidak, tidak boleh," Jongin mengambil tisu dan mengusap air mata Kyungsoo yang sudah mulai turun, "it's okay, really. Aku sedang lelah saja, kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri."
"Tapi aku tidak mau menjadi orang yang seperti ini, Jongin. Being a spoiled bitch dan membuatmu menurutiku permintaan-permintaan konyolku," dia terdiam sebelum meraih tangan Jongin yang terbebas dan menggenggamnya dengan kedua tangannya, "Do Kyungsoo berjanji—bukan, berusaha untuk tidak menjadi seseorang yang egois lagi."
"Ah… begitukah? Buka mulutmu lagi—aigoo, aku merindukan dirimu yang begini."
Kyungsoo terkikik dengan matanya yang menyempit. Kakinya terayun karena tidak bisa menyentuh lantai. Dia, orang yang dirindukan oleh Jongin sudah kembali. Do Kyungsoo yang penuh dengan aegyo walau dia tidak bermaksud untuk melakukannya.
"Sudah? Tidak ingin menangis lagi?" goda Jongin.
Kyungsoo mengerucutkan bibirnya, "Kau juga menangis. Aku tidak menyukai itu. Ah, tapi kau menangis karena aku…"
"Astaga, tidak apa-apa, Soo. Aku sedang lelah saja."
"Baiklah, Tuan-yang-Sedang-Lelah. Kau belum makan malam tadi?"
Jongin menggeleng, "Aku tidak ingin kau menunggu makananmu. Walaupun tetap saja terlambat."
"Tetap saja kau memikirkan aku disaat aku hanya memikirkan diriku sendiri…" jawab Kyungsoo dengan suara lirih dan hampir menangis; lagi.
Jongin menghela nafasnya sembari tersenyum, "Apakah anak kita akan cengeng seperti dirimu?" dia menawarkan makanannya lagi namun Kyungsoo menggeleng, "Sudah? Minum dulu, lalu kita tidur." Ucapnya yang kemudian membersihkan ujung bibir Kyungsoo yang terkena saus ddeokbokki.
Kyungsoo mengangguk. Setelah itu dia menggandeng tangan Jongin masuk ke dalam kamar—tidak, ke kamar mandi untuk membersihkan gigi bersama. Disaat itu Jongin mendudukkan kekasihnya di dekat wastafel dan dia berdiri di depannya. Sesekali dia mendengar Kyungsoo tertawa jika Jongin melakukan hal konyol.
Setelah itu, mereka berdua bergegas ke ranjang. Kyungsoo segera meringkuk ke arah Jongin. Dia sempat melihat Jongin yang berwajah sangat lelah, dan bahkan matanya memerah. Dia menepuk-nepuk pipi lelaki berkulit tanned itu. Cari perhatian, seperti biasa.
"Jonginnie?"
Dengan suara yang mengantuk, Jongin menjawab, "Iya, Soo?"
"Bagaimana jika anak kita ternyata laki-laki?"
"Hm… sebenarnya, aku lebih menginginkan anak laki-laki, Soo." Jawab Jongin ragu.
"Hanya karena aku berkata jika aku menginginkan anak perempuan dan kau berkata iya?" tanya Kyungsoo dengan nada yang sedikit meninggi.
Mendengar jawaban yang tidak diinginkan, Jongin berusaha beralasan, "Hm… itu—bukan begitu maksudku, Sayang…"
Kyungsoo mendekat ke arah Jongin dan memeluk pinggang lelaki itu, "Tapi jika Binnie ternyata laki-laki, aku tidak mempermasalahkannnya. I don't mind."
Jongin tersenyum kecil, "Benarkah?"
Kyungsoo mengangguk, "Ayo tidur, Jongin."
"Hmm… baiklah~ selamat tidur, Dear. Selamat tidur juga, Binnie."
Dan disaat itu, Jongin merasa bahwa harinya tidak terlalu buruk. Ia bisa mengutarakan masalahnya, dan satu lagi, Kyungsoo yang sudah berubah menjadi seperti koala yang bersikap clingy padanya.
.
.
.
TBC.
Pagi itu, Kyungsoo meringkuk di dekat kloset dan mencoba untuk mengatur nafasnya. Lagi-lagi makanannya terbuang sia-sia. Matanya berair dan dia merasa lelah walaupun hanya untuk berdiri. Di belakangnya ada Jongin yang berjongkok dan mengusap-usap punggungnya dengan wajah yang memelas.
"Aku lelah jika setiap pagi harus begini…" keluh Kyungsoo.
"Sorry, aku tidak bisa melakukan apapun kalau sudah begini."
"Tidak apa, Jongin," Kyungsoo menoleh dan tersenyum, "apa bau badanku berubah menjadi tidak enak sekarang? Seperti muntahan tentu saja…"
"Itu normal, Soo. Aku tidak bermasalah dengan itu," Jongin mengusap rambut Kyungsoo perlahan, "feeling better?"
Kyungsoo mengangguk, "Terima kasih."
Jongin meraih kedua tangan Kyungsoo dan membantu lelaki itu berdiri. Dia membiarkan Kyungsoo membersihkan dirinya sebelum menggandeng tangan kekasihnya keluar dari kamar mandi. Mereka berdua akhirnya duduk di tepi ranjang; dan Jongin gemas dengan wajah Kyungsoo yang memelas.
"Aku tidak tahan melihat wajahmu yang begini—aku tahu kau sedang tersiksa, tapi kau sangat lucu sekarang."
Kyungsoo memukul lengan Jongin dengan lemah, "Menyebalkan."
"Sorry, aku hanya ingin berbicara jujur," dia mengecup bibir Kyungsoo sebentar—walaupun Kyungsoo menghindar, "ingin makan sesuatu? Aku akan membelikannya."
Kyungsoo menggeleng, "Aku tidak ingin makan."
"Lalu?"
"I just wanna sleep."
"Lagi?"
Kyungsoo mengangguk, "Aku mengantuk, Jongin."
Jongin menghadapi Kyungsoo yang selalu ingin tidur—ini menjadi kebiasaan Kyungsoo beberapa hari belakangan. Yang menjadi masalah adalah, Kyungsoo berkata bahwa dia hanya bisa tidur jika mengendus bau badan Jongin.
"Tapi aku harus pergi ke agensi, Soo—"
"Aku ikut!"
"Untuk?"
Bukannya menjawab, Kyungsoo hanya menempelkan hidungnya pada badan Jongin.
2 CHAPTER LAGI AND SAY BYEEEEEEEEEEEEE!
ku benci yixing disini yassalam lemot banget sih anjir :(((
kalo ada yang ngerasa ceritanya jadi aneh DM, PM, ke derpmyungsoo.
eh anjir apa banget jadi promosi :(
