Tittle : My Wife is a mafia


Thanks yang uda pada review. review lagi ya! ^^

THIS FICT JUST FOR FUN

Happy read ^^

.

Sudah tiga hari Jaejoong tidak sadarkan diri, semenjak ia di bawa kembali ke Jepang dalam kondisi yang cukup mengenaskan. Mr. Kim menyewa dokter dan segala perlengkapannya untuk merawat anaknya di rumah, karena Mr. Kim tidak ingin mengambil resiko dengan membawa Jaejoong ke rumah sakit umum.

Awalnya Amarah Mr. Kim sempat naik saat melihat kondisi anak sulungnya yang babak belur. Tangan kanannya bergeser, tulang rusuk dan tulang hidungnya patah, tulang rahang sedikit retak, belum lagi luka dalam dan luka lebamnya di sekujur tubuh, membuat keadaan Jaejoong begitu memprihatinkan. Tapi akhirnya Kibum dan Junsu berhasil menenangkan Appa angkat mereka itu.

Sedangkan Changmin sudah tiga hari pula tidak pernah meninggalkan Hyung kesayangannya sendiri di ruang perawatan khusus di rumahnya. Bahkan Kekasihnya—Cho Kyuhyun—pun Tidak berhasil membawa Changmin keluar dari ruang perawatan Jaejoong. Betapa Changmin saat itu sangat terlihat panic dan kalut melihat keadaan saudara kandung satu-satunya yang hampir meregang nyawa. Changmin benar-benar tidak mau kehilangan satu anggota keluarga lagi. setelah ibunya meninggal di tangan musuh sang Appa dengan cara yang mengenaskan.

"H-hyung, kau sadar?" Buru Changmin saat mendapati Jaejoong membuka matanya perlahan.

"Engh.." Gumam Jaejoong di balik masker oksigennya.

"Jamsimanyo, aku akan memanggil dokter" Ujar Changmin sumringah lalu beranjak dari duduknya. Namun sesaat kemudian Changmin urung melakukan niatnya saat ia merasakan tarikan kecil di baju belakangnya. Ia menoleh dan mendapati Jaejoong yang menarik bajunya.

"Waeyo hyung?"

"Yu-Yun..ho.. o-oedi?" Tanya Jaejoong terbata-bata.

Walaupun suara Jaejoong terdengar hampir berbisik, tapi Changmin dapat mendengarnya dengan jelas. Tapi tidak ada yang bisa ia katakan sebagai jawaban pertanyaan Jaejoong. Tidak sabar menunggu jawaban Changmin, akhirnya Jaejoong berusaha melepas masker oksigennya sebelum bertanya lebih kuat.

"Dimana Yunho!" Kali ini suara Jaejoong mulai meninggi. Matanya bulatnya yang mulai memerah kini memandang Changmin tajam.

"Hyung kumohon… jangan berge—

"DIMANA YUNHO… ukh" Jaejoong merasakan ngilu disekujur tubuhnya saat ia mencoba berteriak tadi, terlebih rahangnya terasa sakit.

"Hyung kumohon, jangan banyak bergerak dulu. Lukamu masih belum sembuh benar." pinta Changmin sambil meringis dalam hati saat melihat hyungnya yang tampak memprihatinkan.

Cklek

"Changmin-ah, kenapa berteriak—omo Jaejoong Hyung kau sudah sadar?" teriak Junsu nyaring, sambil bergegas menghampiri Jaejoong. Senyum Junsu hilang saat disadarinya Jaejoong tampak memberontak dan Changmin yang tampak panic menenangkan Jaejoong.

"Junsu hyung, cepat panggilkan dokter.. ppali!" perintah Chnagmin, langsung di tanggap cepat oleh Junsu yang bergegas keluar kamar rawat lagi untuk memanggil dokter.

Tak lama kemudian Junsu kembali dengan dokter dan seorang suster, disusul Kibum, Kyuhyun dan Mr. Kim. Jaejoong terus memberontak sambil memanggil-manggil Yunho diiringi tangis. Tidak peduli dengan nyeri di sekujur tubuhnya. Ia benar-benar ingin Yunho, hatinya sangat cemas saat mengingat keadaan Yunho terakhir kali, yang entah masih bernyawa atau susah payah dokter menyuntik Jaejoong dengan obat penenang, karena kalau tidak begitu, maka beberapa jahitan luka Jaejoong akan kembali terbuka.

Jaejoong menoleh kearah Mr. Kim yang terlihat melangkah akan menghampirinya.

"A-appa… kumohon, aku inginh… yu-yunho… hiks app..ha…" suara Jaejoong melemah seiring dengan menyebarnya pengaruh obat penenang.

Mr. Kim duduk di samping ranjang anaknya. Ia mengenggam tangan Jaejoong lalu menciumnya. Satu tangan Mr. Kim menghapus air mata Jaejoong dengan perasaan sedih.

"Anakku yang malang!" Lirih Mr. Kim berkali-kali.

.

My Wife Is a Mafia

.

Terhitung sudah 6 hari Jaejoong terbaring di ranjangnya. Sebenarnya sudah beberapa kali Jaejoong terbagun, namun ia harus berakhir dengan terbaring lemah akibat obat penenang yang disuntikan dokter, karena ketika bagun Jaejoong selalu mengamuk meminta Yunho. Namun kali ini berbeda. sore itu Jaejoong terbagun dalam keadaan tenang. Lukanya sudah hampir sembuh, namun tangannya masih dibalut dengan gips. Jaejoong duduk dengan perlahan di ranjangnya mencegah menimbulkan suara sedikitpun yang bisa membagunkan Changmin dan Kyuhyun yang tertidur di sofa.

Jaejoong mencabut paksa selang infuse di tangan kirinya dengan mulut. Lalu turun dari ranjang dengan perlahan. Jaejoong melangkahkan kakinya sepelan mungkin dilantai menuju pintu. Lalu dibukanya perlahan dan ditutupnya dengan perlahan juga. Setelah berhasil keluar dari ruang perawatan, Jaejoong menolehkan kepalanya kekanan dan kekiri untuk memastikan tidak ada siapapun yang melihatnya lalu berjalan dengan waspada menuju lantai satu, namun saat ia melewati salah satu kamar di lantai dua, pintu itu terbuka lalu muncul junsu yang keluar dari kamar itu.

"Hmmbh…" langsung saja Jaejoong membekap mulut Junsu dengan tangan kirinya.

"Jangan berisik!" bisik Jaejoong ditelinga Junsu. "Ada siapa di dalam?" tanya Jaejoong, dibalas Junsu dengan gelengan karena mulutnya masih dibekap Jaejoong. Setelah mendapat Jawaban Jaejoong melepas tangannya dari mulut Junsu beralih membuka pintu kamar lalu mendorong Junsu kembali masuk kedalam kamar.

"Aish hyung, kau ini membuatku kaget! Untung tadi aku tidak reflek membantingmu. Lagipula kenapa hyung bisa keluar dari ruang perawatan? Hyungkan masih sakit" cerocos Junsu, membuatnya mendapat jitakan mulus didahinya dari Jaejoong.

