Chapter 10
Ultimatum Kuchiki Byakuya
disclaimer = I do not own bleach
Rukia memandang suaminya yang terlihat bersemangat, pria itu benar-benar seperti baru memenangkan lotere. Sejak tadi Kurosaki Ichigo terus saja menyapu apartemennya dengan penuh semangat, pria itu bahkan tidak mau meninggalkan satu debu pun di lantai mereka. Ichigo benar-benar terlihat aneh hari ini. Rukia hanya bisa membersihkan meja makan mereka sambil menyiapkan piring-piring bersih untuk diletakkan di meja itu.
"Kau tidak apa-apa Ichigo?" Rukia akhirnya membuka mulutnya.
"Tidak apa-apa," pria itu menggelengkan kepalanya, ia hampir saja menjatuhkan sapunya hanya karena mendengar suara Rukia, "aku tidak apa-apa."
Ichigo memandang lantai yang sudah kelewat bersih itu, ia sangat ingin membantu Rukia bersih-bersih rumah hari ini. Pria itu tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya. Kemarin, untuk pertama kalinya Rukia mencium pipinya. Rasanya sensasi lembut bibir kecil itu masih menempel di pipi Kurosaki Ichigo yang agak memerah itu. Rukia mencium pipinya. Rukia mencium pipinya. Apa ini benar-benar terjadi padanya?
"Apa kau yakin tidak apa-apa?" Rukia tampak tidak percaya, "kau hampir saja menjatuhkan sapumu."
"Aku tidak apa-apa!" Ichigo berlari ke dapur, "um… aku akan masak hari ini… jadi… um… kau mau makan apa?"
"Biasanya kau yang menentukan menu makan malam," Rukia benar-benar merasa Ichigo berubah menjadi aneh hari ini, "padahal kau selalu menolak permintaanku karena kau bilang menu makanan yang kuinginkan susah dan lama dimasak."
"Hari ini uh… aku punya banyak waktu senggang," Ichigo mengacak-ngacak dapur kesayangannya itu dan mengeluarkan buku resep yang tebal, ia membawanya ke meja makan dan membuka buku besar itu, "uh… kau mau makan apa, pilih saja."
"Kau demam ya?"
"Aku tidak demam! Cepat pilih midget!"
"uh… aku mau ini.. uh… apa ini, beef bour..bourging?"
"Beef bourguignon," Ichigo menatap resep yang panjang itu dan menghela nafasnya, "masaknya tiga jam Rukia! Kenapa kau selalu memilih makanan yang susah-susah!"
Rukia menutup buku resep itu dan mengembalikkannya ke dapur, "ya sudah tidak usah dimasak."
Rukia kembali membereskan meja makan, sedangkan Ichigo segera bergegas ke dapur dan mengambil daging beku dari freezer. Ia mencairkan daging itu dengan merendamnya dengan air. Ichigo akhirnya membuka buku resep itu lagi dan membuka halaman yang tadi ditutup Rukia.
3 sdt lemak angsa
600 g daging sapi, dipotong kotak
100 g smoked streaky bacon, iris
350g bawang merah, dikupas
250 g jamur chestnut (sekitar 20 buah)
2 siung bawang putih, iris
1 sdm tomat purée
750 ml anggur merah, Burgundy juga boleh.
Resep dari Gordon Ramsay, chef yang sangat terkenal itu. Wah, Rukia benar-benar pintar memilih resep yang susah-susah. Tapi… kalau wanita itu memang mau memakannya, Ichigo akan memasaknya. Ya, Ichigo akan memasak makanan ini demi isterinya! Kemudian mungkin Rukia akan sadar bahwa Ichigo dan Rukia punya semacam chemistry, spark, pokoknya mereka itu klik. Kalau ia memasak ini… Rukia mungkin akan merasa kalau mereka berdua itu seperti suami isteri betulan… Mungkin Rukia tidak hanya akan mencium pipinya… mungkin Rukia akan mencium… bibir— argh. Singkirkan pikiran itu! Singkirkan! Singkir—
"Ichigo kau sedang melamun apa?" Rukia menatap Ichigo yang terlihat panik itu, "kalau kau sedang melamun tentang resep itu… lebih baik tidak usah dimasak, katanya susah kan."
"Tidak susah kok," Ichigo berlagak cool, seakan-akan dirinya itu chef jenius yang bisa masak segalanya.
"Iya, tidak susah, tentu saja," Rukia menanggapi Ichigo dengan sarkastik, "masakan yang dimasak tiga jam sih, tidak mungkin susah ya Ichigo."
"Ini hal kecil," Ichigo memandang daging sapi yang ia rendam tadi, daging itu masih diselimuti es batu, "tapi mungkin akan makan waktu lebih dari tiga jam… tapi ini mudah kok, benar-benar mudah."
"hmm…" Rukia menatap pria yang keras kepala itu dengan sarkastik, "tentu saja."
Rukia mendengar ketukan pintu, wanita itu segera membuka pintu rumahnya dan melihat seorang pria dingin yang tinggi memandangnya dengan penuh analitik. Pria itu tampak sangat familiar… apa ia pernah mengenal pria itu?
"Anda siapa ya?" Tanya Rukia.
"Jadi amnesiamu masih kuat ya," pria itu masuk ke apartemen itu sambil diikuti oleh seorang kakek yang sudah tua.
"Byakuya!" Ichigo keluar dari dapur itu dan membawa penggorengan sebagai perisainya, "kau mau apa kesini?!"
"Aku ingin bertemu dengan Rukia," Byakuya menatap Ichigo dengan tatapan merendahkan, "kenapa kau mengenakan celemek dan membawa-bawa penggorengan?"
"Aku sedikit panik saat mendengar suaramu," Ichigo menyembunyikan penggorengannya.
