くコ:彡くコ:彡くコ:彡
Taedae menaiki satu persatu anak tangga yang ada untuk menuju kelantai dua, rambut panjangnya sesekali ia belai sendiri agar terlihat rapi.
Sesampainya didepan pintu kamar dimana adik kesayangan dan si temen adiknya yang laknat itu, ia mulai membuka perlahan pintunya tanpa mengetuk.
"Yongie, bangun Yong-LAHAULAAAAA!!!" Taedae heboh dengan apa yang ia lihat sekarang.
'Plis dah ya, kalian tuh belum nikah tapi tidurnya gitu amat!' bagaimana Taedae tak bisa heboh, posisi mereka benar-benar terlihat intim-menurut Taedae-, mereka yang saling berpelukan, Taeyong yang seperti menghilang karena terlalu mendekat dengan badan Jaehyun, kepalanya yang terlihat nyaman didada Jaehyun, Jaehyun yang memperlakukan Taeyong seperti guling, badan mereka berdempetan tanpa jarak seinci pun, bahkan baju yang dikenakan Taeyong sedikit terangkat hingga perut mulus ratanya terlihat meskipun setengah saja. Taedae bisa panas dingin sendiri melihatnya.
Taedae berdehem, bersiap untuk berteriak.
1..2...3!
"HAYO NAKKK!! UANG KOS-KOSANNYA MANA!!!!!"
"EOMMAA!!" Jaehyun dan Taeyong berteriak kaget.
/brukk!/
Jaehyun jatuh dari kasur pemirsa..
"Aigoo~ appo~" Jaehyun mengelus pantatnya yang terasa nyeri.
"Salahnya sendiri kau tidur seperti itu!" Taedae berjalan mendekati kasur dan melangkahi Jaehyun, lalu ia mendekat ke Taeyong dan memeluk adiknya itu yang masih setengah terbangun.
"Yongie, kau diapa-apakan Jaehyun tidak?"
"Tidak kok eon, huaaahhm~" Taeyong mengucek matanya pelan.
"Yasudah, cuci muka sana, terus turun kebawah untuk sarapan." Taeyong mengangguk, Taedae tersenyum lalu beranjak dari kasur, ia juga melangkahi Jaehyun lagi.
"Habis ini turun, sarapan." Taedae langsung pergi setelah berkata seperti itu kepada Jaehyun, Jaehyun hanya bisa maklum. Setelah Taedae keluar dari kamar, Taeyong mulai beranjak untuk kekamar mandi yang diikuti oleh Jaehyun.
Mereka sama-sama mencuci muka dengan sabun yang sama dan gerakan yang sama.
-Satu putaran-
-Setengah putaran-
-Bersihkan sel kulit mati dan kotoran-
-Tar-putar diwajah-
-Bilas!-
-Multivitamin!-
Begitulah kira-kira..
Maap aje tapi authornya nggak niat buat endorse kok :)))
Setelah itu, mereka membilas wajah mereka dengan air hangat dan dikeringkan dengan handuk. Lalu mereka turun kelantai bawah untuk sarapan.
"Sudah siap semua?" Mr Lee bertanya pada rombongannya.
"Ah Jeff, kau denganku saja okey?" Johnny berkata pada Jaehyun dan Jaehyun mengangguk.
Saat ini mereka tengah bersiap untuk ke lembah yang sangat terkenal di Yosemite, Johnny dan Jaehyun naik mobil Johnny, saat mereka ingin masuk,
"Jae-jaehyun! Aku ikut dimobil ini!" Taeyong berlari kemobil Johnny.
"Kalau begitu, aku juga ikut disini!" Ten berseru.
"Ah.. Yasudah kalu begitu kita berempat naik mobilku." Johnny akhirnya bersuara.
"Yasudah, kau disana bersama Ten ya.."
"Iya-iya eomma~~" maklumlah, Taeyong kan anak manja.
Setelah mereka benar-benar siap, mereka akhirnya berangkat menuju lembah Yosemite.
Selama perjalanan, Johnny, Jaehyun, dan Taeyong terus saja bercanda. Ten hanya diam dan sesekali tertawa kecil karena tingkah dari ketiganya.
"Ah.. Dia pernah fashion show tanpa busana di komplek perumahan.. Aku masih ingat dulu itu, Jaehyun masih umur tiga tahun! Aaa-yak! Appo!" Johnny meringis kala Jaehyun mencekiknya.
"Tidak usah cerita yang itu dasar pabo!!!" Jaehyun semakin mencekik Johnny dengan kuat.