"Ya! Bebek, kau berisik sekali." kesal Jaejoong. Junsu hanya mepoutkan bibirnya sambil mengelus jidatnya.

"Lalu hyung mau kemana?"

"Aku mau kembali ke Seoul mencari Yunho."

"Mwo? Andwe. untuk apa mencari Yunho hyung. terlalu berbahaya. dia sudah jadi Buro—uups." Junsu langsung membekap mulut embernya.

"Apa kau tahu sesuatu tentang Yunho, junsu?" Tanya Jaejoong dengan tatapan menyelidiknya.

"I-itu…"

"Junsu!" bentak Jaejoong tak sabaran..

'Junsu pabbo' Junsu merutuki diri sendiri didalam hati.

"I-itu… aish" Junsu mengacak rambutnya frustasi, pasti setelah ini ia akan dibunuh Mr Kim.

.

Changmin yang tertidur di sofa merasa tidak nyaman dengan posisi tidurnya, akhirnya membuka matanya. Ia tersenyum saat melihat kekasihnya tertidur di pangkuannya. Pahanya sudah terasa keram karenanya. Pinggang dan punggungnya sudah terasa sakit akibat tertidur dalam posisi duduk. Tapi ia sama sekali tidak ingin mengganggu tidur sang kekasih tercintanya, Cho Kyuhyun. Namun niat itu di urungkan saat ia melirik kearah ranjang Jaejoong dan tidak menemukan Hyungnya disana.

"Baby bangun." Changmin mengoyang-goyang badan Kyuhyun.

"Ngh wae Minnie? Aku masih mengantuk." Kyuhyun membuka matanya malas.

"Jaejoong Hyung tidak ada."

"Mwo?" Kyu langsung bangkit dari pangkuan Changmin, lalu mereka sama-sama keluar kamar untuk mencari Jaejoong yang tiba-tiba menghilang.

Awalnya mereka ingin meminta bantuan para bodyguard appanya yang sedang menjaga rumah untuk mencari Jaejoong. Tapi kemudian di batalkannya karena mereka menemukan Jaejoong berada dalam kamarnya yang dulu, bersama Junsu.

"Hyung, kenapa kau keluar dari ruang perawatan." Tanya Changmin.

Tak ada jawaban dari Jaejoong yang saat itu sedang berganti baju. Changmin yang melihatnya heran, lalu mencoba bertanya kembali, "Hyung! Kau mau kemana?"

Jaejoong masih tidak menjawab pertanyaan Changmin. Ia melirik ke Junsu, tapi hanya di balas Junsu dengan gelengan.

"Hyung!"

"Seoul." Jawab Jaejoong singkat, sambil mengancingi kemejanya.

"Seoul?! Apa maksudmu kau ingin kembali ke Seoul? Andwe. Kau tidak boleh kembali ketempat itu!" Sergah Changmin.

Jaejoong kembali tidak membalas. Melainkan ia sibuk di depan kaca rias, merapikan rambutnya.

"Hyung tidak ingat kalau hyung hampir mati disana? Kenapa Hyung selalu bersikap seenaknya? Tidak pernahkah hyung memikirkan perasaan keluargamu?"

"Lalu, apa kalian pernah memikirkan perasaanku?. Apa yang harus kulakukan. Suamiku sekarat disana karena aku. lalu kau ingin aku berbaring di ranjangku, menunggu kabar kematian suamiku?!" Ucap Jaejoong mulai emosi.

"Apa hanya dia yang berharga untukmu hyung? Bagaimana dengan kami?" Tanya Changmin lemah.

"Aku mencintai kalian semua. Tapi aku juga tidak bisa mengabaikan suamiku begitu saja. aku… aku mencintainya."

Changmin diam mendengar kata-kata Jaejoong. Ia tahu, ia tidak akan pernah bisa melarang hyungnya jika itu berhubungan dengan Yunho.

"Kalau begitu aku ikut bersamamu." Jawab Changmin kemudian. Jaejoong memandang Changmin ragu. "Kalau hyung menolak. Aku juga akan melarang hyung pergi dengan cara apapun. Bahkan jika aku harus babak belur di tanganmu." Ucap Changmin yakin.

.

My Wife Is A Mafia

.

Sore itu, Jaejoong dan Changmin tiba di bandara incheon. Mereka tampak tenang melewati para petugas bandara tanpa takut tertangkap. Karena mereka merubah identitas diri. Jaejoong memakai nama Youngwoong. Sedangkan Changmin menggunakan nama Choikang untuk penyamarannya.

Saat didepan bandara, dua mobil kaki tangan Mr Kim sudah menunggu didepan bandara. Kenapa dua mobil? Karena Jaejoong dan Changmin menaiki mobil yang berbeda dengan tujuan yang berbeda pula. Sesuai rencana awal mereka. Jaejoong menugaskan Changmin untuk mencari informasi tentang keberadaan Seung Hyun. Sedangkan Jaejoong menuju ke hotel, sesuai sesuai instruksi Yoochun sebelumnya. Sebenarnya Kyuhyun, Kibum dan Junsu juga ingin ikut serta, tapi Changmin dan Jaejoong melarangnya. Semakin sedikit yang terlibat maka semakin baik.

Setelah memesan kamarnya di hotel, Jaejoong segera menuju kamarnya untuk beristirahat sebentar sebelum bergerak mencari Yunho. Jaejoong membuka mantelnya lalu merebahkan diri di sofa. baru berapa menit ia duduk, seseorang mengetuk pintunya. Jaejoong segera berjalan menuju pintu dengan waspada. Ia mengintip di lubang kecil di pintu untuk melihat orang yang mengetuk pintunya. Hanya salah satu pelayan hotel ternyata. Jaejoong membuka pintu kamarnya. Kemudian pelayan itu memberikan sebuah alat recorder kecil padanya. Jaejoong menerimanya lalu kembali menutup pintu, dan segera duduk kembali di sofa. ia mencari sebuah handset di tasnya, lalu mendengar rekamannya.

"Jae hyung. Ini aku Yoochun. Aku tidak bisa menemuimu atau menghubungimu secara langsung. Mereka menyadap telponku dan jaringan sosialku. aku dan anak buah Yunho hyung yag lain diikuti oleh kepolisian dan agen dari badan intelejen korea. Sidik jari Yunho di temukan di mayat Hangeng. Memang Yunho hyung belum menjadi tersangka. Tapi pihak kepolisian sedang mencarinya. Tidak hanya itu, badan inttelejennya juga memburunya karena gagal menangkapmu.

Tentang keadaaa Yunho hyung, kau tidak usah khawatir karena dia baik-baik saja. dia sekarang berada di Geo Je-Do. Kau bisa menemuinya disana. Dia juga sangat menghawatirkanmu. Semoga kalian bisa bertemu kembali."

Itulah isi dari rekaman suara itu. setelah mendapat kabar tentang keberadaan Yunho, Jaejoong tidak membuang-buang waktu. Ia segera pergi ke Geo Je-Do. Tempat Yunho berada.

.