"Jadi kau menjadi bapak rumah tangga?" Byakuya menganalisis Ichigo dari kepala sampai ke ujung kaki, "kenapa celemekmu berwarna merah muda… dan bergambar kelinci?"
"Berisik!" Ichigo menutupi celemek kelinci itu dengan penggorengannya, "ini hadiah dari Rukia beberapa tahun yang lalu."
Rukia memandang celemek itu dengan penuh kegaguman. Ternyata pria itu rela mengenakan celemek pink kelinci demi Rukia. Ichigo, tapi tampaknya tidak menyukai pria ini… sebenarnya apa hubungan mereka berdua?
"Kenapa kau ada disini Byakuya?" Ichigo menatap pria itu dengan kesal, "ini rumah Rukia dan aku!"
"Apartemen," Byakuya mengoreksi kata-kata Ichigo, "bukan rumah. Apa kau bisa hidup di tempat sekecil ini?"
"Tentu saja! Kami masih hidup dan sangat bahagia!" Ichigo mengangkat penggorengannya lagi, berjaga-jaga dari serangan mata Byakuya yang tajam, "aku akan bertanya sekali lagi! Kenapa kau ada disini? Kau tidak diundang disini."
"Aku dan jii-sama akan makan malam disini," Byakuya langsung duduk di ruang makan Ichigo.
Ichigo meletakkan penggorengannya ke dapur dan menatap pria tua itu dengan seksama. Pria tua itu tampak lebih menyeramkan dari Byakuya. Tatapannya lebih tajam daripada pisau. Dalam sekejap suasananya menjadi dingin dan mengerikan. Kelihatannya Ichigo tahu Byakuya mendapatkan sikap dingin itu dari siapa. Apel tidak jatuh jauh dari pohonnya.
"Namaku… Kurosaki Ichigo," Ichigo memberi hormat pada pria tua itu, "anda… Kuchiki Ginrei bukan?"
Rukia menarik celemek Ichigo dan membawa pria itu ke dapur. Isterinya itu meneliti orang-orang di sekitarnya dan hanya bisa memandang Ichigo dengan kesal.
"Siapa orang ini? Kenapa kau tidak pernah menceritakkan soal mereka kepadaku?" Rukia setengah berteriak dalam bisikannya.
Sebelum Ichigo dapat menjawab apa-apa Byakuya datang ke dapur itu dan menjawab pertanyaan Rukia, "kami adalah kerabat jauh yang datang dari tempat yang jauh."
Ichigo memang tidak sepintar Byakuya, tapi ia cukup pintar untuk tahu Byakuya adalah kerabat dekat Rukia, bukan kerabat jauh! Byakuya adalah kakak laki-laki Rukia dan pria tua itu adalah kakek Rukia! Sebenarnya ada apa? Kenapa Byakuya sampai berbohong segala kepada Rukia? Kenapa Byakuya yang tidak pernah punya waktu untuk Rukia tiba-tiba datang ke rumah mereka untuk makan malam? Sebenarnya apa yang terjadi? Mungkin saja pria itu rindu akan Rukia tapi ia malu mengakuinya. Memang seorang Kuchiki Byakuya itu punya harga diri yang tinggi, tapi masa ia tidak ingin Rukia tahu bahwa ia adalah kakak Rukia?
"Byakuya apa yang—" Kata-kata Ichigo dipotong oleh hentakan tangan Byakuya. Pria dingin itu seakan-akan memberikan ultimatum agar Ichigo tidak berbicara lagi. Pria itu terlihat sangat tegas dan keras kepala akan hal ini. Sebenarnya apa yang terjadi?
"Kami hanya akan makan malam disini," Byakuya memandang Rukia sebentar, "lalu kami akan segera pulang."
Kurosaki Ichigo mengambil daging sapi bekunya yang sudah cair. Daging itu sudah lembut sekarang dan siap untuk dimasak. Rukia hanya bisa ikut mengambil daging itu dan memotong daging itu dengan pisau agar menjadi bentuk dadu.
"Pria itu Kuchiki Byakuya," Ichigo membisikkan pada Rukia, "dan yang satunya adalah Kuchiki Ginrei. Tampaknya kalian… saudara jauh."
"Oh, begitu ya," Rukia memotong daging itu sambil menatap Byakuya dan Ginrei, pisau Ichigo cukup tajam, sehingga Rukia dapat memotong daging itu dengan cepat. Jika ia cepat memasak makanan ini, mungkin Rukia dapat berbicara dengan mereka. Rukia benar-benar merasa wajah kedua orang itu asing namun familiar. Rukia tidak tahu kenapa…
"Rukia!" Ichigo menarik tangan Rukia dari pisau itu, "kalau tidak hati-hati nanti tanganmu yang kau potong! Kamu melamunkan apa sih?"
"Aku saja yang memasak," Kuchiki Ginrei masuk ke dapur itu, "kau bisa memainkan piano bukan? Bagaimana kalau kau memainkan piano saja Rukia?"
"Jii-sama—" Byakuya bangkit dari tempat duduknya, sesaat Ichigo dapat melihat rasa khawatir tampak dari wajah dingin Byakuya.
"Baiklah," Rukia mengangguk, "aku akan bermain piano… apa anda ingin saya memainkan sebuah lagu yang spesifik?"
"Lagu apa saja yang kau suka, nak," pria tua itu memandang Rukia dengan hangat. Perasaan dingin yang tadi ada tiba-tiba hilang. Ichigo dapat merasa pria itu sudah berubah seratus delapan puluh derajat saat berbicara kepada Rukia.
"Anda bisa memasak?" Ichigo memandang Ginrei dengan penuh rasa ingin tahu, apakah orang kaya juga masih memasak? Seharusnya kan mereka punya chef pribadi di rumah mereka, mereka terlalu sibuk untuk hal-hal seperti ini.