"Aaaahhh Yak! Hentikan! Iya-iya maafkan aku! Aku sedang menyetir sekarang, jangan ganggu!" Jaehyun melepaskan cekikannya. Wajah Jaehyun memerah, ia menahan malu. Taeyong yang terbahak saat ini membuatnya semakin malu.
"Uutututtt~~ Jaehyunnie menggemaskan~ tapi, maksudnya dari fashion show tanpa busana itu seperti apa?" Taeyong bertanya.
"Jadi saat itu kami sedang bermain air di halaman depan, Jaehyun melepas seluruh pakaiannya. Karena pagar rumah terbuka, Jaehyun malah keluar dan lari-larian di komplek perumahan yang dulu. Yaampun~ padahal anaknya bukan aku tapi kok aku yang malu. Aaaa!! Iya! Iya! Aku diam!" Jaehyun menarik tangannya kembali dari leher Johnny.
Taeyong semakin terbahak dan merasa gemas. Ia mencondongkan badannya dan mencubit pipi Jaehyun dari belakang.
"Iih~ menggemaskan!!!" Jaehyun tersenyum malu karena perlakuan Taeyong.
"Aah-aah! Hyung! Appo~" Jaehyun meringis sembari memegang tangan Taeyong yang berada dipipi kirinya. Johnny melihat itu.
"Aigoo~ sejak kapan kalian sedekat itu?" Johnny juga senang ternyata sudah ada kemajuan pesat.
"Uhm.. Belum lama sih, ya kan Jae?" Taeyong sedikit tersipu dan Johnny melihatnya, Jaehyun hanya diam karena malu, Ten tidak bersuara sama sekali.
くコ:彡くコ:彡くコ:彡
Jaehyun mengambil banyak sekali foto pemandangan lembah itu, dan hasil jepretannya mengesankan, meskipun tak jarang juga ia memotret Taeyong tanpa Taeyong sadari.
"Jaehyun, Jaehyun! Ayo lari ke sana bersamaku!" Jaehyun tersenyum dan berlari mengikuti Taeyong dari belakang.
"Yongie!! Jangan jauh-jauh!!!" Mrs Lee berteriak.
"Tidak kok eomma!!!" Taeyong menyaut.
Dan mereka berlarian lagi, ah jangan lupakan kalau mereka juga tertawa.
Dari kejauhan, Ten melihat semuanya. Entahlah kini Ten merasa bahwa Jaehyun itu anak baik. Tapi ia juga masih takut jika kejadian sebelumnya akan terulang, apakah ia terlalu berpikir negatif tentang Jaehyun? Apakah ia harus merubah sisi pandangnya?
"Tenang saja, Jaehyun itu anak baik." Ten menoleh dan mendapati Johnny yang berdiri disamping kirinya.
"Hm.. Aku hanya takut kalau kejadian sebelumnya terulang."
"Ya, aku tahu persis Jaehyun seperti apa. Tapi coba lihat sekarang, seperti apa Taeyong saat ini?" Ten memandang Taeyong dan Jaehyun lagi.
'Bahagia..'
Mereka sama-sama tersenyum dan tertawa, Ten dan Johnny bisa melihat Taeyong yang sedang menggelitik pinggang Jaehyun dan Jaehyun yang berusaha menghindar.
Ckrik!!
Ten menoleh ke Johnny lagi.
"Untuk apa kau memfoto mereka?"
"Uhm, untuk kenangan, kenapa? Kau juga mau difoto?" Johnny langsung mengarahkan kameranya ke wajah Ten.
Ckrik!!
"Yak apa-apaan kau!" Ten baru sadar karena Johnny memfoto dirinya dengan cepat.
"Kenapa nggak senyum?" Johnny melihat hasil jepretannya.
"Kau saja yang tiba-tiba memfotoku."
"Ok kalau gitu, sini kufoto lagi. Senyum ya!" Johnny mundur selangkah dan mengambil posisi.
"Ah! Tidak-tidak! Bukan begitu maksudku!"
"Sudahlah.. Cepat senyum!"
"Heh? A-apa?"
Ckrik!!
"Kok malah melongo sih?" Johnny sedikit terkikik gemas. Ten kesal dan malu.
"Ah, tapi tak apa kok. Kau kan manis, jadi hasil fotonya bagus-bagus saja." Ten tersipu karena perkataan Johnny.
"Uh.. Ekhem! Terserah kau saja." Johnny mendengus.
"Oh! By the way.. Kita belum kenalan secara benar kan?" Johnny menjulurkan tangan kanannya.
"Johhny Seo." Ten menyaut uluran itu.
"Ten."
Alis Johnny menyatu, bingung.
"One, two, three, four, five, six, seven, eight, nine, Ten?" Ten mendelik sebal.