Daerah Geo Je-Do membutuhkan waktu tujuh jam dengan mobil. Jaejoong memang menyetir sendiri dengan mobil yang ia sewa. Sesampainya di daerah itu, hari mulai beranjak malam dan hujan turun rintik-rintik. Jaejoong mencoba bertanya pada para penduduk tentang vila keluarga park. Dan untunglah vila yang di maksud tidak jauh. Berada di atas sebuah bukit. Tidak susah untuk Jaejoong mencarinya, karena memang hanya vila itu saja yang berdiri disana.

Jaejoong sampai di gerbang vila yang tampak tertutup rapat. Dari luar Jaejoong bisa melihat besarnya vila itu. namun anehnya seluruh lampunya tampak mati. Tidak ada cahaya sedikitpun. Jaejoong mengambil pistolnya di laci dashboard, lalu memakai topinya untuk menghalau hujan. Setelah itu keluar dari mobilnya. Didepannya kini berdiri gerbang setinggi 4 meter. Karena tidak menemukan cara untuk membukannya, akhirnya Jaejoong memutuskan untuk memanjatinya.

Setelah berhasil masuk, Jaejoong segera menuju pintu vila, namun pintu itu terkunci. Suasana vila yang gelap gulita menyatu dengan pekatnya malam . ia tidak mungkin berteriak memanggil Yunho. Bagaimana jika yang berada di dalam bukan Yunho. Bagaimana kalau ternyata Yoochun menjebaknya. Ditengah pemikiran negtifnya, tidak sengaja mata Jaejoong menangkap pintu balkon lantai dua tidak tertutup. Jaejoong akhirnya memutuskan untuk kembali memajat dinding menuju lantai 2. sesampainya di balkon lantai dua, Jaejoong mengeluarkan pistolnya terlebih dahulu sebelum masuk. Jaejoong melangkah pelan penuh ke waspadaan. Ternyata balkon itu terhubung dengan sebuah kamar. Walaupun keadaan gelap gulita, Jaejoong bisa melihat samara-samar adanya ranjang berbalut seprei putih di ruangan itu.

Jaejoong kembali meraba-raba Jalan dan ia berhasil mencapai sebuah pintu. Jaejoong membuka pintu itu dan keluar dari kamar, namun baru saja ia keluar, seseorang menepis tangannya yang memegang pistol hingga pistol itu terjatuh entah dimana. Tubuh Jaejoong terlempar kembali kedalam kamar saat seseorang mendorongnya dengan keras. Jaejoong yang menyadari dirinya sedang diserang segera bangkit dari jatuhnya, namun baru saja ia menegakan badannya sebuah benda dingin dan berujung tajam menyentuh lehernya. Jaejoong sebanarnya bisa saja melucuti pisau itu dari pemiliknya. Namun Jaejoong menahan gerakannya saat mendengar suara yang sangat familiar ditelinganya.

"Siapa kau!" tanya laki-laki itu dengan kuat.

"Apa kali ini kau benar-benar akan membunuhku… Yunnie?"

"J-Jae?!" Ucap Yunho tidak percaya mendengar suara lembut sang istri. "Benarkah itu kau?" Yunho menjatuhkan pisaunya lalu berlari kearah tombol lampu untuk menghidupkan lampu kamar itu.

Seketika kamar yang tadinya gelap kini menjadi terang benderang. Yunho bisa dengan jelas melihat wajah orang yang menyusup ke vila itu, apa lagi Jaejoong kemudian melepas topinya, membuat Yunho semakin yakin kalau yang berdiri didepannya itu adalah istrinya.

"Jae..." Yunho masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. istri yang beberapa hari ini menghilang, entah dalam keadaan hidup atau mati, kini berdiri didepannya dan tersenyum padanya.

"Ne Yun, ini aku. apa kau tidak ingin memeluk istrimu ini?" Jaejoong merentangkan tangannya dengan senyum getirnya.

Yunho yang mendengar itu langsung menghambur kepelukanya Jaejoong. dipeluknya dengan erat Jaejoong.

"Kau hidup."
"Ne aku hidup untukmu." Jawab Jaejoong sambil membalas pelukan Yunho.

Yunho memandang jaejoong lekat. matanya mulai sedikit berair. Tangannya kini menangkup wajah Jaejoong. "God, aku benar-benar mengkhawatirkanmu sayang."

Cup Cup Cup

Yunho mengecup bibir Jaejoong tiga kali sambil terus menggumamkan kata 'I miss You so Much dan I Love You'.

Yunho menempelkan keningnya ke kening Jaejoong. "Kau tahu bagaimana takutnya dan gilanya aku saat membayangkanmu telah tiada? setiap malam aku bermimpi buruk tentangmu, aku benar-benar takut kalau Kau—

"Ssshh... aku di sini sayang, dan aku baik-baik saja. tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi." Ujar Jaejoong dengan lembut. ia mengelus wajah suaminya dengan tangan. beberapa jejak air mata terlihat di pipinya. mulai tumbuh rambut-rambut halus di atas bibir dan dagunya. Yunho terlihat benar-benar tidak terawat.

Yunho mengambil tangan Jaejoong di pipinya lalu menciumnya berkali-kali. "Aku mencintaimu."

"Nado."

"Jangan pernah tinggalkan aku lagi."

"Never."

"Yaksokhe?"

Jaejoong terdiam sebentar, sedangkan Yunho tampak tidak sabar menunggu balasan Jaejoong. Jaejoong akhirnya mengangguk kecil, "Ne." Ucapnya sambil tersenyum. sesaat kemudian senyumannya hilang saat bibir Yunho melumat bibirnya dengan lembut. malam itu Yunho mencium Jaejoong berkali-kali, seolah ingin melampiaskan rindunya lewat ciuman itu. ciuman yang selalu berhasil membuatnya naik ketahap yang paling tinggi.

.

Malam itu Changmin pergi ke sebuah night club terbesar di Seoul bersama dua anak buahnya. bukan untuk bersenang-senang. melainkan mencari informasi di tempat yang kabarnya milik Choi Seughyun.

Dengan penampilan kerennya, Changmin merebut banyak perhatian dari para yeoja di club itu. beberapa diantaranya ada yang mendekati Changmin dan terang-terangan mengajak Changmin menghabiskan malam bersama mereka. tapi itu tidak membuatnya tertarik.
Changmin menghampiri meja bar lalu memesan minuman. saat sedang menunggu minumannya, Tak sengaja Changmin menemukan sosok familiar duduk di sudut club sendirian. Changmin menyeringai lalu berkata kepada bartender,

"Make it two!" Ujarnya. Tak lama kemudian bartender menyerahkan dua gelas minuman alkohol kepada Changmin. Changmin segera menghampiri yeoja yang duduk di sudut club itu.

kenapa Changmin familiar dengan wajah yeoja itu?, itu karena Changmin pernah melihat foto Choi Seunghyun berdua dengan yeoja itu. dengan kata lain, yeoja itu adalah pacarnya seunghyun.

"Hei nona, boleh aku duduk disini?" Tanya Changmin.

"Piss off! (pergi)" ketus Yeoja itu tanpa menatap Changmin.