"Rukia suka masakan rumah," tatapan pria tua itu menjadi dingin lagi, Ginrei memotong daging yang ada dengan cekatan, "saat aku tidak sibuk aku akan… memasak untuknya."
Ichigo hanya dapat memandang pria itu dengan penuh rasa kagum. Ternyata memang benar… harimau pun tidak akan memakan anaknya. Kakek Rukia memang seorang pria yang patut untuk disegani dan ditakuti, tapi ia akan melakukan apa saja demi Rukia.
Byakuya memandang kakeknya sambil menghela nafasnya. Sejujurnya, ia telah mencoba begitu banyak cara untuk mengembalikan Rukia kembali ke kediaman Kuchiki. Ia sudah mencoba meneliti surat pernikahan yang awalnya ia kira palsu itu. Ia pikir Rukia tidak mungkin menikah dengan Ichigo… tapi surat itu terlihat sangat asli. Sekarang Byakuya hanya bisa menyerah. Kakeknya juga sudah sangat merindukan Rukia. Hanya ini yang bisa ia lakukan untuk kakeknya.
"Panaskan panci ini dan masukan lemak angsa," Ichigo mengarahkan Kuchiki Ginrei, "masukan daging sapi dan masukan bumbu sampai kecoklatan."
"Seharusnya kau memasak ini sehari sebelumnya agar rasa daging dan bumbunya menyerap dengan baik," Kuchiki Ginrei menegur Ichigo, "apa sous-chef Ritz Carlton tidak diajarkan hal dasar seperti ini?"
Sang sous-chef muda itu hanya bisa menerima teguran Ginrei. Sebenarnya ia membuat ini demi Rukia yang tiba-tiba ingin beef ini hari ini, jadi ini bukan salah Ichigo, sungguh. Tapi pria tua ini hebat juga, ia bisa tahu hal-hal kecil seperti ini.
Rukia tidak tahan lagi, ia sudah tidak ingin bermain piano sedangkan dua orang yang sangat misterius itu duduk di sana. Ia ingin tahu siapa sebenarnya kedua orang itu. Rukia akhirnya masuk ke ruang makan yang terhubung dengan dapur itu dan menarik Kuchiki Byakuya ke dapur itu.
"Bagaimana kalau kita membantu mereka?" ajak Rukia.
Byakuya cukup terkejut melihat adiknya yang awalnya penerut dan takut kepadanya, berubah menjadi seperti ini. Jika Rukia tidak amnesia, gadis itu tidak mungkin berani menarik seorang Kuchiki Byakuya. Gadis itu tidak mungkin punya nyali.
"Rukia," Ichigo memandang wanita yang baru datang itu, "pisahkan daging-daging yang sudah matang ini ke piring. Byakuya, kau siapkan bawang merah, bawang putih, jamur, dan bouquet garni, kita akan menumisnya di panci."
"Jangan memerintah, Kurosaki, jaga kesopananmu ," Byakuya tampak kesal, pria itu memang tidak suka disuruh-suruh. Tapi ia akhirnya menyiapkan bahan-bahan yang diminta Ichigo juga.
"Tumis pelan-pelan sampai kecoklatan…" Ichigo memberi instruksi pada Byakuya.
"Aku tahu," Byakuya tampak tidak senang, "jaga kesopananmu."
"Nah, Rukia, masukan puree tomat ke dalam panci," Ichigo memerintah wanita itu, "Ginrei-san, tolong bantu Byakuya menumisnya, kelihatannya Byakuya kurang mahir dalam menumis."
"Jangan memerintah jii-sama," Kata-kata Byakuya terdengar dingin, tapi Ichigo tahu pria itu tidak senang.
"Sudah, sudah, jangan bertengkar," Rukia memasukan puree itu ke dalam panci, "kalian benar-benar seperti anak dan mertua… Byakuya-san juga tampak keras kepala ya."
Ketiga orang itu membatu. Rukia baru saja menghina Byakuya. Rukia memanggil Byakuya dengan nama Byakuya-san, bukan nii-sama. Ini benar-benar sangat janggal, terlalu janggal bahkan.
"Saya bisa menumis sendiri," Byakuya tidak ingin memberikan tumisan itu kepada siapa-siapa, "jii-sama tidak perlu membantu diri saya."
"Byakuya, kau sudah penuh keringat, kau tidak terbiasa memasak ya," Ichigo mencoba untuk mengetes kesabaran Byakuya, lagi pula ia memang tidak suka pada Byakuya.
"Kurosaki, kau tidak berhak untuk menilai diriku."
"Sini, aku saja…" Ichigo menarik adukan itu.
"Aku bisa sendiri."
"Kau tidak bisa Byakuya."
"Aku bisa!"
Panci itu tumpah. Kedua orang itu benar-benar tidak bisa akur. Ginrei tampak sedikit kesal dan Rukia hanya bisa menahan tawa. Byakuya meninggalkan panci itu di lantai dan merasa bahwa itu bukan salahnya. Ichigo hanya kesal karena daging sapi impornya jatuh sia-sia beserta dengan bumbu bourguignon yang sudah ia masukan.
Ginrei dan Rukia saling menatap satu sama lain dan wanita itu langsug membuka kulkas… Ginrei melihat sebuah barbeque sauce dan langsung mengeluarkan botol saus itu ke luar kulkas. Ia dan Rukia saling mengangguk, mereka punya ide. Mereka menatap sisa daging yang belum dimasukan dan Ginrei langsung menumisnya dengan barbeque sauce yang ada di kulkas Ichigo. Rukia ikut membantu dengan menambah garam dan bumbu lainnya. Ichigo hanya bisa menatap kakek yang cekatan itu dengan sedikit kagum dan Rukia yang tampak secara alami langsung membentuk kerja sama yang bagus dengan kakeknya itu. Akhirnya malam itu keempat orang itu bisa makan malam juga.