"Yak! Bukan seperti itu!"
"Lalu namamu siapa?" Ten mengkerucutkan bibirnya dan mengedikkan bahu.
"Ya.. Namaku memang Ten." bisa Johnny akui bahwa sosok didepan matanya ini sangat menggemaskan.
"Kau yakin? Apa nama di akta kelahiranmu hanya tertulis T-E-N?" Ten mendengus sebal sembari mengkerucutkan bibirnya.
"Chittapon." Johnny menatap Ten dan sedikit membulatkan matanya.
"Chittapon." Ten mengulangi ucapannya.
"Cheetah... Bond?" setengah alis milik Johnny terangkat, Ten sudah sebal sampai ke ubun-ubun.
"CHITTAPON! DASAR BULE UEEDAAN!!" sepertinya, tata bicara nyabe Ten mulai muncul kembali.
Tangan Taeyong dan Jaehyun saling bertautan, mereka sedang berjalan santai di hamparan rumput disalah satu kawasan kecil lembah.
"Hyung, jangan jauh-jauh dari rombongan. Nanti ada beruang." Taeyong mendengus.
"Tak mungkinlah Jae.. Lagipula kau kan ada disini bersamaku." Jaehyun kikuk.
"Ya bukan begitu maksudku, tapi disini alamnya 95% liar, aku tak bohong perihal adanya beruang disini." Taeyong tidak peduli.
"Nah, yang penting sekarang kan belum ketemu beru-KYAAAAAAAAAAA!!" Taeyong kaget dan melompat ke Jaehyun.
Refleks, Jaehyun menggendong Taeyong yang melompat kearahnya dengan gaya bridal. Jaehyun juga kaget, tapi dengan cepat ia menormalkan kondisi dan melihat penyebabnya.
"Yaampun hyung~~ itu hanya tupai!" Jaehyun tertawa.
"Uh-huh? Tupai?" wajah Taeyong terlihat sedikit takut tapi ia mencoba untuk biasa saja.
"Ehm-baiklah kalau begitu.." Taeyong hendak turun dari gendongan Jaehyun.
Srakk!
"EOMMA!!" Taeyong mengeratkan pegangannya dan bersembunyi diceruk leher Jaehyun. Jaehyun tertawa dengan keras.
"Yaampun hyung~~ itu tupai yang tadi. Hahaha! Sudahlah jangan takut, ujujuju~" Jaehyun memperlakukan Taeyong seperti bayi, salah satu tangannya yang berada dipunggung Taeyong ia buat untuk menepuk-nepuk. Menimang Taeyong layaknya bayi yang baru lahir.
Taeyong sangat malu saat ini, ia merutuki seberapa bodohnya ia.
"Yasudah Jae.. Ayo kembali." Taeyong berkata yang masih memeluk leher Jaehyun dan bersembunyi diceruk leher Jaehyun.
Tapi Jaehyun tak kunjung bergerak, Taeyong bingung dan kesal. Ia pun mengangkat kepalanya dan memandang Jaehyun kesal.
"Kok nggak jalan sih?!" Jaehyun cuma membalas dengan cengiran dan tawa kecil.
"Apa hyung mau kita kembali dalam posisi seperti ini??" Taeyong tersadar dan pipinya langsung memanas.
"Ah! I-iya! Maafkan aku.." Taeyong gelagapan dan langsung turun dari gendongan Jaehyun.
Setelah itu, tangan kanan Jaehyun meraih pinggang ramping Taeyong dan mereka berbalik arah untuk kembali.
くコ:彡くコ:彡くコ:彡
"Yak! Noona, jangan pose begitu."
"Kenapa sih memangnya? Kan dulu juga tidak masalahkan? Yuk yuk foto lagi." Taedae berpose dengan tangan kanan yang mencubit pipi Winwin.
"Noona, kumohon jangan pose begini lagi." Winwin memohon.
"Kenapa..?" Taedae menampilkan wajah sedihnya.
"Aku sudah punya pacar, aku takut nanti dia cemburu dan marah." ucap Winwin polos. Mrs Lee dan Taedae tercengang, Ten dan Taeyong terkikik.
"Yaampun Winwinnie.. Sosok siapakah yang beruntung mengisi hatimu? Yeoja? Namja?" tanya mrs Lee.
"Uhm.. Ituh, hoobaeku. Dia tampan." jawab Winwin malu-malu.
"Wah wah wah. Aku kalah dari Winwin, siapa namanya?" Taedae bertanya.
"Yuta.." Jaehyun kaget dan langsung memandang mereka.
"Yu-yuta?? Hyung berpacaran dengan Yuta??" Winwin mengangguk.