Namun Changmin tidak peduli. malah ia dengan seenaknya duduk di samping yeoja itu.

"Kau tidak dengar apa yang kubilang? Piss off." Boa kembali membentak, kali ini ia menatap Changmin dengan tajam. sepertinya malam ini boa sedang dalam mood yang buruk.

"Hei nona, cantik-cantik, galak sekali."

"kau tidak tahu siapa aku?."

"Aku tidak tahu kau siapa. yang kutahu hanyalah kau yeoja cantik yang duduk sendirian disini." bisik Changmin seduktif.

"Pergi, atau ku panggil seseorang untuk menyeretmu keluar."

"Oke, oke... i'll go. tapi, jika kau butuh teman pelepas stres, susul saja aku di lantai dansa. aku akan menghiburmu." Ujar Changmin sambil meraih tangan boa lalu menciumnya, membuat Boa terdiam. Setelah itu Changmin turun ke lantai dansa lalu bergabung dengan orang-orang yang sedang meliuk-liukan badannya mengikuti irama musik.

Boa masih duduk di tempatnya. kali ini ia sedang mencoba berkali-kali menelpon kekasihnya, tapi selalu saja gagal. ia menghempaskan begitu saja ponselnya di sofa. lalu menopang dagu memandangi Changmin yang sedang meliuk-liukan badan seksinya, sambil mengedipkan matanya ke arah Boa. Boa menyeringai lalu tegak dari duduknya. ia berjalan menghampiri Changmin lalu menarik kerah baju Changmin agar Changmin sedikit menunduk mensejajarkan tingginya. Boa membisikan sesuatu di telinga Changmin lalu pergi menjauh dari Changmin. Changmin menyeringai setelah tahu ia mendapat lampu hijau dari Boa. tanpa buang-buang waktu lagi, Changmin segera mengikuti kemana Boa pergi.

.

.

Brukh

Yunho menjatuhkan tubuh telanjang Jaejoong di karpet berbulu di depan perapian. Jaejoong yang sudah mengerti akan kebutuhan biologis suaminya, hanya menuruti permainannya. Awalnya Jaejoong pikir akan menghabiskan lenguhanya di ranjang yang empuk, namun ia salah, saat yunho menggendongnya melewati kamar menuju ruang santai yang terdapat perapiannya.

Diluar hujan semakin lebat, bahkan sesekali kilat dan petir mengiringi hujan. ruangan yang temaram, hawa hangat yang berasal dari perapian, mendukung perasaan yang membara itu kembali berkobar. Tubuh kekar Yunho yang ada diatasnya terlihat mengkilat karena cahaya api dari perapian. membuatnya seksi dimata Jaejoong.

Yunho kembali membenamkan kejantanannya yang masih mengancung tegak ke dalam hole hangat istrinya, yang sudah berkali-kali menerima cairan cintanya sejak tadi. Entah apa yang membuat Yunho begitu bersemangat malam ini. Jaejoong pun tidak tahu jawabannya.

Jaejoong tidak ingin protes karena ia pun menikmatinya. Walaupun pinggangya mulai terasa sakit dan kakinya terasa akan lepas, ia menikmati setiap dorongan Yunho yang menyentuh titik nikmatnya. Membawanya berkali-kali melayang ke puncak kenikmatan.

"Oouhh~ ngghh" Jaejoong meremas rambut Yunho saat suaminya sedang fokus pada nipplenya yang sudah sangat merah dan sibuk mengeluar-masukan kejantannya di dalam hole Jaejoong. nafas mereka beradu, detak jantung bagai gemuruh kaki kuda mengiring setiap lenguhan mereka. kuku Jaejoong terbenam dikulit punggung Yunho saat titik nikmat itu semakin dekat. udara dalam ruangan yang sudah hangat ditambah kegiatan mereka yang menguras keringat. tiga kali hentakan Yunho menggiringnya ke puncak kenikmatan. sesuatu yang hangat menyebar dalam dirinya. rasa itu serasa membuat Jaejoong melayang tinggi.

Yunho pindah dari atas tubuh Jaejoong, berganti tidur disisinya. Yunho dan Jaejoong saling menatap sambil tersenyum. dada mereka naik turun akibat nafas yang tersengal-sengal. Yunho membawa kepala istrinya ke atas dadanya. tak ada yang berbicara antara mereka. Yunho menatap langit-langit dengan satu tangannya membelai punggung istrinya. Sedangkan Jaejoong mulai menutup matanya mendengarkan irama jantung suaminya yang menyatu dengan detak jantungnya. irama yang selalu ia suka. hujan deras dan petir masih terdengar. Tapi ia merasa hangat dalam dekapan suaminya. berharap bisa selamanya seperti ini? jika ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya, Jaejoong berjanji akan menjadi istri yang baik untuk suaminya. namun sayangnya itu hanya sebuah impian. impian yang bahkan tidak berani Jaejoong bayangkan. karena ia tahu kisahnya akan melenceng jauh dari harapan.

.

My Wife Is a Mafia

Jaejoong mengambil susu dari dalam kulkas, lalu menuangkannya ke dalam dua gelas. Ia menyerahkan satu gelas susu pada suaminya sambil tersenyum. Yunho balas tersenyum sambil terus memperhatikan istrinya. entah kenapa ia merasa Jaejoong semakin tampak indah. saat itu Jaejoong hanya mengenakan t-shirt abu-abu milik Yunho yang tampak kebesaran di badan kurus Jaejoong. sedangkan Yunho hanya mengenakan celana panjangnya, tanpa mengenakan atasannya.

Yunho meneguk jusnya, lalu meletakan gelasnya kembali di meja. masih dalam keadaan saling tersenyum, Yunho merengkuh pinggang ramping Jaejoong lalu ditariknya agar lebih menempel ketubuhnya. Yunho merendahkan kepalanya lalu meraup bibir Jaejoong sekilas.

"Manis." Bisiknya. membuat Jaejoong terkikik senang. setelah beberapa lama mereka terlibat situasi yang tegang. tak dapat di pungkiri Yunho dan Jaejoong amat sangat merindukan masa-masa seperti ini. masa-masa selayaknya sepasang suami istri biasa. seperti dulu.

setelah selesai sarapan seadanya. kini Yunho dan Jaejoong sedang duduk di sofa ruang tengah. Jaejoong duduk di antara dua paha Yunho sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami. sedangkan Yunho sedang asik menyesap aroma wangi dari rambut Jaejoong. mereka habiskan waktu itu untuk membicarakan pengalaman masing-masing.

"Kau ingat saat liburan di Jeju?" Tanya Yunho.

"Hmm."

"Dan kau menghilang selama dua belas jam. sebenarnya kau kemana?"

"Cha Hyun Sung. malam itu aku pergi untuk membunuhnya?" jawab Jaejoong

"What? Cha Hyun Sung mata-mata korea utara itu? astaga, kau tahu. dia borunan kami. dan kami selalu gagal mendapatkannya." umpat Yunho.