Mereka semua terdiam saat makan malam, tapi Kuchiki Ginrei terus menatap cucunya sambil menghela nafasnya. Ichigo dapat melihat sebuah rasa rindu terpancar dari mata Ginrei yang dingin. Kelihatannya ia memang tidak mungkin akur dengan keluarga Kuchiki, namun keluarga Rukia tetaplah keluarga Rukia… sesibuk apapun mereka, mereka pasti rindu pada Rukia… Apa tindakan Ichigo memisahkan mereka itu tindakan yang buruk? Ichigo juga tidak tahu lagi sekarang…
"Ichigo?" Rukia mengetuk pintu kamar Ichigo dan masuk ke kamar Ichigo yang hangat itu. Rukia dapat melihat lantai kayu yang bersih mengkilap dan perabotan yang rapih. Di rak buku Ichigo terdapat banyak sekali buku-buku resep dan dvd memasak. Ichigo sendiri sedang duduk di depan komputer, kelihatannya ia sedang mencari resep masakan baru lagi, "apa aku mengganggu?"
"Tidak," Ichigo langsung mematikan komputernya, "masuk saja."
Rukia duduk di sebuah kursi kayu yang dekat dengan ranjang Ichigo. Ichigo duduk di ranjangnya sambil menatap Rukia yang terlihat bingung. Wanita itu tampak seperti orang yang punya banyak pikiran. Ichigo hanya bisa menepuk pundak wanita itu… berharap Rukia santai sedikit.
"Ichigo… aku sepertinya mengenal mereka," Rukia menundukan kepalanya.
"Tentu saja, mereka kan… kerabat jauhmu," Ichigo mengingat kata-kata Byakuya tadi… Ia hanya bisa mengikuti permainan mereka saja.
"Tapi mereka terasa lebih dekat dari itu," Rukia menatap Ichigo dalam-dalam, "Ichigo, kau tidak akan bohong padaku bukan?"
"Ru…kia," Ichigo selama ini selalu berbohong, rasanya berat kalau ia mengiyakan Rukia, "setiap orang punya rahasia, tapi terkadang itu untuk yang terbaik."
"Mereka bukan kerabat jauhku bukan?" Rukia tersenyum masam, "aku selalu merasa kehidupan yang kujalani ini sangat janggal dan penuh dengan rahasia. Aku pikir aku yang dulu pasti orang yang sangat jahat… aku mungkin saja pernah, memfitnah, melukai orang, atau… atau mencu… mencuri."
Kata-kata mencuri terdengar bergetar di mulut Rukia, seakan-akan wanita itu tidak ingin mengucapkannya.
"Kau adalah orang yang baik Rukia," Ichigo menyanggah pernyataan Rukia, "kau benar-benar adalah orang yang baik bagiku."
"Tapi ingatan-ingatanku mengatakan hal yang berbeda Ichigo!"
Ichigo memeluk wanita itu dengan hati-hati, seakan-akan wanita itu akan terluka jika Ichigo memeluknya terlalu erat. Ichigo mencium dahi Rukia dan mengelus-elus rambut hitam isterinya itu. Ia mencoba menenangkan Rukia dengan pelukan, karena hanya itulah yang dapat ia lakukan. Ichigo tidak pernah bagus dalam merangkai kata-kata… ia hanya bisa memeluk Rukia dan terdiam dalam kehangatan mereka.
"Byakuya-san dan Ginrei-san… mereka tidak menyukaiku juga bukan?" Rukia membalas pelukan Ichigo, "mereka menatapku dengan dingin dan mereka tidak banyak bicara. Aku telah melakukan kesalahan juga kepada mereka bukan?"
"Jangan pedulikan mereka…" Ichigo mengusap-usap pundak Rukia, "mereka memang seperti itu."
Rukia memeluk Ichigo lebih erat, ia kemudian akhirnya mengeluarkan kata-kata yang sudah lama ia pendam di dalam dirinya, "Ichigo… aku telah mencuri aransemen Kaien-dono."
"Apa—"
"Aku telah mencuri aransemen pria yang sedang koma di rumah sakit," pelukan Rukia yang erat menjadi gemetar, "kemudian ia meninggal sebelum aku meminta maaf, Ichigo. Ichigo… aku yang dulu adalah orang jahat."
Ichigo mengambil selimutnya dan melingkarkannya kepada Rukia. Ia kemudian memeluk Rukia sekali lagi dan menenangkan wanita itu dengan hangat, "Rukia… masa lalu itu sesuatu yang tidak bisa diubah, tapi hari ini kau telah menjadi orang yang baik bukan? Kau bisa mengembalikan aransemen itu bukan?"
"Aku sudah memakai aransemen itu untuk audisi di Juilliard, kelihatannya aku lulus karena aransemen itu."
"Kalau begitu kembalikan," Ichigo melepas pelukannya dari Rukia dan tersenyum hangat kepada wanita itu, "kau tidak perlu takut… Juilliard akan menerimamu bukan karena aransemen itu, tapi karena mereka sadar, kau adalah pianis yang baik. Kita akan mengembalikan aransemen itu dan mengajukan audisi sekali lagi kepada Juilliard."
"Ichigo…"
"Tidak perlu takut…" Ichigo memandang wanita itu dengan tatapan yang lembut, "aku akan melindungimu."
Rukia tidak pernah ingin dilindungi oleh orang lain. Jujur, ia pikir dirinya mampu untuk melewati segala rintangan, tapi pria itu justru membuat dirinya menjadi ingin dilindungi. Ia tidak tahu lagi kenapa dirinya berubah menjadi wanita lemah seperti ini. Tapi ia sungguh bersyukur di dalam hidupnya, ia mengenal pria seperti ini. Pria yang mau menghiburnya, menemaninya saat susah…
"Terima kasih Ichigo," Rukia akhirnya tersenyum juga.
