(-^Masashi Kishimoto©Naruto^-)
Rate: M, T, K+, K. author menggunakan semua jenis rate, jadi jangan heran
Warning: BL, YAOI, TYPO(s), EYD, OC, OOC, Adegan kasar, dan beberapa kata-kata yang kasar,
Pair Sasuke Uchiha X Naruto Uzumaki
(-^Author by : Thy Uchiuzu^-)
Don't like Don't read
JAIL
Rantai belenggu pengikat kehidupan, mengikatku pada sebuah takdir tak terlihat. Ini lah awal dari kehidupanku. Sebuah perasaan, yang merumit, yang tak aku tahu kapan bermula, dan kapan berakhirnya. Tak perduli, berapa tahun aku hidup, dan berapa kali aku dihidupkan. Ada rasa gelisah yang menghantuiku. Dan saat itu, aku baru menyadari, kalau takdir yang mengikatku itu adalah CINTA.
'Mikoto, haha…, lucu juga, jadi begini ya, hmmm, kelihatanya bakal ada pengengganti Fugaku dan Mikoto sebentar lagi. Wah-wah. Aku jadi penasaran dengan kelanjutan cerita keluarga ini. Yoo, Mikoto, gadis pink ini kelihatannya sama sepertimu.'
Kakashi tersenyum dibalik masker hitamnya, dia terus memandangi Itachi dan Sakura dengan pandangan penuh tanda Tanya.
Memory of Kakashi
"Menyebalkan, kemana laki-laki itu?"
Terlihat seorang pemuda berambut terkuncir kebelakang, dengan kulit Tan sedikit gelap dan sebuah goresan di hidungnya , laki-laki itu terlihat mendecak kesal sambil sesekali menendang kerikil yang ada dihadapannya.
"Kakashi menyebalkan, akan aku bunuh dia kalau datang nanti."
"Ingin membunuhku? Apa benar?"
Laki-laki berambut perak dengan seringai mengerikan, memeluk laki-laki yang dari tadi mengeram kesal karenanya dari belakang.
"Hei lepaskan, banyak orang Kakashi."
Laki-laki itu berusaha melepaskan pelukan Kakashi dari tubuhnya, dia merasa risih melihat tatapan sinis dari beberapa pejalan kaki yang sedang menatapnya. Tunggu dulu, pejalan kaki? Kalian pasti bertanya, ya mereka sekarang sedang berada di pusat pertokoan Konohagakure. Kakashi melepas pelukannya dari laki-laki itu. lalu memutar Laki-laki itu supaya berhadapan dengannya.
"Maaf Iruka, aku tadi ada sedikit urusan."
Kakashi tersenyum sambil mengarukki tengkuknya, laki-laki bernama Iruka itu hanya merengut.
"Huh, urusan. Kau itu memang sering telat tahu."
"Iya… iya, aku salah. Oke, kita mau kemana sekarang?"
"Temanin aku membeli sesuatu untuk adikku."
"Adik?"
Kakashi menatap Iruka dengan tatapan bingung. Iruka menghela napas panjang, lalu menyeret Kakashi ikut bersamanya.
"Iya, adik, aku mau membelikan sebuah mainan untuk adikku."
"Kau punya adik? Masih kecil?"
Iruka tertawa lebar, sambil memegangi perutnya yang terasa sakit, Kakashi hanya menatapnya tanpa bicara.
"Uchiha bodoh, adikku sudah besar, malah sudah menikah, aku mau membelikan sesuatu untuk keponakanku, hmm, umurnya kira-kira 13 tahun."
PLETAK
"Kau yang bodoh Iruka, mana ada anak umur 13 tahun masih mau dibelikan mainan, kalau mau membelikan keponakanmu sesuatu, belikan dia baju atau sesuatu yang lebih dewasa, keponakanmu itukan berumur 13 tahun."
"Eh? benar juga. Baiklah, kalau begitu bantu aku memilih 'kannya ya?"
"Hn."
(-^Thy^-)
"Ngh… terus Kakashi, ah, aku keluar…"
"Aku juga…"
Kakashi memeluk laki-laki dibawahnya dengan lembut, lalu meciumnya dengan kasih sayang. Dia menatap laki-laki itu, lalu tersenyum.
"Menginap lagi disini?"
"Hn."
Sepasang kekasih itu terlihat saling berpelukan. Mereka baru saja selesai bercinta malam ini. Yah, Kakashi adalah kekasih dari Iruka, tak jarang Kakashi menginap di apartemen Iruka karena dia tak mau melepaskan kekasihnya itu walau Cuma sebentar.
"Hei, apa ayahmu tak marah kalau kau sering kemari. Aku tak mau beurusan dengan keluarga Uchiha loh, kalau ayahmu tahu kita berhubungan, aku bisa mati muda."
Kakashi tersenyum mendengar pernyataan dari Iruka, dia mendudukan dirinya di ranjang apartemen Iruka, lalu menyender pada ranjang itu, sedangkan Iruka duduk dihadapan Kakashi, sambil tangan Kakashi memeluknya dari belakang, tubuh mereka hanya ditutupi oleh selimut putih sebatas perut mereka.
"Dia sudah tahu, tadi siang aku harus bertengkar dulu dengannya, makanya aku terlambat."
Iruka mendongak menatap kekasihnya itu, dia melihat tatapan kosong dimata Kakashi.
"Dia marah? Apa tak apa? Terus kakakmu juga tahu tentang hubungan kita?"
"Iya, Niichan juga sudah tahu, ayahku mengamuk, sedangkan Niichan hanya diam saja."
Iruka memeluk tubuh Kakashi yang lebih besar dari tubuhnya itu.
"Kenapa kau mau berkorban besar untukku sih, kalau kau keras kepala, ayahmu bisa saja mengusirmu dari keluarga Uchiha 'kan."