"Dan aku berhasil mendapatkannya." Bangga Jaejoong sambil terkekeh. "Apa kau tidak mendengarku saat malam ulang tahun pernikahan kita. saat aku turun dari helikopter untuk dinner aniversary kita?" giliran Jaejoong bertanya.

"No."

"No?"

"Akibat perkusi granat. aku setengah tuli malam itu." Kata Yunho saat mengingat ia hampir mati karena granat yang dilemparkan musuh saat ia mencoba menangkap seorang teroris. beruntung ia tidak terluka. hanya pendengarannya sedikit terganggu.

"Kau ingat, aku menolak bercinta denganmu selama satu minggu?" Tanya Jaejoong lagi. Yunho mengangguk mengingat nasib malangnya saat itu. Jaejoong menghindar darinya selama satu minggu. bahkan Jaejoong berakting seolah marah padda Yunho karena suatu hal. akibatnya Yunho dibuatnya pusing mememikirkan apa kesalahannya.

"Saat itu 2 tulang rusukku patah, luka dalam di perutku, dan aku tidak bisa merasakan apa-apa di tiga jari ini." Jaejoong menunjukan jari tengah, jari manis dan jari kelingkingnya pada Yunho.

"Benarkah? itu parah."

"Hemm.."

saat sedang enak berbagi cerita. sebuah benda kecil berbentuk bulat dan berwarna hitam terlempar kedalam ruangan tempat Yunjae berada. seketika keduanya langsung melempar pandangan kearah benda yang mengeluarkan asap berwarna hijau itu.

"Bom asap!" Gumam keduanya saling berpandangan. "Go, go, go." Pekik Yunho mengajak Jaejoong menghindar dari sana tak lupa Jaejoong meraih ponselnya yang ada di meja. mereka bersembunyi di balik dinding. semakin banyak bom asap yang dilemparkan dari luar, serta sinar-sinar laser dari senjata berkeliaran mencari sasaran. Yunho kembali menarik tangan Jaejoong, dan membawanya ke dapur. di dapur, Yunho mengobok-obok isi lemari counter dapur untuk mencari sesuatu.

"Pakai ini!" Yunho menyerahkan sepatu boot kepada Jaejoong. lalu menyerahkan sebuah hand gun serta pelurunya. Jaejoong mengenakan sepatunya lalu menyelipkan deck peluru di bootnya. "Kemarin aku di berikan waktu 78 jam untuk menangkapmu." Ujar Yunho sambil memakai sepatunya kemudian memasang peluru di hand gunnya sendiri.

"I know. dan kau membunuh bosmu sendiri."

"Aku tidak membunuhnya. dia memang sudah mati. aku hanya meluluskan apa yang belum tertuntaskan."

Jaejoong memutar bola matanya malas. 'itu sama saja.' batinnya.

Brak

Terdengar dobrakan paksa di pintu depan.

"Jumlah mereka terlalu banyak. kita harus pergi dari sini" dengan sigap Yunho menarik Jaejoong menuju sebuah pintu yang terhubung dengan garasi. Jaejoong dan Yunho segera naik ke mobil audy hitam Yunho. Yunho memakai jaket hitamnya yang ia tinggalkan di mobil—Mengingat tadinya Yunho topless—lalu menghidupkan mesin mobil dan segera memasukan persneling. "Berpegangan yang kuat." Ujar Yunho. tanpa mendengar respon Jaejoong, Yunho menginjak gas dengan kuat, lalu menabrak pintu garasi hingga merusaknya.

diluar garasi orang-orang bersenjata mulai menembaki mobil Yunho. namun Yunho terus menjalankan mobilnya hingga keluar dari gerbang dan menabrak mobil Jaejoong yang masih terparkir didepan pintu gerbang vila.

"Hei, itu mobil sewaan bodoh!" protes Jaejoong kesal.

.

Saat ini mobil Yunho sudah berada di jalan beraspal. untuk saat ini mereka terlepas dari kejaran orang-orang yang tidak dikenal itu. hanya untuk saat ini. suasana hening antara Yunho dan Jaejoong. Yunho mengetuk-ngetukan jarinya di stir mobil, sedangkan Jaejoong membuang pandangannya keluar jendela mobil.

"Aku tidak pernah menjadi sarjana hukum." Kata Yunho tiba-tiba.

"What?" Jaejoong beralih menatap Yunho.

"Black hawk. Aku menjadi pasukan tetap disana."

"Aah~ yeah, aku pernah mendengar itu." Jaejoong mengangguk.

"Benarkah?" Yunho melirik Jaejoong.

"Ne." Jaejoong kembali mengangguk.

Yunho kembali memfokuskan padangannya ke arah jalan didepannya. Sedikit kecewa mungkin. Padahal ia berharap istrinya akan terkejut mendengar dia pernah bergabung dengan salah satu pasukan elit dunia itu.

"Kau ingat pertemuan pertama kita di hotel sewaktu di London dulu. Saat itu aku yang membunuh pria meksiko di gedung sebelah."

"Are you kidding me?! God, padahal waktu itu aku melihatmu seperti sesuatu yang indah, polos dan suci." Erang Yunho tak percaya.

Jaejoong menahan tawa mendengar kesan pertama saat Yunho melihatnya, "Polos dan suci apanya?" Kikik Jaejoong. Sedang Yunho hanya mendengus sebal melihat istrinya tertawa seperti itu. Sungguh, itu tidak lucu menurutnya.

Tak sengaja Yunho menatap sekilas back mirror lalu melihat dua mobil mercedes hitam mengikuti mereka di belakang. "Mereka mengejar kita."

"Mwo?!" Jaejoong ikut menoleh kebelakang, "Shit!" Ia pindah ke kursi belakang. Lalu membuka pintu belakang mobil dan mulai menembaki dua mobil itu.

"Yunie, stabilkan mobilnya." Teriak Jaejoong, saat tubuh ringannya terlempar kesana kemari akibat cara mengemudi Yunho. Akibatnya tembakan Jaejoong beberapa kali meleset. "Yunie!" teriaknya lagi.

"Ini disebut mengemudi sambil mengelak, Boojae." Ujar Yunho santai. Well, wajar Yunho berkata seperti itu. Di jalan itu bukan hanya mobil mereka sendiri, kan. Jadi Yunho menjaga agar mereka tidak menabrak mobil didepan mereka sambil tetap menjaga kecepatan penuh.

"Biarkan aku yang menyetir. Kau menyingkirlah." Pinta Jaejoong.

"Oke!" jawab Yunho, tapi masih tetap duduk di kursi kemudinya.

"Move over, Yunie." Satu tangan Jaejoong memegang stir mobil.

"Fine!" Yunho mencari celah untuk pindah dari duduknya. "Go!" akhirnya Yunho bertukar tempat dengan Jaejoong.

Yunho pindah ke kursi belakang lalu menembaki mobil-mobil itu dengan senjatanya, namun peluru-peluru mental tanpa menembus objek.

"Mobil mereka anti peluru." Teriak Jaejoong memperingatkan suaminya.

"Mobil mereka anti peluru." Tiru Yunho, membuat Jaejoong memutar bola matanya malas.