Jaehyun tidak percaya dan shock seketika.
"Kau saja yang pergi tanpa kabar, temanmu itu jadi bermain terus dengan kami sampai dia kepincut sama Winwin." Ten menjelaskan sembari mengemil potato chips. Johnny menyambar potato chipsnya dan melahap habis hingga tak bersisa, lalu bungkusnya ia beri ke Ten.
"Kalau bawa snack harus bagi-bagi." Ten mendelik kesal, Johnny nyengir tanpa dosa.
Suasana pun ramai dengan tingkah laku mereka semua, Ten dan Johnny pun jadi sering berantem meskipun juga tidak bisa dibilang berantem. Jaehyun tersenyum melihatnya.
"Sepertinya ada yang sudah jatuh pada pesona Tennie.." Jaehyun menoleh karena perkataan Taeyong, lalu ia mengangguk setuju.
Taeyong menyandarkan kepalanya pada bahu kanan Jaehyun, saat ini mereka berdua sedang duduk bersandar dan berteduh dibawah pohon, mengamati teman-teman dan keluarga mereka yang asik bercanda ria.
"Jaehyun.." ada jeda sebelum Jaehyun membalas panggilan itu dengan gumaman.
"Kapan kau kembali lagi ke Seoul?" Jaehyun diam.
"Aku tak tahu hyung."
Taeyong menghela napas, ia raih tangan kanan Jaehyun dengan tangan kirinya.
"Kumohon, kembalilah ke Seoul. Aku akan kesepian jika kau berada sangat jauh dari jangkauanku."
Perasaan Jaehyun menghangat, ia genggam tangan kiri Taeyong dengan tangan kanannya. Jari mereka bertautan dan ibu jari Jaehyun yang bebas ia buat untuk mengelus punggung tangan Taeyong.
"Aku tak janji hyung.." Jaehyun berkata dengan lemas. Taeyong mengerti dan tidak bertanya macam-macam lagi.
Sesaat, Taedae melihat Taeyong dan Jaehyun. Lalu ia segera mendekat ke Ten dan berbisik ditelinga kiri pemuda itu.
"Coba lihat, ada burung yang sedang bermesraan tak tahu tempat. Bagaimana jika eomma dan appa melihat?" Ten pun langsung melihat ke objek yang dimaksud. Alis Ten berkerut.
"Sejak kapan mereka berpacaran?" Taedae hanya menggeleng tidak tahu.
"Kurasa mereka tidak berpacaran." Johnny tiba-tiba bersuara, Taedae sedikit berpikir.
"Jadi maksudmu mereka itu sedang berhubungan tanpa status?" Johnny hanya mengedikkan bahu sebagai jawaban.
-kembali ke leptop.. Ekhem/ mksd oe, jaeyong-
Taeyong yang semula asik bersandar pada bahu kanan Jaehyun, ia sempat melihat kakaknya sekilas.
"Ehm Jae.. Noonaku melihat kesini." Taeyong ingin menarik tangannya dan duduk dengan tegap.
Tetapi, Jaehyun mengeratkan tautan tangan mereka dan menyandarkan kepala Taeyong untuk kembali bersandar pada bahunya.
"Biarlah, jangan dihiraukan. Noonamu hanya iri melihat kita." Taeyong terkikik.
"Yaampun Jae.. Jangan jahat-jahat sama noonaku, nanti kamu di smackdown bagaimana?" Taeyong berkata sembari mencubit pipi kanan Jaehyun dengan tangan kanannya yang bebas.
'Ah.. Benar juga, dia kan calon kakak iparku. Jangan sampai aku berbuat jahat dengannya.' Jaehyun seketika sadar.
"Ah iya hyung, maaf. Hehe.." Taeyong hanya berdecih imut.
"Hei kalian si dua burung pecinta! Cepat kemari!!" teriakkan Taedae sukses membuat Jaehyun dan Taeyong merona.
Dengan sigap, Taeyong langsung berdiri dan berlari kecil ke Taedae.
"Eomma.. Noona.. Kita mau kemana sih?" tanya Taeyong kesal, pasalnya mereka berjalan menuju suatu tempat tanpa pasti dan rute jalan yang tidak mulus, terkadang bebatuan.
"Jangan mengeluh Yongie, kau itu namja. Harus kuat." Mr Lee berkata tegas namun sayang.
'Hihi, dia memang seorang namja. Tapi dia akan menjadi uke bila bersamaku.' Jaehyun gemas sendiri.
"Jangan senyum-senyum seperti itu Jae, kau menyeramkan." Jaehyun hanya tertawa kecil sebagai respon perkataan Ten.