Kakashi mengeratkan pelukannya pada Iruka, menyalurkan kasih sayangnya pada pemuda itu lewat pelukan.
"Karena kau lebih berharga dari pada Uchiha."
Iruka menatap Kakashi, mata hitam Kakashi bertemu dengan mata Iruka. "Ada yang salah?" Tanya Kakashi bingung.
"Aku ini bukan apa-apa. Hanya orang biasa, bukan orang terpandang dan kaya seperti keluargamu, lagi pula aku ini laki-laki, kenapa kau malah memilihku?"
"Karena aku mencintaimu, apa kau tak suka?"
"Bu-bukan, hanya saja aku merasa aneh."
"Apa adikmu tahu hubungan kita?"
Iruka hanya menggeleng, lalu matanya kembali menatap mata Kakashi.
"Hmm, begitu. Kau tak berani memberitahukannya ya?"
"Bukan, aku hanya, ngh, sudahlah, suatu saat nanti aku akan memperkenalkanmu pada adikku."
Kakashi tersenyum lembut, lalu mencium bibir Iruka sekilas.
"Ayo tidur, bukankah kau akan kerja besok."
"Iya."
Kakashi meyelimuti tubuh mereka berdua. Tangan Iruka melingkar erat di pinggan kakashi, begitu pula Kakashi.
(-^Thy^-)
"Otouto, cobalah bicara baik-baik dengan ayah, aku sedikit tak suka dengan sifat kalian yang saling mengacuhkan itu." Kakashi melihat kakak laki-lakinya itu sebentar, lalu membuang mukanya kembali.
"Oniichan, itu kesalahnya, bukan aku, kau juga tahu kan, Kaasan meninggal karena sifat angkuhnya, aku benci dia."
"Hei cobalah mengerti sifat ayah kita, Kaasan meninggal karena serangan jantung, bukan karena Tousan."
"AH~ aku malas mendengar penjelasan bodoh itu, sudah jelas-jelas kau juga tahu, Kaasan meninggal karena dia, kau masih membelanya."
Mata onyx pria berambut silver itu menatap kosong kedepan, Uchiha Kakashi, anak bungsu dari dua Uchiha, sedangkan laki-laki disebelahnya adalah Uchiha Fugaku, anak sulung dari keluarga Uchiha, mereka adalah Uchiha bersaudara, dua penerus terkenal dari keluarga Uchiha, Kakashi tak begitu terkenal dari pada Kakaknya, karna Kakashi bukan laki-laki yang suka bicara didepan kamera atau berbisnis seperti kakaknya, bisa dibilang Kakashi tak begitu mempunya hasrat untuk terkenal.
"Kakashi, kau itu penerus Uchiha, cobalah bersikap selayaknya Uchiha."
"Aku benci Uchiha." Ucap Kakashi ketus. Sang kakak hanya menghela Napas
"Tapi takdirmu adalah Uchiha."
"Terserah, aku tak perduli dengan Uchiha, aku heran, kenapa kau begitu suka dengan keluarga ini."
Fugaku tersenyum memandang adikknya itu, lalu mengelus rambut silver Kakashi.
"Karena Uchiha tenggung jawabku."
Kakashi menatap kakanya itu, senyum mengembang di wajah Fugaku, membuat si bungsu merona.
"Begitu, oh iya, bagai mana kabar kak Mikoto?" Fugaku menarik tangannya dari kepala sang adik, lalu duduk di sebuh sofa yang tak jauh dari tempat mereka.
"Baik,"
"Keponakanku?"
"Itachi dan Sasuke baik, lain kali berkunjunglah ke Oto, kau tak pernah kerumahku, bahkan sampai anak-anakku sudah besar, aku akan memperkenalkan kau pada mereka, mereka pasti senang mempunyai seorang paman sepertimu."
Kakashi tersenyum riang, lalu dia duduk disamping sang Kakak, sambil menyerut kopi yang sudah dibuatkan oleh pelayan dari tadi.
"Berapa umur mereka sekarang?"
"Itachi 17 tahun dan Sasuke 12 tahun,"
"Wah… wah… sudah berapa lama aku tak main kerumahmu ya? Terakhir aku kesana umur itachi 3 tahun kan, dan Sasuke belum ada. Pasti Itachi sudah tak ingat lagi pada ku."
"Hahaha… kenapa baru sadar, mereka sekarang malah sudah bersekolah, dan Itachi hampir tamat."
"Hei… hei… jangan salahkan aku donk, iya aku mengaku, aku memang bukan paman yang baik."
Mereka terdiam lalu tak lama kemudian terdengar gelak tawa dari mulut Uchiha bersaudara itu.
"Iruka? Benar itu namanya?" Itachi memalingkan kepalanya kearah Fugaku,
"Iya. Kenapa?"
"Kau suka dia? Kenapa tak coba bawa dia ke Tousan?"
"Menyuruh dia mati di tangan orang itu? terima kasih, aku tak mau."
"Hei, aku saja berani membawa Mikoto kepadanya."
"Kau dan aku itu beda, Mikoto perempuan terhormat dan kau menyukainnya, kau juga anak kesayangnnya, kalau aku, orang yang aku cintai itu laki-laki, dari kelurga biasa, bertemu dengannya saja sudah repot."
"Begitu ya? Lain kali, kenalkan dia padaku."
"Untuk apa?"
"Hanya mau berkenalan,"
"Baiklah, Niichan, aku pulang ke mension dulu, kirim salam pada Mikoto-neechan, Sasuke dan Itachi ya."
Kakashi berjalan keluar dari gedung itu.
"Dasar, kalau bukan adikku, sudah aku lempar dia ke jurang." Canda Fugaku pada dirinya sendiri.
(-^Thy^-)
"Aku rasa lebih baik kau menjauh darinya, kau dan dia itu berbeda, kau itu Uchiha, tolong mengerti, setelah kakakmu, kau lah yang akan menjadi pewaris Uchiha selajutnya."