Yunho berlindung disandaran kursi belakang mobil. Sambil mengganti deck pelurunya yang kosong.

"Mungkin aku harus mengatakan ini padamu. Satu hari sebelum kita menikah, di malam pesta last single night, bersama teman laki-lakiku. Aku meniduri seorang yeoja."

Mendengar hal itu Jaejoong langsung menginjak rem dengan kuat hingga membuat Yunho terlempar ke kursi depan dan salah satu mobil mercedes hitam menabrak mereka dari belakang, hingga sebagian ban belakang mobil Yunho tersangkut di kap mobil mercedes itu.

Jaejoong berkali-kali memukul-mukul yunho yang terjerembab di tengah-tengah kursi depan dengan satu tangannya, sedangkan satu tangannya tetap memegang stir mobil.

"Yak! Yak! Appo... stop it!" Ringis Yunho kesakitan di tengah pukulan maut istrinya. "Aku mabuk malam itu. Aku tidak menikmatinya." Elak Yunho.

Jaejoong berhenti memukuli Yunho. Beralih mencengkram stir mobil dengan kuat. Yunho kembali ke belakang mobil saat seseorang dari mobil mercedes yang tersangkut dengan mobil mereka keluar. Yunho menendang dan meninju wajah orang itu. Ia mengambil bom di tangan orang itu, dibuka pengaitnya lalu dilemparkannya kedalam mobil mercedes itu.

"Go, Go, Go!" Teriak Yunho sambil meloncat ke joke depan mobil untuk berlindung. Jaejoong segera menginjak gas dengan kuat hingga ban belakang mobil mereka turun dari cap mobil hitam itu.

Duar

Satu mobil mercedes itu meledak berkeping-keping.

"siapa namanya, kerja dimana dia dan tinggal dimana?" Tanya Jaejoong kesal.

"No, you're not gonna kill her. (tidak, kau tak akan membunuhnya)"

Mendengar jawaban Yunho membuat Jaejoong semakin kesal. Untunglah bersamaan dengan itu mobil mereka dihimpit dengan satu mobil merecedes hitam yang tersisa. mobil itu mendesak Jaejoong. Membuat Jaejoong membanting stir kekanan dan mendorong mobil mercedes di kanan mereka hingga mengenai badan pembatas jalan dan terbalik. Lalu Jaejoong memutar balik posisi mobil menjadi berlawanan arah (menghadap mobil yang terbalik tadi), lalu menembak mobil itu tepat di tangki minyaknya hingga meledak.

Setelah itu Jaejoong kembali memutar balik mobilnya, lalu menjalankannya dengan tenang. Yunho kembali duduk di kursi samping kemudi.

"Yun, sebenarnya awal pernikahan kita, aku tidak mencintaimu. Semuanya demi penyamaranku. Mian."

"Mwo? Apa kau bilang?"

"Dan... aku memiliki appa, satu Dongsaeng dan 3 adik angkat."

"Ta-tapi... dipernikahan kita. Kau bilang pada orang tuaku kalau kau yatim piatu!" Yunho setengah tidak percaya.

"I know."

"Kau berbohong pada kami."

"Sorry!"

"Sudahlah, aku tidak ingin membicarakan tentang itu lagi. Got it!" kesal Yunho.

"I got it." Jawab Jaejoong.

"Setelah semua ini, kita harus mencari waktu untuk mengulang semua pembicaraan ini."

"yeah kau benar." Angguk Jaejoong. Terlalu banyak rahasia dalam hubungan mereka yang harus diungkap dan dibicarakan.

"Kau tahu dimana mendapatkan senjata?" Tanya Yunho. Jaejoong tidak menjawab melainkan terus menjalankan mobilnya

.

My wife ia a Mafia

.

"Kenapa kita kembali ke rumah?" bingung Yunho. saat Jaejoong menghentikan mobil, tidak jauh dari rumah mereka.

"Bukankah kau bilang ingin senjata? Lagipula aku tidak mau terus memakai baju ini. Udara sangat dingin, kau tahu!" Ujar Jaejoong sambil membuka pintu mobil, lalu keluar. Yunho akhirnya menyusul keluar.

"Kita masuk!" Kata Jaejoong lalu melangkah mendekati rumah mereka, diikuti Yunho dibelakangnya.

Namun tiba-tiba Jaejoong menghentikan langkahnya lalu mengajak Yunho untuk merunduk, di antara tanaman bonsai disudut halaman rumah mereka.

"Ada seseorang disana." Kata Jaejoong.

Yunho sedikit menegakan badannya untuk melihat orang yang berpakaian hitam yang berjaga didepan pintu rumah mereka.

"Dia siapa?"

"Mungkin Fbi."

"Aku akan kesana." Usul Jaejoong. Tanpa mendengar tanggapan Yunho, Jaejoong merayap mendekati laki-laki yang sedang berjaga itu. Saat laki-laki itu lengah, Jaejoong segera keluar dari tempat persembunyiannya.

"Hei." Panggil Jaejoong itu membuat namja itu menoleh. Lalu Jaejoong segera berputar dan menendang kepala namja itu dengan kuat hingga namja itu jatuh.

Melihat Jaejoong telah menyelesaikan satu masalah mereka, Yunho keluar dari persembunyianya lalu menghampiri Jaejoong. "Kau mengerikan." Bisiknya.

"Terima kasih." Balas Jaejoong.

Yunho ingin membuka pintu rumah mereka. Namun Jaejoong menghentikannya. "Jangan lewat sana. Mereka banyak didalam. Kita lewat pintu dapur."

Akhirnya yunho mengikuti saran Jaejoong. Mereka berputar ke sisi kiri rumah menuju pintu dapur. sebenarnya lewat garasi pun bisa. Tapi pintu garasi tertutup rapat. Jadi terpaksa Yunjae melewati pintu kedua.

Pintu dapur terbuka dengan sukses. Sepertinya tidak ada yang berjaga disana. Namun dugaan keduanya salah. Diruang makan ada seorang namja berdiri membelakangi mereka. Namja itu tampak memegang senjata. Yunho menaruh jarinya dibibir. Memerintahkan jaejoong untuk diam. Lalu Yunho maju mendekati namja itu dengan perlahan. Sedangkan Jaejoong meraih satu set pisau dapur di meja dapur.

Yunho menepuk pelan pundak namja itu, hingga membuatnya menoleh. Lalu Yunho meninju muka, dan perutnya, memelintir tangannya kebelakang, lalu memukul tengkuk namja itu hingga pingsan.

Yunho memberikan cengirannya kepada Jaejoong, seolah berkata 'Lihat, aku tidak kalah kerennya denganmu'

Jaejoong mencibir cengiran Yunho. namun itu tidak bertahan lama saat seseorang muncul dari pintu ruang makan dibelakang Yunho berdiri. reflek Jaejoong melemparkan dua pisau kearah Yunho—bukan benar-benar ke arah Yunho, loh—. Yunho yang terkejut menggeser langkahnya, hingga satu pisau itu mengenai namja dibelakangnya. Dan satu pisau lagi yang berukuran kecil, dengan mulus menancap dilengannya.