Ichigo hanya bisa menatap senyuman itu dengan bahagia. Ya, satu senyuman itu membuat dirinya menjadi pria yang paling beruntung di dunia. Ia telah jatuh cinta pada senyuman itu. Ia ingin senyuman itu terus ada di wajah wanita yang ia cintai ini. Ia ingin melindungi senyuman itu… agar senyuman itu tidak pernah pergi dari Rukia. Ia ingin membahagiakan Rukia selamanya. Ichigo benar-benar bahagia hari ini… ia jadi ingin mencium Rukia.
"Rukia… boleh aku mencium bibirmu?" Ichigo menatap wajah kaget Rukia dengan sungguh-sungguh, ia tidak bercanda…
"Aku belum—"
"Belum siap… ya?" Ichigo melanjutkan kata-kata Rukia, "tidak apa-apa kok. Aku akan menunggu sampai kau siap. Kalau selamanya tidak dicium juga tidak apa-apa."
"Aku belum pernah mencium orang sebelumnya, kalaupun pernah, aku tidak ingat caranya…" Rukia mendekatkan wajahnya kepada Ichigo, "aku perlu diajarkan lagi olehmu."
"Jadi… ja… jadi… ka.. kau ingin kucium?"
"Tidak juga sih…"
"Tidak juga?" Ichigo makin pusing, "jadi…. Um… jadii?"
"Aku hanya bercanda," Rukia tersenyum lagi, "tentu saja, aku ingin dicium oleh orang yang begitu mencintaiku."
"Kau tidak akan menyesal kan?" Ichigo mendekatkan wajahnya kepada Rukia, "aku akan merebut ciuman pertamamu setelah amnesia."
"Kalau aku menyesal… artinya aku wanita paling bodoh di dunia," Rukia mendekatkan bibirnya kepada Ichigo, "seorang isteri yang tidak ingin mencium bibir suaminya, itu isteri paling bodoh di dunia."
"Berarti aku suami yang paling bodoh karena menikahi isteri seperti itu?"
"Aku suka suami yang bodoh."
Bibir mereka bertemu. Rasanya berbeda dari ciuman di pipi itu. Rasanya seperti waktu berhenti seketika dan dunia hanya milik mereka berdua saja. Bibir yang lembut bertemu dan saling melengkapi satu sama lain. Ciuman itu tidak terburu-buru, rasanya seperti mereka ingin menikmati tiap sentuhan yang ada dari bibir itu. Kelembutan dan kehangatan ciuman itu seperti melelehkan diri mereka masing-masing. Bibir mereka seakan-akan telah begitu lama berpisah dan saling merindu satu sama lain. Ichigo tidak ingin ciuman itu berakhir.
Kurosaki Ichigo menatap Ishida yang daritadi sibuk mencoret-coret sesuatu di atas kertas. Pria berkacamata itu tampak sangat serius. Ichigo yang lumayan gugup hanya bisa berserah menunggu hasilnya. Ia benar-benar sudah tidak ingin ikut terapi lagi untuk indera penciumannya. Ia pikir sudah ada banyak perkembangan sejak ia pertama kali ikut terapi ini. Ia juga sudah bisa mengecek kadar makanan dengan penciumannya… seharusnya sih, ia tidak perlu ikut terapi ini lagi, tapi entahlah, yang memutuskan hal semacam ini adalah dokter. Terus terang, Ichigo merasa indera penciuman Ichigo juga sudah kembali bekerja dengan baik, walaupun tidak sebaik saat ia SMA, tapi indera penciuman Ichigo yang sekarang tetap saja ada di atas rata-rata. Ichigo yakin akan itu. Semoga saja, ia tidak perlu ikut terapi ini lagi.
"Yak," Ishida menekan bulpennya, "kau sudah pulih. Kau tidak usah datang lagi."
Ichigo hanya bisa menghela nafasnya dengan lega. Ini artinya ia sudah tidak perlu membuang uang untuk terapi lagi. Ini artinya kalau Rukia diterima di Juilliard, ia bisa menabung untuk penerbangan, biaya hidup, dan uang sewa Rukia di Amerika nanti. Ichigo hanya bisa tersenyum lega sambil menjabat tangan Ishida.
"Terimakasih banyak, Ishida," Ichigo bangkit dari tempat duduknya.
"Ingat, jangan terlalu banyak bekerja dan jangan memaksakan dirimu," Ishida membetulkan posisi kacamatanya, "jaga kesehatanmu baik-baik, Kurosaki."
"Iya, iya, sampai ketemu lagi Ishida," Ichigo pamit kepada dokter sekaligus teman lamanya itu dan segera keluar dari ruang praktek Ishida.
Butuh waktu cukup lama bagi Ichigo untuk pulih. Terus terang, walau rumah sakit ini besar, ia sudah ingat setiap jalan dan ruangan di rumah sakit ini. Ia sempat dirawat cukup lama di tempat ini, jadi ia sering berkeliling-keliling di rumah sakit ini. Ia juga kenal dengan beberapa suster dan dokter di sini. Jika Ichigo bosan, ia biasanya suka mengobrol dengan Hanatarou. Pria itu adalah salah satu suster pria disini. Namun, Hanatarou sudah tidak bekerja disini lagi… kelihatannya pria itu menemukan pekerjaan yang lebih baik di tempat lain.