"Ah, tapi kalau kau yang senyum malah manis." Ten menoleh ke kanan.
Johnny terkikik gemas, Ten kesal dan mencubit pinggang Johnny.
"Aw! Jangan jahat-jahat padaku."
"Biar! Siapa suruh kau menggodaku terus!." Ten berkata ketus, tapi ia juga tertawa.
Jaehyun melihat semua interaksi Johnny dan Ten, lalu Jaehyun memanggil Johnny dan membisikinya.
"Dude, kalau kau suka, tembak saja dia." Johnny menyengir lalu bergantian membisiki Jaehyun.
"Bro, kalau kau cinta Taeyong, cepat lamar dia."
-headshot!-
Jaehyun membeku, entah kenapa perkataan Johnny malah berpengaruh besar kedirinya.
"Ah lupakan saja." Jaehyun langsung mendahului Johnny dan Johnny hanya bisa terkikik.
"Ehm, Jaehyun kenapa?" itu Taeyong yang bertanya ke Johnny. Johnny tersenyum dan menyuruh Taeyong untuk mengejar Jaehyun, Taeyong menurut dan menyamakan langkah kakinya dengan Jaehyun.
"Jae.. Pelan-pelan!" Jaehyun memelankan jalannya dan menoleh kesamping kiri.
Ah.. Karena perkataan Johnny tadi, Jaehyun jadi malu sendiri.
"I-iya hyung?"
"Kau kenapa?" Jaehyun meneguk salivanya kasar, wajah khawatir Taeyong sangatlah menggemaskan.
"Tidak apa-apa hyung. Hanya ingin cepat sampai." Jaehyun tersenyum diakhir, Taeyong percaya saja.
"Oh iya Jae, nanti kau mau pergi dengan--KYAA!!" Jaehyun langsung memeluk Taeyong dari samping kala Taeyong baru saja tersandung batu yang ukurannya tak bisa dibilang kecil.
"Hyung! Berhati-hatilah!" Taeyong hanya nyengir tanpa dosa.
"Cie~ yang khawatir cie~" Taeyong menggoda Jaehyun sembari menunjuk-nunjuk wajah Jaehyun dengan telunjuknya.
Ok, sejak kapan hyung tercintanya ini jadi kekanakan begini?
Akhirnya setelah beberapa menit kedelapan orang itu berjalan, mereka sampai ditujuan mereka, air terjun.
"Wah! Air terjunnya indah!" Taeyong berteriak karena suara jatuh dari ratusan ribu kubik air terdengar deras sekali. Mereka juga sedikit demi sedikit menjadi basah karena terkena cipratan air, meskipun tempat mereka berdiri lumayan jauh, tapi tetap saja masih terkena cipratan.
Jaehyun dan Johnny sedang bertanding lempar batu, siapa yang paling jauh melempar batunya, ia yang menang, dan yang kalah harus rela untuk ditampar, dicubit, ataupun jambak.
"Oke, one, two, hyat!!"
-tuk–tuk–tuk–plung!-
"Yesss, aku menang!" Johnny berseru menang.
"Come here Jae, hadap aku." Jaehyun mendengus dan menghadap Johnny.
/plakk!/
"Aw! Ternyata kau tidak berbaik hati padaku!" Jaehyun meringis sembari mengelus pipi kirinya yang panas karena ulah Johnny. "Oke, ronde berikutnya. Hana, dul, set!"
-tuk–tuk–tuk–tuk–plung!-
"HAHA!! Kemarilah bro!!!" Jaehyun tersenyum licik dan meregangkan otot tangan kanannya, bersiap melakukan pembalasan, Johnny merinding dengan sendirinya, pasalnya Jaehyun itu berotot dan kuat dibalik wajah imut dan bajunya itu.
"Whoo~ bersiaplah. Hana, dul--"
/PLAAKKKK!!!!/
"OUCH!!!! ITU SAKIT JAEHYUN!! AWWWW!!!" benarkan kata Johnny, menurut Jaehyun sendiri itu hanya tamparan biasa, tapi menurut Johnny, itu adalah tamparan yang luar biasa.
"Omg bro!! I'm sorry hahahahaha!" Jaehyun terpingkal setelah tahu bahwa pipi kiri Johnny memerah dan sedikit mengecap gambar tangan.
"GYAHAHAHA!!! KALIAN INI BODOH SEKALI HAHAHA!!" mereka berdua menoleh dan mendapati Ten yang sama terbahaknya.
Ten mendekat ke mereka berdua dan melihat pipi Johnny. "Omo~~ itu membekas hahaha." Ten terbahak lagi, dosa nggak sih ngetawain orang yang lagi kesakitan??