Yunho mendelik ke arah Jaejoong, dan dibalas Jaejoong dengan cengiran sambil berbisik, 'Mianhe'. Untuk satu pisau yang salah sasaran—atau memang sengaja diarahkan—.

Yunho mencabut pisau dilengannya. Untung saja jaketnya cukup tebal, membuat pisau itu tidak terlalu dalam menancap. Jaejoong menghampiri suaminya.

"Apa sakit?"

"Jangan di bahas." ketus Yunho. membuat Jaejoong terdiam sambil senyum-senyum.

.

Yunho mengintip dari balik pintu ruang makan, untuk memperhatikan keadaan ruang tengah. Namun akibat aksinya, membuat tiga orang yang berjaga di sana menyadari keberadaanya.

"Itu mereka!" teriak salah satu namja sambil mengarahkan senjata kearah Yunjae. Namun reflek Jaejoong lebih cepat. Jaejoong bisa menyelesaikan 3 namja itu sekaligus, dengan pisau dapurnya. 'Ternyata, tidak sia-sia selama ini berkerja didapur' batinnya.

Ia dan Yunho langsung naik ke lantai atas saat 3 orang di ruang tengah itu sudah mereka atasi.

Persediaan pisau Jaejoong habis. Beruntung tidak ada siapapun di lantai atas. Jadi mereka bisa melenggang masuk ke kamar dengan aman.

Di kamar, Yunho dan Jaejoong segera mengganti baju mereka dengan baju yang lebih layak. Jaejoong mengenakan t-shirt biru tua dengan jeans coklat, dipadu dengan jaket kulit coklat. Sedangkan Yunho tidak terlalu banyak merubah penampilan. Yunho hanya memakai T-shirt hitam dan jaket yang tadi di pakainya.

Setelah merasa cukup. jaejoong menekan sesuatu dibalik rak buku yang ada dikamarnya kemudian sesuatu bergerak dibawah ranjang. lantai dibawah ranjang king size itu terbuka dan membentuk sebuah tangga menuju ruangan tersembunyi itu. Yunho ternganga melihatnya. Jaejoong menyunggingkan senyum melihat suaminya, lalu lebih dulu masuk keruang rahasia itu.

"Jadi ada ruangan seperti ini di bawah ranjangku?" Ujar Yunho terdengar histeris. Bagaimana bisa ia tidak menyadarinya?.

Jaejoong bersyukur para Fbi itu tidak menemukan ruangan ini. Jika mereka menemukannya. Pasti mereka akan menyita semua senjata milik jaejoong. Yunho semakin terkagum-kagum melihat deretan koleksi canggih senjata Jaejoong.

"Kita bawa seperlunya saja. Ujar Jaejoong, lalu mulai menyelipkan hand gun di pinggangnya, dan deck peluru di saku jaketnya. begitu juga dengan Yunho. Jaejoong mengambil koper kecil berwarna silver yang ada di sana dan mengisinya dengan beberapa senjata tipe jarak dekat dan jauh.

Saat tengah memilih senjata. Terdengar nada ponsel berbunyi. Jaejoong meraba kantongnya namun tak menemukan ponselnya. Jaejoong menatap Yunho. Yunho merogoh saku jaketnya saat merasakan getaran itu.

"Kenapa ponselmu ada padaku?" Bingung Yunho, lalu menyerahkan ponsel itu ke Jaejoong. Jaejoong baru ingat, saat mereka di mobil, Jaejoong menyelipkan ponselnya di jaket Yunho.

Jaejoong segera mengangkat panggilan dari nomor Changmin sang dongsaeng. "Yeobbseyo?"

"Ah.. kim youngwoong Jaejoong." Ujar suara berat di sebrang telpon.

"Siapa kau?" Saraf-saraf otak Jaejoong mulai menegang saat suara yang menyambutnya, bukanlah sura tenor sang dongsaeng.

"Aku?... seorang teman lama."

"Dimana adikku?!" Bentak Jaejoong. Yunho yang sedang sibuk menyusun senjata, menoleh kearah Jaejoong saat mendengar bentakan istrinya.

"Ah~ adikmu... Shim Changmin. Hahaha... bocah tengik itu berani-beraninya mendekati kekasihku." Suara itu tertawa mengerikan.

"Kau tahu? Untuk apa menyuruh adikmu mencari informasi tentangku bersusah payah, kalau kau bisa datang sendiri padaku. Akhirnya kau hanya mengorbankan adikmu. Kau membuatku tidak perlu repot-repot mencari sandera."

"Dimana adikku brengsek!" Maki Jaejoong.

"Kau ingin adikmu? Datanglah padaku~" Ujar namja itu dengan nada melagu. "Kalau kau tidak datang, mungkin aku membunuhnya." Ujarnya lagi dengan enteng.

"Brengsek kau Choi Seunghyun!"

"Ah, kau mengingat namaku? hahaha... karena kau masih mengingat namaku, aku akan memberimu hadiah kecil. Tapi kalau kau terlambat mengambil hadiahmu di oven itu, aku takut hadiah itu akan menghancurkanmu." Suara itu berubah terdengar simpati. "Selamat menikmati hadiahmu~ hahahaha" Seunghyun mengakhiri telponnya dengan suara tawa yang mengerikan.

Jaejoong menatap Yunho. "Hadiah? Di oven?" gumam Jaejoong. Yunho dan Jaejoong saling bertatap, sambil berpikir. Tak lama kemudian ekspresi mereka berdua berubah.

"Damned."

"Shit."

Umpat keduanya berbarengan saat menyadari apa yang di maksud Seunghyun. "Mereka berdua langsung keluar dari ruangan itu lalu meluncur ke lantai bawah, menuju dapur. Jaejoong langsung membuka oven, tempat biasanya ia memanggang sesuatu dan menemukan bom disana. Di penunjuk waktu bom itu menunjukan sisa waktu 5 menit.

Jaejoong kembali menutup oven itu. Saat angka di jam berganti menjadi 4.

03

Jaejoong mencoba membuka pintu yang terhubung dengan garasi, namun Yunho segera menahannya, karena pintu garasi tertutup, dan membutuhkan waktu untuk membukannya.

02

Yunho dan Jaejoong keluar dari pintu yang satunya yang ada didapur.

01

00

Dan

...

DUUAAAAARRR

Tubuh Jaejoong dan Yunho terlempar jauh, bersama dengan puing-puing rumah mereka yang hancur berantakan.

Asap mengepul tebal di langit. Jaejoong dan Yunho mulai bangkit dari jatuhnya, sambil memandang tak percaya ke arah rumahnya yang telah rata dengan tanah. Benar-benar hancur, bersama beberapa orang didalamnya.

"Akh.."

Yunho tersentak mendengar pekikan kecil Jaejoong. pundak Jaejoong berdarah. Ia terluka karena puing-puing yang menghantam tubuhnya.

"Gwaenchanayo?" Panik Yunho saat melihat istrinya terluka. Jaejoong mengangguk. "Luka kecil." Ujarnya.