Ichigo kemudian berjalan menuju ke kantin, ia ingin membeli buah-buahan untuk Rukia. Jika dipikir-pikir, isterinya itu sangat pemilih soal buah-buahan. Wanita itu tidak suka buah yang terlalu manis… jadi jika Ichigo membeli buah leci, mangga, atau melon… wanita itu pasti tidak akan memakannya. Yah, sekalian Ichigo ada di rumah sakit, lebih baik membeli buah-buahan di kantin saja. Biasanya kantin ini menjual buah kiwi dan jeruk. Lebih baik Ichigo beli sekarang daripada Rukia absen makan buah. Kalau Rukia absen makan buah, nanti bibir itu menjadi kering. Yah, tapi kalau kering, nanti akan Ichigo lembabkan dengan bibirnya. Ichigo hanya bisa tersenyum-senyum sambil melewati koridor rumah sakit itu seperti anak kecil yang baru mendapatkan permen. Ia kelihatannya sudah kelewat senang sampai ia bisa lompat-lompat sekarang. Rukia akhirnya mencium dirinya. Ia juga sudah sembuh dari terapi. Ia adalah pria paling beruntung di dunia.
"Ichigo-san?"
Suara itu… Hanatarou? Ichigo membalikan tubuhnya dan melihat pria dengan tubuh yang kurus berjalan mendekatinya. Pria itu benar-benar Hanatarou. Tapi… ia tidak memakai seragam suster rumah sakit ini.
"Hanatarou!" Ichigo menjabat tangan pria itu, "wah, sudah lama tidak bertemu. Apa kau baik-baik saja?"
"Baik-baik saja," Hanatarou tersenyum gugup, "ah ya, Ichigo-san sedang apa disini? Apa Ichigo-san masih belum pulih?"
"Hari ini terapi terakhirku," Ichigo tersenyum pada Hanatarou, "aku sekarang sedang mencari buah untuk Rukia. Rukia itu sangat cerewet soal buah."
"Cerewet?"
"Iya… dia tidak suka yang manis-manis. Dia juga tidak suka jus buah…"
"Itu justru bagus… Memakan buah segar jauh lebih baik ketimbang jus. Jus bisa membuat nutrisi dalam buah menghilang akibat proses pembuatannya," jelas Hanatarou.
"Oh, begitu ya," Ichigo memilih-milih buah kiwi yang bagus dan membawanya ke kasir, "buah kiwi bagus tidak? Rukia sangat suka buah ini…"
"Bagus kok," Hanatarou mengangguk-angguk, "Kiwi mengandung potassium yang baik untuk jantung, mengandung banyak vitamin E yang baik untuk kulit, dan kandungan vitamin C kiwi juga jauh lebih besar dari jeruk. Rukia-san punya selera buah yang bagus."
"Wah… kau benar-benar seperti ensiklopedia berjalan," Ichigo membayar buah kiwi itu sambil memuji kecerdasan Hanatarou, "jadi, rumah sakit mana yang cukup beruntung untuk mempekerjakanmu?"
"Hm? Apa maksud Ichigo-san?" Hanatarou masih belum mengerti.
"Kau kerja dimana sekarang Hanatarou?" Ichigo membungkus kiwi itu dengan plastik, lalu menentengnya.
"Ah, aku bekerja sebagai suster pribadi dari Kuchiki Ginrei," jawab Hanatarou.
"Kuchiki… tapi… memangnya pria itu sakit apa?" Ichigo hampir menjatuhkan kiwinya, hal seperti ini… benar-benar sangat mengejutkan.
"Kanker," Hanatarou menatap lantai rumah sakit itu dengan putus asa, "kanker stadium empat."
Kanker stadium empat. Ichigo tahu betul harapan hidup Kuchiki Ginrei sangatlah tipis. Kanker stadium satu dan dua, masih punya presentasi sembuh yang tinggi… jika dioperasi juga sembuh. Tapi empat? Kemungkinan untuk sembuh dari kanker stadium empat hanyalah satu dari seratus. Apa mungkin ini alasan Byakuya melarang Rukia pergi ke Juilliard? Ia tidak ingin wanita itu berpisah dari kakeknya, karena kakeknya sakit parah… Byakuya kau… sebenarnya adalah kakak yang baik.
"Ka… kanker apa?" Ichigo benar-benar tidak tahu harus bicara apa lagi.
"Kanker paru-paru," Hanatarou tersenyum pahit, "ia sedang dirawat di rumah sakit ini sekarang. Kau ingin menjenguknya?"
"Iya… tentu saja aku ingin—"
Kuchiki Byakuya melangkah masuk ke ruangan kantin itu dan menepuk pundak Hanatarou, "kau boleh pergi sekarang Hanatarou."
"Byakuya," Ichigo hanya bisa menatap kakak laki-laki Rukia yang dingin itu dengan kesal. Pria itu bahkan tidak tampak seperti orang yang sedang bersedih.
"Kau tidak perlu datang menjenguk," Byakuya menatap Ichigo tajam-tajam, "dan jangan beritahu Rukia soal ini. Ia sudah amnesia, biarkan saja ia tidak tahu apa-apa."
"Jadi ini alasan kau pergi ke rumah kami kemarin malam?" Ichigo benar-benar sudah marah bercampur kasihan sekarang, "Kau ingin Ginrei menemui Rukia untuk terakhir kalinya? Tidak bisa seperti itu! Rukia harus berada di sisi kakeknya sesering mungkin kalau kondisi Ginrei sudah seperti itu."
"Bukankah kau yang sudah mengambil Rukia dari jii-sama?" Byakuya membalikkan pernyataan Ichigo, "kau sendiri yang tidak ingin Rukia bertemu dengan kami bukankah begitu?"
"Itu karena kau tidak menepati janjimu," Ichigo menatap Byakuya tajam-tajam, "Kau sudah berjanji pada Rukia, ia boleh menjadi musisi jika ia diterima di Juilliard… Rukia sudah diterima di Juilliard, namun kau masih tidak mengijinkan Rukia bermain piano… Jika bersamaku Rukia akan—"
"Rukia akan bahagia bersamamu bukan?" Byakuya memandang Ichigo dengan dingin, seakan pria itu akan menusuk Ichigo dengan tatapannya, "jadi tidak usah bawa Rukia ke dalam kehidupan kami."