Kakashi menatap laki-laki berumur didepannya sekarang dengan perasaan menyebalkan. Ingin sekali dia pergi dari tempat itu, tapi kalau dia melakukannya, bisa-bisa orang yang berstatus sebagai ayahnnya itu akan marah.
"Tapi Otousan, aku menyukainnya."
"Kau hanya kasihan padanya, Uchiha perlu keturunan, bukan perasaan. Kita dididik menjadi seorang pengusaha Uchiha,kita tak butuh kasih sayang. Uchiha hanya butuh penerus, akan aku carikan kau perempuan lain, kau setujuh?"
Laki-laki tua itu tersenyum. Kakashi mengutuk dirinya yang mempunyai seorang ayah seperti orang didepannya ini. Uchiha Mandara, laki-laki tua, dengan mata Hitam khas Uchiha dan rambut hitam, serta wajah yang terlihat masih lumayan muda, walaupun umurnya sudah mencapai 80 tahun.
"Tidak, terima kasih." Tolak Kakashi lembut
"Besok dia akan kemari, namanya Rin. Dia anak yang baik, keluarganya pun juga ka-"
"Aku tak mau, aku hanya mencintai Iruka?"
"Cinta? Apa dia bisa memberimu keturunan?"
"Brengsek, hentikan perkataanmu itu, aku tak perduli kau ayahku atau bukan, tapi aku mohon, hargai Iruka sebagai kekasihku."
Laki-laki tua itu mengepal tangannya.
PLAK
"Kau tak bisa menolak, kau akan tetap menikah dengan Rin."
Mandara berdiri lalu berjalan pergi meninggalkan Kakashi yang masih memegang pipinya yang terasa panas, satu tamparan dengan sekuat tenaga mengenai pipinya, dan itu dilakukan oleh ayahnya sendiri.
-BESOKNYA-
"Hei, kau tak pulang? Nanti kau dicari dengan ayahmu?"
Iruka menggoncang-goncangkan tubuh Kakashi yang masih asik dengan alam mimpinya. Setelah bertengkar dengan sang ayah, Kakashi pergi dari rumah, lalu menginap di apartemen Iruka.
"Tidak."
Ujar Kakashi malas-malasan,dia kembali menarik selimut yang dibuka paksa oleh Iruka dari tubuhnya.
"Kakashi, kau ini kenapa sih? Ayo bangun, dasar malas, cepatlah, aku akan buatkan sarapan untukmu, aku tunggu di dapur."
Iruka berjalan meninggalkan Kakashi, tapi tangan laki-laki berambut silver itu menggenggam pergelangan tangan Iruka kuat, karena Iruka yang kaget, langsung saja tubuh yang tanpa pertahannan itu menimpa tubuh kakashi yang masih tertidur di ranjang Iruka.
"Ittaii, Hei, kenapa sih?" Iruka memaki Kakashi dengan kesal.
"Jangan pergi, aku masih ingin kau disini." Ucap Kakashi, sambil memeluk pinggangnya dari belakang dan menciumi leher lruka lembut
"Heh?"
"Iruka, aku mencintamu."
"Kau ini kenapa?" Tanya Iruka bingung, tak seperti biasanya, Uchiha yang sekarang memeluknya itu bertingkah seperti anak manja.
"Apa kau mencintaiku?"
Sedikit rona merah menghiasi pipi laki-laki berambut diikat jabrik itu. dia berusaha mati-matian menahan detak jantungnya.
"Apa aku harus menjawabnya? Kau kan sudah tahu jawabannya."
"Aku ingin mendengar langsung dari mu."
"Kau sudah sering mendengarkannya kan?"
"Sekarang!" perintah Kakashi, dengan sebuah helaan napas, Iruka memantapkannya dirinya
"Kakashi, aku mencintaimu."
Bibir Kakashi menyunggung sedikit senyuman, dia dapat merasakan tubuh Iruka sedikit gemetar saat menyatakan pernyataan itu."Dan, berjanjilah jangan tinggalkan aku." Kali ini bukan hanya senyuman, tapi seringaiaan muncul di wajah Kakashi
"Aku janji."jawab Kakashi singkat.
Laki-laki itu mencium bibir Iruka lembut, tapi lama-kelamaan memanas, di miringkannya kepalanya sedikit agar dapat membuat ciuman mereka lebih dalam, Kakashi menjilati bibir bawah Iruka, Iruka mengerti apa yang diinginkan Kakashi, dibukanya mulutnya berlahan, lidah Kakashi melesat masuk, menelusuri rongga mulut Iruka, saat lidahnya bermain di dalam mulut Iruka, dia merasakan sebuah dorongan dilidahnya,' lidah Iruka' Kakashi menyeringai, Iruka mengajaknya bertarung saat ini, di tekannya lidah itu, membelit dan saling mendorong, sampai Uchiha Bungsu itu yang menang.
"Ngh…"
Desahan Iruka keluar, saat dia merasakan tangan Kakashi masuk menyelusup kearah kemeja longgarnya, lalu terus naik meraba setiap apa yang dilaluinya. Tangan Kakashi satunya, sibuk membuka kancing kemeja Iruka dengan sedikit terburu-buru. Iruka mendongak keatas saat dia merasakan Kakashi memelintir tonjolan sensitive dari dadanya itu.
"Kakashi…, cukup."
Tolak Iruka, tapi Kakashi belum puas, setelah kemeja Iruka terbuka semua, dia menjilati seluruh tubuh tan itu denga semangat, terus naik dan Kakashi kembali mencium bibir Iruka. Lidahnya menjalar kebawah terus turun sampai di pertemuan leher laki-laki itu, lalu Kakashi menghisab, mengigit dan menjilat leher tan itu, hingga puas. Lidahnya terus menjilati tubuh Iruka, sampai tubuh coklat itu terlihat jejak air liur Kakashi.
