'Y-yah... hatiku sering menjadi aneh saat di samping Gio-nii, dan.. aku juga sempat cemburu saat ada orang yang dekat-dekat dengan Gio-nii...
Jadi... ini berarti, aku mencintai Gio-nii...?'
Tsuna langsung menggelengkan kepalanya keras, diangkatlah tangannya dan ditempelkan ke dadanya. Ah, rupanya degup hatinya kencang saat memikirkan tentang sosok kakaknya itu.
'Ta-Tapi, kita kan kakak-adik, mana mungkin boleh... ah, tapi... aku sudah beberapa kali berciuman dengannya...' Pemikiran Tsuna itu membuat dirinya tersipu malu dan berguling-guling di atas ranjangnya dengan semburat merah menghiasi mukanya.
'Aku... mencintai... Gio-nii...?'
.
Disclaimer; Amano Akira
.
Always Loving You
10th Choice
.
By; Miharu Midorikawa
.
"Cinta...?" Tsuna menggelengkan kepalanya cepat, dan menutup mukanya dengan tangannya. Tentu, bisa dibilang Tsuna itu sangat, sangat tak peka. Masa baru sekarang ia menyadari bahwa dirinya mencintai kakaknya sendiri – Giotto? Ini sudah keterlaluan, Tsu-chan.
Tsuna berguling ke samping sambil memeluk bantal kesayangannya, ia menghela nafas panjang setelah menyadari betapa tak peka dirinya, 'Gio-nii... Pasti berat untuknya... karena aku yang seperti ini...' Matanya sudah mulai terasa perih-perih dan benar saja, air matanya jatuh membasahi bantal putih yang dipeluknya.
'Maafkan aku, Gio-nii...'
...
"Tadaima." Telinga Tsuna menangkap suara dari arah pintu depan, tanpa diragukan lagi, Tsuna berpikir itu adalah kakaknya tercinta. Dan benar saja. Sesosok pria bule lengkap dengan mata biru laut muncul dari arah lorong dan mendekati sofa dimana Tsuna sedang terduduk. Dengan sebuah tepukkan lembut di bahunya, kedua mata karamel dan biru laut itu langsung bertemu.
"Gio-nii?"
"Tadaima, Tsuna." Ucapnya dengan senyuman.
"O-Okaeri." Balas Tsuna dengan semburat pink di kedua pipinya, Giotto hanya tersenyum lalu mengelus-ngelus kepala Tsuna sebelum akhirnya menaruh tasnya yang berat dan duduk si samping Tsuna sambil ikut-ikutan menonton acara anime di TV.
"Ngomong-ngomong, dimana kaa-san?"
"Sedang belanja."
"Hmm…" Pandangan Giotto kembali terpaku kepada layar kaca yang berada di depannya, senyuman kecil terpancar dari wajahnya yang tampan itu ketika ikut menikmati anime yang ditonton adiknya. Tsuna tanpa sadar mengalihkan pandangannya dari layar kaca dan menatap sosok kakaknya dengan sedikit semburat pink di wajahnya. Entah kenapa, sejak Tsuna mengetahui perasaan teradap kakaknya ini adalah rasa 'suka' yang jauh berbeda dari rasa 'suka' normal seorang adik terhadap kakaknya. Tentu, walaupun begini, Tsuna sadar bahwa ini adalah hal yang terlarang. Di mata masyarakat maupun sekitarnya pasti menganggap ini menjijikkan.
Tsuna tahu.
Tapi mau bagaimana lagi?
Rasa sukanya kepada kakaknya sendiri tak bisa ditahan.
"Tsuna? Ada apa?" Tanya Giotto yang menyadari bahwa dia sedang di tatap oleh adiknya, langsung melirik ke sebelah dan hatinya merasa berhenti sejenak. Giotto sekarang sedang berperang dengan monster didalamnya yang hendak langsung memakan Tsuna bulat-bulat. Mana dia tahan jika menemukan adiknya sedang menatapnya dengan jeli seperti dia itu adalah barang antik yang jarang ditemui dimana-mana dengan muka bengong dan mata berbinar-binar.
"Tsu-Tsuna? Ada apa?"
Tsuna ngicep.
Giotto senyum kaku.
"Gi-Gio-nii? E-Eh, etto... tak ada apa-apa kok..." Tsuna memalingkan wajahnya dari Giotto dan menutup wajahnya – berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah. Giotto yang awalnya diam sekarang sudah tertawa sambil sesekali menepuk-nepuk punggung Tsuna, tentu saja di adik yang heran hanya bisa diam dan menatap kakaknya aneh.