"Karena kau disini, kau harus ikut bermain dengan kami!"
"Eh?!" Ten membelalakkan matanya. Lalu ia menerima batu kecil yang Johnny beri dengan ekspresi kaget. Ah, ia yakin kalau ia akan kalah, ototnya tidak terlalu terlatih meski ia juga tidak bisa dibilang kurus.
"Ok, me first." Jaehyun mengambil ancang-ancang dan sedetik kemudian ia melempar batunya. Batu Jaehyun terlempar jauh, hampir tepat terjatuh di ratusan ribu kubik air itu. Lalu diikuti dengan Johnny yang tak kalah jauhnya meski Jaehyun masih lebih jauh. Ok, Ten pasti kalah.
Padahal belum melempar batunya tapi ia sudah parno sendiri, tahu sendiri kalau tamparan mereka berdua itu pasti sakit. Tapi Ten tetap melempar batunya dan hanya berjarak sekitar 2,5 meter saja batu itu tenggelam.
"Err... Kalian berbaik hatilah padaku." Ten tersenyum kecut.
Jaehyun mendekat kearah Ten, mengambil beberapa helai rambut Ten dan menjambaknya pelan.
"Aw!"
"Ah! Maaf hyung kalau itu sakit!" Jaehyun merasa bersalah dan tak enak karena bagaimanapun juga Ten itu kakak kelasnya.
"Oke giliranku." Johnny juga mendekat kearah Ten.
Belum apa-apa Ten sudah takut dan memejamkan matanya. Pipi ataupun rambutnya sudah siap untuk ditampar ataupun dijambak.
Tapi pada kenyataannya, Johnny mencubit pelan hidung bangir Ten dan sukses membuat Ten kaget dan membuka matanya.
"Ka-kau, tidak menampar atau menjambakku?" Johnny tersenyum.
"Sangat sayang sekali kalau wajah manis itu harus tertampar atau rambut itu terjambak." oke, Ten gugup sendiri jadinya. Dan Jaehyun berasa seperti nyamuk.
くコ:彡くコ:彡くコ:彡
"Jaehyun ayo cepat kemari!!" Taeyong berteriak memanggil Jaehyun. Jaehyun tersenyum dan berjalan mendekat ke Taeyong lalu mereka berjalan berdampingan untuk ke rombongan.
/bruk!!/
"Ah! I'm sorry.. Are you okay??" karena dirinya yang tidak hati-hati, secara tidak sengaja Jaehyun bertabrakan pundak dengan pengunjung lain. Sosok yang tertabrak oleh Jaehyun tadi hanya mengangguk, sosok itu mengenakan hoodie yang membuat wajahnya tak nampak.
'Sepertinya aku kenal.' Tapi masa bodoh dengan itu, Jaehyun kembali berjalan.
"Ada apa Jae??" tanya Taeyong, Jaehyun hanya tersenyum dan menjawab "Tidak apa-apa.."
Lalu mereka lanjut berjalan lagi. Kedelapan orang itu bersenang-senang dengan menelusuri berbagai tempat dari alam itu hingga matahari mulai bersinar jingga.
"Bolehkah aku duduk disini?" Johnny mendongak dan mendapati Ten yang kini berdiri dihadapannya sembari membawa dua kaleng soda.
Johnny tersenyum lalu mengangguk, lalu Ten duduk disamping Johnny dan kini mereka sedang duduk dipohon yang tumbang sembari menikmati langit yang berubah jingga, Ten juga memberi sekaleng soda ke Johnny yang diterima baik oleh pemuda itu.
"Ehm, Johnny. Bolehkah bertanya sesuatu?"
"Tentu, tanya saja apapun itu."
"Apapun?"
"Ya."
Ten menunduk dan memainkan pinggiran kaleng soda dengan jari telunjuknya, ia berpikir-pikir sejenak sebelum menanyakan apa yang membuat penasaran setengah mati olehnya.
"Aku penasaran dengan kau dan Jaehyun." Johnny yang semula menghadap kedepan kini menoleh menghadap Ten.
"Maksudmu?" Ten menjilati bibirnya yang kering.
"Ngg.. Maksudku, aku penasaran dengan kalian berdua terkhusus pada Jaehyun. Ya kau tahu, adikmu itu pernah berulah yang tidak-tidak kepada Taeyong dan kini ia berubah drastis menjadi sangat manis dan ia juga berkata kalau ia menyesal dengan perbuatannya. Aku bingung dengan semua tingkah lakunya dan sikapnya."