"Tapi itu adalah pemikiranku sebelum tahu masalah ini!" Ichigo mengepalkan tangannya dengan kesal, "Jika ingatan Rukia kembali dan ia sadar kakeknya sudah meninggal, Rukia pasti akan sangat sedih dan menyesal karena tidak ada di sisi kakeknya saat kakeknya masih hidup!"
"Jika ingatan Rukia kembali… tapi, kalau tidak kembali? Kalau tidak kembali… ia tidak akan bersedih atas kematian jii-sama, karena ia tidak tahu akan kondisi jii-sama," Byakuya menatap Ichigo dengan lebih tajam lagi, seakan-akan pria itu akan menghancurkan Ichigo, "Rukia tidak perlu tahu soal kanker jii-sama… Gadis itu menangis dan tidak mau makan apa-apa saat Hisana meninggal… apa kau ingin Rukia bersedih seperti itu lagi?"
Ichigo hanya bisa terdiam. Dalam hal ini, perkataan Byakuya ada benarnya juga. Ichigo tidak ingin Rukia bersedih seperti itu lagi. Ia masih ingat bagaimana Rukia sudah tampak seperti orang yang tidak punya harapan hidup saat Hisana meninggal… namun Rukia dan kakeknya itu… walaupun mereka terlihat dingin, kalau tidak salah Rukia pernah bilang kalau alasan ia bermain piano pertama kali adalah karena kakeknya. Kakek Rukia itu sebenarnya adalah orang yang baik. Ia pasti hanyalah seorang kakek biasa yang rindu pada cucunya. Ia butuh Rukia di sisinya. Argh. Sial. Apa yang harus Ichigo lakukan?
"Jangan melawanku, Kurosaki Ichigo," dengan satu kata itu Byakuya meninggalkan Ichigo di rumah sakit itu. Ichigo hanya bisa membatu. Ia sudah tidak tahu lagi.
That's chapter 10! Bagaimana? Do you like the kiss? Because I love that kiss. Hehe… Well, terimakasih sudah membaca ya! Bagaimana pendapat kalian? Apa yang harus Ichigo lakukan? Leave a review! Oh ya, resepnya dan cara membuat Beef bourguignon ada di website bbcgoodfood disana ada banyak sekali resep yang enak dari channel BBC.
wwwbbcgoodfoodcom/recipes/5032/beef-bourguignon
Jangan lupa tambahkan titik setelah www dan food. Jadi wwwtitikbbcgoodfoodtitikcom
Karena entah kenapa ffnet tidak bisa membaca dot/titik yang disambung di cerita saya -"
Enjoy! Happy Cooking! Gordon Ramsay is such an amazing chef too! You should check him out.
Keiko Ei Naomi = Masa lalu Ichigo ya? Hm… ada sih masa lalunya sama Rukia waktu dia pertama jatuh cinta sama Rukia… tapi itu belum ditulis eheehe. Ditunggu terus ya. Penyamaran Rukia waktu stalking Ichigo itu sangat menyenangkan untuk ditulis hehe. Keep on reading ya ^^ Arigatou.
MagicPocket = Your second review . Anyeeongg… kamsahanmida sudah dibaca chapter 10 nya. Bagaimana ya, Rukia yang cemburu itu memang irresistible! Rasanya sangat menyenangkan untuk menulisnya! Tiramisu memang enak untuk dibuat. Semoga suka ya ^^.
Guest (5/20/13) 1 = Wah, review panjang tidak apa-apa… walau memang banyak yang hilang juga tetap sangat menyenangkan membacanya ^^. Kalau yang kurang wah, akan terus saya coba perbaiki! Semoga chapter ini menyenangkan untuk dibaca. Ditunggu terus chapter selanjutnya ya.
Guest (5/20/13) 2 = Thank you ^^ benar sih, fic yang bagus memang terasa lebih pendek saat dibaca… tapi apakah itu artinya fic saya bagus? Thank you very much for your praise… I'm truly happy right now.
baby maybe = Yoohoo… Did you just quoted my fic? That's seriously great and awesome XD. Makasih sudah mengkutip kata-kata Ichigo, rasanya senang baby maybe-san suka bagian itu. Hehe, wah iya, saat membaca chapter hot hot heat di manga, saya sempat kaget Tite Kubo mau memperlihatkan pantat Rukia, tapi saya akhirnya senang melihat reaksi panik Ichigo yang blush karena melihat pantat Rukia kyaaa…
life's really hard = You reviewed me and praised me again… that's very kind of you XD. Akhirnya Ichigo merana dan galau lagi di akhir cerita hehe… soal PM saya tidak janji bisa menjawab cepat karena saya jarang sekali online dan biasanya hanya online saat mempost cerita saja. Well, because life's kinda hard these days hehe. Gomen ne, but feel free to PM me ^^ we can have a little chat sometimes.
UzumakiKuchiki = Rukia kelihatannya sudah tidak punya perasaan dengan Renji dan akhirnya mencium Ichigo… memang ciumannya tidak begitu romantis, but there you go ^^ thank you sudah setia merivew fic ini ya, sampai I remember your name hehe…
Blood Winter = Author tidak mungkin bosan XD malah senang sekaliii! Renji memakai apron sepertinya memang lucu dan saya suka membuat Renji sedikit-sedikit imut… jadi saya membuat dia suka membuat kueee. Hua ^^ makasih sudah dibaca ya… keep reviewing!