"Kakashi, sudahlah, aku mau berkerja."
Iruka mendorong tubuh Kakashi, tapi laki-laki itu tak menghiraukan. Dia malah bekerja dengan kemejanya sendiri, membukanya dan melemparnya kesembarang arah. Pipi Iruka merona, ketika dia melihat tubuh putih kekar Kakashi terpampang indah di hadapnnya.
"Kenapa? Ada yang salah dari tubuhku, Koibito?"
Iruka membuang wajahnya, menyembunyikan wajah memerahanya tanpa menjawab pertanyaan Kakashi.
"Akh… jangan, aku sudah mandi." Iruka menggeliak, saat dia merasakan tangan Kakashi mulai turun meremas penisnya dari balik celana dasar yang dia gunakan.
"Kau juga sudah penuh dengan liurku, kenapa harus berhenti, ini perkerjaan yang tanggung Iruka."
Ujar Kakashi cuek. Dia kembali meremas barang Iruka yang terasa sudah mengeras digenggamannya itu.
"Tap-akh, hentikan, ngh…Ka-kashi." Kakashi tak mengindahkan permintaan kekasihnya itu, dia malah semakin bersemangat, dibukanya celana dasar Iruka dan celana dalam Iruka, sehingga tubuh Iruka sekarang benar-benar polos di bawah tubuhnya. Dia juga berusaha membuka pakaiaannya sendiri, membuka celana katunnya dan membuka dalamannya juga. Sehingga mereka berdua sekarang benar-benar polos.
"Iruka… ngh… "
Desah Kakashi, saat dia mencoba menggesekkan kemaluannya dengan penis Iruka. Iruka merasa sengatan didasar perutnya, dia merasa sangat nikmat dibagian itu.
"Jangan meng…nhg…ah~ godaku, ayo cepat lakukan. Ah~"
Kakashi menatap wajah Iruka, matanya Iruka sudah benar-benar terlihat pasra dan terlihat bergejolak penuh napsu.
"Baiklah. Tapi kau tahan ya."
Tanpa ada pemanasan terlebih dahulu, Kakashi mengerakkan barangnnya tepat dilubang lruka. Di dorongnya berlahan,
"Akh… baka, kenapa kau melakukannya langsung. Sakit."
Teriak Iruka, Kakashi hanya tersenyum, dia mengelus rambut itu dengan kasih sayang. Bibirnya kembali menempel pada bibir Iruka. Dengan sedikit kasar dihentakkannya dengan keras kejantannya kedalam tubuh Iruka.
"Akh… ngh…"
Jerit Iruka tertahan oleh ciuman Kakashi. Iruka mencakar punggung Kakashi dengan kuat, hingga punggung itu berdarah. Kakashi menyudahi ciumannya, ditatapnya lekat-lekat orang yang sangat dia cintai itu.
"Lakukan."
Tanpa basa-basi lagi. Kakashi mulai menarik kejantanannya hingga hanya kepalanya saja yang tersisa. Lalu dihentaknnya ke dalam lubang Iruka. Membuat Iruka mendesah dan merancau tak karuan. Tarik-dorong-tarik-dorong (author di tendang), tubuh Iruka terlihat menegang. Dia mengcengkram lengan Kakashi kuat.
"Kakashi, aku keluarrr…." Iruka mengeluarkan benihnya di perut Kakashi. Kakashi merasa dinding-dinding lubang Iruka menghimpit barangnya, membuat dia merasa tak tahan lagi untuk mencapai klimaks
"Iruka, aku jugaaa…."
Kakashi memuntahkan spermanya di dalam lubang Iruka. Kakashi terjatuh menghimpit tubuh mungil Iruka.
"Gara-gara kau aku harus mandi lagi." Ujar Iruka kesal.
"Ronde kedua." Senyum mesum terlintas di wajah Kakashi.
(-^Thy^-)
"Kakashi, kenalkan, ini Rin."
Kakashi menatap perempuan cantik didepannya itu, perempuan berambut panjang yang terlihat tersenyum lembut kearahnnya.
"Kakashi."
Ujar Kakashi cuek. Fugaku yang berada disampinya hanya melempar tatapan sebal pada anak itu.
"Rin, ini calon suamimu."
"Suami? Maaf ya, aku sudah punya pacar." Ujar kakashi enteng. Perempuan berambut panjang itu menatap Kakashi. Mandara yang sedari tadi paling sibuk sendiri memperkenalkan anaknya dengan perempuan itu, memelototin Kakashi.
"Kenapa? Ada yang salah? Aku hanya berkata sesuai kebenaran."
Rin menatap Mandara, meminta penjelasan pada orang tua itu. saat ini Rin hanya pergi sendiri, tanpa ditemani oleh Kakak laki-lakinya, Obito.
"Dia bercanda." Mandara menenangkan Rin.
"Aku serius. Aku mencintainnya, kau tahu, aku tak tertarik pada perempuan, karena aku ini gay." Ucap kakashi tanpa rem sedikitpun. Fugaku menepuk keningnnya, menyesali kebodohan sang adik. Sang ayah hanya kembali mengeram. Sedangkan Rin, terpaku sambil matanya terlihat berbinar-binar.
"Jaga bicaramu Kakashi." Mandara membentak Kakashi, tapi Kakashi hanya terlihat santai.
"Aku permisi, kelihatannya aku dipermalukan dikelurga ini." Ucap Rin, sambil berlalu dari ketiga Uchiha didepannya sekarang. Fugaku duduk dengan lemas di sofa ruang keluarganya. Mandara memandang Kakashi dengan tatapan menyebalkan, Kakashi masih cuek.
PLAK
Mata Fugaku membelalak, ketika dia melihat adiknya ditampar oleh sang ayah. Sang ayah menggeram kesal sekali. Ditunjuknnya tangannya tepat dihidung Kakashi.