"Dan beberapa bulan yang lalu ia menghilang bak ditelan bumi hingga secara tiba-tiba dan tak terduga, kita bertemu lagi dengannya bersamamu." Johnny menundukkan kepalanya, memilah-milah jawaban yang tepat untuk Ten.
"Ah, soal itu, masalah pribadinya bersamaku." Ten menghela napas.
"Sekarang aku tanya--"
Ten menoleh menatap Johnny.
"--Apa masalah itu?"
"Dimana Ten dan Johnny?" Taeyong membalas pertanyaan Taedae dengan kedikkan bahu. "Aku tidak tahu."
Taedae menyodorkan dua bungkus chocolate bar ke Taeyong. "Makan ini dulu untuk mengganjal perut, sebentar lagi kita akan kembali lounge." Dengan senang hati Taeyong menerimanya.
Dengan semangat, Taeyong membuka salah satu bungkus dari snack itu dan memakannya dengan lahap hingga meninggalkan beberapa noda kecil diujung bibirnya, ia juga menyimpan satunya lagi untuk nanti. "Oh! Noona!"
"Iya?"
"Ehm, tidak apa-apa, aku hanya membayangkan kalau kita camping disini." Taedae tertawa kecil.
"Kita sudah menginap di lounge yang besar dan nyaman tapi kenapa berpikir malah menginap didalam tenda?" Taedae tertawa.
"Err.. Sudah kubilangkan kalau bayangkan saja!" Taeyong mengkerucutkan bibirnya kesal.
"Aigoo~ anak eomma mengemaskan sekali kalau sedang kesal." tiba-tiba mrs Lee muncul dan mencubit pipi Taeyong gemas. Taeyong semakin menkerucutkan bibirnya.
Setelah itu mrs Lee berjalan menuju mobil yang diikuti oleh Taedae.
Taeyong mendengus dan menggigit lagi cokelatnya dan pandangannya menelusuri sekitar. Ia bisa melihat kalau pengunjung lain juga tengah bersiap-siap untuk kembali ke lounge ataupun tenda mereka. Tapi Taeyong tak menemukan sosok yang ia cari. 'Kemana dia?'
"Mencariku hyung?"
"Gyaaaa!!!" Jaehyun tertawa jahil.
"Huuh!! Dasar Jaehyun pabo!! Untuk apa mengagetkanku seperti itu?!" Taeyong mendengus kesal karena Jaehyun dan mengkerucutkan bibirnya kembali kala Jaehyun belum berhenti tertawa.
Tadi Jaehyun mengagetkan Taeyong dengan membisikinya secara tiba-tiba dari belakang dan respon Taeyong benar-benar hiburan tersendiri bagi Jaehyun.
"Aigoo~ jangan ngambek hyung.. Baiklah, ada apa mencariku?" Taeyong berdecih dan mengigit cokelatnya kembali.
"Tidak apa-apa, hanya penasaran saja kau ada dimana." Jaehyun tersenyum.
"Hyung, ikut sebentar denganku yuk! Sembari menunggu yang lain siap sebelum kita kembali ke lounge." Taeyong menggigit cokelatnya untuk yang terakhir kali dan menyimpan bungkusnya. "Baiklah, ayo!"
Dan mereka berjalan beriringan ke suatu tempat yang tidak terlalu terjangkau dengan pengunjung lain. Sesampainya ditempat itu, mereka duduk bersebelahan disebuah batu yang cukup besar untuk diduduki mereka berdua, menikmati langit senja dan burung-burung yang terbang diatas sana. Sejenak, Jaehyun mamandang Taeyong lekat.
"Hyung.." Taeyong menoleh. "Iya?"
'Aku menyukaimu hyung..' Jaehyun menegak salivanya kasar.
"Eng.. Tidak apa-apa, lupakan." Taeyong sempat mengernyit tapi sedetik kemudian, ia tidak mempermasalahkan itu lagi.
Taeyong mendekat ke Jaehyun dan menyandarkan kepalanya ke bahu Jaehyun dengan nyaman. Jaehyun mati-matian untuk menormalkan detak jantungnya yang serasa berdiskotik saat ini.
"Hyung.."
"Apa lagi sih Jae?? Jangan jadi tidak jelas begitu." Taeyong mengembungkan pipinya kesal namun sayang, Jaehyun tidak melihatnya.
"Hei lihat! Kerikilnya lucu!" Taeyong berseru lucu saat melihat tumpukan kerikil dibawahnya. Kerikil yang berwarna cerah dan terlihat sangat indah jika dipakai untuk hiasan akuarium.
Taeyong membungkuk dan mengambil beberapa kerikil tersebut dan menyimpannya didalam bungkus cokelat yang tadi ia makan.