"Apa kau baru sadar bahwa kakakmu ini tampan, Tsuna?"
"Dasar narsis!"
Mereka berdua diam sejenak kemudian tertawa terbahak-bahak.
Sungguh, sudah lama Tsuna tidak melihat sosok Giotto yang tertawa lepas seperti ini. Tsuna bahkan sudah lupa terakhir kali kakaknya tertawa seperti ini... apakah... 'terakhir' kali itu adalah dimana sebelum Giotto tidak pulang terlalu malam , dimana Giotto pulang dengan senyuman di wajahnya – bukan dengan wajah yang kelalahan.
"Gio-nii..."
"Hm?"
"Apa ada yang bisa kubantu?"
"Eh...?"
Tsuna mendekati Giotto dan langsung memeluknya dengan erat. Giotto hanya diam dan membiarkan dirinya dipeluk seperti ini, Giotto bukannya tak sepenuhnya tidak tahu tentang apa yang Tsuna ucapkan kepadanya. Tentu ia tahu, ia tahu berapa besar rasa khawatir yang menyelimuti Tsuna dan Ibunya ketika melihat dirinya terlihat begitu letih. Dengan perlahan Giotto membalas pelukkan Tsuna dengan erat.
"Cukup seperti ini saja sudah sangat membantuku, jadi jangan khawatir."
Tsuna yang awalnya membenamkan mukanya ke dada bidang Giotto, perlahan mengangkat kepalanya dan seketika warna biru laut yang dia cintai itu tampak.
"Benarkah...? Hanya seperti ini saja?"
Giotto mengangguk.
"Ya, tak apa. Aku akan menjaga diriku baik-baik mulai sekarang." Bibir ranumnya pun ditempelkan ke dahi si adik tercinta. Tangannya yang hangat pun di kerahkan untuk mengusap-ngusap kepala si adik dengan maksud menenangkan dan meringankan beban yang dipikul oleh kedua pundak yang rapuh itu.
Tsuna yang awalnya hanya memeluk lama kelamaan isak tangis bisa terdengar dengan pelan, Giotto pun memicingkan matanya saat merasakan hatinya sesak saat melihat sosok Tsuna yang menangis. Bulir demi bulir air mata yang hangat membasahi kemeja putih Giotto, si kakak hanya bisa diam sambil memeluk Tsuna dengan erat.
'Aku tak boleh membuat Tsuna khawatir lebih dari ini,
Aku harus menyelesaikan semuanya.'
...
Dan beberapa hari kemudian,
Suatu kejadian terjadi.
Hari itu, Tsuna baru saja pulang dari sekolah bersama kedua sahabatnya – Gokudera dan Yamamoto. Hari yang normal seperti biasa, setelah kedua sahabatnya megantarnya sampai rumah kemudian berpamitan, Tsuna langsung disambut oleh Nana – ibunya yang sedang merajut sesuatu di sofa di depan TV. Setelah memberi salam kepada ibunya, Tsuna langsung pergi ke kamarnya yang terletak di lantai dua lalu tiduran di atas ranjangnya yang empuk.
Matanya memandang kosong kearah langit-langit putih tinggi yang berada di atasnya.
"Gio-nii..."
Entah kenapa Tsuna memanggil kakaknya itu.
Apakah ini karena rasa 'rindu' yang ada di dalam dirinya?
Entah.
Pikirannya sedang kacau sekarang. Karena itu Tsuna memutuskan untuk mengambil minuman dingin atau (jika ada) kue di dapur. Kakinya pun diayunkan ke samping ranjang dan berdiri dari situ. Ketika dia sampai di lantai bawah, dia meihat Nana sedang berjalan ke arah pintu depan sambil membawa tas.
"Tsu-kun, kaa-san pergi belanja dulu ya."
"Un."
Tsuna pun melanjutkan perjalanannya ke dapur seraya Nana berjalan ke arah pintu depan. Setelah sampai di dapur, Tsuna membuka kulkas dan mendapati sekaleng susu dingin, dengan agak kecewa karena tidak ada kue, dia pun akhirnya mengambil kaleng itu dan menutup pintu kulkas dengan pelan. Dengan susah payah, akhirnya kaleng itu terbuka. Baru saja ujung kaleng yang dingin itu menyentuh bibirnya,
"Ts-Tsu-kun!"
Tsuna terkejut bukan main dan langsung menyimpan kaleng itu di meja untuk segera lari ke arah suara ibunya yang terdengar dari arah pintu depan.