"Kau mencintainya 'kan? Aku beritahu padamu, akan aku bunuh pemuda itu sekarang." Ujar sang ayah. Lalu pergi meninggalkan Kakashi dan Fugaku.
"Hei, apa yang kau lalukan Otouto? Kau tahu ancaman itu 'kan?" kakashi menunduk, lalu melihat sang kakak lama.
"Pergi cepat, Iruka dalam bahaya." Perintah Fugaku. Kakashi baru sadar dengan apa yang akan terjadi pada Iruka. Uchiha tak akan melepaskan buruannya sampai buruannya benar-benar menghilang dari hadapannya.
Kakashi memacu Sedang Hitamnya, menembuas jalan raya, sedan itu berhenti tepat di sebuah apartemen yang sederhana. Dimasukinya apartemen itu. Kakashi memang dapat masuk dengan mudah ke dalamnya, mengingat kunci serep apartemen itu ada padanya. Bisa dibilang apartemen itu adalah tempat tinggal ternyaman didunia untuknya.
Dimasukinya seluruh ruangan di apartemen itu dengan cepat. Dia tak menemukan orang yang dicarinya
"Pasti Iruka masih di tempat kerjanya."
Kakashi mengambil ponsel silvernya, lalu menekan beberapa nomor disana. Ditunggunya beberapa saat.
"Mini market Konoha disini."
"Aku,Uchiha Kakashi, apa Iruka sudah pulang."
"Tuan muda? Ano, kelihatannya Iruka sudah pulang dari tadi." Jawab pemilik minimarket dengan gugup. Yah, Iruka berkerja di Minimarket ini. Itu berkat Kakashi yang mencarikannya pekerjaan. Sebenarnya Iruka akan Kakashi tempatkan di sebuah kantor ternama di Konoha, tapi laki-laki itu menolak, dia bilang dari kecil dulu, baru menjadi besar. Mau tak mau, Kakashi mengikuti kemauan Iruka yang ingin bekerja di Mini market saja.
"Sudah pulang? Sudah berapa lama?"
"Dua jam yang lalu."
Tubuh Kakashi menegang. Dia tak mau terjadi apa-apa pada orang yang dicintainya itu. dia tahu sikap sang ayah, apa pun yang dia katakan pasti akan terjadi bagai manapun caranya.
Kakashi segera memutuskan panggilannya secara sepihak. Lalu kembali mengulang menyelusuri seluruh ruangan aparteme itu. sampai laki-laki itu menemuka sebuah amplop putih. Dibukanya berlahan amplop itu.
'KAU MENCARINYA? PERCUMA, DIA SUDAH PERGI KENERAKA'
Kakashi meremas surat itu. lalu kembali menyalakan mesin mobilnya, menuju mension Uchiha.
(-^Thy^-)
"TOUSAN…. TOUSAN…, DIMANA IRUKA?"
Jerit Kakashi menggelegar di seluruh mension Uchiha itu. dia menunggu seorang laki-laki tua yang turun denga sedikit tertati dari tangga.
"Haha…, dia sudah mati." Ucap laki-laki tua itu santai.
"Jangan bercanda Tousan. Aku mencintainnya."
"Apa aku terlihat bercanda? Itu konsekuensimu."
Kakashi mengepal keras. Dia menahan air matanya. Dia tak mau memperlihatkan kelemahannya pada sang ayah.
"Apa yang ayah lakukan pada Iruka?" Kakashi menoleh kebelakang. Melihat sang kakak yang membelanya.
"Aku membunuhnya."
"Brengsek, laki-laki tua brengsek. Aku keluar dari keluarga ini." Kakashi berlalu meninggalkan Mension Uchiha. Fugaku menatap adik semata wajangnya itu. dilihatnya sang ayah yang juga terlihat sedih, dia tahu ayahnya menyayangi Kakashi, tapi dia tak tahu kenapa sang ayah berlaku kejam pada adiknya.
"Fugaku, apa aku salah mendidiknya?" Mandara berseru pelan, wajahnya menunduk ke bawah, tak berani menatap sang anak sulung.
"Tousan tak salah, hanya saja Tousan tak mengerti Kakashi. Dia mencintai Iruka, jadi wajar kalau dia marah kalau Tousan menyakiti orang yang dia cintai."
"Pemuda itu masih hidup."
Mata Fugaku membulat.
"Apa?"
"Iruka masih hidup. Aku hanya membuangnya ketempat lain. Aku hanya ingin mereka berpisah. Aku tak mungkin membiarakan keturunan Uchiha menikah dengan seorang laki-laki juga."
"Dimana Tousan membuangnya."
"Aku tak akan memberi tahumu, aku tahu kau menyayangi adikkmu itu, aku minta, dan aku percaya padamu, tolong jangan beri tahu Kakashi tentang ini. Sampaikan pada anak itu, kalau aku menyayanginya." Mandara berjalan menaiki tangga dengan tertatih. Tubuhnya merasa sedikit gemetar. Saat akan menaiki anak tangga, kakinya terpeleset dan mandara terguling sampai di lantar dasar. Darah mengalir dari kepala belakang dan bibirnya. Fugaku langsung berlari diikuti bodyguar, dan pelayang dirumah besar itu.
"Aku mohon, maafkan aku Kakashi." Ucap mandara sangat pelan, sampai dia tidak merasakan apa-apa lagi.
Sudah 6 bulan lebih semenjak pemakaman Mandara. Kakashi hanya memandang kearah batu nisan didepannya itu. dia menunduk dalam dan hanya terdiam saja.
"Sebelum dia pergi, dia bilang dia menyayangimu." Kakashi menatap kakaknya yang menepuk pundaknnya lembut. Dilihatnya sang kakak yang tersenyum kearahnya.
