9. Rahasia Gwin
"Ferlic kelihatan hebat sekali dengan jurus 4 penjuru mata anginnya," kata Clancy ketika ia, Vlyn, Jule, Ross, dan Sam menuruni anak tangga saat istirahat sambil ngobrol seru tentang serial komik favoritnya. Sebenarnya yang terlibat hanyalah 4 orang. Jule lebih banyak diam karena ia tidak begitu mengerti. Gwin juga ada di kelompok mereka. Tapi karena enggan berbaur dengan Clancy cs yang ribut, ia memilih mengikuti mereka lambat-lambat dari belakang sehingga saat Vlyn dan yang lain telah melewati tikungan tangga, Gwin masih berada di tangga sebelum belokan.
"Ng, sayang sekali Halluy kalah, padahal jurus Great Serpent-nya tidak kalah hebat," Sam menanggapi.
Ngomong-ngomong, siapa yang akan memenangkan pertandingan ketiga menurut kalian? Kiky atau Cary?" Tanya Ross.
"Tentu saja Kiky," sahut Vlyn mantap.
"Oh ya? Kau yakin sekali, Vlyn," kata Sam.
"Soalnya Kiky itu mirip sekali denganku."
Perkataan Vlyn langsung disambut sorakan oleh yang lainnya.
"Wah, wah, Vlyn ke-geer-an," kata Clancy sambil mendorong Vlyn secara bercanda.
Vlyn yang kurang hati-hati nyaris terpeleset, tapi refleksnya cukup cepat untuk berpegangan pada sisi tangga. Justru Gwin lah yang bereaksi tak terduga.
"Awas!!" Teriak Gwin sambil berusaha turun dengan cepat ke tempat Vlyn cs. Sayangnya Gwin jadi kurang memperhatikan langkahnya sehingga selip dan ia jatuh terguling sampai ke belokan tangga.
"Gwin!!"
Di mana ini, pikir Gwin bingung. Gelap dan dingin.
"Kak Gwin, mama minta kakak membantunya mengisi air di jambangan besar."
Itu kan...adikku, Gene. Dan ini...
Secercah cahaya menerangi sekelilingnya. Gwin baru menyadari kalau ia berada di rumahnya.
Ini kan...rumahku...2 tahun lalu... Ya, persis seperti kejadian 2 tahun lalu...
"Gwin, tolong bawa jambangan itu ke kamar nenek," kata mamanya setelah Gwin selesai mengisinya.
Dengan hati-hati, Gwin membawa jambangan besar dan berat itu ke lantai 2. tapi tetap saja airnya tercecer di sana sini.
Rupanya aku mengisinya terlalu penuh, pikir Gwin. Setelah meletakkannya di kamar nenek, Gwin pergi mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk mengelap tumpahan air di tangga. Saat itulah mimpi buruk itu terjadi. Gene yang turun ke lantai 1 tidak tahu dan tidak memperhatikan adanya air di beberapa anak tangga itu.
Brukk!!
Gwin yang mendengar suara benturan keras bergegas menuju sumber suara. Mama dan neneknya juga melakukan hal yang sama. Namun terlambat, luka benturan Gene terjadi di tempat yang fatal di kepalanya. Gene meninggal seketika.
Tidak!! Tidak!! Apa yang telah kulakukan?! Aku telah membunuh adikku sendiri...
Gwin membuka matanya dalam kengerian.
"Gwin, tenanglah." Vlyn memegang tangan Gwin yang gemetaran.
"Vlyn? Di mana aku?"
"Di UKS. Kau pingsan setelah jatuh dari tangga. Kata dokter tidak ada yang serius, hanya luka memar."
"Oh..." Gwin memejamkan matanya lagi. Ia merasa letih.
Vlyn memandangnya prihatin. "Gwin, apa kau baik-baik saja?"
Gwin mengangguk. Ia berdiam diri untuk beberapa lama, lalu bertanya, "Vlyn, apa aku tadi mengatakan hal-hal yang aneh dalam igauanku?"
"Uum... Gwin hanya memanggil-manggil nama Gene. Tapi kau gelisah sekali."
"Jadi begitu." Gwin diam lagi.
"Apa aku boleh tahu, siapa Gene itu?" Vlyn yang selalu dihinggapi rasa ingin tahu terhadap semua hal memberanikan diri untuk bertanya sekalipun ia tahu bahwa Gwin adalah orang yang dingin dan tertutup.