"Kita harus pergi. Sebelum lebih banyak orang yang datang." Ujar Jaejoong, di jawab anggukan oleh Yunho. Yunho mengambil koper silver yang jatuh tidak jauh darinya lalu memapah Jaejoong menuju mobil yang tadi di parkirkan tidak jauh dari rumah mereka.

.

.

Yunho keluar dari toserba di pinggir jalan sambil membawa satu kantong pelastik putih besar. Setelah mendapatkan apa yang di carinya, Yunho kembali masuk ke dalam mobil, lalu kembali menjalankan mobilnya. 20 menit setelah itu, mobil Yunho terlihat keluar dari jalanan beraspal. Masuk ke jalan setapak, lalu berhenti di depan sebuah jurang dengan pemandangan yang sangat indah. Terpaksa untuk sementara mereka harus bertahan disini. kondisi mereka tidak memungkinkan untuk menyewa hotel atau semacamnya. Tentu saja mereka tidak ingin tertangkap. karena status mereka sebagai buronan.

Yunho dan Jaejoong pindah ke kursi belakang. Jaejoong membuka baju atasnya, membiarkan Yunho mengobati luka di pundaknya dengan obat-obatan yang dibelinya di toserba. Setelah membersihkan lukanya dengan alkohol, kini Yunho tengah membalutnya.

"Kenapa diam saja?" Tanya Yunho kepada Jaejoong yang sedari tadi tidak mengeluarkan suara.

"Hmm?"

"Apa kau khawatir dengan adikmu?" tanya Yunho lagi. Jaejoong masih diam tidak menjawab.

"Tenang saja, setelah kita mendapatkan posisinya, kita akan menolongnya."

"Kita?" Jaejoong mengerutkan alisnya sambil menatap Yunho.

"Kita! Kau dan aku!"

"Tidak, kau sudah terlalu banyak terlibat dalam masalahku."

"Boo, kau ingat janji pernikahan kita sweetheart? Kita berjanji untuk bersama selamanya, saling mencintai, saling menjaga, dalam keadaan apapun. Walaupun saat mengucap janji itu kau tidak mencintaiku, tetap saja itu berlaku. Karena sekarang kau mencintaiku, kan?"

Jaejoong mengangguk sambil tersenyum. Yunho pun balas tersenyum. Ia menggenggam tangan Jaejoong lalu menciumnya dengan sayang.

"Kita satu. Masalahmu adalah masalahku. Semua yang berhubungan denganmu juga harus berhubungan denganku. Jika sesuatu terjadi padamu, aku benar-benar hancur. Mulai sekarang pandanglah aku sebagai seorang suami, suami tempat berbagi segalanya bahkan rahasiamu. bukan alat penyamaran atau apapun. Tapi suamimu, orang yang kau cintai, orang yang mencintaimu, arra?!"

Jaejoong mengangguk dengan mata berkaca-kaca. "I love you."

"I love you most." Setelah Yunho berkata seperti itu, bibir mereka berdua menyatu. Menyatu dalam kelembutan dan kasih sayang. Jaejoong menagis dalam ciuman itu. Selain terharu dengan kata-kata Yunho, dia juga menyesal melibatkan Yunho kedalam masalahnya, berapa kali nyawa Yunho harus terancam karenanya. Bahkan kini ia menghancurkan hidup Yunho. suaminya kini menjadi buronan. Bagaimana ia memperbaiki semuanya?. Tidak hanya itu. Kini nyawa Dongsaeng kesayangannya pun terancam. Hanya ada satu nama di balik kekacauan ini. Yaitu Choi Seunghyun. Karena dendamnya pada Jaejoong, Namja itu membuat hidup Jaejoong benar-benar berantakan. tapi di balik dendam Seunghyun juga berdiri Jaejoong. namun ada satu hal yang tidak diketahui SeungHyun. Sesuatu yang membuat Jaejoong terpaksa membantai keluarga Seunghyun.

Bahkan saat Yunho mencumbunya, pikiran Jaejoong tidak benar-benar tertuju pada kegiatan mereka. Ia tengah berpikir bagaimana memperbaiki semuanya. Apakah masih bisa? Apakah jalan itu ada?

...

Drrrt... ddrrt..

Getaran ponsel di saku celananya, membangunkan Jaejoong. Satu pesan masuk di ponselnya. Jaejoong segera membuka pesan itu dan membacanya. Ternyata pesan itu dari Seunghyun yang menunjukan tempat pertemuan mereka besok. Jaejoong memakai bajunya kembali lalu membalut tubuhnya dengan selimut yang tadi dibeli Yunho. ia membuka perlahan pintu mobil, berusaha untuk tidak membangunkan Yunho yang tertidur di kursi depan setelah kegiatan mereka tadi.

Jaejoong berjalan sedikit menjauhi mobil. Dikeluarkannya lagi ponselnya lalu mencoba menghubungi Kyuhyun dan menceritakan soal Changmin. Kyuhyun sempat panik. Namun saat mendengar perintah Jaejoong, Kyuhyun langsung menyanggupinya. Setelah menelpon Kyuhyun, Jaejoong kembali menelpon seseorang. 2 kali ia mencoba, tapi tidak mendapat jawaban. Wajar saja, sekarang jam tiga pagi, mungkin orang yang dihubungi Jaejoong masih tidur. Namun setelah mencoba tiga kali, seseorang menjawab telpon.

"Yeobseyo? Yoochun-ah, aku butuh bantuanmu."

.

.

.

To Be Continue

.

Bantuan apa yang diminta Jaejoong pada Yoochun?

Perintah apa yang diberikan Jaejoong pada Kyuhyun?

Bagaimana Changmin bisa tertangkap?

Dan bagaimana akhir hubungan Yunjae, happy ending or...?

Jawabannya ada di...

CHAPTER 11

(End of My wife is a Mafia)

Jadi semoga anda sekalian bersabar menunggu endingnya ^^

.

.

Mianhe, saya lama update. Saya lagi KKN. Hehe #garukkepalasambilnyengirwata dos

Saya harap Chap ini udah panjang #6rbu kata loh. Yah walaupun hasilnya jauh dari harapan.

di chap ini banyak adegan Mr. And Mrs. Smith yang saya masukin. Karena saya suka banget adegan itu.

Oh ya, Mianhe soal matinya hangeng dengan sadis di tangan Yunho. yah, Walopun Yunho gak matahin lehernya, hangeng tetep saya buat dead kok. Tapi semua itu Cuma untuk keperluan cerita semata kok. Harap maklum, ne.

Untuk mpreg ya?...hmmm... #ngelusngelusjenggot XD.

Dengan yakin saya mengatakan... 'Ada kemungkinan Mpreg' yeeiy!.

Di chap kemarin gak ada pengeluaran tokoh baru kok. semuanya cast lama. cuma munculnya baru sekarang.

Untuk yang belum tahu kerjanya Mr. Kim. Dia itu anggota Triad-nya jepang. Di chap awal ada.

Okeh, segitu dulu cuap-cuapnya. Silahkan tinggalkan komentar di kotak review.

.

Pai Pai #lambai-lambaibarengJaema