"Hn." Hanya itu yang keluar dari bibir Kakashi, setelah kekasihnya, sekarang ayahnya. Kelihatannya tuhan menghukumku. Batin kakashi.
"Tinggalah bersamaku di Oto. " Onyx itu beradu. Kakashi tersenyum memaksa saat dia menatap kakanya itu yang tersenyum
"Baiklah."
(-^Thy^-)
"Nyonya Mikoto, tuan Fugaku sudah kembali." Perempuan yang berumur 30 tahun lebih itu berlari menuruni tangga. Saat dia mendengar kalau suaminya sudah pulang, dia menuruni tangga terburu-buru. 2 minggu yang lalu, Fugaku pamit padanya, dia bilang akan pergi berziara kemakam sang ayah. Mikoto mengiyahkan. Dan baru hari ini Fugaku pulang.
"Baru pulang, kenapa tidak kemarin, Sasuke rewel terus tuh menanyakan ayahnya. Eh? Kakashi?"
Mikoto terkejut, saat matanya menangkap sosok adik iparnya itu disebelah sang suami.
"Hai kak."
Sapa Kakashi lembut. Mikoto tersenyum ramah.
"Wah, lama tak jumpa. Kau semakin tampan, hmm bagai mana kabarmu?"
"Lumayan."
Jawab Kakashi singkat
"KAASAN~, TOUSAN~."
Terlihat dua anak laki-laki yang berlari sambil menenteng tas di pundaknya, yang satu seorang remaja tanggung dan yang satunya lagi seorang anak laki-laki, mereka berdua hampir memiliki perawakan yang sama, kalau tidak karena rambut, tinggi badan dan bekas luka di samping masing-masing hidung sang kakak, mungkin akan susah membedakan mereka.
"Taousan, kenapa baru pulang." Ujar sang kakak manja.
"Niichan, kenapa bertanya begitu, Tousan masih capek." Sang adik melotot sambil menarik-narik seragam sekolah Kakak.
"Haha…, Gomenasai ne, Sasuke-chan, Tousan." Sang kakak tertawa lepas.
"Heh? Tousan, siapa dia?" Sang adik yang bernama Sasuke menatap seorang laki-laki asing yang ada di samping sang ayah.
"Dia, pa-"
"Aku pelayan pribadi Fugaku-sama, anda pasti tuan Sasuke ya?"
Ujar orang asing yang bernama Kakashi itu, tangan Kakashi bergerak mengelus rambut hitam lembut Sasuke.
"Paman? Kau bawahan baru Tousan?" Sekarang sang kakak Uchiha Itachi yang bertanya.
"Iya."
Fugaku dan Mikoto tercengah. "Ano, Kakashi apa yang-?" pertanyaan Mikoto terputus saat melihat Kakashi menaruh jari telunjuknya didepan bibirnya, bertanda agar sang kakak ipar diam. Mikoto menunduk, Fugaku terlihat tak mengerti.
"Sasuke-sama, Itachi-sama, perkenalkan, nama saya Hattake Kakashi." Kakashi membukuk hormat, Fugaku tambah tak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh sang adik.
"Salam kenal, Paman Kakashi, aku Sasuke." Sasuke membalas ramah laki-laki itu, terlihat senyum mengembang dari sang bungsu.
"Hai paman, aku Itachi, salam kenal." Itachi menyapa dengan santai.
"Sasuke, Itachi. Tukar seragam kalian dulu, setelah itu makan siang." Mikoto menyeret dua putranya ke kamar masing-masing. Fugaku menatap sang adik yang tersenyum melihat tingkah kedua putranya itu.
"Ehem, bisa kau jelaskan maksudmu?"
"Tentang?"
"Hattake? Pelayanku?"
"Anggap saja aku pelayanmu, Fugaku-sama."
BUAK
Pukulan keras melayang ke wajah Kakashi, Fugaku terengah-engah menahan emosinya, Kakashi hanya tersenyum sambil meludahi darah yang mengalir di mulutnya dan masuk kedalamnya.
"Ingat Kakashi, kau itu Uchiha. Dan kau itu adikku satu-satunya, kenapa kau mengubah nama klan mu, dan takdirmu?"
"Oniichan, bisahkah kau membiarkan aku bersenang-senang? Aku hanya tak ingin lagi terkait dengan Uchiha, walaupun pada akhirnya aku tinggal di rumah kakakku yang notabetnya Uchiha, aku tahu, aku tak bisa membuang nama Uchiha seenaknnya, tapi tolong berikan aku kebebasan untuk mundur dari kelurga ini."
"Kakashi," Kakashi menoleh kearah suara yang memanggilnya, dilihatnya seorang perempuan berparas lembut dan cantik sedang menatanya dengan tatapan sedih "Kau- tapi tak seharusnya kau menyembunyikan identitasmu pada keponakanmu sendiri kan? Aku-aku hanya tak mau, anakku nanti tak mengenal pamannya sendiri." Mata hitam Kakashi melebar, dia tahu kalau kakak iparnya ini terlihat sedih.
"Neechan, kau sudah aku anggap kakak perempuanku sendiri, aku berjanji, aku pasti akan menjaga putra kalian, sebagai seorang Kakashi Hattake, bukan Kakashi Uchiha." Kakashi tersenyum lembut, tapi sang kakak ipar tetap terlihat sedih.
"Terserah kau saja." Ujar perempuan itu, lalu berjalan lurus tanpa melihat Kakashi.
"Gomenasai, Mikoto-neechan."
Semenjak itu, Kakashi menjadi orang kepercayaan fugaku, dia selalu ada dimanapun Fugaku ada, walau perasaan Fugaku sangat sakit ketika sang adik memanggilnya 'Fugaku-sama' tapi dia berusaha menahannya.
"Kakashi-san, Tousan mana?" Tanya Sasuke yang terlihat sedang berlari-lari sambil menenteng tas ranselnya.