"Dia adikku yang meninggal 2 tahun lalu. Akulah yang membunuhnya."
"Eh?"
Lantas Gwin menuturkan semua kenangan buruknya kepada Vlyn.
Jadi itu sebabnya Gwin sangat takut sewaktu aku hampir jatuh dari tangga, pikir Vlyn bersimpati. Jadi itu pula yang menyebabkan Gwin menjadi pribadi yang seperti sekarang. Perasaan bersalah yang terus menghantuinya membuat ia berubah jadi seperti ini.
"Gene sangat mirip denganmu, Vlyn," kata Gwin membuyarkan lamunan Vlyn. "Itu yang pertama kali kurasakan saat mengenalmu. Gene hanya setahun lebih muda dariku, jadi boleh dibilang kami sebaya, karena itu aku mengenalnya sangat dekat. Gene anak yang lincah dan enerjik, kadang terlalu berlebihan dalam beberapa hal, tapi sebenarnya ia baik hati dan selalu perhatian." Pandangan Gwin menerawang, mengingat-ingat kenangan akan adiknya.
Jadi Gwin melihat Gene dalam diriku, itulah mengapa ia mau membuka diri hanya kepadaku, kata Vlyn dalam hati. Ia merasa harus melakukan sesuatu untuk Gwin. Hanya ia yang bisa karena Gwin telanjur menutup hatinya kepada orang lain. Hanya Vlyn yang bisa mencoba menyadarkannya.
"Uum...Gwin, sebelumnya aku minta maaf. Bukannya aku sok tahu atau sok memahami perasaan adikmu. Aku bahkan tidak mengenalnya. Tapi kurasa Gene tidak pernah menyalahkan dirimu. Seperti katamu tadi, ia adik yang sangat baik, makanya aku yakin kalau yang diinginkan Gene hanyalah kebahagiaan kakaknya. Oleh karena itu kau harus bisa memaafkan dirimu sendiri, dengan begitu Gene akan dapat beristirahat dengan damai. Jika kau terus menyiksa diri dengan rasa bersalah, Gene juga tidak akan merasa tenang. Makanya kau sering mendapat mimpi-mimpi buruk itu. Aku yakin jika Gwin mau memaafkan diri sendiri dan hidup berbahagia, maka Gene yang muncul dalam mimpimu adalah Gene yang tersenyum, karena ia pasti juga bahagia kalau kakak yang sangat disayanginya bahagia."
Gwin menatap Vlyn dengan takjub. "Ajaib..." gumamnya lirih. "Kenapa aku merasa Gene sendirilah yang bicara padaku melalui dirimu, Vlyn?"
Vlyn ikut terkejut, lalu ia tertawa, "Mungkin Gene memang 'datang' dan 'meminjam' diriku karena ia sangat mengkhawatirkanmu."
Gwin menutupkan kedua belah telapak tangannya ke wajahnya. Setelah agak tenang, Gwin berkata dengan sangat halus, "Terima kasih, Gene. Kakak janji akan berusaha membuang rasa bersalah ini dan hidup bahagia seperti keinginanmu..."
Satu hal yang tidak diketahui semua orang adalah bahwa Jule ikut mendengarkan semua percakapan antara Vlyn dan Gwin. Tadinya ia hendak menanyakan keadaan Gwin, mewakili teman-teman sekelasnya. Tapi sesampainya di sana ia mendengar mereka sedang berbicara serius, maka Jule memutuskan untuk menunggu di luar bilik, dan secara tak sengaja malah ikut mendengar.
Jule terhenyak untuk beberapa saat. Ia tak pernah menyangka ada orang selain dirinya yang juga mengalami nasib yang mirip, sama-sama menyalahkan diri karena telah 'membunuh' orang yang dicintai.
Tapi Gwin berbeda, pikir Jule pedih. Keluarganya tidak memojokkan dan menimpakan kesalahan padanya, malahan terus berusaha meyakinkan Gwin bahwa semua kejadian itu adalah kecelakaan yang tidak disengaja. Beda dengan dirinya...
Namun sejak saat itu, Jule tidak bisa mencegah dirinya untuk selalu memperhatikan Gwin. Ia kerap mengawasi Gwin diam-diam. Namun ketertarikan itu disimpan Jule untuk dirinya sendiri. Ia tidak ingin mengatakan perasaannya itu kepada siapa pun, lebih-lebih kepada Gwin, karena pada dasarnya Jule selalu menganggap dirinya tidak pantas mencintai atau menerima cinta dari siapa pun.