"Mungkin bisa menjadi tambahan untuk rumahnya Bubu." Bubu adalah ikan cupang berwarna biru, peliharaan Taeyong. Jaehyun tertawa gemas.
'Aigoo~ hyungku ini menggemaskan sekali.' sejenak kemudian, mereka saling diam.
"Hyung.." akhirnya Jaehyun angkat suara terlebih dahulu sembari menatap lurus kearah manik indah milik Taeyong. Taeyong merespon dan secara kenyataan, itu membuat mata mereka bertemu.
Hening, belum ada yang mau bersuara. Dan hal tersebut membuat mereka berhasil untuk mendengar detak jantung masing-masing. Ok, sejak kapan pipi Taeyong memanas?
Jaehyun masih menatap manik Taeyong lekat, perlahan, Jaehyun mendekatkan wajahnya ke wajah Taeyong. Dan dengan perlahan pula Jaehyun memejamkan matanya dan berakhir dengan menempelnya dua benda yang kenyal itu.
Taeyong diam, tapi ia juga tidak menolak. Entah setan apa yang merasuki Taeyong untuk memajamkan matanya juga dan itu sukses membuat jantung mereka seperti meloncat keluar dari tempatnya.
Secara perlahan, Jaehyun mulai bergerak dengan melumatnya dan menghisapnya, oh betapa polosnya Taeyong yang tidak mengerti harus bagaimana dan memilih diam tidak membalas aksi Jaehyun. Jaehyun menelusupkan tangannya ketengkuk Taeyong dan menariknya membuat ciuman mereka berdua menjadi semakin dalam.
Kalau boleh jujur, saat ini perut Taeyong terasa seperti ada jutaan kupu-kupu yang terbang dan seluruh wajahnya pasti lebih merah dari pantat punyanya Mr Eugene Crab.
Kegiatan itu masih berlangsung hingga pada akhirnya-
"Wow! Lihatlah dua sejoli ini!" Taeyong dan Jaehyun terjengat kaget dan menjauh, menoleh kebelakang dan melihat siapa itu.
Jaehyun membelalakkan matanya dan kaget bukan main. "KAU??!!"
Jaehyun refleks berdiri dan menarik pergelangan Taeyong dan membuat Taeyong untuk bersembunyi dibelakang punggungnya, wajah Jaehyun menjadi garang seketika.
"Ei-ei-ei.. Santai saja, hehehe.. Tapi percuma juga sih kau menyembunyikannya--" sosok itu menyengir.
"--Hai Taeyong! Senang bisa bertemu denganmu!" Jaehyun shock seketika.
'Bahaya! Ini bahaya! Bajingan itu sudah tahu Taeyong hyung!!' Jaehyun tidak harus berbuat apa hingga ia putuskan.
"Lari." Taeyong mengernyit.
"A-apa?"
"CEPAT LARI DARI SINI HYUNG!!!!" Taeyong pun menurut dan langsung lari.
"HAHAHA!! TIDAK SEGAMPANG ITU!" sosok itu tertawa, namun sedetik kemudian ia mengangkat tangan kanannya.
"Ah! HYUUNG!!" Jaehyun berlari kearah Taeyong yang diikuti dengan sosok itu yang melempar batu dengan bentuk yang kasar.
Jaehyun memeluk Taeyong dan--
/DUAAK!!/
"JAEHYUN!!" Jaehyun langsung ambruk, kepalanya berkunang-kunang dan pelipisnya mengalirkan cairan berwarna merah.
"Hyu-hyung.. Ce-cepat lari danhh.. Beritahu J-johnny hyunghh.." Taeyong menangis.
"Ti-tidak Jae!! Hiks!! Aku tak mau meninggalkanmu!!" Taeyong tersedu-sedu dan berusaha untuk membantu Jaehyun bangkit.
"Ce-cepat hyunghh-Akh!!" Jaehyun menggelinding dan meringis. "Jae-mmmpphh!!"
Sosok itu membekap mulut Taeyong dengan sapu tangan dan Jaehyun melihatnya. Sosok itu membuat Taeyong tak sadarkan diri dan mengangkutnya, membawa pergi.
"Hyu-hyunghh.." ucap Jaehyun lirih dan masih berusaha untuk bangkit, mengabaikan rasa sakitnya karena Taeyong lebih penting saat ini.
'Johnny hyung! Aku harus memberitahu Johnny hyung!' Jaehyun perlahan bangkit dan berlari kecil untuk mencari Johnny sembari memegang pelipisnya.
くコ:彡くコ:彡くコ:彡
maaf yg sebesar2ny krn up ny lama.. hikseu