"Fugaku-sama dan Mikoto-sama ada urusan, tuan muda ganti bajulah, lalu makan siang." Ujar Kakashi sambil mengelus rambut Sasuke
"Hup~ kenapa tak mengajakku, eh? Kakashi-san juga tak ikut? Biasanya Kakashi-san ikut."
"Fugaku-sama menyuruh saya menemani Anda dan Itachi-sama, karena kelihatannya mereka tak akan pulang dan menginap disana."
"Fyu~ baiklah, aku kekamar dulu Kakashi-san." Sasuke melambai,
(-^Thy^-)
"Niichan, Niichan…, bangunlah, Oniichan." Teriak Kakashi saat berlari disebuah koridor rumah sakit, matanya tak lepas menatap wajah sang kakak terbaring di atas tempat tidur berwarna putih, dan beberapa suster mendorong tempat itu dengan terlihat tergesa-gesa
"Kakashi, aku minta maaf."
Kakashi terus menetesakan air matanya, menahan perasaan campur aduk dihatinya. Sekarang Kakashi sedang berada di rumah sakit Otogakure, saat berada dirumah sang kakak, Kakashi mendapat telpon dari polisi setempat, kalau mobil yang di gunakan keluarga Uchiha terguling kedalam jurang, 1 jam lebih mobil itu baru dapat diefakuasi, kakak iparnya meninggal di tempat sedangkan Fugaku masih bertahan dengan kondisi mengenaskan,
"Oniisan, jangan bicara dulu."
"Kakashi, maaf, aku akan bilang sesuatu padamu, Iruka masih hidup, carilah dia. Tousan memberitahuku sebelum dia meninggal, Kakashi, titip anakku."
"Niichan, berhenti bicara, jangan bicara seolah-olah kau akan mati."
Fugaku tersenyum, tangannya membelai pipi sang adik.
"Mikito memanggiku, maaf, carilah Iruka, dan tolong titip anak-anakku, Kakashi." Tangan itu terlepas saat memasuki sebuah ruangan. Kakashi menatap kearah pintu putih itu, sambil menangis sekencangnya.
"NIICHAN~" jeritnya menggelegar di rumah sakit itu.
"Kakashi-san, Tousan, dimana Tousan?" Tanya Itachi tergesa-gesa, diseretnya tubuh sang adik dibelakangnnya. Mereka baru saja kembali dari sekolah, saat mendengar ibu dan ayahnya kecelakaan, Itachi dan Sasuke langsung pergi kerumah sakit dengan diantar sopir mereka
"Kaasan?" Tanya Sasuke sekarang. Mata hitam Sasuke mengeluarkan air mata.
"Mikoto-sama, dia-"
CKLEK
"Keluarga Uchiha." Seorang dokter berambut hitam pendek sebahu. Menatap keluar ruangan dengan telitih
"Saya keluraga Uchiha, Sizune-san." Itachi mengangkat tangannya. Lalu sang dokter menepuk bahu Kakashi
"Maaf, tuan Fugaku tak bisa kami tolong."
Mata hitam kedua Kakak beradik di belakang Kakashi itu membulat, begitu juga Kakashi.
"Tousan."
"Kaasan? Dimana dia?" Itachi mencengkram bahu sang dokter.
"Mikoto-sama meninggal di tempat."
Sasuke terhuyun lemas, Kakinya gemetar lalu tubuhnya tersungkur. Itachi menendang dinding sekuat tenaga. Sedangkan Kakashi mencoba menahan isak tangisnya.
"TOUSAN, KAASAN, BAAKKAAAA~" teriak si bungsu Sasuke.
Sang kakak langsung memeluk adiknya dengan perasaan ter-amat sakit.
"Oniichan. Aku-"
"Aku mengerti."
(-^Thy^-)
"Mulai sekarang kaulah pewaris keluarga Uchiha selanjutnya. Itachi-sama, aku akan menjadi pelayan pribadi Anda." Ujar Kakashi sambil menepuk pundak Itachi yang menatap dua batu nisan didepannya.
"Kakashi-san, apa aku harus menjadi pewaris Uchiha?"
"Eh?" Itachi menatap Kakashi,
"Iya, karena kau anak tertua, kau harus menjadi pewaris Uchiha."
"Kakashi-san, aku masih belum siap."
"Aku tahu, tapi kau harus melakukannya, sampai Sasuke siap membantumu."
"Kakashi-san, baiklah." Itachi tersenyum kearah Kakashi, Kakashi membalas senyuman itu.
Sudah 2 tahun Itachi menjadi pewaris kelurga Uchiha, sifat lembutnya lama-kelamaan menjadi berubah, cara bicaranya yang lembut saat bicara dengan Sasuke, berubah kasar dan sedikit seperti memaksa. Ketidak siapannya menjadi penerus Uchiha inilah yang membuatnya menjadi monster muda Itachi Uchiha. Kehilangan waktu untuk bersenang-senang, merasakan kehidupan selayaknya remaja seusianya hilang begitu saja. Itachi tak pernah mendapatkan kasih sayang dari siapapun, bahkan dari adiknya sendiri, itu membuat Itachi bersikeras membuat perhatian Sasuke hanya untuknya. Sedangkan Sasuke, merasa kalau dia hanya robot bagi kakanya yang sudah lelah menjadi penerus uchiha, segala larangan dan kekangan, membuatnya terpenjara dengan sifat egois dan aturan dari sang kakak. Sifatnya yang menyayangi kakanya sekarang berubah menjadi sifat benci. Cara Itachi yang selalu mengagungkan Uchiha dan melarangnya melakukan sesuatu selayaknnya remaja seumurannya, membuat Sasuke muak dan membeci Itachi.