"Ada apa, kaa-san?!" Tanya Tsuna bercampur panik dan rasa takut.
"I-Itu," Jari ramping Nana menunjuk gemetaran ke arah langit, refleks Tsuna langsung menatap ke arah yang ibunya tunjuk.
Mata cokelat karamel itu membelalak terkejut.
Kepulan asap hitam menggembung tiada henti ke langit, menodai langit yang biru cerah itu dengan hitam kelam. Terdengar samar-samar sirine... banyak sirine mobil berbondong-bondong disekitar. Kebakaran. Tentu itu asal dari asap hitam itu. Tapi di mana? Sudah pasti itu memakan area yang luas dan besar. Degup hati Tsuna sempat terhenti beberapa saat di sana, Tsuna berharap dia tidak mengingat itu...
"Ka-Kaa-san...Bukan kah itu arah kampusnya Gio-nii...?"
...
Tsuna berharap untuk kesekian kalinya agar perkiraannya salah.
Tapi sepertinya Tuhan berpihak kepadanya untuk hal ini.
Setelah menaiki taksi bersama Nana dengan kecepatan maksimal, sumber kebaran itu pun semakin jelas terlihat. Tsuna tak kuasa menahan tangis saat melihat bangunan kampus Giotto sedang dilahap oleh sang jago merah. Tangannya gemetara, begitu pula kakinya, hampir saja dia jatuh dari taksi jika tidak ditahan oleh Nana. Tsuna melihat kekacauan yang berada di sekitarnya.
Jeritan dan tangisan dari orang-orang sekitar terdengar begitu jelas di telinganya.
Bercampur dengan suara gaduh para pemadam kebakaran yang sibuk memadamkan api disana-sini. Masih ada rasa tak percaya di lubuh hati Tsuna, sungguh tak koheren dengan otak yang memproses semua kejadian ini. Kenapa bisa gedung kampus yang ditempati oleh Giotto bisa terbakar seperti ini?
Kenapa dari semua bangunan harus tempat Giotto menimba ilmu?
Kenapa tidak yang lain saja?
Gedung kampus yang ditempati Giotto berada tak jauh dari gerbang utama, sehingga semua orang bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi. Entah Tuhan sedang memberikan cobaan apa kepadanya, tapi rasanya angin yang berhembus semakin kencang – membuat api cepat merambat ke daerah lain.
"Gi-Gio-nii..."
"Gio..." Nana pun tak kuasa menahan air mata yang tumpah membasahi pipinya. Tangan yang tadinya dengan erat memegang pundak anaknya, kini sudah lemas dan rasanya tak kuat untuk hanya sekedar memegang pundak anaknya itu.
"GIO-NII!"
Tsuna langsung berlari kesana-kemari untuk mencari sosok kakaknya yang kemungkinan saja sudah berada di luar area kampus. Sesekali dia mengusap matanya dengan lengan bajunya karena pandangan mulai kabur karena air mata yang dari tadi teru memenuhi matanya. Dengan panik, dia memalingkan padangannya kesana-kemari. Terus mencari sosok pria berambut pirang yang dicintainya itu.
Nafas Tsuna sudah mulai terengah-engah karena asupan oksigen di paru-parunya menipis.
Entah sudah berapa kali ia berlari mengelilingi area ini.
Kemudian langkahnya terhenti ketika rasa sesak mulai menyerang dadanya. Perih. Perih. Kerongkongannya perih. Air mata mulai menumpuk lagi di matanya ketika dia mulai batuk tak tertahankan. Rasa pusing mulai menyerang kepalanya, dan akhirnya dia pun jatuh ke tanah. Pandangannya mulai tak fokus, begitu pula dengan pendengarannya.
"TSU-KUUN!"
Suara ibunya lah yang terakhir dia dingan di antara suara gaduh yang lain.
"Gio-nii..."
Dan semuanya pun berubah gelap gulita.
To Be Next Choice
A/N;
Serius ratingnya ingin di taikkan menjadi 'M'?
Soalnya saya hanya mendapatkan 1-2 respon terhadap ini, jadi masih kurang yakin – hei, tak semua orang suka rating M, kau tahu? Maka dari itu, saya mohon pendapat kalian tentang ini, bilang saja kepada saya lewat review atau PM. Terserah. Mau lewat FB pun boleh.
Dan... Yak! Things get a little more serious.
Persiapkan dengan angst dan kenyataan Giotto meninggal di chapter selanjutnya.
Te-he.
#WARNING! Saya ini seorang sadistic.