Hiruma Enma 01 = tepat setelah audisi karena itu dia tidak sempat bilang ke Kaien… Kaien jadi keburu meninggal. Akhirnya Rukia menyesal selamanya. Ichiruki dansa waltz itu benar-benar impian saya seteleh ice skating. Kalau bisa Tite Kubo berbaik hati untuk memberikan art work semacam ini di kalender atau apa gituuu aahh, saya benar-benar suka melihat waltz, rasanya romantis. Makasih sudah mereview ya ^^ Keep on reviewing!
Ryouma Ryan –Le Renard Roux = Wawawa shock dan kiss Rukia itu pasti sangat romantis.. hehe akhirnya setelah sekian lama menunggu di chapter ini mereka kiss juga. Bagaimana? XD hehe. I hope it's worth the wait. Saya suka sekali adegan ini karena kesannya ciumannya sangat hati-hatii… wawawa… Keep on reviewing!
Naruzhea AiChi = Iya saya suka memasak dan membuat kue. Sebenarnya saya lebih suka membuat kue karena proses membuat kue lebih menyenangkan dari memasak, karena kue itu tidak bau dan lantai jadi tidak lengket dengan minyak hehe. Tapi memasak juga enak karena lebih cepat dan praktis daripada membuat kue. XD hehe keep on reviewing yaa ^^
meongnbuyung = Haihai, Soal ingat atau tidaknya dengan Renji, pastinya ingat. Kaien itu guru musik Rukia, that's all there is to it hehe. Tiramisu juga kue kesukaan saya, lebih tepatnya kue nomor satu bagi saya. Huhu, tapi sayang kue tiramisu yang sesuai selera saya cukup sulit dicari karena saya suka yang banyak kopi dan yah, Italian Tiramisu banget… Susah carinya. Hehe terimakasih loh, tetap mereview panjang-panjang… saya suka sekali membacanya! Hidup review panjang! Hehe.
hendrikwidyawati = Huaa… makasih sudah suka chapter lalu. Saya juga suka menulisnya, semoga suka juga ya dengan chapter ini! Keep on reading and reviewing! I'll be waiting ^^
berry biru = Ini pertama kalinya saya dipuji dengan demi celana kotak sponge bob hehe ^^ Rasanya menyenangkan membaca review berry biru-san XD. Terimakasih sudah mereview ^^ Tidak apa-apa baru mereview, review akan ditunggu dengan setia! Soal indera penciuman itu Ichigo kan ikut terapi… jadi semakin lama semakin sembuh… begitu hehe. I hope it's not confusing. Arigatou sudah membaca XD.
Fuuchi = Chapter yang paling disuka ya? Hehe… Wah, author senang Fuuchi-san punya chapter favorit. Makasih ya ^^. Tenang aja, di chapter depan bakalan ada Senna dan Renji lagi kok ^^ Saya chef? Wah, saya senang dipuji seperti itu. Saya suka memasak di rumah dan sering berlagak seperti pembawa acara masakan atau chef di rumah saat tidak ada orang hehe. Mungkin karena itulah cerita ini jadi muncul seperti ini. Thanks for the review!
fuyu no yukishiro = Ichigo memang mengenakan kacamata cinta XD kyaa. Hehe. Ichigo dan Renji pada dasarnya memang berpisah sebagai seorang teman, jadi bertemu sebagai seorang teman juga. Mereka pasti saling menyembunyikan rasa kesal mereka karena tidak ingin persahabatan mereka jadi kandas. Yah, begitulah… kadang-kadang cowok juga kasihan kalau sukanya sama satu cewek yang sama . Pelukan-Cemburu-makan bareng- kasih hadiah-dansa-CIUMANNNYA… akhirnya datang juga.
Aurora Borealix = Makasih sudah suka scene di tempat les hehe. Bagaimana adegan ice skating ichirukinya? Wawawa bagus ya? Bagus ya? Saya langsung meleleh saat nonton XD. Semoga chapter ini bagus juga! Keep on reading and reviewing! XD
Izumi Kagawa = Halo, Izumi-san. Wah, terimakasih sudah membaca dan mereview fic ini walau sibuk.. I truly appreciate it.. Izumi-san sangat baikkk.. kyaa… oh ya, makasih sudah bilang chapter yang lalu itu romantis. Senna itu memang partner Ichigo saja, tapi Senna sebenarnya suka sma Ichigo jadi di chapter depan bakal ada dia lagi. Hmm Renji pasti ketemu lagi sama Rukia. Iya, Kaien memang kasihan, tapi di Bleach juga sudah tiada, jadi mungkin memang takdirnya begitu. Kyaa padahal Kaiena ganteng. Oh ya, Kaien memang sebatas guru les saja. Cerpen atau novel, sayangnya saya belum pernah berani terjun ke bidang itu.. karena pekerjaan saya juga bukan novelis.. jadi yah, ini hobi saja. Hehe. Mungkin suatu hari saya bakal berani… mungkin. Hehe, keep on reading!
Nyanmaru = Reviewnya bagus sekalii… author suka deh saat Nyanmaru-san bilang "Alurnya jg mengalir pelan.. Pkoknya feelnya dapet deh!
Aku selalu kagum sm author2 yg bs nulis cerita yg berkesan, well itu susah.
Apalagi kalo updatenya gak lama, makin sayaaanng dehh hahaha xD *ngerayu" Author benar-benar langsung meleleh bacanya. Kyaa makasih banyak ya. Orasinya juga bagus ^^ Author setujuu. Ga ada kata-kata yang ga enak di dengar kok! Author senang membacanya! Keep on reviewing!
ini uki lho = Uki-san! Miss me? Hehe. Wah, makasih walau tidak log in sudah mereview! Bagaimana perkembangan ceritanya saat ini? Worth the wait? Hehe. Terus dibaca yaa.. XD
Next Chapter
Chapter 11
Belajar untuk Merelakan