(-^Thy^-)
Sudah 3 tahun Kakashi menjadi mentor bagi Itachi untuk membantunya bekerja layaknya Uchiha. Dia sangat tahu kalau Itachi sudah jenuh dengan seluruhnya. Dia harus kehilangan kasih sayang sang adik dan teman-temannya. Bergelut di bidang bisnis dan mafia saat umurnya masih mudah. Memikirkan apa yang seharusnya tak dia pikirkan di umurnya yang masih 20 tahunan itu. menanggung beban tertahan dan tak bisa berontak dari keluarga Uchiha. Membuat Itachi seperti orang pisikopat. Begitu juga Sasuke.
"Maaf, Itachi." Hanya itu yang keluar dari bibir Kakashi, saat tanpa sengaja dia melihat atasannya sekaligus keponakannya itu menangis didepan foto keluarganya.
"Maaf, Fugaku-niichan."
.
.
.
.
TBC
Bagai mana? Terkejutkan kalian? Sama Mugi juga, salahkan imajinasi Mugi yang melenceng dari rencana.*ditendang Kakashi+diinjak reader*.
Sudah mugi bilang. Kakashi adalah kunci sejarah Uchiha di fict ini. Haha, sebenarnya gak ngebayangi Fugaku jadi kakak Kakashi, dan Mandara jadi ayah Kakashi. Maaf kan juga, karna mugi gak kasih tahu nama ibu Kakashi, karna mugi bingung, siapa yang mau dijadikan istri mandara. Terus mengubah nama Uchiha jadi nama klan asli Kakashi dan Hattake jadi nama samara Kakashi. Maaf, kan diatas sudah ditulis OC, DAN OOC. *ditimpuk Author" senior*.
Balas repyu
-muthiamomogi
Makasih sudah merepyu, fict di chapter ini sudah menjelaskan semuanya belum yak? Ini mugi buat supaya semua jelas, maaf kalau fict ini sedikit berbelit. Haha…, ini bukan falame kok bagi Mugi. Ini saran yang bagus, makasih sarannya. *pyuk*
-Yamada Yumi
Makasih sudah merepyu. Ita menjadi jahat karna itu…, hmm, mungkin di fitc chapter ini menjelaskan semuanya. Sebenarnya my lovely aniki ku gak jahat kok*di tendang Itachi* tapi karna merasa kekurangan kasih sayang Sasuke, makanya dia jadi jahat.
-VIP-cloudelf
Makasih sudah merepyu. Maaf pendek, soalnya Cuma mentok sampai disitu. *kedip-kedip* -dilempar golok-
-mechakucha no aoi neko
Makasih sudah merepyu. Hehe…, ini sudah di updet loh.
-ichiko yuuki
Makasih sudah merepyu. Di cahapter ini sudah mugi jelaskan, kenapa Kakashi benci banget ama uchiha. Sebenarnya yang sudah jahat sama Iruka bukan Fugaku, tapi Mandara, sifat mandara mirip sama Itachi. Kalau ItaSaku, hehe…, lihat saja nanti.
-Arale L ryuuzaki
Makasih sudah merepyu. Hahaha…, maaf, karna Mugi senang aja kalau ada yang menderita di fict Mugi. Kalau masalah ItaSaku, itu rahasia… *plak*
-kuraishi cha22dhen
Makasih sudah merepyu. Hmmmm, lihat saja kelanjutannya. *di bakar*
-Vipris
Makasih sudah merepyu. Iyaw, Mugi bakal buat Naru menyadari perasaanya *bahasnya*. Haha…, lihat saja kelanjutannya kalau masalah ItaSaku.
-BlackAquamarine
Makasih sudah merepyu. Maaf senpai, Mugi susah sekali mencari kata-kata untuk deskripsi, tapi akan mugi usahain memperbanyak deskripsinya. Kalau masalah kalimat yang keenter, mungkin itu kesalah Mugi dan kompu yang sudah eror *pundung*. Makasih sarannya senpai *pyuk*. Kalau masalah sasu yang mau di jodohin ama saku, itu masih rahasia. Wkekeke..
-Sakura'Utsukushiiyoru
Makasih sudah merepyu imouto. Hehe…, maaf imouto, itu harus di skip, kalau gak bakal bahaya.(?). wkakaka…, lihat saja entar, soalnya pair ItaSaku masih ngambang di ide Nee, tapi kalau nih otak eror, mungkin tuh pair bakal benar-benar muncul.
-Shikigami can Cheat
Makasih sudah merepyu. Arigato ne senpai, itu masih abal kok. *nyengir*
-Yuka Momoyuki
Makasih sudah merepyu, iyaw, dan di chap ini Mugi beri tahu semuanya. Pair itu masih hilang timbuldi otak Mugi, tapi lihat aja entar.
-hotaru chan hatake
Tenang, Naruto gak licik kok, benaran, hehe…, ummm, di bandingkan Sasuke, Naruto dan Itachi, kakashi paling tua loh, *di cidori*, oke deh, sepupu Mugi juga ngamuk waktu mugi bilang kakashi tua, maaf senpai+kakasih FC+FG *dikroyok*. Sebenarnya Itachi gak jahat amat kok, masih ada sisi baik dari Itachi di fict ini, tapi belum dilihati aja.
-Fi suki-suki
Makasih sudah merepyu imouto. Hehe…, tenang aja, yang bakal ketipu itu bukan Sasuke, tapi seseorang, hehe…, Naruto itu kan punya perasaan dg Sasu,makanya fict ini pairnya SasuNaru. Masak dia tega nipu Sasu.
-Hikarii Hana
Makasih sudah merepyu, yang salah bukan Fugaku, tapi Mandara noh *Nunjuk mandara pake kunai*, di mana-mana dia adalah biang kerok+biang masalah. Hehe…,
Maaf kalau ada yang repyunya gak dibalas. Yoo, silahkan flame kalau memang perlu, FLAME YANG MEMBANGUN.
Kalau masih mau fict ini di lanjutkan
REVIEW PLEASE ^^.
